P. 1
Xkh1 Polikultur Udang Bandeng Rumput Laut

Xkh1 Polikultur Udang Bandeng Rumput Laut

|Views: 470|Likes:
Dipublikasikan oleh Akmed Khaizan

More info:

Published by: Akmed Khaizan on Jun 15, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2014

pdf

text

original

AGRITEK VOL. 16 NO.

9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

KAJIAN BUDIDAYA POLIKULTUR UDANG WINDU (Penaeus monodon Fab), IKAN BANDENG (Chanos-chanos Forskal) DAN RUMPUT LAUT (Gracillaria sp) SECARA TRADISIONAL
Murachman dan Sahri Muhammad Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UB Nuhfil Hanani dan Soemarno Dosen Fakultas Pertanian, UB ABSTRAK Budidaya polikultur udang windu, ikan bandeng dan rumput laut merupakan alternatif untuk memecahkan masalah kualitas air yang menjadi kendala turunnya produksi ikan di tambak. Tujuan penelitian mengetahui model pengelolaan budidaya polikultur udang windu, ikan bandeng dan rumput laut. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode studi kasus di Dusun Tanjungsari, Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Sampel berupa pembudidaya tambak beserta tambaknya sebanyak 38 pembudidaya terdiri dari 18 pembudidaya polikultur tiga komoditas (udang windu, ikan bandeng dan rumput laut) dan 20 pembudidaya polikultur dua komoditas (udang windu dan ikan bandeng) yang ditentukan secara proporsional sampling. Variabel yang diteliti terdiri dari jenis komoditi, perlakuan yang dilakukan pada proses budidaya, padat tebar, sumber dan kualitas air, hutan mangrove, kelembagaan sosial dan ekonomi, modal investasi dan operasional, produksi, kualitas air dan kesuburan perairan dan keuntungan finansial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model budidaya polikultur tiga komoditas terdiri dari komponen penetapan lokasi tambak, persiapan tambak, pemeliharaan, panen, kelembagaan sosial dan kelembagaan ekonomi. Terdapat tiga faktor pendukung penetapan lokasi tambak yaitu tanah dasar tambak, sumber air laut dan air tawar dan keberadaan hutan mangrove. Kualitas air berada pada kesesuaian standar kualitas air untuk tambak dengan kesuburan yang relatif tinggi. Padat tebar udang windu dan ikan bandeng tidak berbeda nyata antara budidaya polikultur dua komoditas dan tiga komoditas. Sedangkan padat tebar rumput laut 975 kg/ha untuk tambak tiga komoditas. Keberadaan rumput laut pada tambak polikultur tiga komoditas menjadikan kualitas airnya lebih baik dibandingkan dengan tambak budidaya polikultur dua komoditas. Kandungan oksigen terlarut 7, 165 mg/l, kecerahan air 50, 875 cm, NH3 0, 157 mg/l, H2S 0, 025 mg/l, NO2 0, 109 mg/l, PO-34 0, 461 mg/l, pH 8, 05, TOM 38, 635 mg/l, TSS 176, 418 mg/l, alkalinitas 4, 665 mg/l, suhu 32, 965 0C, salinitas 32,5, BOD 2, 88 mg/l dan logam Pb 0, 245 mg/l. Produksi udang windu 201, 11 kg/ha/mt dan ikan bandeng 1180, 56 kg/ha/mt adalah lebih tinggi dari produksi tambak polikultur dua komoditas baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif menunjukkan bahwa untuk udang windu kelimpahan plankton dalam lambung 11. 466 ind/lt, pertumbuhan mutlak 23, 93 gram, kegemukan 0, 604114, kelulushidupan 53 % dan ukuran rata – rata 34 ekor/kg. Sedangkan untuk ikan bandeng kelimpahan plankton dalam lambung udang 69. 845 ind/lt, pertumbuhan mutlak 354, 99 gram, kegemukan 0, 814181, kelulushidupan 95 % dan ukuran rata – rata 4, 25 ekor/kg. Keuntungan finansial pembudidaya polikultur tiga komoditas mencapai Rp. 20. 717. 628,- ha/MT dan pembudidaya dua komoditas mencapai Rp. 11. 924. 115,-ha/MT. Kata kunci : polikultur, dua komoditas, tiga komoditas

93

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

ABSTRACT Polyculture is an alternative to solving water quality problems leading to decrease of fish production in the ponds. The present research is aimed at establishing the management of polyculture of black tiger prawn, milkfish, and seaweed. This study employs method of case study in Dusun Tanjung Sari, Desa Kupang, sub-district of Jabon, Regency of Sidoarjo. Samples were collected from 18 polyculturers of three commodities (black tiger prawn, milkfish, and seaweed) and 20 polyculturers of two commodities (black tiger prawn and milkfish) by means of proportional sampling. Variables to be investigated were type of commodity, treatment in the polyculture processes, stocking density, water quality, mangrove forest, social and economic institutions, investment and operational funds, production, quality and fertility of water, and financial gain. Results of the present study show that the three-commodity model of polyculture consists of capability to determine pond sites, pond preparation, maintenance, harvesting, and social and economic institutions. There are three supporting factors in determining pond sites, namely pond bottom soils, sources of freshwater and seawater and the presence of mangrove forest. Water quality is in agreement with standards of water quality for ponds with relatively high fertility. Stocking densities for black tiger prawns and milkfish are not significantly different between two- and three-commodity polyculture. The stocking density for seaweed is 975 kg/ha for three-commodity ponds. The presence of seaweed in the threecommodity polyculture ponds results in better water quality compared to the twocommodity polyculture ponds. Dissolved oxygen content is of 165 mg/l, water clarity of 50.875 cm, NH3 of 0.157 mg/l, H2S of 0,025 mg/l, NO2 of 0,109 mg/l, PO4-3 of 0,461 mg/l, pH of 8.05, TOM of 38.635 mg/l, TSS of 176,418 mg/l, alkalinity of 4,665 mg/l, temperature of 32.965°C, salinity of 32.5, BOD of 2.88 mg/l and Pb of 0,245 mg/l. Production of black tiger prawns of 201.11 kg/ha/m and milkfish of 1180,56 kg/ha/m are higher than production of two-commodity polyculture ponds, both quantitatively and qualitatively. Quantitatively, it is shown that, for black tiger prawns, abundance of plankton within intestines are of 11,466 individuals/liter, absolute growth is 23.93 g, fatness is 0.604114, survival of 53%, and average size of 34 animals/kg. meanwhile, for milkfish, it is shown that abundance of plankton within intestines are of 69,845 individuals/liter, absolute growth is 354,99 g, fatness is 0.814181, survival rate of 95%, and average size of 4.25 animals/kg. Financial profit of three-commodity polyculture amounts to Rp. 20,717,628 per ha per culture season and two-commodity polyculture amounts to Rp. 11,924,115 ha per culture season. Key words : polyculture, two commodities and three commodities PENDAHULUAN Wilayah pesisir merupakan kawasan yang mempunyai karakteristik tertentu dan subur, sehingga memiliki daya tarik yang besar sebagai tujuan wisata dan pengem bangan kegiatan perikanan serta tujuan lain yang menghasilkan banyak keuntungan finansial. Kegiatan perikanan di wilayah pesisir adalah usaha perikanan budidaya di tambak untuk udang, ikan bandeng dan atau udang dan ikan bandeng (Dahuri et al., 1996). Pembudidayaan ikan merupakan kegiatan memelihara, membesarkan dan memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol. Pembudidayaan ikan dapat dilakukan secara polikultur yaitu pembu didayaan ikan lebih dari satu jenis secara terpadu. Budidaya polikultur terpadu dan sinergis saat ini banyak diteliti dan dikaji karena dapat meningkatkan kulitas air. Diintegrasikannya rumput laut (Gracilaria

