Anda di halaman 1dari 40

1

1 KEANEKARAGAMAN DAN KEPADATAN KOMUNITAS MOLUSKA DI PERAIRAN SEBELAH UTARA DANAU MANINJAU Oleh: Fitria Yeni Bahri

KEANEKARAGAMAN DAN KEPADATAN KOMUNITAS MOLUSKA DI PERAIRAN SEBELAH UTARA DANAU MANINJAU

Oleh:

Fitria Yeni Bahri

G04400005

UTARA DANAU MANINJAU Oleh: Fitria Yeni Bahri G04400005 DEPARTEMEN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

DEPARTEMEN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2006

2

2 KEANEKARAGAMAN DAN KEPADATAN KOMUNITAS MOLUSKA DI PERAIRAN SEBELAH UTARA DANAU MANINJAU Skripsi Sebagai salah satu

KEANEKARAGAMAN DAN KEPADATAN KOMUNITAS MOLUSKA DI PERAIRAN SEBELAH UTARA DANAU MANINJAU

Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Oleh:

Fitria Yeni Bahri

G04400005

DEPARTEMEN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2006

3

3 Judul Skripsi Nama NIM : KEANEKARAGAMAN DAN KEPADATAN MOLUSKA DI PERAIRAN SEBELAH UTARA DANAU MANINJAU

Judul Skripsi

Nama

NIM

: KEANEKARAGAMAN DAN KEPADATAN MOLUSKA DI PERAIRAN SEBELAH UTARA DANAU MANINJAU : Fitria Yeni Bahri : G04400005

Pembimbing I,

Drh. Djoko Waluyo, MS. NIP 130350056

Menyetujui:

Pembimbing II,

Ir. Ristiyanti M.Marwoto, M.Si. NIP 320003784

Mengetahui:

Dekan Fakultas Matematika da n Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, MS. NIP 131473999

Tanggal Lulus:

4

4 ABSTRAK FITRIAYENI BAHRI. Keanekaragaman dan Kepadatan Komunitas Moluska di Perairan Sebelah Utara Danau Maninjau.

ABSTRAK

FITRIAYENI BAHRI. Keanekaragaman dan Kepadatan Komunitas Moluska di Perairan Sebelah Utara Danau Maninjau. Dibimbing oleh DJOKO WALUYO dan RISTIYANTI M. MARWOTO.

mengungkap

terdapat di Perairan Sebelah Utara Danau Maninjau dengan mengkaji keanekaragaman, keseragaman, kepadatan, dominansi dan pola penyebaran jenis serta faktor lingkungan biotik maupun abiotik. Pengambilan contoh moluska dilakukan pada empat stasiun dengan membuat garis transek dari tepi ke tengah danau dengan ukuran 25 x 20 m, petak kuadrat 1x 1 m setiap transek. Contoh moluska diambil pada kedalaman 0-5 m. Keanekaragaman moluska pada setiap stasiun dengan menggunakan Uji Indek Shannon-Wiener , Dominansi moluska di hitung dengan menggunakan Indeks Sebaran Morisita. Suhu setiap stasiun 25 – 26.5 0 C, derajat keasaman 6 - 7, kedalaman perairan 43 -650 cm dan kercerahan perairan 140 - 550 cm serta jenis substrat

jenis moluska yang

Penelitian

ini

bertujuan

kekayaan

adalah pasir dan pasir berlumpur. Keanekaragaman moluska yang didapatkan selama penelitian yaitu 6 famili dan 10 spesies dari dua kelas, bivalvia dan gastropoda. Corbicula javanica

dan

(Unionidae), Melanoides granifera , Melanoides tuberculata dan Thiara scabra (Thiaridae), Brotia costula varicosa dan Brotia testudinaria (Pachychilidae), Bellamya javanica (Viviparidae) dan Pomacea canaliculata (Ampullariidae). Keanekaragaman, Keseragaman dan Dominansi moluska tertinggi terdapat di stasiun II dan IV dan terendah terdapat di stasiun III. Kepadatan jenis moluska tertinggi terdapat di stasiun II dan IV dan terendah terdapat di stasiun I. Penyebaran jenis moluska bersifat mengelompok dan acak.

vondembuschianus

Corbicula

moltkiana

(Corbiculidae),

Pseudodon

5

5 ABSTRACT FITRIA YENI BAHRI. Molusc Diversity and Density in North Area Of the Maninjau Lake.

ABSTRACT

FITRIA YENI BAHRI. Molusc Diversity and Density in North Area Of the Maninjau Lake. Under direction of DJOKO WALUYO and RISTIYANTI M. MARWOTO. The research main goal is to know the richness of molusc in north area of Maninjau lake by studying the diversity, similarity, density, dominancy,

distribution pattern and its biotic and abiotic factors. Sample were taken from four station by making transect line from the edge to the middle of the lake with size

of

25 x20 m, quadrat square 1 x1 m each transect. Sample were taken from 0 -5

m

depth. Molusc diversity in each station were counted using Shannon – Wiener

indeks test, molusc dominancy were counted using molusc dominancy and its distribution were counted using Morisita distribution indeks. Temperature in each station was 25 – 26.5 0 C, 6 – 7 pH , Water depth 43 - 650 cm, water brigthness 140 – 550 cm and the substrate was sand and muddy sand.

From the research, there were 6 families and 10 species from two classes,

bivalvia

(Corbiculidae), Pseudodon vondembuschianus (Unionidae), Melanoides granifera, Melanoides tuberculata and Thiara scabra (Thiaridae), Brotia costula varicosa and Brotia testudinaria (Pachychilidae), Bellamya javanica (Viviparidae) and Pomacea canaliculata (Ampullariidae). The highest diversity, similarity and dominancy of molusc was in station

moltkiana

and

gastropoda.

Corbicula

javanica

and

Corbicula

II and IV, while the lowest was in station III. The highest molusc density was in

station II dan IV while the lowest was in station I. Molusc distribution was grouped and random.

6

6 PRAKATA Puji dan syukur penulis persembahkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat, kasih sayang dan

PRAKATA

Puji dan syukur penulis persembahkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat, kasih sayang dan izinNya sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Agustus 2004 ini ialah Keanekaragaman dan Kepadatan Komunitas Moluska di Bagian Perairan

Utara Danau Maninjau. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih Bapak Drh. Djoko Waluyo, M.S. dan Ibu Ir. Ristiyanti M Marwoto, M.Si.selaku pembimbing, Bapak Ir. Heryanto, M.Sc dan Bapak Munandar serta staf di LIPI Biologi Cibinong yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan saran selama penelitian. Terima kasih pada Ibu Ir. Elivitrida, M.S, Bapak Kepala Linmas Kabupaten Agam beserta staf, Bapak Camat Tanjung Raya beserta staf atas arahannya. Terimakasih kepada Ibu Dr.Ir Utut Widiastuti atas bimbingan dan

motivasinya selama ini dan kepada Bapak

memberikan banyak arahan sebagai dosen peguji serta semua dosen di Departemen Biologi IPB. Ungkapan terima kasih dan rasa cinta yang tak terhingga untuk Papa, Mama, Fatra, Nofi dan Arif serta seluruh keluarga atas do’a, perhatian, pengertiannya dan kasih sayang serta motivasinya selama ini. Terima kasih atas doa dan semangat dari om Rizal dan tante Aci sekeluarga, Bapak dan Ibu Sitanala Arsyad sekeluarga, Bapak Sunarbiantoro sekeluarga, Ibu Kiky sekeluarga, NF Crew, kakakku Adam, Mieska dan Dini sekeluarga, Sefi n kak Adi Dila sekeluarga , Fitri n Wela, Teman-temanku HRD, ARH, Adi, Yesi n uda Iron, Inel, Sherly, Vivi, Dedi, Karisma, Firman, anak-anak BIOS yang selalu mengerti diriku, Rendezvouz, small family, Pak Joni dan Mba Yeni dan semua abiola 37,38,39 dan 40, TM-3 Crew teman-temanku yang heboh dan M-5 Crew dan semua teman-temanku atas do’a dan perhatiannya. Terima kasih atas bantuan M. Nana Al-Ansori dan keluarga yang telah membawa kembali data penelitianku, terima kas ih untuk Uda Edrianto sekeluarga atas bantuan selama penelitian.

Dr.Ir.Dede Setiadi, MS yang telah

Bogor, Februari 2006

Fitria Yeni Bahri

7

7 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Payakumbuh pada tanggal 27 Maret 1982 dari ayah Syamsul Bahri

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Payakumbuh pada tanggal 27 Maret 1982 dari ayah Syamsul Bahri dan Ibu Yeni Warti. Penulis merupakan putri pertama dari empat bersaudara.

Tahun 2000 penulis lulus dari SMUN 2 Lubuk Basung

dan pada tahun

yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB. Penulis memilih Program Studi Biologi, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Penulis pernah melakukan kegiatan Praktek Lapangan di Laboratorium Malakologi, Puslit Biologi Lembaga Ilmu

Pengetahuan Indonesia, Cibinong Jawa Barat dan sebagai tenaga pengajar di Lembaga Bimbingan Belajar Nurul Fikri Bogor serta menjadi staf di BIOS yang bergerak di bidang Outbond, Training dan katering sampai sekarang.

