Anda di halaman 1dari 14

Pengaturan Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Minyak dan Gas Bumi di Indonesia

Oleh David Christian Tarigan 0906561793

Diajukan Sebagai Makalah Akhir Mata Kuliah Hubungan Keuangan Pusat Dan Daerah

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia 2012

Latar Belakang
Kebijakan desentralisasi Fiskal yang digulirkan pada awal tahun 2001 telah memberikan berbagai implikasi baik nasional maupun regional. Pada tingkat regional, kebijakan ini merupakan upaya kemandirian daerah untuk memberdayakan sumber daya yang tersedia. Bagi daerah yang surplus, desentralisasi fiskal merupakan sumber kesejahteraan masyarakat untuk lebih meningkatkan taraf hidupnya. Sebaliknya bagi pemerintah daerah yang minus dan masih mengharapkan kucuran dana dari pemerintah pusat, kebijakan ini sangat memberatkan. Implementasi kebijakan perimbangan keuangan dilakukan melalui alokasi anggaran belanja untuk daerah termasuk didalamnya dana perimbangan. Sejalan dengan itu, selain dimaksudkan untuk membantu daerah dalam membiayai berbagai urusan dan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan, diserahkan dan atau ditugaskan kepada daerah, pengalokasian dana perimbangan juga bertujuan untuk mengurangi ketimpangan sumber pendanaan antara pemerintah pusat dan daerah, serta mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar daerah. Dana perimbangan merupakan transfer dana yang bersumber dari APBN ke daerah, berupa dana bagi hasil (DBH), danan alokasi umum (DAU), dan dana alokasi khusus (DAK) Dana Bagi Hasil (revenue sharing) atau DBH adalah danan yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. DBH dilaksanakan dengan prinsip menurut sumbernya dalam arti bahwa bagian daerah atas penerimaan yang dibagihasilkan didasarkan atas daerah penghasil. Prinsip tersebut berlaku untuk semua komponen DBH, kecuali DBH perikanan yang dibagi sama rata keseluruh kabupaten/kota. Selain itu, penyaluran DBH baik pajak maupun SDA dilakukan berdasarkan realisasi penerimaan tahun anggaran belanja. Berdasarkan sumbernya DBH dibedakan dalam DBH perpajakan dan DBH Sumber Daya Alam (DBH SDA). DBH yang bersumber dari pajak terdiri atas penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Pajak Penghasilan (PPh) pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21. Sedangkan DBH yang bersumber dari Sumber Daya Alam meliputi : Kehutanan, Pertambangan umum, perikanan, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, dan pertambangan gas bumi. Alokasi DBH SDA ditetapkan dalam peraturan Menteri Keuangan. Setiap awal tahun anggaran Menteri Keuangan menetapkan alokasi sementara DBH SDA yang menjadi dasar penerbitan DIPA untuk satu tahun anggaran. Penyaluran DBH SDA berdasarkan realisasi penerimaan yang datanya bersumber dari hasil rekonsiliasi antara departemen teknis, daerah penghasil dan departemen keuangan. Hasil rekonsiliasi tersebut ditetapkan oleh Dirjen Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan dan dijadikan dasar bagi Ditjen Perbendaharaan untuk menerbitkan DIPA. Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih menjadi sumber penggerak utama roda perekonomian nasional. Baik dalam perannya sebagai sumber penerimaan negara,

