Anda di halaman 1dari 27

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional-diskriptif dengan rancangan cross-sectional. Penelitian cross-sectional adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui prevalensi suatu efek atau penyakit pada suatu waktu, oleh karena itu disebut juga dengan studi prevalensi (Notoatmodjo, 2005). Pengambilan data dilakukan dengan pembagian quisioner kepada para responden dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi ketidakpatuhan pasien penderita hipertensi.

3.2 Populasi dan Sampel 3.2.1 Populasi Subjek penelitian ini adalah pasien rawat jalan penderita hipertensi bagian kardiologi dan penyakit dalam di RSU H. Adam Malik Medan. Subjek penelitian yang dipilih adalah semua populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kriteria inklusi adalah pasien yang mempunyai tekanan darah diatas normal dengan atau tanpa penyakit komplikasi, sedangkan kriteria eksklusi adalah pasien yang mempunyai tekanan darah normal.

3.2.2 Sampel Sampel diambil dengan cara purposive sampling dengan objek penelitian seluruh pasien rawat jalan penderita hipertensi di RSU H. Adam Malik Medan. Pengambilan sampel metode purposive sampling merupakan suatu metode dimana sebahagian dari anggota populasi menjadi sampel penelitian sehingga sampel yang diikutsertakan dalam penelitian tersebut berdasarkan pada pertimbangan peneliti sendiri yang mana pada awalnya telah diidentifikasi berdasarkan karakteristik populasi secara keseluruhan (Notoatmodjo, 2005). Pengambilan besar sampel dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan rumus (Lemeshow, 1997):

Universitas Sumatera Utara

n=

Z 21-a/2 p(1-P) d2

Keterangan : n Z1-a/2 P D

= Jumlah Sampel Minimal = Derajat Kemaknaan = Proporsi Pasien = Tingkat presisi / deviasi

Dengan persen kepercayaan yang diinginkan 95%; Z1-a/2 = 1,960; P = 0,5: d = 0,1 Maka diperoleh besar sampel minimal : n= 1,960 2 x 0,5(1 0,5) = 96,04 orang 0,12 Jadi, jumlah sampel minimal adalah 96 orang. Namun demikian, pasien yang ikut serta dalam penelitian ini berjumlah 110 orang.

3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di RSU H. Adam Malik Medan tepatnya di bagian kardiologi dan penyakit dalam pada bulan Juni-Juli 2009.

3.4 Defenisi Operasional Pembatasan operasional penelitian dijelaskan melalui defenisi operasional berikut: a. Hipertensi : suatu peningkatan kronis tekanan darah arteri sistolik dan diastolik yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Hipertensi didefenisikan oleh Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC) VII sebagai tekanan darah yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg. Dalam penelitian ini, penetapan subjek yang positif hipertensi didasarkan pada defenisi JNC VII. Penelitian ini tidak mengelompokkan subjek ke dalam tingkatan hipertensi serta tidak membedakan hipertensi primer dan hipertensi sekunder. b. Faktor Ketidakpatuhan : merupakan suatu kondisi yang berpotensi bagi pasien untuk tidak melaksanakan terapi obat sesuai yang telah diinstruksikan kepadanya. Faktor ketidakpatuhan yang diukur dalam

Universitas Sumatera Utara

penelitian ini adalah jenis kelamin, usia, masalah yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan, masalah yang berhubungan dengan pasien yang bersangkutan, reaksi obat yang merugikan, pendidikan, jumlah obat yang diminum, lamanya menderita hipertensi. Sedangkan defenisi operasional variabel penelitian adalah sebagai berikut : a. Jenis Kelamin : penderita hipertensi tersebut berjenis kelamin pria atau wanita b. Usia pasien: pada penelitian ini, peneliti mengklasifikasi usia tersebut menjadi 4 kelompok, yaitu: <55 Tahun, 55-64 Tahun, 65-74 Tahun, 75 Tahun. Usia subjek dihitung sejak tahun lahir sampai dengan ulang tahun terakhir. c. Pendidikan : Berhubungan dengan pendidikan akhir yang sudah dijalani pasien d. Jumlah obat yang diminum : untuk mengetahui berapa banyak kombinasi obat yang digunakan oleh dokter untuk diminum oleh pasien yang bersangkutan. e. Lamanya menderita hipertensi : sudah berapa lama pasien tersebut menderita hipertensi dihitung sejak pertama kali mengalami tekanan darah diatas normal f. Kesembuhan pasien: untuk menilai keberhasilan dari pengobatan yang dijalani pasien. g. Pemeriksaan ulang (check up): menyangkut perilaku pasien untuk mengontrol perkembangan penyakitnya. h. Pengobatan lain : berhubungan dengan pengobatan alternatif yang dijalani oleh pasien. i. iPelayanan kesehatan : menilai kepuasan pasien terhadap pelayanan rumah sakit. j. Pelayanan dokter: menilai kepuasan pasien terhadap pelayanan dokter.

