Anda di halaman 1dari 21

MODUL V SYARIAH Artinya: Untuk tiap-tiap umat di antara kamu Kami jadikan aturan dan jalan

yang

terang.

Sekiranya

Allah

menghendaki

niscaya

kamu

dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada Allahlah kembali kamu semuanya, lalu diberikan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan itu (QS. Al-Maidah, 5:48).1 A. ARTI DAN RUANG LINGKUP SYARIAH syariah atau syariat menurut asal katanya berarti jalan, yaitu jalan yang harus ditempuh seorang muslim. Menurut istilah, syariat berarti aturan atau undang-undang yang diturunkan Allah untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, mengatur hubungan sesama manusia dan hubungan antar manusia dengan alam semesta. Sesuai dengan pengertian di atas, syariah mencakup semua aspek kehidupan manusia sebagai individu, warga masyarakat sebagai subyek alam semesta. Syariah mengatur hidup manusia sebagai individu, yaitu hamba Allah yang harus taat, tunduk, dan patuh kepada Allah. Ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan kepada Allah dibuktikan dalam bentuk pelaksanaan ibadah yang tata caranya diatur sedemikian rupa oleh syariat Islam. Esensi ibadah adalah penghambaan diri secara total kepada Allah sebagai pengakuan akan kelemahan dan kebatasan manusia di hadapan kemahakuasaan Allah.

Syariat Islam mengatur pula tata hubungan antara seseorang dengan dirinya sendiri untuk mewujudkan sosok individu yang saleh. Kesalehan individu ini mencerminkan sosok pribadi muslim yang paripurna. Islam mengakui manusia sebagai makhluk sosial karena itu syariah mengatur tata hubungan antara manusia dengan manusia dalam bentuk muamalah sehingga terwujud kesalehan sosial. Kesalehan sosial merupakan bentuk hubungan yang harmonis antara individu dangan lingkungan sosialnya sehingga dapat dilahirkan bentuk masyarakat yang marhamah atau masyarakat yang saling memberikan perhatian dan kepedulian antara anggota masyarakat lainnya yang dilandasi oleh rasa kasih sayang. Dalam hubungan dengan alam, syariat Islam meliputi aturan dalam mewujudkan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam dan mendorong untuk saling memberi manfaat sehingga terwujud lingkungan alam yang makmur dan lestari. Demikian Allah menurunkan syariat Islam kepada manusia dengan lengkap dengan hakekat manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna. Syariat ini diturunkan kepada manusia untuk dilaksanakan dalam kehidupan di dunia demi mencapai kebahagian yang hakiki di dunia dan akhirat. B. PRINSIP-PRINSIP DAN TUJUAN SYARIAH ISLAM 1. Prinsip-Prinsip Syariah Islam Prinsip-prinsip adalah landasan yang menjadi titik tolak atau pedoman pemikiran kefilsafatan dan pembinaan syariah Islam. Prinsip-prinsip itu adalah :
a.

Mengesakan Allah, semua manusia dikumpulkan dibawah panjipanji atau ketetapan yang sama yaitu : La Illaha Ilallah (Q.S. Ali Imran (3) : 64);

b.

Keadilan bagi manusia, baik terhadap dirinya sendiri, maupun terhadap orang lain (Q.S. An-Nisa (4) : 135, Al-Maidah (5) : 8 AlAnam (6) : 152, Al-Hujarat (49) : 9);

c.

Persamaan (al-musawah) di antara umat manusia, persamaan di antara umat Islam. Tidak ada perbedaan antara orang Arab dan Ajam, antara manusia yang berkulit putih dan hitam, yang membedakan hanyalah takwanya (Q.S. Al-Hujarat (49) : 13, AlIsra (17) : 70);

d.

Kemerdekaan dan kebebasan (al-hurriyah), meliputi kebebasan berbuat dan bertindak, kebebasan pribadi dalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum (Q.S. Al-Baqarah (2) : 256, AlKafirun (109) : 5, Al-Kahfi (18) : 29);

e.

Amar maruf nahi munkar, yaitu memerintahkan untuk berbuat yang baik, benar, sesuai dengan kemaslahatan manusia, diridhoi oleh Allah dan memerintahkan untuk menjauhi perbuatan yang buruk, tidak benar, merugikan umat manusia, bertentangan dengan perintah Allah (Q.S. Ali Imran (3) :110);

f.

Tolong-menolong (Taawun), yaitu tolong menolong, saling membantu antara sesama manusia sesuai dengan prinsip tauhid, dalam kebaikan dan taqwa kepada Allah SWT, bukan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan (Q.S. Al-Maidah (5) : 2, Al-Mujadilah (58) : 9);

g.

Toleransi

(tasamuh),

sikap

saling

menghormati,

untuk

menciptakan kerukunan dan kedamaian antar sesama manusia (Q.S. Al-Mumtahanah (60) : 8-9); h.
i.

Musyawarah dalam memecahkan masalah kehidupan (Q.S. Ali Imran (3) : 159, Asy-Syura (42) :38); Jalan tengah (ausath, wasathan), dalam segala hal atau keseimbangan (Q.S. Al-Baqarah (2) :143); Ditujukan kepada manusia yang berakal (Q.S. Al-Hasyr (59) : 2, Al-Baqarah (2) : 75, Al-Anam (6) : 32 & 119);

j.

