Anda di halaman 1dari 57

KROMOSOM MANUSIA NORMAL DAN KELAINAN KROMOSOM

Drs. H. Yurn@di M.Kes.


Departemen Biologi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta

Kromosom Struktur seperti benang/tongkat yang terlihat pada sel yang sedang membelah Berisi molekul DNA dan protein yang membawa informasi penurunan sifat (hereditas) suatu organisme. Kromatin Material yang membentuk kromosom yaitu : DNA Protein : histon non histon Ditemukan pada inti sel eukariota dan mitokondria

Dari Kromosom - Protein

Jumlah Kromosom Berbeda untuk setiap species Tidak berhubungan dengan ukuran besarnya Jumlah Kromosom Manusia : Terdiri atas : 22 pasang kromosom autosom 1 pasang kromosom seks yaitu: XX pada wanita XY pada pria Diploid (2n = 46) : pada sel somatik Haploid (n = 23) : pada sel germinal sel sperma & sel telur

Indikasi Klinik Yang Perlunya Analisis Kromosom : 1. Hambatan pertumbuhan, perkembangan awal, malformasi ganda, hambatan tinggi tubuh, genitalia meragukan, dan retardasi mental. 2. Kematian saat lahir atau neonatus. 3. Masalah kesuburan/fertilitas. Wanita amenorrhoe, pasutri dengan riwayat infertilitas (3-6%), dan abortus habitualis. 4. Riwayat keluarga dengan abnormalitas kromosom. 5. Neoplasia sel kanker dengan kelainan kromosom. 6. Wanita hamil pada usia lanjut. Adanya peningkatan resiko kelainan kromosom pada fetus.

Analisis Kromoson Dilakukan Dengan Mengkultur Sel Dari : 1. Darah tepi (peripheral blood) memerlukan 3-4 hari kultur. 2. Biopsi kulit menghasilkan kultur fibroblast 3. Lekosit spesifik limfosit T membentuk limfoblastoid 4. Sumsum tulang digunakan untuk diagnosis keganasan hematologis. 5. Fetal cells berasal dari cairan amnion (amniosentesis) dan biopsi villi khorialis.

Kromosom Manusia

Identifikasi kromosom
Kromosom diidenfikasi dengan prosedur pewarnaan Pewarnaan banding/pita/corak kromosom yang umum digunakan adalah G banding (Giemsa). Metoda Lainnya : 1. Q banding (Quinacrine) Untuk identifikasi sekuens pada lengan panjang kromosom Y. 2. R banding (Reverse) Untuk identifikasi kelainan kromosom diujung/distal kromosom.

3. C banding (Centromere) Untuk identifikasi kelainan pada daerah sentromer. 4. Banding resolusi tinggi (prometafase banding). Untuk identifikasi kelainan struktur kromosom. 5. FISH (Fluorescence in situ Hybridization) Teknik pemeriksaan ada/tidaknya gen/sekuen DNA tertentu pada kromosom, dengan bantuan probe/pelacak spesifik.

Penggolongan Kromosom Manusia (Klasifikasi Denver)

C A B

E D

PENYAKIT KELAINAN GENETIK (PKG) PKG Kromosom


1. Kelainan Numerik : Perubahan pada jumlah kromosom A. Set Kromosom B. Kromosom Autosom C. Kromosom Seks 1. Kelainan Struktur : Delesi, adisi, atau gabungan 3. Kelainan Mosaik : Kromosom tidak merata di sel tubuh Pada sel berbeda, berbeda materi genetiknya

1. Kelainan Numerik
A. Set Kromosom (Ploiditas) 1. Euploid
Triploid Tambahan kromosom paternal. Pada kelainan plasenta Hydatiiform moles (mola). Tambahan kromosom maternal abortus spontan pada awal kehamilan. Tetraploid diduga kegagalan pada cleavage zigot.

2. Aneuploid
Monosomi umumnya letal, kecuali monosomi kromosom X 45, X (sindrom Turner) Trisomi Trisomi 21 Sindrom Down Trisomi 18 Sindrom Edward Trisomi 13 Sindrom Patau

Triploid

Disjunction - Nondisjunction

1. Kelainan Numerik
B. Kelainan Autosom : 1. Trisomi 21 (Sindrom Down) (47,XX/XY + 21)
Insidensi Kelahiran 1 : 700 Fenotip : Retardasi mental, IQ : 25 50 Jarak mata lebar (hipertelorisme) Hidung datar dengan pangkal pipi Tangan/jari pendek, terdapat simian crease Ada kelainan jantung

Sindrom Down (Trisomi 21)

Simian Crease

Sindrom Down (Trisomi 21)

Variasi Sindrom Down


1. Robertsonian Translocation 4% dari kasus sindrom Down, Mempunyai 46 kromosom, kromosom 21q bertranslokasi ke kromosom 14/akrosentrik. Konstitusi kromosomnya 46, XX/XY, rob(14;21),+ 21; atau translokasi 21q21q (46,XX/XY, rob(21q;21q). 2. Mozaik Sindrom Down Mempuyai kromosom mosaik (sebagian 46 dan sebagian lagi 47)