94

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

sp) kedalam kegiatan polikultur udang windu (Penaeus monodon Fabrisius) dan ikan bandeng (Chanos-chanos Forskal) secara terpadu. Pada umumnya pembudi dayaan secara tradisional selalu menge depankan luas lahan, pasang surut, intercrop dan tanpa pemberian makanan tambahan sehingga makanan bagi komo ditas yang dibudidayakan harus tersedia secara alami dalam jumlah yang cukup. Udang windu, ikan bandeng dan rumput laut secara biologis memiliki sifat – sifat yang dapat bersinergi sehingga budidaya polikultur semacam ini dapat dikembangkan karena merupakan salah satu bentuk budidaya polikultur yang ramah terhadap lingkungannya. Rumput laut merupakan penyuplai oksigen melalui fotosintesis pada siang hari dan memiliki kemampuan untuk menyerap kelebihan nutrisi dan cemaran yang bersifat toksik di dalam perairan. Sedangkan ikan bandeng sebagai pemakan plankton merupakan pengendali terhadap kelebihan plankton dalam perairan. Kotoran udang, ikan bandeng dan bahan organik lainnya meru pakan sumber hara yang dapat diman faatkan oleh rumput laut dan fitoplankton untuk pertumbuhannya. Hubungan yang seperti ini dapat menyeimbangkan eko sistem perairan. Sehingga perlu diteliti bagaimana model pengelolaan budidaya polikultur udang windu, ikan bandeng dan rumput laut. Penelitian bertujuan untuk mengetahui model budidaya polikultur udang windu, ikan bandeng dan rumput laut secara tradisional. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan dengan mengguna kan metode studi kasus di Dusun Tanjungsari, Desa Kupang, Keca matan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Kasus berupa kegiatan budidaya polikultur tradisional di tambak. sampel berupa pembudidaya polikultur beserta tambaknya yang ditetapkan secara porposive sam

pling. Sampel sebanyak 38 pembudidaya terdiri dari 18 pembudidaya polikultur tiga komoditas dan 20 pembudidaya polikultur dua komoditas. Variabel penelitian meli puti lingkungan makro tambak, karakte ristik pembudidaya, cara pengelolaan tambak dan perlakuan – perlakuan yang diberikan, padat tebar, kualitas air, kesuburan air, produksi tambak, keuntung an pembudidaya polikultur dan model budidaya polikultur tiga komoditas. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan, wawancara dan pengumpulan data sekunder. Disam ping sampel tersebut diatas juga diadakan pengujian terhadap tanah dasar tambak, air sumber dan air tambak beserta komoditas yang dibudidayakan. Untuk mencapai tujuan penelitian, penelitian dilakukan dengan berbagai tahapan yaitu : Keadaan lingkungan makro polikultur Keadaan umum dan cara penge lolaan tambak polikultur Analisis kualitas air dan kesuburan air di tambak polikultur dua dan tiga komo ditas. Produksi tambak dan analisa finansial yang diterima oleh pembudidaya polikultur Penyusunan model budidaya poli kultur udang windu, ikan bandeng dan rumput laut. Data dianalisa secara deskriptif dan untuk melihat perbedaan antar variabel dilakukan uji t.

95

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Pembudidaya
Tabel 1. Karakteristik Tingkat Pendidikan, Jumlah Keluarga Dan Pengetahuan Pembudidaya Budidaya Polikultur 2 Komoditas dan 3 Komoditas
Pembudidaya Karakteristik Pendidikan : SD SMP SLTA Tidak tamat SD Jumlah Keluarga : Minimal Maksimal Rata – rata Penyuluhan : Pernah Tidak Pernah 2 komoditas (%) 50 20 10 20 2 6 4.5 20 80 3 komoditas (%) 50 44.5 5.6 2 9 4.3 33.3 66.7

tambak mencapai 8,71 ha dengan luas terkecil 6,0 ha dan luas terbesar 24,0 ha.
Tabel 2. Karasteristik Tingkat Mata Pencaharian Pembudidaya Budidaya Polikultur 2 Komoditas dan 3 Komoditas
Pembudidaya 2 3 komodit komoditas as 5 Ha 25 Ha 10.5 Ha 30 % 45 % 10 % 15 % 6 Ha 24 Ha 8.7 Ha 16.7 % 55.6 % 16.7 % 5.6 %

Karakteristik Kepemilikan Lahan (Ha) : Minimal Maksimal Rata – rata Pekerjaan (%) Petambak Petambak dan sampingan Pendega tambak Pendega dan sampingan Teknologi yang digunakan (%) : Tradisional Semi tradisional Intensif Pengetahuan Budidaya (%) : Pengalaman sendiri Informasi sesama petambak Pengalaman dan lainnya

Tingginya tingkat pendidikan pembu didaya tiga komoditas karena sebagian besar berasal dari perkotaan yang kemu dian membeli tambak di dusun Tanjung sari. Rendahnya intensitas penyuluhan ini, mengakibatkan pembudidaya untuk mema jukan teknologi budidayanya terpaksa banyak yang berusaha mencari tahu kepada sesama pembudidaya. Penyuluhan meru pakan kegiatan yang sangat penting karena segala bentuk kegiatan penyuluhan meru pakan kegiatan pendidikan bagi petani, peternak maupun nelayan. Tujuan pendidik an penyuluhan ialah untuk membantu masyarakat agar dapat berusaha tani dengan lebih baik, dan menikmati kehi dupan rumah tangga dengan lebih baik dan memuaskan. Mata Pencaharian Pembudidaya Ikan Pembudidaya dua komoditas rata – rata kepemilikan tambak mencapai 10,5 ha, dengan luas terkecil 5,0 ha dan luas terbesar 25,0 ha. Sedangkan pembudidaya tiga komoditas rata – rata kepemilikan

100 % -

100 % -

60 % 30 % 10 %

50.6 % 44.4 %

Pengetahuan pembudidaya dua komo ditas sebanyak 60 % diperoleh dari hasil pengalaman sendiri yang didasari penge tahuan dari nenek moyangnya dan seba nyak 30 % pengetahuan budidaya polikultur ikan bandeng dan udang diperoleh dari berita sesama pembudidaya, sedang kan sisanya sebanyak 10 % diperoleh dari gabungan pengalaman sendiri dan berita dari sesama pembudidaya. Sedangkan pengetahuan budidaya polikultur tiga komoditas yaitu ikan bandeng, udang dan

96

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

rumput laut pembudidaya sebanyak 55,56 % menyatakan memperoleh dari berita sesama pembudidaya, sedangkan sisanya sebanyak 44,44 % pembudidaya memperoleh dari berbagai sumber dari kegiatan seperti mengikuti penyuluhan yang diselenggarakan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sidoarjo dan pihak lain yang berkepentingan dengan produksi tambak seperti perusahaan pembekuan, perusahaan pakan dan lain – lainnya. Disamping itu juga diperoleh dari kunjungan lapang ke daerah lain, pelatihan budidaya ikan dan berita dari media cetak dan elektronik. Kunjungan lapang ke daerah lain dan pelatihan budidaya ikan biasanya difasilitasi dan direkomendasikan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sidoarjo. Awal Usaha, Peruntukkan Tambak dan Teknologi yang Digunakan Ditinjau dari jenis komoditas yang di budidayakan di tambak secara polikultur, pembudidaya dapat di kelompokkan menjadi dua kelompok pembudidaya yaitu pembudidaya polikultur dua komoditas yaitu udang dan ikan bandeng serta kelompok pembudidaya polikultur tiga komoditas yaitu udang, ikan bandeng dan rumput laut. Udang yang dibudidayakan secara terintegrasi baik dengan ikan bandeng ataupun dengan ikan bandeng dan rumput laut adalah udang windu (Penaeus monodon). Sedangkan rumput laut yang dipilih untuk dibudidayakan adalah Gracilaria sp. Udang windu dipilih sebagai komoditas yang dibudidayakan, karena menurut Mujiman dan Rachmatun (1989), Udang putih (Penaeus merguiensis) dan udang windu (Penaeus monodon) cepat menjadi besar dan pada dewasa mempu nyai pasaran yang baik untuk diekspor. Awal usaha, peruntukan tambak dan teknologi yang digunakan, disajikan dalam Tabel 3. Pengelolaan Tambak Polikultur

Pelaksaan Polikultur

Operasional

Tambak

Tahap persiapan baik tambak dua komoditas maupun tambak tiga komoditas antara lain seperti : keduk teplok, pengapuran, pemupukan, pemberian saponin, dan pemasukan air. Untuk lebih jelasnya, disajikan dalam Tabel 4.
Tabel 3. Karakteristik Awal Usaha, Peruntukan Tambak dan Teknologi yang Digu nakan Pembudidaya Budidaya Poli kultur 2 Komoditas dan 3 Komoditas
Pembudidaya 2 3 komodit komodi as tas 52, 63 100 100 47, 36 33, 36 66, 67 83, 33 16, 67

Karakteristik Usaha (%) : Usaha tambak Awal Usaha : Sebelum 2006 2006 – sekarang Peruntukkan : Untuk 2 komoditas Untuk 3 komoditas Sebagian untuk 2 komoditas

Tabel 4. Hasil Pengamatan dan Wawancara Tahap Persiapan Tambak Budidaya Polikultur Dua Komoditas dan Tiga Komoditas
N o. 1. Tambak Polikultur 2 3 Komodit Komodi as tas 88, 89 11, 11 2 100 31,65

Kegiatan

2.

3.

Keduk teplok (%) Melakukan 70 Tidak 30 melakukan Pengapuran (kg/ha) Minimal 4 Maksimal 100 Rata – rata 64, 29 Pemupukan (kg/ha) a. Urea

97

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

4.

5.