pembangunan daerah, investasi, subsidi, energi dan bahan baku domestik, serta efek berantai termasuk menciptakan lapangan kerja, yang secara tidak langsung akan memperbaiki HDI (Human Development Index). Pada tahun 2009 sektor ESDM mencatatkan perkiraan realisasi penerimaan negara sebesar Rp 235 triliun. Angka ini lebih tinggi 2,2 persen atau melampaui target penerimaan pada APBN-P 2009 sebesar Rp 230 T. Sub sektor Migas masih mencatatkan kontribusi tertinggi, yaitu sebesar Rp 182,63 T. Penerimaan Migas ini terdiri dari PPh Migas, PNBP Migas, Selisih harga DMO dengan fee kontraktor pada kegiatan hulu Migas. Sementara sub sektor Pertambangan Umum sebesar Rp 51,58 T yang terdiri dari Pajak Pertambangan Umum dan PNBP Pertambangan Umum. Sedang Penerimaan lain-lain sebesar Rp 1,1 T. Tahun 2009 ditandai oleh lesunya perekonomian dunia akibat krisis keuangan negaranegara maju, namun realisasi investasi sektor ESDM diperkirakan mencapai USD 19.297,8 juta. Investasi tersebut terdiri dari sub sektor Migas sebesar USD 12.184,8 juta, sub sektor Mineral, batubara dan panas bumi sebesar USD 1.812,3 juta dan sub sektor Ketenagalistrikan sebesar USD 5.300,7 juta. Dana bagi hasil sektor ESDM yang disalurkan ke daerah selama tahun 2009 mencapai Rp 30,4 T dengan rincian dari Minyak bumi sebesar Rp 12,4 T, dari gas bumi sebesar Rp 9,8 T dan dari pertambangan umum sebesar Rp 8,2 T. Sementara itu, dana program Community Development/Corporate Social Responsibility (CSR) sektor ESDM yang tersalurkan diperkirakan mencapai Rp 1.311,9 miliar. Rinciannya dari perusahaan pertambangan umum sebesar Rp 1.002,4 miliar, dari perusahaan migas sebesar Rp 215,5 miliar dan dari perusahaan listrik sebesar Rp 94 miliar. (Laporan Kinerja ESDM,2009) Penerimaan negara dan Dana Bagi Hasil yang cukup signifikan dari sektor pertambangan migas tersebut perlu diatur dalam peraturan perundang-undangan secara lebih terperinci untuk menjamin bahwa penerimaan negara dan dana bagi hasil dari sektor tersebut dapat dikelola dengan baik sehingga dapat memberikan kontribusi yang optimal dalam penerimaan negara secara umum. Pengaturan mengenai Dana Bagi Hasil di Indonesia diatur dengan berbagai jenjang peraturan mulai dari Undang-undang sampai peraturan teknis lainnya.

Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas penulis menitikberatkan makalah ini pada pertanyaan : Bagaimana kondisi pengaturan Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Minyak dan Gas Bumi di Indonesia?

Pembahasan 1. Pola Pembagian Dana Bagi Hasil Migas


Terkait dengan perhitungan DBH SDA Migas per provinsi/kabupaten/kota, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan selanjutnya menghitung perkiraan alokasi maupun realisasi DBH SDA migas sebagai dasar penyaluran DBH SDA migas per provinsi/kabupaten/kota. Porsi pembagian DBH SDA Migas menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang ditindaklanjuti dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan adalah sebagai berikut : a. DBH SDA Minyak Bumi sebesar 15,5% berasal dari penerimaan negara SDA pertambangan minyak bumi dari wilayah kabupaten /kota yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya . DBH tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut : 3.1% dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan 6,2% dibagikan untuk kabupaten/kota penghasil; dan 6,2% dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan. b. DBH SDA Minyak Bumi sebesar 15,5% berasal dari penerimaan negara SDA pertambangan minyak bumi dari wilayah provinsi yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya . DBH tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut : 5,17% dibagikan untuk probinsi yang bersangkutan; 10,33% dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan c. DBH SDA Gas Bumi sebesar 30,5% berasal dari penerimaan negara SDA pertambangan minyak bumi dari wilayah kabupaten /kota yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya . DBH tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut : 6,1% dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan; 12,2% dibagikan untuk kabupaten/kota penghasil; 12,2 % dibagikan untuk seluruh kabupaten /kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan. d. DBH SDA Gas Bumi sebesar 30,5% berasal dari penerimaan negara SDA pertambangan minyak bumi dari wilayah provinsi yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya . DBH tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut : 10,17% dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan; dan 20,33% dibakian untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan.

