Anda di halaman 1dari 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Dasar Teori Bahan Bakar Secara umum bahan bakar diklasifikasikan berdasarkan kondisi fisiknya menjadi 3 kelompok (Tjokrowisastro dan Widodo, 1990), yaitu bahan bakar padat, sebagai contoh batubara, kayu dan arang; bahan bakar cair, sebagai contoh minyak bumi dan olahannya serta methanol dan etanol; dan bahan bakar gas. Minyak bumi (petroleum) berasal dari kehidupan laut yang membusuk. Minyak mentah (crude oil) biasanya ditemui di dalam kubah karang berpori yang besar. Yang berperan penting dalam pembentukan minyak bumi hanya 2 unsur, yaitu C sebesar lebih dari 85% dan H sebesar 12-15%. (Wahyu, 2007) Minyak bumi dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan berbagai jenis bahan bakar minyak dengan proses destilasi atau penyaringan, menjadi : a. Bensin (gasoline) Bensin pada umumnya adalah campuran produk yang dihasilkan dari beberapa proses. Dengan pencampuran ini maka sifat bahan bakar bensin dapat diukur untuk memberikan karakteristik operasi sesuai dengan yang di inginkan. b. Minyak tanah (kerosene) Kerosin biasa digunakan sebagai minyak bakar (burning oil), minyak lampu dan bahan bakar jet. Pada proses pembakaran, kerosene mempunyai kecenderungan menghasilkan asap hitam dan putih pada cerobong serta membentuk jamur pada sumbu. Asap hitam disebabkan karena struktur atom hidrokarbon sementara asap putih disebabkan oleh disulfida. c. Bahan bakar diesel (solar) Bahan bakar diesel yang dijual di pasaran merupakan hasil dari distilasi langsung (straightrun), cracking atau merupakan campuran (blending). Bahan bakar diesel memiliki sifat mengeluarkan asap bila dikenai pembakaran dan viskositas yang cukup tinggi. Viskositas ini berpengaruh terhadap proses pengabutan. Bahan bakar diesel juga mengandung kadar belerang yang tinggi, yang dapat menyebabkan keausan pada bagian mesin. Jika pada pembakaran solar dihasilkan excess air yang besar, maka akan terbentuk SO3, yang bila

II-1

II-2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA bercampur dengan H2O akan membentuk asam belerang yang bersifat korosif. Kandungan S dibatasi secara ekonomis sampai 0,5 %. d. Minyak pelumas (oli) Oli adalah minyak pelumas mesin kendaraan maupun mesin produksi. Oli bekas dapat diperoleh dari pabrik-pabrik maupun dari bengkel kendaraan bermotor.
(Wahyu, 2007)

II.1.2 Karakteristik Bahan Bakar Cair Bahan bakar cair seperti minyak tungku/ furnace oil dan LSHS (low sulphur heavy stock) banyak digunakan dalam penggunaan industri. Bahan bakar cair mempunyai beberapa sifat penting yang sangat berpengaruh pada kualitasnya. Berbagai sifat bahan bakar cair dijelaskan dibawah ini. (Cylirilla, 2011) a. Densitas Densitas didefinisikan sebagai perbandingan massa bahan bakar terhadap volum bahan bakar pada suhu acuan 15C. Densitas diukur dengan suatu alat yang disebut hydrometer. Pengetahuan mengenai densitas ini berguna untuk penghitungan kuantitatif dan pengkajian kualitas penyalaan. Satuan densitas adalah kg/m3. (Cylirilla, 2011) b. Specific gravity Specific gravity didefinisikan sebagai perbandingan berat dari sejumlah volum minyak bakar terhadap berat air untuk volum yang sama pada suhu tertentu. Densitas bahan bakar, relatif terhadap air, disebut specific gravity. Specific gravity air ditentukan sama dengan 1. Karena specific gravity adalah perbandingan, maka tidak memiliki satuan. Pengukuran specific gravity biasanya dilakukan dengan hydrometer. Specific gravity digunakan dalam penghitungan yang melibatkan berat dan volum. (Cylirilla, 2011) c. Viskositas Viskositas suatu fluida merupakan ukuran resistansi bahan terhadap aliran. Viskositas tergantung pada suhu dan berkurang dengan naiknya suhu. Viskositas diukur dengan Stokes / Centistokes. Kadang-kadang viskositas juga diukur dalam Engler, Saybolt atau Redwood. Tiap jenis minyak bakar memiliki hubungan suhu viskositas tersendiri. Pengukuran viskositas dilakukan dengan suatu alat yang disebut Viskometer. Viskositas merupakan sifat yang sangat LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA FTI-ITS SURABAYA