k. Informasi yang berhubungan dengan penyakit: meliputi pengguan obat, penyakit hipertensi dan komplikasi yang mungkin timbul serta modifikasi pola hidup.

Universitas Sumatera Utara

l.

Mahalnya biaya pengobatan: berhubungan dengan kemampuan ekonomi pasien untuk membiayai pengobatan penyakitnya.

m. Kemudahan mendapatkan obat: berhubungan dengan kemudahan pasien untuk memperoleh obat di tempat pelayanan kesehatan, seperti apotek. n. Pelayanan apotek: meliputi keramahtamahan petugas apotik dan kecepatan pengerjaan obat.

3.5

Instrumen Penelitian 3.5.1 Sumber Data Sumber data dalam penelitian yaitu data primer berupa kuisioner dan

wawancara singkat yang dilakukan secara langsung pada subjek penelitian untuk menguatkan data yang diperoleh dan mendapatkan informasi tambahan.

3.5.2 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan pembagian kuisioner yang akan diisi oleh responden penderita hipertensi disertai dengan wawancara singkat. Responden tersebut diketahui menderita hipertensi setelah dilakukan pengukuran tekanan darah oleh perawat yang bertugas pada saat itu dan pemeriksaan tekanan darah ini wajib dilakukan bagi setiap responden untuk setiap kali melakukan kunjungan pengobatan. Jawaban kuisioner yang telah diisi oleh responden ditabulasikan hasilnya dan setiap faktor ketidakpatuhan dianalisis hingga diperoleh prevalensi setiap faktor ketidakpatuhan tersebut dengan kepatuhan responden dalam melaksanakan terapi obat.

3.6

Teknik Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara bertahap meliputi

analisis univariat untuk menghitung distribusi frekuensi, analisis bivariat untuk melihat apakah ada hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen dengan menggunakan Chi-Square, serta analisis multivariat untuk mengetahui faktor ketidakpatuhan yang mana yang paling berpengaruh terhadap ketidakpatuhan responden itu sendiri dalam melaksanakan terapi obat. Analisis multivariat dihitung dengan menggunakan uji regresi logistik berganda metode

Universitas Sumatera Utara

Backward Wald. Regresi logistik berganda merupakan jenis analisis statistik yang lazim digunakan pada studi cross-sectional untuk mengetahui hubungan antara beberapa variabel independen, baik yang bersifat numerik maupun yang nominal, dengan satu variabel dependen yang bersifat dikotom seperti iya-tidak atau hidupmati (Uyanto, 2009). Keistimewaan analisis regresi ganda logistik dibanding dengan analisis ganda linier adalah kemampuannya mengkonversi koefisien regresi (bi) menjadi Odds Ratio (OR) (Murti, 2003). Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan program SPSS Version 13.0. sehingga diperoleh informasi tentang faktor utama yang menyebabkan pasien tidak patuh dalam melaksanakan terapi obat.

