P. 1
puisi perjuangan

puisi perjuangan

|Views: 843|Likes:
Dipublikasikan oleh Ichaz Delisa New

More info:

Published by: Ichaz Delisa New on Jun 15, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2014

pdf

text

original

“Hidupkanlah Terus Garis Kepahlawanan” “Hidupkanlah Terus Garis Kepahlawanan”

Hai, mahasiswa-mahasiswa hai / pemuda-pemuda / yang sedang minum air pengetahuan / dari sumbernya alamamater indonesia timur! Camkanlah ini! Bahwa pengetahuan / bahwa ilmu / bahwa pikiran / bahwa teori /tiada guna, / tiada wujud ! jika tidak dipergunakan / untuk mengabdi kepada prakteknya hidup // Buatlah ilmu/berdwitunggal dengan amal / Angkatlah derajat kemahasiswaanmu itu ! kepada derajat mahasiswa patriot / yang sekarang mencari ilmu / untuk kemudian beramal terus menerus dihadirat wajah ibu pertiwi // Tahukah kamu / apa sebab / aku sekarang ini aku bangga? Bukan ! karena menjadi Doctor Honoris Causa./ Tetapi / aku bangga / karena / Almamatermulah yang memanggil aku // Almamatermu! Universitas ! Indonesia timur // yang dilahirkan di atas persada amal / bagi ibu pertiwi // yang dilahirkan dalam kancah perjuangan ibu pertiwi / Dalam kancah tempat menggumpalnya / kemauan-kemauan nasional / menjadi amal-amal nasional // di dalam kancah / tempat menggumpalnya oknum-oknum konstruktif / dari pada Revolusi yang glorius ini /

di dalam kancahnya ! perjuangan,/ pengabdian,/ pengorbanan/ di dalam kancah, ! yang demikian itulah / Universitas Indonesia Timur / dilahirkan di dalam kancah yang demikian itulah // universitas ini menjelma dan bertumbuh / dan aku terharu / bahwa Universitas yang demikian itulah/ menyatakan apresiasinya/ atas sumbangan ku kepada ibu pertiwi//. Dan engkau, engkau adalah/ mahasiwa-mahasiswa/ pada Universitas Putra Amal Perjuangan/ engkau adalah ! asuhan-asuhannya, // engkau laksana anak-anak rajawali / maka / tetap setialah kepada jiwa dan cita-cita indukmu ini. // Sekarang ! dan kelak // jikalau engkau telah meninggalkan ruangan-ruangan kuliahnya / dan telah masuk ke dalam prakteknya hidup / hidupkanlah! terus garis pahlawan / hidupkanlah ! terus garis perjuangan // Indonesia Timur /adalah mata airmu / Indonesia Timur /adalah sumber airmu // tinggalkanlah kelak Universitas ini / bukan untuk mati tergenang dalam rawanya // ketiada-amalan atau rawanya kemuktian diri sendiri // tetapi mengalirlah ! ke laut / tujulah! ke laut / capailah laut // lautnya pengabdian /kepada negara dan tanah air / yang berirama/, bergelombang/, bergelora! Ambillah ! hai mahaiswa-mahasiswa /Indonesia Timur/ ucapan seorang revolusi Perancis/ Menjadi semboyan hidupnya di masa depan// "Dengan menuju ke laut,/ maka sungai /setia kepada sumbernya//"

DIPONEGORO
DIPONEGORO Di masa pembangunan ini tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati. MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu. Sekali berarti Sudah itu mati. MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api. Punah di atas menghambat Binasa di atas ditindas Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai Maju

Serbu Serang Terjang

pahlawan untuk indonesiaku
demi negeri kau korbankan waktumu demi bangsa rela kau taruhkan nyawamu maut menghadang didepan kau bilang itu hiburan nampak raut wajahmu tak segelintir rasa takut semangat membara dijiwamu taklukkan mereka penghalang negeri hari-harimu diwarnai pembunuhan, pembantaian dihiasi bunga-bunga api mengalir sungai darah disekitarmu bahkan tak jarang mata air darah itu muncul dari tubuhmu namun tak dapat runtuhkan tebing semangat juangmu

bambu runcing yang setia menemanimu kaki telanjang tak beralas pakain dengan seribu wangi basah dibadan kering dibadan kini menghantarkan indonesia kedalam istana kemerdekaan