II-3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA penting dalam penyimpanan dan penggunaan bahan bakar minyak. Viskositas mempengaruhi derajat pemanasan awal yang diperlukan untuk handling, penyimpanan dan atomisasi yang memuaskan. Jika minyak terlalu kental,maka akan menyulitkan dalam pemompaan, sulit untuk menyalakan burner, dan sulit dialirkan. Atomisasi yang jelek akam mengakibatkan terjadinya pembentukan endapan karbon pada ujung burner atau pada dinding-dinding. Oleh karena itu pemanasan awal penting untuk atomisasi yang tepat. (Cylirilla, 2011) d. Titik Nyala Titik nyala suatu bahan bakar adalah suhu terendah dimana bahan bakar dapat dipanaskan sehingga uap mengeluarkan nyala sebentar bila dilewatkan suatu nyala api. Titik nyala untuk minyak tungku / furnace oil adalah 66 0C. (Cylirilla, 2011) e. Titik Tuang Titik tuang suatu bahan bakar adalah suhu terendah dimana bahan bakar akan tertuang atau mengalir bila didinginkan dibawah kondisi yang sudah ditentukan. Ini merupakan indikasi yang sangat kasar untuk suhu terendah dimana bahan bakar minyak siap untuk dipompakan.
(Cylirilla, 2011)

f. Panas Jenis Panas jenis adalah jumlah kKal yang diperlukan untuk menaikan suhu 1 kg minyak sebesar 10C. Satuan panas jenis adalah kkal/kgC. Besarnya bervariasi mulai dari 0,22 hingga 0,28 tergantung pada specific gravity minyak. Panas jenis menentukan berapa banyak steam atau energi listrik yang digunakan untuk memanaskan minyak ke suhu yang dikehendaki. Minyak ringan memiliki panas jenis yang rendah, sedangkan minyak yang lebih berat memiliki panas jenis yang lebih tinggi. (Cylirilla, 2011) g. Nilai Kalor Nilai kalor merupakan ukuran panas atau energi yang dihasilkan., dan diukur sebagai nilai kalor kotor / gross calorific value atau nilai kalor netto / nett calorific value. Perbedaannya ditentukan oleh panas laten kondensasi dari uap air yang dihasilkan selama proses pembakaran. Nilai kalor kotor / gross calorific value (GCV) mengasumsikan seluruh uap yang dihasilkan selama proses pembakaran sepenuhnya terembunkan/terkondensasikan. Nilai kalor netto (NCV) mengasumsikan air yang keluar dengan produk pengembunan tidak seluruhnya terembunkan. LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA FTI-ITS SURABAYA

II-4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bahan bakar harus dibandingkan berdasarkan nilai kalor netto. Nilai kalor batubara bervariasi tergantung pada kadar abu, kadar air dan jenis batu baranya sementara nilai kalor bahan bakar minyak lebih konsisten. (Cylirilla, 2011) h. Sulfur Jumlah sulfur dalam bahan bakar minyak sangat tergantung pada sumber minyak mentah dan pada proses penyulingannya. Kandungan normal sulfur untuk residu bahan bakar minyak (minyak furnace) berada pada 2-4%. Kerugian utama dari adanya sulfur adalah resiko korosi oleh asam sulfat yang terbentuk selama dan sesudah pembakaran, dan pengembunan di cerobong asap, pemanas awal udara dan economizer. (Cylirilla, 2011) i. Kadar Abu Kadar abu erat kaitannya dengan bahan inorganik atau garam dalam bahan bakar minyak. Kadar abu pada distilat bahan bakar diabaikan. Residu bahan bakar memiliki kadar abu yang tinggi. Garam-garam tersebut mungkin dalam bentuk senyawa sodium, vanadium, kalsium, magnesium, silikon, besi, alumunium, nikel, dll. Umumnya, kadar abu berada pada kisaran 0,03 0,07 %. Abu yang berlebihan dalam bahan bakar cair dapat menyebabkan pengendapan kotoran pada peralatan pembakaran. Abu memiliki pengaruh erosi pada ujung burner, menyebabkan kerusakan pada refraktori pada suhu tinggi dapat meningkatkan korosi suhu tinggi dan penyumbatan peralatan. (Cylirilla, 2011) j. Residu Karbon Residu karbon memberikan kecenderungan pengendapan residu padat karbon pada permukaan panas, seperti burner atau injeksi nosel, bila kandungan yang mudah menguapnya menguap. Residu minyak mengandung residu karbon 1 persen atau lebih. (Cylirilla, 2011) k. Kadar Air Kadar air minyak tungku/furnace pada saat pemasokan umumnya sangat rendah sebab produk disuling dalam kondisi panas. Batas maksimum 1% ditentukan sebagai standar. Air dapat berada dalam bentuk bebas atau emulsi dan dapat menyebabkan kerusakan dibagian dalam permukaan tungku selama pembakaran terutama jika mengandung garam terlarut. Air juga dapat menyebabkan percikan nyala api di ujung burner, yang dapat mematikan nyala api, menurunkan suhu nyala api atau memperlama penyalaan. (Cylirilla, 2011) LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA FTI-ITS SURABAYA

