Anda di halaman 1dari 68

BAB V ACUAN PERANCANGAN

A. Acuan Perancangan Makro 1. Analisa Penentuan Lokasi Dasar pertimbangan penentuan lokasi Gelanggang Remaja di Kota Kendari, sebagai berikut: a. Lokasi memiliki luasan yang memadai untuk perancangan bangunan beserta area parkir. b. Lokasi ditunjang dengan kelengkapan infra struktur kota. c. Keberadaan Gelanggang Remaja sedapat mungkin saling mendukung dengan fungsi-fungsi lingkungan sekitar. d. Lokasi berada di pusat keramain masyarakat. e. Lokasi memiliki pencapaian mudah diakses. Berdasarkan dasar pertimbangan di atas, maka kriteria pemilihan lokasi perencanaan Gelanggang Remaja di Kota Kendari, sebagai berikut: a. Luas tanah memadai sehingga dapat menampung sarana dan prasarana pada bangunan tersebut. b. Mengingat fungsinya sebagai bangunan pendidikan, kesenian, dan olahraga, maka Perencanaan Gelanggang Remaja di Kota Kendari harus terletak di area yang di peruntukkan untuk kegiatan kegiatan umum.
140

c. Lokasi ditunjang dengan kelengkapan infrastruktur kota. Kelengkapan infrastruktur kota yang memadai sangat diperlukan untuk menunjang sistem operasional dalam bangunan, seperti jaringan air bersih (PAM), Listrik (PLN), jaringan telepon, transportasi dan lain-lain. d. Lokasi berada di daerah teluk kota sebagai icon masyarakat kota.

141

SITE TERPILIH ADA DI BWK I Gambar V.1. Lokasi Terpilih ( Sunber : www.kendari.go.id ) Lokasi memegang peranan yang cukup penting dalam perencanaan Gelanggang Remaja di Kota Kendari. Berdasarkan kriteria di atas maka alternatif lokasi yang potensial untuk perencanaan Gelanggang Remaja di Kota Kendari adalah BWK I terletak pada Kecematan Mandongga. Dengan pertimbangan pada kawasan ini lahan kosong masih cukup luas dan kepadatan pemukiman penduduk masih jarang.

2. Analisa Penentuan Site / Tapak


142

a. Dasar pertimbangan: 1) Luasan dan kondisi tapak 2) Rencana Tata Ruang Kawasan 3) Letak tapak yang strategis 4) Kondisi lingkungan sekitar tapak 5) Pencapaian dan utilitas kota b. Kriteria-kriteria penentu: 1) Sesuai peruntukan lahan dengan menyesuaikan tapak pada lingkungan sekitarnya. ( Bobot 10% ) 2) Tersedianya sarana utilitas kota, seperti penyediaan air bersih, jaringan listrik, sistem pembuangan, drainase dan sarana-sarana pendukung lainnya. ( Bobot 15 % ) 3) Letak site yang strategis yang dapat memberikan penampilan visual yang baik bagi penampilan bangunan. ( Bobot 15% ) 4) Topografi site dan kondisi tanah yang mendukung. ( Bobot 10% ) 5) Luas site memadai untuk menampung segala aktifitas yang terjadi pada Gelanggang Remaja di Kota Kendari. ( Bobot 20% ) 6) Kemudahan dalam pencapaian / aksesibilitas. ( Bobot 15% )

Dari beberapa kriteria di atas maka dipilih site / tapak, yang terletak di Jl. Made Buburanda Kelurahan Mandongga Kecamatan Mandongga sebagai tempat pembangunan Gelanggang Remaja di Kota Kendari.
143

Gambar V.2. Peta Site/Tapak Terpilih 144

3. Konsep Pengolahan site / tapak a) Existing condition Tapak berada di Jl. Made Sabara. Perencanaan Gelanggang Remaja di Kota Kendari ini mengutamakan kondisi tapak yang cukup berada di daerah keramaian oleh kerena melihat fungsinya sebagai bangunan pendidikan, kesenian, dan olahraga. b) Data teknis lahan Data-data mengenai tapak: 1) Peruntukan 2) Garis Sempadan Bangunan 3) Koefisien dasar bangunan 4) Kondisi tapak 5) Luas tapak : Gelanggang Remaja : 10 m dari jalan : 40 % : Relatif datar : 10 H

Lokasi perencnaan berada di jalan Made Sabara. Dengan batasan sebagai berikut:
1. Sebelah utara berbatsan dengan pertamina tapal kuda. 2. Sebelah timur berbatasan dengan lahan tambak dan sebagian adalah hutan bakau. 3. Sebelah selatan berbatsan dengan jl. Made Buburanda 4. Sebelah barat berbatasan dengan pemukiman penduduk dan toko .

c) Penzoningan
145

Penzoningan pada site Gelanggang Remaja di Kota Kendari dibedakan dalam beberapa area, yaitu: 1) Publik Terdiri dari area untuk olahraga,kesenian dan gedung komersial. 2) Semi Private 3) Privat Terdapat gedung pendidikan

Gambar V. 3. Penzoningan
146

Karena akses utama menuju tapak hanya melalui jalan Edi Sabara maka daerah yang merupakan fasilitas publik diletakakn pada sisi luar site untuk memudahkan pencapaian maupun pengontrolan pengunjung yang datang, untuk Gelanggang Remaja, dan area penunjang , Sedangkan untuk fasilitas privat diletakkkan lebih ke dalam agar memungkinkan kegiatan pendidikan dan kebisingan kendaraan tidak mengganggu kegiatan privat di dalam bangunan.

d) Pencapaian ke site/tapak Tapak terletak di jalan Edi Sabara. Pertimbangan pencapaian menuju tapak/site: 1) Pencapaian dua arah lalu lintas kendaraan. 2) Akses yang mudah baik oleh kendaraan maupun pejalan kaki. 3) Entrance yang jelas sehingga dapat mengundang, aman dan tidak menyebabkan kemacetan. (a) Main Entrance Main entrance adalah pencapaian utama yang difungsikan sebagai jalan masuk dari luar ke dalam site. entrance adalah sebagai berikut: (1) Kemungkinan arah datang pengunjung terbesar (2) Kemudahan dan kejelasan pencapaian ke tapak bangunan
147

Persyaratan main

(3) Dekat dengan arah datangnya pengunjung (4) Tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas di sekitarnya

148

Gambar V. 4. Main Entrance dan Side Entrance (b)Side entrance Side entrance Merupakan alternatif pencapaian yang difungsikan sebagai jalan dari dalam untuk keluar site. Penentuan side entrance dipertimbangkan agar: (1) Kejelasan dan kemudahan arus masuk dan keluar site (2) Menghindari terjadinya crossing sirkulasi di dalam site (3) Memudahkan pengawasan (dari segi keamanan)

e) Lintasan matahari dan arah angin. 1) Orientasi matahari Sebuah gedung memerlukan penerangan alamiah dari matahari sebagai sumber cahaya, tetapi harus diperhatikan kemungkinan adanya penyinaran langsung. Hal tersebut dapat dihindari misalnya dengan menggunakan dinding, langit-langit dan material kaca.

