Anda di halaman 1dari 6

Jawablah pertanyaan berikut ini: a. Apakah perbedaan antara Teori Framing dengan Teori Wacana? Apa pula persamaannya?

b. Apakah perbedaan antara Analisis Isi dengan Analisis Wacana? Jelaskan! c. Dalam Teori Wacana, ada sejumlah model analisis. Tiga diantaranya yang populer adalah Sara Mils, Teun A. van Dijk dan Norman Fairclogh. c.1. Jelaskan Teori Wacana model Sara Mils dalam menganalisis teks c.2. Jelaskan Teori Wacana model Teun A. van Dijk dalam menganalisis teks c.3. Jelaskan Teori Wacana model Norman Fairclogh dalam menganalisis teks

a. Analisis wacana adalah analisis isi yang lebih bersifat kualitatif dan dapat menjadi salah satu alternatif untuk melengkapi dan menutupi kelemahan dari analisis isi kuantitatif yang selama ini banyak digunakan oleh para peneliti. Jika pada analisis kuantitatif, pertanyaan lebih ditekankan untuk menjawab apa (what) dari pesan atau teks komunikasi, pada analisis wacana lebih difokuskan untuk melihat pada bagaimana (how), yaitu bagaimana isi teks berita dan juga bagaimana pesan itu disampaikan. Analisis wacana merupakan suatu kajian yang digunakan secara ilmiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan. Penggunaan bahasa secara alamiah ini berarti penggunaan bahasa seperti dalam komunikasi sehari-hari. Stubbs menjelaskan bahwa analisis wacana menekankan kajian penggunaan bahasa dalam konteks sosial, khususnya dalam interaksi antar penutur. Senada dengan itu, cocok dalam hal ini menyatakan bahwa analisis wacana itu merupakan kajian yang membahas tentang wacana, sedangkan wacana itu adalah bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi. Menurut Stubbs (Arifin,2000:8).

Analisa Framing adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui bagaimana realitas (aktor, kelompok, atau apa saja) dikonstruksi oleh media (Eriyanto, 2005, p.3). Analisa framing memiliki dua konsep yakni konsep pskiologis dan sosiologis. Konsep psikologis lebih menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi pada dirinya sedangkan konsep sosiologis lebih melihat pada bagaimana konstruksi sosial atas realitas. Analisis Framing sendiri juga merupakan bagian dari analisis isi yang melakukan penilaian tentang wacana persaingan antar kelompok yang muncul atau tampak di media.

b. Perbedaan analisis isi dan analisis wacana Analisis wacana lebih bersifat kualitatif daripada yang umum dilakukan dalam analisis isi kuantitatif karena analisis wacana lebih menekankan pada pemaknaan teks daripada penjumlahan unit kategori, seperti dalam analisis isi. Analisis isi kuantitatif digunakan untuk membedah muatan teks komunikasi yang bersifat manifest (nyata),

sedangkan analisis wacana justru memfokuskan pada pesan yang bersifat latent (tersembunyi). Analisis isi kuantitatif hanya dapat mempertimbangkan apa yang dikatakan (what), tetapi tidak dapat menyelidiki bagaimana ia dikatakan (how). Analisis wacana tidak berpretensi melakukan generalisasi, sedangkan analisis isi kuantitatif memang diarahkan untuk membuat generalisasi.

C1. Teori wacana sarah mills Teori wacana kritis yang kemukakan Foucault, secara metodologi analisis banyak di adopsi oleh Sara Mills. Mills menjadikan teori wacana Foucault sebagai ground teori untuk analisis wacana kritis. P endekatan wacana yang mengguanakan teori Foucault sebgai grounded disebut sebagai Analsis Wacana Pendekatan Prancis ( French Discourse Analysis). Sara Mills merupakan salah satu penganut dari teori ini. Walaupun lebih dikenal sebagai seorang feminis, metode anlisisnya sangat cocok untuk menggambarkan realasi kekuasaan dan ideologi yang dibahas dalam penelitian ini. Konsep dasar pemikiran Mills lebih melihat pada bagaimana aktor ditampilkan dalam teks. Posisi posisi ini dalam arti siapa yang menjadi subyek penceritaan dan siapa yang menjadi obyek penceritaan akan manentukan bagaimana struktur teks dan bagaimana makna diperlakuakan dalam teks secara keseluruhan. Selain itu juga diperhatikan bagaimana pembaca dan penulis ditampilkan dalam teks. Bagaimana pembaca mengidentifikasikan dirinya dalam penceritaan teks. Ada dua konsep dasar yang di perhatikan : Posisi Subyek Obyek, menempatkan representasi sebagai bagian terpenting. Bagaimana satu pihak, kelompok, orang, gagasan,dan peristiwa ditampilkan dengan cara tertentu dalam wacana dan mempengaruhi pemaknaan khalayak. Penekananya adalah bagaimana poisisi dari aktor sosial, posisi gagasan, atau peristiwa ditempatkan dalam teks. Posisi pembaca dalam teks, menurut Mills sangat penting dan diperhitungkan karena pemabaca bukan semata-mata pihak yang hanya menerima teks, tetapi juga ikut melaksanakan transaksi sebagaimana akan terlibat dalam teks.