3.7 Rancangan Penelitian Adapun gambaran dari pelaksanaan penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.1 berikut :
Subjek Penelitian

- Pembagian Quisioner - Wawancara Singkat

Analisis Faktor yang Berhubungan

Gambar 3.1 Skema Rancangan Penelitian

Universitas Sumatera Utara

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Umum Subjek Berdasarkan kuisioner yang telah dibagikan kepada 110 orang subjek penelitian, diperoleh gambaran umum karakteristik subjek antara lain ; 62,73 % yang berusia 56-80 Tahun, 50 % berjenis kelamin wanita, dan 58,18% yang sejauh ini telah menyelesaikan pendidikan lanjutan. Karakteristik umum subjek yang diteliti ini secara garis besar ditunjukkan pada Tabel 4.1. Tabel 4.1 Karakteristik Umum Subjek Penelitian No Karateristik Subjek Kelompok Usia 1 32-55 Tahun 56-80 Tahun Jenis Kelamin 2 Pria Wanita Pendidikan Terakhir 3 Pendidikan Dasar Pendidikan Lanjutan 46 64 41,82 58,18 55 55 50 50 41 69 37,27 62,73 Jumlah ( n = 110) %

4.2 Analisis Bivariat Tabel 4.2 Hubungan antara beberapa variabel dengan ketidakpatuhan pasien No (A) 1 Usia 32-55 tahun 56-80 tahun Pendidikan Pend. Dasar Variabel yang berhubungan (B) Jumlah (C) 41 69 46 % (D) 37.27 62,73 41,82 Signifikansi (Nilai p) (E) 0,000

0,000

Universitas Sumatera Utara

Pend. Lanjutan Lamanya Menderita <5 tahun >5 tahun Kesembuhan Pasien Ada Tidak Ada

64 52 56 90 20 36 48 26 77 33 41 69 38 72 96 14 98 12 84 26 14 96 102 8 109

58,18 47,27 52,72 81,81 18,19 32,72 43,63 23,63 70 30 37,27 62,73 34,54 65,46 87,27 12,73 89,09 10,91 76,36 23,64 12,73 87,27 92,73 7,27 99,10 0,009 0,002 0,002

0,000

Banyaknya Jenis Obat 1 jenis 2 jenis 3-5 jenis

0,009

Pemeriksaan Ulang (Check Up) Ada Tidak Reaksi Obat yang Merugikan Ada Tidak Ada Pengobatan Lain Ada Tidak Ada

0,001

0,003

Pelayanan Kesehatan Puas Tidak Puas Pelayanan Dokter Puas Tidak Puas

0,046

10

0,010

11

Informasi Penyakit Ada Tidak Ada Mahalnya Biaya Pengobatan Ya Tidak Kemudahan Mendapatkan Obat Mudah Tidak Mudah

0,000

12

13

0,010

14

Pelayanan Apotek Puas

0,158

Universitas Sumatera Utara

Tidak puas 4.2.1 Faktor Usia

0,90

Berdasarkan tabel hasil uji chi-square pada kelompok umur dapat terlihat bahwa yang berumur 32-55 tahun ada sebanyak 41 orang (37,27%) dan yang berumur 56-80 tahun sebanyak 69 orang (62,73%). Dari hasil ini, terlihat jelas bahwa selama penelitian dilakukan pasien dengan kelompok umur 56-80 tahun lebih banyak jika dibandingkan dengan kelompok umur 32-55 tahun. Hasil analisis bivariat dengan chi-square test antara variabel usia dengan kepatuhan dalam melaksanakan terapi obat menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan nilai p<0,05 sehingga faktor usia berhubungan dengan kepatuhan dalam meminum obat. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

4.2.2 Faktor Pendidikan Pada umumnya subjek dalam penelitian ini adalah yang telah mengecam pendidikan tingkat lanjutan (58,18%) atau sebanyak 64 orang, sedangkan yang telah menyelesaikan pendidikan tingkat dasar sebanyak 46 orang (41,82%). Hasil analisis bivariat dengan chi-square test antara variabel pendidikan dengan kepatuhan dalam mengkonsumsi obat menunjukkan hubungan yang sangat bermakna (nilai p<0,05) sehingga faktor pendidikan berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam meminum obatnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

4.2.3 Faktor Lamanya Menderita Berdasarkan hasil penelitian, bahwa banyaknya pasien yang telah menderita hipertensi selama <5 tahun menunjukkan porsi yang tidak jauh berbeda dengan pasien yang telah menderita selama >5 tahun, yaitu masing-masing sebanyak 52 orang (47,27%) dan 58 orang (52,72%). Hasil analisis bivariat dengan chi-square test antara variabel lamanya telah menderita hipertensi dengan kepatuhan minum obat menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik (nilai p<0,05) sehingga faktor ini berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam meminum obatnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