Bangkitlah Pemuda Bangsaku
Bangkitlah Pemuda Bangsaku Kelam...Ibu pertiwi memandang Masa depan anak bangsa yang kian suram Melupakan bangkai terbengkalai Dalam perjuangan 75 tahun telah berlalu Saat pemuda mengikat janji persaudaraan Berikrar dalam satu sumpah Berpegang pada satu kata: Persatuan! Wahai pemuda bangsaku! Sadarkah kau koyak-koyak baju ibumu Menelanjanginya di depan mata dunia Bila kau hanyut dalam perpecahan Bangkitlah pemuda bangsaku! Genggam teguh satu keyakinan Bhineka Tunggal Ika! Demi pembangunan, dalam persatuan

PADAMU NEGERI
PADAMU NEGERI Padamu negeri Dari rantau aku menyapamu lagi Apa kabar hari ini Engkau bilang masih seperti kemarin hari Padamu negeri Dari rantau aku bertanya kembali Tentang bagaimana esok pagi Engkau pastikan seperti hari ini Padamu negeri Aku kapok tak ingin bertanya lagi Kalau jawabannya selalu begini Sampai hari kiamat nanti Padamu negeri Mana mungkin aku bisa berjanji Akan segera kembali membawa nyali Jika semuanya sudah tak berhati Padamu negeri Apalah gunanya memekikkan reformasi

Jika etika masih dirobohkan ambisi Sehingga seantero negeri jadi taman safari Padamu negeri Apalah artinya menggulingkan rezim yang kau maki Jika yang baru ternyata hanya ambil posisi Menumpuk harta atas nama ibu pertiwi Padamu negeri Mana mungkin engkau tak kelihatan ngeri Bajingan terminal dikeroyok sampai mati Bajingan nasional dikembang-biakkan bagai merpati Padamu negeri Mana mungkin wajahmu nampak ramah berseri Jika demi sepiring nasi, orang harus bertarung melawan polisi Sedangkan demi BMW, orang lain tinggalkan kenakan baju safari Padamu negeri Mana mungkin orang kecil tak kan iri Melihat pejabat dan politisi hamburkan uang di luar negeri Sedang nelayan, buruh, dan petani makan satu dua kali sehari Padamu negeri Aku kapok tak ingin menyapamu lagi Kalau jawabannya selalu begini Sampai hari kiamat nanti

DIBALIK SERUAN PAHLAWAN Oleh Zshara Aurora Kabut, Dalam kenangan pergolakan bumi pertiwi Mendung, Pertandakah hujan deras Membanjiri asa yang haus kemerdekaan Dia dan semua yang ada menunggu keputusan sakral Serbu.... Merdeka atau mati.. Allahu Akbar Titahmu terdengar kian merasuk dalam jiwa Dalam serbuan bambu runcing menyatu Kau teruskan bunyi-bunyi ayat suci Kau teriakan semangat juang demi negeri Kau relakan terkasih menahan terpaan belati Untuk ibu pertiwi.. Kini kau lihat, Merah hitam tanah kelahiranmu Pertumpahan darah para penjajah keji

Gemelutmu tak kunjung sia Lindungan-Nya selalu dihatimu Untuk kemerdekaan Indonesia abadi.. DMCA Protection on: http://www.lokerpuisi.web.id/2012/06/dibalik-seruan-pahlawan-olehzshara.html#ixzz1xVh9kpE9

NUANSA BUDAYA INDONESIA Oleh Destriani Hamidah Indahnya negeri ini dalam buaian ibu pertiwi negri ini di penuhi dengan keberagaman nuansa keindahan budaya indonesia Bangsa ini kaya akan budaya penuh dengan symphoni yang indah mengapa tidak kita lestarikan ? mengapa tidak kita pertahankan ? Ini bangsa kita.. ini negri kita.. ini kebudayaan kita.. kita hidup, kita dewasa dalam negeri tercinta ini

Kini saatnya untuk kita saling bersatu saling melestarikan budaya saling menjaga apa yang akan kita lestarikan dan mempertahankan nuansa budaya indonesia. DMCA Protection on: http://www.lokerpuisi.web.id/2012/05/nuansa-budayaindonesia.html#ixzz1xVhMm0Ro

