Anda di halaman 1dari 5

Hak Gugat Penggugat Penggugat adalah : A.

Orang yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu keputusan Tata Usaha Negara. B. .Badan hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu keputusan Tata Usaha Negara. Jadi , pada pemeriksaan disidang pengadilan di lingkungan PTUN tidak dimungkinkan badan atau pejabat, bertindak sebagai penggugat .
1

Dalam kepustakaan hukum Tata Usaha Negara yang ditulis sebelum berlakunya Undangundang No. 5 tahun 1986, masih dimungkinkan badan atau pejabat Tata Usaha Negara bertindak sebagai penggugat. Tetapi setelah berlakunya Undang-undang No. 5 tahun 1986 , hal tersebut sudah tidak dimungkinkan lagi. Hanya saja untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), ada yang mempunyai pendapat, bahwa BUMN dapat juga bertindak sebagai penggugat dalam sengketa Tata Usaha Negara, khusus tentang sertifikat tanah, karena dasar hak dari gugatan adalah keperdataan dari BUMN tersebut. Disini BUMN tidak bertindak sebagai Badan Tata Usaha Negara, tetapi sebagai Badan Hukum Perdata. Dalam putusan PTUN no.71/G.TUN/2001/PTUN-JKT tentang sengketa pelepasan secara terbatas kapas transgenik, penggugat adalah suatu badan hukum berupa yayasan. Penggugat dalam putusan tersebut antara lain: 1.Yayasan lembaga pengembangan Hukum lingkungan Indonesia/ Indonesian centre for Environmental law (ICEL) 2.Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) 3.Yayasan Biodinamika Pertanian Indonesia/Biotani Indonesia 4.Yayasan Lembaga Konsumen Sulawesi Selatan (YLKSS) 5.Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) 6.Konsorsium Nasional Untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia (KONPHALINDO) 7.Yayasan Biodinamika Pertanian Penggugat dalam kasus ini memenuhi pasal 53 ayat (1) UU No. 5 tahun 1986 tentang Peradilan tata Usaha Negara, Para Penggugat merupakan badan hukum Perdata berbentuk Yayasan.

1 Pasal 53 ayat (1) UU No.5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha negara

Dalam kasus lingkungan terkait keputusan Pejabat atau Badan Tata Usaha Negara dapat diajukan beberapa bentuk gugatan antara lain gugatan yang diajukan masyarakat secara perwakilan (Class action) dan gugatan yang diajukan oleh organisasi lingkungan hidup (Legal Standing). Pengajuan gugatan organisasi lingkungan hidup (legal standing) dalam kasus lingkungan didasarkan pada asumsi bahwa lingkungan adalah milik bersama, karena itu harus dipertahankan, sehingga apabila ada pihak-pihak yang merasa dirugikan, tetapi tidak mengadakan gugatan maka organisasi lingkungan dapat menggugatnya. Pengertian hak gugat organisasi lingkungan (legal standing) adalah pengajuan gugatan melalui yang disampaikan oleh organisasi tertentu yang bertindak atas nama dan untuk mewakili kepentingan publik dan kepentingan lingkungan. Gugatan tersebut dapat ditujukan untuk seseorang atau badan hukum yang mengakibatkan gangguan pada ekosistem, dengan tuntutan tindakan tertentu dari tergugat. Penerimaan legal standing di Indonesia dicantumkan pada pasal 38 UU No 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pengajuan gugatan tersebut, menurut ketentuan penjelasan pasal 38 ayat (3) UUPLH, tidak semua organisasi lingkungan hidup dapat mengatasnamakan lingkungan hidup, melainkan harus memenuhi persyaratan tertentu yaitu A. berbentuk badan hukum atau yayasan ; B. dalam anggaran dasarnya disebutkan secara tegas bahwa tujuan pendirian organisasi tersebut adalah untuk kepentingan pelestarian lingkungan hidup; C. telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya. Dalam putusan PTUN no.71/G.TUN/2001/PTUN-JKT tentang sengketa pelepasan secara terbatas kapas transgenik, model gugatan yang diajukan adalah dalam bentuk legal Standing, gugatan diajukan oleh para penggugat yang merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup maupun perlindungan konsumen. Jadi penggugat memenuhi ketentuan pasal 38 ayat (1) UUPLH dan pasal 45 ayat (1) UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Penggugat dalam putusan PTUN no.71/G.TUN/2001/PTUN-JKT tentang sengketa pelepasan secara terbatas kapas transgenik harus memenuhi beberapa syarat yang ditentukan pada pasal 38 ayat (3) UUPLH agar memiliki hak gugat. Syarat pertama yaitu penggugat haruslah berbentuk badan hukum atau yayasan. Dalam putusan PTUN no.71/G.TUN/2001/PTUN-JKT para tergugat ialah lembaga Swadaya masyarakat yang berbentuk badan hukum atau yayasan. Para penggugat antara lain ; 1.Yayasan lembaga pengembangan Hukum lingkungan Indonesia/ Indonesian centre for Environmental law (ICEL)