Universitas Sumatera Utara

4.2.4 Faktor Kesembuhan Pasien Jumlah pasien yang telah merasakan kesembuhan dalam jangka yang agak lama (tidak terlalu sering lagi menderita tekanan darah diatas batas normal) sebanyak 90 orang (81,81%) sedangkan yang masih terlalu sering merasakan tekanan darah diatas batas normal sebanyak 20 orang (18,18%). Hasil analisis bivariat dengan chi-square test antara variabel tingkat kesembuhan pasien dengan kepatuhan minum obat menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik (nilai p<0,05) sehingga faktor ini berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam meminum obatnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

4.2.5 Faktor Banyaknya Jenis Obat Jumlah pasien yang mengkonsumsi hanya 1 jenis obat anti hipertensi adalah sebanyak 36 orang (32,72%), yang berjumlah 2 jenis adalah sebanyak 48 orang (43,63%) serta 26 orang (23,63%) untuk pasien yang telah mengkonsumsi jenis obat sebanyak 3-5 jenis. Hasil analisis bivariat dengan chi-square test antara variabel banyaknya jenis obat yang dikonsumsi oleh pasien dengan kepatuhan minum obat menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik (nilai p<0,05) sehingga faktor ini berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam meminum obatnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

4.2.6 Faktor Pemeriksaan Ulang (Check Up) Jumlah pasien yang melakukan pemeriksaan ulang rutin sesuai yang telah diinstruksikan dokter kepadanya adalah sebanyak 77 orang (70%), sedangkan jumlah pasien yang jarang melakukan pemeriksaan ulang rutin pada waktunya sebanyak 33 orang (30%). Hasil analisis bivariat dengan chi-square test antara variabel pemeriksaan ulang dengan kepatuhan minum obat menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik (nilai p<0,05) sehingga faktor ini berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam meminum obatnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

Universitas Sumatera Utara

4.2.7 Faktor Reaksi Obat yang Merugikan Berdasarkan hasil penelitian, banyaknya pasien yang merasakan reaksi obat yang merugikan sebanyak 41 orang ( 37,27%), sedangkan pasien yang tidak merasakan efek terapi yang merugikan ini adalah sebanyak 69 orang(62,72%). Hasil analisis bivariat dengan chi-square test antara variabel reaksi obat yang merugikan dengan kepatuhan minum obat menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik (nilai p<0,05) sehingga faktor ini berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam meminum obatnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

4.2.8 Faktor Pengobatan Lain Berdasarkan hasil penelitian, jumlah pasien yang melakukan pengobatan lain diluar pengobatan yang sedang dijalaninya saat ini adalah berjumlah 38 orang (34,54%), sedangkan jumlah pasien yang tidak melaksanakan alternatif pengobatan lain sebanyak 72 orang (65,45%). Hasil analisis bivariat dengan chi-square test antara variabel pegobatan lain dengan kepatuhan minum obat menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik (nilai p<0,05) sehingga faktor ini berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam meminum obatnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

4.2.9 Faktor Pelayanan Kesehatan Jumlah pasien yang menyatakan puas terhadap pelayanan kesehatan di RSU H. Adam Malik medan sebanyak 96 orang (87,27%), sedangkan yang menyatakan tidak puas terhadap pelayanan kesehatan dirumah sakit tersebut sebanyak 14 orang (12,73%). Hasil analisis bivariat dengan chi-square test antara variabel pelayanan kesehatan dengan kepatuhan minum obat menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik (nilai p<0,05) sehingga faktor ini berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam meminum obatnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

4.2.10 Faktor Pelayanan Dokter Berdasarkan hasil penelitian, pasien yang menyatakan puas terhadap pelayanan dokter selama pasien tersebut menjalani pengobatan adalah sebanyak