Minimal Maksimal Rata – rata b. TSP (kg/ Ha) Minimal Maksimal Rata – rata c. Bangeran Saponin (kg/ Ha) Minimal Maksimal Rata – rata Pemasukan air (%)

12, 5 100 38, 39 12, 5 50, 0 31, 95 3, 0 50, 0 11, 02 1000

5, 0 100 35, 15 1, 0 100 32, 12 2, 5 25, 0 16, 18 100

Pemeliharaan di Tambak Polikultur Pada budidaya ikan di tambak dengan menggunakan metode tradisional di mana ikan yang dibudidayakan hanya menggan tungkan pada pakan alami, maka pene baran nener bandeng dapat dilakukan kalau tambak sudah mengandung pakan alami. Pelaksanaan operasional tambak untuk budidaya polikultur udang dan ikan bandeng seperti pada Gambar 1. Skema bagan alir budidaya polikultur udang dan ikan bandeng.

Laut
Pemberian saponin

Pengeringan Keduk Teplok Pengapuran Pemupukan Kali Alo Pakan alami tumbuh Penebaran nener Penebaran benur Pemeliharaan Panen Hasil Panen Penebaran benih udang Penebaran nener bandeng

98

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Gambar 1.

Skema Bagan Alir Operasional Tambak Dua Komoditas alir budidaya polikultur bandeng dan rumput laut. udang, ikan

Pelaksanaan operasional budidaya polikultur udang, ikan bandeng dan rumput laut seperti pada Gambar 2 skema bagan

Laut

Panen Pemberian saponin Pengeringan Keduk Teplok Pengapuran Pemupukan
Ketinggian air 10-15cm Pemasokan Air 7 hari Rumput Laut

Penebaran RL
7 hari

Nener bandeng

Penebaran nener
7 hari Benur Udang

Penebaran benur Pemeliharaan Panen Hasil Panen
Udang, ikan bandeng dan rumput laut

99

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Gambar 2. Padat Tebar

Skema Bagan Alir Operasional Tambak Tiga Komoditas

yang pernah dilakukan dan prediksi besaran nilai mortalitas atau survival rate Padat tebar komoditas yang akan tiap komoditas. Berdasarkan hasil wawan dibudidayakan tergantung pada target cara dengan pembudidaya, padat tebar produksi yang diinginkan. Untuk memas yang dilakukan pembudidaya baik untuk tikan padat tebar yang diinginkan, pembu dua atau tiga komoditas seperti pada Tabel didaya menggunakan dasar pengalaman 5. Tabel 5. Hasil Pengamatan dan Wawancara Padat tebar Udang Windu, Ikan Bandeng dan Rumput Laut Pada Budidaya Polikultur Tiga Komoditas dan Dua Komoditas No 1. Keterangan Tambak Polikultur 2 komoditas 3 komoditas 10.28947 8.6388 12.960 100 % 2.102 10 % 90 % 14.472 100 % 2.381,33 100 %

Kepemilikan tambak (Ha) Padat Tebar Udang Windu : Jumlah/ha 2. Biasa > 1 cm Gelondongan 1-1,5 cm Padat Tebar Ikan Bandeng : Jumlah/ha 3. Biasa > 3 cm Gelondongan 3-5 cm Padat Tebar Rumput Laut : 4. Jumlah / kg Ukuran 5 gr Ket : Ukuran gelondongan benur udang windu Ukuran gelondongan nener bandeng Pemeliharaan dan Perawatan Pemeliharaan mengandung unsur pencegahan hama dan penyakit, pengelo laan kualitas air, manajemen pakan alami dan buatan serta panen (Anonymous, 2002). Pemeliharaan pada budidaya inten sif, semi intensif dan tradisional sangat berbeda dalam kadar maupun jenis kegiatannya. Pemeliharaan pada budidaya tradisional sangat sederhana. Kegiatan pemeliharaan pada budidaya polikultur dua komoditas dan budidaya polikultur tiga komoditas seperti pada Tabel 6. Kondisi Kualitas Polikultur Air Tambak

975, 47 94, 49 % : 1 cm – 1,5 cm/ PL 12 : 3 cm – 5 cm Pengelolaan air bertujuan untuk mempertahankan kualitas air layak untuk pemeliharaan dan pertumbuhan biota yang dibudidayakan. Pada prinsipnya pengelolaan air dilakukan untuk mempertahankan nilai parameter air yang layak seperti: suhu 27 – 33 0C; salinitas 15 – 33 permil; alkalinitas 90 – 158 mg/l; pH 7,5 – 8,5; oksigen terlarut > 3,0 mg/l; total organik matter < 150 mg/l; amonia < 1 mg/l; nitrat < 0,1 mg/l; kecerahan 30 – 45 cm dan kedalaman air > 70 cm (Supito et al., 2005).
Tabel 6. Hasil Pengamatan dan Wawancara Pemeliharaan Pada Budidaya Polikultur Dua Komoditas dan Tiga Komoditas
Kegiatan Pemeliharaan Tambak Polikultur 2 3

100

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Pergantian air Pemberantasan Hama : Saponin Jenis lain (kg/ha) : - Rempah - Tiodan Penambahan Pupuk : Urea (kg/ha) TSP/ Phonska Bangeran (ikat/ha) Jumlah penambahan pupuk Keamanan

komodi tas 100 % 4, 325 0, 24 1 lt

komodit as 100 % 3, 77 1, 875 lt 5, 257 3, 6

4, 176 1050 100 %

Parameter kualitas air pada beberapa penelitian tiga komoditas yang diinte grasikan pada budidaya polikultur adalah suhu, kandungan oksigen terlarut, salinitas, pH, TOM, amonia, nitrit dan kecerahan air (Supito, et al., 2005 dan Komaruddin et al., 2005). Sedangkan parameter kualitas air pada budidaya dua komoditas yang diintegrasikan secara polikultur adalah suhu, salinitas, pH, kandungan oksigen terlarut, TOM dan amonia (Rosyadi dan Daryono, 2000). Hasil pengamatan data kualitas air pada tambak dua komoditas dan tiga komoditas, dapat dilihat pada Tabel 7 dan 8.

Tabel 7. Hasil Olahan Data Kualitas Air Selama Masa Penelitian Pada Budidaya Polikultur Dua Komoditas Kualitas Air Kecerahan (cm) Suhu (°C) Salinitas (‰) DO (mg/l) TOM (mg/l) TSS (mg/l) pH Alkalinitas (mg/l) NH3 (mg/l) H2S (mg/l) NO2 (mg/l) PO3-4 (mg/l) BOD (mg/l) Pb (mg/l) Lama Pemeliharaan (Bulan) 1,5 2 2,5 34,25 34,8 46 32,55 33,58 34,4 37 32 36,6 6,33 5,53 6,58 22,7515 24,7748 30,336 207,04 331,6 398,72 8,1 8,2 8,05 107 89,6 40 0,26 0,112 0,15 0,032 0,025 0,025 0,0898 0,109 0,1297 0,3417 0,4821 0,4513 5,06 4,462 5,01 0,44 0,56 0,68

1 46 33,7 31 6,83 29,705 101,2 8,3 116,5 0,2825 0,118 0,1116 0,2732 5,82 0,24

3 38 33,94 33,4 6,92 22,2472 322,88 8,12 89,6 0,188 0,0029 0,1284 0,7601 7,148 0,698

Data kualitas air dikelompokkan berdasarkan lama pemeliharaan budidaya poli kultur. Untuk lama pemeliharaan budidaya polikultur dua komoditas berselang waktu 0,5 bulan selama 3,0 bulan. Sedangkan untuk lama pemeliharaan budidaya poli kultur tiga komoditas berselang waktu 1,0 bulan selama 5,0 bulan. Perbedaan ini disebabkan adanya perbedaan lama pene

litian, terutama pada komoditas udang windu. Beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti yang membudidayakan udang dan ikan bandeng secara polikultur menggunakan lama peme liharaan 90 hari (Rosyadi dan Daryono, 2000). Sedangkan Supito et al., (2000), dalam penelitiannya tentang produksi induk udang windu secara polikultur

101

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

dengan ikan bandeng, menggunakan lama pemeliharaan 124 hari. Nilai rata – rata setiap parameter kualitas air tambak selama pemeliharaan antara budidaya polikultur dua komoditas

dan budidaya polikultur tiga komoditas dengan menggunakan Uji Test seperti pada Tabel 9.