8

8 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ix DAFTAR GAMBAR ix DAFTAR LAMPIRAN ix PENDAHULUAN Latar Belakang

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL

ix

DAFTAR GAMBAR

ix

DAFTAR LAMPIRAN

ix

PENDAHULUAN Latar Belakang

1

Tujuan

2

WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN

2

BAHAN DAN METODE Bahan dan Metode

2

Analisis Data

2

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Identifikasi

3

Kepadatan Populasi

7

Keanekaragaman, Keseragaman dan Dominansi Moluska

8

Keanekaragaman Ukuran Cangkang Kelas Bivalvia

9

Keanekaragaman Ukuran Cangkang Kelas Gastropoda

10

Indeks Penyebaran dan Pola Penyebaran Moluska

11

Kondisi Fisik Lingkungan

12

SIMPULAN

13

SARAN

13

DAFTAR PUSTAKA

13

LAMPIRAN

15

9

9 DAFTAR TABEL Halaman 1 Parameter pengukuran faktor fisik lingkungan pada empat stasiun yang berbeda 2

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Parameter pengukuran faktor fisik lingkungan pada empat stasiun yang berbeda

2

2 Kepadatan rata-rata (ind/m 2 ) jenis moluska di masing-masing stasiun

8

3 Nilai indeks keanekaragaman (H’), keseragaman (E) dan dominansi (C)

9

4 Indeks penyebaran dan pola penyebaran moluska

10

5 Frekuensi kehadiran setiap spesies di masing-masing stasiun

11

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Corbicula motlkiana

6

2 Corbicula javanica

6

3 Pseudodon vondembuschianus

6

4 Melanoides granifera

7

5 Melanoides tuberculata

7

6 Brotia costula varicosa

7

7 Brotia testudinaria

7

8 Thiara scabra

7

9 Bellamya javanica

7

10 Pomacea canaliculata

7

11 Ukuran rata-rata cangkang bivalvia

9

12 Nilai standar deviasi ukuran cangkang bivalvia

9

13 Ukuran rata- rata cangkang gastropoda

10

14 Nilai standar deviasi ukuran cangkang gastropoda

10

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Peta pengambilan spesimen moluska di perairan sebelah utara danau Maninjau

16

2 Lokasi pengambilan spesimen moluska

17

3 Gambar kelas moluska

18

4 Identifikasi spesies

19

5 Kondisi fisik lingkungan dan lokasi pengambilan spesimen moluska

21

6 Ukuran cangkang bivalvia

22

10

10 PENDAHULUAN Latar belakang Danau Maninjau adalah salah satu danau di Sumatera Barat yang terletak di

PENDAHULUAN

Latar belakang

Danau Maninjau

adalah salah satu danau di Sumatera Barat yang terletak di Kabupaten

Agam.

ketinggian 461,50 m di atas permukaan laut dengan luas 9737,50 hektar serta kedalaman maksimum 165 m (Apip et al 2002). Danau Maninjau merupakan suat u ekosistem perairan, dihuni oleh berbagai organisme yang

saling berinteraksi dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Selain itu danau merupakan sumber air yang digunakan oleh masyarakat untuk mandi, sumber air minum, mencuci, tempat bermuaranya sungai -sungai yang membawa limbah rumah tangga, limbah pertanian, sebagai tenaga listrik, objek wisata dan tempat yang baik untuk membudidayakan ikan. Selain pembangkit tenaga listrik, pemanfaatan danau tersebut dapat memberikan masukan zat hara yang berlebihan ke perairan sehingga dapat menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap ekosistem dan biota perairan (Deswati 2002). Salah satunya adalah keberadaan komunitas moluska di danau itu. Sedangkan moluska

mempunyai keuntungan bagi manusia, diantaranya sebagai sumber protein,

bahan industri dan perhiasan, bahan pupuk serta untuk obat -obatan. Selain itu filum ini dapat

dijadikan sebagai bioindikator untuk pemantauan kualitas perairan, seperti

dan Corbicula javanica (Arisandi 2001 ).Sejauh ini penelitian tentang moluska di kawasan danau Maninjau belum banyak dilaporkan. Moluska merupakan salah satu filum dari kelompok hewan avertebrata yang cukup terkenal.

Filum Moluska ini merupakan anggota yang terbanyak kedua setelah Arthropoda .

sekitar 50.000 spesies telah terdeskripsi dan telah menjadi fosil sekitar 60.000 species (Brusca & Brusca 1990). Diperkirakan moluska yang masih hidup antara 50.000-110.000 species (Pechenik

2000). Di Indonesia diperkirakan terdapat 20.000species (Dharma 2000).

pada

Danau

ini

merupakan

danau

yang

terbentuk

dari

aktivitas

vulkanik,

terletak

bahan pakan ternak,

Anodonta woodiana

Moluska ini,

Filum

moluska terdiri dari delapan kelas yaitu:

Caudofoveata,

Aplacophora,

Mono-

placophora,

Poly-placophora, Scapopoda, Cephalopoda, Gastropoda dan Bivalvia (Brusca &

Brucsa 1990) (Lampiran 3). Beberapa jenis dari kelas Gastropoda dan Bivalvia hidup di perairan tawar. Salah satunya terdapat di danau. Menurut Basmi 1999, danau merupakan suatu badan air tawar yang bersifat stagnan yang dicirikan dengan arus lambat yaitu 0.001-0.1 m/detik.

Moluska merupakan hewan

yang berhasil dan mampu beradaptasi dengan lingkungan di

beberapa tempat dan cuaca. Filum ini sering ditemukan

darat dan mempunyai bentuk yang beranekaragam dari bentuk silindris seperti cacing dan tidak mempunyai kaki dan tertutup dua keping cangkang besar (Suwignyo 1998). Filum ini memiliki tubuh simetri bilateral, diselaputi oleh mantel yang menghasilkan cangkang dan mempunyai kaki ventral , saluran pencernaan lengkap dan di dalam rongga mulut terdapat radula, kecuali pada Pelecypoda. Jantung terdiri dari atas dua serambi dan sebuah bilik. Alat pernafasan pernafasan berupa ktinedia sepasang atau lebih. Bivalvia merupakan moluska bercangkang setangkup, pada umumnya simetri bilateral. Kaki berbentuk seperti kapak, insang tipis dan berlapis-lapis terletak diantara mantel. Kedua cangkangnya dapat dibuka tutup dengan mengendurkan otot aduktor dan reduktornya. Pada bagian dorsal terdapat gigi engsel dan ligament, mulut dilengkapi dengan labial pulp, tanpa rahang dan radula. Anggota kelas ini mempunyai cara hidup yang beragam, ada yang membenamkan diri pada substrat, menempel pada substrat dengan benang byssus atau zat perekat lain, bahkan ada yang berenang aktif. Habitatnya adalah perairan laut, payau, danau, sungai, kolam serta rawa (Alfitriatussulus 2003). Gastropoda daratan kelas Pulmonata mempunyai mantel dan rongga mantel yang telah termodifikasi menjadi paru -paru sebagai alat pernafasan (Sugiri 1989). Alat indra berupa kaki dan tentakel yang peka terhadap perabaan. Mata terletak di uj ung tentakel. Bentuk dan ukuran cangkang pada moluska merupakan karakter yang di pakai dalam identifikasi. Gastropoda merupakan cangkang tunggal, biasanya melingkar karena perputaran, ada beberapa jenis tidak bercangkang, bentuk kepala jelas terdapat mata dan tentakel, kaki lebar dan datar; memiliki radula; bernafas dengan insang dan paru-paru yang telah mengalami modifikasi dari mantel dan rongga mantel; bersifat dioceus (jenis kelamin terpisah antara jantan dan betina), larva trokofor dan viliger. Hidup di laut, air tawar dan darat (Mote 2004).

di laut dangkal, air payau, air tawar dan

11

11 Tujuan Penelitian ini bertujuan mengungkap kekayaan jenis moluska yang terdapat di kawasan danau Maninjau perairan

Tujuan Penelitian ini bertujuan mengungkap kekayaan jenis moluska yang terdapat di kawasan danau Maninjau perairan bagian utara dengan mengkaji kepadatan, keanekaragaman, keseragaman, dominasi dan pola penyebaran jenis serta faktor lingkungan baik biotik maupun abiotik. Sehingga dapat dijadikan dasar pengelolaan perairan selanjunya.

WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan mulai bulan Juli-Agustus 2004 adalah pengambilan contoh moluska di Kawasan Danau Maninjau perairan bagian utara, Sumatera Barat (Lampiran 1).Bulan September-Desember 2004 adalah Identifikasi spesimen dan pengolahan data di Laboratorium Malakologi, Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Cibinong, Jawa Barat serta pengambilan foto spesimen dilakukan di Laboratorium Terpadu Departemen Biologi, IPB. Bulan Januari-Februari 2005 adalah penulisan skripsi.

BAHAN DAN METODE

Pengambilan Contoh Moluska Pengambilan contoh moluska dilakukan pada empat stasiun yang berbeda (dapat dilihat pada Lampiran 2) dibuat garis transek dengan menggunakan tali tambang dari pinggir (batas tepi air danau) menuju tengah danau dengan ukuran 25 m x 20 m. Pada tiap transek dibuat petak kuadrat dengan ukuran 1 m x 1 m, contoh moluska diambil dengan serok, kemudian dipisahkan dari substrat dengan menggunakan saringan bentos.

Pemilahan dan Pengawetan Contoh Moluska Pemilahan dan pengawetan contoh moluska yang didapatkan dari setiap kuadrat dipisahkan berdasarkan perbedaan morfologi dan dihitung jumlah individu dari masing-masing species tersebut. Setelah itu dibersihkan dan dimasukkan ke dalam botol sampel yang berisi air. Selanjutnya sampel dipindahkan ke dalam botol contoh yang berisi alkohol 70 % sebagai pengawet dan diberi label dengan menggunkan kertas kalkir.

Identifikasi Contoh Moluska Identifikasi contoh moluska dengan melihat ukuran, putaran, bentuk, hiasan dan bentuk mulut cangkang (Heryanto et al 2003) dan menggunakan acuan Butot (1955), Jutting (1956), Penak (1989) dan Dharma (2000). (Lampiran 4). Selanjutnya membandingkan dengan koleksi yang ada di Laboratorium Malakologi, Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Cibinong, Jawa Barat. Pengambilan Gambar spesies dilakukan di Laboratorium Terpadu, Departemen Biologi IPB.