Variasi Sindrom Down

A. Kelainan Autosom Lanjutan.

2. Trisomi 13 (47, XX/XY + 13) (Sindrom Patau)


Insidensi Kelahiran : 1 : 20.000 Fenotip : Bibir sumbing/bercelah Malformasi sistem saraf pusat (retardasi mental berat) Retardasi pertumbuhan Low set ears Memiliki garis simian Kelainan jantung bawaan

Trisomi 13 (Sindrom Patau)

A. Kelainan Autosom Lanjutan.

3. Trisomi 18 (Sindrom Edward) (47, XX/XY +18)


Insidensi Kelahiran 1 : 8.000 Sering dijumpai pada jaringan abortus Fenotip Retardasi mental Malformasi kongenital multi organ Dagu kecil dan mulut segitiga Low set ears Daya hidup rendah, maksimal 2 bulan (90% < 6 bulan).

Trisomi 18 (Sindrom Edward)

1. Kelainan Numerik C. Kelainan Kromosom Seks


Genotip XY XX XXY XYY XO XXX Jenis kelamin Laki-laki Wanita Laki-laki Laki-laki Wanita Wanita Kelainan Sindrom Klinefelter Sindrom super male Sindrom Turner Sindrom superfemale

Drs. H. Yurnadi M.Kes.

C. Kelainan Kromosom Seks Lanjutan.

Tanda Klinis Pada Kelainan Kromosom Seks


Retardasi

mental Kelainan pertumbuhan Umumnya dapat hidup mandiri Kecuali sindrom Turner, umumnya berfenotip normal Prognosis pada kelainan euploid dan mozaik umumnya lebih baik

1. Sindrom Klinefelter

C. Kelainan Kromosom Seks Lanjutan.

Kariotip umumnya 47,XXY Kromatin X dan Y Positif (+) Insiden 1 : 600 bayi laki-laki lahir hidup (USA) Fenotip : Postur tubuh tinggi kurus (>170 cm), tungkai kaki panjang Gynecomastia Testis kecil, dengan biopsi : Hialinisasi tubulus seminiferus, tidak ada spgenesis, azoospermia, sel Leydig sedikit Libido menurun (hypogonadism) Steril/infertil (Ciri seks sekunder tidak berkembang) IQ biasanya rendah (Retardasi mental). Beberapa pasien dijumpai gangguan kesulitan belajar. Aspek penurunan ND pada oogenesis atau spgenesis Varian : 48,XXXY; mosaik 46,XY/47,XXY atau 46,XY/48,XXXY.

Sindrom Klinefelter

Drs. H. Yurnadi M.Kes.

2. Sindrom Turner

C. Kelainan Kromosom Seks Lanjutan.

Kariotip umumnya 45,X0. Kromatin seks (X dan Y) negatif (-) Insiden 1 : 2.500 kelompok perempuan Fenotip : Postur tubuh pendek ( 130 cm) Webbed neck, edema pada kaki Cubitus vagus Dada rata, mamae (-) Coartation aorta dan defek skeletal Genitalia eksterna infantil Klitoris hipertrofi Rambut axilla dan pubis (-) Streak gonads, Ovarium dysgenesis, amenore primer, steril IQ : normal (< rata-rata normal). Aspek penurunan ND selama oogenesis Meiosis I Varian Mosaik : 45,X/46,XX (15%); 45,X/47,XXX; dll

Sindrom Turner

Drs. H. Yurnadi M.Kes.

C. Kelainan Kromosom Seks Lanjutan.

3. Sindrom Y- Ganda
Kariotip umumnya 47,XYY Kromatin X (-) dan Y (++) Insiden 1 : 1.000 kelompok laki-laki Fenotip : Postur tubuh tinggi (>180 cm) Raut muka asimetris Telinga cenderung lebih panjang 2-4% dalam LP dan Mental Hospital Tingkah laku eksplosif, hiperaktif, agresif, dan psikopat Perkembangan seks normal, testosteron normal IQ 90 (10-15 < rata-rata normal) Aspek penurunan ND pada spgenesis meiosis II Varian - Mosaik : 47,XYY/47,XXY atau 47,XYY/49,XXXYY.

C. Kelainan Kromosom Seks Lanjutan.

4. Sindrom X Ganda
Kariotip umumnya 47,XXX. Fenotip : Postur tubuh tinggi. Beberapa pasien mengalami kesulitan belajar. Infertil Beberapa psikopatologi, antisosial sangat jarang. IQ : rendah (< rata-rata normal). Kromatin X : positif ganda; kromatin Y : negatif. Umumnya akibat ND meiosis I (M I) maternal Variasi kariotip: 47,XXX atau 48,XXXX atau 49,XXXXX.

C. Kelainan Kromosom Seks Lanjutan.

5. Sindrom XX (Laki-laki 46,XX)


Kariotip 46, XX Insidens 1 : 20.000 bayi laki 1:25 laki-laki kromatin positif Fenotip :

Fenotip laki-laki Testis mengalami hialinisasi Kelainan pada meiosis sehingga terjadi pindah silang (crossing over) gen Testis determining Factor (TDF) dari kromosom-Y ke kromosom-X

Sindrom XX

Drs. H. Yurnadi M.Kes.