2) Orientasi matahari dan angin

149

Pemanfaatan arah angin dengan meletakkan bukaan berupa ventilasi udara di arah selatan dan utara dibuat lebih banyak untuk memaksimalkan udara yang masuk ke dalam ruangan sehingga terjadi crossing ventilasi

Gambar V. 5. Lintasan Matahari dan Arah Angin

f) Kebisingan (noise) Untuk meredam tingkat kebisingan perlu diperhatikan hal-hal berikut ini: 1) Arah datangnya kebisingan 2) Tinggi rendahnya tingkat kebisingan
150

3) Memasang bahan/material yang dapat menyerap bunyi 4) Pemanfaatan vegetasi sebagai peredam kebisingan 5) Letak antara jalan dan bangunan harus disesuaikan Usaha penanggulangan kebisingan, alternatifnya adalah dengan cara penanaman pohon di area bagian luar bangunan dengan tingkat kebisisngan yang tinggi. Penanaman pohon ini fungsinya untuk meredam kebisingan dari area bising sehingga tidak mengganggu aktifitas di dalam tapak. Selain penanaman pohon, tinngi rendahnya tanah juga membantu mengurangi atau meredam kebisingan dalam tapak.

Gambar V. 6. Tingkat Kebisingan (Noice) di Sekitar Tapak/Site


151

Gambar V. 7. Tanggapan Kebisingan

152

Gambar V. 8. Pohon Sebagai Filter Kebisingan

g) Sudut pandang (view) View atau arah pandang yaitu data yang menyangkut objek visual (view), yang meliputi data arah pandang terbaik dari dalam maupun dari luar site untuk melihat keistimewaan-keistimewaan fisik suatu tapak. Pada lokasi ini, yang memiliki view sangat menunjang dan potensial sebagai point of interest adalah pada jalan utama (Jl. Edi Sabara).

153

View kedalam bangunan lebih di upayakan berada di depans bangunan sehingga keberadaan hunian yang bersifat privasi pada bagian belakang tapak lebih terjaga.

View keluar bangunan, di upayakan menghadap kelaut untuk lebih melahirkan kesan natural keindahan laut, serta keramaian penduduk disore dan malam hari.

= view kurang baik = view baik


Gambar V.9. View Ke Luar dan Ke Dalam Tapak/Site

4. Konsep Tata ruang Luar a. Penataan Ruang Luar Ruang luar/eksterior yang dapat menunjang dan berpengaruh terhadap bangunan. Adapun penataannya, yaitu antara lain:
154

1) Penyesuaian perencanaan ruang luar dengan lingkungan dan elemen yang ada. 2) Pola sirkulasi yang mendukung integritas dan koordinasi antara masingmasing fungsi kegiatan. 3) Pola sirkulasi yang jelas dan terarah. 4) Pengelolaan taman dan elemen ruang luar harus dapat memberi arah dan y orientasi ke bangunan. 5) Pohon pelindung dan tanaman yang ada direncanakan perletakannya sehingga dapat menyaring debu, meredam suara, pelindung dari sinar matahari/panas dan mengurangi kecepatan angin serta sebagai sarana istirahat dan komunikasi disamping sebagai unsur estetis. 6) Penataan ruang luar/elemen lansekap untuk memberi penyempurnaan dan keharmonisan pada bangunan, disamping sebagai pembatas dan pengarah juga berfungsi sebagai pelindung dan penyejuk.

Perencanaan tata ruang luar sangatlah penting, maka pemanfaatan dan pengaturan ruang luar harus ditata secara optimal. a. Ruang luar Perencanaan Gelanggang Remaja di Kota Kendari dimanfaatkan untuk 1) Area olah raga 2) Area kesenian
155

3) Area parkir kendaraan 4) Jalur-jalur sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki 5) Sebagai pembatas suatu bangunan 6) Buffer, dapat meredam kebisingan, debu dan sinar matahari langsung. b. Ruang luar diatur berdasarkan pertimbangan-pertimbangan: 1) Mendukung penampilan bangunan 2) Menunjang kesatuan massa bangunan dengan tapak dan lingkungan sekitar. Penataan ruang luar harus memberikan daya dukung terhadap perencanaan Gelanggang Remaja di Kota Kendari untuk masyrakat, antara lain: a. Memberikan kesan menarik, rekreatif dan suasana santai yang mampu memberikan semangat kesegaran. b. Memberikan kesan keterbukaan dengan memanfaatkan arena skatepark outdoor dan pohon-pohon yang ada sebagai unsur taman yang berfungsi sebagai pengarah, pembatas, penyaring polusi dan juga sebagai filter dari kebisingan yang terjadi di sekitar bangunan. c. Memanfaatkan material-material, baik hard material maupun soft material dalam penataan ruang luar.
156

Tata ruang luar pada perencanaan Gelanggang Remaja di Kota Kendari adalah: a. Ruang bagi pejalan kaki dan penyandang cacat Pola sirkulasi dalam tapak dipilih sirkulasi linear karena lebih mudah pengaturannya. Jalur untuk manusia yaitu pejalan kaki dan penyandang cacat juga memiliki jalur tersendiri sehingga tidak mengganggu pengguna jalan yang menggunakan kendaraan, yaitu dengan adanya pedestrian bagi para pejalan kaki dan ramp bagi para penyandang cacat.

Gambar V.10. Sirkulasi Pejalan kaki

157

Gambar V.11. Ramp bagi Penyandang Cacat (Sumber: Seminar ikatan Arsitektur Indonesia, 2006)

Dimensi jalur: a. Permukaan tidak halus dan licin b. Tanpa hambatan atau lubang >2 cm. c. Lebar ektserior jalur >90 cm.

Gambar V.12. Jalur Pemandu bagi Penyandang Cacat (Sumber: Seminar ikatan Arsitektur Indonesia, 2006)

b. Taman hijau Material yang digunakan adalah: a. Soft material 1) Jenis pohon
158

a) Palem Raja, berfungsi sebagai tanaman pengarah untuk sirkulasi, baik kendaraan maupun pejalan kaki.

Gambar V.13. Pohon Palm Raja sebagai Tanaman Pengarah

b) Trembesi, berfungsi sebagai tanama peneduh dan penyaring debu, sehingga tanaman ini diletakkan diarea parkir dan tepi jalan sebagai penyarng debu.

Gambar V.14. Pohon Mahoni sebagai penyarimg debu

159

c) Flamboyan,

berfungsi

juga

sebagai

pemecah

sinar

matahari/pembias cahaya.

Gambar V.15 Pohon berfungsi pembias cahaya

d) Jenis perdu (1) Menggunakan perdu rendah yaitu Asoka sebagai pembatas dan pengarah pada sisi-sisi bangunan. (2) Rumput kaki gajah, sebagai tanaman penutup tanah (Ground Cover).

Gambar V.16 Rumput kaki gajah

b. Hard material

160

1) Paving Blok digunakan sebagai pedestrian dan sirkulasi pejalan kaki masuk dan keluar tapak.

Gambar V.17 paving Blok

2) Aspal digunakan pada jalur kendaraan roda dua dan roda empat. 3) Lampu pada pedestrian menggunakan lampu mercuri, dan lampu pada taman, sculpture dan kolam.

161

Gambar V.18 Aspal

4) Lampu

jalan

difungsikan

sebagai

pencahayaan

ruang

luar

menggunakan lampu mercuri, diletakkan sebagai pencahayaan vegetasi, area parkir pedestrian .