PUISI – PUISI PAHLAWAN
Pahlawan satu Bersemayam di lubuk yang paling dalam, ada sesuatu yang tak akan pernah padam, meski terkadang kau pun kurang paham, namun, kami semua dapat merasakan. Kau……,kau lah pahlawan kami. karena mu lah kami berarti. karena dihatimu selalu menyala api nan memendar menularkan semangat, singkirkan keraguan hati. Pahlawan dua Di diri mu kami kan bercermin, di senyum mu kami dapatkan angin

di kata mu yang selalu kami dengar tekad menebar menyebar dan berkobar. Kau korbankan apa pun buat kami agar hidup sekali ini bisa lebih punya arti dan kami semua tahu, kau melakukan itu bukan cuma buat sebuah pamrih, yang semu. Pahlawan tiga Koar-koar yang kau dengung-dengungkan adalah balut atas semua kepura-puraan dan…………… kau selimuti kami semua dengan ketidak-tahuan kau mengira kami dalam kebodohan. Sekarang….. bukalah matamu, pasang kedua telinga di kiri kanan kepala besarmu dan… yang terpenting tutuplah mulutmu tak kan mungkin kami panggil engkau dengan sebutan pahlawan, dan sadarlah…., sebenarnya engkau sudah kesiangan.

MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA I Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga Ke Wisconsin aku dapat beasiswa Sembilan belas lima enam itulah tahunnya Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya, Whitefish Bay kampung asalnya Kagum dia pada revolusi Indonesia Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya

Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya Dadaku busung jadi anak Indonesia Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy Dan mendapat Ph.D. dari Rice University Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army Dulu dadaku tegap bila aku berdiri Mengapa sering benar aku merunduk kini II Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak, Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata Dan kubenamkan topi baret di kepala Malu aku jadi orang Indonesia. III Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu, Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan, Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu, Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk kantung jas safari, Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal, anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden, menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati, agar orangtua mereka bersenang hati, Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan, Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak utus dilarang-larang, Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat belanja modal raksasa, Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah, ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,

sekarang saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat, Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi, Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman, Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja, fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar, Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor pertandingan yang disetujui bersama, Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja, Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng, Nipah, Santa Cruz dan Irian, ada pula pembantahan terang-terangan yang merupakan dusta terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan, dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai saksi terang-terangan, Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi. IV Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak, Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata Dan kubenamkan topi baret di kepala Malu aku jadi orang Indonesia.

1998

Rindu Pada Stelan Jas Putih dan Pantalon Putih Bung Hatta (Dibacakan oleh Taufiq Ismail pada: Acara Deklarasi Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi, Sumatera Barat, di Asrama Haji, Tabing, Padang, tgl. 15 Ramadhan 1424 H/10 Nopember 2003 M) I. Di awal abad 21, pada suatu Subuh pagi aku berjalan kaki di Bukittinggi, Hampir tak ada kabut tercantum di leher Singgalang dan Merapi, yang belum dilangkahi matahari, Lalu lintas kota kecil ini dapat dikatakan masih begitu sunyi, Menurun aku di Janjang Ampek Puluah, melangkah ke Aue Tajungkang, berhenti aku di depan rumah kelahiran Bung Hatta,