e. Pengecualian untuk Daerah Otonomi Khusus Yaitu Nanggroe Aceh Darusalam (NAD) dan Papua Barat, selain mendapatkan DBH Migas yang merupakan bagian dari penerimaan pemerintah provinsi dengan ketentuan sebagai berikut : Bagian dari pertambangan Minyak Bumi sebesar 55%; Bagian dari pertambangan Gas Bumi sebesar 40% Daerah-daerah penghasil migas di Indonesia beberapa kali mengutarakan ketidakpuasan mereka akan ketidakjelasan pembagian hasil dan waktu pendistribusian hasil dari Negara atas eksplorasi tambang migas di daerah. Keluhan tersebut datang dari pemerintah daerah yang merasa bahwa pembagian hasil 15% untuk minyak dan 30% untuk gas kepada daerah penghasil migas belum jelas diketahui asal-usul perhitungannya atau tidak transparan. Fenomena di atas memang masih sering terjadi di berbagai aspek di Indonesia. Keterbukaan informasi yang seharusnya dapat menjadi salah satu sistem pengawasan kinerja aparat pemerintah atas setiap kebijakan yang diambil tampaknya belum membudaya di Indonesia. Di sisi lain, masih sedikit pihak yang memiliki ketertarikan dan kepentingan untuk mencari tahu informasi sampai jelas sehingga praktek transparansi di berbagai bidang belum dapat berjalan dengan maksimal. Sebenarnya masalah pembagian dan alokasi dana bagi hasil antara pusat dan daerah penghasil migas telah diatur dalam hukum positif di Indonesia, yaitu Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan (selanjutnya disebut UU Perimbangan Keuangan. Selain itu di dalam Pasal 20 ayat (2) ditetapkan pembagian lain ke daerah yaitu sebanyak 0,5 % dari hasil pertambangan migas dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar. Dari keterangan di atas terlihat bahwa ketentuan yang mengatur jumlah alokasi dana bagi hasil yang menjadi hak daerah penghasil migas dan waktu pendistribusiannya sebenarnya telah ada, namun belum dapat dijalankan sebagaimana mestinya. Salah satu penyebabnya karena sanksi atas pelanggaran kewajiban juga tidak ada. Sementara itu, ketentuan-ketentuan khusus pertambangan belum ada yang mengatur mengenai mekanisme penuntutan hak oleh pihak-pihak yang berhak atas hasil pertambangan tersebut. Hak disini dapat berarti hak untuk mendapatkan bagian dari hasil, hak untuk memperoleh bagian tepat waktu, hak untuk turut serta merasakan manfaat dari pertambangan tersebut, dan hak untuk memperoleh informasi terkait dengan hak dan kewajiban pihak terkait. 2. Penyusunan Perkiraan DBH SDA Migas a. Mekanisme Penyusunan Perkiraan DBH SDA Migas per provinsi/kabupaten/kota yang dihitung oleh Ditjen Perimbangan Keuangan selanjutnya akan dituangkan kedalam peraturan Menteri Keuangan mengenai Perkiraan Alokasi Dana Bagi Hasil SDA Mgas. Data-data yang digunakan sebagai dasar perhitungan perkiraan dan mekanisme perhitungannya sebagai berikut :

1. Data a. Prognosa lifting per daerah penghasil berdasarkan Surat Keputusan Menteri ESDM tentang Penetapan Daerah Penghasil Migas dan Dasar perhitungan DBH SDA Migas; b. Surat Dirjen Anggaran-Kementerian Keuangan tentang Perkiraan PNBP Migas per KKKS 2. Mekanisme a. Ditjen Perimbangan Keuangan melakukan grouping KKKS berdasarkan data Prognosa lifting dalam Surat Keputusan Menteri ESDM tentang Penetapan daerah penghasil Migas dan Dasar Perhitungan DBH SDA Migas yang disampaikan oleh Ditjen Migas dengan data perkiraan PNBP per KKKS yang disampaikan Ditjen Anggaran. Lifting yang tersusun perdaerah penghasil per KKKS pada data Ditjen Migas dikonsolidasi denga data lifting per KKKS dar Ditjen Anggaran sehingga didapatkan data lifting per KKKS per daerah penghasil; b. Data lifting per KKKS per daerah penghasil hasil grouping tersebut dipersentase-kan dengan total lifting per KKKS sehingga didapat rasio lifting per KKKS per daerah penghasil. Rasio lifting dimaksud untuk mengetahui porsi lifting yang dihasilkan KKKS pada daerah penghasil tertentu; c. Rasio lifting per KKKS per daerah penghasil tersebut dikalaikan dengan PNBP per KKKS (Sebagaimana yang tercantum dalam Surat Dirjen Anggaran tentang perkiraan PNBP MIgas) untuk mengetahui PNBP per KKKS per daerah penghasil; d. PNBP per KKKS per daerah penghasil yang berada pada daerah penghasil yang sama dudijumlahkan sehingga didapatkan PNBP per daerah penghasil; e. PNBP per daerah penghasil dihitung porsi DBH-nya untuk bagian pemerintah pusat, dearah penghasil dan daerah pemerataan berdasarkan undang-undang dan peraturan pemrintah; f. Porsi DBH dari masing-masing daerah penghasil tersebut dijumlah sehingga didapat perkiraan alokasi DBH SDA Migas per Provinsi/kabupaten/kota untuk selanjutnya ditetapkan dalam peraturan Meteri Keuangan. b. Penetapan Proses penetapan perkiraan alokasi DBH SDA Migas sebagai berikut : 1. Penetapan besaran asumsi dasar berupa prognosa lifting, kurs rupiah terhadap Dollar, dan harga minyak Indonesia (ICP) melalui penetapan asumsi makro APBN antara Pemerintah dengan DPR; 2. Berdasarkan asumsi tersebut Menteri ESDM menetapkan daerah penghasil dan dasar perhitungan DBH SDA Migas. Ketetapan tersebut paling lambat 60 hari sebelum tahun anggaran bersangkutan setelah berkonsultasi dengan Menteri Dalam Negeri. Selanjutnya ketetapan tersebut disampaikan ke Menteri Keuangan. Dalam hal lapangan Migas tersebut berada pada wilayah yang berbatasan atau berada pada lebih dari satu daerah, Menteri Dalam Negeri menetapkan daerah penghasil berdsarkan pertimbangan menteri teknis paling lambat 60 hari setelah diterimanya usulan pertimbangan dari menteri teknis. Ketetapan Mneteri Dalam