Gambar V. 19 lampu jalan 5) Kursi taman

162

Gambar V. 20. kursi taman 6) Konsep sistim sirkulasi


a. Parkir paralel (paralell)

Parkir paralel digunakan untuk parkir pada bagian depan unit bangunan , yang biasa digunakan oleh para pengelola ataupun para pengunjung dengan kendaraan Taxi sehingga lebih efisien dan efektif dalam menampung jumlah kendaraan. Taman parkir tipe ini biasanya berada dipinggir jalan .

Gambar V. 21. Parkir Paralel (Sumber: Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap, 2004)

b. Parkir sudut (angle)

163

Gambar V.22. Parkir 450 hanya Satu Arah

Parkir dengan kemiringan 450 untuk jalan raya. Parkir jenis ini mudah atau baik untuk keluar masuk kendaraan, dengan daerah dan tempat parker yang relatif sempit. Perkir jenis umum digunakan pada daerah-daerah yang memiliki susunan parkir yang banyak. Pada perencanaan pusat olahraga papan luncur ini pola parker ini di letakkan di samping kiri bangunan.

164

Gambar V. 23. Parkir Sudut (Sumber: Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap, 2004)

a. Diterapkan pada area parkir pengunjung dan area servis b. Jumlah parkir disesuaikan dengan kebutuhan dan berapa banyak pengunjung yang menggunakan kendaraan bermotor baik itu roda empat maupun roda dua, dalam penyimpanannya dikelompokan menurut jenis roda empat dan roda dua hal ini dilakukan agar muda dalam pengawasannya. c. Dalam perencanaan jumlah parkir untuk roda dua lebih banyak dibanding dengan roda empat, hal ini karena kondisi ekonomi masyarakat kota kendari sendiri yang kebanyakan

menggunakan roda dua.

B. Konsep Bentuk dan Penampilan Bangunan 1. Bentuk Bangunan Bentuk bangunan terbagi menjadi tiga bentuk dasar, yaitu: a. Bentuk lingkaran b. Bentuk segi empat c. Bentuk segi tiga Adapun yang menjadi dasar memilih bentuk masa bangunan adalah: 1) Bentuk dasar ruang adalah persegi empat, sebagai bentuk yang paling
165

efektif dan efisien terhadap pemanfaatan ruang. 2) Bentuk dasar untuk kegiatan pada bangunan ini menggunakan konsep analogi. 2. Penampilan Bangunan Penampilan bangunan pada Gelanggang Remaja ini sesuai dengan gaya yang diterapkan pada bangunan. Dalam arsitektur pengenalan simbol merupakan suatu proses yang terjadi pada individu dan masyarakat. Melalui panca indera (indera penglihatan) manusia mendapat rangsangan yang kemudian menjadi pra-persepsi. Terjadilah pengenalan objek, selanjutnya terwujud persepsi. Setelah itu terjadilah penyesuaian diri. Dapat disimpulkan bahwa disini karakter gedung olahraga harus terbentuk berdasarkan karakter dari pola kegiatan di dalamnya. Pada gedung ini menggunakan satu jenis gaya arsitektur untuk semua bangunan yang ada didalamnya yaitu arsitektur modern minimalis. Hal ini dikarenakan oleh gaya modern minimalis memiliki bentuk yang simple tapi punya kesan. Gaya modern minimalis merupakan gaya yang sangat simple tetapi tetap berkesan formal dan rekreatif. Gaya arsitektur minimalis didominasi oleh bentuk kotak dengan ornament batu alam serta kaca bening. Gaya arsitektur modern minimalis ini juga lebih menggunakan warna-warna gelap seperti hitam, abu-abu, dan putih yang dipadu padanknan dengan warna terang seperti merah, oranye atau kuning pada salah satu bidang fasad.
166

Tampilan dari bangunan ini menggunakan jenis arsitektur modern sebagai penggambaran dari kemajuan teknologi yang mejadi salah satu faktor penting.

Ada berbagai filosopi bentuk yang diambil dari perencanaan skatepark center ini. Diantaranya Kotak sebagai filosopi bentuk dari karakter remaja yang suka berkelompok Sebagai filosopi dari bentuk lintasan skateboard . Sebagai filosopi dari bentuk helm pemain skateboard .
Gambar V. 24 filosopi bentuk

Untuk menghasilkan transformasi bentuk maka penggabungna dari bentuk di atas di jadikan sebagai dasar untuk merancang penampilan pada bangunan ini nantinya .

167

Gambar V.25 Transformasi bentuk

C. Acuan Perancangan Mikro 1. konsep Perancangan Secara garis besar pelaku yang beraktivitas pada Perencanaan Gelanggang Remaja dapat dibedakan menjadi tiga kelompok utama yaitu kelompok pengunjung, penyewa retail, dan kelompok pengelola. Perancangan interior Pusat olahraga skateboard di Kota Kendari ini mengangkat konsep perancangan Sport and Rilex . Konsep ini bertujuan ingin memberitahukan kepada masyarakat bahwa skateboard bukan hanya olahraga yang membutuhkan konsentrasi saja dalam bermain. Tetapi skateboard merupakan salah satu alternatif hiburan yang dapat membuat orang santai, mengendorkan urat syaraf, melepaskan emosi.
168

Sport dan Rilex dapat terpancar antara lain dari: - Pengorganisasian ruang. - Penggunaan warna-warna dalam ruang. Yaitu warna-warna yang dapat membuat orang bersemangat untuk bermain, warna-warna yang baik untuk berkonsentrasi khususnya pada pencahayaan buatan / lighting. - Penggunaan baan material pada ruangan. - Permainan garis dan bentuk dalam elemen-elemen ruang. Perancangan Gelanggang Remaja di Kota Kendari ini bukan hanya tempat untuk bermain saja, tetapi juga tempat untuk menampung semua kegiatan-kegiatan yang berhubungan rekreasi dan olahraga.. Di dalam perancangan ini terdapat fasilitas-fasilitas tambahan antara lain, cafetaria dan skateshop untuk menampilkan konsep yang diingankan dalam perancangan ini . perancang menitip beratkan pada pengguna utama yaitu anak muda yang membutuhkan sutau tempat hiburan, dimana bukan hanya menampilkan kesan bermain dan gembira sebagai atmosfer ruang, tetapi juga yang dapat menimbulkan suasana yang nyaman, rileks dan santai dalam ruangan .

