Anda di halaman 1dari 12

UNIT MANAJEMEN HUTAN TANAMAN RAKYAT DI KABUPATEN GUNUNG KIDUL PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

NASKAH PUBLIKASI

Disusun oleh :

ADHI SUPRIHADHI 10/308833/PKT/00956

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

UNIT MANAJEMEN HUTAN TANAMAN RAKYAT DI KABUPATEN GUNUNG KIDUL PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Adhi Suprihadhi1, San Afri Awang2 dan Ris Hadi Purwanto3


INTISARI
Program HTR diharapkan mampu memberdayakan masyarakat secara mandiri dalam pengelolaan hutan produksi yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperbaiki kualitas hutan produksi. Guna mewujudkannya diperlukan kelembagaan yang kuat dan pengelolaan yang berlandaskan asas kelestarian hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari data dan penjelasan tentang UM IUPHHK-HTR terkait kelembagaan dan penerapan asas kelestarian hutan serta merumuskan pengelolaan HTR yang berasas kelestarian hutan. Penelitian dilakukan pada areal kerja IUPHHK-HTR KUD Bima di Kabupaten Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengambilan data dilakukan dengan survey inventarisasi hutan, wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Hasil invntarisasi digunakan untuk menghitung tandon tegakan dan etat/AAC. Perhitungan etat/AAC menggunakan rumus von Mantel dan Hanzlik. Selanjutnya dilakukan analisis data secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Proses pelembagaan KUD Bima sebagai Unit Manajemen IUPHHK-HTR merupakan pengembangan dari lembaga yang telah ada. KUD Bima adalah organisasi modern berupa adanya Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART), tata tertib, dan struktur organisasi. Keberadaan IUPHHK-HTR KUD Bima telah merubah pola pengelolaan yang sebelumnya berbasis keluarga (individual action) menjadi berbasis unit manajemen (collective action) Penerapan asas kelestarian hutan dalam pengelolaan HTR adalah sebagai berikut: a) penggunaan multisistem silvikultur; b) Penataan batas dilakukan secara partisipatif dan penataan areal didasarkan kemudahan dalam pengorganisasian fisik lahan dan penggarap; c) Pemanenan didasarkan hasil perhitungan etat Von Mantel, yaitu sebesar 164,62 m3/tahun, tandon tegakan sebesar 1.234,68 m3, dengan kegiatan penebangan dilakukan secara tebang pilih yang didasarkan rencana penebangan menurut waktu dan tempat; d) Pembangunan hutan/permudaan menggunakan bibit unggul yang terpercaya, dan pemeliharaan tegakan, terutama kegiatan pemangkasan cabang dan penjarangan, harus dilaksanakan secara konsisten untuk meningkatkan kualitas kayu yang dihasilkan. Kata kunci : IUPHHK-HTR, pembangunan lembaga, kelestarian hutan, etat/AAC.

PENDAHULUAN Hutan Tanaman Rakyat (HTR) merupakan salah satu kebijakan yang digulirkan pemerintah (Kementerian Kehutanan) untuk mendorong usaha kehutanan masyarakat berbasis kawasan. Sampai tahun 2010, di seluruh Indonesia telah dicadangkan areal HTR oleh Menteri Kehutanan seluas 634.917,73 hektar di 99 Kabupaten. Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), hutan produksi (milik negara) yang telah dicadangkan untuk HTR seluas 327,73 hektar dan dimanfaatkan berupa izin HTR oleh satu Koperasi, yaitu KUD Bima Semanu seluas 84,25 hektar (Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan, 2011) .

1 2

Mahasiswa Program Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada Profesor pada Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada 3 Doktor pada Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada

Penerbitan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Rakyat (IUPHHK-HTR) di Yogyakarta kepada KUD Bima Semanu diharapkan mampu memberdayakan masyarakat secara mandiri dalam pengelolaan hutan produksi yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk dapat mewujudkan pengelolaan Hutan Tanaman Rakyat secara lestari, setidaknya dibutuhkan dua faktor utama, yaitu kelembagaan yang kuat dan pengelolaan yang berlandaskan asas kelestarian hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi dan penjelasan Unit Manajemen dan kelembagaan HTR, dan penerapan asas kelestarian hutan dalam pengelolaan HTR di KUD Bima, serta merumuskan pengelolaan HTR berasas kelestarian hutan.

METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di IUPHHK-HTR Koperasi Unit Desa (KUD) Bima Semanu. Metode penelitian secara umum digunakan pendekatan yang bersifat deskriptif untuk pembangunan lembaga Unit Manajemen dan pengelolaan HTR, sedangkan metode survey melalui kegiatan inventarisasi hutan digunakan untuk mengetahui potensi dan etat tebangan di IUPHHK-HTR KUD Bima. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam teradap informan kunci, observasi, studi dokumentasi dan survey inventarisasi hutan seluas 4,2 ha (5% dari luas total 84,25 ha). Pemilihan sampel inventarisasi dilakukan secara purposive dengan mempertimbangkan asas keterwakilan terhadap banyaknya pohon di lahan penggarap, aksesibilitas, biaya dan waktu. Inventarisasi hutan dilakukan dengan mengukur jenis, diameter dan tinggi pohon berdiameter 10 cm atau lebih. Sedangkan pohon berdiameter kurang dari 10 cm hanya dihitung jumlahnya. Data hasil survey potensi diolah untuk mendapatkan volume pohon dengan rumus sebagai berikut : V = 0,25 x d2 x t x f Dimana : V = Volume kayu = phi, angka tetapan yang besarnya 22/7 = 3,14 d = diameter pohon setinggi dada t = tinggi total pohon f = bilangan bentuk jenis jati : 0,6 ; kayu rimba : 0.7 (Widayanti, 2006) Selanjutnya data potensi tegakan hutan (luas, volume dan jumlah pohon) akan digunakan untuk menghitung etat/AAC sebagai dasar kegiatan pemanenan. 1. Metode Von Mantel.
2 AG Ya = R

Dimana : Ya : Hasil tebangan tahunan (m3/tahun) AG : Actual Growing Stock atau tendon tegakan aktual (m3) R : Daur atau rotasi (tahun)

2. Metode Hanzlik
Vm Ya = R + I

Dimana Ya : Hasil tebangan tahunan (m3/tahun) Vm : Vol tebangan masak tebang diatas daur/rotasi (m3) R : Daur atau rotasi (tahun) I : Increement atau riap pohon tidak masak tebang ( < 15 cm) (m3/tahun)

SEJARAH PENGELOLAAN LAHAN HTR Areal HTR KUD Bima di Kecamatan Semanu seluas 84,25 ha merupakan bagian dari kawasan hutan negara (hutan produksi) yang dialokasikan sebagai pencadangan HTR di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) seluas 327,73 Ha (Ditjen BPK, 2011). Areal tersebut merupakan areal eks tanah AB (Afkhiren Bosch), istilah belanda yang artinya tanah tinggalan pejabat belanda. Herawati (2011) menjelaskan bahwa pada umumnya lahan AB merupakan lahanlahan sempit di tepi hutan, tepi pemukiman penduduk, dan tepi sungai. Lahan AB pada era tahun 1960-an merupakan lahan-lahan tidak produktif atau lahan tidur. Masyarakat yang berada di sekitar lahan AB mamanfaatkan untuk budidaya tanaman semusim dan tanaman kehutanan di bawah pengawasan pemerintah desa setempat. Dinas Kehutanan Provinsi Yogyakarta melakukan kegiatan identifikasi dan inventarisasi hutan eks AB dan diperoleh data bahwa lahan AB meliputi luas 1.773 hektar. Optimalisasi kawasan AB dilakukan dengan menetapkan lahan AB seluas 327,73 hektar untuk alokasi lahan HTR dan ditetapkan oleh Menteri Kehutanan sebagai pencadangan lahan HTR yang berada pada kawasan hutan blok Pacarejo-Candirejo, blok Jepitu-Balong-Purwodadi, dan blok Wunung. Pada tahun yang sama, blok PacarejoCandirejo ditetapkan menjadi areal IUPHHK-HTR KUD Bima Semanu.

KELEMBAGAAN UNIT MANAJEMEN HUTAN TANAMAN RAKYAT Proses pembentukan lembaga IUPHHK HTR KUD Bima merupakan pengembangan dari lembaga yang sudah ada, dengan memasukkan HTR sebagai salah satu unit usaha dari KUD Bima. Keberadaan KUD Bima sebagai UM HTR didukung oleh para pihak di Provinsi DIY (Pemerintah pusat/UPT BP2HP, Pemerintah Provinsi, Kabupaten, Desa, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan masyarakat sekitar hutan). Tingginya komitmen para penggarap mengelola lahan dalam melestarikan hutan merupakan salah satu faktor kekuatan yang mendorong terwujudnya pengelolaan HTR. Pengelolaan HTR saat ini dilakukan oleh IUPHHK-HTR KUD Bima sebagai unit manajemen HTR. Hal ini berarti ada perubahan/transformasi lembaga pengelola, yang sebelumnya berbasis keluarga (individual action) menjadi pengelolaan berbasis unit manajemen (collective action).