C2. Teori Wacana model Teun A. van Dijk dalam menganalisis teks Dari sekian banyak analisis kritik wacana yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh beberapa ahli model van Dijk adalah model yang paling banyak dipakai. Hal ini kemungkinan karena van Dijk mengkolaborasi elemen-elemen wacana sehingga bisa didaya gunakan dan dipakai secara praktis. Model van Dijk ini sering disebut sebagai kognisi social. Nama pendekatan ini tidak dapat dilepasakan Dijk. Menurut Dijk penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis teks semata,

karena teks hanyalah hasil dari suatu praktek produksi yang harus juga diamati. Dalam hal ini harus dilihat bagaimana suatu teks diproduksi, sehingga diperoleh suatu pengetahuan kenapa teks bsia semacam itu. Kalau adanya teks yang memarginalisasikan perempuan dibutuhkan, maka mutu penelitian yang akan melihat bagaimana produksi teks itu bekerja, kenapa teks itu memarginalkan perempuan. Preoses produksi dan pendekatan ini sangat khas van Dijk, yang melibatkan suatu proses yang disebut sebagai kognisi sosial. Istilah ini diadopsi dari pendekatan dialpangan dalam ilmu psikologi sosial, terutama untuk menjelaskan struktur dan proses terbentuknya suatu teks, suatu teks yang cenderung memarginalisasikan posisi perempuan, misalnya muncul karena kognisi atau kesadaran mental diantara penulis, bahkan kesadaran masyarakat yang memandang perempuan secara rendah, sehingga teks disini hanya merupakan bagian terkecil saja dari praktek wacan yang merendahkan perempuan. Pendekatan yang dikenal sebagai konjungsi social ini membantu menentukan bagaimana produksi teks yang melibatkan proses yang kompleks tersebut dapat dipelajari dan dijelaskan. Teks dibentuk dalam suatu praktik diskursus, suatu praktek wacana. Kalau ada teks yang memarginalkan perempuan, maka teks itu hadir dari representasi yang menggambarkan masyarakat yang patriarchal. Teks ini ada dua bagian, yaitu teks mikro yang mempresentasikan marginalisasi terhadap perempuan dalam berita, dan elemen besar berupa struktur, social tersebut dengan elemen wacana yang makro dengan sebuah dimensi yang dinamakan kognisi social. Untuk menggambarkan modelnya tersebut, van Dijk membuat banyak sekali studi analisis pemberitaan media. Titik perhatian van Dijk terutama pada studi mengenai rasialisme. Banyak sekali rasialisme yang diwujudkan dan diekspresikan melalui tulisan. Contohnya dapat dilihat dari percakapan sehari-hari, wawancara kerja , rapat guru, debat di parlemen, propaganda politik, periklanan, artikel ilmiah, editorial, berita, foto, film, dll. Dari berbagai teks tersebut kelompok bawah digambarkan secara buruk, kelompok minoritas juga digambarkan tidak sebagaimana mestinya, yang dinyatakan dengan cara yang meyakinkan, Nampak sebagai kewajaran, masuk akal, alamiah, dan terlihat sah. Bagaiman teks semacam ini dapat dipakai? Apa maknanya dan menunjukkan apa? Gambaran teks yang demikian bermakna dua. Pertama, secara umum menunjukkan bagaimana kesadaran mental masyarakat barat bekerja. Mereka tidak sadar bahwa pemikiran-pemikiran mereka dikuasai pikiran-pikiran yang rasis, dan dengan tidak sadar mereka memandang rendah kelompok minoritas. Ketidaksadaran ini adalah praktik-praktik sehari-hari, bagaimana orang kulit hitam dan kelompok-kelompok minoritas diperlakukan dijalan, ditempat kerja , dan di tokotoko. Keadaan sehari-hari yang berulang kali terakumulasi sehingga menghasilkan pikiran dan kognisi yang memandang rendah kelompok minoritas. Kedua, menggunakan bagaimana wacana rasialisme ini diperkuat dan dipaparkan, misalnya dalam teks media. Bagaimana teks media menempatkan rasialisme, sehingga tampak sebagai kewajaran, media membentuk suatu konsesus dan pembenaran bahwa seperti itulah kenyataannya. Berbagai masalah yang kompleks dan rumit itulah yang dicoba digambarkan oleh model van Dijk. Oleh karena itu van Dijk tidak mengekslusi modelnya. Ia juga melihat bagaimana struktur social, dominasi, dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat, dan bagaimana kognisi dan kesadaran membentuk serta berpengaruh terhadap teks tertentu.

Wacana oleh van Dijk digambarkan mempunyai tiga dimensi yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Dijk menggabungkan tiga dimensi wacana tersebut kedalam suatu kesatuan analisis. Dalam teks, yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Kognisi social mempelajari proses induksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari wartawan. Sedangkan aspek ketiga yaitu kritik social yang mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Model analisis van Dijk ini bisa digambarkan sebagai berikut.

