Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM PENGAMBILAN DAN PEMERIKSAAN KUALITAS E-COLI AIR SUMUR

Untuk Memenuhi Tugas Pengawasan Pencemaran Lingkungan Fisik (PPLF)

Disusun : 1. Danan Rizki Pranata 2. Desi Ririn Novita 3. Ika Arwaeni 4. Inten Retno Asmeisti 5. Mira Firdianti 6. Valentine Oktavianto Pri .A. 7. Yolla Ayu Medikawanti 8. Yuliastuti
(P07133111004) (P07133111007) (P07133111018) (P07133111019) (P07133111022) (P07133111036) (P07133111038) (P07133111039)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2011/2012

LAPORAN PRAKTIKUM PEMERIKSAAN E-COLI SUMUR POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

A. Hari/Tanggal B. Waktu C. Lokasi

: Rabu/30 Mei 2012 : 13.36 WIB : Rumah Bapak Suwarso Rt 09 Rw 37 Jonggang dan Laboratorium Kimia Dasar Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

D. Materi Praktik E. Mata Kuliah F. Tujuan Praktik

: Pengambilan dan Pemeriksaan E-Coli Sumur : Pengawasan Pencemaran Lingkungan Fisik(PPLF) : Mahasiswa Dapat Melakukan Pengambilan dan Pemeriksaan Kualitas E-coli Air Sumur

G. Dasar Teori

Air sumur adalah air tanah dangkal sampai kedalaman kurang dari 30 meter, umumnya terletak pada kedalaman 15 meter dan dinamakan juga sebagai air tanah bebas karena lapisan air tanah tersebut tidak berada di dalam tekanan. Untuk memenuhi kebutuhan air sumur yang bersih terdapat tiga parameter, yaitu parameter fisik yang meliputi bau, rasa, warna dan kekeruhan. Parameter kedua adalah parameter kimia yang meliputi kimia organik dan kimia anorganik yang mengandung logam, seperti Fe, Cu, Ca dan lain-lain. Parameter ketiga adalah parameter bakteriologi yang terdiri dari koliform fekal dan koliform total (Waluyo, 2004). Kualitas bakteriologis sumur gali yang dianjurkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No.20 tahun 1990 adalah golongan B atau sebagai air baku air minum harus dijaga agar selalu memenuhi kriteria sebagai air baku air minum.

Macam-macam sumur gali

1. Sumur beton merupakan sumur kerekan dengan konstruksi dari batu bata dan diplester memiliki bawah air tidak mudah masuk secara langsung kedalam sumur, pencemaran yang terjadi berasal dari septik tank yaitu bila jarak antara sumur dan septic tank atau bangunannya tidak memenuhi syarat. 2. Sumur non beton yaitu hanya menggunakan konstruksi cadas, selain mudah terkontaminasi oleh bahan bangunan dari segi keselamatan juga kurang baik. Air yang membawa kotoran dengan leluasa dapat masuk ke dalam sumur, karena cadas mempunyai kerapatan partikel tanah yang longgar. 3. Sumur suntik hanya menggunakan pipa dengan kedalaman tertentu (Boekoesoe, 2010). Syarat sumur yang sehat Menurut Entjang (2000), sumur sehat minimal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. Syarat lokasi atau jarak. Agar sumur terhindar dari pencemaran maka harus diperhatikan antara jarak sumur dengan jamban, lubang galian untuk air limbah dan sumber-sumber pengotoran lainnya. Jarak tersebut tergantung pada keadaan serta kemiringan tanah, lokasi sumur pada daerah yang bebas banjir, jarak sumur minimal 15 meter dan lebih tinggi dari sumber pencemaran seperti kakus, kandang ternak, tempat sampah dan sebagainya. 2. Syarat konstruksi ; dinding sumur, bibir sumur serta lantai sumur. 3. Dinding sumur gali. Jarak kedalaman 3 meter dari permukaan tanah dan dinding sumur gali harus terbuat dari tembok yang kedap air. 4. Bibir sumur gali. Di atas tanah dibuat tembok yang kedap air, setinggi minimal 70 cm, untuk mencegah pengotoran dari air permukaan serta untuk aspek keselamatan (Boekoesoe, 2010).

Dalam metode MPN (Most Probable Number) untuk uji kualitas mikrobiologi air digunakan kelompok koliform sebagai indicator. Kelompok kolifrm mencakup bakteri yang bersifat aerob dan bakteri yang bersifat anaerob fakultatif, batang gram negative dan tidak membentuk spora. Koliform memfermentasi laktosa dengan pembentukan gas dan asam dalam waktu 48 jam pada suhu 35o-37oC. Kelompok koliform dipilah menjadi koliform asal tinja dan bukan tinja (missal tanah). Koliform asal tinja mampu menghasilkan gas media laktosa dalam waktu 24 jam pada suhu 44oC. Metode MPN merupakan uji deretan tabungyang menyuburkan pertumbuhan koliform sehingga diperoleh nilai untuk menduga jumlah koliform dalam sampel yang diuji. Jumlah koliform ini bukan perhitungan yang tepat namun merupakan angka yang mendekati jumlah sebenarnya. Uji ini diawali dengan memasukkan 10ml sampel kedalam medium laktosa broth. Uji awal ini disebut uji duga (presumptive test). Dalam uji ini setiap tabung yang menghasilkan gas dalam masa inkubasi diduga mengandung bakteri koliform. Uji dinyatakan negative bila terlihat gas dalam tabung durham. Tabung yang memperlihatkan pembentukan gas diuji lebih lanjut dengan uji penegasan dan bila diperlukan uji koliform asal tinja. Uji dilakukan untuk penegasan bahwa gas yang terbentuk disebabakan oleh kerjasama beberapa spesies sehingga menghasilkan gas. Uji koliform asal tinja dilakukan bila ingin mengetahui bahwa kuman koliform yang diperoleh termasuk koliform asal tinja. Untuk uji penegasan digunakan medium Briliant Green Bile Laktosa Broth (BGLB), yang diinokulasi dengan ose, media yang memperlihatkan hasil positif pada uji duga. Kaldu BGLB diinkubasi pada suhu 37oC selama 48 jam.