Kepemimpinan IUPHHK-HTR KUD Bima Organisasi KUD maupun KTHTR merupakan organisasi modern dengan pola kepemimpinan bersifat kolektif dan holistik berupa pengambilan keputusan secara bersama-sama dimana dalam kehidupan pemimpin tidak terdapat pemisahan yang jelas antara kehidupan profesional dan kehidupan sosial masyarakat. Pola kepemimpinan kolektif juga terlihat dalam pola pengambilan keputusan, antara lain dalam penetapan aturan-aturan internal, RKU dan RKT yang dilakukan berdasarkan hasil pertemuan/rapat antara pengurus koperasi dan KTHTR yang merupakan perwakilan dari penggarap. KUD Bima dipimpin oleh seorang Ketua Koperasi, dibantu oleh dua wakil ketua, seorang sekretaris dan bendahara. Ketua koperasi bertugas melaksanakan pengendalian seluruh organisasi dan administrasi dibantu oleh dua orang wakil ketua, sedangkan kegiatan teknis organisatoris dilakukan oleh seorang manajer yang bertanggung jawab kepada ketua koperasi. Dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan HTR, koperasi tidak langsung berhubungan dengan petani penggarap, tetapi lebih intens kepada para pengurus Kelompok Tani Hutan Tanaman Rakyat (KTHTR) di tiap Desa. KTHTR inilah yang menyebarkan hasil keputusan kepada anggota masing-masing pada setiap pertemuan mereka. Dalam pelaksanaan tugasnya, ketua KTHTR dibantu perangkat pengurus, yaitu wakil ketua, sekretaris, bendahara, humas dan ketua sub KTHTR. Sub KTHTR tersebut berada pada tingkat dusun (bisa lebih dari satu dusun) Doktrin IUPHHK-HTR KUD Bima Doktrin menurut Esman dalam Eaton (1986) yaitu pemaparan nilai-nilai, sasaransasaran dan metode-metode operasional yang mendasari kegiatan masyarakat. KUD Bima sebagai institusi pemegang ijin IUPHHK-HTR sangat tepat mengingat bahwa koperasi merupakan badan usaha berbasis masyarakat yang berasas kekeluargaan. Beberapa nilainilai penting yang menjadi faktor penunjang utama perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pengelolaan HTR adalah sebagai berikut : 1. Gotong royong, berupa kesadaran untuk saling membantu dan berbagi. 2. Adanya rasa kepercayaan (manut) dan kebersamaan dalam pemecahan masalah yang timbul dalam pengelolaan HTR melalui wadah KTHTR. 3. Kekeluargaan. 4. Adanya kesadaran menanam pohon sebagai tabungan. Program IUPHHK-HTR KUD Bima Program merupakan penjabaran-penjabaran doktrin menjadi kegiatan-kegiatan praktis organisasi. Bagaimana mengatur waktu bagi input/masukan dan transaksi/pertukaran sedemikian rupa sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Beberapa program utama kegiatan pengelolaan HTR adalah sebagai berikut : 1. Membuat Rencana Kerja Tahunan pada setiap akhir tahun. 2. Inventarisasi tegakan. 3. Perhitungan tandon tegakan dan etat tebangan. 4. Peyiapan lahan yang terdiri dari tiga kegiatan utama berupa pembersihan lahan dari cabang/ranting dan batu-batuan, pembuatan terasering pada areal yang miring, dan penggemburan tanah untuk meningkatkan porositas dan aerasi tanah. 5. Pengadaan bibit yang berasal dari anakan yang tumbuh baik di lahan garapan atau fasilitasi pengadaan bibit unggul oleh KUD Bima.

6. Penanaman dilakukan pada awal musim hujan dengan jarak tanam 4 x 4 m. Penanaman didukung kegiatan pemeliharaan berupa pemupukan, penyulaman, pendangiran, pengendalian gulma, pemangkasan cabang dan penjarangan, serta perlindungan dan pengamanan hutan terhadap hama penyakit, kebakaran hutan, pencurian kayu dan penggembalaan liar. 7. Pemanenan dilakukan dengan tebang pilih pada areal penggarap lahan yang disepakati ditebang secara proporsional mempertimbangkan kebutuhan dan keinginan penggarap lahan. KUD Bima memfasilitasi pemasaran hasil kayu yang menguntungkan petani. Sumber daya IUPHHK-HTR KUD Bima Salah satu sumber daya penting ialah staf dari organisasi/lembaga tersebut. Untuk itu sangat disarankan memberikan kesempatan kepada stafnya untuk mengikuti pendidikan atau pelatihan.. Pendampingan sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan beberapa staf untuk selanjutnya ditransfer kepada seluruh anggota kelompok. Keuangan/dana jika diperlukan dapat mengajukan pinjaman kepada Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan (BLU Pusat P2H) yang didirikan Kementerian Kehutanan untuk memfasilitasi pembangunan hutan, antara lain Hutan Tanaman Rakyat. Peningkatan kemampuan teknis, dana dan teknologi serta informasi dengan sendirinya akan meningkatkan kemampuan organsisasi KUD Bima dalam menggunakan sumber daya yang dimiliki. Hal ini akan meningkatkan produktifitas, sehingga tujuantujuan yang telah ditetapkan, berupa peningkatan kesejahteraan anggota koperasi khususnya petani HTR, dapat tercapai. Struktur Intern IUPHHK-HTR KUD Bima Struktur intern disini mencakup pola-pola wewenang formal dan informal, pembagian kerja, saluran-saluran komunikasi, dan metode-metode pencegahan dan pemecahan dari perselisihan-perselisihan yang pasti akan timbul mengenai kebijaksanaankebijaksanaan, prioritas-prioritas, alokasi-alokasi sumber daya, dan bahkan mengenai kepribadian-kepribadian dalam setiap struktur sosial yang kompleks. Pembagian kewenangan dan pekerjaan akan tampak jelas dalam struktur organisasi KUD Bima pada gambar 1 Namun demikian sejalan dengan masuknya unit bisnis HTR, diperlukan beberapa penyesuaian untuk dapat mengakomodir unit bisnis dimaksud. Hubungan Fungsional IUPHHK-HTR KUD Bima Hubungan fungsional dapat terjadi antara KUD Bima dengan para pihak (lembaga/instansi terkait) dalam pengembangan lembaga IUPHHK-HTR. Hubunganhubungan tersebut sangat berperan dalam percepatan pembangunan dan pengembangan lembaga IUPHHK-HTR. Beberapa lembaga yang memiliki hubungan secara fungsional dengan IUPHHK-HTR KUD Bima adalah KTHTR, LSM Shorea, Dinas Kehutanan Kabupaten Gunung Kidul, Dinas Kehutanan Provinsi DIY, BP2HP Wil. VIII Surabaya, BPKH Wil. XI Jawa Madura, Ditjen Bina Usaha Kehutanan Kementerian Kehutanan, dan Perguruan Tinggi

