Anda di halaman 1dari 22

PRAKTIKUM FARMAKOLOGI PERCOBAAN X DIABETES MELITUS

Disusun oleh : Ari Desi Astuti Bujaningrum Ega A Didit Prasetyoningsih Bunga Tri Novika 10247 FA 10252 FA 10256 FA
08166 F

AKADEMI FARMASI NASIONAL SURAKARTA 2012

PERCOBAAN X DIABETES MELITUS

I.

TUJUAN Mengetahui efek diabetes melitus suatu sediaan farmasi

II. DASAR TEORI Diabetes adalah suatu kondisi yang ditandai meningkatnya kadar gula dalam darah (hyperglycemia) sehingga menimbulkan risiko kerusakan microvascular (retinopathy, nephropathy dan sakit saraf). Dan macrovascular (stroke, tekanan darah tinggi dan kelainan jantung). Penyebab diabetes yang utama adalah karena kurangnya produksi insulin (diabetes mellitus tipe 1, yang pertama dikenal), atau kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin (diabetes mellitus tipe 2, bentuk yang lebih umum). Selain itu, terdapat jenis diabetes mellitus yang juga disebabkan oleh resistansi insulin yang terjadi pada wanita hamil. Tipe 1 membutuhkan penyuntikan insulin, sedangkan tipe 2 diatasi dengan pengobatan oral dan hanya membutuhkan insulin bila obatnya tidak efektif. Diabetes mellitus pada kehamilan umumnya sembuh dengan sendirinya setelah persalinan. Macam-macam diabetes melitus : 1. Diabetes Mellitus Tipe I Diabetes tipe I umumnya menyerang anak-anak, tetapi dapat juga terjadi pada orang dewasa. Penyebab penyakit ini bisa melalui proses imunologik maupun idiopatik. Penyakit ini ditandai dengan defisiensi insulin absolut yang disebabkan oleh lesi atau nekrosis sel berat. Hilangnya fungsi sel mungkin disebabkan oleh invasi virus, kerja toksin kimia, atau umumnya, melalui kerja antibodi autoimun yang ditunjukkan untuk melawan sel Akibat dari destruksi sel pankreas gagal berespon terhadap masukan glukosa, dan diabetes tipe I menunjukkan gejala klasik defisiensi insulin. 2. Diabetes Mellitus Tipe II Diabetes tipe II biasanya timbul pada umur lebih dari 40 tahun. Pada diabetes tipe ini, pankreas masih mempunyai beberapa fungsi sel , yang menyebabkan kadar insulin bervariasi yang tidak cukup untuk memelihara homeostasis glukosa. Pada beberapa kasus, resistensi insulin disebabkan oleh

penurunan jumlah atau mutasi reseptor insulin. Resistensi insulin ini terjadi sebagai akibat dari obesitas, gaya hidup yang kurang gerak (sedentary) dan penuaan. Selain resistensi insulin, diabetes tipe 2 juga disebabkan oleh gangguan sekresi insulin dan produksi glukosa hepatik yang berlebihan, namun tidak terjadi pengrusakan sel-b secara otoimun seperti pada diabetes tipe 1. Pengurangan berat badan, latihan dan modifikasi diet menurunkan resistensi insulin dan memperbaiki hiperglikemia diabetes tipe II pada beberapa penderita. Walaupun demikian, kebanyakan tergantung pada campur tangan farmakologik dengan obat-obatan hipoglikemik oral. Terapi insulin mungkin diperlukan untuk mencapai kadar glukosa darah serum yang memuaskan. 3. Diabetes Mellitus Tipe Lain Penyebab penyakit tipe ini antara lain: defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, imunologi, dan sindrom genetic. 4. Gestasional Diabetes Mellitus (Kehamilan) Gestasional Diabetes Mellitus (GDM) adalah keadaan diabetes atau intoleransi glukosa yang timbul selama masa kehamilan, dan biasanya berlangsung hanya sementara atau temporer. Sekitar 4-5% wanita hamil diketahui menderita GDM, dan umumnya terdeteksi pada atau setelah trimester kedua. Diabetes dalam masa kehamilan, walaupun umumnya kelak dapat pulih sendiri beberapa saat setelah melahirkan, namun dapat berakibat buruk terhadap bayi yang dikandung. Akibat buruk yang terjadi antara lain malformasi kongenital, peningkatan berat badan bayi ketika lahir dan meningkatnya resiko mortalitas perinatal. Gejala-gejala diabetes melitus 1. Jumlah urine yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria) 2. Sering atau cepat merasa haus/dahaga (Polydipsia) 3. Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia) 4. Frekwensi urine meningkat/kencing terus (Glycosuria) 5. Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya 6. Kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan & kaki 7. Cepat lelah dan lemah setiap waktu

8. Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba 9. Apabila luka/tergores (korengan) lambat penyembuhannya 10. Mudah terkena infeksi terutama pada kulit. Prinsip pengobatan diabetes adalah mengembalikan atau mempertahankan kadar gula darah dalam keadaan normal. Pengobatan diabetes meliputi pengendalian berat badan, olah raga dan diet. METFORMIN Metformin adalah obat anti hiperglikemia oral digunakan untuk pengobatan diabetes mellitus tipe 2. Secara kimia atau farmakologi, Metformin berbeda dengan Sulfonylurea. Metformin memperbaiki toleransi glukosa pada penderita diabetes tipe 2, menurunkan glukosa darah baik di basal maupun postprandial. Metformin menurunkan produksi glukosa oleh hati, menurunkan penyerapan glukosa di usus dan memperbaiki sensitivitas insulin (meningkatkan pengambilan dan penggunaan glukosa di perifer). Indikasi untuk penderita diebetes tipe 2 (noninsulin-dependent diabetes) dengan kelebihan berat badan maupun dengan berat badan normal dan apabila diet tidak berhasil. Serta diabetes tipe 1 (insulindependent diabtes); terapi bersamaan dengan insulin. (Katzung, 2002).

Gambar 1. Struktur Metformin

GLIBENKLAMID Glibenklamid merupakan obat oral termasuk golongan glinid. Mekanisme kerjanya adalah merangsang pelepasan insulin dari sel b, sehingga terjadi peningkatan sekresi insulin. Di dalam tubuh sulfonilurea akan terikat pada reseptor spesifik sulfonilurea pada sel beta pankreas. Ikatan tersebut menyebabkan berkurangnya asupan kalsium dan terjadi depolarisasi membran. Kemudian kanal Ca+ terbuka dan memungkinkan ion-ion Ca2+ masuk sehingga terjadi peningkatan kadar Ca2+ di dalam sel. Peningkatan tersebut menyebabkan translokasi sekresi insulin ke permukaan sel. Insulin yang telah terbentuk akan

diangkut dari pankreas melalui pembuluh vena untuk beredar ke seluruh tubuh. Obat ini hanya efektif bagi penderita NIDDM yang tidak begitu berat, yang sel-sel betanya masih bekerja cukup baik. Golongan ini mampu menurunkan kadar gula puasa 60-70 mg/dL dan menurunkan HbA1c 1,5-2 %.(Anonim, 2012)

Gambar 2. Struktur Glibenklamid

CMC-Na CMC-Na adalah garam natrium dari polikarboksimetil eter selulosa, mengandung tidak kurang dari 6,5% dan tidak lebih dari 9,5% natrium (Na) dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan (Anonim, 1995). CMC-Na memiliki pemerian berupa serbuk atau granul berwarna putih sampai krem. Karboksimetil higroskopis, sehingga mudah larut dan membentuk larutan koloidal. Akan tetapi, CMC-Na tidak larut dalam etanol, eter maupun pelarut organik lain (Anonim,1979). Dalam aplikasinya di dunia farmasi, sering digunakan untuk bahan penyalut, agen pensuspensi, stabilisator, bahan pengikat pada tablet, bahan penghancur pada tablet dan kapsul serta bahan yang mampu meningkatkan viskositas. Dalam sediaan bukal mukoadhesif, CMC-Na juga berperan sebagai bahan tambahan yang berfungsi untuk melindungi perlekatan produk dari kerusakan jaringan mukosa. CMC-Na sering dijadikan pilihan utama untuk formulasi sediaan oral dan sediaan topikal karena dapat meningkatkan viskositas. CMC-Na adalah polimer mukoadhesif yang termasuk golongan anionik bioadhesif polimer bersama dengan PAA (Poly Acrilic Acid), polikarbopil, penggolongan polimer mukoadhesif, golongan polyacrylates (karbopol dan karbomer) dan turunan dari karbohidrat seperti karboksimetil selulosa dan chitosan mempunyai daya lekat yang tinggi sebagai polimer mukoadhesif. Hal ini sejalan dengan yang selulosa Natrium alginat dan asam hialuronik. Diungkapkan oleh Grabovac polisakarida seperti karagenan, CMC-Na, dan alginat diketahui sebagai polimer mukoadhesif yang bagus. (Tjay dan Rahardja, 2002).