Pengukuran faktor fisik lingkungan pada empat stasiun yang berbeda. Untuk mengukur kondisi lingkungan di setiap stasiun dapat digunakan beberapa parameter yang terdapat pada Tabel 1. Tabel 1 Parameter pengukuran faktor fisik lingkungan pada empat stasiun yang berbeda

No

Parameter

Unit

Metode

Alat

1

Kecerahan

cm

Visual

Keping

 

Seng

2

Kedalaman

cm

Visual

Meteran dan

 

Tali

Pemberat

3

Suhu

Visual

Termometer

4

pH

Visual

Universal

 

indikator

5

Tekstur

%

Pengendapan

Robinson

substrat

12

12 Analisis Data Analisis Keanekaragaman Moluska Digunakan Indeks Shannon -Wienner (Krebs 1978) dengan persamaan: s H’

Analisis Data Analisis Keanekaragaman Moluska

Digunakan Indeks Shannon -Wienner (Krebs 1978) dengan persamaan:

s

H’ = -S pi log 2 pi

i=1

Keterangan:

H’

= Indeks Keanekaragaman

Ni

= jumlah individu spesies ke-i

s

= jumlah spesies

N

= jumlah individu total

pi

= ni/N

Indeks Keragaman Species

Dihitung dengan rumus:

E =

H’

H’ maks

Keterangan:

H’

=

H’ maks = log 2 S

S

= Indeks Keanekaragaman

jumlah species

Dominansi Moluska

Dianalisis dengan perhitungan Dominasi Simson (Krebs 1978):

s

C = -S (pi) 2

i =1

Keterangan:

C

=

Indeks dominansi

Ni

= jumlah individu spesies ke-i

pi

= ni/N

N = jumlah total individu contoh ke-i

Perhitungan Kepadatan Moluska Dinyatakan dengan persamaan:

K = N

L

Keterangan:

K

= Kepadatan Spesies moluska (individu/m 2 )

= Jumlah individu suatu spesies

N

L

moluska

= Luas (m 2 )

Frekuensi Kehadiran Moluska FK= Jumlah stasiun tempat ditemukan jenis Jumlah stasiun Dengan kriteria:

FK= 0-0.25 FK= 0,25 -0.50 FK= 0.50 -0.75 FK= 0.75 -1.0

: kehadiran kebetulan : kehadiran aksesori : kehadiran konstan : kehadiran absolut

Pola Penyebaran Species

13

13 Dinyatakan dengan Indeks sebaran Morisita (Krebs 1978) dengan persamaan: i S ni (ni-1) Id =

Dinyatakan dengan Indeks sebaran Morisita (Krebs 1978) dengan persamaan:

i

S ni (ni-1)

Id = q

i=1

N (N-1)

Keterangan:

 

Id

=

Indeks sebaran Morisita

ni

=

jumlah individu pada kuadran pengambilan

q

=

jumlah kuadran pengambilan contoh ke-i

N

=

jumlah total individu

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Identifikasi Berdasarkan hasil identifkasi, didapatkan 6 famili terdiri dari 10 species yakni tiga spesies dari kelas bivalvia yakni Corbicula moltkiana, Corbicula javanica yang termasuk famili Corbiculidae dan Pseudodon vondembuschianus dari famili Unionidae sedangkan 7 tujuh spesies lainnya termasuk ke dalam kelas gastropoda, yakni Melanoides granifera, Melanoides tuberculata, Thiara scabra termasuk famili Thiaridae Brotia costula varicose dan Brotia testudinaria dari famili Pachychilidae. Bellamya javanica dari famili Viviparidae, dan Pomacea canaliculata dari famili Ampullariidae.

1. Corbicula moltkiana (Prime 1878)

Filum

: Moluska

Kelas

: Bivalvia

Ordo

: Eullamellibranchia

Famili

: Corbiculidae

Genus

: Corbicula

Spes ies

:

moltkiana

- 21.2 mm, tebal

berkisar 5.6 - 15.2 mm;

kasar; Warna hijau kekuningan sampai kehitaman, pada bagian hulunya mem udar menjadi putih. Umbo tidak terlalu menonjol (Djajasasmita 1999). (Gambar 1) Habitat terdapat di perairan tergenang atau berarus lambat, dengan dasar lumpur berpasir sampai pada kedalaman 750 m dpl. Jenis ini terdapat di stasiun I, II, III dan IV dengan habitat lumpur berpasir. Persebaran terdapat di Semenanjung Malaysia dan Sumatera. Potensi dari spesies ini digunakan sebagai makanan sebagai pemenuh protein hewani. (Djajasasmita 1999).

Umumnya berbentuk segitiga lonjong; Berlunas -lunas konsentrik agak

Cangkang spesies ini, panjang berkisar 9.1-26.7 mm, lebar berkisar 7.4

2. Corbicula javanica (Mousson 1849)

Filum

: Moluska

Kelas

: Bivalvia

Ordo

: Eullamellibranchia

Famili

: Corbiculidae

Genus

: Corbicula

Spes ies

: javanica

Cangkang spesies ini, panjang berkisar 11.1 – 19.8 mm, lebar berkisar 6.8 – 15.4 mm, tebal

berkisar

memanjang dan agak mengecil, sisi bawah membundar; Warna kuning – kehijauan sampai kecoklatan di bagian umbo, warnanya memudar menjadi putih atau keputihan, ke arah bagian bawah warna lebih muda dan mengilap, seluruh permukaan cangkang berlunas -lunas konsentrik

6.8 – 10.9 mm; bundar lonjong sampai segitiga lonjong, cembung, bagian belakang

14

14 kasar; Umbo gembung. Permukaan dalam cangkang putih, dengan warna kemerahan atau ungu di bawah hulu

kasar; Umbo gembung. Permukaan dalam cangkang putih, dengan warna kemerahan atau ungu di bawah hulu cangkang. Bidang engsel dan gigi engsel ungu (Djajasasmita 1999). (Gambar 2)

sampai kedalaman lebih dari

1000 dpl. Tersebar di Malaysia, Indonesia (Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Maluku)

dan Luzon di Philipina. (Djajasasmita 1999). Jenis ini terdapat di stasiun II. III dan IV, dengan habitat lumpur berpasir. Kerang ini biasa dimakan dan dapat dijadikan sebagai obat hepatitis dan sebagai inang antar

cacing

(Djajasasmita 1999 ).

Hidup di perairan berarus lambat dengan dasar lumpur berpasir

trematoda

parasit

Echinostoma

sp.

Penyebab

penyakit

radang

usus

pada

manusia.

3. Pseudodon vondembuschianus (Lea 1840)

Filum

: Moluska

Kelas

: Bivalvia

Ordo

: Eullamellibranchia

Famili

: Unionidae

Genus

: Pseudodon

Spesies : vondembuschianus Cangkang spesies ini, panjang berkisar 27.7 – 91.8 mm, lebar berkisar 18.5 – 55.4 mm, tebal berkisar 8.3 – 33.1 mm; oval lebar, agak embung; warna coklat kehijauan gelap hingga kehitaman; umbo sedikit cembung, bagian belakang umbo lebih tinggi daripada di depannya; cangkang muda lebih tipis dan transparan dengan warna kuning, bagian posteriornya berwarna kehijauan diikuti garis radial warna hijau yang kurang jelas, sedangkan cangkang tua tidak transparan dan berwarna lebih gelap, lebih tebal dan lebih berat (Jutting 1956). (Gambar 3). Hidup di perairan tawar, daerah sungai dan danau. Tersebar di Malaya, Sumatera, Jawa dan Kalimantan. (Jutting 1956) Jenis ini terdapat di stasiun I, II, III dan IV, dengan habitat lumpur berpasir. Menurut Djajasasmita 1985, menyukai perairan tenang atau berarus lambat dengan dasar lumpur berpasir. Kerang ini dapat dimakan.

4. Melanoides granifera (Lamarck 1822)

Filum

: Moluska

Kelas

: Gastropoda

Ordo

: Mesogastropoda

Famili

: Thiaridae

Genus

: Melanoides

Spesies

: granifera

Cangkang spesies ini, panjang berkisar 9.1 – 22.8 mm, lebar berkisar 4.1 – 9.8 mm, panjang

berkisar

6.4 – 14.7 mm; warna coklat kekuningan

coklat atau coklat kemerahan, terdapat bintil-bintil pada seluruh permukaan cangkang; jumlah seluk 12 – 15,aga k cembung, seluk akhir besar; mulut bundar telur,bagian tepi tipis, operculum bundar telur,coklat kehitaman dengan inti di sudut kiri bawah. (Djajasasmita 1999). (Gambar 4) Hidup di perairan tergenang atau mengalir, terutama daerah berdasar lumpur. Terseb ar di India, Sri Lanka, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Indonesia, Malaysia, Philipina, Taiwan dan beberapa pulau di Pasifik. (Djajasasmita 1999). Jenis ini terdapat di stasiun I, II, III dan IV dengan menempel di batu-batuan dan di lumpur berpasir. Sp esies ini dapat berperan sebagai inang antara cacing trematoda parasit Paragonimus westermani, penyebab penyakit radang paru- paru. (Djajasasmita 1999).

atau coklat kemerahan, sering dihiasi oleh bintk – bintik

aperture berkisar 3.6 – 9.1 mm, lebar aperture berkisar 2.6 – 6.1 mm, panjang seluk akhir

5. Melanoides tuberculata (Müller 1774)

Filum

: Moluska

Kelas

: Gastropoda

Ordo

: Mesogastropoda

Famili

: Thiaridae

Genus

: Melanoides

Spesies

: tuberculata

15

15 Cangkang spesies ini, panjang berkisar 8.1 – 28.9 mm, lebar berkisar 2.7 – 8.9 mm,

Cangkang spesies ini, panjang berkisar 8.1 – 28.9 mm, lebar berkisar 2.7 – 8.9 mm, panjang aperture berkisar 2.1 – 7.9 mm, lebar aperture berkisar 1.4 – 6. 9 mm, panjang seluk akhir berkisar 3.6 – 13. 6 mm; panjang, langsing, dan runcing; warna coklat kekuningan atau kehijauan; dihiasi bintik- bintik coklat tua atau coklat kemerahan, permukaan umumnya beralur – alur lingkar, jumlah seluk akhir 10 -15, seluk akhir agak besar, seluk bagian puncak berusuk – rusuk tegak; Mulut bundar telur, coklat kehitaman, hampir vertical, tepinya tipis; Operkulum bundar telur, tipis, liat, coklat kehitaman. (Djajasasmita 1999). (Gambar 5) Hidup di perairan tergenang dan mengalir dan terdapat pada dasar yang berlumpur dan sampai kedalaman 1400 m dpl. Tersebar di Eropa Selatan, Afrika. Asia, Australia, Myanmar dan Pasifik Barat. (Djajasasmita 1999). Jenis ini terdapat di stasiun I, II, III dan IV dengan menempel di batu-batuan dan di lumpur berpasir. Potensi spesies ini sama dengan M. granifera.