Di rumah beratap seng nomor 37 itulah, di awal abad 20, lahir seorang bayi laki-laki yang kelak akan menuliskan alphabet cita-cita bangsa di langit pemikirannya dan merancang peta Negara di atas prahara sejarah manusianya, Dia tak suka berhutang. Sahabat karibnya, Bung Karno, kepada gergasi-gergasi dunia itu bahkan berteriak, “Masuklah kalian ke neraka dengan uang yang kalian samarkan dengan nama bantuan, yang pada hakekatnya hutang itu”. Suara lantang 39 tahun yang silam itu terapung di Ngarai Sianok, hanyut di Kali Brantas, menyelam di Laut Banda, melintas di Selat Makassar, hilang di arus Sungai Mahakam, kemudian tersangkut di tenggorokan 200 juta manusia, Dua ratus juta manusia itu, terbelenggu rantai hutang di tangan dan kaki, di abad kini. Petinggi negeri di lobi kantor Pusat Pegadaian Dunia duduk antri, membawa kaleng kosong bekas cat minta sekedarnya diisi. Setiap mereka pulang, hutang menggelombang, setiap bayi lahir langsung dua puluh juta rupiah berkalung hutang, baru akan lunas dua generasi mendatang. II. Jalan kaki pagi-pagi di Bukittinggi, aku merenung di depan rumah beratap seng di Aue Tajungkang nomor 37 ini, yang di awal abad 20 lalu tempat lahir seorang bayi laki-laki Aku mengenang negarawan jenius ini dengan rasa penuh hormat karena rangkaian panjang mutiara sifat: tepat waktu, tunai janji, ringkas bicara, lurus jujur, hemat serta bersahaja, Angku Hatta, adakah garam sifat-sifat ini masuk ke dalam sup kehidupanku? Kucatat dalam puisiku, Angku lebih suka garam dan tak gemar gincu. Tujuh windu sudah berlalu, aku menyusun sebuah senarai perasaan rindu, Rindu pada sejumlah sifat dan nilai, yang kini kita rasakan hancur bercerai-berai, Kesatuan sebagai bangsa, rasa bersama sebagai manusia Indonesia, ikatan sejarah dengan pengalaman derita dan suka, inilah kerinduan yang luput dari sekitar kita, Kita rindu pada penampakan dan isi jiwa bersahaja, lurs yang tabung, waktu yang tepat berdentang, janji yang tunai, kalimat yang ringkas padat, tata hidup yang hemat,

Tiba-tiba kita rindu pada Bung Hatta, pada stelan jas putih dan pantaloon putihnya, symbol perlawanan pada disain hedonisme dunia, tidak sudi berhutang, kesederhanaan yang berkilau gemilang, Kesederhanaan. Ternyata aku tak bisa hidup bersahaja. Terperangkap dalam krangkeng baja materialisme, boros dan jauh dari hemat, agenda serba bendaku ditentukan oleh merek 1000 produk impor, iklan televise dan gaya hidup imitasi, Bicara ringkas. Susah benar aku melisankan fikiran secara padat. Agaknya genetika Minang dalam rangkaian kromosomku mendiktekan sifat bicaraku yang berpanjang-panjang. Angk Hatta, bagaimana Angku dapat bicara ringkas dan padat? Teratur dan apik? Aku mengintip Angku pada suatu makan siang di Jalan Diponegoro, yang begitu tertib dan resik, Tepat waktu. Bung Hatta adalah tepat waktu untuk sebuah bangsa yang selalu terlambat. Dari seribu rapat, sembilan ratus biasanya telat. Kegiatanku yang tepat waktu satu-satunya ialah ketika berbuka puasa. Kelurusan dan kejujuran. Pertahanan apa yang mesti dibangun di dalam sebuah pribadi supaya orang bisa selalu jujur? Jujur dalam masalah rezeki, jujur kepada isteri, jujur kepada suami, jujur kepada diri sendiri, jujur kepada orang banyak, yang bernama rakyat? Rakyat yang di tipu terus-menerus itu. Ketika kita rindu bersangatan kepada sepasang jas putih dan pantaloon putih itu, kita mohonkan kepada Tuhan, semoga nilai-nilai dan sifat-sifat luhur yang telah hancur berantakan, kepada kita utuh dikembalikan. III. Jalan kaki pagi-pagi di Bukittinggi, di depan rumah beratap seng di Aue Tajungkang nomor 37 ini aku menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian aku masuk ke dalamnya, dan di ruang tamu menatap potret dinding aku berdiri, Tampaklah Bung Hatta di antara rakyat banyak dalam gambar itu. Tiba-tiba Bung Hatta keluar dari gambar sepia itu. Kemudian Bung Hatta berkata: “Ceritakan Indonesia kini menurut kamu” Aku tergagap bicara. ^Angku, mangadu ambo kini. Angku, saya mengadu kini. Krisis berlapis-lapis bagaikan tak habis-habis. Krisis ekonomi, politik, penegakan hokum, pendidikan, pengangguran, kemiskinan, keamanan, kekerasan, pertumpahan darah, pemecah-belahan, dan di atas semua itu, krisis akhlak bangsa,