2. Tujuan Syariah Islam Allah SWT menurunkan syariat Islam untuk mengatur kehidupan manusia, baik selaku pribadi maupun selaku anggota masyarakat. Hal ini berbeda dengan konsep di luar Islam yang hanya ditujukan untuk mengatur kehidupan manusia selaku anggota masyarakat. Hukum Islam melarang perbuatan yang pada dasarnya merusak kehidupan manusia, sekalipun perbuatan itu disenangi oleh manusia atau sekalipun umpamanya perbuatan itu dilakukan hanya oleh seseorang tanpa merugikan orang lain, seperti seseorang minum-minuman yang memabukan (khamr). Dalam pandangan Islam perbuatan orang itu tetap dilarang, karena dapat merusak akalnya yang seharusnya dipelihara, walaupun ia membeli minuman tersebut dengan uangnya sendiri dan

diminum dirumahnya tanpa mengganggu orang lain. Demikian juga perbuatan hubungan seksual di luar nikah (zina), perbuatan tersebut mutlak dilarang siapapun yang melakukannya itu dengan suka sama suka, tanpa paksaan dan tidak merugikan orang lain. Dengan demikian Islam adalah agama yang memberi pedoman hidup kepada manusia secara menyeluruh, meliputi segala aspek kehidupannya menuju tercapainya kebahagiaan hidup rohani dan jasmani, baik dalam kehidupan individunya, maupun dalam kehidupan masyarakatnya. Secara umum, tujuan pencipta hukum (Syari) dalam menetapkan hukum-hukumnya adalah untuk kemaslahatan dan kepentingan serta kebahagiaan di dunia fana (sementara) ini, maupun kebahagiaan di akhirat yang baqa (kekal). Tujuan hukum Islam yang demikian itu dapat kita tangkap antara lain dari firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Anbiya (21) : 107 dan Al-Baqarah (2) : 201-202. Tujuan Syariah Islam (maqashid a-syariah) sebagaimana diuraikan di atas, dapat dirinci kepada lima tujuan yang disebut almaqashid al-khamsa atau al-kulliyat al-khamsa. Pertama : memelihara agama (hifdz al-din). Agama adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh manusia supaya martabatnya dapat terangkat lebih tinggi dari martabat mahkluk lain, untuk memenuhi hajat jiwanya. Pangkuan iman, pengucapan dua kalimat syahadat, pelakasanaan ibadah shalat, puasa, haji dst, dan mempertahankan kesucian agama, merupakan bagian dari aplikasi memelihara agama. Kedua : memelihara jiwa (hifdz al-nafs). Untuk tujuan memelihara jiwa islam melarang pembunuhan, penganiayaan dan pelaku pembunuhan atau penganiayaan tersebut diancam dengan hukum qishash. Ketiga : memlihara akal (hifdz al-aql). Yang membedakan manusia dengan mahkluk lain, adalah pertama : manusia telah dijadikan dalam bentuk yang paling baik, dibandingkan mahkluk lain, kedua : manusia dianugerahi akal. Oleh karena itu akal perlu dipelihara dan yang merusak akal perlu dilarang. Aplikasi pemeliharaan akal ini antara lain larangan minuman khamr (minuman keras) dan minuman lain yag dapat merusak akal, serta obat-obat berbahaya lainnya (narkoba), karena khamr dan narkoba tersebut dapat merusak dan menghilangkan fungsi akal manusia dan bahkan dapat mematikan.

Keempat

memelihara

keturunan

(hafidz

al-nasl).

Untuk

memelihara kesucian keturunan, maka Islam mengatur tata cara pernikahan dan melarang perzinahan serta perbuatan lain yang mengarah kepada perzinahan tersebut. Kelima : memelihara harta benda dan kehormatan (hafidz almawa alirdh). Aplikasi pemeliharaan harta antara lain pengakuan hak pribadi, pengaturan muamalat seperti jual-beli, sewa menyewa, gadai dsb. Pengharaman riba, larangan penipuan, larangan pencuri dsb. Selanjutnya aplikasi pemeliharaan kehormatan nampak dalam larangan menghina orang lain, gunjing dan fitnah. Azhar Basyir merinci tujuan hukum Islam itu kepada tiga kelompok besar yaitu pendidikan pribadi, menegakkan keadilan dan memelihara kebaikan hidup.2 Islam mendidik pribadi-pribadi agar maenjadi sumber kebaikan bagi masyarakatnya, tidak menjadi sumber keburukan yang akan merugikan orang lain. Pendidikan pribadi diwujudkan dalam syariat ibadah seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Ibadah tersebut disyariatkan guna mensucikan jiwa dan sekaligus memperkokoh hubungan kemasyarakatan. Islam mengajarkan agar dalam hidup bermasyarakat ditegakkan keadilan dan ihsan. Keadilan yang harus ditegakkan mancakup keadilan terhadap diri pribadi, keadilan hukum, keadialan sosial. Ibnu Qayyim merumuskan tujuan hukum Islam tersebut sebagai berikut : Syarikat bersendi dan berasas atas hikmat dan kemaslahatan manusia dalam hidupnya di dunia dan akhirat. Syariat adalah keadilan, rahmat (kasih sayang), kemaslahatan dan kebijaksanaan sepenuhnya. Setiap persoalan yang keluar, menyimpang dari keadilan menuju penganiayaan, sebaliknya, keluar (menyimpang) (menyimpang) dari dari kasih sayang menuju menuju keluar kemaslahatan

kemanfasadatan (kerusakan), keluar (menyimpang) dari kebijaksanaan menuju kesia-siaan, bukanlah termasuk syariat. Syariat adalah keadilan Allah di tengah hamba-hambaNya, kasih sayang Allah di antara makhlukmakhluk-Nya. 3 Dengan demikian maka jelaslah bahwa tujuan diturunkannya syariat (hukum) Islam adalah untuk kepentingan, kebahagiaan,

