Anda di halaman 1dari 4

Laporan Praktikum Analisis Pangan Lanjut: Analisis Komposisi Asam Lemak Minyak Sawit dengan Teknik Gas Chromatography

menggunakan GC-FID

1.1. Pendahuluan Secara esensial, teknik gas chromatography (GC) atau kromatografi gas adalah berdasarkan perbedaan kecepatan di mana komponen dari suatu campuran bergerak sepanjang medium (fase diam) yang dibawa oleh gas (fase gerak) (Singh, 2002). GC mempunyai banyak aplikasi dalam analisis produk pangan. Salah satu aplikasinya adalah untuk menganalisis profil asam lemak. GC secara ideal cocok untuk menganalisis bahan yang volatile dan stabil terhadap panas. Produk pangan yang tidak stabil terhadap panas, volatilitasnya cenderung rendah seperti minyak sawit, memerlukan suatu langkah derivatisasi sebelum dilakukan analisis GC. Sebelum analisis, triasilgliserol dan fosfolipida disaponifikasi dan asam lemak dibebaskan dan diesterifikasi sehingga terbentuk fatty acid methyl esther (FAME) sehingga volatilitasnya bisa ditingkatkan (Nielsen, 2010b). Selain itu standar internal berupa asam lemak margarat (C:17) ditambahkan dalam sampel pada tahap persiapan sampel sehingga bisa diperoleh hasil analisis yang akurat (Lioe et al., 2012). Preparasi sampel dalam percobaan ini digunakan metode boron triflorida (BF3). Pada metode ini, lipid disaponifikasi, dan asam lemak dibebaskan dan diesterfikasi dengan kehadiran BF3 sebagai katalis. Metode ini biasanya diaplikasikan bila sampel berupa minyak nabati, seperti minyak sawit (Nielsen, 2010b). Pelarut organik heksana digunakan untuk mengekstrasi FAME dari proses transmetilasi. Setelah itu fase heksana yang mengandung FAME ditambah dengan Na2SO4 yang bertujuan untuk memerangkap air (Lioe et al., 2012).

Metode injeksi yang digunakan adalah metode injeksi splitless (Lioe et al., 2012). Injeksi splitless digunakan untuk meningkatkan sensitifitas, di mana semua analat masuk ke dalam kolom. Temperatur dari injektor dioperasikan 20oC lebih tinggi daripada temperature maksimum dari kolom oven (Nielsen, 2010a). Helium UHP (ultra high purity) digunakan sebagai carrier gas yang akan membawa FAME ke dalam kolom. Di dalam kolom, FAME akan berinteraksi dengan fase diam yang berupa cairan yang dilekatkan pada dinding kolom (Lioe et al., 2012). Suhu kolom diatur berdasarkan suatu gradient suhu sehingga terjadi perubahan suhu dengan pola tertentu. Sehingga pemisahan komponen dalam GC dapat diperoleh. Di dalam kolom, sampel dipisahkan berdasarkan tingkat volatilitas, jenis ikatannya dan interaksinya dengan fase diam. Asam lemak rantai pendek cenderung lebih volatile sehingga keluar lebih dulu dari kolom dan dideteksi oleh detector daripada asam lemak rantai panjang, sedangkan asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap cenderung terperangkap pada kolom (Lioe et al., 2012). Setelah komponen keluar dari kolom, komponen tersebut dipanaskan oleh api hydrogen oleh alat detector ionisasi nyala api (Flame Ionization DetectorFID). Suatu tegangan diaplikasikan sepanjang nyala api. Nyala api akan membawa arus sepanjang tegangan yang sebanding dengan ion organik yang ada pada nyala api dari hasil pembakaran senyawa organik. Arus yang mengalir sepanjang nyala api diamplifikasi dan direkam. FID merespon senyawa organik berdasarkan beratnya. FID tidak merespon terhadap H2O, NO2, CO2, H2S, dan respon terbatas pada komponen lainnya. Respon terbaik adalah komponen yang mengandung ikatan C-C atau C-H (Nielsen, 2010a). FID