Negeri tersebut menjadi dasar perhitungan lifting per daerah penghasil SDA Migas oleh menteri ESDM. 3. Bersamaan dengan proses tersebut BP Migas melakukan perhitungan perkiraan Cost Recovery, Gross Revenue, First Trance Petroleoum (FTP), dan bagian Pemerintah per KKS; 4. Berdasarkan ketetapan Menteri ESDM tersebut, Dirjen Anggaran melakukan perhitungan perkiraan faktor faktor pengurang (Domestic Market Obligation/DMO, fee usaha Hulu Migas, PPN, PBB sektor pertambangan Migas,PDRD). Hasil perhitungan PNBP SDA Migas per KKKS tersebut disampaikan kepda Dirjen Perimbangan Keuangan; 5. Berdasrkan Ketetapan Mneteri ESDM dan perhitungan Dirjen Anggaran tersebut, Dirjen Perimbangan Keuangan melakukan perhitungan Perkiraan Alokasi DBH SDA Migas yang kemudian diajukan kepada Menteri Keuangan untuk ditetapkan sebagai Peraturan Menteri Keuangan tentang Perkiraan Alokasi DBH SDA Migas paling lambat 30 hari setelah diterimanya ketetapan Menteri ESDM dan perhitungan Dirjen Anggaran

Selama ini daerah penghasil migas tidak diberikan kewenangan dan kesempatan mengakses data produksi, lifting, dan cost recovery migas dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Selain itu, mekanisme perhitungan DBH migas belum transparan karena formulasi komponen pengurang perhitungan DBH seperti DMO (domestic market obligation), over/under lifting, pungutan lainnya seperti pajak migas belum memiliki norma dan standar baku sehingga besaarannya selalu berubah dari waktu ke waktu. Bahkan, waktu penyaluran DBH ke daerah tidak teratur (terlambat 4-9 bulan), sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan program kegiatan di daerah. Seharusnya perhitungan produksi/lifting migas harus transparan dan daerah penghasil harus diberikan kewenangan dan kesempatan mengakses data produksi/lifting itu. Secara umum penting untuk terus dievaluasi apakah formula penghitungannya fair untuk kepentingan bangsa, tanpa mengorbankan kepentingan pelaku usaha.Formula komponen recovery cost untuk migas yang cenderung mengakomodasi tambahan komponen biaya produksi yang dimaksudkan untuk merangsang kenaikan hasil produksi dan profit, apakah memang demikian yang telah dicapai. Untuk persentase tertentu, dana yang bersumber dari DBH SDA semestinya digunakan secara khusus {earmark) untuk hal-hal yang langsung terkait dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup untuk menjamin perekonomian yang berkelanjutan.