Universitas Sumatera Utara

98 orang (89,09%), sedangkan pasien yang menyatakan tidak puas terhadap dokter yang menanganinya ada sebanyak 12 orang (10,91%). Hasil analisis bivariat dengan chi-square test antara variabel pelayanan dokter yang menanganinya dengan kepatuhan minum obat menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik (nilai p<0,05) sehingga faktor ini berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam meminum obatnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

4.2.11 Faktor Informasi Penyakit Pasien yang menyatakan cukup mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan ketika berkunjung melakukan pengobatan berjumlah 84 orang (76,36%), sedangkan jumlah pasien yang menyatakan tidak cukup mendapatkan informasi adalah 26 orang (23,64%). Hasil analisis bivariat dengan chi-square test antara variabel informasi penyakit dengan kepatuhan minum obat menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik (nilai p<0,05) sehingga faktor ini berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam meminum obatnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

4.2.12 Faktor Mahalnya Biaya Pengobatan Setelah dihitung, ternyata banyaknya pasien yang menyatakan bahwa biaya untuk pengobatan penyakit hipertensi tidak mahal berjumlah 96 orang (87,27%), sedangkan yang menyatakan bahwa biaya pengobatan tersebut masih tergolong mahal berjumlah 14 orang (12,73%). Hasil analisis bivariat dengan chi-square test antara variabel mahalnya biaya pengobatan dengan kepatuhan minum obat menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik (nilai p<0,05) sehingga faktor ini berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam meminum obatnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

4.2.13 Faktor Kemudahan Mendapatkan Obat Pasien yang mengaku cukup mudah mendapatkan obat yang telah diresepkan kepadanya adalah sebanyak 102 orang (92,73%), sedangkan pasien yang mengaku sulit mendapatkan obat sebanyak 8 orang (7,27%).

Universitas Sumatera Utara

Hasil analisis bivariat dengan chi-square test antara variabel kemudahan mendapatkan obat dengan kepatuhan minum obat menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik (nilai p<0,05) sehingga faktor ini berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam meminum obatnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

4.2.14 Faktor Pelayanan Apotik Berdasarkan hasil penelitian, jumlah pasien yang mengaku puas terhadap pelayanan apotik adalah sebanyak 109 orang (99,10%), sedangkan yang menyatakan tidak puas berjumlah 1 orang (0,9%). Hasil analisis bivariat dengan chi-square test antara variabel pelayanan apotik dengan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obatnya tidak

menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan nilai 0,158 (p>0,05) sehingga faktor ini tidak berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam meminum obatnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

4.3 Analisis Multivariat Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada 13 variabel independen yang berpengaruh terhadap ketidakpatuhan pasien dalam melaksanakan terapi obat, sedangkan hanya 1 variabel yang tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik. Selanjutnya, untuk mengetahui bentuk hubungan antara variabel tersebut dan untuk mengetahui variabel mana yang paling berpengaruh, maka dilakukan analisis multivariate terhadap seluruh variabel independen dengan regresi logistik ganda, menggunakan metode Backward Wald pada program SPSS Version 13.0. Hasil analisis regresi logistik ganda variabel independen yang

berhubungan dengan ketidakpatuhan pasien dalam melaksanakan terapi obat dengan menggunakan metode Backward Wald ditunjukkan pada Tabel 4.3.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 4.3 Hasil uji regresi logistik ganda metode Backward Wald Beberapa variabel yang berhubungan dengan ketidakpatuhan pasien hipertensi dalam melaksanakan terapi obat Exp(B 95.0% C.I.for B S.E. Wald df Sig. ) EXP(B) Lower Upper Step 1(a) Pendidik an Lama menderit a kesembu han pasien Banyakn ya jenis obat Check Up reaksi obat merugika n pengobat an lain pelayana n kesehata n pelayana -.813 1.61 .252 1 0.61 .444 .019 10.603 -1.855 1.63 1.29 0 4 1 0.25 5 .156 .006 3.821 -2.400 .976 6.04 3 1 0.01 4 .091 .013 .615 -1.739 .881 3.89 9 1 0.04 8 .176 .031 .987 2.330 1.16 3.97 9 5 1 -.215 .605 .127 1 3.053 -1.754 .852 Umur 2.234 .972 5.28 2 1 0.02 2 0.02 5 0.04 0 9.334 1.389 62.712