kesejahteraan dan keselamatan umat manusia di dunia dan di akhirat kelak. Manusia yang melaksanakan agama dengan benar, ia akan merasakan kebahagiaan dalam hidupnya, demikian juga sebaliknya, apabila manusia tidak melaksanakan petunjuk Allah sebagaimana terdapat dalam wahyu-Nya, maka ia tidak akan merasakan kebahagiaan, baik dalam kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak. 1. SYARIAH: APLIKASI dan HIKMAHNYA Syariah secara garis besar dibagi kepada ; ibadah dan muamalah. Ibadah artinya menghambakan diri kepada Allah. Ibadah merupakan tugas hidup manusia di dunia, karena itu manusia yang beribadah kepada Allah disebut Abdullah atau hamba Allah. Hidup seorang hamba tidak memiliki alternatif lain selain taat, patuh dan berserah diri kepada Allah. Karena itu yang menjadi inti dari ibadah adalah ketaatan, kepatuhan dan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT. Kedudukan ibadah di dalam Islam menempati posisi yang paling utama dan menjadi titik sentral dari sejumlah aktifitas muslim. Seluruh kegiatan muslim pada dasarnya merupakan bentuk ibadah kepada Allah, sehingga apa saja yang dilakukannya memiliki nilai ganda, yaitu nilai material dan nilai spiritual. Nilai material adalah imbalan nyata yang diterima di dunia, sedangkan nilai spiritual ialah ibadah yang hasilnya akan diterima di akhirat. Aktifitas yang bermakna ganda inilah yang disebut amal shaleh. 1. IBADAH Ibadah terdiri dari ibadah khusus atau ibadah mahdah dan ibadah umum atau ibadah ghairu mahdah. Ibadah khusus adalah bentuk ibadah langsung kepada Allah yang tata cara pelaksanaanya telah diatur dan ditetapkan oleh Allah atau dicontohkan oleh Rasulullah. Karena itu pelaksanaan ibadah ini sangat ketat, yaitu harus sesuai dengan contoh Rasulullah. Penambahan dan pengurangan dari contoh yang telah ditetapkan disebut bidah, yang menjadikan ibadah itu batal dan tidak sah. Ibadah baik umum maupun khusus merupakan konsekuensi dan implementasi dari keimanan terhadap Allah SWT yang tercantum dalam dua kalimat syahadat, yaitu Asyhadu allaa ilaha illallahu, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Syahadat pertama mengandung arti tiada Tuhan yang patut diibadahi selain Allah, artinya segala bentuk ibadah hanya

ditujukan kepada Allah saja. Oleh karena tugas hidup manusia di dunia ialah untuk beribadah, maka segala sesuatu yang dilakukan manusia adalah ibadah. Syahadat kedua mengandung arti pengakuan terhadap Kerasulan Muhammad SAW yang bertugas memberikan contoh nyata kepada manusia dalam melaksanakan kehendak Allah. Dalam kaitan ibadah (khusus) berarti bentuk-bentuk dan tata cara pelaksanaan ibadah yang dikehendaki Allah telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. a. Thaharah Thaharah berasal dari kata tahara artinya suci dan bersih, yaitu kondisi seseorang yang bersih dari najis dan hadast. Najis adalah kotoran yang mewajibkan seorang muslim untuk menyucikan diri dari dan kepada apa yang dikenainya. Sedangkan hadast adalah suatu kondisi dimana seseorang yang memilikinya wajib wudu atau mandi. Taharah merupakan masalah yang sangat penting dalam agama Islam dan menjadi syarat seseorang yang hendak berhubungan dengan Allah melalui shalat, tawaf dan sebagainya. Sarana yang digunakan untuk bersuci adalah air, tanah atau yang memiliki sifat yang membersihkan. Bentuk-bentuk taharah antara lain : 1) Menghilangkan najis Yang termasuk benda najis adalah bangkai, darah, daging babi, muntah, kencing dan kotoran manusia atau binatang. Apabila bendabenda najis tersebut di atas kena badan atau tempat yang hendak digunakan sholat, terlebih dahulu harus dihilangkan dengan cara menghilangkan najis tersebut dengan air sehingga hilang bau, rasa maupun warnanya. 2) Menghilangkan hadast Hadast terdiri dari hadast kecil dan hadast besar. Hadast kecil dihilangkan dengan wudu, sedangkan hadast besar dihilangkan dengan mandi (janabat). Wudhu adalah bersuci dengan air mengenai muka, dua tangan dan dua kaki untuk menghilangkan hadast kecil. Wudu merupakan syarat bagi orang yang hendak mengerjakan sholat.

Hadast besar adalah hadast yang disebabkan kerana seseorang telah melakukan senggama keluar air mani (baik ketika sadar maupun mimpi), setelah terputus dari haid dan nifas serta habis melahirkan. Hadast besar dihilangkan dengan mandi janabat, caranya berniat dan sekurang-kurangnya meratakan air ke seluruh permukaan kulit. Apabila tidak air atau karena darurat, seperti sakit atau di perjalanan, wudu atau mandi bias digantikan dengan tayamum atau menyapu muka dan dua tangan menggunakan tanah. Taharah dalam ajaran Islam merupakan bagian dari pelaksanaan ibadah kepada Allah. Setiap muslim diwajibkan sholat lima waktu sehari semalam dan sebelum melaksanakannya disyariatkan bersuci terlebih dahulu. Hal ini membuktikan bahwa ajaran Islam sangat memperhatikan dan mendorong umat Islam untuk membiasakan diri hidup bersih, indah dan sehat. Karena itu kehidupan umat Islam adalah kehidupan yang suci dan bersih. Di samping sebagai suatu kewajiban, taharah juga melambangkan tuntunan Islam untuk memelihara kesucian diri dari segala kotoran dan dosa. Allah yang Maha Suci hanya dapat didekati oleh orang-orang yang suci, baik suci fisik dari kotoran maupun suci jiwa dari dosa. a. Shalat dan Hikmahnya Menurut bahasa, shalat berarti doa, sedangkan menurut Istilah adalah bentuk ibadah yang terdiri atas gerakan-gerakan dan ucapan-ucapan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan syaratsyarat tertentu. Shalat yang diwajibkan bagi setiap muslim adalah shalat lima waktu yang terdiri atas Zuhur empat rakaat, Ashar empat rakaat, Maghrib tiga rakaat, Isya empat rakaat, dan Subuh dua rakaat. Shalat dalam agama Islam menempati tempat yang paling tinggi diantara ibadah-ibadah lainnya bahkan Nabi menempatkannya sebagai tiang agama. Amal seorang muslim yang pertama kali diperhitungkan di akhirat adalah shalat dan amal lainnya akan memiliki makna atau sangat tergantung kepada shalatnya. Shalat merupakan satu-satunya kewajiban muslim yang tidak pernah gugur sepanjang akalnya sehat. Karena itu Nabi mengajarkan shalat tidak