3. Penyusunan Realisasi DBH SDA Migas a. Mekanisme Penghitungan Proses penghitungan realisasi DBH SDA Migas berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Penghitungan realisasi DBH SDA Migas dilakukan setiap triwulan; 2. Dana yang dibagi hasilkan adalah penerimaan negara dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pengutan lainnya sesuai dengan perturan perundang-undangan; 3. Mekanisme perhitungan realisasi DBH SDA Migas hampir sama dengan penghitungan perkiraan alokasi DBH SDA Migas, yang membedakannya adalah data yang dirasiokan yakni data realisasi Gross Revenue, sedangkan pada mekanisme penghitungan perkiraan alokasi DBH SDA Migas yang digunakan adalah data prognosa lifting. Hal ini dikarenakan Realisasi GROSS Revenue sudah berbentuk satuan mata uang, sehingga perhitungan yang dihasilkan dianggap lebih mendekati dibanding jika menggunakan realisasi lifting; 4. Data yang disajikan baik oleh Ditjen Migas maupun Ditjen Anggaran dalam mekanisme penghitungan realisasi DBH SDA Migas ini merupakan kumulatif triwulanan, sehingga dikenal data realisasi triwulan I, realisasi s.d triwulan II, realisasi s.d triwulan III dan realisasi s.d triwulan IV. Data- data yang digunakan sebagai dasar penghitungan dan mekanisme penghitungan realisasi DBH SDA Migas adalah sebagai berikut : 1. Data a. Realisasi lifting per daerah penghasil per KKKS berdasarkan berita acara rekonsiliasi lifting yang disampaikan oleh ditjen Migas; b. Perkiraan Realisasi PNBP per KKKS yang disampaikan oleh ditjen Anggaran. 2. Mekanisme a. Ditjen Perimbangan Keuangan melakukan grouping per KKKS berdasarkan data Realisasi Gross Revenue yang disampaikan oleh Ditjen Migas dengan data perkiraan realisasi PNBP per KKKS yang disampakan Ditjen Anggaran. Gross Revenue yang tersusun perdaerah penghasil per KKKS pada data Ditjen Migas dielaborasi denga data Gross Revenue per KKKS dari Ditjen Anggaran sehingga didapatkan data Gross Revenue per KKKS per daerah penghasil; b. Data Gross Revenue per KKKS per daerah penghasil grouping tersebut dipersentasekan dengan total Gross Revenue per KKKS sehingga didapat Rasio Gross Revenue per KKKS per daerah penghasil. Rasio Gross Revenue dimaksud untuk mengetahui porsi Gross Revenue yang dihasilkan KKKS per daerah penghasil tertentu; c. Rasio Gross Revenue per KKKS per daerah penghasil tersebut dikalikan dengan PNBP per KKKS untuk mengetahui PNBP per KKKS per daerah penghasil d. PNBP per KKKS per daerah penghasil yang berada pada daerah penghasil yang sama dijumlahkan sehingga didapatkan PNBP per daerah penghasil;

e. Dihitung porsi DBH-nya dari PNBP per daerah penghasil untuk bagian pemerintah pusat, daerah penghasil dan daerah pemerataan berdasarkan undang undang dan peraturan pemerintah; f. Porsi DBH dari masing-masing daerah penghasil tersebut dijumlah sehingga didapat realisasi DBH SDA Migas per provinsi/kabupaten/kota untuk selanjutnya disalurkan ke tiap-tiap daerah; g. Sebelum disalurkan, realisasi DBH SDA Migas dikurangi terlebih dahulu dengan kelebihan salur tahun sebelumnya san total DBH SDA Migas yang telah disalurkan pada triwulan sebelumnya pada tahun anggaran berjalan. b. Penyaluran Setelah diketahui hasil perhitungan DBH SDA Migas yang akan disalurkan kemasingmasing provinsi/kabupaten/kota, maka dilakukan proses rekonsiliasi data antara pemerintah pusat (yang diwakili BP Migas, Kemendagri,Ditjen Migas, Ditjen Anggaran, Ditjen pajak dan Ditjen Perimbangan Keuangan) dengan daerah penghasil. Hal ini sesuai amanat pasal 28 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 yang menyatakan bahwa perhitungan realisasi DBH SDA dilakukan secara triwulanan melalui mekanisme rekonsiliasi data antara pemerintah pusat dan daerah penghasil. Hasil rekonsiliasi dituangkan dalam berita acara rekonsiliasi yang kemudian menjadi dasar penyaluran DBH SDA Migas kerekening umum kas provinsi/kabupaten/kota penerima DBH SDA Migas. Proses penyaluran DBH SDA Migas dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Diawal tahun : a. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan perkiraan Alokasi DBH SDA Migas , Dirjen Perimbangan Keuangan mengajukan Surat Permintaan Penerbitan DIPA Migas Ke Dirjen Perbendaharaan; b. Berdasarkan surat permintaan tersebut, Dirjen Perbendaharaan menerbitkan DIPA Migas untuk satu tahun anggaran. 2. Setiap triwulan penyaluran : a. Berdasarkan DIPA dan berita Acara Rekonsiliasi, Direktur Dana Perimbangan- Ditjen Perimbangan Keuangan mengajukan SPM Migas ke Ditjen Perbendaharaan; b. Berdasarkan SPM Migas tersebut, Direktur PKN-Ditjen Perbendaharaan menerbitkan SP2D; c. Berdasarkan SP2D tersebut, BI mentransfer dana dari Rekening Kas Negara ke Rekening Kas pemda provinsi/kabupaten/kota. Format penyaluran DBH SDA Migas sudah mengalami beberapa perubahan sejalan dengan kebijakan Dirjen Perimbangan Keuangan. Penyaluran DBH Migas mulai dari tahun 2008 dilakukan secara triwulan dengan ketentuan sebagai berikut : a. Penyaluran DBH Migas triwulan I dan triwulan II masing masing dilaksanakan sebesar 20% dari pagu perkiraan alokasi sebagai mana ditetapkan dalam Peraturan

b.

c.

d.

e.

f.