Gambar 3. Struktur CMC Na

III.

ALAT DAN BAHAN ALAT : a. Jarum peroral b. Acu check c. Pisau scaalpel BAHAN : a. Glukosa 20%, Dosis 2 g/ kg BB b. Metforfin 0,5%, dosis 45mg/kg BB c. CMC-Na d. Glibenklamid 5mg%, dosis 0,45 mg / kg BB e. Alkohol

IV.

CARA KERJA Kelompok 2: Tikus diberi Glukosa dan Metformin secara PO Kelompok 2 : Tikus diberi Glukosa dan Glibenklamid secara PO

Kelompok 1 : Kontrol tikus diberi Glukosa dan CMC-Na secara PO

Vena pada ekor tikus disayat dengan pisau scalpel

Darah yang keluar diukur dengan Acu Check dan dilihat kadar glukosa dalam darah

Hitung luas Area Under Curve, %DH, dan analisis hasil dengan Indepebdent T-test

V.

DATA DAN ANALISIS DATA PERLAKUAN CMC-Na TIKUS 1.1 1.2 1.3 Metmorfin 2.1 2.2 2.3 Glibenklamid 3.1 3.2 3.3 BOBOT 80 g 70 g 70 g 80 g 80 g 70 g 80 g 100 g 130 g

Perhitungan pemberian volume Glukosa 20%, Dosis 2g/kg BB Tikus 1.1 Tikus 1.2 Tikus 1.3 Tikus 2.1 Volume = Volume = Volume = Volume = = = = = x x x x = = = = 0,8 ml 0,7 ml 0,7 ml 0,8 ml

Tikus 2.2 Tikus 2.3 Tikus 3.1 Tikus 3.2 Tikus 3.3

Volume = Volume = Volume = Volume = Volume =

= = = = =

x x x x x

= = =

0,8 ml 0,7 ml 0,8 ml

= 1,0 ml = 1,3 ml

CMC-Na CMC-Na

masing masing tikus kontrol (Tikus 1.1 ; 1.2 ; 1.3 ) diberi 2 ml

Metmorfin 0,5%, Dosis 45 mg/ kg BB Tikus 2.1 Tikus 2.2 Tikus 2.3 Volume = Volume = Volume = = = = x x x = 0,72 ml = 0,72 ml = 0,81 ml

Glibenklamid 5 mg% , Dosis 0,45mg/ kg BB Tikus 3.1 Tikus 3.2 Tikus 3.1 Volume = Volume = Volume = = = = x x x = 0,72 ml = 0,90 ml = 1,17 ml

DATA PENGAMATAN OBAT


Rep 1 2 Kadar glukosa pada menit ke0 121 148 98 122, 3 1 2 166 148 123 145, 7 1 111 110 120 113, 7 126 109 97 110, 7 118 97 112 109 92 103 92 95,7 97 118 79 98 102 102 66 90 3435 3105 3480 3340 3150 3000 3060 3070 2835 3315 2565 2905 2985 3300 2175 2820 12405 12720 11280 12135 11,39% 9,14% 19,43% 13,32% 30 97 109 115 107 60 127 158 97 127, 3 97 118 78 97,7 97 118 88 101 109 117 122 116 4380 3855 3300 3845 3345 3405 2625 3125 2910 3540 2490 2980 3090 3525 3150 3255 13725 14325 11565 13205 1,96% -2,32% 17,39% 5,68% 90 123 126 72 107 120 125 142 118 128,3 0-30 3270 3855 3195 3440 Area Under Curve ( AUC ) 30-60 3360 4005 3180 3515 60-90 3750 4260 2535 3515 90-120 3720 4020 2850 3530 AUC 14100 16140 11760 14000 %DH

CMC-Na

3 X

Metmorfin

3 X

Glibenkla mid

2 3 X

Perhitungan AUC
CMC-Na Replikasi 1 a. AUC0-30 = x (121 + 97) x 30 = 3270 b. AUC30-60 = x (97 + 127) x 30 = 3360 c. AUC60-90 = x (127 + 123) x 30 = 3750 d. AUC90-120 = x (123 + 125) x 30 = 3720 Jumlah = 3270 + 3360 + 3750 + 3720 = 14100 Replikasi 2 a. AUC0-30 = x (148 + 109) x 30 = 3855 b. AUC30-60 = x (109 + 158) x 30 = 4005 c. AUC60-90 = x (158 + 126) x 30 = 4260 d. AUC90-120 = x (126 + 142) x 30 = 4020 Jumlah = 3855 + 4005 + 4260 + 4020 = 14325 Replikasi 3 a. AUC0-30 = x (123 + 97) x 30 = 3300