102

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Tabel 8. Hasil Olahan Data Kualitas Air Selama Masa Penelitian Pada Budidaya Polikultur Tiga Komoditas
Kualitas Air Kecerahan (cm) Suhu (°C) Salinitas (‰) DO (mg/l) TOM (mg/l) TSS (mg/l) pH Alkalinitas (mg/l) NH3 (mg/l) H2S (mg/l) NO2 (mg/l) PO3-4 (mg/l) BOD (mg/l) Pb (mg/l) Lama Pemeliharaan (Bulan) 3 4 48,33 50,75 33 33,23 34 37 7,26 8,23 31,37 44,87 189,29 185,44 7,95 8,08 6,33 4,5 0,213 0,18 0,026 0,024 0,1181 0,116 0,6583 0,5361 3,12 3,46 0,3517 0,3225

2 45,5 32,7 31 7,52 24,02 193,792 8,3 5 0,14 0,022 0,1299 0,6392 1,78 0,1375

5 56,25 32,8 28 6,1 53,25 148,23 7,88 3 0,1 0,033 0,1071 0,4148 3,98 0,2575

Tabel 9. Hasil Penelitian Uji Test Kualitas Air Tambak Antara Dua Komoditas dan Tiga Komoditas
Kualitas Air Kecerahan (cm) Suhu (°C) Salinitas (‰) DO (mg/l) TOM (mg/l) TSS (mg/l) pH Alkalinitas (mg/l) NH3 (mg/l) H2S (mg/l) NO2 (mg/l) PO3-4 (mg/l) BOD (mg/l) Pb (mg/l) Min 32,33 32,55 31 5,53 22,2472 34,4 8,05 40 0,112 0,015 0,1071 0,4148 4,462 0,24 Dua Komoditas Maks Rerata 46 34,4 37 6,92 30,336 410,8 8,3 116,5 0,2825 0,28 0,1299 0,6583 7,148 0,698 39,165 33,475 34 6,225 26,2916 251,144 8,175 78,25 0,197 0,0487 0,119 0,537 5,805 0,469 Min 45,5 32,7 28 6,1 24,02 67,04 7,88 3 0,1 0,015 0,0898 0,2732 1,78 0,1375 Tiga Komoditas Maks Rerata 56,25 33,23 37 8,23 53,25 245,44 8,3 6,33 0,213 0,045 0,1297 0,6497 3,98 0,3517 50,875 32,965 32,5 7,165 38,635 176,418 8,09 4,665 0,157 0,025 0,109 0,461 2,88 0,245 F Hit 2,91* 1,94 ns 0,96 ns 1,75 ns 1,99 ns 1,54 ns 1,07 ns 5,60 * 0,95 ns 0,63 ns 0,44 ns 0,94 ns 3,61 * 2,45 * F Tabel 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3

103

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Gambar 3. Kualitas air selama pemeliharaan antara budidaya polikultur dua komoditas dan tiga komoditas.
K u a lita s A ir B u d id a y a P o lik u ltu r D u a K o m o d ita s
50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 0 46 3 4 ,2 5 34,8 46 38
Kecerahan (cm) 60 50 40 30 20 10 0
2 y = 0 ,6 6 75 - 1 ,2 05 5 x + 4 5 ,4 1 5 x R2 = 0 ,9 9 03

K u a lita s A ir B u d id a y a P o lik u ltu r T ig a K o m o d ita s
5 6,2 5 4 5,5 4 8 ,3 3 5 0 ,7 5

Kecerahan (cm)

3 2 ,33

y = -1 ,1 8 221 + 5 ,7 8 8 9 x + 3 2 ,91 5 x R2 = 0 , 08 3 2

0,5

1

1 ,5

2

2 ,5

3

0

1

2

3

4

5

6

L a m a P e m e li h a ra a n B e n i h (B u la n )

L a m a P e m e lih a ra a n (B u la n )

a. Kecerahan

Kualitas Air Budidaya Polikultur Dua Komoditas
140 120 Alkalinitas (ppm) 100 80 60 40 20 0 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 Lama Pemeliharaan (Bulan) y = 2,7464x2 - 28,598x + 131,2 R2 = 0,4247 106,67 116,5 107 89,6 89,6
7 6 Alkalinitas (ppm) 5 4 3 2 1 0 0

Kualitas Air Budidaya Polikultur Tiga Komoditas

6,33 5
2 y = -0,7075x + 4,1695x - 0,3345 R2 = 0,8927

4,5 3

40

1

2

3

4

5

6

Lama Pe meliharaan (Bulan)

b. Alkalinitas

K u a lita s A ir B u d id a y a P o lik u ltu r D u a K o m o d ita su a lit a s A ir B u d id a y a P o lik u ltu r T ig a K o m o d it a s K
8 7 6 5 BOD (ppm) 4 3 2 1 0 0 0 ,5 1 1,5 2 2,5 3 3 ,5 L a m a P e m e l i h a r a a n (B u l a n )
2

7 ,1 4 6 ,4 3 5 ,8 2 5,0 6 BOD (ppm) 4 ,4 6 5 ,01

4 ,5 4 3 ,5 3 2 ,5 2 1 ,5 1 0 ,5 0 0

y = -0 , 220 + x2 , 1 2 9 x - 1 , 5 9 9 5 R2 = 0 , 9 7 3 7 3 ,1 2

3 ,9 8 3,4 6

y = 1 , 3 5 2 9 x4 , 7 0 5 3 x + 8 , 7 5 8 R2 = 0 , 8 4 9 6

1 ,7 8

1

2

3

4

5

6

L a m a P e m e l ih a ra a n (B u la n )

104

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

c. BOD
Kualitas Air Budidaya Polikultur Dua Komoditas
0,8 0,7 0,6 Pb (ppm) 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 Lama Peme liha raa n (Bulan) 0,29 0,24
2 y = -0,0014x + 0,2016x + 0,136 R2 = 0,9102

K u alitas Air B u d id aya Po liku ltur T ig a K om o d itas
0,4

0,68 0,56

0,69

0,35 0,3 Pb (ppm) 0,25 0,2 0,15 0,1 0,05 0 0 1 2 3 0,137

0,351

0,322 0,257

0,44

2 y = -0,0698x + 0,5214x - 0,6164 R2 = 0,9209

4

5

6

Lam a Pe m e lihara a n (Bula n)

d. Pb Gambar 3. Grafik Kualitas air pada Budidaya Polikultur Dua Komoditas dan Tiga Komoditas Selama Pemeliharaan Kondisi Kesuburan Polikultur Air Tambak tetapi juga karena plankton menjadi makanan biota yang dibudidayakan terutama udang dan ikan bandeng. Untuk pertumbuhan udang dan ikan bandeng tergantung kepada plankton sebagai makanannya. Oleh karena itu tingginya kelimpahan plankton akan menentukan pertumbuhan udang dan ikan bandeng. Hasil pengamatan kelimpahan plankton di tambak polikultur dua dan tiga komoditas disajikan pada Tabel 10.

Kelimpahan, Keanekaragaman, Keseragaman dan Dominansi Dalam budidaya polikultur udang dan ikan bandeng atau udang, ikan bandeng dan rumput laut secara tradisional, kelim pahan plankton mempunyai arti yang sangat penting. Kelimpahan plankton tidak hanya menjadi indikasi kesuburan perairan,

Tabel 10. Kelimpahan Jumlah Fitoplankton dan Zooplankton di Tambak Budidaya Polikultur Dua dan Tiga Komoditas No 1. Plankton Kelimpahan (individu/liter) Fitoplankton Zooplankton Total Plankton Jenis Fitoplankton Zooplankton Total jumlah Fitoplankton Keanekaragaman (H) Keseragaman (E) Dominansi (D) Zooplankton Keanekaragaman (H) Keseragaman (E) Dominansi (D) Tambak Polikultur 2 Komoditas 3 Komoditas 9848 1718 11566 11 jenis 3 jenis 14 jenis 3,0680 0,8909 0,1570 1,3478 0,8660 0,5114 11316 6615 17931 9 jenis 3 jenis 12 jenis 2,6262 0,8754 0,1884 1,2114 0,8101 0,5211

2.

3.

4.

105

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Apabila dibandingkan kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan domi nansi baik fitoplankton maupun zooplankton pada tambak di kedua model budidaya polikultur tersebut, maka diper oleh bahwa ditinjau dari kelimpahan fitoplankton pada tambak budidaya tiga komoditas lebih tinggi. Keanekaragaman fitoplankton pada tambak budidaya dua komoditas lebih tinggi dan zooplankton memiliki keanekaragaman yang sama. Sedangkan pada indeks keseragaman dan dominansi memiliki nilai yang sama. Ekosistem dengan keanekaragaman tinggi lebih stabil dan kurang terpengaruh terhadap tekanan dari luar dibandingkan dengan ekosisitem yang memiliki keaneka ragaman yang rendah (Boyd, 1999).