PENGELOLAAN HUTAN TANAMAN RAKYAT Kegiatan pengelolaan HTR ditujukan agar pengelolaan hutan dapat menerapkan pengelolaan yang didasarkan atas prinsip-prinsip kelestarian hutan yang akan mendukung kelestarian usaha. Simon (2007) menyatakan bahwa untuk mewujudkan asas kelestarian dalam pengelolaan hutan diperlukan beberapa persyaratan, yaitu : 1. Ada kepastian batas kawasan hutan yang diakui oleh semua pihak. 2. Ada sistem permudaan yang menjamin bahwa upaya pembangunan hutan selalu berhasil dengan baik. 3. Jumlah pemanenan tidak melampaui kemampuan riap kayu dari seluruh kawasan hutan atau pemanenan tidak melampaui etat sesuai dengan riapnya, tidak over cutting. Dalam timber management, ketiga syarat tersebut mutlak harus terpenuhi, jika salah satu dari tiga syarat tersebut tidak terpenuhi, maka asas kelestarian hasil tidak akan tercapai. Berdasarkan dokumen rencana pengelolaan, sistem silvikultur yang digunakan adalah sistem tebang pilih permudaan alam dengan pengelolaan lahan berupa wanatani/agroforestry. Hasil pengamatan dilapangan memperlihatkan bahwa pada areal tersebut telah ditanami kombinasi tanaman semusim dengan tanaman berkayu berbagai umur dan ukuran. Hal ini disebabkan selama ini masyarakat penggarap menerapkan sistem tebang butuh. Sepanjang pohon tersebut sudah laku dijual, dan mereka membutuhkan dana untuk memenuhi kebutuhannya (seperti biaya sekolah, pernikahan, membangun rumah dan kebutuhan lainnya), mereka akan memenuhi keperluan tersebut dengan menebang pohon. Disarankan agar sistem silvikultur yang digunakan adalah multisistem silvikultur sesuai dengan kondisi tapak dan keinginan penggarap lahan/petani. Penggunaan multisistem silvikultur ini berarti pada suatu kawasan pengelolaan digunakan dua atau lebih sistem silvikultur sesuai dengan kondisi tapak dan sosial masyarakat setempat. Penataan Areal IUPHHK-HTR KUD Bima Areal HTR IUPHHK-HTRKUDBima telah memiliki batas kawasan yang jelas dan diakui oleh berbagai pihak (pemerintah, masyarakat maupun LSM). Untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan pengelolaan, areal tersebut dibagi menjadi blok-blok kerja. Saat ini pembagian blok didasarkan kekompakan lahan HTR. Pada masing-masing desa, pengelolaan dikoordinir oleh ketua KTHTR dibantu pengurus KTHTR. Selanjutnya untuk memudahkan koordinasi, pada setiap dua dusun yang berdekatan dibuat sub KTHTR. Pengelolaan Areal IUPHHK-HTR KUD Bima disarankan dilakukan berdasarkan wilayah administrasi desa. Hal ini sangat memungkinkan mengingat pada kedua desa tersebut telah berdiri KTHTR Jati Lestari di Desa Candirejo dan Paman Polah di Desa pacarejo. Pembagian blok kerja didasarkan atas kemudahan dalam pengorganisasian baik secara fisik lahan maupun pemilik hutan rakyat serta organisasi pengelolaan yang berbentuk KTHTR. Pengelolaan areal tersebut adalah sebagai berikut : 1. Wilayah kerja IUPHHK-HTR KUD Bima merupakan unit perencanaan (planning unit) yang menjadi basis untuk perhitungan etat. 2. Areal IUPHHK-HTR KUD Bima dibagi dua blok menjadi Blok Candirejo dan Blok Pacarejo. Blok kerja ini selanjutnya menjadi unit manajemen tingkat tegakan atau dapat disebut dengan stand level management sehingga didapatkan organisasi pengelolaan yang efektif dan efisien. 3. Kedua blok tersebut selanjutnya dibagi-bagi menjadi Sub Blok berdasarkan administrasi Dusun. Sub Blok ini bisa terdiri lebih dari satu dusun, sesuai proporsi luasan areal HTR pada tiap dusun yang dapat menampung pelaksanaan kegiatan penanaman, pemeliharaan dan pemanenan secara efektif dan efisien.