b. AUC30-60 = x (97 + 78) x 30 = 2625 c. AUC60-90 = x (88 + 78) x 30 = 2490 d. AUC90-120 = x (88 + 122) x 30 = 3150 Jumlah = 3300 + 2625 + 2490+ 3150 = 11760 Metmorfin Replikasi 1 a. AUC0-30 = x (166 + 126) x 30 = 4380 b. AUC30-60 = x (126 + 97) x 30 = 3345 c. AUC60-90 = x 30 = 2910

d. AUC90-120 = x (97 + 109) x 30 = 3090 Jumlah = 4380 + 3345 + 2910 + 3090 = 13725 Replikasi 2 a. AUC0-30 = x (148 + 109) x 30 = 3855 b. AUC30-60 = x (109 + 118) x 30 = 3405 c. AUC60-90 = 118 x 30 = 3540 d. AUC90-120 = x (118 + 117) x 30 = 3525 Jumlah = 3855 + 3405 + 3540 + 3525 = 16140 Replikasi 3 a. AUC0-30 = x (98 + 115) x 30 = 3195 b. AUC30-60 = x (115 + 97) x 30 = 3180 c. AUC60-90 = x (97 + 72) x 30 = 2535 d. AUC90-120 = x (72 + 118) x 30 = 2850 Jumlah = 3195 + 3180 + 2535 + 2850 = 11565 Glibenklamid Replikasi 1 a. AUC0-30 = x (111 + 118) x 30 = 3435 b. AUC30-60 = x (118 + 92) x 30 = 3150 c. AUC60-90 = x (92 + 97) x 30 = 2835 d. AUC90-120 = x (97 + 102) x 30 = 2985 Jumlah = 3435+ 3150 + 2835 + 2985 = 12405 Replikasi 2 a. AUC0-30 = x (110+ 97) x 30 = 3105 b. AUC30-60 = x (97 + 103) x 30 = 3000 c. AUC60-90 = x (103 + 118) x 30 = 3315

d. AUC90-120 = x (118 + 102) x 30 = 3300 Jumlah = 3105 + 3000 + 3315 + 3300 = 12720 Replikasi 3 a. AUC0-30 = x (120 + 112) x 30 = 3480 b. AUC30-60 = x (112 + 92) x 30 = 3060 c. AUC60-90 = x (92 + 79) x 30 = 2565 d. AUC90-120 = x (79 + 66) x 30 = 2175 Jumlah = 3480 + 3060 + 2565+ 2175 = 11280 Perhitungan Daya Hiperglikemik (%DH) RUMUS = Metformin Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 %DH= %DH = %DH = x 100% = 1,96 % x 100% = -2,32 % x 100% = 17,39% = 5,68% x 100%

Rata-rata %DH Metformin = Glibenklamid Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 %DH = %DH= %DH =

x 100% = 11,39 % x 100% = 9,14 % x 100% = 19,43% = 13,32%

Rata-rata %DH Glibenklamid=

VI.

PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini tujuan dilakukannya percobaan yaitu untuk

mengetahui kadar glukosa dalam darah tikus. Diabetes merupakan suatu gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh adanya peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia) akibat kekurangan insulin. Diabetes mellitus sangat erat kaitannya dengan mekanisme pengaturan gula normal. Peningkatan kadar gula darah ini akan memicu produksi hormon insulin oleh kelenjar pancreas. Hormon insulin merupakan protein kecil yang disintesis dan disekresi oleh sel pankreas yang terdapat pada Langerhans islets. Mekanisme sekresi insulin terutama dipengaruhi oleh kadar glukosa darah. Bila kadarnya naik, sel akan mensekresi insulin. Diabetes dibagi dalam 2 macam tipe yaitu: 1. Diabetes melitus tergantung insulin (IDDM/ Diabetes tipe I) Diabetes tipe ini disebabkan oleh kekurangan insulin absolut atau penghancuran sel yang dapat mengurangi produksi insulin. Biasanya terjadi sebelum usia 15 tahun dan mengakibatkan penurunan berat badan, hiperglikomia, hetoksidosis, asteroksis, kerusakan retina dan gagal ginjal. Karena sel pada langerhans rusak maka pasien membutuhkan injeksi insulin. Adapun factor-faktor yang memicu timbulnya diabetes tipe I yaitu: a. Faktor-faktor genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes Tipe I itu sendiri; tetapi, mewarisi suatu prediposisi atau kecenderungan genetik, ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (human leucocyte antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan proses imun lainnya. Sembilan puluh lima persen pasien berkulit putih. (Caucasian) dengan diabetes tipe I memperlihatkan tipe HLA yang spesifik (DR3 atau DR4). Risiko terjadinya diabetes tipe I meningkat tiga hingga lima kali lipat pada individu yang memiliki tipa HLA DR3 maupun DR4 (jika dibandingkan dengan populasi umum). b. Faktor-faktor imunologi. Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respons otoimun. Respon ini merupakan respon abnormal di mana antibody terarah pada jaringan normal

tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah olah sebagai jaringan asing. Otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen (internal) terdeteksi pada saat diagnosis dibuat dan bahkan beberapa tahun sebelum timbulnya tanda-tanda klinis diabetes tipe I. c. Faktor-faktor lingkungan Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta. Meskipun kejadian yang menimbulkan destruksi sel beta tidak dimengerti sepenuhnya, namun pernyataan bahwa kerentanan genetik merupakan faktor dasar yang melandasi proses terjadinya diabetes tipe I merupakan hal yang secara umum dapat diterima. 2. Diabetes melitus tidak tergantung insulin,(N-IDDM/ Diabetes tipe II) Diabetes tipe ini disebabkan oleh penurunan pelepasan insulin atau kelainan respon jaringan terhadap insulin yang menyebabkan hiperglikemia, tetapi tidak hetoksidosis. Tipe ini sering terjadi pada usia lebih dari 35 tahun. Pengatasan terhadap diabetes tipe II ini adalah dengan pengobatan oral dan hanya membutuhkan insulin apabila obat tersebut tidak efektif untuk digunakan. Faktor genetik diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Selain itu terdapat pula faktor-faktor resiko tertentu yang berhubungan dengan proses terjadinya diabetes tipe II. Faktor-faktor ini adalah : a) Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun) b) Obesitas c) Riwayat keluarga d) Kelompok etnik (di Amerika Serikat, golongan Hispanik serta penduduk asli Amerika tertentu memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya diabetes tipe II dibandingkan dengan golongan Afro-Amerika). Gejala gejala penyakit diabetes melitus adalah polyuria yaitu volume urin yang banyak atau sering buang air kecil. Polidipsia yaitu kurangnya cairan dalam tubuh sehingga memicu untuk (banyak minum). Polyphagia yaitu banyaknya makan yang dapat menyebabkan meningkatnya glukosa dalam darah. Glukosa difiltrasi oleh glomerulus ginjal dan hamper semuanya diabsorpsi oleh tubulus ginjal selama kadar glukosa dalam plasma tidak melebihi 160-180 mg/dl.

Jika konsentrasi tubulus naik melebihi kadar ini, glukosa tersebut akan keluar bersama urine, dan keadaan ini disebut sebagai glikosuria. Pada praktikum yang dilakukan kali ini, hewan uji yang digunakan adalah tikus jantan. Pemilihan hewan uji ini dikarenakan tikus jantan tidak mengalami fase estrus seperti pada tikus betina. Fase estrus pada tikus betina terjadi karena peningkatan hormone estrogen dan hormone pertumbuhan yang akan mempengaruhi sekresi insulin. Sebelum dilakukan praktikum ini hewan uji terlebih dahulu dipuasakan selama 1 hari untuk menghilangkan faktor makanan. Walaupun demikian faktor variasi biologis dari hewan tidak dapat dihilangkan sehingga faktor ini relatif dapat mempengaruhi hasil. Pada praktikum ini untuk mengetahui kadar glukosa, dilakukan dengan mengunakan sampel biologis berupa darah. Darah merupakan bagian yang terpenting transformasi obat didalam tubuh, sehingga dalam percobaan ini menggunakan darah hewan uji untuk mengetahui sejauh mana obat dapat mempengaruhi kadar glukosa darah didalam tubuh hewan uji. Sampel darah tersebut diambil dari vena lateralis yang terdapat pada ekor tikus. Vena lateralis ini dipilih karena pada vena tersebut pembuluh darah tikus dapat terlihat dengan jelas sehingga mudah untuk dilakukan pengambilan sampel darah. Pengukuran kadar glukosa dari hewan uji digunakan alat yaitu accu check yang terdiri dari seperangkat alat ukur yang terdiri dari glukometer dan strip pembaca glukosa darah yang terpasang pada bagian atas glukometer . Dalam strip terdapat enzim glukooksigenase yang mana jika sampel darah mengenai strip maka akan langsung terbaca oleh glukometer. Pengambilan sampel darah dan pembacaan hasil pada alat glukometer dilakukan setiap 0, 30, 60, 90 dan 120.