hanya dalam kondisi biasa, tetapi juga shalat dalam kondisi sakit, di perjalanan bahkan sholat dalam kondisi ketakutan atau perang. Shalat bagi orang yang sedang berada dalam perjalanan dilakukan dengan cara jamak (menghimpun dua shalat dalam satu waktu) dan qashar (meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat). Shalat yang biasa dijamak adalah Zuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya. Apabila Shalat Zuhur dengan Ashar disatukan dan dilakukan pada waktu Zuhur disebut jamak taqdim dan apabila dilakukan pada waktu Ashar disebut jamak takhir. Sedangkan shalat yang biasa diqashar adalah shalat yang empat rakaat, yaitu Zuhur, Ashar, dan Isya. Melaksanakan shalat jamak bisanya dilakukan juga dengan mengqasharnya sehingga shalat yang empat rakaat diringkas menjadi dua rakaat. Shalat bagi orang sakit dilakukan dengan cara duduk atau berbaring sesuai dengan kemampuannya. Rukuk dilakukan dengan merendahkan badan ke depan dan sujud dilakukan lebih rendah dari rukuknya. Shalat dalam kendaraan dilakukan dengan cara duduk di atas kendaraan. Rukuk dan Sujud dilakukan sebagaimana yang dilakukan pada orang sakit. Apabila arah kiblat diketahui, maka pada saat takbiratul ihram badan dan kedua tangan dihadapkan ke arah kiblat, selanjutnya menghadap kemana saja arah kendaraan melaju. Apabila arah kiblat tidak diketahui shalat dapat menghadap kemana saja kendaraan mengarah. Adanya keringanan dalam melaksanakn shalat sebagaimana dijelaskan di atas membuktikan bahwa Islam tidak kaku menerapkan hukumnya, tetapi disesuaikan dengan batas kemampuan yang dimiliki penganutnya. Di samping shalat lima waktu, setiap muslim wajib pula melaksanakan Shalat Jumat, yaitu sholat berjamaah yang dilakukan pada waktu Zuhur hari Jumat dua rakaat yang didahului dengan khutbah. Shalat Jumat merupakan ibadah mingguan. Di samping shalat wajib terdapat pula shalat-shalat sunat, antara lain shalat Rawatib, Dhuha, Tahajud dan sebagainya. Shalat-shalat sunat merupakan ibadah yang dianjurkan dalam rangka meningkatkan dan menambah pengalaman agama dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Shalat lima waktu sebagai bentuk ibadah harian di samping sebagai bentuk penghambaan seorang muslim kepada Allah, di dalamnya terkandung hikmah yang dalam. Shalat yang telah ditentukan waktu dan tata caranya

10

mengandung makna pembinaan disiplin terhadap waktu dan tugas sehingga seorang muslim terbiasa hidup teratur dan tertib. Waktu shalat yang lima waktu sehari semalam merupakan saat-saat yang tepat bagi seorang muslim untuk melakukan evaluasi diri, sehingga tindakannya dapat diawasi dan dievaluasi secara rutin dan teratur. Oleh karena itu, seorang muslim yang melaksakan shalat dengan konsisten akan dapat menjaga dan memelihara kehidupannya setiap hari. Dengan demikian, misi shalat akan dibawa ke dalam kehidupan di luar shalat dan kehidupan di luar shalat akan dievaluasi pada waktu shalat. Karena itu shalat yang dilakukan lima kali sehari semalam akan dapat mencegah orang dari perbuatan dosa dan kemungkaran. b. Zakat dan Hikmahnya Dalam hubungan dengan pemilikan harta benda dalam ajaran Islam dikenal dengan kewajiban membayar zakat. Menurut asal katanya Zakat berarti tambah, bersih, suci, sedangkan menurut terminology syariat, zakat adalah mengeluarkan sebagian harta kepada mereka yang telah ditetapkan menurut syariat. Mengeluarkan zakat hukumnya wajib bagi orang yang mempunyai harta yang telah mencapai nisab atau ketentuan minimal pemilikan harta kena zakat. Harta yang wajib dizakati, nisab dan zakatnya dapat dilihat pada tabel berikut ini : Jenis Harta : Binatang Ternak NAMA Unta Sapi / Kerbau Kambing NISAB 5 ekor 30 ekor 40 ekor ZAKATNYA 1 ekor kambing umur 2 tahun lebih 1 anak sapi umur 2 tahun lebih 1 ekor kambing / biri-biri umur 2 tahun lebih

Jenis Harta : Emas dan Perak NAMA Emas Perak NISAB 93,6 gram 624 gram ZAKATNYA 2,5 % 2,5 %