Menteri Keuangan. DBH SDA Migas triwulan I disalurkan pada bulan Maret dan triwulan II pada bulan Juni; Penyaluran DBH Migas triwulan III memperhitungkan realisasi DBH SDA Migas Desember s.d Mei dikurangi penyaluran triwulan I dan triwulan II. DBH SDA Migas triwulan III disalurkan pada bulan September; Penyaluran DBH Migas triwulan IV memperhitungkan realisasi DBH SDA Migas Desember s.d Agustus dikurangi penyaluran triwulan Is.d triwulan III. DBH SDA Migas triwulan IV disalurkan pada bulan Desember; Penyaluran DBH Migas rampung (triwulan V) memperhitungkan realisasi DBH SDA Migas Desember s.d November (satu tahun anggaran) dikurangi penyaluran triwulan I s.d triwulan IV dengan batas maksimal sebesar pagu perkiraan alokasi sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan. Sisa rampung DBH SDA Migas tersebut disalurkan pada bulan Februari tahun anggaran berikutnya; Apabila penyaluran DBH SDA Migas terdapat kekurangan yakni pemerintah kurang bayar, maka penyaluran dilakukan melalui mekanisme APBN dan/atau APBN-P tahun berikutnya; Realisasi penyaluran DBH SDA Migas tidak boleh melebihi 130% dar asumsi dasar harga Minyak dan Gas Bumi dalam APBN. Apabila melebihi maka penyaluran dilakukan melalui mekanisme APBN Perubahan.

Penentuan DBH selalu berubah-ubah dan tidak mendekati kenyataan. Sering terjadi ketimpangan antara perkiraan alokasi dengan realisasinya. Sebagai contoh Kabupaten Bojonegoro mengalami perubahan itu tiga kali untuk tahun anggaran 2009. Awalnya ditetapkan DBH senilai Rp 130 miliar. selanjutnya diturunkan menjadi Rp 52 miliar. Terakhir, pusat menetapkan DBH migas untuk Bojonegoro menjadi Rp 82 miliar. Faktanya, transfer dari pusat hanya Rp 37,9 miliar. Hal seperti ini dapat terjadi dikarenakan sebagian daerah tidak tahu hak yang sebenarnya. Hal itu antara lain karena pusat dan kontraktor ekploitasi tidak transparan soal biaya produksi. DBH dihitung dari sisa selisih pendapatan dan biaya produksi. Masalahnya, daerah tidak bisa mengakses berapa biaya produksi. DPRD Bojonegoro sering mengeluh sulit mengakses hal itu ke kontraktor blok Cepu. Akibatnya, daerah kesulitan meminta DBH lebih besar termasuk menentukan perhitungan. Penentuan DBH sepenuhnya kewenangan pusat dan dalam kondisi tertutup. Kalau tertutup terus, rawan terjadi pelanggaran. Akibat yang muncul dari hal tersebut, Bupati Bojonegoro Suyoto sampai khawatir gagal membayar sejumlah proyek yang didanai APBD. Dalam APBD, sudah disusun proyeksi pendapatan dari DBH migas dan penggunaanya. Akibat realisasi lebih kecil dari janji pemerintah, sejumlah program tidak mendapat dana. Kecemasan masyarakat selama eksploitasi berlangsung juga belum dihitung. Apalagi, di Jatim sering muncul kasus yang meresahkan dan merugikan warga sekitar lokasi ekploitasi migas. Penduduk cemas karena setiap saat ada ancaman ledakan dari sumur migas. Kalau ada kebocoran, penduduk menghirup udara tidak sehat. Permasalahan yang sering muncul dalam mekanisme penyaluran/pencairan DBH SDA adalah adanya keterlambatan atas penyaluran dalam setiap triwulanannya sehingga