2. Analisis Kegiatan Pengguna gelanggang remaja adalah : remaja, infrastruktur/pengajar, pengelola, dan pengunjung umum (pengunjung fungsi komersial). Program

169

kegiatan dari masing - masing pengguna yang datang ke gelanggang remaja yaitu sebagai berikut: a. Remaja 1. Belajar Meliputi kegiatan belajar kursus bahasa asing, pelatihan komputer,

perakitan hardware, pelatihan bengkel mesin, pelatihan sketsa/lukis. 2. Kegiatan Organisasi Kepemudaan Meliputi kegiatan berkumpul, rapat, mengatur jadwal kegiatan remaja di gelanggang remaja, mengadakan acara dan sebagainya. Fasilitas yang harus diadakan untuk kegiatan ini adalah ruang unit dan ruang bersama (untuk kumpul dan rapat). Sedangkan untuk acaranya tergantung jenis acaranya. Untuk kegiatan olah raga diakomodasi oleh fasilitas olahraga, demikian pula untuk kegiatan seni dan pendidikan. 3. Kegiatan Lain Berdiskusi, bersosialisasi, hang out, surfing di internet, fitness, main bilyar, dan game online. b. Instruktur/staf pengajar/pelatih Kegiatan utama staf pengajar/instruktur/pelatih adalah

memberikan bimbingan kepada remaja yang mengikuti pelatihan di gelanggang remaja. Kegiatan lainnya seperti rapat, istirahat di ruang pengajar, makan di restoran atau cafe . c. Pengelola
170

Kegiatan pengelola adalah mengelola gelanggang remaja. Tugas pengelola berbeda-beda tergantung divisinya. Ada yang bertugas untuk mengelola pada bagian administrasi, maintenance bangunan dan

pengelolaan keuangan. Kegiatannya dapat berupa aktivitas di kantor atau meninjau kondisi gelanggang. Kegiatan lainnya seperti istirahat di

kantor, makan di restoran atau bersantai di kafe. d. Umum Pengunjung umum adalah mereka yang bukan anggota gelanggang, yang datang ke gelanggang remaja untuk berbelanja, makan, latihan fitness, main bilyar, menyewa DVD, atau ke salon. Mereka adalah pengunjung umum yang bukan anggota gelanggang.

3. Analisis Kebutuhan Ruang Berdasarkan hasil studi banding, fasilitas yang ada dalam gelanggang remaja terdiri dari fasilitas pendidikan dan keterampilan, kesenian, olahraga, pengelolaan dan fasilitas penunjang. Selain itu, gelanggang remaja ini dilengkapi dengan fasilitas komersial. Perhitungan kebutuhan ruang

tercantum dalam tabel program ruang berikut :

171

Luas lahan yang dibutuhkan dengan rasio perbandingan bangunan dengan halaman adalah: BC: OS = 60:40 OS = OS =
60 60

/40 x total luas lantai /40


x

4800

m2

= 7200 m2 Luas lahan yang tidak terbangun = 7200 m2 Luas Site = BC + OS = 4800 m2+ 7200 m2 = 12000 m2 Jadi, diasumsikan pengembangan site terbesar 25% yaitu: Luas pengembangan = 25% x 12000 m2 = 3000 m2 Maka total luas site yang dibutuhkan, yaitu = Site + Pengembangan = 12000 m2 + 3000 m2 = 15000 m2 ~ 1,5H

4. Pola Hubungan Ruang a. Kelompok kegiatan Penunjang


172

Gambar V.26 . Pola Hubungan Ruang Kelompok kegiatan Penunjang Keterangan: Erat Kurang erat Tidak ada hubungan b. Kelmpok Kegiatan Utama

Gambar V. 27 pola hubungan ruang Kelmpok Kegiatan Utama Keterangan: Erat Kurang erat Tidak ada hubungan
173

c. Kelompok Kegiatan Pengelola

174

Gambar V.28 pola hubungan ruang Kelmpok Kegiatan pengelola Keterangan: erat kurang erat Tidak ada hubungan

d. Kelompok Ruan Service

Gambar V.29 . pola hubungan ruang Kelompok Ruang Service Keterangan: Erat Kurang erat
175

Tidak ada hubungan

D. Konsep Struktur dan Bahan Material Bangunan 1. Sistem Struktur System struktur yang digunakan adalah: a. Modul Modul yang digunakan adalah modul dasar 30 cm dan kelipatannya, sedangkan modul struktur yang merupakan kelipatan dari perencanaannya yaitu 600 cm. b. Upper struktur Untuk atap yang mempunyai bentangan yang besar dipergunakan struktur rangka space frame, sedangkan untuk ruang-ruang lain menggunakan struktur plat beton dengan alasan sifatnya kaku, kekuatan kuat terhadap tarik dan tekan, macam perencanaan bervariasi dan pelaksanaanya bisa dalam waktu singkat. c. Super struktur Struktur dengan penekanan pada kolom dan balok sebagai struktur utama dan untuk dinding menggunakan bata. d. Sub struktur Pondasi yang digunakan yaitu jenis pondasi sumuran dan pondasi rakit karena daya dukung struktur kuat, merata dan cocok untuk semua jenis tanah.
176

2. Bahan Material Bangunan Bahan bangunan yang dipergunakan dalam perencanaan Pusat Olahraga Skateboard di Kendari ini adalah: 1) Beton a) Tahan terhadap udara yang lembab yang mengandung kadar garam tinggi. b) Titik lebur pada suhu yang tinggi. c) Tidak memerlukan perlakuan khusus dalam perawatan dan pemakaian. d) Cukup fleksibel. e) Waktu pekerjaan cukup lama. f) Kualitas bahan tidak selalu homogen. g) Memerlukan perhitungan yang cukup cermat dalam menetukan besar kolom dan balok. 2) Kaca a) Mempunyai beban yang relatif berat b) Mempunyai daya tahan yang cukup lama dan membutuhkan perawatan yang cukup c) Mempunyai sifat akuistik yang memantulkan suara d) Mempunyai daya tahan terhadap api dan menyerap panas serta tahan terhadap air.
3. Sistem Pengkondisian Ruang

1. Sistem Pencahayaan
177

a. Sistem Pencahayaan Alami Untuk menghindari terjadinya efek silau oleh sinar matahari langsung, maka alternatif untuk mengatasinya adalah dengan cara perletakan ruang yang membujur Utara - Selatan. Sinar matahari juga dapat digunakan sebagai sumber pencahayaan pada pagi dan siang hari. Alternatif lainnya adalah: a) Penggunaan sunscreen untuk menghindari penyinaran matahari yang berlebihan dan efek silau. b) Penggunaan tanaman sebagai filter panas dan cahaya matahari.

Gambar V.30. Pencahayaan alami melelui kaca

178

b. Pencahayaan Buatan Pencahayaan buatan dipergunakan terutama pada malam hari, utamanya pada ruang-ruang rapat dan pertokoan, yang memungkinkan terjadinya aktifitas hingga malam hari dan pada ruang tertentu di siang hari yang tidak terkena sinar matahari. Serta sebagai pelengkap interior bangunan dan dipergunakan untuk penerangan darurat pada ruangruang penunjang. Pencahayaan buatan dipergunakan untuk menerangi keseluruhan bangunan pada malam hari terutama untuk mempertimbangkan faktor keamanan pada area parkir dari halaman selain itu juga dapat sebagai pelengkap eksterior bangunan. 4. Sistem Penghawaan 1) Penghawaan Alami Yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan penghawaan alami, yaitu: a) Aliran dan pengendapan udara Aliran dan pengendapan udara diusahan untuk selalu terjadi ventilasi silang (cross ventilation) sehingga udara dalam ruangan terus mengalir dan tetap sehat.

179

Gambar V.31. Sistem Penghawaan Alami dengan Sistem Ventilasi Silang (Sumber: Anatomi Utilitas, 1997: 43)

b) Polusi bau dan debu Polusi bau dan debu harus dipertimbangkan kondisi lingkungan bangunan agar polusi dan debu dapat dihilangkan atau disaring dengan memanfaatkan lansekap dan vegetasi.