Laporan Praktikum Analisis Pangan Lanjut: Analisis Komposisi Asam Lemak Minyak Sawit dengan Teknik Gas Chromatography menggunakan GC-FID

adalah detektor yang sensitif terhadap berat, dan merespon terhadap jumlah atom karbon yang memasuki detektor per unit waktu. Response factor untuk FID adalah area dibagi dengan berat dari sampel yang diinjeksikan (Grob & Barry, 2004). FID mempunyai sensitifitas yang cukup bagus, rentang yang cukup lebar pada respon (diperlukan untuk kuantifikasi), dan bisa diandalkan. Detektor ini mempunyai respon yang cukup baik untuk senyawa organic. Sehingga detektor ini digunakan untuk analisis pangan dimana destruksi sampel dibolehkan, misalnya pada analisis asam lemak (Nielsen, 2010a). Identifikasi jenis asam lemak dan penentuan konsentrasinya dilakukan dengan cara membandingkan peak dalam kromatogram sampel dan kromatogram standar eksternal yang telah diketahui dengan pasti komposisi dan konsentrasinya, serta dengan membandingkan luas area peak masingmasing asam lemak yang menjadi standar internal. Standar internal digunakan dalam analisis ini untuk memperoleh hasil kuantitatif sedangkan standar eksternal diperlukan untuk mengidentifikasi jenis asam lemak dan menentukan retention factor-nya. Standar eksternal berupa campuran ester metil dari berbagai asam lemak yang dapat langsung diinjeksikan ke dalam GC, terpisah dari injeksi sampel (HN Lioe, et al, 2012). 1.1. Tujuan Praktikum Tujuan dari praktikum Analisis Komposisi Asam Lemak Minyak Sawit dengan Teknik Gas Chromatography menggunakan GC-FID adalah untuk menjelaskan prinsip dan mempraktekkan analisis penentuan komposisi asam lemak dalam minyak goreng dengan menggunakan teknik GC yang dilengkapi dengan detektor FID sesuai metode AOAC 991.39.

2. Material dan Metode 2.1. Bahan dan Alat Sampel yang digunakan adalah minyak sawit. Alat yang digunakan adalah seperangkat alat kromatografi gas (Agilent Technologist, USA) dengan kromatopac (Shimadzu C-R6A) untuk identifikasi dan kolom kapiler DB-23 (30 mx0.32 mm i.d. J & W Scientific, Folsom, CA), dan dilengkapi dengan gas nitrogen UHP, gas helium UHP, gas hydrogen UHP, dan gas oksigen UHP, pipet tetes, pipet volumetrik 2 ml. neraca analitik, hot plate, tabung reaksi tertutup, Vial, vortex, penangas air, dan alat gelas lainnya. 2.3. Pereaksi Pereaksi yang digunakan dalam analisis ini adalah NaOH, air destilata, gas N2 (high purity grade), heksana p.a, Na2SO4 anhidrous p.a, larutan standar internal (SI) asam margarat (C17:0). Sebanyak 25 mg (0,1 mg) metil atau etil ester standar internal dimasukkan ke dalam labu takat 25 ml. Heksan ditambahkan hingga tanda tera sehingga diperoleh larutan SI dengan konsentrasi 1 mg/ml. Larutan NAOH / MeOH 0,5 N (p.a), larutan BF3 metanol (14%b/v) (p.a), larutan NaCl jenuh (p.a), serta standar eksternal (SE) asam lemak yang telah diketahui komposisinya. 2.4. Metilasi Asam Lemak Sampel minyak sawit ditimbang sebanyak 105.7 g dan 104.3 g (duplo) kemudian sampel minyak dimasukkan dalam tabung reaksi. Ditambahkan 1 ml larutan standar internal yaitu asam lemak margarat/C17:O. selanjutnya ditambahkan NaOH metanolik sebanyak 1.5 ml dan dihomogenisasi dengan vortex. Langkah berikutnya, dihembuskan dengan gas nitrogen (N2) selama 15 detik dan divortex kembali.

Laporan Praktikum Analisis Pangan Lanjut: Analisis Komposisi Asam Lemak Minyak Sawit dengan Teknik Gas Chromatography menggunakan GC-FID