menggangu sistem perencanaan pembangunan didaerah. Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut diatas Pemerintah Pusat dalam menetapkan Kebijakan dana bagi hasil dalam tahun 2001 lebih menitikberatkan pada penyempurnaan dan percepatan dalam proses perhitungan, pengalokasian, dan penetapan dana bagi hasil kedaerah. Hal ini dilakukan agar penyaluran DBH kedaerah dpat dilakukan tepat waktu. Untuk mendukung kebijakan tersebut, pemerintah akan melakukan langkah langkah aktif dalam penyempurnaan proses dan mekanisme penyaluran DBH kedaerah, antara lai melalui peningkatan koordinasi antardepartemen/instansi terkait serta peningkatan akurasi data oleh departemen/instansi terkait. Keterlambatan DBH dinilai membuat pembangunan didaerah tidak berjalan lancar. Dana yang seharusnya bisa dialokasikan untuk triwulan I, misalnya baru dibayarkan pada triwulan II dan begitu juga bila dana itu digunakan untuk triwulan II, baru diberikan di triwulan II. Pembayaran yang seharusnya dilakukan per triwulan atau per 1 april, selalu meleset. Bahkan keterlambatan bisa mencapai enam bulan. Hal itu berdampak terhadap aliran dana atau cash flow daerah, khususnya daerah yang dengan APBD yang mengandalkan dari sektor dana bagi hasil yaitu daerah daerah yang kaya migas (Aceh, Papua, Riau, dan Kalimantan Timur). Keterlambatan ini juga merupakan penyebab utama banyaknya dana daerah yang tidak termanfaatkan secara optimal dan akhirnya ditemukan banyaknya dana pemerintah daerah yang tersimpan dibank dalam berbagai bentuk. Bahkan seandainya dilakukan survey mendalam mungkin akan ditemukan bahwa semua pemda mempunyai SBI karena untuk menyimpan DBH mereka yang turun diakhir tahun dan tidak ada waktu untuk memanfaatkannya karena tahun anggaran hampir atau segera berakhir. Mekanisme DBH SDA selayaknya mengadopsi system PBB dan BPHTB dengan didahului pendalaman dan pengkajian yang mendalam. Hendaknya peraturan tentang tata cara penghitungan dan pembagian diatur secara terbuka dan transparan untuk dilaksanakan KPPN dan diketahui oleh semua pihak. Mekanisme sebagai berikut : 1. Daerah penghasil/rekanan menyetor hasil SDA kerekening Kas Negara dan melaporkan kepada KPPN selaku institusi perbendaharaan didaerah atas penyetoran yang dilakukan. 2. KPPN melakukan verifikasi atas penyetoran tersebut, dan melakukan rekonsiliasi dengan dinas terkait dengan waktu yang ditentukan, misalnya seperti yang dilakukan saat ini. Rekonsiliasi dilakukan dengan instansi terkait dengan KPPN tiap bulan. Setelah rekonsiliasi dilakukan dibuat berita acara dan ditandatangani oleh masing masing pihak. 3. Hendaknya dengan berita acara tersebut KPPN diberi wewenang untuk melakukan transfer atas bagian bagian pihak yang terkait : pemerintah daerah penghasil, non penghasil dan pemerintah pusat sesuai dengan porsi pembagian dana bagi hasil. 4. KPPN dan instansi terkait melaporkan berita acara dimaksud ke menteri keuangan dan menteri Energi Sumber Daya Mineral dan pemerintah daerah terkait. 5. Diakhir tahun pemerintah pusat (Departemen keuangan dan Departemen Energi Sumber Daya Mineral) melakukan penetapan atas pagu difinitif dan melakukan rekonsilisasi data berapa sebenarnya hak atas DBH SDA, jika ditemukan adanya

kekurangan penyaluran maka pemerintah pusat akan melakukan klarifikasi kekurangan tersebut. Kalau hal ini disebabkan kehilangan target maka pemerintah daerah dimaksud berhak atas insentif dan melakukan transfer kekurangan dimaksud. Sebaliknya jika ada kelebihan penyaluran maka diperhitungkan tahun berikutnya.

atas atas atas bisa

Dengan system tersebut diharapkan transparansi good governance terjadi, begitu juga ketepatan dan kecepatan atas penyaluran DBH pun terjadi sehingga daerah dapat menghitung dengan tepat berapa dana yang dimiliki untuk melakukan pembangunan didaerahnya. Selanjutnya DBH bisa termanfaatkan secara optimal dalam pembangunan daerah.