Gambar V. 32. Tanaman dapat menyaring debu, bau dan memberikan udara segar (Sumber: Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap, 2004) 180

2) Sistem penghawaan buatan Penghawaan buatan dapat memakai AirCondition dengan 2 sistem, yaitu: a) AC Central/Central Station System Sistem AC ini digunakan pada ruang, seperti, Kantor pengelola, Skateshop, hall/lobby, kafetaria. b) AC Unitary System Kapasitasnya yang secukupnya, pengoperasiannya yang relatif mudah dan dapat sewaktu-waktu, seperti ruang rapat dan sebagainya.

5. Sistem Tata Suara/Akustik

Pada bangunan dengan beragam fungsi atau kegiatan dapat menimbulkan konflik antara ruang-ruang yang menimbulkan bunyi dengan ruang yang membutuhkan ketenangan. Untuk itu pengendaliannya memerlukan pertimbangan: 1) Pengelompokan ruang berdasarkan sifat masing-masing kegiatan 2) Pada ruang tertentu yang dapat menimbulkan suara gaduh dan berpengaruh pada ruang yang lain, maka digunakan material absorpsi (bersifat menyerap suara). 3) Pada ruang yang membutuhkan tingkat kebisingan relatif rendah dilakukan pengaturan jarak dari sumber gaduh dan menggunakan
181

material absorpsi. 6. Konsep Ruang Dalam Konsep ruang dalam sangat membantu dalam pendesaianan ruang dalam bangunan, dimana kenyamanan dalam ruang dapat di ciptakan semaksimal mungkin. Untuk mengkaji permasalahan yang di angkat yaitu bagaimana mendesain keterpaduan antar fungsi utama bangunan dengan fasilitas pendukung bangunan maka hal yang menjadi penekanannya yaitu: 1) Bentuk dan Proporsi Ruang Bentuk ruang yang menggambarkan kegiatan yang terkoordinasi, terarah dan terpadu sesuai dengan proporsi ruang yaitu: 1) Tidak memungkinkan adanya ruang mati. 2) Ketinggian lantai yang bervariasi. 3) Efektifitas dalam perabotan. 4) Sesuai dengan karakter dan fungsi ruang. 5) Penerapan warna yang sesui dengan karakteristik ruang. 6) Pemakaian bahan material yang aman dan nyaman.

2) Lay Out

182

Pengaturan dan penataan yang setepat-tepatnya, seperti letak perabotan yang tersedia demi keleluasan gerak bagi penghuninya. Adapun ha-hal yang perlu diperhatikan dalam penataan lay out perabot adalah: a) Pemilihan perabot disesuaikan dengan dimensi, warna dan desainnya. b) Penataan perabot disesuaikan dengan fungsi ruangan c) Penataan perabot harus dapat memberikan rasa nyaman dan senang bagi para pengguna bangunan.
d) Diusahakan agar dari penataan perabot dapat memberikan adanya

keleluasan bagi: (2) Gerakan-gerakan pengguna ruangan yang sedang beraktifitas (3) Kemungkinan pemanfaatan ruangan bagi keperluan lain pada waktu-waktu tertentu. (4) Kemungkin perkembangan dan perluasan kegiatan dikemudian hari. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam meletakkan barangbarang supaya terlihat menarik bagipengunjung, antara lain: - Time Objek yang menggunakan pencahayaan yang terang dapat lebih mudah dilihat oleh pengunjung dalam waktu yang singkat. Hal ini biasanya digunakan pada show window sebuah toko, sehingga objekobjek tersebut dapat bercerita kepada pengunjung dalam waktu yang cukup singkat.
183

- Size Objek dan detail yang besar akan lenih mudah dilihat oleh pengunjung. Dan untuk objek-objek yang kecil membutuhkan pencahayaan yang lebih terang supaya dapat dilihat dengan jelas. - Contras Tingkat kontras yang tinggi antara objek dengan background dapat menarik perhatian pengunjung dengan baik. Kontras dapat dihasilkan melalui pencahayaan dan pemakaina warna.

- Brightness Dapat memberikan bentuk yang jelas terhadap suatu obek - Color Peraturan yang utama yaitu strong color akan menguntungkan jika digunakan pada area kecil. Karena penggunaan strong colors pada area yang luas / benar akan membingungkan, tidak menyenagkan dan dapat merusak perhatan pengunjung terhadap barang yang dijual. Warna-warna hangat mempunyai sifat memajukan sedangkan warna-warna yang dingin bersifat menarik kembali. Prinsip ini menganjurkan untuk menggunakan warna-warna yang dingin sebagai display background, dan warna-warna hangat berada di depannya. Peranan pencahayaan pada sebuah toko sangatlah penting, antara lain:
184

- Pencahayaan yang baik dapat menarik perhatian pengunjung untuk datang dan melihat-lihat barang-barang yang terdapat pada Skateshop tersebut. - Menghasilkan sebuah pemandanga yang baik / menarik untuk dilihat. Sehingga mempengaruhi pandangan pembeli terhadap kualitas barang yang dijual, dengan kata lain dapat meningkatkan kualitas barang. - Membuat suasana interior yang enak, menyenangkan dan atmosfir yang nyaman baik pengunjung maupun karyawan. (Daniel Schwartzman, Stanley McCandless:119-130)

7. Pola Penataan Ruang

Pola penataan ruang interior Pusat Olahraga Papan Luncur ini berpusat pada arena skatepark indoor sebagai tempat yang paling utama. area kafe berada di belakang dan mengarah arena skatepark sehingga tidak mengganggu konsentrasi para pemain skateboard. Skateshop barada disamping arena skatepark, sehingga pengunjung dapat dengan mudah mencapai area tersebut. Konsentrasi pengunjung yang sedang bermain skateboard tidak terganggu oleh pengunjung yang datang hanya untuk melihat-lihat dan bersantai di dalam bangunan tersebut. Karakter non formal diwujudkan dengan penataan ruang yang open space. Pengunjung di ruang yang satu dapat memperhatikan pengunjung yang berada pada ruang lain. Open space dapat mempermudah pengunjung untuk
185

memenuhi kebutuhannya. Pengunjung yang sedang bermain skateboard dapat dengan mudah memesan makanan atau minuman dari kafe, atau dapat dengan mudah membeli peralatan yang dibutuhkan untuk bermain pada skateshop. Pengunjung kafe dan skateshop pun dapat menikmati aktivitas-aktivitas pada arena skatepark dengan baik. Pengunjung dapat saling belajar dengan melihat pemain-pemain lain yang lebih ahli sedang bermain. Penggunaan penataan ruang open space mengandung unsur edukasi bagi pengunjung.