II-5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA l. Penyimpanan Bahan Bakar Minyak Akan sangat berbahaya bila menyimpan minyak bakar dalam tong. Cara yang lebih baik adalah menyimpannya dalam tangki silinder, diatas maupun dibawah tanah. Minyak bakar yang dikirim umumnya masih mengandung debu, air dan bahan pencemar lainnya. Ukuran tangki penyimpan minyak bakar sangatlah penting. (Cylirilla, 2011) Perkiraan ukuran penyimpan yang direkomendasikan sedikitnya untuk 10 hari konsumsi normal. Tangki penyimpan bahan bakar untuk industri pada umumnya digunakan tangki mild steel tegak yang diletakkan diatas tanah. Untuk alasan keamanan dan lingkungan, perlu dibuat dinding disekitar tangki penyimpan untuk menahan aliran bahan bakar jika terjadi kebocoran.
(Cylirilla, 2011)

Pengendapan sejumlah padatan dan lumpur akan terjadi pada tangki dari waktu ke waktu, tangki harus dibersihkan secara berkala: setiap tahun untuk bahan bakar berat dan setiap dua tahun untuk bahan bakar ringan. Pada saat bahan bakar dialirkan dari kapal tanker ke tangki penyimpan, harus dijaga dari terjadinya kebocoran-kebocoran pada sambungan, flens dan pipapipa. Bahan bakar minyak harus bebas dari pencemar seperti debu, lumpur dan air sebelum diumpankan ke sistim pembakaran. (Cylirilla, 2011) Prinsip-prinsip Pembakaran Pembakaran merupakan oksidasi cepat bahan bakar disertai dengan produksi panas, atau panas dan cahaya. Pembakaran sempurna bahan bakar terjadi hanya jika ada pasokan oksigen yang cukup. Oksigen (O2) merupakan salah satu elemen bumi paling umum yang jumlahnya mencapai 20.9% dari udara. Bahan bakar padat atau cair harus diubah ke bentuk gas sebelum dibakar. Biasanya diperlukan panas untuk mengubah cairan atau padatan menjadi gas. Bahan bakar gas akan terbakar pada keadaan normal jika terdapat udara yang cukup. (Cylirilla, 2011) Hampir 79% udara (tanpa adanya oksigen) merupakan nitrogen, dan sisanya merupakan elemen lainnya. Nitrogen dianggap sebagai pengencer yang menurunkan suhu yang harus ada untuk mencapai oksigen yang dibutuhkan untuk pembakaran. Nitrogen mengurangi efisiensi pembakaran dengan cara menyerap panas dari pembakaran bahan bakar dan mengencerkan gas buang. Nitrogen juga mengurangi transfer panas pada permukaan alat penukar panas, juga meningkatkan volum hasil samping pembakaran, yang juga harus dialirkan melalui alat penukar panas sampai ke cerobong. Nitrogen ini juga dapat bergabung dengan oksigen (terutama pada