6. Brotia costula varicosa (Troschel 1837)

Filum

: Moluska

Kelas

: Gastropoda

Ordo

: Mesogastropoda

Famili

: Pachychilidae

Genus

: Brotia

Spesies

:

costula varicosa

Cangkang spesies ini, panjang berkisar 18.5

– 40.2 mm , lebar berkisar 8.4 – 17.2 mm,

panjang aperture berkisar 6.8 – 13.4 mm, lebar aperture berkisar 4.7 – 10.9 mm, panjang seluk akhir 11.7 – 24.4 mm; tebal, panjang meruncing ke arah puncak; Warna hijau kecoklatan, kekuningan atau coklat kekuningan; berusuk – rusuk tegak, bertonjolan tumpu atau tajam, rusuk –

rusuk nyata atau tidak kelihatan sama sekali; jumlah seluk 12 – 14, seluk akhir besar, tepinya menyiku atau agak membulat, puncak umunya romping; mulut bundar telur lebar, tepi atau bibirnya tajam; operculum bundar tipis liat, coklat kehitaman, multispiral dengan intinya di tengah. (Gambar 6)

Hidup di perairan tenang atau agak berarus deras

dan terdapat di dasar yang berlumpur.

Tersebar di daerah Asia. Jenis ini terdapat di stasiun I, II, III dan IV dengan menempel di batu-batuan dan di lumpur berpasir. Potensi spesies ini sama dengan M. granifera dan biasa di makan.

7. Brotia testudinaria (v.d. Busch 1842)

Filum

: Moluska

Kelas

: Gastropoda

Ordo

: Mesogastropoda

Famili

: Pachychilidae

Genus

: Brotia

Spesies

: testudinaria

Cangkang spesies ini, panjang berkisar 15.3 – 37.9 mm, lebar berkisar 6.2 – 14.6 mm, panjang aperture berkisar 5.3 – 11.9 mm, lebar aperture berkisar 3.5 – 7.8 mm. panjang seluk akhir 9.5 – 21.9 mm; panjang agak ramping licin; coklat kehijauan, bercorak- corak tegak coklat atau coklat tua, terdapat sabuk coklat; jumlah seluk 10 – 12, tidak cembung, seluk akhir menyiku tumpul, pada cangkang muda seluk menyiku tajam, puncak kadang romping; mulut bundar telur, tepinya tipis, tajam tidak bersambungan, bagian bawahnya agak melebar; operculum bundar, tipis dan liat, warna coklat kehitaman, multispiral dengan intinya di tengah (Djajasasmita 1999). (Gambar 7). Hidup di berbagai perairan, baik yang tenang maupun yang berarus lambat atau deras, terutama terdapat pada dasar yang berlumpur. Tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. (Djajasasmita 1999). Jenis ini terdapat di stasiun IV dengan menempel di batu-batuan dan di lumpur berpasir. Belum diketahui potensi dari spesies ini.

8. Thiara scabra ( Müller 1774)

Filum

: Moluska

Kelas

: Gastropoda

16

16 Ordo : Mesogastropoda Famili : Thiaridae Genus : Thiara Spesies : scabra lebar berkisar 4.2

Ordo

: Mesogastropoda

Famili

: Thiaridae

Genus

: Thiara

Spesies

: scabra

lebar berkisar 4.2 – 5.8 mm, panjang

aperture berkisar 3.1 – 5.2 mm, lebar aperture berkisar 2.3 – 3.7 mm, panjang seluk akhir 5.1 – 8.1 mm; panjang agak gemuk pendek sampai gak lansing dengan sulur meruncing dan berjenjang atau

berundak; warna coklat kekuningan atau krem kecoklatan berbinti – bintik coklat; Permukaan bertonjolan tumpul atau runcing seperti berduri terutama pada seluk akhir, jumlah seluk 8 – 12, seluk akhir agak besar, mulut agak besar atau lebar; operculum bundar telur tipis dan liat, coklat kehitaman. (Djajasasmita 1999). (Gambar 8). Hidup di perairan tawar tergenang atau mengalir, terdapat pada dasar lumpur atau berpasir sampai kedalaman 1400 dpl, kadang – kadang terdapat di perairan payau. Tersebar di Mauritus, Seychelless, Indian, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Malaysia, Philipina, Cina b agian selatan dan berbagai pulau di Pasifik (Djajasasmita 1999). Jenis ini terdapat di stasiun I, II, III dan IV dengan menempel di batu-batuan dan di lumpur berpasir. Potensi dari spesies ini adalah inang antara cacing Fasciola hepatica.

Cangkang spesies ini, panjang berkisar 8.2 – 11.2 mm,

9. Bellamya javanica (v.d. Busch 1844)

Filum

: Moluska

Kelas

: Gastropoda

Ordo

: Mesogastropoda

Famili

: Viviparidae

Genus

: Bellamya

Spesies

:

Bellamya javanica

Cangkang spesies ini, panjang berkisar 21.1 – 23.6 mm, lebar berkisar 14.1 – 17.1 mm.

panjang aperture

berkisar 16.9 – 18.6 mm; kerucut membulat, agak tipis, hijau kecoklatan atau kuning kehijauan, terkadang terdapat coklat kemerahan, dihiasi 3 – 5 garis lingkar coklat kehitaman; begaris – garis tumbuh halus; puncak agak runcing tetapi romping; jumlah seluk 6 – 7, agak cembung, seluk akhir besar; mulut membundar, tepinya bersambung, tidak melebar, umumnya hitam; operculum agak

bundar telur, tipis, agak cekung, coklat kehitaman, bergaris – garis konsentrik dengan intinya agak

berkisar 11.2 – 11.9 mm, lebar aperture 9.2 – 10.2 mm, panjang seluk akhir

di

tepi. (Djajasasmita 1999). (Gambar 9). Hidup di danau, kolam, sungai dan saluran irigasi, menempel pada batu – batuan atau terdapat

di

dasar lumpur. Tersebar di Thailand, Kamboja, Malaysia, Indonesia dan Philipina. (Djajasasmita

1999).

Jenis ini terdapat di stasiun II dengan menempel di batu-batuan dan di lumpur berpasir. Spesies ini dapat dimakan dan sebagai inang perantara cacing parasit trematoda Echinostoma

sp,

menyebakan penyakit radang usus. (Djajasasmita 1999).

10.

Pomacea canaliculata ( Lamarck 1801)

Filum

: Moluska

Kelas

: Gastropoda

Ordo

: Mesogastropoda

Famili

: Ampullariidae

Genus

: Pomacea

Spesies

: canaliculata

Cangkang spesies ini, panjang berkisar 36.6

– 42.9 mm, lebar berkisar 32.2 – 40.7 mm,

panjang aperture berkisar 27.9 – 33.8 mm, lebar aperture berkisar 21.2 – 26.3 mm, panjang seluk akhir 31.1 – 41.8 mm; gembung; sulur agak tinggi, runcing dan sedikit berjenjang; warna kuning, kuning kehijauan atau kecoklatan dengan hiasan sabuk-sabuk lingkar coklat; jumlah seluk 5 – 6, seluk akhir besar dan gembung, 2/3 tinggi cangkang; mulut lebar, tepinya tipis dan agak menebal

di sebelah dalamnya; operkulum tipis dan lunak, coklat atau coklat kehiijauan. (Djajasasmita

1999). (Gambar 10). Hidup di berbagai perairan tawar yang tergenang atau berarus lambat hingga 1000 m dpl. Tersebar di Amerika Latin, Jepang, Cina Selatan, Taiwan, Philipina, Malaysia dan Indonesia. (Djajasasmita 1999).

17

17 Jenis ini terdapat di stasiun I, II, III dan IV dengan menempel di batu-batuan dan

Jenis ini terdapat di stasiun I, II, III dan IV dengan menempel di batu-batuan dan di lumpur berpasir. Spesies ini dapat diolah menjadi kecap, dendeng dan sebagai lauk, mempunyai kandungan protein cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku ternak.

Untuk pakan ternak seluruh bagian tubuh P.canaliculata dapat dimanfaatkan. Saat ini P.canaliculata sudah mulai di ekspor. Spesies ini mempunyai perkembangan yang cepat dengan daur hidup singkat, mortalitas rendah dan resisten terhadap pestisida dan penyakit. P.canaliculata mudah dibudidayakan karena persyaratan hidupnya relatif mudah dan pemakan segala, misalnya berbagai jenis tumbuhan air dan organisme yang sudah mati. P.canaliculata menyukai daerah berair menggenang di perairan dangkal maupun di air yang mengalir pelan dan bersih serta pergantian air yang terus-menerus. Spesies ini hidup diperairan yang memiliki pH 5-8 dan suhu rata-rata 23-33 ?C. (Setyadi GW et al, 2002).

karena merupakan hama padi muda yang dapat

menimbulakan kerugian yang cukup besar. (Djajasasmita 1999). Sejak tahun 1980 an sebagian besar negara Asia Tenggara, spesies ini menjadi hama utama pada tanaman padi (Martin & Estebenet 2002).