2.Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) 3.Yayasan Biodinamika Pertanian Indonesia/Biotani Indonesia 4.Yayasan Lembaga Konsumen Sulawesi Selatan (YLKSS) 5. Yayasan Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) 6.Konsorsium Nasional Untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia (KONPHALINDO) Syarat kedua yaitu dalam anggaran dasarnya disebutkan secara tegas bahwa tujuan pendirian organisasi tersebut adalah untuk kepentingan pelestarian lingkungan hidup. Dalam putusan tersebut para penggugat menyertakan pasal-pasal dalam AD/ART para penggugat yang menyebutkan tujuan pendirian, yaitu sebagai berikut 1.Dalam pasal 4 AD/ART dari Indonesian Centre for Environmental Law (ICEL) disebutkan bahwa tujuan lembaga ini ada adalah salah satunya untuk memberikan dukungan terhadap upaya-upaya pembelaan dalam permasalahan lingkunganyang dilakukan masayarakat dan lembaga swadaya masyarakat. 2. Dalam pasal 5 AD/ART dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) disebutkan bahwa maksud dan tujuan dari lembaga ini ada adalah untuk memberikan bimbingan dan perlindungan kepada masyarakat konsumen, menuju kepada kesejahteraan keluarga. 3. Dalam pasal 4 AD/ART dari Konsorsium Nasional Untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia (KONPHALINDO) disebutkan bahwa maksud dan tujuan dari lembaga ini ada adalah turut serta melestarikan hutan dan alam Indonesia guna kesejahteraan masyarakat luas. 4. Dalam pasal 5 AD/ART dari Yayasan Biodinamika Pertanian Indonesia/Biotani Indonesia disebutkan bahwa maksud dan tujuan dari lembaga ini ada adalah salah satunya untuk pengembangan pertanian berwawasan lingkungan (sustainable agriculture). 5. Dalam pasal 5 AD/ART dari Yayasan Lembaga Konsumen Sulawesi Selatan (YLKSS) disebutkan bahwa maksud dan tujuan dari lembaga ini ada adalah memberikan bimbingan dan perlindungan kepada masyarakat konsumen, menuju kepada kesejahteraan keluarga, satu dan lain dalam arti kata yang seluas-luasnya. 6. Dalam pasal 3 ayat (6) AD/ART dari Yayasan Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) disebutkan bahwa maksud dan tujuan dari lembaga ini ada adalah untuk mengembangkan potensi sumber daya alam dalam upaya mengelola dan meningkatkan kesejahteraan menuju masyarakat yang adil dan makmur. Dari tujuan masing-masing organisasi tersebut diatas, hanya yayasan Indonesian Centre for Environmental Law (ICEL), Konsorsium Nasional Untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia (KONPHALINDO), Yayasan Biodinamika Pertanian Indonesia/Biotani Indonesia, dan Yayasan Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) yang menyatakan