Mekanisme kerja masing-masing perlakuan : 1. CMC-Na 0.5% (kontrol)

Tikus pada kelompok 1, setelah diinjeksikan glukosa secara peroral kemudian diinjeksikan CMC-Na 0.5 %. Pemberian CMC-Na berfungsi sebagai control atau pembanding bila tikus tidak diberikan obat antidiabetes. Karena didalam tubuh tikus tidak terdapat obat yang dapat merangsang sekresi hormone

insulin dalam menguraikan glukosa menjadi glikogen, ini artinya CMC-Na tidak dapat memberikan efek antidiabetes pada tikus, akibatnya kadar glukosa darah tikus pada kelompok 1 akan lebih besar dari tikus kelompok yang lain. 2. Metformin

Tikus pada kelompok 2, setelah diinjeksikan glukosa secara peroral kemudian diinjeksikan obat metformin. Metformin merupakan obat hipoglikemik oral dari golongan biguanid. Mekanisme kerja obat ini dalam menurunkan kadar glukosa darah tidak tergantung pada adanya fungsi pankreatik sel-sel . Glukosa tidak menurun pada subjek normal setelah puasa satu malam, tetapi kadar glukosa darah pasca prandial menurun selama pemberian biguanid. Mekanisme kerja metformin : stimulasi glikolisis secara langsung dalam jaringan dengan peningkatan eliminasi glukosa dari darah, penurunan

glukoneogenesis hati, melambatkan absorbsi glukosa dari saluran cerna dengan peningkatan perubahan glukosa menjadi laktat oleh enterosit dan penurunan kadar glukagon plasma. 3. Glibenklamid

Tikus pada kelompok 2, setelah diinjeksikan glukosa secara peroral kemudian diinjeksikan obat glibenklamid. Glibenklamid merupakan obat hipoglikemia golongan sulfonilurea, glibenklamida merupakan derivat

klorometoksi generasi-2 dengan khasiat hipoglikemisnya yang kira-kira 100 kali lebih kuat daripada tolbutamida. Pola kerjanya berlainan dengan sulfonilurea lainnya, yaitu dengan single-dose pagi hari mampu menstimulasi sekresi insulin pada setiap pemasukan glukosa. Mekanisme kerja : meningkatkan sekresi insulin dari sel dipulau langerhans. Obat jenis ini menyebabkan hiperpolarisasi dengan menutup kanal ion K+. Menutupnya kanal ion K+ memacu terbukanya kanal ion Ca2+ sehingga Ca2+ dari luar sel masuk ke dalam sel, terjadi peningkatan kadar Ca2+ dan pelepasan insulin. Analisis dilakukan selama 2 jam karena kadar gula akan meningkat dalam 2 jam sesudah makan sehingga diharapkan selama 2 jam tersebut dapat diketahui peningkatan kadar gula yang terjadi. Serta metformin dan glibenklamid

mencapai kadar puncak dalam darah selama 2 jam sehingga selama rentang waktu tersebut dapat diketahui efek obat dalam menurunkan kadar gula dalam darah. Mekanisme kerja insulin : Insulin disekresi oleh sel B-pankreas. Sekresi ini terutama dipengaruhi oleh kadar glukosa dalam darah. Bila kadar glukosa dalam darah naik, maka sel B-pankreas akan mensekresi insulin berlebih. Akibatnya menaikkan penguraian glukosa, menaikkan pembentukan glikogen dalam hati dan otot, mencegah penguraian glikogen dan menstimulasi pembentukan protein dan lemak dari glukosa.

Pembahasan statistik : Hasil pengukuran rata-rata kadar glukosa darah pada 0 menit (sebelum perlakuan) adalah sebagai berikut kelompok I (Na-CMC) 122,3 mg/dl, kelompok II (Metformin) 145,7 mg/dl, kelompok III (Glibenklamide) 113,7 mg/dl. Dan setelah perlakuan selama 2 jam diperoleh rata-rata kadar glukosa darah adalah sebagai berikut kelompok I (Na-CMC) 128,3 mg/dl, kelompok II (Metformin) 116 mg/dl, kelompok III (Glibenklamide) 90 mg/dl.