-2.991

1.33 5.01 5 6 4.23 5

.050

.004

.688

.173

.033

.920

1.49 4.19 0 9

0.04 0

21.189 1.142

393.056

0.72 2 0.04 6

.806

.246

2.637

10.283 1.040

101.655

Universitas Sumatera Utara

n dokter informasi penyakit mahalnya pengobat an kemudah an mendapat kan obat Constant 15.328 2.165 -3.637 2.728

9 1.03 6.97 3 8 1

6 0.00 8 0.04 3 15.298 2.022 115.765

1.79 4.09 8 4

.026

.001

.892

1.80 1.44 3 1

0.23 0

8.711

.254

298.397

401 92.9 .000 74 1

1.00 0

.000

Sumber : Hasil Pengolahan Data Berdasarkan Tabel 4.3 dapat disimpulkan bahwa variabel usia, pendidikan, lamanya menderita hipertensi, tingkat kesembuhan yang telah dicapai pasien, rutinnya pasien melakukan Check Up, adanya reaksi obat merugikan yang dirasakan oleh pasien, pasien menjalani pengobatan lain serta mahalnya biaya pengobatan ternyata berpengaruh terhadap ketidakpatuhan pasien dalam melaksanakan terapi obat. model persamaan statistik yang diperoleh dari hasil analisis tersebut adalah : ln p 1- p = -15,328 + 2,234 usia + (-2,991) Pendidikan + (-1,754) Lamanya Menderita + 3,053 Kesembuhan Pasien + 2,330 Check Up + (-1,739) Reaksi Obat yang merugikan + (-2,400) Pengobatan Lain + 2,728 Informasi + (-3,637) Mahalnya Biaya Pengobatan

Universitas Sumatera Utara

4.4 Pembahasan 4.4.1 Hubungan Usia dengan Ketidakpatuhan Pasien Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, ditunjukkan bahwa faktor usia menunjukkan hubungan yang bermakna dengan ketidakpatuhan pasien dalam melaksanakan pola pengobatan yang telah diinstruksikan kepadanya, hal ini dapat dilihat dai nilai kebermaknaannya yaitu sebesar 0,022 (p<0,05). Informasi lain yang dapat kita peroleh bahwa pasien dengan usia 56-80 tahun, 9 kali cenderung untuk tidak patuh daripada pasien yang berusia 32-55 tahun. Dari wawancara yang telah dilakukan, pada umumnya pasien dengan umur yang sudah lanjut ditambah lagi dengan sudah lamanya menderita hipertensi, mengaku sering lupa atau enggan untuk meminum obatnya. Ada beberapa alasan yang diutarakan pasien tersebut diantaranya sudah jenuh meminum obat (karena penyakit yang dideritanya sudah cukup lama), sedangkan penyakitnya tidak kunjung sembuh sepenuhnya. Hal sebaliknya terjadi pada pasien kelompok umur 32-55 tahun, mereka mengaku takut meninggalkan pengobatan yang telah diinstruksikan oleh dokter yang menanganinya, hal ini mungkin dikarenakan penyakit tersebut baru diderita oleh pasien tersebut sehingga motivasinya untuk sembuh masih cukup besar. Faktor usia yang sangat berkaitan dengan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obatnya patut diwaspadai, terutama terhadap alasan lupa dalam meminum obatnya. Untuk menyikapinya, ada baiknya dokter memberikan obat dengan masa kerja panjang (long-acting drugs) sehingga pasien tidak perlu berulang-ulang meminum obatnya, obat dengan pola kerja seperti ini sangat efektif bagi pasien yang berusia lanjut.