2. Kelainan Struktur
1. Delesi (del) 2. Duplikasi (dup) 3. Translokasi (t) 4. Disentrik (dic) 5. Insersi (ins) 6. Inversi (inv) 7. Isokromosom (I) 8. Kromosom cincin/ring (r)

Jenis2 Kelainan Struktur

Pericentric Inversion

2. Kelainan Struktur Lanjutan.

1. Sindrom Cri du Chat


Le Jeune et al. (1963/64) Delesi (denovo) lengan pendek kromosom 5 (5p-, reg 14-15). Sering menimbulkan kematian bayi Insidensi relatif jarang 1 : 50.000 kelahiran Fenotip : Microcephaly Moonlike face Mulut kecil (mandibula) dan melebar Hipertelorisme Hidung lebar berbentuk lempeng Low set ear Retardasi mental berat, IQ < 35 Dapat hidup mencapai dewasa

Sindrom Cri du Chat

Sindrom Cri du Chat

2. Kelainan Struktur Lanjutan.

2. Sindrom de Grouchy (18p-)


De Grouchi 1963 (18p-) Delesi (denovo) lengan pendek kromosom 18 (18p-) Fenotip : Berat lahir < normal Wajah bulat Low set ear Mulut melebar Retardasi mental Dapat hidup mencapai dewasa Carries dentis

2. Kelainan Struktur Lanjutan.

3. Sindrom de Grouchy (18q-)


De Grouchi 1964 (18q-) Delesi (denovo) lengan panjang kromosom 18 (18q-). Fenotip : Berat lahir < normal Low set ear Retardasi mental Dapat hidup mencapai dewasa Letak mata dalam Hipertelorisme Carries dentis

2. Kelainan Struktur Lanjutan.

4. Sindrom Ring Kromosom 18 (18r).


Kromosom membentuk cincin (Ring; 18r). Fenotip : Berat lahir < normal Low set ear Retardasi mental Letak mata dalam Hipertelorisme Kelainan jantung bawaan Microcephaly

Kromosom Cincin

2. Kelainan Struktur Lanjutan.

Sindrom Azoospermia Factor (AZF a, b, c) (Microdeletion Y Chromosome)


Aberasi struktur kromosom seks Delesi lengan panjang kromosom Y DAZ (Delete Azoospermia Factor) Azoospermia Factor C

Kelainan Gonad Dan Perkembangan Seksual Kesulitan penentuan seks akibat genilitalia meragukan
(Ambiguous)

1. Hermafrodit (hermaphroditsm) Terdapat testis dan ovarium atau dalam bentuk ovotestis. Genitalia ambiguous : hipospadia, perbesaran klitoris Kariotip:46,XX/46,XY

2. Pseudohermafrodit Wanita (female pseudohermaphroditsm) Terdapat ovarium atau gonad pada satu seks saja. Genitalia ambiguous : perbesaran klitoris, fusi labia majora menyerupai kantong scrotum. Umumnya akibat hiperplasia adrenal kongenital, menimbulkan defek enzim yang dibentuk kelenjar adrenal, dibutuhkan biosintesis kortisol untuk virilisasi. Ovarium berkembang normal, namun produksi androgen. Kariotip:46,XX. Hiperplasia adrenal menyebabkan defisiensi 21-hidroksilase, menghambat normal pathway biosintesis, menyebabkan overproduction precursors, yang diperlukan dalam pathway androgen biosynthesis, menyebabkan peningkatan androgen yang abnormalitas (tinggi).

Adrenal Hiperplasia

3. Pseudohermafrodit pria (male pseudohermaphroditsm) Bentuk dari androgen insensitivity. A. Defiensi 5-alfa reduktase. Enzim ini berperan dalam konversi testosteron menjadi dihidrotestoteron. Feminisasi genetalia eksterna : mikropenis, vagina buntu Kariotip:46,XY. Testis berkembang normal. B. Feminisasi Testis (Testicular feminization; androgen insensitivity syndrome). Kelainan gen reseptor androgen (rangkai X dominan). Testis dalam abdomen atau kanal inguinal. Memiliki vagina tetapi buntu.

Drs. H. Yurnadi M.Kes.

Pseudohermaphfrodite ( )

1. Pseudohermaphrodites have e testicular or ovarian ti but no 2. Generally the tissue is rudime 3. External genitalia are ambig 4. Some are genetically fe but may look like 5. Some are genetically but may look like females and normal female sex

Sindrom Feminisasi Testis

Drs. H. Yurnadi M.Kes.

Referensi :
1. Thompson & Thompson, 2001 : Genetics in Medicine Edt 6th, Nussbaum, McInnes, and Willard. WB.Saunders Comp. 2. Thompson & Thompson 1991 : Genetics in Medicine Edt 5th, WB.Saunders Comp. 3. Thompson& Thompson 1980 : Genetics in Medicine Edt 3th, WB.Saunders Comp. 4. Strickberger, M 1976 : Genetic Edt 2nd, McGrawhill.

Drs. H. Yurnadi M.Kes.