Keanekaragaman jenis merupakan parameter yang sering digunakan dalam mengetahui suatu komunitas. Parameter ini mencirikan kekayaan jenis dalam keseimbangan dalam suatu komunitas. Fitoplankton selain berfungsi sebagai keseimbangan ekosistem perairan budi daya, juga berfungsi sebagai pakan alami pada budidaya ikan dan udang (Pirzan, 2006). Perkembangan Plankton Pemeliharaan di Tambak Selama

Hasil pengamatan kelimpahan fito plankton dan zooplankton air tambak pada budidaya polikultur tiga komoditas selama pemeliharaan seperti pada Tabel 11 dan 12.

Tabel 11. Hasil Pengamatan Kelimpahan Rata-rata Fitoplankton dan Zooplankton Air Tambak (Ind/l) Pada Budidaya Polikultur Tiga Komoditas Selama Pemeliharaan
Plankton Fitoplankton Zooplankton Jumlah Plankton Lama Pemeliharaan (Bulan) 2 8279,5 5443,75 13723,25 3 11283,17 7729,17 19012,34 4 10741,5 5292,75 16034,25 5 14975 6033 21008 Kenaikan rata/bulan (%) 23,63 7,93 17,97

Tabel 12. Hasil Pengamatan Kelimpahan rata-rata Fitoplankton dan Zooplankton Air Tambak (Ind/l) Pada Budidaya polikultur dua Komoditas Selama Pemeliharaan
Plankton Fitoplankton Zooplankton Jumlah Plankton Lama Pemeliharaan (Bulan) 0,5 9184,67 1108 10292,67 1 24840,5 6159 30999,5 1,5 9460,25 1036,75 10497 2 8418 2149,5 10567,5 2,5 10019 466 10485 3 5955,6 1101,6 7057,2 Kenaikan rata/bulan (%) 15,20 107,62 20,45

Ditinjau dari persentase kenaikan baik fitoplankton, zooplankton maupun fitoplankton dan zooplankton lebih tinggi pada tambak dua komoditas, tetapi ditinjau dari kelimpahannya jumlah fitoplankton, zoo plankton maupun fitoplankton dan zoo

plankton lebih tinggi pada tambak tiga komoditas. Tren perkembangan fito plankton dan zooplankton seperti dapat dilihat pada Gambar 4.

106

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Kelimpahan Rata-rata Phytoplankton pada Budidaya Polikultur Dua Komoditas Selama Pemeliharaan
30000 Kelimpahan Phytoplankton Kelimpahan Phytoplankton 25000 20000 15000 10000 5000 0 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 Lama Pemeliharaan (Bulan) 9184,67 24840,5 y = -2190,8x2 + 4144,8x + 12366 R2 = 0,2851 9460,25 8418 10019 5955,6 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0

Kelimpahan Rata-rata Phytoplankton pada Budidaya Polikultur Tiga Komoditas Selama Pemeliharaan
y = 307,48x2 - 197,83x + 7861,3 R2 = 0,8491 11283,1 8279,5 14975 10741,5

0

1

2

3

4

5

6

Lama Pemeliharaan (Bulan)

a.

Kelimpahan Rata-rata Zooplankton pada Budidaya Polikultur Dua Komoditas Selama Pemeliharaan
7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 0

Kelimpahan Rata-rata Zooplankton pada Budidaya Polikultur Tiga Komoditas Selama Pemeliharaan
10000

6159 y = -594,43x 2 + 1166,3x + 2216,3 R2 = 0,2018 2149,5 1108 0,5 1 1036,75 1,5 2 466 2,5 3 1101,6 3,5 Kelimpahan Zooplankton

Kelimpahan Zooplankton

8000 6000 4000 2000 0 0 1 2 3

7729,1 5443,7 5292,7 y = -386,28x 2 + 2637,1x + 2109,6 R2 = 0,1656 6033

4

5

6

Lama Pemeliharaan (Bulan)

Lama Pemeliharaan (Bulan)

Gambar 4. (a) Grafik Kelimpahan Fitoplankton pada Budidaya Polikultur dua dan tiga komoditas; (b) Grafik Kelimpahan Zooplankton pada Budidaya Polikultur dua dan tiga komoditas Produksi dan Keuntungan Finansial Penerimaan komoditas mencapai berat 23,62 gram sedangkan pertumbuhan mutlak udang windu yang dipelihara di tambak polikultur tiga komoditas mencapai berat 23,93 gram. Grafik pertumbuhan udang windu dapat dilihat pada Gambar 5.

Produksi Tambak Polikultur Pertumbuhan Udang Windu Pertumbuhan mutlak udang windu yang dipelihara di tambak polikultur dua

Pertumbuhan Mutlak Udang Budidaya Polikultur 2 Komoditas
35 Pertumbuhan Berat (gr) 30 25 20 15 10 5 0 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 Lama Pemeliharaan (Bulan) 5,42 9,75 14,48 y = -1,0871x2 + 14,181x - 2,408 R2 = 0,9742
Pertumbuhan Berat (gr) 40 35 30 25 20 15 10 5 0

Pertumbuhan Mutlak Udang Budidaya Polikultur 3 Komoditas

28,09 22,94

29,04

y = -0,525x2 + 10,521x + 0,475 R2 = 0,9991 19,78 10,35

34,28 26,95

0

1

2

3

4

5

Lama Pemeliharaan (Bulan)

Gambar 5. Grafik Pertumbuhan Mutlak Udang Windu Selama Pemeliharaan Pada Budidaya Polikultur Dua Komoditas dan Tiga Komoditas

107

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Pertumbuhan Ikan Bandeng Pertumbuhan mutlak ikan bandeng yang dipelihara di tambak polikultur dua komoditas mencapai berat 184,74 gram sedangkan pertumbuhan mutlak ikan bandeng yang dipelihara di tambak poli

kultur tiga komoditas mencapai berat 354,99 gram. Effendi (1997), menyatakan bahwa dalam polikultur yang berpengaruh pada pertumbuhan ikan adalah makanan dan suhu. Gambar 6 berikut adalah grafik pertumbuhan ikan banding di tambak polikultur.

Pertumbuhan Mutlak Ikan Bandeng Budidaya Polikultur 2 Komoditas
Pertumbuhan Berat (gr) Pertumbuhan Berat (gr) 250 200 150 100 50 0 0 0,5 9,86 1 21,23 1,5 37,09 2 2,5 3 3,5 4 y = 75,119x - 36,499 R2 = 0,873 190 149,9 193,5 194,6 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0

Pertumbuhan Mutlak Ikan Bandeng Budidaya Polikultur 3 Komoditas
411,4 y = 16,857x 2 - 16,483x + 62,07 R2 = 0,9871 241 177 104,5 56,35 0 1 2 3 4 5 6

Lama Pemeliharaan (Bulan)

Lama Pemeliharaan (Bulan)

Gambar 6. Grafik Pertumbuhan Mutlak Ikan Bandeng Selama Pemeliharaan Pada Budidaya Polikultur Dua Komoditas dan Tiga Komoditas Kegemukan Udang Windu Tingkat kegemukan udang windu yang dipelihara pada tambak tiga komoditas lebih gemuk dari pada udang windu yang dipelihara pada tambak dua komoditas. Kegemukan udang windu rata – rata yang dipelihara di tambak polikultur dua komoditas mencapai 0,550996 dengan kisaran minimum 0,248629 dan maksimum 0,775869. Sedangkan kegemukan udang windu rata – rata yang dipelihara di tambak polikultur tiga komoditas mencapai 0,604114 dengan kisaran minimum 0,359692 dan maksimum 0,799065. Gambar 7 adalah grafik kegemukan udang windu di tambak polikultur.

Rasio Kegemukan Udang Windu Budidaya Polikultur 2 Komoditas
0,57 Rasio Kegemukan Rasio Kegemukan 0,56 0,55 0,54 0,53 0,52 0,51 0,5 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 Lama Pemeliharaan (Bulan) 0,51 0,54 y = -0,0229x + 0,1074x + 0,432 R2 = 0,6379
2

Rasio Kegemukan Udang Windu Budidaya Polikultur 3 Komoditas
0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 0 1 2 3 4 5 Lama Pemeliharaan (Bulan)

0,56

0,56 0,55

0,64
2

0,7 0,59 0,48

y = -0,0425x + 0,1535x + 0,5375 R2 = 0,9446

Gambar 7.

Grafik Rasio Kegemukan Udang Windu Selama Pemeliharaan Pada Budidaya Polikultur Dua Komoditas dan Tiga Komoditas

108

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Kegemukan Ikan Bandeng Kegemukan ikan bandeng rata – rata yang dipelihara di tambak polikultur dua komoditas mencapai 0,807412 dengan kisaran minimum 0,301860 dan maksimum 0,981162. Sedangkan kegemukan ikan bandeng rata – rata yang dipelihara di tambak polikultur tiga komoditas mencapai 0,814181 dengan kisaran minimum 0,638937 dan maksimum 1,275966. Faktor ketersediaan makanan menjadi faktor

penentu dimana kelimpahan tingkat kebutuhan pada budidaya polikultur tiga komoditas lebih tinggi daripada dua komoditas. Kelimpahan fitoplankton dan zooplankton pada tambak polikultur tiga komoditas lebih tinggi daripada kelim pahan fitoplankton dan zooplankton pada dua komoditas. Gambar 10 berikut adalah grafik kegemukan ikan bandeng di tambak polikultur.