Namun

spesies

ini

dapat

merugikan

& Estebenet 2002). Namun spesies ini dapat merugikan Gambar 1 Corbicula moltkiana (Prime 1878). Gambar 2

Gambar 1 Corbicula moltkiana (Prime 1878).

dapat merugikan Gambar 1 Corbicula moltkiana (Prime 1878). Gambar 2 Corbicula javanica (Mousson 1849). Gambar 3

Gambar 2 Corbicula javanica (Mousson 1849).

moltkiana (Prime 1878). Gambar 2 Corbicula javanica (Mousson 1849). Gambar 3 Pseudodon vondembuschianus (Lea 1840).

Gambar 3 Pseudodon vondembuschianus (Lea 1840).

18

18 Gambar 4 Melanoides granifera (Lamarck 1822). Gambar 5 Melanoides tuberculata (M ü ller 1774). Gambar
18 Gambar 4 Melanoides granifera (Lamarck 1822). Gambar 5 Melanoides tuberculata (M ü ller 1774). Gambar

Gambar 4 Melanoides granifera (Lamarck 1822).

18 Gambar 4 Melanoides granifera (Lamarck 1822). Gambar 5 Melanoides tuberculata (M ü ller 1774). Gambar

Gambar 5 Melanoides tuberculata (Müller 1774).

1822). Gambar 5 Melanoides tuberculata (M ü ller 1774). Gambar 6 Brotia costula varicosa (Troschel 1837).

Gambar 6 Brotia costula varicosa (Troschel 1837).

(M ü ller 1774). Gambar 6 Brotia costula varicosa (Troschel 1837). Gambar 7 Brotia testudinaria (v.d.

Gambar 7 Brotia testudinaria (v.d. Busch 1842).

19

19 Gambar 8 Thiara scabra (M ü ller 1774). Gambar 9 Bellamya javanica (v.d.Busch 1844). Gambar
19 Gambar 8 Thiara scabra (M ü ller 1774). Gambar 9 Bellamya javanica (v.d.Busch 1844). Gambar

Gambar 8 Thiara scabra (Müller 1774).

19 Gambar 8 Thiara scabra (M ü ller 1774). Gambar 9 Bellamya javanica (v.d.Busch 1844). Gambar

Gambar 9 Bellamya javanica(v.d.Busch

1844).

ü ller 1774). Gambar 9 Bellamya javanica (v.d.Busch 1844). Gambar 10 Pomacea canaliculata (Lamarck 1801). Kepadatan

Gambar 10 Pomacea canaliculata (Lamarck 1801).

Kepadatan Populasi Kepadatan tertinggi adalah dari famili

Tabel 2. Kepadatan jenis moluska tertinggi terdapat di stasiun IV (Lampiran 2) diperkirakan banyaknya masukan bahan organik dari sungai, sawah dan sisa pelet yang tidak termakan oleh ikan yang masuk ke danau. Hasil eksresi ikan dapat meningkatkan kandungan zat hara berupa nitrat dan fosfat, merupakan dua unsur hara yang dibutuhkan oleh fitoplankton dan merupakan faktor pembatas untuk pertumbuhan fitoplankton. Bahan organik tersebut digunakan sebagai sumber makanan bagi moluska pemakan detritus dan substrat, yang sesuai bagi sebagian besar moluska yang tergolong famili Corbiculidae dan Thiaridae.

Corbiculidae dan Thiaridae yang dapat dilihat pada

Tabel 2 Kepadatan r ata-rata (ind/m2) jenis moluska di masing - masing stasiun

Kelas

Jenis

Stasiun

20

20   I II III IV Bivalvia Corbicula moltkiana Corbicula javanica Pseudodon vondembuschianus
 

I

II

III

IV

Bivalvia

Corbicula moltkiana Corbicula javanica Pseudodon vondembuschianus Melanoides granifera Melanoides tuberculata Thiara scabra Brotia costula varicosa Brotia testudinaria Bellamya javanica Pomacea canaliculata

94.00

468.47

275.8

338.47

-

39.53

38.93

161.27

0.67

0.60

0.33

1.33

Gastropoda

105.00

96.07

114.87

170.40

50.73

136.73

115,87

328.20

0.60

0.13

0.93

1.07

5.27

13.73

7.40

2.60

-

-

-

1.87

-

0.33

-

-

0.33

0.13

0.07

0.20

Jumlah

256.60

755.72

554.20

1005.41

Corbicula moltkiana terdapat di seluruh stasiun, karena spesies ini merupakan spesies endemik danau Maninjau. Sedangkan Corbicula javanica dan Bellamya javanica diperkirakan spesies pendatang dari perairan lain dan mempunyai kemampuan yang tinggi dalam penyebarannya. Untuk Pseudodon vondembuschianus kepadatannya selama penelitian rendah karena spesies membutuhkan inang perantara dalam hidupnya, yaitu ikan. Sedangkan dalam penelitian ini pengambilan sampel moluska hanya pada kedalaman 0-5 m, diperkirakan jumlah inang menurun untuk P. vondembuschianus. Sedangkan Brotia costula varicosa dan Brotia

testudinaria kepadatannya sangat kecil karena habitat spesies ini adalah di daerah sungai (Kohler & Glaubrecht 2002). Thiara scabra jarang ditemukan selama penelitian karena kebanyakan dari spesies ini hidup di daerah sungai, sama halnya dengan Brotia costula varicosa dan Brotia testudinaria. Kepadatan Pomacea canaliculata selama penelitian kecil berkaitan dengan makanan utamanya tumbuhan air atau vegetarian. Pada stasiun yang diteliti sedikit ditemukan tumbuhan air. P. canaliculata di danau Maninjau banyak digunakan sebagai bahan pakan ternak bagi masyarakat, diperkirakan hal ini penyebab kepadatannya sedikit. Kehadiran suatu spesies moluska dapat mempengeruhi spesies moluska lainnya seperti Biomphalaria glabrata dan M. tuberculata. B. glabrata merupakan inang antara cacing parasit Schistosoma mansoni hidup berkompetisi dengan M. tuberculata. M. tuberculata dapat dijadikan sebagai kontrol biologis karena dapat menghambat pertumbuhan B. glabrata (Hamidah 2000) . Kepadatan jenis moluska terendah terdapat pada stasiun I (Lampiran 2). Hal ini terjadi diperkirakan karena di lokasi ini bahan organik yang diperlukan untuk pertumbuhan moluska berkurang.

Pada penelitian ini pengaruh habitat

di stasiun berpengaruh terhadap kepadatan moluska,

pada stasiun III dan IV kondisi lingkungannnya mendukung untuk kehidupan moluska, dapat dilihat pada tabel kepadatan (Tabel 2) terutama untuk famili Corbiculidae dan Thiaridae, jumlah kepadatan 2 famili ini lebih tinggi dibandingkan dengan 4 famili lainnya. Kondisi ini didukung

dan vegetasi (Lampiran 5) yang terdapat di masing-masing stasiun tersebut.

oleh jenis substrat

Sedangkan untuk stasiun I dan II kondisi lingkungannya kurang mendukung untuk kehidupan moluska.

moluska tersebut, dapat diduga penyebaran gastropoda lebih luas dan

kemampuan adaptasinya lebih tinggi terhadap habitatnya baik di air tawar, laut maupun di substrat keras atau lunak.

Dilihat dari kepadatan

Keanekaragaman, Keseragaman dan Dominansi Moluska Untuk melihat keragaman, keseragaman dan dominansi moluska maka digunakan beberapa perhitungan dengan menggunakan rumus analisis keanekaragaman menggunakan Indeks Shannnon -Wiener (Krebs, 1978), Indeks Keragaman spesies dan dominansi moluska dengan menggunakan perhitungan Dominansi Simson (Krebs, 1978). Hasil dari analisa tersebut dapat dilihat di Tabel 2. Indek keseragaman menggambarkan keanekaragaman jenis-jenis moluska disuatu kawasan. Nilai indeks keanekaragaman tergantung dari variasi jumlah spesies dan jumlah individu tiap spesies yang didapatkan. Semakin kecil jumlah spesies dan variasi jumlah individu tiap spesies maka keanekargaman suatu ekosistem semakin kecil. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya

21

21 ketidakseimbangan ekosistem yang disebabkan gangguan atau tekanan dari lingkungan, berarti hanya jenis tertentu yang

ketidakseimbangan ekosistem yang disebabkan gangguan atau tekanan dari lingkungan, berarti hanya jenis tertentu yang dapat bertahan hidup (Alfitriatussulus, 2003). Sifat kimia dan fisik suatu perairan dapat menentukan jenis -jenis moluska yang mampu bertahan hidup . Salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada moluska air adalah kadar Ca

dalam air yang menentukan sifat kekerasan perairan. (Djajasasmita, 1985). Berdasarkan Tabel 3, tingginya nilai Indeks keanekaragaman, keseragaman di stasiun II dan IV disebabkan pada stasiun ini dihuni oleh 9 spesies dibandingkan dengan dua stasiun lainnya. Diperkirakan karena stasiun II dan IV merupakan daerah yang mempunyai banyak kandungan organik digunakan moluska untuk bertahan hidup Tingginya nilai indeks dominansi pada stasiun yang sama karena terdapat beberapa spesies yang mendominan jumlah setiap individunya. Sedangkan nilai terendah terdapat di stasiun III (Lampiran 2).