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA FTI-ITS SURABAYA

II-6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA suhu nyala yang tinggi) untuk menghasilkan oksida nitrogen (NOx), yang merupakan pencemar beracun. (Cylirilla, 2011) Karbon, hidrogen dan sulfur dalam bahan bakar bercampur dengan oksigen di udara membentuk karbon dioksida, uap air dan sulfur dioksida, melepaskan panas masing-masing 8.084 kkal, 28.922 kkal dan 2.224 kkal. Pada kondisi tertentu, karbon juga dapat bergabung dengan oksigen membentuk karbon monoksida, dengan melepaskan sejumlah kecil panas (2.430 kkal/kg karbon). Karbon terbakar yang membentuk CO2 akan menghasilkan lebih banyak panas per satuan bahan bakar daripada bila menghasilkan CO atau asap. (Cylirilla, 2011) C 2C 2H2 S + O2 + O2 + O2 + O2 CO2 + 8.084 kkal/kg Karbon 2 CO + 2.430 kkal/ kg Karbon 2H2O + 28.992 kkal/ kg Karbon SO2 + 2.224 kkal/ kg Karbon

Reaksi di atas menunjukkan bahwa setiap kilogram CO yang terbentuk mengalami kehilangan panas 5654 kKal (8084 2430). (Cylirilla, 2011) Densitas Densitas menunjukkan perbandingan massa persatuan volume karakteristik ini berkaitan dengan nilai kalor dan daya yang dihasilkan oleh masin diesel persatuan volume bahan bakar. Massa jenis bahan bakar diesel diukur dengan menggunakan metode ASTM D 287 atau ASTM DI 298 dan mempunyai satuan kilogram/meter kubik (kg/m3). (http://Universitas-SumatraUtara/Bahan-Bakar/ChapterI1.pdf)

Kerapatan suatu fluida dapat didefinisikan sebagai massa per satuan volume, dengan rumus umum sebagai berikut: = m v dengan = rapat massa (kg/m3) m = massa (kg) v = volume (m3) (http://Universitas-Sumatra-Utara/Bahan-Bakar/ChapterI1.pdf) Specific Gravity Specific gravity merupakan suatu angka yang menyatakan perbandingan berat dari bahan bakar minyak pada temperatur tertentu terhadap air pada volume dan temperatur yang

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA FTI-ITS SURABAYA

II-7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA sama. Specific gravity digunakan untuk mengukur berat/massa minyak bila volumenya telah diketahui. (http://energyswasta.blogspot.com/2010/12/karakteristik-bahan-bakar-minyak.html) Pengukuran specific gravity dilakukan pada kondisi yang sama yaitu pada temperatur 15,5 oC atau 60 oC dan tekanan 760 mmHg. Bahan bakar minyak umum mempunyai specific gravity antara 0,74 g/mL dan 0,96 g/mL, dengan kata lain bahan bakar minyak lebih ringan daripada air. (http://energyswasta.blogspot.com/2010/12/karakteristik-bahan-bakar-minyak.html) API Gravity Derajat API (API Gravity) merupakan satuan yang digunakan untuk menyatakan berat jenis minyak dan digunakan sebagai dasar klasifikasi minyak bumi yang paling sederhana. Hubungan berat jenis dengan derajat api adalah saling berkebalikan. Makin kecil berat jenis minyak bumi atau makin tinggi derajat API-nya, makin berharga minyak bumi itu karena lebih banyak mengandung bensin. (http://doctorgeologyindonesia.blogspot.com/2011/07/derajat-api-apigravity.html)

Tinggi rendahnya berat jenis minyak bumi juga berpengaruh pada viskositasnya. Pada umumnya semakin tinggi derajat API atau makin ringan minyak bumi tersebut, makin kecil viskositasnya. Tinggi rendahnya derajat API juga berpengaruh pada titik didih minyak bumi, kalau API Gravity minyak bumi rendah, maka titik didihnya tinggi. Demikian sebaliknya kalau derajat API-nya tinggi, maka titik didihnya rendah, dan juga lebih mudah terbakar atau mempunyai titik nyala yang lebih rendah daripada yang derajat API-nya rendah. Ternyata terdapat hubungan antara berat jenis dengan nilai kalori minyak bumi, pada umumnya minyak bumi dengan API tinggi menghasilkan kalori yang lebih kecil daripada minyak bumi dengan API lebih rendah. (http://doctorgeologyindonesia.blogspot.com/2011/07/derajat-api-api-gravity.html) Berdasarkan derajat API, minyak mentah dibagi kedalam lima jenis minyak mentah yaitu: minyak mentah ringan, minyak mentah ringan sedang, minyak mentah berat sedang, minyak mentah berat, minyak mentah sangat berat. (http://doctorgeologyindonesia.blogspot.com/
2011/07/derajat-api-api-gravity.html)