R a s io K e g e m u k a n B a n d e n g B u d id a y a P o lik u ltu r 2 K o m o d ita s
1, 4 1, 2 Rasio Kegemukan 1 0, 8 0, 6 0, 4 0, 2 0 0 0,5 1 1 ,5 2 2 ,5 3 3,5 4 L a m a P e m e li h a ra a n (B u la n ) 0 ,7 9 0 ,67 0 ,7 9 0 ,8 4 0 ,83 1 ,1 5

R a s io K e g e m u k a n B a n d e n g B u d id a y a P o lik u ltu r 3 K o m o d ita s
1,2 1 Rasio Kegemukan 0,8 0,6 0,4 0,2 0 0 1 2 3 4 5 L a m a P e m e lih a ra a n (B u l a n ) 0,71 0 ,7 6 0 ,7 8 0 ,9 6

y = -0 ,0 8326+ 0 , 43 7 2x + 0 ,34 5 3 x R2 = 0 ,2 5 1 3

y = 0 ,0 3 225-x 0 ,0 8 5 5 x + 0 ,7 7 2 5 R2 = 0 , 9 4 9 4

Gambar 8.

Grafik Rasio Kegemukan Ikan Bandeng Selama Pemeliharaan Pada Budidaya Polikultur Dua Komoditas dan Tiga Komoditas dalam komoditas lebih tinggi, hal ini disebabkan rumput laut dalam tambak dapat mengurangi kandungan toksik seperti logam berat dan bahan organik lainnya yang dapat mengurangi laju pertumbuhan plankton dalam tambak. Kelimpahan Plankton Lambung Ikan Bandeng dalam

Kelimpahan Plankton Lambung Udang Windu

Kelimpahan plankton dalam lambung udang tiga komoditas selama pemeliharaan berkisar di antara 8.180 – 15.048 individu /liter dengan rata – rata sebesar 11.466 individu/liter. Sedangkan kelimpahan plankton dalam lambung udang dua komo ditas selama pemeliharaan berkisar di antara 3.657 – 12.025 individu/liter dengan rata – rata sebesar 8.890 individu/liter. Kelimpahan plankton dalam lambung udang tidak berbeda nyata (uji t), tetapi bila dilihat rata – rata kelimpahan plankton dalam lambung udang selama pemelihara an kelimpahan plankton pada lambung udang tiga

Kelimpahan plankton dalam lambung ikan bandeng tiga komoditas selama pemeliharaan berkisar diantara 43.806,5 – 112.370 individu/liter, dengan rata – rata kelimpahan sebesar 69.845,13 individu / liter. Sedangkan kelimpahan plankton dalam lambung ikan bandeng yang dikon sumsi bandeng dua komoditas selama

109

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

pemeliharaan berkisar antara 11.207 – 43.806,5 individu/liter dengan rata – rata sebesar 22.956,56 individu/liter. Kelimpahan plankton dalam lambung ikan bandeng tidak berbeda nyata (uji t), tetapi bila dilihat rata – rata kelimpahan plankton dalam lambung udang selama pemeliharaan kelimpahan plankton pada lambung udang tiga komoditas lebih tinggi. Hal ini disebabkan rumput laut dalam tambak dapat mengurangi kandungan toksik seperti logam berat dan bahan organik lainnya yang dapat mengurangi laju pertumbuhan plankton dalam tambak. Analisa Kebiasaan Udang Windu dan Ikan Bandeng Pada lambung udang dengan metode dua komoditas dan tiga komoditas, sepecies plankton yang paling banyak ditemukan adalah Nitzschia vermicularis. Pada lambung udang polikultur dua komoditas, frekwensi kejadian sepecies ini adalah 100 % yang artinya, sepecies ini ditemukan disetiap lambung udang yang diamati. Sedangkan pada lambung udang polikultur tiga komoditas adalah 85 % yang artinya, dari 20 lambung udang yang diamati spesies plankton ini ditemukan didalam 17 lambung udang. Frekuensi kejadian plankton yang dikonsumsi bandeng pada tambak dua komoditas tertinggi pada Nitzschia curvula sebesar 90 %, dan pada tambak tiga komoditas frekuensi tertinggi pada Nitzschia vermicularis sebesar 85 %. Nitzschia curvula dan Nitzschia vermi cularis temasuk dari golongan Chryso phyta, hal ini menunjukkan bandeng dan udang pada tambak polikultur dua dan tiga komoditas memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengkonsumsi plankton dari jenis Chrysophyta dibanding dengan plankton dari jenis lain. Hal ini dapat disebabkan karena pada umumnya Chryso phyta keberadaanya melimpah dan berada hampir disemua lingkungan perairan (Wijarni,1998), selain itu Chrysophyta relatif lebih mudah untuk dicerna di-

bandingkan dengan Cyanophyta yang memiliki kadar mucus tinggi dan Clorophyta yang memiliki dinding sel yang tebal. Index of Selecftivity (E) Udang Windu dan Ikan Bandeng Udang pada tambak tiga komoditas melakukan pilihan positif tertinggi pada Nitzschia curvula, terlihat dari nilai indek pilihan tertinggi yakni 0,78 dan melakukan pilihan negatif (kurang begitu menyukai) terendah pada Holopedium sp terlihat dari nilai indek pilihan terendah yakni sebesar -0,38 (Tabel 13). Udang pada dua komo ditas melakukan pilihan positif tertinggi pada Nitzschia seriata terlihat dari nilai indek pilihan tertinggi yakni 0,99 , dan melakukan pilihan negatif (kurang begitu menyukai) terendah pada Trichodesmium erthreum terlihat dari nilai indek pilihan terendah yakni sebesar -0,94. Tabel 13 adalah Index Selectivity Udang Windu di tambak polikultur. Bandeng pada tambak tiga komoditas melakukan pilihan positif tertinggi pada Nitzschia vermicularis, terlihat dari nilai indek pilihan tertinggi yakni 0,9, dan melakukan pilihan negatif (kurang begitu menyukai) terendah pada Chorella sp terlihat dari nilai indek pilihan terendah yakni sebesar -0,45 (Tabel 14). Bandeng pada dua komoditas melakukan pilihan positif tertinggi pada Nitzschia curvula terlihat dari nilai indek pilihan tertinggi yakni 0,97, dan melakukan pilihan negatif (kurang begitu menyukai) terendah pada Chorella sp terlihat dari nilai indek pilihan terendah yakni sebesar -0,45. Sedangkan bandeng pada tambak tiga komoditas melakukan pilihan positif tertinggi pada Nitzschia vermicularis, terlihat dari nilai indek pilihan tertinggi yakni 0,9 dan melakukan pilihan negatif (kurang begitu menyukai) terendah pada Chorella sp terlihat dari nilai indek pilihan terendah yakni sebesar -0,45. Bandeng pada dua komoditas melakukan pilihan positif tertinggi pada Nitzschia curvula terlihat dari nilai indek pilihan tertinggi yakni

110

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

0,97, dan melakukan pilihan negatif (kurang begitu menyukai) terendah pada Holopedium irregulare terlihat dari nilai

indek pilihan terendah yakni sebesar -0,45. Table 14 berikut adalah Index Selectivity ikan bandeng di tambak polikultur.