4.4.2 Hubungan Pendidikan dengan Ketidakpatuhan Pasien Dari hasil penelitian yang telah diperoleh menyiratkan informasi bahwa dengan semakin tingginya pendidikan, ada kemungkinan pasien tersebut tidak patuh dalam menjalani pengobatannya. Faktor pendidikan menunjukkan hubungan yang bermakna dengan ketidakpatuhan pasien dalam melaksanakan pengobatannya yang ditunjukkan dengan nilai kebermaknaan sebesar 0,025 (p<0,05). Hal ini dapat disebabkan oleh adanya sedikit pengetahuan yang dimiliki

Universitas Sumatera Utara

pasien tersebut

mengenai penyakitnya, akibat

pengetahuan yang

tidak

menyeluruh, pasien sering mengabaikan instruksi yang telah diberikan oleh dokter kepadanya dan sering menganggap penyakit hipertensi tidak begitu fatal bagi kesehatannya padahal komplikasi yang timbul dari penyakit tersebut sangat membahayakan seiring tidak segera mengobatinya. Hal sebaliknya terjadi pada pasien yang hanya mengenyam pendidikan sampai sebatas tingkat dasar (SD-SMP), pada umumnya mereka patuh terhadap instruksi yang diberikan oleh dokter yang menangani penyakitnya, rasa takut akan semakin parahnya penyakit mereka jika tidak diobati secara intensif mendasari mereka untuk tetap patuh terhadap terapi yang sedang mereka jalani.

4.4.3 Hubungan Lamanya Menderita dengan Ketidakpatuhan Pasien Dari tabel 4.3 dapat kita lihat bahwa semakin lama pasien tersebut mengidap penyakit hipertensi maka prevalensinya untuk tidak patuh menjadi semakin tinggi hal tersebut dapat kita amati dari nilai kebermaknaan yang telah diperoleh dari penelitian ini yaitu sebesar 0,040 (p<0,05). Hal ini mungkin dikarenakan pasien yang bersangkutan telah jenuh menjalani pengobatan atau meminum obatnya sedangkan tingkat kesembuhan yang telah dicapai tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini juga terkait dengan jumlah obat yang diminum, pada umumnya pasien yang telah lama menderita hipertensi tapi belum kumjung mencapai kesembuhan, maka dokter yang menangani pasien tersebut biasanya akan menambah jenis obat ataupun akan meningkatkan sedikit dosisnya karena mungkin saja akibat lamanya menderita penyakit ini maka penyakit komplikasi lainnya sudah muncul. Akibatnya pasien tersebut cenderung untuk tidak patuh. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang telah diperoleh.

4.4.4 Hubungan Tingkat Kesembuhan yang Telah dicapai dengan Ketidakpatuhan pasien. Pasien yang telah merasakan kesembuhan dari penyakit sebelumnya dalam jangka waktu yang agak lama 21 kali lebih patuh untuk terus menjalani terapi obat yang diinstruksikan oleh dokter kepadanya daripada pasien yang merasakan tekanan darahnya tidak kunjung berada dalam batas normal sekalipun terapi obat

Universitas Sumatera Utara

tersebut telah dijalaninya selama ini. Hubungan antara faktor tingkat kesembuhan dengan ketidakpatuhuhan pasien ditunjukkan dengan nilai kebermaknaan yaitu sebesar 0,040 (p<0,05). Kesembuhan pasien, selain merupakan harapan pasien yang bersangkutan juga merupakan harapan semua tenaga kesehatan yang telah menanganinya. Kesembuhan tidak akan dicapai jika kerjasama atau interaksi antara pasien dengan tenaga kesehatan tidak terjalin dengan baik. Pasien yang patuh terhadap pola pengobatannya dan intensifnya seorang dokter menangani pasiennya akan meningkatkan probabilitas pasien untuk sembuh. Pasien yang merasakan kesembuhan atau sedikit merasa lebih baik dari penyakit yang sebelumnya telah ia rasakan akan meningkatkan motivasi pasien tersebut untuk patuh. Pengalaman yang baik antara pasien dengan dokter yang menanganinya juga dapat mengurangi kemungkinan pasien untuk berpindah-pindah tempat dalam melakukan

pengobatan sehingga pasien tersebut tetap fokus kepada satu pengobatan. Kegagalan terapi atau tidak tercapainya kesembuhan yang diinginkan terkadang tidak sepenuhnya berasal dari ketidakpatuhan pasien, dalam suatu survey yang telah dilakukan, banyak dokter yang tidak meresepkan cukup obat untuk mengontrol tekanan darah tinggi pasiennya., tetapi pada kenyataannya terlihat pasiennya mau, tetapi dokternya tidak meresepkan (Irmalita, 2003).