Grafik hubungan antara kadar glukosa dalam darah vs waktu berbagai profil obat

Chart Title
kadar gula dalam darah 200 150 CMC Na 100 50 0 Metformin Glibenklamid

0 0

30

60

90

120

Dilihat dari grafik diatas dapat dianalisa bahwa semakin rendah grafik menandakan semakin kecil kadar glukosa darah didalam tubuh tikus. Pada grafik

tersebut dapat dilihat bahwa kadar glukosa darah tikus yang diberikan CMC-Na lebih tinggi dari pada kadar glukosa darah tikus yang diberikan metformin dan glibenklamid. Hal tersebut dikarenakan CMC-Na berlaku sebagai control yang digunakan untuk membandingkan mencit yang diberikan zat uji (obat) dengan yang tidak diberikan zat uji (obat), dimana CMC-Na ini tidak mengandung zat aktif yang dapat merangsang insulin dalam menguraikan glukosa menjadi glikogen, sehingga dapat menurunkan kadar glukosa. Dari grafik tersebut dapat dilihat profil kerja dari masing-masing perlakuan. Untuk CMC-Na kadar glukosa yang diperoleh relatif tinggi dibanding 2 perlakuan yang diberi obat antidiabetes. Kadar CMC-Na yang paling tinggi mulai terlihat setelah menit ke-30 dimana pada grafik, CMC Na berada pada grafik di atas dua perlakuan lainnya. Walau kadar glukosa dalam darah dengan perlakuan kontrol negatif tidak begitu stabil (tidak menunjukkan respon positif dengan kurva yang semakin menanjak) namun pada jam ke2 menunjukkan bahwa kadar glukosa dalam darah mulai semakin naik. Profil kerja metformin : Pada menit ke 0, tikus yang diberi perlakuan metformin menunjukkan kadar glukosa paling tinggi diantara semua perlakuan. Hal tersebut menunjukkan bahwa metformin belum di absorbsi sempurna dan belum termetabolisme sehingga kadar metformin dalam sirkulasi sistemik belum maksimal. Metformin menunjukkan kemampuan antidiabetnya terlihat setelah menit ke 30 dan puncak daya antidiabetnya terjadi pada menit ke 60 dengan kadar glukosa dalam darah mencapai kadar terendah, bahkan lebih rendah dibanding sebelum diinjeksikan metformin. Namun pada menit ke 90 dan 120, kadar glukosa mengalami kenaikan. Hal tersebut menunjukkan profil ekskresi dari metformin, dimana obat mulai keluar dari sirkulasi siemik dan di ekskresi. Profil kerja glibenklamid : Glibenklamid menunjukkan profil kerja obat antidiabetes yang baik, terhitung dari menit pertama seteah pemberian kadar glukosa alam darah mengalami penurunan. Dalam grafik belum dapat terlihat profil ekskresi dari glibenklamid karena semakin lama waktu pemberian maka kadar glukosa dalam

darah juga semakin turun. Kemampuan antidiabet glibenklamid maksimal terlihat pada menit ke 120 dimana pada menit tersebut terjadi penurunan yang signifikan dibanding menit-menit sebelumnya. Dari grafik dapat terlihat bahwa profil kerja glibenklamid lebih baik dibanding dengan metformin, karena terlihat kadar glukosa yang lebih turun dibanding metformin. Waktu paruh glibenklamid lebih lama sehingga kadar obat dalam plasma lebih lama. Antara kadar glukosa darah dengan efek antidiabetes obat berbanding terbalik, semakin kecil kadar glukosa darahnya maka semaki besar efek antidiabetes yang diberikan. Untuk lebih memastikan hal tersebut maka dihitung %DH, yang diperoleh dari membandingan selisih antara rata-rata AUC control negatif (CMC-Na) dan AUC control perlakuan dengan rata-rata AUC control negatif. Grafik %DH antara metformin vs glibenklamid

Histogram Obat vs %DH


14.00% 12.00% 10.00% %DH 8.00% 6.00% 4.00% 2.00% 0.00% Metformin Obat Glibenklamid %DH

Perhitungan %DH ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar obat metformin dan glibenklamid dapat memberikan efek antidiabetes. Berdasarkan dari hasil perhitungan, dapat dilihat dari grafik diatas, bahwa glibenklamid yang dilihat dari grafik waktu vs kadar glukosa darah menunjukan kadar glukosa darah paling rendah, memberikan efek antidiabetes yang besar jika dibandingkan dengan metformin, dengan %DH sebesar 13,32 % sedangkan %DH metformin sebesar 5,68%.