Pembagian tersebut merupakan pengelolaan hutan yang bersifat adaptif, yaitu proses pengelolaan ke arah yang lebih sesuai dengan keadaan lingkungan lokalnya guna mempertahankan kelestarian hutan baik dari sisi ekonomis maupun ekologis. Pemanenan Dalam konsep kelestarian hasil hutan, pemanenan tidak boleh melebihi riap atau etat. Untuk itu perlu dilakukan penentuan jatah tebangan tahunan atau AAC (Annual Allowable Cut). Hasil inventarisasi pada tabel 1. memperlihatkan bahwa potensi di desa Candirejo lebih tinggi dibandingkan desa Pacarejo. Berdasarkan hasil wawancara dengan KTH Paman Polah terungkap bahwa rendahnya potensi kayu di areal HTR Desa Pacarejo disebabkan karena adanya penebangan oleh masyarakat pada tahun 2008. Penebangan ini dipicu adanya salah informasi yang diterima pengarap lahan, bahwa lahan garapan akan diambil alih oleh Negara (dalam hal ini Dinas Kehutanan Provinsi). Isu tersebut, menggerakkan penggarap mengambil (menebang) pohon yang merupakan hasil tanaman mereka, sehingga banyak lahan yang saat ini sedikit tegakan berdiameter diatas 10 cm. Tabel 1. Rekapitulasi hasil inventarisasi hutan IUPHHK-HTR KUD Bima
No Lokasi Luas (ha) Jumlah Pohon Vol total (m3) Vol Masak Tebang (m3)

1 2

Candirejo Pacarejo Total

2,09 2,11 4,20 1,00 84,25

555 176 731 174 14.667

48,38 13,16 61,535 14,65 1.234,68

23,46 6,03 29,493 7,02 591,77

Potensi per hektar Potensi Seluruh areal

Potensi kayu saat ini berkisar 14,65 m3 per hektar atau 174 pohon per hektar, dengan jumlah pancang dan semai per hektar yaitu sebesar 606 dan 323 batang, sehingga total tanaman berkayu adalah adalah sebesar 1.103 pohon. Kegiatan inventarisasi hutan secara menyeluruh akan dilakukan setiap 10 tahun sekali dan dimulai pada tahun 2012. Hasil inventarisasi secara berkala 10 tahunan dapat dijadikan sebagai indikator kelestarian tegakan hutan. Jika tandon tegakan hutan meningkat maka jatah tebangan tahunan juga meningkat, sebaliknya jika tandon tegakan menurun maka jatah tebangan tahunan juga harus diturunkan untuk menjaga kelestariannya. Tabel 2.
No

Hasil perhitungan etat pada buku RKT 2012, metode Von Mantel, Hanzlik dan riap seluruh areal.
Metode Etat (m3/tahun) Keterangan

metode

1 2 3 4

Asumsi Von Mantel Hanzlik Riap seluruh areal

252,75 164,62 190,32 206,70

Buku RKT 2012 Inventarisasi hutan Inventarisasi hutan

Berdasarkan tabel 2. dapat diketahui bahwa hasil perhitungan etat dalam Buku RKT 2012 lebih besar dibandingkan perhitungan etat hasil inventarisasi hutan, terutama dengan metode von Mantel. Perbedaan juga tampak pada jumlah tandon tegakan. Tandon tegakan pada buku RKT sebesar 3.791,25 m3 atau 45 m3 per hektar, sedangkan tandon

