P. 1
Aneka Mollusca

Aneka Mollusca

|Views: 1,494|Likes:
Dipublikasikan oleh Dian Albizzia Dryas

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Dian Albizzia Dryas on Jun 14, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/10/2015

pdf

text

original

Danau Maninjau adalah salah satu danau di Sumatera Barat yang terletak di Kabupaten
Agam. Danau ini merupakan danau yang terbentuk dari aktivitas vulkanik, terletak pada
ketinggian 461,50 m di atas permukaan laut dengan luas 9737,50 hektar serta kedalaman
maksimum 165 m (Apip et al 2002).
Danau Maninjau merupakan suatu ekosistem perairan, dihuni oleh berbagai organisme yang
saling berinteraksi dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Selain itu danau merupakan sumber air
yang digunakan oleh masyarakat untuk mandi, sumber air minum, mencuci, tempat bermuaranya

sungai
-sungai yang membawa limbah rumah tangga, limbah pertanian, sebagai tenaga listrik, objek
wisata dan tempat yang baik untuk membudidayakan ikan. Selain pembangkit tenaga listrik,
pemanfaatan danau tersebut dapat memberikan masukan zat hara yang berlebihan ke perairan
sehingga dapat menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap ekosistem dan biota perairan
(Deswati 2002).

Salah satunya adalah keberadaan komunitas moluska di danau itu. Sedangkan moluska
mempunyai keuntungan bagi manusia, diantaranya sebagai sumber protein, bahan pakan ternak,
bahan industri dan perhiasan, bahan pupuk serta untuk obat-obatan. Selain itu filum ini dapat
dijadikan sebagai bioindikator untuk pemantauan kualitas perairan, seperti Anodonta woodiana
dan Corbicula javanica(Arisandi 2001).Sejauh ini penelitian tentang moluska di kawasan danau
Maninjau belum banyak dilaporkan.
Moluska merupakan salah satu filum dari kelompok hewan avertebrata yang cukup terkenal.
Filum Moluska ini merupakan anggota yang terbanyak kedua setelah Arthropoda . Moluska ini,
sekitar 50.000 spesies telah terdeskripsi dan telah menjadi fosil sekitar 60.000 species (Brusca &
Brusca 1990). Diperkirakan moluska yang masih hidup antara 50.000-110.000 species (Pechenik
2000). Di Indonesia diperkirakan terdapat 20.000species (Dharma 2000).
Filum moluska terdiri dari delapan kelas yaitu: Caudofoveata, Aplacophora, Mono-
placophora, Poly-placophora, Scapopoda, Cephalopoda, Gastropoda dan Bivalvia (Brusca &
Brucsa 1990) (Lampiran 3). Beberapa jenis dari kelas Gastropoda dan Bivalvia hidup di perairan
tawar. Salah satunya terdapat di danau. Menurut Basmi 1999, danau merupakan suatu badan air
tawar yang bersifat stagnan yang dicirikan dengan arus lambat yaitu 0.001-0.1 m/detik.
Moluska merupakan hewan yang berhasil dan mampu beradaptasi dengan lingkungan di
beberapa tempat dan cuaca. Filum ini sering ditemukan di laut dangkal, air payau, air tawar dan
darat dan mempunyai bentuk yang beranekaragam dari bentuk silindris seperti cacing dan tidak
mempunyai kaki dan tertutup dua keping cangkang besar (Suwignyo 1998).
Filum ini memiliki tubuh simetri bilateral, diselaputi oleh mantel yang menghasilkan
cangkang dan mempunyai kaki ventral , saluran pencernaan lengkap dan di dalam rongga mulut
terdapat radula, kecuali pada Pelecypoda. Jantung terdiri dari atas dua serambi dan sebuah bilik.
Alat pernafasan pernafasan berupa ktinedia sepasang atau lebih.
Bivalvia merupakan moluska bercangkang setangkup, pada umumnya simetri bilateral. Kaki
berbentuk seperti kapak, insang tipis dan berlapis-lapis terletak diantara mantel. Kedua
cangkangnya dapat dibuka tutup dengan mengendurkan otot aduktor dan reduktornya. Pada bagian
dorsal terdapat gigi engsel dan ligament, mulut dilengkapi dengan labial pulp, tanpa rahang dan
radula. Anggota kelas ini mempunyai cara hidup yang beragam, ada yang membenamkan diri pada
substrat, menempel pada substrat dengan benang byssus atau zat perekat lain, bahkan ada yang
berenang aktif. Habitatnya adalah perairan laut, payau, danau, sungai, kolam serta rawa
(Alfitriatussulus 2003).

Gastropoda daratan kelas Pulmonata mempunyai mantel dan rongga mantel yang telah
termodifikasi menjadi paru-paru sebagai alat pernafasan (Sugiri 1989). Alat indra berupa kaki dan
tentakel yang peka terhadap perabaan. Mata terletak di ujung tentakel. Bentuk dan ukuran
cangkang pada moluska merupakan karakter yang di pakai dalam identifikasi.
Gastropoda merupakan cangkang tunggal, biasanya melingkar karena perputaran, ada
beberapa jenis tidak bercangkang, bentuk kepala jelas terdapat matadan tentakel, kaki lebar dan
datar; memiliki radula; bernafas dengan insang dan paru-paru yang telah mengalami modifikasi
dari mantel dan rongga mantel; bersifat dioceus (jenis kelamin terpisah antara jantan dan betina),
larva trokofor dan viliger. Hidup di laut, air tawar dan darat (Mote 2004).

11

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->