11

Jenis Harta : Buah-buahan NAMA Kurma Anggur NISAB 930 930 ZAKATNYA 10 % 10 %

Adapun harta yang diperoleh dari perniagaan atau perdagangan zakatnya sebesar 2,5 %, demikian pula harta yang diperoleh melalui kegiatan profesi, seperti dokter, pengacara, dan sebagainya. Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, miskin, pengurus zakat, para mualaf yang baru dibina jiwanya ke arah Islam, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Demikian itu adalah ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS : At Taubah, 9 : 60) 4 Di samping itu ibadah zakat mendidik orang untuk membersihkan jiwanya dari sifat kikir, tamak, sombong dan angkuh karena kekayaannya, menumbuhkan sifat perhatian dan peduli terhadap orang yang lemah dan miskin. Dari segi penerima zakat (mustahiq), zakat memberikan harapan dan optimisme. Mereka memiliki harapan untuk dapat menyambung hidupnya dan mengubah nasibnya, sekaligus menghilangkan sifat iri, dengki, dan kecemburuan kepada orang-orang kaya sehingga kesenjangan antara kaya dan miskin dapat diperkecil bahkan mungkin dihilangkan. Syariat Islam tentang zakat mendorong adanya pemerataan pendapatan dan pemilikian harta di kalangan masyarakat muslim, menghilangkan monopoli dan penumpukan harta pada sebagian masyarakat. Selanjutnya mendorong lahirnya sistem ekonomi yang berdasarkan kerja sama dan tolong-menolong.

c.

Puasa dan Hikmahnya Ibadah ritual wajib yang dilakukan setahun sekali adalah puasa pada

bulan Ramadhan. Puasa adalah menahan makan dan minum serta yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

12

Puasa pada dasarnya merupakan proses latihan menuju tingkat ketakwaan terhadap Allah SWT. Di samping puasa wajib, terdapat pula ibadah puasa yang hukumnya sunat, yaitu puasa Senin-Kamis, puasa pada hari Arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah, puasa Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram, puasa enam hari bulan Syawal dan puasa tiga hari tiap bulan pada tanggal 13, 14, dan 15. Sedangkan hari-hari yang diharamkan puasa adalah hari Idul Fitri dan Idul Adha serta hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Puasa merupakan ibadah ritual yang memiliki makna yang dalam. Ia merupakan wahana latihan mengendalikan nafsu dan menahan keinginankeinginan untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah. Ibadah puasa menguji kekuatan iman seseorang seberapa jauh imannya mampu membendung keinginan-keinginan dan dorongan-dorongan nafsu yang mengajak untuk melakukan perbuatan yang dilarang Allah. Seseorang berpuasa tidak diawasi oleh siapa pun selain Allah, dapatkah ia terus menghadirkan dirinya dalam pengawasan Allah dan terus malaksanakan pusanya atau sebaliknya karena tidak ada orang lain ia batalkan puasa dan berpura-pura puasa. Itu semua merupakan ujian keimanan seseorang. Ibadah puasa berfungsi pula sebagai wahana memupuk dan melatih rasa kepedulian dan perhatian terhadap sesama. Dengan ibadah puasa orang dapat merasakan penderitaan orang yang kekurangan pangan sehingga lahir sikap peduli terhadap orang-orang yang lemah. Dengan puasa seorang muslim dilatih untuk dapat membatasi dan mengendalikan nafsu terhadap makanan dan minuman serta dorongan seksual yang biasanya menjadi sebab terjadinya pelanggaran. Puasa memiliki fungsi pula dalam pembinaan pribadi terutama melatih sifat sabar dan menahan derita. Dua sifat yang sangat diperlukan dalam perjuangan hidup di dunia. d. Ibadah Haji dan Hikmahnya Ibadah haji adalah berkunjung ke Baitullah (Kabah) untuk melakukan wukuf, tawaf dan amalan lainnya pada masa tertentu demi memenuhi panggilan Allah SWT dan mengharap ridhaNya. Ibadah haji hukumnya wajib bagi orang yang mampu dan mencukupi syaratsyaratnya. Ibadah haji yang wajib hanya satu kali seumur hidup, sedangkan melaksanakan ibadah haji yang kedua dan seterusnya hukumnya sunat.

13

Waktu malaksanakan haji dimulai dari tanggal 1 Syawal sampai terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Melaksanakan ibadah haji dapat dilakukan dengan salah satu dari tiga cara, yaitu ifrad, tamattu, dan qiran. Ifrad adalah mengerjakan ibadah haji terlebih dahulu, baru mengerjakan umrah. Apabila cara ini dilakukan, maka orang yang melaksanakannya tidak wajib membayar dam, yaitu meneyembelih hewan. Tamattu ialah mengerjakan umrah lebih dahulu, baru mengerjakan haji. Cara ini mewajibkan orang yang malakukannya untuk membayar dam. Qiran adalah mengerjakan haji dan umrah di dalam satu niat dan satu pekerjaan sekaligus. Cara ini juga mewajibkan orang yang melakukannya untuk membayar dam. Dalam ibadah haji terdapat rukun dan wajib haji. Rukun haji adalah sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan dalam pelaksanaan ibadah haji. Jika rukun haji tidak dipenuhi maka ibadah hajinya tidak sah. Selanjutnya, dari pelaksanaan rukun dan wajib haji dapat dipetik hikmah / makna-makna yang bermanfaat dan memiliki nilai-nilai kerohanian. Kesemuanya itu pada akhirnya mengantarkan jamaah haji hidup dengan pengalaman dan pengamalan kemanusiaan universal. 5 Secara sepintas beberapa hal berkaitan dengan hikmah ibadah haji : 1) Ibadah haji dimulai dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Pakaian menurut kenyataannya dan menurut Al Quran berfungsi antara lain sebagai pembeda antara seseorang atau sekelompok dengan lainnya. Pembedaan tersebut dapat membawa kepada perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Di miqat, dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih-putih yang akan membalut tubuh ketika mengakhiri perjalanan hidup di dunia, seorang yang melaksanakan ibadah haji akan atau seharusnya dipengaruhi oleh pakaian ini. Seharusnya ia merasakan kelamahan serta keterbatasan dan pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang di sisi-Nya tiada perbedaan antara seseorang dengan yang lain kecuali atas dasar pengabdian kepada-Nya. Dengan dikenakannya pakaian Ihram, maka sejumlah larangan harus diindahkan oleh pelaku ibadah haji.