Oli Mesrania 2T Super Oli Mesrania 2T Super merupakan pelumas bermutu tinggi yang dirancang untuk mesin diesel yang bertenaga sedang dengan turbocharger dan mesin bensin yang keduanya dipergunakan pada armada angkutan serta mesin alat-alat besar yang menghendaki pelumas LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA FTI-ITS SURABAYA

II-8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA jenis ini. Oli ini cocok untuk perusahaan-perusahaan dengan armada kendaraan bermesin bensin dan diesel. Pelumas ini diformulasikan dari bahan dasar yang memiliki viscosity index yang tinggi serta mengandung detergent yang tinggi, anti oksidasi,anti karat,antiaus dan anti busa. Sifat lainya dari pelumas ini adalah tidak menimbulkan lumpur endapan (sludge) walaupun mesin bekerja dengan suhu rendah, mengingat sifat ini diperlukan pada kendaraan yang bekerja ringan. Pelumas ini sangat sesuai untuk pelumasan mesin diesel kendaraan bertenaga besar tanpa turbocharger maupun yang bertenaga sedang dengan turbocharger. (MSDS Oli Mesrania
2T Super PT. Pertamina)

Karakteristik Oli Mesrania 2T Super dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel II.1 Spesifikasi Mesrania 2T Super No. 1 2 3 4 5 6 7 Karakteristik Viscosity Kinematic at 40C, cSt 100C, cSt Viscosity Index Spesicific Gravity 15/4 C Colour ASTM Flash Point (COC), C Pour Point, C TBN Nilai 44.52 7.48 134 0.8766 Dark B 82 -36 Metode Uji ASTM D-445 ASTM D-445 ASTM D-2270 ASTM D-1298 ASTM D-1500 ASTM D-92 ASTM D-97 ASTM D-2896

(MSDS Oli Mesrania 2T Super PT. Pertamina)

Premium Premium terutama terdiri atas senyawa-senyawa hidrokarbon dengan 5 sampai 10 atom karbon yang diperoleh dari minyak bumi. Sebagian diperoleh langsung dari hasil penyulingan bertingkat minyak bumi (fraksi dengan titik didih berkisar 30 oC 200 oC), sebagian besar lagi dari hasil proses pada kilang minyak yang mengubah fraksi yang lebih ringan dan yang lebih berat dari premium menjadi premium dengan reaksi reformasi. (http://Universitas-SumatraUtara/Premium/ChapterI1.pdf)

Karakteristik bahan bakar Premium ditunjukkan dalam tabel berikut ini: Tabel II.2 Spesifikasi Premium No. 1 2 3 Karakteristik Bilangan Oktana - RON - MON Stabilitas Oksida Kandungan Sulfur Satuan RON menit % m/m Batasan Tanpa Timbal Bertimbal Min Maks Min Maks 88,0 360 0,05 1) 88,0 360 0,05 1) Metode Uji ASTM D 2699-86 D 2700-86 D 525-99 D 2622-98

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA FTI-ITS SURABAYA

II-9 BAB II TINJAUAN 4 5 Kandungan Timbal Distilasi : 10% vol. Penguapan 50% vol. Penguapan 90% vol. Penguapan Titik didih akhir Residu Kandungan oksigen Washed gum Tekanan uap Berat jenis (15 oC) Korosi bilah tembaga Sulfur Mercaptan Penampilan visual Warna Kandungan pewarna Bau Gr/l C C o C o C %vol %m/m mg/100
o o