Tabung reaksi berisi sampel selanjutnya dipanaskan dengan penangas bersuhu 80-100oC selama 5 menit. Didinginkan beberapa saat. Berikutnya ditambahkan 2 ml BF3 metanol dan divortex kembali. Kemudian dihembuskan kembali dengan nitrogen dan ditutup rapat. Selanjutnya dipanaskan 80-100oC selama 30 menit. Setelah pemasan selesai, sampel dalam tabung reaksi didinginkan. Setelah dingin, ditambahkan heksana 1 mL dan divortex. Setelah itu ditambahkan larutan NaCl jenuh 3 mL. Terlihat terbentuknya pemisahan antara lapisan heksana dan lapisan lain dibawahnya. Fraksi heksana diambil, dan dipindahkan ke dalam vial dengan hati agar murni heksana yang terambil. Berikutnya ditambahkan larutan Na2SO4 ke dalam fraksi heksana tersebut. Terakhir, lapisan atas dipindahkan ke dalam vial yang baru. Sampel siap dianalisis dengan GC. 2.5. Analisis dengan GC 1 l contoh disuntikkan ke dalam alat GC dengan menggunakan sistem langsung (spitless mode) dengan suhu injektor 2700C, dan suhu detektor 2800C. Suhu kolom diatur secara gradien, yaitu suhu kolom awal 1300C yang dipertahankan selama 4 menit,penambahan suhu kolom 6.50C/menit hingga mencapai suhu 1700C, kemudian penambahan suhu kolom diperlambat menjadi 2.750C/menit hingga mencapai 2150C dan dipertahankan selama 12 menit. Selanjutnya suhu terus dinaikkan hingga mencapai 2300C dengan kecapatan 400C/menit dan dipertahankan selama 3 menit. Suhu kembali diturunkan sampai 1300C dan contoh berikutnya dapat dapat disuntikkan. Tekanan gas helium diset sebagai pembawa pada 1 kg/cm2 dan tekanan gas hidrogen dan udara masing-masing 0.5 kg/cm2. Kecepatan gas H2 diset pada 30 ml/menit,

O2 400 mL/menit, N2 30.1 ml/menit, dan He 46.4 ml/menit. Asam lemak standar (standar eksternal FAME) digunakan untuk kuantifikasi asam lemak contoh. 2.6. Penghitungan Response Factor RF = (1) Keterangan : RF = Response factor ASI = Area standar internal pada kromatogram standar eksternal Aalx = Area asam lemak tertentu pada kromatogram standar eksternal BSI = Konsentrasi standar internal pada kromatogram standar eksternal Balx = Konsentrasi asam lemak tertentu pada kromaogram standar eksternal 2.7. Penghitungan Konsentrasi Asam Lemak Alx = ..(2) Keterangan : Alx = Konsentrasi asam lemak tertentu dalam sampel (mg/g) RF x 1000

Aalx = Area asam tertentu pada kromatogram sampel ASI = Area standar internal pada kromatogram sampel BSI = Berat SI yang ditambahkan dalam persiapan sampel (mg) BS RF = Berat sampel minyak goreng yang dimetilasi (g) = Response factor dari masingmasing asam lemak

Laporan Praktikum Analisis Pangan Lanjut: Analisis Komposisi Asam Lemak Minyak Sawit dengan Teknik Gas Chromatography menggunakan GC-FID

2.9. Penghitungan Horwitz

RSD

dan

RSD

Persamaan untuk menghitung RSD sebagai berikut : RSD (%) = CV = 100 SD /ratarata.. (3) Dimana : RSD = Relative standard deviation CV = Coefficient of variance

volunteers. American Journal of Clinical Nutrition 53: 1015S1020S Nielsen, S.Z. 2010a. Food Analysis, Fourth Edition. Springer. Nielsen, S.Z. 2010b. Food Analysis Laboratory Manual, Second Edition. Springer. OBrien, R. 2009. Fats and Oils, Formulating and Processing for Applications, Third Edition. Boca Raton: CRC Press. Singh, R. 2002. Gas Chromatography. New Delhi: Mittal Publications. Sundram, K., 2004. Effects of palm oil on plasma lipids and lipoproteins. Lipid Technology 16: 5761.

Nilai RSD yang dapat diterima tergantung dari konsentrasi analat yang diperoleh dari hasil pengujian. Nilai RSD yang dapat diterima dihitung dengan menggunakan persamaan Horwitz. Bila RSD hasil analisis lebih kecil dari RSD yang dihitung dengan persamaan Horwitz, maka data dapat diterima. Persamaan RSD Horitz : RSD = 2 exp .(4) Dimana : C = nilai rata-rata konsentrasi analat (dalam bentuk fraksi) 5. Daftar Pustaka
Azlan, A., Nagendra Prasad, K., Khoo, H.E., Abdul-Aziz, N., Mohamad, A., Ismail, A., Amom, Z. 2010. Comparison of fatty acids, vitamin E and physicochemical properties of Canarium odontophyllum Miq. (dabai), olive and palm oils. Grob, R.L. & Barry, E.F. 2004. Modern Practice of Gas Chromatography. John Wiley & Sons. Lioe, N.H., Faridah, D.N., Yuliana, N.D., Kusnandar, F., Suliantari, Purnomo, E.H., dan Suyatma, N.E. 2012. Penuntun Praktikum Analisis Pangan Lanjut. Bogor: Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Ng, T.K.W., Hassan, K., Lim, J.B., Lye, M.S., Ishak, R., 1994. Non hypercholesterolemic effects of a palm-oil diet in Malaysian

(1

0.5

log

C)

Anda mungkin juga menyukai