14

Jangan sakiti binatang, jangan membunuh, jangan menumpahkan darah, jangan mencabut pepohonan. Karena, manusia berfungsi memelihara makhluk-makhluk Tuhan serta memberinya kesempatan seluas mungkin untuk mencapai tujuan penciptaannya. Dilarang juga menggunakan wangiwangian, bercumbu atau kawin, dan berhias supaya setiap peserta haji menyadari bahwa manusia bukan materi semata, bukan pula birahi, dan bahwa hiasan yang dinilai Tuhan adalah hiasan ruhani. Dilarang pula menggunting rambut dan kuku supaya masing-masing menyadari jati dirinya dan menghadap kepada Tuhan sebagaimana adanya. Kabah yang dikunjungi mengandung pelajaran yang amat berharga dari segi kemanusiaan. Di sana, misalnya, ada Hijr Ismail yang arti harfiahnya pangkuan Ismail. Disanalah Ismail putr aIbrahim, pembangun kabah ini, berada dalam pangkuan ibunya yang bernama Hajar, seorang wanita hitam, miskin, bahkan budak, yang konon kuburannya pun berada di tempat itu. Namun demikian, budak ini ditempatkan Tuhan di sana untuk menjadi pelajaran bahwa Allah SWT memberikan kedudukan untuk seseorang bukan karena keturunan atau status sosialnya, tetapi karena kedekatannya kepada Allah SWT dan usahanya untuk hijrah dari kejahatan menuju kebaikan, dari keterbelakangan menuju peradaban. Setelah selesai melakukan tawaf membuat pelakunya larut dan berbaur bersama manusia-manusia yang lain, serta memberi kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni berada dalam lingkungan Allah SWT. Sai mengingatkan kita kepada pengalaman Siti Hajar dan anaknya ketika mencari air. Keyakinan wanita ini akan kebesaran dan kamahakuasaan Allah sedemikian kokoh yang terbukti jauh sebelum peristiwa pencarian itu. Ketika ia bersedia ditinggal bersama anaknya di suatu lembah yang tandus. Keyakinannya yang begitu kuat tidak menjadikannya berpangku tangan dengan hanya menunggu turunnya hujan dari langit. Tetapi, ia berusaha dan berusaha mondar-mandir berkali-kali demi mencari kehidupan. Siti Hajar memulai usahanya dari bukit shafa (yang arti harfiahnya kesucian dan ketegaran), sabagi lambang bahwa untuk mencapai hidup harus dengan usaha yang dimulai dengan kesucian dan ketegaran dan harus diakhiri di Marwa yang berarti ideal manusia, sikap menghargai, bermurah hati, dan memaafkan orang lain. Adakah makna yang

15

lebih agung berkaitan dengan pengamalan kemanusiaan dalam mencari kehidupan duniawi melebihi makna-makna yang digambarkan di atas. Kalau tawaf menggambarkan larut dan meleburnya manusia dalam hadirat Ilahi, maka sai menggambarkan usaha manusia mencari hidup, yang dilakukan begitu selesai tawaf agar melambangkan bahwa kehidupan di dunia dan akhirat merupakan satu kesatuan dan keterpaduan. Dengan tawaf disadarilah tujuan hidup manusia dan setelah kesadaran itu, dimulai sai yang menggambarkan bahwa tugas manusia ialah berupaya maksimal. Hasil usaha pasti akan diperoleh baik melalui usahanya maupun melalui anugerah Tuhan, seperti yang dialami oleh Siti Hajar bersama putranya, Ismail dengan ditemukannya air zam-zam itu. Namun perlu dicatat bahwa Allah itu baru datang setelah upaya maksimal manusia. Di Arafah, padang yang luas lagi gersang itu, seluruh jamaah wukuf (berhenti) sampai terbenamnya matahari. Disanalah mereka seharusnya menemukan marifah pengetahuan sejati tentang dirinya, akhir perjalanan hidupnya, serta di sana pula ia menyadari langkah-langkahnya selama ini. Di sana pula ia menyadari bahwa betapa besar dan agung Tuhan yang kepadaNya bersembah seluruh makhluk, sebagaimana diperagakan secara miniatur di padang tersebut. Kesadaran-kesadaran itulah yang mengantarkannya di Padang Arafah untuk menjadi arif (sadar) dan mengetahui. Menurut Ibnu Sina, apabila kearifan telah menghiasi diri seseorang, maka anda akan menemukan orang itu selalu gembira, banyak senyum karena hatinya telah gembira sejak ia mengenal-Nya. Dimana-mana ia melihat satu saja, melihat yang Maha Suci itu. Semua makhluk dipandangnya sama (karena memang semua sama, sama membutuhkanNya). Ia tidak akan mengintip kelemahan atau mencari-cari kesalahan orang lain. Ia tidak akan cepat tersinggung walau melihat yang mungkar sekali pun. Karena jiwanya selalu diliputi oleh rahmat dan kasih sayang. Dari Arafah, para jamaah ke Mudzdalifah untuk mengumpulkan senjata dalam menghadapi ke musuh Mina utama yaitu setan. para Kemudian, haji melanjutkan perjalanan dan disanalah jamaah

melampiaskan kebencian dan kemarahan mereka masing-masing terhadap musuh yang selama ini menjadi penyebab segala kegiatan yang dialaminya. Baru dikumpulkan di tengah malam sebagai lambang bahwa musuh tidak boleh mengetahui siasat dan senjata kita.