PUSTAKA 0,013 88 715 74 125 180 215 2,0 2,7 2) 5

88 -

0,3 74 125 180 205 2,0 2,7 2) 5

D 3237-97 D 86-99a

6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

D 4815-94a D 381-99 D 5191/D 323 D4052/D1298 D 130-94 D 3227

ml kPa kg/m3 menit % massa gr/100 l

780 Kelas 1 negatif 0,002 jernih & terang Merah dapat dipasarkan

780 Kelas 1 negatif 0,002 jernih & terang Merah dapat dipasarkan

715

Catatan Umum 1. Aditif harus kompatibel dengan mesin (tidak menambah kotoran mesin/kerak) 2. Aditif yang mengandung komponen abu (ash forming tidak diperbolehkan) 3. Pemeliharaan secara baik untuk mengurangi kontaminasi (debu, air, bahan bakar, dll) Catatan Kaki Catatan 1 Batasan 0,05% setara dengan 500 ppm 2 Bila digunakan oksigenat, jenis ether lebih disukai. Penggunaan etanol diperbolehkan sampai dengan maksimum 10% volum (sesuai ASTM). Alkohol berkarbon lebih tinggi (C>2) dibatasi maksimal 0,1% volum. Penggunaan metanol tidak diperbolehkan.
(MSDS Premium PT. Pertamina)

Premium digunakan sebagai bahan bakar mesin-mesin yang dirancang khusus menggunakan bahan bakar premium. Premium yang baik dengan sifat anti ketukan,terdiri atas senyawa-senyawa hidrokarbon yang ; 1. Memiliki berat molekul yang relatif rendah ( C5- C10) 2. Memiliki rantai karbon yang bercabang 3. Memiliki ikatan-ikatan tak jenuh,siklik,dan terutama aromatik.
(http://Universitas-Sumatra-Utara/Bahan-Bakar/ChapterI1.pdf)

Kemampuan premium terbakar tanpa ketukan ditunjukkan dengan bilangan oktannya. Pada awalnya rentang nilai oktan adalah 0 sampai 100, dengan normal heptana diberi nilai 0 LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA FTI-ITS SURABAYA

II-10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA dan 2,2,4-trimetil pentane (isooktana) bernilai oktana 100. Suatu contoh, bila suatu bahan bakar premium memiliki sifat bakar seperti yang ditunjukkan campuran 88 persen volum isooktana dengan 12 persen volum normal heptana, maka premium itu bernilai oktana 88. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi bernomor : 3674 K/24/DJM/2006 tanggal: 17 Maret 2006 premium standar bernilai oktan 88. (http://Universitas-Sumatra-Utara/BahanBakar/ChapterI1.pdf)

II.2 Metode Standar dan Peralatan Penentuan nilai densitas, specific gravity dan API gravity minyak bumi dan produknya dapat dilakukan dengan beberapa metode atau alat, salah satunya adalah dengan menggunakan hidrometer (ASTM D 1298-99) yang umumnya untuk minyak mentah dan produknya yang berupa cairan yang memiliki tekanan uap 179 kPa atau kurang dari 26 lb. ASTM D 1298-99 Alat Uji Densitas 1. Hidrometer, dari kaca, lulus dalam satuan kepadatan, kepadatan relatif, atau gravitasi API yang diperlukan, sesuai dengan Keterangan E 100 atau ISO 649-1, dan persyaratan yang diberikan pada Tabel II.3. Dan di bawah ini adalah contoh hidrometer yang biasa digunakan dalam percobaan penentuan densitas.

Gambar II.1 Alat Hidrometer Tabel II.3 Hidrometer yang Direkomendasi Satuan Total Densitas, kg/m3 pada 15C 600-1100 50 0,5 0,5 +0,7 600-1100 Range Masing-masing unit 20 Skala Interval 0,2 Eror 0,2 Meniskus Koreksi +0,3

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA FTI-ITS SURABAYA

II-11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Relative density (specific gravity), 60/60F Relative density (specific gravity), 60/60F API -1 101 12 0,1 0,1 0,600-1,100 0,600-1,100 0,650-1,100 0,050 0,050 0,050 0,0005 0,0005 0,0005 0,0003 0,0006 0,0005 +0,0007 +0,0014 600-1100 0,600-1,100 50 0,020 1,0 0,0002 1,0 0,0002 +1,4 +0,0003