C3. Teori Wacana model Norman Fairclogh Analisis Wacana Model Fairclough Fairclough berpendapat bahwa analisis wacana kritis adalah bagaimana bahasa menyebabkan kelompok sosial yang ada bertarung dan mengajukan ideologinya masing-masing. Konsep ini mengasumsikan dengan melihat praktik wacana bias jadi menampilkan efek sebuah kepercayaan (ideologis) artinya wacana dapat memproduksi hubungan kekuasaan yang tidak imbang antara kelas sosial, laki-laki dan wanita, kelompok mayoritas dan minoritas dimana perbedaan itu direpresentasikan dalam praktik sosial. Analisis Wacana melihat pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial. Praktik sosial dalam analisis wacana dipandang menyebabkan hubungan yang saling berkaitan antara peristiwa yang bersifat melepaskan diri dari dari sebuah realitas, dan struktur sosial. Dalam hal ini dari penjelasan Norman Fairclough dapat ditarik kesimpulannya bahwasanya dalam analisis wacana seorang peneliti atau penulis melihat teks sebagai hal yang memiliki konteks baik berdasarkan process of production atau text production; process of interpretation atau text consumption maupun berdasarkan praktik sosio-kultural. Dengan demikian, untuk memahami wacana (naskah/teks) kita tak dapat melepaskan dari konteksnya. Untuk menemukan realitas di balik teks kita memerlukan penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi teks, dan aspek sosial budaya yang mempengaruhi pembuatan teks. Dikarenakan dalam sebuah teks tidak lepas akan kepentingan yang yang bersifat subjektif.

Didalam sebuah teks juga dibutuhkan penekanannya pada makna (Meaning) (lebih jauhdari interpretasi dengan kemampuan integrative, yaitu inderawi, daya piker dan akal budi) Artinya: Setelah kita mendapat sebuah teks yang telah ada dan kita juga telah mendapat sebuah gambarang tentang teori yang akan dipakai untuk membedah masalah, maka kita langkah selanjutnya adalah kita memadukann kedua hal tersebut menjadi kesatuan yaitu dengan adanya teks tersebut kita memakai sebuah teori untuk membedahnya. Kemudian Norman fairclough mengklasifikasikan sebuah makna dalam analisis wacana sebagai berikut: Translation (mengemukakan subtansi yang sama dengan media). Artinya: . Pada dasarnya teks media massa bukan realitas yang bebas nilai. Pada titik kesadaran pokok manusia, teks selalu memuat kepentingan. Teks pada prinsipnya telah diambil sebagai realitas yang memihak. Tentu saja teks dimanfaatkan untuk memenangkan pertarungan idea, kepentingan atau ideologi tertentu kelas tertentu. Sedangkan sebagai seorang peneliti memulainya dengan membuat sampel yang sistematis dari isi media dalam berbagai kategori berdasarkan tujuan penelitian. Interpreatation (berpegang pada materi yang ada, dicari latarbelakang, konteks agar dapat dikemukakan konsep yang lebih jelas) Artinya: Kita konsen terhadap satu pokok permasalahan supaya dalam menafsirkan sebuah teks tersebut kita bisa mendapat latar belakang dari masalah tersebut sehingga kemudian kita bisa menentukan sebuah konsep rumusan masalah untuk membedah masalah tersebut. Ekstrapolasi (menekankan pada daya pikir untuk menangkap hal dibalik yang tersajikan). Artinya: kita harus memakai sebuah teori untuk bisa menganalisis masalah tersebut, karena degnan teori tersebut kita bisa dengan mudah menentukan isi dari teks yang ada Meaning (lebih jauhdari interpretasi dengan kemampuan integrative, yaitu inderawi, daya piker dan akal budi) Artinya: Setelah kita mendapat sebuah teks yang telah ada dan kita juga telah mendapat sebuah gambarang tentang teori yang akan dipakai untuk membedah masalah, maka kita langkah selanjutnya adalah kita memadukann kedua hal tersebut menjadi kesatuan yaitu dengan adanya teks tersebut kita memakai sebuah teori untuk membedahnya. Dan menurutnya dalam analisis wacana niorman fairclough juga memberika tingkatan, seperti sebagai berikut: Analisis Mikrostruktur (Proses produksi): menganalisis teks dengan cermat dan focus supay dapat memperoleh data yang dapat menggambarkan

representasi teks. Dan juga secara detail aspek yang dikejar dalam tingkat analisis ini adalah garis besar atau isi teks, lokasi, sikap dan tindakan tokoh tersebut dan seterusnya. Analisis Mesostruktur (Proses interpretasi): terfokus pada dua aspek yaitu produksi teks dan konsumsi teks. Analisis Makrostruktur (Proses wacana) terfokus pada fenomena dimana teks dibuat, Dengan demikian, menurut Norman Fairclough untuk memahami wacana (naskah/teks) kita tak dapat melepaskan dari konteksnya. Untuk menemukan realitas di balik teks kita memerlukan penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi teks, dan aspek sosial budaya yang mempengaruhi pembuatan teks.