8. Pola Penataan Bentuk, Bahan dan Warna dari Elemen-Elemen Pembentuk Ruang a. Lantai 1) area skatepark Kesan nonformal ditampilkan dengan penggunaan garis dan bentuk lengkung pada pola lantai, yaitu pola lantai yang terdapat pada sirkulasi utama yang menghubungkan antara ruang yang satu dengan ruang yang lain. Bahan yang digunakan adalah marmer karena dilalui oleh banyak orang yang dapat member kesan eksklusif. Penggunaan warna kuning memberi efek menarik, dan pada lantai memberi kesan pergerakan yang mengasyikan. 2) area kafe Pola lantai pada area kafe bervariasi mengikuti pola grouping dan sirkulasi. Pola lantai ditengah kafe menggunakan bahan yang
186

berbeda yaitu parket dengan tujuan mengikat perabot-perabot yang diatasnya, dan memberi arah sirkulasi yang jelas bagi pengunjung. Penggunaan bahan parket dapat memberikan perasaan aman, stabil, kuat karena pengunjung berada ditempat tersebut dalam waktu yang cukup lama. (Van Nostrand Reinhold, 1993: 14). b. Dinding 1) area skatepark Pola dinding interior bangunan ini didomonasikan oleh unsur garis lurus horizontal. Pola tersebut bertujuan mengarahkan orang untuk bergerak searah garis tersebut. Dinding pada elemen skatepark menggunakan bahan gypsum yang didalamnya berisi serat fiber berfungsi sebagai penyerap suara. Penggunaan penyerap suara tersebut penting karena suara yang ditimbulkan oleh para skater, terutama unsur yang memisahkan dengan kafe. Penggunaan warna biru tua dan hijau yang dominan dapat

merilekskan serta cocok untuk kegiatan-kegiatan yang membutuhkan konsentrasi yang tinggi. (Van Nostrand Reinhold, 1993: 15). 2) area kafetaria Salah satu sisi dari area kafe terdapat jendela yang cukup besar, bertujuan memberikan perasaan lega bagi pengunjung kafe.
187

Penggunaan jendela tersebut juga untuk memanfaatkan sinar matahari

yang masuk pada pagi dan siang hari, karena jendela tersebut menghadap ke arah timur. Penggunaan cahaya alami tersebut dapat menghemat listrik yang digunakan. c. Plafon Plafon menggunakan gypsum board. Plafon dibuat berfariasi dengan ketinggian dan pola yang berbeda dengan mengikat area-area tertentu. Pada sirkulasi utama, plafon menggunakan warna biru dengan bentuk-bentuk lengkung sesuai dengan pola lantainya untuk mendukung kesan nonformal yang ingin diciptakan. Pada arena skatepark menggunakan pola pafon dan bahan yang berbeda dengan area yang lain, yaitu pola garis-garis lurus dan penggunaan bahan acrylic yang disinari lampu TL dari atas untuk memberi kesan paling utama dibanding ruang-ruang yang lain. d. Perabot 1) area skatepark Perabot-perabot yang digunakan cenderung mengunakan

bentukan yang sederhana sesuai dengan gaya modern yang dipakai, lebih banyak menggunakan permainan warna. 2) area kafe Sedangkan pada area kafe disediakan sofa-sofa panjang yang berhubungan antara satu dengan yang lain dan menempel pada dinding. Meja-meja kafe menggunakan bentuk kotak yang dapat digabungkan
188

menjadi satu. Hal tersebut untuk dapat menampung pengunjung dalam jumlah yang cukup banyak, missalnya pada event-event tertentu sehingga pengunjung dapat lebih akrab dan dapat menampung dalam jumlah yang banyak. Kesan nonformal ditampilkan dengan penggunaan beberapa macam warna pada satu jenis kursi. Kursi kafe memadukan warna hitam dan putih, sedangkan kursi bar memadukan warna hitam, putih dan hijau, dan sofa memadukan warna kuning dan hijau.

9. Prinsip Penataan Interior a. Karakter, Gaya, dan Suasana Ruang Karakter yang ingin ditampilkan adalah karakter ruang yang sifatnya non-formal. bangunan ini dapat menjadi sebuah sarana bagi informasi untuk bersantai, bersosialisasi antara sesama pemain skateboard. Persamaan hobi cenderung membuat orang untuk berkumpul atau membuat sesuatu perkumpulan dengan mudah. Gaya yang dipilih untuk mendukung karakter yang ingin dicapai adalah modern. Hal tersebut sesuai dengan keinginan masyarakat yang ingin serba praktis dan efisien dalam segala hal. Suasana yang ingin ditampilkan adalah suasana yang sport dan rilex, membuat orang bersemangat untuk bermain skateboard.
189

Prinsip utama dalam penataan interior selalu dititik beratkan pada unsur manusia, ruang dan lingkungan. Ketiga faktor tersebut sangat penting, oleh karena itu harus diperhatikan untuk bisa menghasilkan suatu perancangan dasar yang mantap. Faktor manusia seagai subjek yang akan menempati ruang dengan ikatan lingkungan yang terpaut padanya harus dijaga kesatuannya agar dapat menghasilkan karya yang mampu mencerminkan suasana dari aktifitas yang terjadi dalam ruang tersebut. (Pamudji Sutandar, 1985, hal 5) Elemen-elemen ruang seperti lantai, diding, palfon juga harus diperhatikan. Lantai dapat menunjang fungsi atau kegiatan yang terjadi dalam ruangan, dapat membeli karakter dan dapat memperjelas sifat ruangan misalnya memberikan permainan pada permukaan lantai itu sendiri. Pada bangunan-bangunan umum, lantai berfungsi memberikan arah menuju ke suatu tempat. Syarat-syarat lantai pada sebuah bangunan adalah lantai harus kuat, dapat menehan beban dan mudah dibersihkan. Dinding merupakan unsur penting dalam pembentuk ruang, baik sebagai unsur penyekat atau pembagi ruang dan sebagai unsur dekoratif. Penggunaan dinding yang tepat akan mengubah menjadi berbagai bentuk ruang dan dapat menyembunyikan atau menutupi kesalahan-kesalahan arsitektural.

190

Selain dinding dan lantai, plafon juga merupakan salah satu unsur penting sebagai pembentuk ruang. Setiap ruang harus mempunyai karekteristik plafon yang berbeda-beda sesuai dengan jenis kegiatannya. (Desain Interior, 1999, Pamudji Suptandar, Djambatan, Jakarta, hal 27) b. Kriteria Dan Persyaratan Untuk Elemen-Elemen Pelengkap Ruang 1. Pencahayaan Cahaya merupakan unsur yang tak kalah penting dalam perancangan ruang dalam, karena memberi pengaruh sangat luas serta menimbulkan efek tertentu. Sistem pencahayaan pada hakekatnya dapat dibedakan dalam dua aspek prinsip yaitu yang bersangkutan dengan aspek penglihatan dan dari segi suasana dan dekorasi.dengan mempelajari berbagai macam teknik yang mempunyai berbagai kegunaan dan menimbulkan efek-efek sendiri yang berbeda akan menghasilkan suasana yang diharapkan akan terjadi dalam ruang. (Desain Interior, 1999, Pamudji Suptandar, Djambatan, Jakarta). Terang cahaya atau penerangan ditentukan oleh: - Kondisi ruang (tertutup/terbuka) - Letak penempatan lampu - Jenis daya lampu - Jenis permukaan benda-benda dalam ruangan (memantulkan/menyerap cahaya) - Warna-warna dinding (gelap/terang)
191

- Udara dalam ruang - Pola diagram dari tiap lampu Terdapat dua macam sistem penerangan, yaitu penerangan alami (dengan mengoptimalkan pencahayaan matahari, memperhatikan orientasi dan pergerakan matahari) dan buatan (dengan menggunakan lampu, lilin, dll). Sistem pencahayaan buatan dibedakan atas: - Pencahayaan langsung : semua sinar langsung memancar dari sumber cahaya ke objek yang disinari. - Pencahayaan tidak langsung : sumber cahaya disembunyikan dari padangan mata, cahaya yang dihasilkan adalah hasil pantulan. Tujuannya untuk menuntun/mengarahkan pada suatu objek. - Pencahayaan setempat : pencahayaan yang diarahkan untuk menerangi suatu tempat/objek yang membutuhkan pencahayaan khusus. - Pencahayaan yang membisu : sinar yang memancar kearah objek melalui material yang menyebabkan sinar tersebut dalam area yang lebih besar dari pada sumbernya. Tabel V.6 Efek Psikologis Cahaya Intensitas Cahaya Terang Efek Psikologis Formal, riang, megah Ruang Ruang publik (toko,
192

terminal, dll) ruang anakanak, kantor, ruang tamu. Agak redup Akrab, nyaman. Redup Tenagn, hening, syahdu. romantis, hangat, Ruang keluarga, ruang

makan/restoran, taman. Ruang tidur.