2. Pengguna harus memastikan bahwa instrumen yang digunakan untuk tes ini sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan di atas sehubungan untuk bahan, dimensi, dan kesalahan skala. Dalam kasus di mana instrumen dilengkapi dengan sertifikat kalibrasi yang diterbitkan oleh diakui standardisasi tubuh, instrumen yang digolongkan sebagai bersertifikat dan koreksi yang sesuai yang tercantum harus diterapkan untuk pembacaan yang diamati. Instrumen yang memenuhi persyaratan dari metode tes, tetapi tidak dilengkapi dengan diakui sertifikat kalibrasi, diklasifikasikan sebagai uncertified. 3. Termometer memiliki jangkauan interval skala kesalahan maksimum yang diijinkan. 4. Alat ukur alternatif atau sistem dapat digunakan, dengan ketentuan bahwa ketidakpastian total sistem dikalibrasi ada lebih besar daripada ketika menggunakan cairanin-kaca termometer. 5. Hidrometer Silinder kaca, jelas, plastik, atau logam. Diameter dalam dari silinder harus paling sedikit 25 mm lebih besar dari diameter luar hidrometer dan tinggi harus sedemikian bahwa hidrometer yang sesuai mengapung di bagian uji dengan sedikitnya 25 izin mm antara bawah hidrometer dan bagian bawah silinder. 6. Hidrometer silinder terbuat dari bahan plastik 7. Harus tahan terhadap perubahan warna atau serangan oleh sampel minyak dan tidak akan mempengaruhi bahan yang diuji. Mereka tidak akan menjadi buram di bawah kontak yang terlalu lama terhadap sinar matahari. 8. Suhu Bath konstan, jika diperlukan. Dimensi sedemikian rupa sehingga dapat mengakomodasi silinder dengan hidrometer bagian tes sepenuhnya tenggelam di bawah cair bagian uji permukaan, dan sistem kontrol suhu mampu mempertahankan suhu Bath dalam 0,25 C dari suhu uji sepanjang durasi ujian. LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA FTI-ITS SURABAYA

II-12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 9. Pengadukan Rod, opsional, dari kaca atau plastik, sekitar 400 mm. Dengan berkembangnya teknologi, saat ini juga telah berkembang alat pengukur densitas yang lebih canggih yakni Digital Density Meter yang penggunaannya lebih praktis dibandingkan dengan alat hidrometer. Bentuk alat Digital Density Meter dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar II.2 Alat Digital Density Meter


(http://www.kittiwake.com/Test-Solution/Density-Meter.pdf)

II.3 Aplikasi Industri PREPARASI BIODIESEL DARI MINYAK JELANTAH KELAPA SAWIT I W. Suirta Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran BBM digunakan secara terus-menerus dan cenderung meningkat akibat pertumbuhan penduduk dan industri, sementara cadangan minyak semakin menipis dan tidak dapat diperbaharui. Hal ini sangat potensial menimbulkan krisis energi pada masa yang akan datang. Untuk mengatasi persoalan tersebut dan mengurangi ketergantungan pada BBM perlu diadakan diversifikasi energi dengan cara mencari energi alternatif yang terbarukan. Salah satunya adalah energi alternatif yang berasal dari minyak tanaman/tumbuhan (Posman, 2003). Indonesia berpeluang besar untuk mengembangkan penggunaan bioenergi dari tumbuhan, misalnya biodiesel dari minyak kelapa sawit 'palm biodiesel', sebab bahan bakunya melimpah, yakni kelapa sawit. Kelapa sawit (elaeis guinensis JACQ) merupakan salah satu dari beberapa tanaman golongan palm yang dapat menghasilkan minyak. Dalam penggunaannya, minyak goreng mengalami perubahan kimia akibat oksidasi dan hidrolisis, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada minyak goreng tersebut. Melalui proses-proses tersebut beberapa trigliserida akan terurai menjadi senyawa-senyawa lain, salah satunya Free Fatty Acid atau asam lemak bebas (Ketaren, 1996). Kandungan asam lemak bebas