tegakan berdasarkan hasil inventarisasi hutan sebesar 1.234,68 m3 atau 14,65 m3 per hektar. Hal ini akan berpengaruh pada saat nilai tandon tegakan ini digunakan sebagai indikator kelestarian hasil. Jika 10 tahun kemudian perhitungan tandon tegakan didasarkan oleh hasil inventarisasi, sangat mungkin dihasilkan tandon tegakan dibawah tandon tegakan 10 tahun sebelumnya pada buku RKT. Ini akan mempengaruhi penilaian dalam kelestarian hasil, sebab jika tandon tegakan 10 tahun kemudian lebih besar dari tandon tegakan saat ini, maka hutan dapat dikatakan tidak lestari yang harus diikuti dengan penurunan etat. Perhitungan etat yang disarankan untuk pengelolaan IUPHHK-HTR KUD Bima dalam periode 10 tahun ini adalah Metode Von Mantel. Pemilihan ini didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut : 1. Perhitungan etat Von Mantel didasarkan dari hasil inventarisasi hutan. 2. Perhitungan etat von Mantel lebih sederhana dibandingkan dengan etat Hanzlik 3. Pada areal IUPHHK-HTR tersebut belum pernah dilakukan perhitungan riap secara cermat. 4. Sumber daya manusia di IUPHHK-HTR KUD Bima masih perlu ditingkatkan untuk dapat melakukan perhitungan etat dengan metode yang didasarkan riap tegakan. 5. Perhitungan etat menggunakan asumsi seperti pada buku RKT tidak didasarkan pada kondisi tegakan di lapangan. Sistem tebang pilih dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : 1. Menghitung potensi tegakan hutan melalui kegiatan inventarisasi, hasil penelitian didapatkan potensi tegakan keseluruhan (84,25 ha) adalah sebesar 1.234,68 m3 atau 14,65 m3 per hektar. 2. Menghitung hasil tebangan tahunan kayu yang boleh dilakukan berdasarkan potensi yang ada. Hasil penelitian didapatkan jumlah tebangan maksimal pertahun selama periode RKU (sampai dengan tahun 2020) adalah 164,62 m3/tahun (metode von Mantel). 3. Merencanakan pemanenan hasil hutan kayu yang merupakan akumulasi dari seluruh unit pengelolaan atau unit manajemen dengan metode tebang pilih. Kegiatan tebang pilih dapat dilakukan dengan dua cara (Baker dkk, 1992), yaitu : a. Seleksi pohon tunggal, dimana individu pohon diambil dan permudaan baru dilakukan dekat tunggul pohon yang ditebang. b. Seleksi kelompok, dimana pohon ditebang berkelompok, terutama ada lahan garapan yang ditanami pohon secara monokultur, sehingga menciptakan tempat terbuka yang lebih lebar pada tegakan tidak seumur. Areal yang ditebang tersebut harus tidak begitu besar, sehingga tidak menghilangkan proteksi tempat tumbuh oleh pohon-pohon sekeliling. 4. Membuat rencana penebangan menurut waktu dan tempat, dengan pertimbangan pemilihan pohon sebagai berikut : a. Pohon yang telah memiliki diameter minimal 15 cm untuk jati dan 20 cm untuk jenis campuran. Penetapan batas diameter merupakan kontrol awal kegiatan pemanenan pohon. b. Didasarkan pada struktur tegakan (jenis, diameter dan umur) pada masing-masing lahan garapan, dan dimasukkan dalam buku RKT. Pengolahan lahan Pengolahan lahan tidak boleh dilakukan dengan sistem tebas bakar. Kegiatan ini dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu pembersihan lahan, pembuatan terasering dan penggemburan tanah. Kegiatan pengolahan lahan dilakukan dengan peralatan manual