Tabel 13. Indeks Pilihan Udang di Tambak Polikultur Dua dan Tiga Komoditas (index of selectivity)
2 komoditas Nitzchia seriata Melosira salina Nitzchia vermicularis Gonatozygon monotaenium Rhizosolenia styliformis Calothrix Nitzchia curvula Euglena oxyurus Microcystus airuginosa Thallasiotrix Rotifer citrinus Nitzchia closterium Asplanchaa herricki Trichodesmium erthreum E 0,99248 0,987616 0,936513 0,930002 0,923656 0,899487 0,88199 0,839408 0,767043 0,749277 0,674111 0,653741 0,251218 -0,94656 3 komoditas Nitzchia curvula Gonatozygon monotaenium Thallasiotrix Nitzchia vermicularis Polyedrium trigonum Microcystus airuginosa Cymbella helvetica Navicula insuta Cosmarium cucurbitimum Melosira salina Anabaena sp Nitzchia closterium Rhizosolenia cylindrus Gonatozygon aculeatum Holopedium E 0,77565 0,756711 0,75387 0,669769 0,667973 0,665314 0,623895 0,569515 0,507542 0,294448 0,242153 0,22804 0,158845 0,116037 -0,38797

Produksi Secara kuantitatif dan kualitatif berdasarkan parameter produksi. Produksi budidaya polikultur tiga komoditas lebih baik dari pada produksi budidaya polikultur dua komoditas. Secara kuantitatif produksi udang windu dan ikan bandeng yang dihasilkan dari budidaya polikultur tiga komoditas lebih banyak dari produksi yang dihasilkan budidaya polikultur dua komoditas (Tabel 15). Secara kualitatif ditinjau dari pertumbuhan mutlak, tingkat kegemukan ukuran dan kelulushidupan udang

windu dan ikan bandeng yang dihasilkan dari budidaya polikultur tiga komoditas lebih tinggi dari yang dihasilkan dari budidaya polikultur dua komoditas. Hal ini disebabkan karena terintegrasinya rumput laut ke dalam budidaya polikultur, menyebabkan kualitas air tambak menjadi lebih baik. Rumput laut Gracilaria menurut Kandhasamy and Arunachalam (2008) mengandung methanolic yaitu bioaktif yang bersifat antibakterial yang mampu mencegah masuknya patogen ke dalam tubuh udang windu dan ikan bandeng dan adanya infeksi patogen.

111

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Tabel 14. Indek Pilihan Ikan Bandeng di Tambak Polikultur Tiga dan Dua Komoditas 3 komoditas Nitzschia vermicularis Melosira salina Holopedium irregulare Trychodesmium erythreum Cosmarium auriculatum Nitzschia curvula Anabaenopsis raciborskii Cyclotella operculata Pleurosigma angulatum Gonatozygon monotaenium Microcystus airuginosa Pleurosigma compacta Nitzschia lorenziana Dissodinium lunula Merismopedia minuta Loxodes sp Eudorina wallichii Selenastrum sp Cosmarium cucurbitium Chorella E 0,900565 0,86584 0,831227 0,673441 0,583491 0,585374 0,54665 0,545728 0,536995 0,530297 0,46259 0,449319 0,269598 0,239024 0,135662 0,131923 -0,29823 -0,39754 -0,40002 -0,44822 2 komoditas Nitzschia curvula Lyngbya spirulinoides Anabaena raciborskii Rotifer neptunius Nitzschia vermicularis Amphora sp Microcystus airuginosa Nitzschia seriata Gyrosigma acuminatum Closterium spp Naviculla Oscillatoria sp Pleurosigma angulatum Merismopedia minuta Cylindrocystys brebissonii Gonatozygon monotaenium Disodinium Chorella Cosmarium auriculatum Gonatozygon aculate Holopedium irregulare E 0,974631196 0,966117188 0,958415548 0,951889279 0,916701293 0,861339093 0,859504786 0,850619835 0,672061928 0,617682779 0,599828252 0,599334304 0,557357244 0,517713759 0,458141425 0,42433601 0,414572864 0,243673174 0,229701596 -0,486782133 -0,532414159

Analisis Polikultur

Finansial

Tambak

Analisis finansial tambak polikultur bertujuan untuk mengetahui besarnya penerimaan atau keuntungan bersih yang diterima pembudidaya. Analisis finansial meliputi perhitungan biaya pengeluaran atau biaya operasional tambak dan pene-

rimaan hasil penjualan produksi tambak. Ada beberapa pengeluaran untuk biaya operasional tambak polikultur dua komoditas dan tiga komoditas yaitu keduk teplok, pemupukan tanah dasar, pemberian kapur atau dolomit, pemberian saponin dan pembelian benih atau bibit. Total pengeluaran rata – rata untuk budidaya tambak dua komoditas mencapai Rp.

112

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

3.169.556 /ha/mt, sedangkan untuk budidaya tambak tiga komoditas adalah mencapai Rp. 2.361.994 /ha/mt. Penerimaan kotor yang diterima pembudidaya tambak polikultur dua komoditas sebesar Rp.17.455.665/ha/mt, sedangkan untuk budidaya tambak tiga komoditas sebesar Rp. 27.152.496 /ha/mt. Total Tabel 15.

penerimaan bersih yang diterima pembudidaya polikultur dua komoditas sebesar Rp.11.924.115 /ha/musim tanam dan untuk tiga komoditas sebesar Rp. 20.717.628 /ha/musim tanam. Untuk lebih jelas, perhitungan analisis finansial dapat dilihat pada Tabel 16, Tabel 17 dan Tabel 18 berikut.

Produksi Budidaya Polikultur Dua dan Tiga Komoditas
PRODUKSI 2 3 KOMODITAS KOMODITAS 8.890 74, 5 25, 5 14 23, 62 0,550998 181, 75 35 40 / 50 30 49 11.466 78, 5 21, 5 15 23, 93 0,614114 201, 11 34 50 / 60 30 53 = lebih tinggi KET

PARAMETER PRODUKSI 1. UDANG WINDU 1.1 Kelimpahan plankton (ind/lt) 1.2 Jumlah jenis plankton : Fitoplankton (%) Zooplankton 1.3 Kesukaan plankton (jenis) 1.4 Pertumbuhan mutlak (gram) 1.5 Kegemukan (faktor kondisi) 1.6 Produksi rata-rata (kg/ha/mt) 1.7 Ukuran (ekor/kg) Minimum Maksimum 1.8 Kelulushidupan (%) 2. IKAN BANDENG 2.1 Kelimpahan plankton (ind/lt) 2.2 Jumlah jenis plankton : Fitoplankton (%) Zooplankton 2.3 Kesukaan plankton (jenis) 2.4 Pertumbuhan mutlak (gram) 2.5 Kegemukan (faktor kondisi) 2.6 Produksi rata-rata (kg/ha/mt) 2.7 Ukuran (ekor/kg) Minimum Maksimum

22, 957

69, 845

90, 0 10, 0 21 184, 74 0, 807412 926, 75 4, 6 5/6 3/4

85, 0 15, 0 20 354, 99 0, 814181 1180, 56 4, 26 5/6 3

113

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

2.8 Kelulushidupan (%) 3. RUMPUT LAUT (kg/ekor/mt)

95 -

95 5492

Tabel 16. Perhitungan Pengeluaran Usaha Budidaya Polikultur Dua Komoditas dan Tiga Komoditas
KEGIATAN TAMBAK POLIKULTUR 2 KOMODITAS 3 KOMODITAS 1 Ha Rp 2.013.000 1 Ha Rp 538.333 45 kg Rp 26.875 27.5 kg Rp 34.354 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 67.188 15.975 46.875 36.541 393.750 64.800 504.552 35.15 kg 24983 kg 4533 kg 43808 (3x) kg 14472 ekor 2381 ekor 921.3 ekor Rp Rp Rp Rp 87.875 24.983 22.664 34.460 -

Keduk teplok Pengapuran Pemupukan : Urea 26875 kg TSP 15975 kg Saponin 9375 kg Penambahan pupuk Urea 14617 kg Bangeran 262750 kg Pembelian benih : Udang 12960 ekor Ikan bandeng 2102 ekor Rumput laut Pemberian obatobatan : Tiodin TOTAL PENGELUARAN

Rp 72.360 Rp 571.520 Rp 921.278

Rp 3.169.556

0.416 liter

Rp 54.167 Rp 2.361.994

Sumbangan rumput laut terhadap penerimaan pembudidaya polikultur tiga komoditas mencapai Rp. 4.185.833/ha/mt atau sebesar 16 % dari penerimaan pembudidaya. Adanya penambahan komo ditas rumput laut yang diintegrasikan ke dalam budidaya polikultur udang dan ikan bandeng ternyata secara ekonomi dapat menambah keuntungan pembudidaya. Secara keseluruhan, penerimaan bersih atau keuntungan bersih pembudidaya tiga komoditas lebih tinggi dari keuntungan

pembudidaya dua komoditas. Perbedaan tersebut diawali dengan harga udang antara dua komoditas dan tiga komoditas dari tiap – tiap ukurannya terlihat sangat jelas. Perbedaan tersebut bahwa secara kualitas, udang dari tiga komoditas lebih sehat dan tidak berpenyakit karena ada peran dari rumput laut sebagai filter sehingga air pemeliharaan lebih bersih dengan kandung an oksigen yang relatif tinggi.

114

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Tabel 17.