16

Demikian, ibadah haji merupakan kumpulan symbol-simbol yang sangat indah. Apabila dihayati dan diamalkan secara baik dan benar, maka pasti akan mengantarkan setiap pelakunya ke dalam lingkungan Ilahi yang benar sebagaimana dikehendaki oleh penciptanya, Allah SWT. 2. MUAMALAH Muamalah artinya saling berusaha. Muamalah dalam syariat Islam berisi pengaturan hubungan antar manusia, baik dalam kaitan perdata maupun pidana. Dilihat dari klasifikasi hukum, muamalah mencakup hal-hal berikut :
a.

Hukum Keluarga (ahkaam ql-ahwal al-syakhsiyyah), yaitu hukum-hukum yang mengatur tentang hak dan kewajiban suami, istri dan anak. Hukum ini dimaksudkan untuk memelihara dan membangun keluarga sebagai unit masyarakat terkecil.

b.

Hukum Perdata dan Bisnis (al-ahkam al-maliyah), yaitu hukum tentang perbuatan usaha perorangan seperti jual beli (al-bai wal ijarah), pegadaian (rahn), penanggungan (kafalah), persyarikatan (syirkah), utang piutang (udayanah), perjanjian (uqud). Hukum perdata ini dimaksudkan untuk mengatur orang dalam kaitannya dengan kekayaan dan pemeliharaan hak-haknya.

c.

Hukum Pidana (al-ahkam al-jinayah), yaitu hukum yang bertalian dengan tindak kejahatan dan sanksisanksinya. Adanya hukum ini untuk memelihara ketentraman hidup manusia dan harta kekayaanya, kehormatannya dan hak-haknya, serta membatasi hubungan antara pelaku tindak kejahatan dengan korban dan masyarakat.

d.

Hukum Acara (al-ahkam al-murafaah), yaitu hukum yang berhubungan dengan peradilan (al-qada), persaksian (al-syahadah), dan sumpah (alyamin). Hukum ini dimaksudkan untuk mengatur proses peradilan guna merealisasikan keadilan antara manusia.

e.

Hukum Perundang-undangan (al-ahkam al-dusturiyah), yaitu hukum yang berhubungan dengan perundang-undangan untuk membatasi hubungan hakim dan terhukum serta menetapkan hak-hak perorangan dan kelompok.

f.

Hukum-hukum Kenegaraan (al-ahkam al-dauliyah), yaitu hukum yang berkaitan dengan hubungan kelompok masyarakat di dalam negara dan hubungan antar negara. Dimaksudkan dengan hukum ini adalah untuk

17

membatasi hubungan antar negara dalam masa damai, dan masa perang, serta membatasi hubungan antara umat Islam dengan yang lain di dalam negara.
g.

Hukum Ekonomi dan Keuangan (al-ahkam al-iqtishadiyah waal-maliyah), yaitu hukum yang berhubungan dengan hak fakir miskin di dalam harta orang kaya, mengatur sumber-sumber pendapatan dan masalah pembelanjaan negara. Dimaksudkan dengan hukum ini adalah untuk mengatur hubungan ekonomi antara orang kaya (agniya), dengan orang fakir miskin dan antara hak-hak keuangan negara dengan perseorangan. Hukum-hukum di atas ada yang ditetapkan atau dirujukkan secara

eksplisit dalam firman Allah dan ada pula yang ditetapkan melalui sunnah Rasul. Hubungan antar manusia dalam masyarakat selalu berkembang dari waktu ke waktu seiring dengan dinamika masyarakat. Karena itu syariat Islam dalam muamalah tidak mengatur secara rinci jenis dan bentuknya, tetapi meletakkan prinsip-prinsip dasar yang dijadikan acuan dasar peraturan. Selanjutnya umat Islam dapat menetapkan rincian hukum yang dapat dikembangkan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu rincian syariat menjadi temporal dan local sifatnya. Hal ini menunjukkan bahwa muamalah dalam syariat Islam tidak kaku, tetapi bersifat fleksibel. Karena sifat muamalah yang demikian itu, maka syariat Islam dapat terus-menerus memberikan dasar spiritual bagi umat Islam dalam menyongsong setiap perubahan yang terjadi di masyarakat, terutama dalam kaitan ekonomi, politik, budaya, dan sejenisnya. Sebagian dari persoalan muamalah telah dirumuskan dan dikodifikasi oleh para ulama yang dapat dilihat pada kitab-kitab fikih. Tetapi masyarakat dengan segala aspeknya terus berkembang, maka banyak hal baru yang belum terkodifikasikan, seperti sistem perbankan, sistem perdagangan bursa efek, dan sebagainya. Kendatipun demikian syariat Islam membedakan dasardasar nilai dan etika dalam menyikapi fenomena-fenomena baru tersebut. Syariat Islam dalam muamalat senantiasa mendorong penyebaran manfaat bagi semua pihak, menghindari saling merugikan, mencegah perselisihan dan kewenangan dari pihak yang kuat terhadap pihak-pihak yang lemah. Dengan dikembangkannya muamalah berdasarkan syariat Islam akan lahir masyarakat marhamah, yaitu masyarakat yang penuh rahmat. 3. SISTEM KEWARISAN ISLAM