Hasil perhitungan AUC menguatkan bahwa kemampuan glibenklamid lebih baik dibanding dengan metformin (hasil dari grafik). Dari hasil pengamatan sudah nampak perbedaan apabila dilihat dari rata-rata %DH, namun perbedaan ini masih harus dibuktikan apakah perbedaan tersebut berbeda signifikan (berbeda bermakna) atau tidak. Signifikasi ini diamati secara statistik dengan bantuan software SPSS dengan metode analisa T-Test Groups.

Hasil T-Test : Dari data group statistic dapat diketahui bahwa metformin memiliki mean sebesar 5.6767 dan glibenklamid memiliki mean sebesar 10.2650, sehingga dapat disimpulkan bahwa metformin dan glibenklamid memiliki mekanisme kerja yang berbeda karena mean yang dihasilkan terlalu jauh. Pada tabel independen samples test ini digunakan untuk mengetahui apakah data tersebut homogen atau tidak. Data dapat dikatakan Homogen apabila data tersebut lebih dari 0,05 dan data dapat dikatakan tidak homogen apabila kurang dari 0,05. Dari tabel Levene's Test for Equality of Variances dapat dilihat bahwa nilai signifikannya 0.111, nilai ini lebih besar dari 0,05 maka HO dapat diterima atau dapat dikatakan data tersebut Homogen. Sehingga pengamatan selanjutnya dilihat pada data Equal variences assumed. Dari hasil pengamatan didapatkan nilai signifikasi sebesar 0.596, nilai ini lebih besar dari 0,05. Ini artinya data yang diperoleh tidak signifikan (pemberian obat satu dengan yang lain memberikan efek yang sama atau tidak memberikan perbedaan yang nyata) sehingga dapat dikatakan bahwa antara obat satu dengan obat yang lain efek yang didapat sama. Faktor-faktor yang mungkin menyebabkan ketidaksignifikanan hasil yaitu: Kondisi tikus yang mungkin saja kurang sehat sehingga tidak dapat menyerap obat dengan baik. cara pemberian obat yang tidak benar sehingga berpengaruh pada dosis yang diberikan, apabila dosis yang diberikan kurang (terlalu kecil) dapat menyebabkan obat tersebut seharusnya memberikan efek yang besar namun karena dosisnya kurang efek obatnya menjadi tidak maksimal, sebaliknya jika dosis obat yang

diberikan terlalu besar menyebabkan tikus yang disuntikkan obat tersebut akan mati sehingga efek obat yang diberikan tidak dapat diamati. Dari percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa obat golongan sulfonilurea yakni glibenklamid membrikan efek antidiabetes yang lebih besar dari pada obat golongan biguanid yakni metformin sehingga hasil yang didapat sesuai dengan teorinya, yakni obat golongan sulfoniuria memberikan efek antidiabetes lebih besar daripada obat golongan biguanid. Hal ini disebabkan karena penurunan kadar glukosa darah yang terjadi setelah pemberian sulfonilurea disebabkan oleh perangsangan sekresi insulin dipankreas. Sifat perangsangan ini berbeda dengan perangsangan oleh glukosa, karena pada saat hiperglikemia gagal merangsang sekresi insulin dalam jumlah yang mencukupi, obat-obat tersebut masih mampu merangsang sekresi insulin.

VII.

KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan diperoleh daya hipoglikemik metformin sebesar 5,68 % dan glibenklamid sebesar 13,32 % Hasil pada Levine test adalah 0,111 berarti data telah homogen dan dari analisis Equal variences assumed pada t-test menunjukkan tingkat signifikan sebesar 0,596 (tidak signifikan) yang berarti tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara daya hipoglikemik metformin dan glibenklamid.

VIII. DAFTAR PUSTAKA Anonim.1979.Farmakope Indonesia Edisi ketiga.Jakarta:Depkes RI Anonim.1995.Farmakope Indonesia Edisi keempat.Jakarta:Depkes RI Anonim.2012.Sumber:http://id.shvoong.com/exactsciences/biology/2204605p engertianglukosa/#ixzz1wSC9Bm8V.Diakses Tanggal 31 Mei 2012 Katzung, B.G., Payan, D.G.1998. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Jakarta: EGC. Tjokroprawiro, H.A., dkk. (1986). Diabetes Mellitus Aspek Klinik dan Epidemiologi. Surabaya: Airlangga University Press. Halaman 27, 51. Tjay, T.H. dan Rahardja, K., 2002, Obat-obat Penting: Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya, Edisi IV, 295-296, PT Elex Media Komputindo: Jakarta.