Perhitungan Hasil Produksi Usaha Budidaya Polikultur Dua Komoditas dan Tiga Komoditas
2 Komoditas Harga satuan (kg/Rp) Volum e (kg) 3 Komoditas Harga satuan (kg/Rp)

JENIS PRODUKSI Udang windu : Ukuran 20 Ukuran 25/30 Ukuran 30 Ukuran 30/35 Ukuran 30/40 Ukuran 35 Ukuran 35/40 Ukuran 40 Ukuran 45 Ukuran 40/50 Ukuran 40/60 Ukuran 50/60 Jumlah Rata-rata Ikan bandeng : Ukuran 3 Ukuran 3/4 Ukuran 4 Ukuran 4/5 Ukuran 4/6 Ukuran 5 Ukuran 5/6 Jumlah Rata - rata Rumput laut

Volume (kg)

Total (Rp)

Total (Rp)

100 500 300 1075 1260 400 3635 181,75

Rp 53.000 Rp 50.000 Rp 50.000 Rp 50.000 Rp 45.700 Rp 50.000 Rp 298.700 Rp 49.783 Rp 10.000 Rp 11.000 Rp 9.186 Rp 8.500 Rp 9.250 Rp 47.936 Rp 9.587 -

Rp 5.300.000 Rp 25.000.000 Rp 15.000.000 Rp 53.750.000 Rp 57.582.000 Rp 20.000.000 Rp 176.632.000 Rp 8.831.600 Rp 10.600.000 Rp 11.550.000 Rp 76.243.800 Rp 12.112.500 Rp 61.975.000 Rp 172.481.300 Rp 8.624.065 -

150 350 200 100 470 250 650 550 650 200 3570 201,1 1

Rp 80.000 Rp 50.000 Rp 70.000 Rp 80.000 Rp 73.300 Rp 60.000 Rp 70.000 Rp 55.000 Rp 60.000 Rp 60.000 Rp 658.300 Rp 65.830

Rp 12.000.000 Rp 17.500.000 Rp 14.000.000 Rp 8.000.000 Rp 34.451.000 Rp 15.000.000 Rp 45.500.000 Rp 30.250.000 Rp 39.000.000 Rp 12.000.000 Rp 227.701.000 Rp 12.650.056

1060 1050 8300 1425 6700 18535 926,75 -

4800 6850 7200 2400 21250 1180, 556 98.85 0 5.492

Rp 7.800 Rp 9.667 Rp 9.200 Rp 7.000 Rp 33.667 Rp 8.417 Rp. 16.900 Rp. 939

Rp 37.440.000 Rp 66.218.950 Rp 66.240.000 Rp 16.800.000 Rp 186.698.950 Rp 10.372.164 Rp 75.345.000 Rp 4.185.833

115

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

116

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Tabel 18. Perhitungan Penerimaan Total Usaha Budidaya Polikultur Dua Komoditas dan Tiga Komoditas Keterangan Penerimaan Kotor Jumlah Pengeluran Biaya keamanan (15 % penerimaan kotor) Penerimaan bersih Tambak 2 Komoditas 3 Komoditas Rp 17.455.665 Rp 27.152.496 Rp 3.169.556 Rp 2.361.994 Rp Rp 2.361.994 11.924.115 Rp 4.072.874 Rp 20.717.628

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil pengumpulan data, analisis data dan pembahasan penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut : Kondisi lingkungan makro yang merupakan daya dukung tambak polikultur secara topografis dan geografis memiliki jenis tanah allufial kelabu dengan ketinggian 0 – 3 meter diatas permukaan laut dengan kemiringan kurang dari 2% , bertekstur lempung liat berpasir sampai liat dengan kedalaman tanah efektif 90 cm. Sumber air tambak berupa laut yang memperoleh pasok air tawar dari 5 sungai. Kualitas dan kesuburan air cukup baik dan berada pada kisaran standard kualitas air untuk tambak. Hutang mangrove seluas 581,955 ha dengan ketebalan 500 meter, kerapatan 1 – 2 pohon / m2 terdapat disepanjang pantai, kiri kana sungai dan ditanam di pematang tambak adalah merupakan pelindung kawasan tambak polikultur. Tingkat pendidikan pembudidaya tambak polikultur udang windu, ikan bandeng dan rumput laut (3 komoditas) lebih tinggi dari tingkat pendidikan budidaya polikultur udang windu dan ikan bandeng (2 komoditas). Tingginya tingkat pendidikan mempengaruhi pemilihan usaha budidaya polikutur melalui pemikiran yang lebih rasional dengan mempertimbangkan keadaan alamnya. Pengelolaan tambak

pada kedua model polikultur dilaksanakan secara tradisional plus Dengan di integrasikannya rumput laut kedalam budidaya polikultur udang windu dan ikan bandeng (3 komoditas), ternyata meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air tambak dan menurunkan kandungan amoniak (NH3), Hidrogen Sulfida (H2S), Nitrit (NO2), Ortho Fosfat (PO43), Biological Oksigen Demand (BOD) dan kandungan Logam Berat Pb Dalam air tambak. Kecerahan, alkalinitas, BOD dan kandungan logam Pb pada air tambak budidaya polikultur 3 komoditas berbeda sangat nyata dengan kandungan air pada budidaya polikultur 2 komoditas. Kesuburan air tambak 3 komoditas lebih tinggi dari kesuburan air tambak 2 komoditas walaupun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Produksi tambak 3 komoditas berupa udang windu 201,11 Kg/ha/mt, ikan bandeng 1180,56 Kg/ha/mt dan rumput laut 5492 Kg/ha/mt adalah lebih tinggi dari produksi tambak 2 komoditas berupa udang windu 181 Kg/ha/mt dan ikan bandeng 198,33 Kg/ha/mt. Produksi udang windu dan ikan bandeng ditambak 3 komoditas secara statistik tidak menunjuk kan perbedaan yang nyata, tetapi pene rimaan keuntungan pembudidaya poli kultur 3 komoditas lebih tinggi dan berbeda sangat nyata dengan keuntungan pembudidaya polikultur 2 komoditas.

117

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Saran-saran Mengingat kemampuan rumput laut sebagai penyuplai oksigen melalui foto sintesis pada siang hari dan kemampu annya untuk menyerap kelebihan nutrisi, amoniak, hidrogen sulfida, nitrit,ortho fosfat, total suspended solid dan logam Pb berarti dapat meningkatkan kualitas air. Kemampuan rumput laut ini hendaknya dijadikan dasar pengembangan budidaya polikultur secara sinergis yang berwawasan lingkungan dalam upaya pening katan budidaya perikanan dan kesejahte raan pembudidaya polikultur. Kegiatan budidaya polikutur 3 komoditas dapat pula dilakukan pada tanah dasar bertekstur liat dengan syarat pene baran rumput laut dilakukan dengan metode lepas dasar long line atau rakit dengan salinitas 15 – 30 ‰ , pasang surut teratur dan pH air 7,5 – 8,5. Peningkatan produksi tambak poli kultur 3 komoditas dapat dilakukan dengan meningkatkan padat tebar. DAFTAR PUSTAKA Anonymous. 2002. Petunjuk Teknis Budidaya Udang. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Direktorat Pembudidayaan. Program Intensifikasi Pembudidayaan Ikan. Jakarta. Boyd, CE. 1999. Management of Shrimp Ponds to Reduce the Eutrophication Potential of Effluents. The Advocate. Desember. 1999. p 12 – 14. Dahuri R, Jacob Rais, S.P.Ginting dan H. J. Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. P.T. Pradnya Paramitha. Jakarta. Indonesia Effendi. 1997. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.112 Halaman Hariati, A.M., Wiadnya, D.G.R., Prajitno, A., Sukkel, M., Boon, J.H., Ver

degem, M.C.J. 1995. Perkem bangan Budidaya Udang Windu (Penaeus monodon) dan Udang Putih (Penaeus merguiensis) di Jawa Timur. Bulletin Perikanan. Edisi 5. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang. Kandhasamy M and Arunachalam K.D., 2008. Evaluation of in vitro Antibacterial Property of Seaweeds of Southeast Coast of India. African Journal of Biotechnology. Vol. 7. 12 pp (1958 – 1961). Mudjiman, A. 1986. Budidaya Ikan di Sawah Tambak. CV. Penebar Swadaya. Jakarta. Mulyono Sri. 1991. Operatians Research. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pirzan, A. M., P. R. Pong-Masak dan Utojo. 2006. Keragaman Fito plankton Pada Lahan Budidaya Tambak Di Kawasan Pesisir Donggala Dan Parigi-Moutong, Sulawesi Tengah. Jurnal Riset Akuakultur. Volume 1 Nomor 3 Tahun 2006. Jakarta. Supito, M. Seri dan Madenur. 2005. Budidaya Terpadu Ikan Bandeng, Udang Windu, Rumput Laut dan Kekerangan. Laporan Tahunan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau. Pusat Riset perikanan Budidaya Badan Riset kelautan Dan Perikanan Departemen Kelautan Dan Perikanan. Hal 88-96 Xu Yongjian, Fang Jianguang and Wei Wei. 2008. Aplication of Gracilaria lichenoides (Rhodophyta) for Alleviating Nutriens in Aqua culture. Journal Application Phycol. 20 : 199 – 203.

118

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->