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA FTI-ITS SURABAYA

II-13 BAB II TINJAUAN PUSTAKA inilah yang kemudian akan diesterifikasi dengan metanol menghasilkan biodiesel. Sedangkan kandungan trigliseridanya ditransesterifikasi dengan metanol, yang juga menghasilkan biodiesel dan gliserol. Dengan kedua proses tersebut maka minyak jelantah dapat bernilai tinggi. Bahan yang digunakan adalah minyak jelantah; asam oksalat; KOH; asam sulfat (H2SO4) 95%; KOH alkoholis; metanol; NaOH; natrium thiosulfat; Magnesium sulfat anhidrid; etanol 95%; indikator phenolphthalein 1%; indikator amilum 1%; HCl N; larutan K2Cr2O7; KI 15% ; Iodin, akuades. Alat yang diperlukan : labu leher tiga dilengkapi kondensor untuk sintesis, Seperangkat alat titrasi, piknometer, viskometer Ostwald, pengaduk magnetik, pHmeter, alat-alat gelas laboratorium. Survey dan pengambilan minyak jelantah kelapa sawit ke pedagang kaki lima di seputaran Kampus Bukit Jimbaran. Perlakuan awal meliputi penghilangan kotoran padatan dengan penyaringan, penghilangan air dengan pemanasan yang diikuti pemisahan air dengan corong pisah. Eksperimen di Laboratorium meliputi : Penyiapan dan pembuatan reagen kimia, sintesis biodiesel melalui reaksi esterifikasi dan dilanjutkan dengan transesterifikasi. Sintesis biodiesel dilakukan dengan metoda two stage acid-base melalui dua tahap reaksi, yaitu tahap Esterifikasi, dilakukan dengan mereaksikan sejumlah volume minyak jelantah dengan metanol pada suhu 35 C dengan katalis asam dan disertai dengan pengadukan selama 5 menit, dilanjutkan dengan pengadukan tanpa pemanasan selama 1 jam. Kemudian didiamkan selama 24 jam. Setelah itu dilanjutkan dengan tahap kedua yaitu Reaksi Transesterifikasi. Campuran hasil tahap pertama ditambahkan dengan larutan natrium metoksida, kemudian dipanaskan pada suhu 55 C selama 2,5 jam diikuti dengan pengadukan. Setelah itu campuran dipindahkan ke dalam corong pisah dan didiamkan selam 1 jam, akan terbentuk lapisan gliserol dan lapisan biodiesel. Pisahkan lapisan biodiesel dan dicuci pada pH netral beberapa kali dengan air. Keringkan air yang terdistribusi dalam biodiesel dengan garam penarik air (MgSO 4 anhidrid). Pisahkan biodiesel dari garam-garam yang mengendap dengan penyaringan. Filtrat yang diperoleh merupakan senyawa metil ester (biodiesel) hasil sintesis. Identifikasi dan interpretasi hasil sintesis dengan GC-MS yakni biodiesel hasil sintesis dianalisis dengan GC-MS di Lab Kimia Organik Jurusan Kimia FMIPA UGM, untuk memastikan hasil yang diperoleh benar merupakan metil ester (biodiesel). Penentuan sifat fisika dan sifat kimia biodiesel hasil sintesis, meliputi : densitas, viskositas, bilangan asam dan bilangan iod. Dari hasil percobaan dapat dinyatakan bahwa hasil sintesis dari penelitian ini adalah memang benar merupakan senyawa biodiesel, yakni metil ester. Senyawa metil ester yang LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA FTI-ITS SURABAYA

II-14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA diperoleh adalah metil miristat, metil palmitat, metil linoleat, metil oleat, metil stearat, metil arakhidat. Senyawa metil ester yang diperoleh tersebut sesuai dengan kandungan asam lemak yang terdapat pada bahan dasar minyak kelapa sawit yang digunakan untuk sintesis ini seperti: asam palmitat, asam miristat, asam stearat, asam linoleat, asam oleat. Namun senyawa metil arakhidat tidak sesuai dengan kandungan asam lemak pada kelapa sawit. Untuk menentukan massa jenis (densitas) dan viskositas biodiesel, masing-masing pengerjaan dilakukan 3 kali ulangan. Dari perhitungan tersebut diperoleh hasil densitas biodiesel pada suhu 15 C masih dalam range standar biodiesel DIN V 51606 yaitu 0,85- 0,90 g/mL. Dari hasil perhitungan, viskositas biodiesel pada suhu 40 C masih memenuhi range standar biodiesel standar DIN V 51606 yakni 3,5 -5,0 mm2/s. Bilangan asam (0,4238 0,0397 mg KOH/g), dan bilangan iod (9,3354 0,0288)g Iod/100 g sampel). Dari hasil pengamatan sifat kimianya dan setelah dibandingkan dengan standarnya,maka biodiesel hasil sintesis dapat digunakan sebagai bahan bakar diesel.

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA FTI-ITS SURABAYA