Tabel 3 Nilai indeks keanekaragaman

(H’),

keseragaman (E) dan dominansi (C)

moluska di masing-masing stasiun

Parameter

Stasiun

 

I

II

III

IV

I. Keanekaragaman

2.13

2.73

2.41

3.01

I. Keseragaman

1.01

1.01

0.99

1.12

I. Dominansi

7.05

9.07

7.99

9.98

Keanekaragaman ukuran cangkang kelas bivalvia

Pada pengukuran cangkang bivalvia didapatkan rata-rata panjang cangkang (PC) 15.7 mm, lebar cangkang (LC) 13.3 mm, tebal cangkang (TC) 9.16 mm untuk Corbicula moltkiana (CM), sedangkan untuk Corbicula javanica (CJ) rata-rata panjang cangkang (PC) 15.02 mm, lebar cangkang (LC) 12.3 mm, tebal cangkang (TC) 8.75 mm dan Pseudodon vondembuschianus (PV)

rata-rata panjang cangkang (PC) 75 mm, lebar cangkang (LC) 49.2 mm, tebal cangkang (TC) 28.7

mm (Gambar 11). (Lampiran 6)

Mean

80 60 40 20 0 CM CJ PV Species PC LC TC ukuran(mm)
80
60
40
20
0
CM
CJ
PV
Species
PC
LC
TC
ukuran(mm)

Gambar 11 Ukuran rata-rata cangkang bivalvia

Pada pengukuran cangkang bivalvia didapatkan Corbicula moltkiana (CM) panjang

cangkangnya (PC) memiliki keragaman lebih tinggi dibandingkan dengan lebar cangkang (LC)

dan tebal cangkang (TC), dan untuk Corbicula javanica (CJ) serta Pseudodon vondembuschianus

(PV) menunjukkan hal yang sama dengan C. moltkiana (Gambar 12).(Lampiran 6).

Standar Deviasi

20 15 10 5 0 CM CJ PV Species PC LC TC Ukuran (mm)
20
15
10
5
0
CM
CJ
PV
Species
PC
LC
TC
Ukuran (mm)

Gambar 12 Nilai standar deviasi ukuran cangkang bivalvia Keterangan gambar:

CM

= Corbicula moltkiana

CJ

= Corbicula javanica

PV

= Pseudodon vondembuschianus

PC

= Panjang cangkang

LC

= Lebar cangkang

TC

= Tebal cangkang

22

22 Ukuran cangkang untuk Corbicula moltkiana dan Corbicula javanica yang didapatkan selama penelitian pada tingkat

Ukuran cangkang untuk Corbicula moltkiana dan Corbicula javanica yang didapatkan selama

penelitian

pada

tingkat dewasa dijadikan sebagai makanan untuk sumber protein hewani. Menurut Djajasasmita 1999 ukuran cangkang dewasa adalah 28 mm. Pseudodon vondembuschianus yang didapatkan selama penelitian adalah pada tingkat dewasa, dengan ukuran pajang cangkang rata-rata 75 mm. Halm ini berhubungan dengan kondisi stasiun diperkirakan sedikitnya ditemukan inang untk spesies ini hidup.

mm dan 15.02 mm, dibandingkan tingkat dewasa. Di danau Maninjau dua spesies di atas

panjang cangkang rata-rata 15.7

sebagian besar adalah tingkat anakan dengan ukuran

Keanekaragaman ukuran cangkang kelas gastropoda Pada pengukuran cangkang gastropoda didapatkan rata-rata panjang cangkang (PC) 15.78

mm, lebar cangkang (LC) 7.29 mm, panjang aperture (PA) 6.51 mm, lebar aperture (LA) 4.32 mm, panjang seluk akhir (PS) 11.05 mm untuk Melanoides granifera (MG) sedangkan untuk Melanoides tuberculata (MT) rata-rata panjang cangkang (PC) 12.42 mm, lebar cangkang (LC)

4.76 mm, panjang aperture (PA) 3.94 mm, lebar aperture (LA) 2.73 mm, panjang seluk akhir (PS)

7.1 mm, Brotia costula varicosa (B CV) rata-rata panjang cangkang (PC) 34.96 mm, lebar cangkang (LC) 14.50 mm, panjang aperture (PA) 11.9 mm, lebar aperture (LA) 8.43 mm, panjang

seluk akhir (PS) 20.8 mm, Brotia testudinaria (BT) rata-rata panjang cangkang (PC) 37.6 mm,

lebar cangkang

(LC) 16.1 mm, panjang aperture (PA) 12.2 mm, lebar aperture (LA) 9.33 mm,

panjang seluk akhir (PS) 22.2 mm, Pomacea canaliculata (PC) rata-rata panjang cangkang (PC)

48.1

mm, lebar cangkang (LC) 40.7 mm, panjang aperture (PA) 31 mm, lebar aperture (LA) 25

mm,

panjang seluk akhir (PS) 42.1 mm, Thiara scabra (TS) rata-rata panjang cangkang (PC) 9.85

mm, lebar cangkang (LC) 5.03 mm, panjang aperture (PA) 4.05 mm, lebar aperture (LA) 2.98

mm, panjang seluk akhir (PS) 6.29 mm dan Bellamya javanica (BJ) rata-rata panjang cangkang

(PC) 22.4 mm, lebar cangkang (LC) 15.9 mm, panjang aperture (PA) 11.5 mm, lebar aperture (LA) 9.7 mm, panjang seluk akhir (PS) 17.7 mm 29.75 mm, lebar aperture (LA) 23.73 mm,

panjang seluk akhir (PS) 35.9 mm.(Gambar 13). (Lampiran 7) Dari hasil penelitian didapatkan ukuran cangkang

60 Mean 40 20 0 MG MT BT BS TS PC BJ Ukuran (mm)
60
Mean
40
20
0
MG
MT
BT
BS
TS
PC
BJ
Ukuran
(mm)
Spesies PC LC PA LA PS
Spesies
PC
LC
PA
LA
PS

Gambar 13 Ukuran rata-rata cangkang gastropoda

Pada pengukuran cangkang gastropoda didapatkan bahwa Melanoides granifera (MG), Melanoides tuberculata (MT), Brotia costula varicosa (BCV), Brotia testudinaria (BT) Thiara scabra (TS), Pomacea canaliculata (PC) panjang cangkangnya (PC) memiliki keragaman lebih tinggi dibandingkan dengan lebar cangkang (LC), panjang aperture (PA), lebar aperture (LA) dan panjang seluk akhir (PS). Sedangkan untuk Bellamya javanica (BJ) lebar cangkangnya (LC) lebih beragam dibandingkan dengan panjang cangkangnya (PC), panjang aperture (PA), lebar aperture

23

23 (LA) dan panjang seluk Standar Deviasi akhir (PS). 10 5 0 MG MT BT BS

(LA)

dan

panjang

seluk

Standar Deviasi

akhir

(PS).

10 5 0 MG MT BT BS TS PC BJ Ukuran (mm)
10
5
0
MG
MT
BT
BS
TS
PC
BJ
Ukuran (mm)

(Gambar 14).(Lampiran7)

Gambar 14 Nilai standar deviasi ukuran cangkang gastropoda Keterangan gambar:

MG

= Melanoides granifera

MT

= Melanoides tuberculata

BS

= Brotia costula varicosa

BT

= Brotia testudinaria

PC

= Pomacea canaliculata

TS

= Thiara scabra

BJ

= Bellamya javanica

PC

= panjang cangkang

LC

= lebar cangkang

PA

= panjang aperture

LA

= lebar aperture

PS

= panjang seluk akhir

Species PA LA
Species
PA
LA

PC

PC LC PS

LC

PC LC PS

PS

Ukuran cangkang untuk

Melanoides granifera, Melanoides tuberculata

dan Thiara scabra

yang

didapatkan

selama

penelitian

sebagian

besar

adalah

tingkat

anakan

dengan

panjang

cangkang

rata-rata

15.78

mm,

12.42

dan

9.85

mm

dibandingkan

tingkat

dewasa.

Menurut

Djajasasmita 1999 ukur an panjang cangkang tiga spesies di atas adalah 20 mm, 30-35 mm dan 25- 30 mm. Sedangkan untuk Brotia costula varicosa dan Brotia testudinariayang didapatkan selama penelitian adalah tingkat dewasa dan jarang ditemukan tingkat anakan, hal ini didukung bahwa spesies ini sebagian besar hidup di sungai. Bellamya javanica yang didapatkan selama penelitian pada tingkat anakan sedangkan tingkat dewasa tidak ditemukan, diperkirakan spesies ini adalah spesies pendatang dan jarang ditemukan pada saat penelitian. Pomacea canaliculata yang ditemukan selama penelitian adalah tingkat dewasa dan jarang ditemukan tingkat anakan. Diperkirakan pada tingkat anakan spesies ini hidup menempel pada tanaman air, selama penelitian jarang ditemukan tanaman air di sekitar stasiun pengambilan spesimen. Menurut Horison 2000, pertambambahan panjang cangkang keong mas (Pomacea canaliculata) rata-rata kurang lebih 5 mm per dua minggu.

Indeks penyebaran (Indeks Morisita) dan pola penyebaran moluska.