Untuk uji koliform asal tinja inokulasi dilakukan pada media BGLB yang diinkubasi pada suhu 44o C selama 24jam. Pembentukan gas dalam tabung menunjukkan hasil positif. Uji positif menghasilkan angka indeks, angka ini disesuaikan dengan table MPN untuk menentukan jumlah koliform dalam sampel. Bila diperlukan dapat dilakukan uji lengkap dengan menggunakan medium yang menunjukkan hasil positif pada uji penegasan. H. Alat dan Bahan 1. Alat a. Botol sampel dengan pemberat b. Tas sampling c. Korek api d. Lampu spiritus e. Kapas f. Ose tumpul g. Rak tabung reaksi h. Pipet ukur i. Pipet j. Incubator :

2. Bahan: a. Sampel air sumur b. Media BGLB c. Aquades

I. Prosedur Kerja 1. Pengambilan sampel air sumur a. Membuka kertas yang membukus botol sampel dengan pemberat secara aseptis, yaitu dengan memegang pada bagian bawah botol

yang masih ada kertas pebungkusnya sehingga tidak menyentuh botol. b. Membuka tali dan menurunkan botol dengan perlahan-lahan. c. Setelah terisi penuh, mengangkat botol dan membuang air sampai volume menjadi 2/3 volume botol. Menutup botol secara aseptis. d. Memberi label dengan data : 1) Nama pengirim 2) Alamat pengirim 3) Tanggal dan jam pengambilan sampel 4) Jenis sampel 5) Jenis pemeriksaan

2. Pemeriksaan si laboratorium a. Hari pertama 1) Menggunakan ragam 5 : 5 : 5 2) Mengisi sampel ke dalam 5 tabung media LB 1,5 % masingmasing sebanyak 10 ml. 3) Mengisi sampel ke dalam 5 tabung media LB 0,5 % masingmasing sebanyak 1 ml. 4) Mengisi sampel ke dalam 5 tabung media LB 0,5 % masingmasing sebanyak 0,1 ml (setara dengan 2 tetes pipet). 5) Menginkubasi semua media dalam tabung LB ke dalam incubator selama 2 x 24 jam pada suhu 370C.

b. Hari ketiga 1) Memeriksa media dalam tabung LB (jika terdapat gelembung dalam tabung durham, maka dapat dinyatakan positif). 2) Memindahkan media dalam tabung yang positif ke dalam media BGLB dengan menggunakan ose tumpul dan secara aseptis.

3) Menginkubasi semua media BGLB ke dalam incubator selama 2 x 24 jam pada suhu 440C.

c. Hari keenam 1) Memeriksa media dalam tabung BGLB (jika terdapat gelembung dalam tabung durham, maka dapat dinyatakan positif). 2) Mencocokan jumlah media tabung yang positif dengan tabel Thomas sehingga dapat diperoleh jumlah coliform dalam 100 per sampel.

J. Hasil dan Pembahasan

1. Hasil a. Pada hari ketiga didapat tabung yang positif : 1) Sampel 10 ml 2) Sampel 1 ml 3) Sampel 0,1 ml : 5 positif : 4 positif : 2 positifh

b. Pada hari keenam didapat tabung yang positif : 1) Sampel 10 ml 2) Sampel 1 ml 3) Sampel 0,1 ml : 3 positif : 0 positif : 0 positif

2. Pembahasan Pada pemeriksaan hari ke-3 didapat hasil ragam 5 : 4 : 2 dari media LB. Setelah hari ke-6 dengan media BGLB didapat hasil pemeriksaan kualitas E-coli air sumur jumlah koliform dalam setiap 100 ml sampel adalah 8 koloni. Dengan ragam terakhir yang didapat 3 : 0 : 0.Hasil ini juga tidak terlepas dari adanya sumber pencemar disekitar sumur

dimana terdapat aliran sungai yang jaraknya cukup dekat dengan sumur (berada di belakang rumah) sehingga juga mempengaruhi kondisi dari air sumur itu sendiri. K. Kesimpulan Nilai MPN E.Colli air sumur di rumah bapak Suwarso dengan ragam 5 : 5 : 5 ditemukan hasil terakhir 3 : 0 : 0 yang artinya adalah 8 koloni bakteri per 100 mL sampel, sehingga dapat dikatakan bahwa air sumur tersebut tercemar bakteri E-colli.