4.Pemantauan dan Evaluasi Pada dasarnya DBH SDA Migas sebagaimana DBH SDA lainnya bersifat Block Grant yang kewenangan penggunaanya diserahkan sepenuhnya kepada pemda penerima. Kecuali untuk dana Tambahan Anggaran Pendidikan Dasar sebesar 0,5 % dari porsi DBH SDA Migas harus digunakan untuk sektor pendidikan dasar yang tata cara penggunaanya akan diatur lebih lanjut dalam PMK. Menteri Keuangan melakukan pemantauan dan evaluasi atas penggunaan dana tambahan anggaran pendidikan dasar tersebut. Pemantauan atas dna tambahan ini menyangkut apakah penggunaanya sesuai dengan peruntukannya. Apabila hasil pemantauan dan evaluasi mengindikasikan adanya penyimpangan dalam pelaksanaanya , maka Menteri Keuangan meminta aparat pengawasan fungsional untuk melakukan pemeriksaan. Hasil pemriksaan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengalokasian DBH SDA Migas untuk tahun anggaran berikutnya , yaitu daerah tersebut dapat dikenai sanksi administrasi berupa pemotongan penyaluran DBH SDA Migas untuk periode berikutnya.

Kesimpulan
Pengaturan Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Minyak dan Gas Bumi di Indonesia masih memiliki sejumlah permasalahan. Adapun sejumlah permasalahan itu antara lain : Persoalan kebijakan seperti adanya ketidakjelasan, tumpang tindih (overlapping) bahkan saling bertentangan antara aturan yang satu dengan aturan yang lain. UU No 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara yang menjadi landasan hukum bagi sektor pertambangan juga cenderung masih memuat ketentuan yang bersifat sangat umum sehingga tidak operasional. UU No 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara yang menjadi landasan hukum bagi sektor pertambangan juga cenderung masih memuat ketentuan yang bersifat sangat umum sehingga tidak operasional. Permasalahan lainnya adalah ketidaksesuaian antara besaran perkiraan alokasi DBH SDA Migas dengan realisasi yang disalurkan kepada pemerintah daerah yang bersangkutan. Kabupaten Bojonegoro mengalami perubahan tiga kali untuk tahun anggaran 2009. Awalnya ditetapkan DBH senilai Rp 130 miliar. selanjutnya diturunkan menjadi Rp 52 miliar. Terakhir, pusat menetapkan DBH migas untuk Bojonegoro menjadi Rp 82 miliar. Faktanya, transfer dari pusat hanya Rp 37,9 miliar. Permasalahan yang terbesar adalah keterlambatan dalam penyaluran DBH SDA Migas. Hal ini berdampak terhadap aliran dana atau cash flow daerah dan dampaknya pembangunan didaerah berjalan tidak lancar, khususnya daerah yang dengan APBD yang mengandalkan dari sektor dana bagi hasil yaitu daerah daerah yang kaya migas (Aceh, Papua, Riau, dan Kalimantan Timur). Keterlambatan ini juga merupakan penyebab utama banyaknya dana daerah yang tidak termanfaatkan secara optimal.

Saran
Melihat berbagai permasalahan yang telah disebutkan dalam makalah ini berikut adalah beberapa butir saran yang dapat dijadikan strategi untuk mengatasi permasalahan dalam pengaturan Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Migas : 1. Perlunya dilakukan perubahan pada undang-undang pertambangan atau segera menerbitkan peraturan pemerintah yang lebih bersifat teknis, karena dana bagi hasil atas investasi di bidang pertambangan belum ideal. 2. UU 33 tahun 2004 yang secara langsung memuat kepentingan daerah, harus memberikan akses yang seluas-luasnya kepada daerah untuk memperoleh DBH. Pemda harus berpartisipasi dalam proses penetapan dan perhitungannya, sekurang-kurangnya tersedianya informasi yang transparan dan akuntabel bagi daerah.. 3. Pemda semestinya dapat juga membuat perkiraan potensi penerimaannya, sehingga terdapat data yang dapat diperbandingkan apabila terjadi selisih perhitungan yang cukup besar yang dibuat oleh Pemerintah pusat.

Daftar Pustaka
http://www.esdm.go.id/siaran-pers/55-siaran-pers/3075-kinerja-sektor-esdm-tahun2009.html http://www.mediaindonesia.com/read/2011/03/03/210700/4/2/Dana-Bagi-HasilPertambangan-Umum-2011-sekitar-Rp8-Triliun http://bataviase.co.id/detailberita-10580388.html http://www.scribd.com/doc/74482130/10/dANA-bAGi-HAsil-sUmbER-dAYA-AlAm