secara tegas tujuan pendirian untuk kepentingan pelestarian lingkungan hidup. Sedangkan dua organisasi lainnya, yaitu Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Yayasan Lembaga Konsumen Sulawesi Selatan (YLKSS) dalam AD/ART tidak menyebutkan secara tegas bahwa tujuan pendirian untuk kepentingan pelestarian lingkungan hidup melainkan dalam AD/ART menyebutkan tujuan pendirian untuk memberikan bimbingan dan perlindungan kepada masyarakat konsumen. Mengutip pendapat dari Soerjono Soekanto, penegakan hukum bukan semata-mata berarti pelaksanaan perundang-undangan,walaupun dalam kenyataannya di Indonesia kecenderungannya adalah demikian, sehingga pengertian law enforcement begitu popular.2 Dari pendapat beliau dapat ditarik kesimpulan bahwa penegakan hukum bukan hanya mengacu pada undang-undang sebagai dasar hukum semata, tapi dapat juga didasarkan pada sumber hukum lainnya. Sumber hukum lainnya dapat berupa doktrin, yurisprudensi, kebiasaan dan perjanjian. Yurisprudensi atau putusan pengadilan merupakan produk yudikatif, yang berisi kaedah atau peraturan hukum yang mengikat pihak-pihak yang bersangkutan atau terhukum.3 Dalam penggunaannya hakim tidak terikat dengan yuriprudensi atau putusan pengadilan terdahulu mengenai perkara sejenis, tetapi hakim dapat menjadikan putusdan pengadilan tersebut sebagai pertimbangan karena yurisprudensi sebagai salah satu sumber hukum juga memuat kaidah hukum. Dalam putusan PTUN no.71/G.TUN/2001/PTUN-JKT tentang sengketa pelepasan secara terbatas kapas transgenik trersebut, penggugat menyertakan beberapa putusan pengadilan sebagai dasar hukum lembaga swadaya masyarakat untuk mengajukan gugatan, yaitu putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 280/Pdt/G/1998/PN. Jkt PST, putusan Pengadilan Negeri Mojokerto Nomor 01/Pra/Pid/1994/PN MKT dan putusan Pengadilan Negeri Tata Usaha Negara Jakarta Nomor 088/g/1994/PTUN.JKT yang dalam putusan tersebut lembaga swadaya dapat mengajukan gugatan (legal standing). Namun dalam kasus ini putusan tersebut tidak dapat dipergunakan begitu saja karena pada kasus kapas transgenik ini ada lembaga swadaya masyarakt yang memang tidak memenuhi sebagai organisasi yang tujuannya untuk pelestarian kepentingan lingkungan hidup. Syarat ketiga yaitu telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya. Para penggugat dalam putusan ,menyatakan telah melaksanakan beberapa kegiatan sesuai tujuan dalam anggaran dasar terhadap masyarakat petani kapas dan lingkungannya di daerah provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan tersebut antara lain: 1. Penyadaran masyarakat tentang produk transgenik dengan cara penyebarluasan informasi ke berbagai lapisan masyarakat ;
2 Tim Pengajar Pengantar Hukum Indonesia, Materi Ajar Pengantar Hukum Indonesia,Fakultas Hukum Universitas Indonesia,2007. Hal 13. 3 Sudikno Mertokusumo, Mengenal hukum, Liberty Yogyakarta, hal.112.

2. Ikut serta secara aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan pembahasan dan penyusunan peraturan perundang-undanganyang berkaitan dengan produk transgenik ; 3. Melakukan kegiatan advokasi publik,baik kepada lembaga swadaya masyarakat atau lembaga lainnya untuk menerapkan prinsip kehati-hatian (precautionary principle) dalam kegiatan yang berkaitan dengan produk transgenik ; 4. Melakukan pengumpulan data-data tentang hal-halyang berkaitan dengan produk transgenik ; 5. Melakukan kegiatan pendampingan pada petani untuk pengembangan pertanian berwawasan lingkungan. Berdasarkan hal-hal diatas, para penggugat sebagian telah memenuhi kriteria untuk mengajukan gugatan sebagai badan hukum perdata sesuai dengan UU No. 5 tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara pasal 53 ayat (1) dan UU No. 23 tahun 1997 Tentang pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 38 ayat (3) dan sebagian lagi tidak memenuhi criteria peraturan perundang-undangan diatas. Jadi, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa karena ada beberapa organisasi yang tidak memenuhi kualitas sebagai penggugat, maka gugatan yang diajukan para penggugat membuat cacat gugatan yang dajukan. Kemudian apabila hanya dilihat kepada organisasi yang memiliki kualitas sebagai penggugat dalam kasus ini, maka setelah penggugat memenuhi kriteria hak gugat, penggugat memiliki beberapa hak lainnya terkait dengan gugatan yang diajukan dalam peradilan tata usaha Negara yaitu, sebelum dirumuskannya alasan-alasan yang menjadi dasar diajukannya gugatan, dapat dimohon kepada Ketua Pengadilan apa yang menjadi hak-hak penggugat, yaitu 1. hak untuk bersengketa dengan cuma-cuma (Pasal 60 UU no. 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara); 2. hak ditundanya pelaksanaan Putusan TUN (Pasal 67 UU no. 5 tahun 1986) 3. Hak pemeriksaan dengan acara cepat (Pasal 98-99 UU no. 5 tahun 1986) 4. Mengajukan gugatan tertulis 5. Didampingi atau diwakili oleh seorang atau beberapa kuasa 6. Mengubah alasan yang mendasari gugatan 7. Memasukkan gugatannya sekali lagi jika dinyatakan gugur sebelumnya 8. Mencabut gugatannya sebelum tergugat memberikan jawaban