(Unsur-unsur dan prisip-prinsip Desain Interior, 1998, Triadi Laksmiwati, CV. Rama M.G, Jakarta)

2. Penghawaan Untuk membantu mengatasi udara panas yang berlebihan di dalam ruang maka diperlukan suatu sistem penghawaan. Banyak cara yang digunakan untuk mengurangi panas dalam ruangan diantaranya pemakaian reflection glass, alat peneduh atau penangkal cahaya dan yang paling terkenal adalah penggunaan AC (air conditioning). Untuk mengatur kesejukan udara ada dua sistem yang dikenal yaitu sistem alami (cross ventilation) dan mekanis (kipas angin dan AC). Untuk mendapatkan sistem pengkondisian udara yang sejuk, bersih dan nyaman ada beberapa parameter yang dapat digunakan sebagai acuan,yaitu:
193

- Temperatur radiasi rata-rata konstan - Kecepatan aliran udara yang diinginkan - Kebersihan udara dari polusi - Partikel udara yang menimbulkan bau - Kualitas ventilasi - Tingkat kebisingan yang ditimbulkan oleh suara dari luar - Temperatur bola kering dan absah dari udara - Segi-segi ekonomis dalam harga dan perawatan - Pertimbangan estetis dari bentuk AC itu sendiri. (Desain Interior, 1999, Pamudji Suptandar, Djambatan, Jakarta). 3. Akustik Akustik adalah pengaturan suara sedemikian rupa sehingga suara yang timbul tidak mengganggu, justru memberi kenikmatan pada pemakai ruang. Untuk menghindari gema/gaung digunakan tekstur dinding kasar, bentuk dinding bergelombang/berlipat-lipat, material accoustic tile, softboard, vinyl, karpet, dll. (Unsur-unsur dan prisip-prinsip Desain Interior, 1998, Triadi Laksmiwati, CV. Rama M.G, Jakarta) Sistem akustik harus diperhatikan pada Perencanaan

Gelanggang Remaja di Kota Kendari, karena diarea skatepark pasti menimbulkan kebisingan. Suasana ini dapat mempengaruhi pegunjung dari sisi psikologis, seperti konsentrasi terganggu, perasaan terkejut dan
194

tidak nyaman. Pengurangan kebisingan dapat dilakukan dengan memperdengarkan musik-musik lewat sound system. Akustik atau sound system merupakan unsur penunjang terhadap keberhasilan desain yang baik, pengaruh dari sound system sangat kuat dan dapat menimbulkan efek-efek psikis dan emosional dalam ruang. (Desain Interior, 1999, Pamudji Suptandar, Djambatan, Jakarta). 4. Warna Warna merupakan aspek yang dapat mempengaruhi visual suatu ruang. Warna juga dapat mengkamuflasekan sesuatu, misalnya ruang yang sempit dapat kelihatan lebih luas dan sesuatu yang menpunyai proporsi kurang bagus menjadi bagus. (John F. Pile,1995). Warna memiliki pengaruh psikologis terhadap seseorang dan dibawah ini adalah efek-efek psikologis tentang warna. (Dasar-Dasar Tata Rupa dan Desain, 2005, Drs. Sdjiman Ebdi Sanyoto, CV. Arti Bumi Intaran , Yogyakarta, hal 38)

a. Merah 1. Asosiasi : pada darah dan juga api 2. Karakter : kuat, energik, marah, berani, bahaya, positif, agresif merangsang, panas. 3. Simbol : berani, bahaya, marah, perang, perselisihan.
195

Merah dapat membangkitkan energi, hangat, komunikatif, aktif, optimis, antusias dan bersemangat, memberi kesan sensual dan mewah, meningkatkan aliran darah didalam tubuh, dan bekaitan dengan ambisi. Terlalu banyak warna merah bisa merangsang kemarahan dan agresivitas. b. Orange 1. Asosiasi : pada awan jingga 2. Karakter : memberi dorongan, merdeka, anugerah, bahaya. 3. Imbol : kemerdekaan, penganugerahan, kehangatan, bahaya. Oranye punya karakter yang mirip dengan merah tetappi lebih feminim dan bersahabat. Warna yang melambangkan sosialisasi, penuh harapan dan percaya diri, membangkitkan semangat, vitalitas, dan kreativitas. Dapat menimbulkan perassan positif, senang, gembira dan optimis, penuh energi, bisa mengurangi depresi atau perasaan tertekan. Bila berlebihan justru akan merangsang perilaku hiperaktif. c. Kuning 1. Asosiasi : pada sinar matahari, bahkan pada mataharinya sendiri. 2. Karakter : terang, gembira, ramah, supel, riang, cerah. 3. Simbol : kecerahan, kehidupan, kemenangan, kegembiraan, kemeriahan.
196

Kuning adalah warna matahari, cerah, membangkitkan energi dan mood, warna yang penuh dengan semangat dan vitalitas, komunikatif dan mendorong ekspresi diri, memberi inspirasi, dan memudahkan berpikir secara logis dan mendorong ekspresi diri, memberi inspirasi, memudahkan berpikir secara logis dan merangsang kemampuan intelektual (cocok sebagai warna atau aksen di ruang belajar). Penggunaan yang kurang tepat justru akan menimbulkan kesan menakutkan. d. Hijau 1. Asosiasi : pada hijaunya alam, tumbuh-tumbuhan, sesuatu yang hidup dan berkembang. 2. Karakter : segar, muda, hidup, tumbuh. 3. Simbol : kesuburan, kesetiaan, keabadian, kebangkitan,

kesegaran, kemudaan, keremajaan, keyakinan. Hijau selalu dikaitkan dengan warna alam yang menyegarkan, membangkitkan energi dan juga mampu memberi efek

menenangkan, menyejukkan, menyeimbangkan emosi. Warna ini elegan, menyembuhkan, mendorong perasaan empati terhadap orang lain. Nuansa hijau juga bisa menimbulkan perasaan terperangkap. e. Biru 1. Asosiasi : pada air, laut, langit, di Barat pada es.
197