10

seperti parang dan cangkul. Pembersihan lahan dilakukan dengan membersihkan tumbuhan bawah, semak dan belukar dengan parang dan cangkul. Setelah dibersihkan dilanjutkan dengan pembuatan terasering pada lahan-lahan miring sebagai bagian dari tindakan konservasi tanah. Pembuatan terasering dilakukan dengan menumpuk batu-batu yang banyak terdapat di areal tersebut pada sisi terluar terasering. Dilanjutkan dengan penggemburan tanah pada areal yang akan ditanami tanaman semusim dan pembuatan lubang tanam dengan menggunakan cangkul sesuai dengan tempat yang akan ditanam atau di dekat pohon yang telah ditebang. Penanaman Tanaman semusim yang biasa ditanam adalah kacang kedelai, jagung, kacang tanah dan tanaman kacang-kacangan lain, sedangkan tanaman tahunan yang biasa dilakukan adalah jenis Jati, dan sebagian kecil sengon, mahoni, dan trembesi. Pemilihan jenis tanaman merupakan kesepakatan antara pemegang izin IUPHHK-HTR dan KTHTR, sesuai pengetahuan dan minat penggarap lahan. Secara umum jenis tanaman tahunan berkayu yang diminati adalah Jati. Hasil wawancara dengan pengurus KTHR terungkap bahwa selain karena telah terbiasa menanam jati, pertimbangan lain adalah kayu yang dihasilkan lebih baik (untuk dijual maupun digunakan sendiri) dan harga kayu jati relatif lebih tinggi dibandingkan dengan jenis lain. Faktor pendukung lain adalah bahwa tanaman tahunan masih dianggap sebagai tabungan oleh penggarap lahan, sehingga walaupun waktu yang diperlukan lebih lama namun untuk keperluan sehari-hari mengandalkan hasil dari tanaman musiman. Kebiasaan masyarakat menggunakan bibit dari anakan yang tumbuh baik pada lahan garapan perlu diubah menggunakan bibit atau benih yang digunakan menggunakan bibit unggul dari sumber terpercaya yang telah banyak dijual dipasaran untuk mendapatkan hasil kayu optimal. Kegiatan pengadaan bibit juga dapat memanfaatkan beberapa program pemerintah seperti subsidi/bantuan maupun mengajukan sebagai pengelola Kebun Bibit Rakyat (KBR). Penanaman tanaman dilakukan pada awal musim penghujan untuk memudahkan pemeliharaan. Menurut pegurus KTHTR, penanaman diawal musim penghujan dapat mengurangi resiko kematian bibit tanaman dan kebutuhan air bibit dapat dipenuhi oleh air hujan. Penanaman dilakukan dengan membuat lubang tanam 50 cm panjang, lebar dan kedalamannya. Setelah itu diberi pupuk kandang yang dicampur seresah, dan didiamkan beberapa hari selanjutnya ditanam bibit pohon. Menurut pengurus KTHTR, pembiaran pupuk beberapa waktu ditujukan untuk mengurangi efek yang dapat menyebabkan kematian bibit. Penanaman disepakati menggunakan jarak tanam proporsional maksimal 4 x 4 m untuk memfasilitasi kegiatan budidaya tanaman semusim. Penanaman dilakukan oleh masing-masing penggarap sesuai dengan keadaan lahan masing-masing penggarap. Dengan demikian dapat dikatakan setiap tahun kegiatan penanaman dilakukan pada seluruh areal kerja IUPHHK-HTR. Pemeliharaan, Perlindungan dan Pengamanan Kegiatan pemeliharaan terdiri dari kegiatan pemupukan, penyulaman, pendangiran, pengendalian gulma, pemangkasan cabang dan penjarangan. Secara umum pemupukan lanjutan (setelah penanaman) tidak dilakukan khusus pada tanaman tahunan, namun demikian ada penggarap yang memberikan pupuk kandang diatas permukaan tanaman tahunan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman tahunan tersebut. Pemupukan dilakukan terhadap tanaman semusim baik dengan pupuk kandang dicampur seresah

11

maupun pupuk kimia urea dan TSP dan dengan sendirinya tanaman tahunan juga mendapatkan pupuk tambahan tersebut. Penyulaman dilakukan terhadap anakan yang mati dengan sumber bibit secara umum dari cabutan yang ada di sekitar lahan garapan. Pendangiran dan pengendalian gulma lebih difokuskan pada tanaman semusim, sambil melakukan pembersihan terhadap liana yang membelit pohon, terutama pohon yang masih muda dan semai. Setelah pohon besar tidak lagi dilakukan kegiatan pendangiran dan pengendalian gulma secara khusus. Kegiatan pemangkasan cabang dilakukan pada tanaman muda, sebaiknya ketika tanaman mulai masuk tahun ke-3. Hasil pengamatan pada areal IUPHHK-HTR secara umum pohon belum dirawat secara baik, terutama kegiatan pemangkasan. Banyak pohon dengan batang yang tidak lurus maupun banyak cabang (tidak dilakukan pemangkasan). Cabang yang dipangkas sebaiknya cabang yang tingginya sampai dengan setengah tinggi pohon total (< 50% dari tinggi total). Pemangkasan cabang dilakukan sedekat mungkin dengan batang. Kegiatan ini perlu diwajibkan kepada anggota KTHTR untuk meningkatkan tinggi bebas cabang dan mengurangi mata kayu dari batang utama. Penjarangan sangat perlu dilakukan dalam pengelolaan tegakan, terutama pada lahan yang ditanami pohon semua (full tree). Hasil pengamatan dilapangan, dari satu tunggak bisa tumbuh satu sampai tiga terubusan bahkan lebih. Hal ini menunjukkan kegiatan penjarangan belum banyak dilakukan, masih banyak pohon yang tumbuh secara rapat, terutama pada pohon terubusan. Sikap ini sangat mungkin dipengaruhi oleh slogan banyak pohon banyak rejeki yang berkembang di masyarakat. Pada pohon hasil terubusan ini perlu dilakukan penjarangan untuk meningkatkan kualitas pohon dan pertambahan diameter. Clutter dkk. (1983) menjelaskan bahwa kegiatan penjarangan (thinning), yang bertujuan memberikan ruang tumbuh pohon, secara konsisten meningkatkan diameter pohon meskipun pertumbuhan tinggi tidak berpengaruh secara signifikan. Perlindungan dan pengamanan hutan dilakukan terhadap hama penyakit, kebakaran hutan dan pencurian kayu. Resiko terbesar adalah dari hama dan penyakit. Serangan hama dan penyakit dapat dihindari melalui penjarangan secara rutin dan pemberian insektisida/herbisida sesuai dengan tipe, formulasi dan waktu yang tepat. Resiko kebakaran dan pencurian selama ini hampir tidak pernah terjadi. Hal ini disebabkan penggarap sehari-hari berada di lahan garapan untuk melakukan pemeliharaan tanaman musiman. Selain itu dengan banyaknya anggota KTHTR, kegiatan pengamanan dapat dilakukan secara swadaya, dan apabila ada gangguan akan dapat terdeteksi lebih dini. Pengolahan Hasil dan Pemasaran Secara umum, saat ini kegiatan pengolahan hasil kayu masih pada tahap kayu bulat, dimana kayu hasil pemanenan akan di lakukan pembagian batang sesuai ukuran yang berlaku dipasaran atau sesuai pesanan konsumen. Produk kayu bulat tersebut rencananya akan dipasarkan langsung kepada pengepul kayu maupun industri kayu skala kecil maupun menengah di wilayah Yogyakarta. Selain itu sistem pemasaran kayu masih akan terus dikembangkan, mengingat hal ini adalah hal baru bagi KUD BIMA. Untuk itu perlu dilakukan studi banding terhadap koperasi-koperasi di sekitar DIY terhadap mekanisme penjualan kayu dan tujuan pemasarannya. Dalam jangka panjang, kegiatan pengolahan lanjutan dari kayu bulat menjadi barang setengah jadi perlu dipertimbangkan. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh KUD Bima dengan membuka sayap usaha berupa industri penggergajian atau industri veneer sebagai bahan baku kayu lapis.