Pola penyebaran dari spesies moluska selama pengamatan dapat dianalisis dengan menggunakan Indeks Penyebaran ialah Indeks Sebaran Morisita (Krebs, 1978). Pola penyebaran spesies moluska dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Indeks penyebaran dan pola p enyebaran moluska

No

Jenis

Indeks

Pola

 

morisita

penyebaran

1

Corbicula

1.647

mengelompok

moltkiana

2

Corbicula javanica

1.115

mengelompok

3

Pseudodon

1.313

mengelompok

vondembuschianus

4

Melanoides

2.123

mengelompok

granifera

5

Melanoides

3.821

mengelompok

tuberculata

6

Thiara scabra

0.003

acak

7

Brotia costula

0.007

acak

24

24 varicosa 8 Brotia testudinaria 3x10 - 5 acak 9 Bellamya javanica 8.06x10 - 7 acak

varicosa

8 Brotia testudinaria

3x10 -5

acak

9 Bellamya javanica

8.06x10 -7

acak

10 Pomacea

4.4x10 -6

acak

canaliculata

Pola penyebaran biota dipengaruhi oleh tipe habitat yang meliputi parameter fisik kimia perairan serta makanan dan kemampuan adaptasi dari suatu biota dalam sebuah ekositem. Berdasarkan hasil analisa pola penyebaran jenis individu moluska menurut Indeks Morisita

antara

lain kondisi lingkungan, tipe substrat, kebiasaan makan dan cara bereproduksi (Alfitriatussulus

2003).

spesies yang hidup di daerah sungai. Sedangkan untuk Bellamya javanica merupakan spesies imigrasi. Untuk Pomacea canaliculata selama penelitian jarang ditemukan. Pola penyebaran mengelompok dan acak ini dapat disesuaikan dengan frekuensi kehadiran setiap spesies di masing- masing stasiun (Tabel 5). Frekuensi kehadiran tersebut berhubungan dengan kehadiran moluska di suatu stasiun, Frekuensi kehadiran 0.25-0.50 menunjukkan kehadiran moluska sebagai aksesori (jarang ditemukan) yakni Brotia testdinaria dan Bellamya javanica. Sedangkan kehadiran 0.50- 0.75 menunjukkan kehadiran moluska sebagai kehadiran konstan, yakni Corbicula javanica. Untuk frekuensi kehadiran 0.75-1.00 menunjukkan kehadiran absolut, yakni Corbicula moltkiana, Pseudodon vondembuschianus, Melanoides granifera, Melanoides tuberculata, Thiara scabra, Brotia costula varicosa dan Pomacea canaliculata Cara hidup biota yang berkelompok menunjukkan kecenderungan yang kuat untuk berkompetisi dengan biota yang lain terutama dalam hal makan. Kebiasaan makan dan sumber

Untuk Brotia costula varicosa dan Brotia testudinaria serta Thiara scabra merupakan

bersifat mengelompok dan acak. Sifat berkelompok ini disebabkan oleh beberapa faktor

makanan bagi moluska berbeda-beda untuk setiap jenis dan dipengaruhi oleh pola adaptasi terhadap lingkungannnya. Menurut Barnes, 1987 dalam Hamidah 2000), sumber makanan bagi hewan yang hidup di dasar perairan (bentos) terdiri dari detritus dan plankton dari massa air serta detritus dan mikroorganisme yang melekat di dasar. Berdasarkan kebiasaan makannya, moluska dibedakan menjadi herbivora, karnivora, pemakan bangkai, pemakan deposit, pemakan suspensi dan parasit. Pada umumnya moluska yang bersifat pemakan deposit lebih banyak ditemukan di daerah dengan substrat yang halus karena banyak mengandung bahan organik. Walaupun moluska pemakan suspensi dapat ditemukan pada substrat yang kasar, namun dapat juga ditemukan moluska pemakan deposit. Sedangkan pada bivalvia, sebagian besar pemakan detritus dan sebagian kecil adalah pemakan plankton (Hamidah 2000). Selain itu biota ini mempunyai sifat bergerak yang rendah sehingga sukar untuk menyebar dan berpindah-pindah.

Beberapa

jenis

moluska

air

tawar

sangat

bergantung

pada

tumbuhan

air.

Baik sebagai

makanan ataupun sebagai tempat hidupnya. Menurut Izmiarti 1991 dalam Hamidah 2000 tumbuhan Potamogeton merupakan tempat hidup bagi beberapa gastropoda dari famili Thiaride yaitu Anentome helena, Melanoides granifera , M. tuberculata, Thiara scabra dan Pomacea

canaliculata. Beberapa spesies juga memerlukan bebatuan untuk menempel hidup diantaranya adalah Melanoides granifera, Melanoides tuberculata, Thiara scabra, Brotia costula varicosa dan Brotia testudinaria

Pada abad 19 penyebaran

Corbicula meluas ke Amerika Utara, penyebaran spesies ini

berkembang dengan cepat dan menjadi bagian yang penting di komunitas air tawarnya. Corbicula berkembang secara alami dan bantuan manusia yang akan dijadikan umpan untuk ikan. Spesies ini dapat mengakibatkan kerusakan pada saluran irigasi, pipa bawah tanah dan pengolahan air. (Anonim 2005).

Tabel 5 Frekuensi kehadiran setiap spesies

moluska di masing-masing stasiun

Jenis

Stasiun

Jumlah Frekuensi

 

I

II

III

IV

Corbicula moltkiana

0.25

0.25

0.25

0.25

1.00

Corbicula javanica

0

0.25

0.25

0.25

0.75

Pseudodon vondembuschianus

0.25

0.25

0.25

0.25

1.00

Melanoides granifera

0.25

0.25

0.25

0.25

1.00

Melanoides tuberculata

0.25

0.25

0.25

0.25

1.00

25

25 Thiara scabra 0.25 0.25 0.25 0.25 1.00 Brotia costula 0.25 0.25 0.25 0.25 1.00

Thiara scabra

0.25

0.25

0.25

0.25

1.00

Brotia costula

0.25

0.25

0.25

0.25

1.00

Brotia testudinaria

0

0

0

0.25

0.25

Bellamya javanica

0

0.25

0

0

0.25

Pomacea canaliculata

0.25

0.25

0.25

0.25

1.00

Kondisi fisik lingkungan

Suhu Suhu masing-masing stasiun tidak terlalu jauh berbeda, ialah berkisar antara 25-26.5º C. Kisaran suhu tersebut bersifat optimum untuk kehidupan moluska air tawar, karena umumnya moluska dapat hidup dengan suhu antara 20-30º C, seperti moluska M. tuberculata yang termasuk ke dalam famili Thiaridae hidup pada kisaran 14-31º C (Hamidah 2000) . Suhu merupakan faktor penting yang mempengaruhi kehidupan moluska. Tingkat respirasi akan semakin menurun seiring dengan peningkatan kekeruhan dan suhu (Hamidah 2000). Suhu optimum untuk pertumbuhan Planorbis planorbis dan P. corneus masing-masing adalah 19 o C dan 20.5 o C. Suhu 30 o C merupakan suhu optimum bagi pertumbuhan, daya tahan hidup dan fekunditas keong tersebut (Raut et al 1992 dalam Hamidah 2000). Fitoplankton yang berperan sebagai sumber makanan moluska dapat tumbuh pada suhu 26.2 – 27 o C yang merupakan suhu perairan danau Maninjau. Batas optimal suhu untuk pertumbuhan fitoplankton berkisar antara 20 – 30 o C (Deswati 2002).

Derajat keasaman (pH) Derajat keasaman di perairan danau Maninjau berkisar antar 6-7. Pada umumnya moluska di perairan tawar dapat hidup pada pH yang berkisar antara 5.7 -8.4. Bivalvia dapat hidup dengan baik pada kisaran pH 5.6-8.3. Pada pH perairan yang berkisar antara 4.4 -6.1 akan menyebabkan kerang dapat melakukan estivasi dengan menutup cangkang dan secara bertahap kehilangan bobot tubuhnya. Pada pH yang berkisar antara 4.4-5.2 akan menyebabkan kematian pada gastropoda air tawar (Hamidah 2000).Hal ini juga sangat sesuai dengan lingkungan optimum untuk pertumbuhan fitoplankton (Deswati 2002).

Kedalaman Kedalaman perairan yang didapatkan berkisar

0.43-6.5 m. Kedalaman tertinggi terdapat pada

stasiun III yaitu 6.5 m sedangkan yang terendah terdapat pada stasiun I. Perbedaan kedalam mengakibatkan perbedaan kepadatan moluska (Hamidah 2000). Hal ini berhubungan dengan intesitas cahaya yang masuk ke perairan yang akan digunakan tumbuhan air untuk berfotosintesis, yang berperan sebagai makanan moluska. Menurut Deswati 2002, Intesitas cahaya di perairan danau Maninjau masih dalam batas yang dapat digunakan fitoplankton untuk proses fotosintesa.

Kecerahan Kecerahan perairan yang didapatkan berkisar antara 140-550 cm. Kecerahan terendah terdapat pada stasiun I, sedangkan kecerahan tertinggi terdapat pada stasiun IV. Rendahnya kecerahan terdapat di stasiun I berkaitan dengan partik el tanah dan terjadinya sedimentasi, sehingga penetrasi cahaya tidak masuk ke perairan yang lebih dalam (Hamidah 2000). Hal ini dibuktikan dengan jarangnya ditemukan tumbuhan air dan fitoplankton yang dapat hidup di stasiun ini.

Substrat

Jenis substrat

yang terdapat pada stasiun pengambilan spesimen adalah pasir dan pasir

berlumpur. Jenis Melanoides sangat menyukai substrat lumpur. Substrat liat sulit ditembus oleh udara, sehingga gastropoda yang terutama pemakan deposit jumlah populasinya relatif sedikit. Pada saat kondisi substrat mulai m engering jenis Melanoides mulai menghindar dengan cara membenamkan diri ke dalam lumpur, karena lumpur di lapisan dalam akan lambat mengering. Selama substrat lumpur dan lembab, maka keong dapat dapat bertahan hidup tanpa makan , terutama jenis - jenis yang mempunyai operkulum (Mote 2004). Kondisi fisik ini dapat dilihat pada Lampiran 5

26

26 SIMPULAN Berdasarkan hasil identifkasi, didapatkan 6 famili dan 10 species yaitu tiga spesies dari kelas

SIMPULAN

Berdasarkan hasil identifkasi, didapatkan 6 famili dan 10 species yaitu tiga spesies dari kelas bivalvia diantaranya adalah Corbicula moltkiana, Corbicula javanica (Corbiculidae) dan Pseudodon vondembuschianus (Unionidae) sedangkan 7 tujuh spesies lainnya termasuk ke dalam kelas gastropoda, diantaranya adalah Melanoides granifera, Melanoides tuberculata dan Thiara scabra (Thiaridae) Brotia costula varicose dan Brotia testudinaria (Pachychilidae) Bellamya javanica (Viviparidae), dan Pomacea canaliculata (Ampullariidae). Corbicula moltkiana merupakan spesies endemik danau Maninjau. Kepadatan tertinggi selama penelitian ditunjukkan oleh famili Corbiculidae dan Thiaridae. Kepadatan, keanekaragaman dan dominansi tertinggi adalah pada stasiun IV, diperkirakan banyaknya persediaan bahan organik yang berasal dari sungai dan sawah yang mengalir ke danau serta hasil pelet ikan dari jala apung yang masuk ke danau yang digunakan sebagai bahan makanan bagi moluska. Pada analisis pengukuran cangkang dihasilkan nilai mean beragam pada setiap spesies dari kelas bivalvia dan kelas gastropoda. Sedangkan nilai standar deviasi dari kelas bivalvia Cobicula moltkiana memiliki nilai yang beragam pada panjang cangkangnya dibandingkan dengan karakter pengukur yang lain dan sama halnya dengan dua spesies lainnya. Untuk kelas gastropoda bahwa Melanoides granifera (MG), Melanoides tuberculata (MT), Brotia costula varicosa (BCV), Brotia testudinaria (BT), Thiara scabra (TS) dan Bellamya javanica (BJ) panjang cangkangnya (PC) memiliki keragaman lebih tinggi dibandingkan dengan karakter pengukur yang lainnya. Pomacea canaliculata (PC) panjang seluk akhirnya (PS) memiliki keragaman lebih tinggi dibandingkan dengan karakter pengukur yang lainnya. Kondisi lingkungan perairan danau Maninjau masih dalam batas optimal untuk kehidupan moluska dan berhubungan dengan keberadaan makanannya.