2. Karakter : dingin, pasif, melankolis, sayu, sendu, sedih, tenang, berkesan jauh tetapi cerah. 3. Simbol : keagungan, keyakinan, keteguhan iman, kebenaran, kesetiaan, kecerdasan, kemurahan hati, perdamaian. Biru tidak bisa lepas dari elemen air dan udara, melambangkan keharmonisan, memberi kesan lapang. Pemakaian warna biru dapat menimbulkan perasaan sejuk, tentram, hening dan damai, memberi kenyamanan dan perlindungan. Warna biru yang kuat bisa merangsang kemampuan intuitif dan memudahkan meditasi. Terlalu banyak biru bisa menimbulkan kelesuan f. Cokelat 1. Asosiasi : pada tanah, warna tanah atau warna natural. 2. Karakter : kedekatan hati, sopan, arif, bijaksana, hemat, hormat. 3. Simbol : kesopanan, kearifan, kebijaksanaan, kehormatan. Cokelat merupakan warna netral yang natural, hangat, membumi dan stabil, menghadirkan kenyamanan, memberi kesan anggun dan elegan. Dapat memberi keyakinan dan rasa aman, cokelat merupakan warna yang akrab (familiar) dan menenangkan, bisa mendorong komitmen, namun juga bisa menjadi berat dan kaku bila terlalu banyak. g. Abu-abu
198

1. Asosiasi : suasana suram, mendung, kelabu tidak ada cahaya bersinar. 2. Karakter : antara hitam dan putih. Pengaruh emosinya berkurang dari putih, tetapi terbebas dari tertekan berat warna hitam, sehingga wataknya lebih menyenagkan. 3. Simbol : ketenangan, kebijaksanaan, mengalah, kerendah hati. Abu-abu termasuk warna netral yang dapat menciptakan kesan serius, namun juga menentramkan dan menimbulkan perasaan damai. Kesan lain adalah independent dan stabil, menciptakan keheningan dan kesan luas. Abu-abu juga terkesan dingin, kaku, tidak komunikatif.

E. Konsep Utilitas dan Kelengkapan Bangunan a. Instalasi listrik Penyediaan listrik pada perumahan harus mempertimbangkan

kebutuhan pada kegiatan, kenyamanan serta keamanan. Dengan pertimbangan tersebut, maka supply listrik yang dipergunakan adalah menggunakan fasilitas kota dengan jasa PLN sebagai sumber listrik utama untuk kebutuhan akan penerangan alat-alat elektronik pada perumahan. Jika sewaktu-waktu terjadi pemadaman listrik maka digunakan tenaga listrik cadangan berupa genset dengan memanfaatkan sub-sub panel pada unit-unit yang memerlukan panel
199

tersendiri dan dihubungkan dengan mempergunakan system gerak kerja peralihan dengan Automatic Transfer Switch (ATS). PLN Metera n

P.C.Penerangan Gardu Distrib usi P.C. Pompa Panel Utama P.C. AC P.C. Tata Suara ATS Travo

Genset

Gambar V. 33 Skema. Distribusi Aliran Listrik

b. Air bersih Sumber air bersih untuk kebutuhan utama pada perumahan

memanfaatkan fasilitas kota melalui jasa PDAM dan sebagai cadangan


200

mempergunakan sumur dalam (deep weel), dengan mempertimbangkan kebersihan serta kebutuhan yang besar akan air tersebut. Air bersih dari sumber air tersebut dihisap dengan pompa dan di tamping pada bak penampungan, selanjutnya dipompakan ke atas (reservoir atas) kemudian didistribusikan ke unit bangunan dengan pertimbangan sifat mekanis air.

Splinker Hydrant Gedung Hydrant Halaman PDA M Reservo ir Bawah Deep Weel Pomp a Reservoi r Atas Kitchen Sink Pomp a WC Wastafel

Gambar V. 34.Skema Distribusi Air Bersih 201

c. Air kotor Pembuangan air kotor yang berasal dari disposal padat disalurkan ke Septiktank dan diteruskan ke bak peresapan, sedang hasil dari buangan disposal cair diteruskan ke bak kontrol dan diteruskan ke got besar yang selanjutnya diteruskan ke riol kota. Pembuangan air hujan dialirkan ke got besar yang kemudian di teruskan ke saluran pembuangan kota.

WC Watafel

Septick Tank

Peresapan

Bak Kontrol Air Hujan Riol Kota


Gambar V. 35.Skema Distribusi Air Kotor

Got Besar

202

d. Persampahan Sampah-sampah yang berupa sisa-sisa bahan padat dikumpulkan pada bak sampah yang kemudian di tempatkan pada masing-masing bak sampah (organik dan anorganik) yang telah disediakan pada bagian depan atau samping rumah yang selanjutnya akan diangkut oleh petugas pengangkut sampah dan dibawa ke tempat pengumpulan sampah yang telah disediakan oleh pengelolah kompleks perumahan. Sampah yang telah dikumpulkan kemudian di angkut petugas kebersihan kota dan dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Tempat Sampah dalam rumah

Bak sampah masingmasing rumah

Cleaning Servis

TPS

TPA

Gambar V. 36. Skema Distribusi Sampah

e. Sistem komunikasi Dari pendekatan-pendekatan terhadap sistem komunikasi dan tata suara maka dirumuskan konsep sistem komunikasi dan tata suara pada Perencanaan Gelanggang Remaja di Kota Kendari, yaitu: 1) Jaringan komunikasi internal
203

a) Komunikasi antar pengelola intern menggunakan jaringan intercom. b) Komunikasi antar pengelola dan pengunjung ataupun antar pengunjung, terwujud dalam bentuk pengumuman dan panggilan. 2) Jaringan komunikasi eksternal Demi kemudahan pengunjung mengakses komunikasi eksternal, bangunan ini memiliki fasilitas telepon umum dan warnet dengan pendekatannya pada teknologi komunikasi terkini.

KOMUNIKASI
Ruangan Telkom PGX Operator Sistem Operator.... Ruangan Ruangan

Intercom Telkom Intercom Sistem Intercom.... Sistem Speaker... Telkom

Speaker Speaker Speaker

Gambar V. 37. Skema Sistem Komunikasi

204

f. Sistem penangkal petir

Sistem penangkal petir digunakan pada bangunan untuk melindungi dari bahaya ledakan dan kebakaran yang ditimbulkan oleh sambaran petir. Sistem penangkalan petir terdiri dari: a) Sistem konvensional, yaitu sistem Faraday dan sistem Franklin b) Sistem radio aktif Pemilihan sistem penangkalan petir dipertimbangkan terhadap ketinggian bangunan dan segi estetika, utamanya pada penampilan bangunan dan pemeliharaan. Sistem penangkalan petir yang umumnya digunakan adalah sistem Faraday, yang terdiri dari: (1) Alat penerima setinggi 150 cm pada setiap jarak 20 meter (2) Kawat mendatar (3) Pertahanan

Antena Elektroda Pertahanan Daerah Pertahanan


205

Terminal Tanah

Gambar V.38. Sistem Penangkal Petir Tongkat Franklin (Sumber: Farah, 2005: 206)

g. Sistem sirkulasi vertical System transportasi vertikal yang digunakan adalah tangga normal, tangga kebakaran, dan ramp dengan dasar pertimbangan, yaitu kapasitas pelayanannya mampu menampung aktifitas yang ada dan kenyamanan.

h. Sistem pengaman terhadap pancurian Perencanaan pengamanan terhadap menggunakan kamera CCTV (Closed Circuit Television) di sudut-sudut ruangan.

206

Gambar V. 39. CCTV

Gudang Cat avian

Pertamina Tapal kuda

207