“Otoritarianisme panjang menyuburkan perilaku materialistic, tamak, serakah, tipu-menipu, konspiratif, mengutamakan keluarga dekat, memenangkan golongan sendiri, dan tingkah laku feodalistik, Krisis nilai luhur merubah potret wajah bangsa menjadi anarkis, bringas, ganas, tak bersedia kalah, tak segan memfitnah, memaksakan kehendak, pendendam, perusak, pembakar dan pembunuh. Kekerasan, api, batu, peluru, puing mayat, asap dan bom sampai ke seluruh muka bumi, Tetapi tentang bom itu, nanti dulu. Sepuluh dua puluh tahun lagi, lihat, akan terungkap apa sebenarnya sandiwara besar skenario dunia yang dipaksakan hari ini. Mentang-mentang. Aku menarik nafas. Bung Hatta diam. Tak ada senyum di wajahnya Angku Hatta. Harga apa saja di Indonesia naik semua, kecuali satu. Harga nyawa. Nyawa murah dan luar biasa jatuh nilainya. Di setiap demo orang mati. Tahanan polisi gampang mati. Pencuri motor dibakar mati. Anak-anak sekolah belasan tahun dalam tawuran, tanpa rasa salah dengan ringan membunuh temannya lain sekolah. Mahasiswa senior yang garang menggasak, menggampar, menyiksa juniornya sampai mati. Tahun depan pembunuhan di kampus lain di ulang lagi. Dendam dipelihara dan diturunkan” Sesak nafasku. Bung Hatta diam. Matanya merenung jauh. Alkohol, nikotin, judi, madat, putau, ganja dan sabu-sabu telah meruyak dan mencengkeram negeri kita, mudah dibeli di tepi jalan, di sekolah, di mana-mana. Indonesia telah menjadi sorga pornografi paling murah di dunia. Dengan uang sepuluh ribu anak SLTP dengan mudah bisa membeli VCD coitus lelaki-perempuan kulit putih 60 menit, 6 posisi dan 6 warna. Anak-anak SD membaca komik cabul dari Jepang. Di televisi peselingkuhan dianjurkan dan diajarkan.” Gelombang hidup permisif, gaya serba boleh ini melanda penulis-penulis pula. Penulis-penulis perempuan, muda usia, berlomba mencabul-cabulkan karya, asyik menggarap wilayah selangkang dan sekitarnya dan kompetisi Gerakan Syahwat Merdeka. Betapa tekun mereka melakukan rekonstruksi dan dekonstruksi daftar instruksi posisi syahwat selangkangan abad 21 yang posmo perineum ini. Dari uap alkohol, asap nikotin dan narkoba, dari bau persetubuhan liar 20 juta keeping VCD biru, dari halaman-halaman komik dan buku cabul menyebar hawa lendir yang mirip aroma bangkai anak tikus terlantar tiga hari di selokan pasar desa ke seluruh negeri.

Aku melihat orang-orang menutup hidung dan jijik karenanya. Jijik. Malu aku memikirkannya” Jan aku tenan isin sakpore, sakpore, isin buanget dadi wong Indonesia, Lek asane dadi nak Indonesia, Masiripka mancaji to Indonesia, Jelema Indonesia? Eraeun urang, eraeun, Malu ambo, sabana malu jadi urang Indonesia,!(*) Malu aku jadi orang Indonesia. (*) Bahasa Jawa, Bali, Bugis, Sunda dan Minangkabau. Aku berhenti bicara. Bung Hatta masih tetap diam. Matanya merenung sangat jauh. Tiba-tiba bayangan wajahnya menghilang. IV Indonesia tersaruk-saruk. Terpincang-pincang dan sempoyongan, Dicambuki krisis demi krisis seperti tak habis-habis. Indonesia kini sedang menangis. Dari status Negeri Cobaan, Dia turun derajat menjadi Negeri Azab, Dan kini sedang bergerak merosot kearah Negeri Kutukan. Indonesia tak habis-habis menangis. Kusut, masai, Nestapa, duka, Pengap dan gelap. Dari dalam sumur berlumpur ini, Dari dasar tubir yang menyesakkan nafas ini Kami menengadah ke atas, Masih melihat sepotong langit Dan mengharapkan cahaya. Kami tetap berikhtiar, Terus bekerja keras Seraya menggumamkan doa. Tuhan, Jangan biarkan negeri kami Yang kini sudah menjadi Negeri Azab, Bergerak merosot kea rah Negeri Kutukan.

Tuhan, Mohon, Jangan ditolak Do’a kami. 2003

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->