Diskusi Rekomendasi Program HTR sudah cukup memberikan ruang kepada masyarakat dalam melakukan perencanaan kegiatan pengelolaan (penanaman, pemeliharaan sampai pemanenan dan pemasaran), namun masih harus dibuka akses terhadap hutan produksi yang produktif. Wacana (keinginan) dari Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten) untuk mendapatkan manfaat berupa uang dari hasil penjualan kayu HTR perlu dikaji lebih mendalam, karena pemerintah sesungguhnya telah mendapatkan manfaat uang dari dana PSDH atas hasil penjualan kayu, yang selanjutnya dilakukan bagi hasil antara pemerintah pusat dan daerah.

KESIMPULAN 1. Proses pelembagaan KUD Bima sebagai Unit Manajemen IUPHHK-HTR merupakan pengembangan dari lembaga yang telah ada. KUD Bima adalah organisasi modern berupa adanya Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART), tata tertib, dan struktur organisasi. Keberadaan IUPHHK-HTR KUD Bima telah merubah pola pengelolaan yang sebelumnya berbasis keluarga (individual action) menjadi berbasis unit manajemen (collective action) 2. Penerapan asas kelestarian dalam pengelolaan HTR masih belum optimal, terutama permudaan kembali yang masih menggunakan cabutan alam, pemangkasan cabang dan penjarangan masih belum optimal, dan pemanenan belum berdasarkan perencanaan menurut waktu dan tempat. 3. Rumusan Pengelolaan HTR oleh KUD adalah sebagai berikut : a. Sistem silvikultur yang digunakan adalah multisistem silvikultur. b. Penataan batas secara partisipatif, dan penataan areal didasarkan kemudahan dalam pengorganisasian fisik lahan dan penggarap. c. Pemanenan didasarkan hasil perhitungan etat Von Mantel, yaitu sebesar 164,62 m3/tahun dengan tandon tegakan sebesar 1.234,68 m3. Kegiatan penebangan dilakukan dengan tebang pilih dan didasarkan rencana penebangan menurut waktu dan tempat. d. Pembangunan hutan/permudaan menggunakan bibit unggul yang terpercaya dan pemeliharaan tegakan, terutama kegiatan pemangkasan cabang dan penjarangan masih harus dilaksanakan secara konsisten untuk meningkatkan kualitas kayu yang dihasilkan. REFERENSI Baker, F.S., T. W. Daniels, dan J.A. Helms. 1992. Prinsip-prinsip Silvikultur. Terjemahan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Clutter, L.C., J.C. Fortson, L.V. Pineaar, G.H. Brister, R.L. Bailey. 1983. timber management : a Quantitative Approach. John Wiley & Sons. Canada Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan. 2011. Statistik Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan 2010. Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan, Kementerian Kehutanan. Eaton, JW. 1986. Pembangunan Lembaga dan Pembangunan Nasional: Dari Konsep ke Aplikasi. UI Press. Jakarta. Simon, H. 2007. Perencanaan Pembangunan Sumber Daya Hutan. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Widayanti, W.T. 2006. Inventarisasi Tegakan dan Pengaturan Hasil Hutan pada Pengelolaan Hutan Rakyat. Modul. Pusat Kajian Hutan Rakyat Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.