SARAN

Penelitian lebih lanjut pada perairan yang lebih tinggi kedalamannya dan di lokasi yang lebih luas, untuk melihat keanekaragaman moluska yang lebih tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Alftriatussulus. 2003. Sebaran moluska (bivalvia dan gastropoda) di muara sungai Cimandiri,

Teluk Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Arisandi P. 2001. Biomonitoring partisipatif alternatif pemantauan kualitas air kali Surabaya. [terhubungberkala]. http://www.ecoton.or.id/tulisan lengkap.php?id=1289 .html[6januari

2006].

Anonim.

http://www.pnl.gov/ecology/rivers/aquarium/clam.html[6januari 2006] Apip et al. 2002. Kajian karakteristik sumberdaya iklim di danau Maninjau. Cibinonng: Puslit Limnologi LIPI. Basmi HJ.1999. Ekosistem Perairan. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut

Pertanian Bogor. Brusca RC, Brusca GJ. 1990. Invertebrates. Massachusetts: Sinauer. Butot LJM. 1995. The mollusca fauna of Panaitan (Prinseneiland) land and freshwater mollusca. Treubia 23(1):69-135. Deswati L. 2002 Hubungan antara kelimpahan fitoplankton produktivitas primer perairan dengan faktor fisika-kimia perairan danau Maninjau. Fish J Garing 11(1): 29-42. Dharma. 1988. Siput dan Kerang Indonesia I (Indonesian Shell). Jakarta: PT. Sarana Graha. Djajasamita M. 1999. Keong dan Kerang Sawah. Bogor: Puslitbang Biologi. LIPI. Djajasamita M. 1985. Fauna moluska perairan deras di dua sungai daerah Riau daratan. Berita Biologi 3(3): 121-124.

komunitas moluska di perairan bagian utara

Hamidah A. 2000. Keanekaragaman dan kelimpahan

Danau Kerinci, Jambi. [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Heryanto et al. 2003. Keong dari Taman Nasioinal Gunung Halimun. Cibinong: Biodiversity Conservation Project.

berkala].

2005.

The

asiatic

clam,

Corbicula

fluminea.

[terhubung

27

27 Horison. 2000. Pengaruh sinar, pH, medium dan makanan terhadap pertumbuhan keong mas (Pomacea sp). [tesis].

Horison. 2000. Pengaruh sinar, pH, medium dan makanan terhadap pertumbuhan keong mas (Pomacea sp). [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Juttting BWSS. 1956. Systematic studies on the non-marine mollusca Of The Indo -Australian Archipelago. Treubia 28(2):259-477 Kohler F, Glaubrecht M. 2002. A new species of Brotia H. Adams,1866 (caenogastropoda; cerithiodea; pachychilidae).J.Moll.Stud.(2002)

68:353-357.

Krebs CJ. 1978. Ecology. The Experimental Analysis of Distribution and Abundance. Ed ke- 2. New York: Harper and Row Publishing. Mote. 2004. Gastropoda air tawar di kawasan taman nasional Way Kambas. [tesis]. Bogor:

Program Pasca sarjana Institut Pertanian Bogor.

Martin

aires

province,Argent ina. Malacologia 44(1): 153 -163. Odum EP. 1993. Dasar-Dasar Ekologi . Edisi ketiga. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Pechenik JA. 2000. Biology of the Invertebrates . Ed ke-4. McGraw -Hill International Editions. Pennak RW. 1989. Protozoa to Mollusca. ed ke-3. New York: John Wiley & Sons. Setyadi GW, Fuah AM, Siregar HCH. 2002. Pengaruh kepadatan populasi dan jenis pakan pada pertumbuhan keong mas. Hayati 9: 101-104. Sugiri N. 1989. Zoologi Avertebrata II. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Antara Universitas Ilmu Hayati Institut Pertanian Bogor. Suwignyo S, Widigdo B, Wardianti Y, Kristanti M. 1998. Avertebrata Air. Jilid 2. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

PR,

Estebenet

AL.

2002.

Interpopulation

variation

in

in

life-history traits of Pomacea

southwestern

buenos

canaliculata

(Gastropoda:

Ampullariidae)

16

16 LAMPIRAN

LAMPIRAN

17

17 Lampiran 1 Peta pengambilan spesimen moluska di perairan sebelah utara danau Maninjau

Lampiran 1 Peta pengambilan spesimen moluska di perairan sebelah utara danau Maninjau

17 Lampiran 1 Peta pengambilan spesimen moluska di perairan sebelah utara danau Maninjau

18

18 Lampiran 2 Lokasi p engambilan spesimenmoluska Gambar 1 Stasiun I Gambar 3 Stasiun III Gambar

Lampiran 2 Lokasi pengambilan spesimenmoluska

18 Lampiran 2 Lokasi p engambilan spesimenmoluska Gambar 1 Stasiun I Gambar 3 Stasiun III Gambar

Gambar 1 Stasiun I

2 Lokasi p engambilan spesimenmoluska Gambar 1 Stasiun I Gambar 3 Stasiun III Gambar 2 Stasiun

Gambar 3 Stasiun III

2 Lokasi p engambilan spesimenmoluska Gambar 1 Stasiun I Gambar 3 Stasiun III Gambar 2 Stasiun

Gambar 2 Stasiun II

Gambar 4 Stasiun IV

19

19

20

20

21

21

Lampiran 3 Gambar kelas moluska

Lampiran 3 Gambar kelas moluska

Lampiran 4 Identifikasi spesies

Lampiran 4 Identifikasi spesies

Lanjutan

Lanjutan
Lanjutan

Lampiran 5 Kondisi fisik lingkungan dan lokasi pengambilan spesimen moluska

Stasiun Pengambilan Spesimen di Danau Maninjau

 

Kecerahan

Kedalaman

Stasiun Suhu(° C)

Ph

(cm)

(cm)

Substrat

Vegetasi

I 26

7

140

43 -140

pasir,kerikil,batu -batuan ganggang,lumut

II 25

7

550

63 -440

pasir berlumpr,kerikil pasir berlumpur,batu- batuan pasir berlumpur

kiambang

III 26

6

550

65 -650

kiambang,eceng gondok,ganggang,lumut eceng gondok,rumput -rumputan

IV 26.5

6

350

66-550

Lokasi Stasiun Pengambilan di Danau Maninjau

Stasiun Lokasi

I Muko-Muko, Jorong Muko-Muko Nagari II Koto, Tanjung Raya

II Tanjung Alai, Jorong Koto Malintang, Nagari VI Koto, Tanjung Raya

III Anak Aia, Jorong Sungai Tampang, Nagari Tanjung Sani, Tanjung Raya

IV Linggai, Jorong Balai Ahad Nagari VI Kot o, Tanjung Raya

Lampiran 6 Ukuran Cangkang Bivalvia

Nilai rata-rata ukuran cangkang bivalvia (mm)

no

species

PC

LC

TC

1

Corbicula moltkiana

15.68

13.3

9.155

2

Corbicula javanica

15.02

12.3

8.745

3

Pseudodon vondembuschianus

75

49.2

28.72

 

Nilai standar deviasi ukuran cangkang bivalvia

 

no

species

PC

LC

TC

1

Corbicula moltkiana

3.221

2.67

1.658

2

Corbicula javanica

2.071

1.75

1.152

3

Pseudodon vondembuschianus

15.04

9.53

6.17

Lampiran 7 Ukuran Cangkang Gastropoda

Nilai rata-rata ukuran cangkang gastropoda (mm)

no

species

PC

LC

P A

LA

PS

1

Melanoides granifera

15.78

7.29

6.506

4.322

11.1

2

Melanoides tuberculata

12.42

4.76

3.943

2.737

7.1

3

Brotia testudinaria

37.6

16.1

12.21

9.332

22.2

4

Brotia sumateraensis

34.96

14.5

11.91

8.429

20.8

5

Thiara scabra

9.85

5.03

4.05

2.975

6.83

6

Pomacea canaliculata

48.41

40.7

31.02

24.98

42.1

7

Bellamya javanica

22.4

15.9

11.5

9.7

17.7

 

Nilai standar deviasi ukuran cangkang gastropoda

 

no

species

PC

LC

P A

LA

PS

1

Melanoides granifera

3.527

1.55

1.574

1.04

2.24

2

Melanoides tuberculata

3.989

1.23

1.193

0.989

2.07

3

Brotia testudinaria

6.527

2.75

1.79

1.673

3.24

4

Brotia sumateraensis

9.377

4.2

3.354

2.324

5.24

5

Thiara scabra

1.155

0.66

0.847

0.468

1.11

6

Pomacea canaliculata

6.59

5.69

3.81

5.64

5.49

7

Bellamya javanica

1.253

1.59

0.361

0.5

0.85