18

Dalam kaitan pengelolaan harta, syariat Islam mengatur pula tata cara dan ketentuan pembagian harta yang ditinggalkan orang meninggal dunia yang disebut hukum waris. Hukum ketententuan hak-hak waris terdapat pada QS an-Nisa (4): 7, 11, 12 dan 176. Hukum waris berlaku karena adanya orang yang meninggal dunia (pewaris), meninggalkan harta benda dan ahli waris. Pewaris adalah orang meninggal dunia yang meninggalkan harta dan ahli waris. Hak orang yang meninggal terhadap hartanya telah hilang dan selanjutnya harta diserahkan kepada aturan Allah, yaitu melalui hukum pewarisan Islam. Hal lain yang masih harus ditunaikan dari orang yang meninggal dunia adalah wasiatnya, yaitu janji ketika masih hidup untuk memberikan sebagian hartanya kepada pihak lain. Hak wasiat ini juga dibatasi oleh Syariat Islam, yaitu jumlahnya tidak boleh melampaui 1/3 dari jumlah harta yang ditinggalkan dan wasiat itu tidak boleh kepada ahli waris. Adapun harta yang ditinggalkan sebelum diatur berdasarkan hukum waris, terlebih dahulu ditentukan bahwa harta tersebut betul-betul milik orang yang meninggal dunia, bukan harta kerja sama atau harta bersama antara dirinya dengan isteri / suaminya. Dari harta milik pribadinya, dibayarkan terlebih dahulu biaya perawatan dan penguburan jenazahnya dan jika memiliki utang dibayarkan terlebih dahulu untuk melunasi utang dan memenuhi wasiatnya. Seseorang menjadi ahli waris disebabkan oleh adanya pernikahan, hubungan darah atau kekerabatan. Ahli waris yang disebabkan oleh proses pernikahan adalah suami dan isteri yang apabila salah seorang meninggal lebih dulu yang lain mendapatkan harta warisan. Ahli waris yang disebabkan oleh hubungan darah atau kekerabatan adalah anak kandung, cucu dan seterusnya ke bawah, bapak, kakek dan seterusnya ke atas, serta saudara-saudara dan seterusnya ke samping. Hak pewarisan bisa gugur disebabkan karena ahli waris yang menjadi sebab meninggalnya pewaris dan ahli waris yang murtad. Pembunuhan yang dilakukan ahli waris kepada pewarisnya menyebabkan gugurnya hukum pewarisan baik karena hubungan darah maupun pernikahan. Karena pembunuhan merupakan dosa besar yang sangat dibenci Allah apa lagi pengalihan harta secara paksa melalui pembunuhan. Ahli waris yang murtad atau pindah agama menyebabkan hilangnya hak waris mewarisi, karena dalam ajaran Islam hubungan agama jauh lebih

19

utama dari hubungan darah. Di samping itu, di antara ahli waris terdapat pula kelompok yang dapat menghalangi (hijab) ahli waris lain sehingga ahli waris itu berkurang bagiannya atau sama sekali tidak memperoleh bagian. Hijab ada dua macam, yaitu hijab hirman dan hijab nuqsan. Hijab hirman adalah menghalangi sama sekali sehingga ahli waris lain tidak mendapatkan bagian. Misalnya, cucu adalah ahli waris dari kakeknya, tetapi karena kakek meninggalkan anak laki-laki, maka cucu tidak memperoleh bagian. Sedangkan hijab nuqsan adalah manghalangi ahli waris lain, sehingga ahli waris lain itu berkurang bagiannya. Misalnya, suami memperoleh separoh harta peninggalan isterinya, tetapi karena isterinya itu memiliki anak, maka bagiannya berkurang menjadi seperempat. Adanya hijab karena sistem pewarisan Islam menganut prinsip yang paling dekat kekerabatannya lebih utama memperoleh bagian. Pembagian harta pusaka bagi ahli waris laki-laki dan perempuan diatur berdasarkan asas keseimbangan antara hak dan tanggung jawab, bukan atas dasar kesamaan status kekerabatan. Karena itu pemahaman tentang sistem kewarisan Islam tidak bias dilepaskan dari hak dan kewajiban suami isteri dalam sistem keluarga Islam. Laki-laki dalam keluarga adalah kepala dan penanggung jawab keluarga, karena itu suamilah yang wajib menafkahi isteri dan anakanaknya. Sedangkan perempuan atau isteri tidak diwajibkan untuk menafkahi suaminya. Oleh karena itu laki-laki layak memperoleh lebih besar dari perempuan dilihat dari tanggung jawabnya terhadap keluarganya. Sistem kewarisan diatur dan diterapkan dalam ajaran Islam untuk melindungi keluarga dari perselisihan dan perpecahan serta menjamin hakhak anggota keluarga atas harta yang ditinggalkan. Dengan demikian hak-hak pemilikan atas harta pusaka dapat diserahkan kepada ahli warisnya secara adil.

DAFTAR KUTIPAN
1

Departemen Haji dan Wakaf Saudi Arabia, Al-Quran wa

Tarjamatu maaniyatu ila Lughati al-Indunisiya, ( Medinah Munawwarah: khadim al-Haramain asy-Syarifain, Tahun 1411 H ), h. 168

20

H. Suparman Usman, Hukum Islam, ( Jakarta: Gaya Media

Pratama, 2001), h. 67
3

Ibid, hal 68 Departemen Haji dan Wakaf Saudi Arabia, Op. Cit., h. 288
5

M. Quraish Shihab, Membumikan Al Quran, (Bandung: Penerbit

Mizan, 2004 ), Cet. Ke-2, h. 147

2 3 4 5