4.4.5 Hubungan Melakukan Pemeriksaan Ulang (Check Up) dengan Ketidakpatuhan Pasien. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh faktor ini menunjukkan hubungan yang bermakna dengan ketidakpatuhan pasien yaitu dengan diperolehnya nilai kebermaknaan sebesar 0,046 (p<0,05), hasil tabulasi pada Tabel 4.3 juga menginformasikan bahwa pasien yang rutin melakukan pemeriksaan ulang kepada dokter yang menanganinya 10 kali lebih patuh melaksanakan terapi yang telah diinstruksikan oleh dokter kepadanya daripada pasien yang jarang melakukan pemeriksaan ulang tersebut Pemeriksaan ulang yang dilakukan secara berkala oleh pasien yang bersangkutan dapat menjadi suatu indikasi bahwa pasien tersebut mempunyai motivasi untuk sembuh dan ingin merasakan kondisi yang lebih baik dari

Universitas Sumatera Utara

sebelumnya. Faktor ini dapat dijadikan sebagai suatu acuan apakah pasien tersebut patuh atau tidak terhadap pola pengobatannya. Pasien yang mengabaikan instruksi dokter untuk melakukan pemeriksaan kembali secara rutin tidak akan mendapat terapi yang maksimal karena perkembangan penyakitnya tidak di monitor dengan baik oleh dokter yang menanganinya atau akibat yang lebih berbahaya lagi, pasien tidak menyadari bahwa penyakit hipertensi yang sedang dideritanya telah menyebabkan timbulnya penyakit komplikasi lainnya akibat tidak pernah melakukan pemeriksaan ulang. Ketidakpatuhan pasien dalam melakukan pemeriksaan ulang pada dasarnya dapat diminimalisir dengan adanya atensi yang penuh dari semua perangkat kesehatan dengan menekan faktor ketidakpatuhan tersebut. Terlebih lagi, motivasi untuk melakukan pemeriksaan ulang dapat meningkat jika pasien yang bersangkutan mempunyai pengalaman yang baik dengan dokter yang menanganinya dan mempercayainya (Irmalita, 2003).

4.4.6 Reaksi Obat yang Merugikan dengan Ketidakpatuhan Pasien. Kita dapat melihat hasil dari data penelitian ini bahwa adanya keterkaitan atau hubungan antara ketidakpatuhan pasien dan pengalamannya terhadap reaksi obat yang merugikan, hal ini dapat dilihat dari nilai kebermaknaan yang diperoleh yaitu sebesar 0,048 (p<0,05). Tingkat kepatuhan pasien dalam meminum obat akan menurun jika faktor ini tidak ditekan, dan sangat memungkinkan pasien akan melakukan tindakan pindah pengobatan akibat tidak mengetahui efek merugikan ini serta tidak menyampaikan keluhan ini kepada dokter yang menanganinya. Dari wawancara singkat yang telah dilakukan peneliti terhadap pasien yang ikut berperan sebagai responden dalam penelitian ini, bahwa ada sejumlah obat, misalnya kaptopril yang menimbulkan efek samping yang merugikan yaitu pasien mengalami batuk-batuk setelah mengkonsumsi obat tersebut. Sangat disayangkan, ternyata dari beberapa pasien yang merasakan gejala ini, pasien yang bersangkutan tidak menyampaikan keluhan tersebut kepada dokter yang menanganinya dengan alasan batuk tersebut tidak terlalu kuat walaupun sebenarnya pasien tersebut mengaku sedikit terganggu dengan keadaan yang demikian. Jadi, tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya efek samping ini,

Universitas Sumatera Utara

pasien terkadang enggan untuk meminum obatnya karena merasa terganggu akibat efek tersebut.

4.4.7 Hubungan Adanya Pengobatan Lain dengan Ketidakpatuhan Pasien. Berdasarkan Tabel 4.3, dengan hasil nilai kebermaknaan sebesar 0,014 (p<0,05) menunjukkan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara variabel adanya pengobatan lain yang sedang dijalani oleh seorang pasien dengan ketidakpatuhan pasien dalam menjalani terapi obat. Berpindah-pindahnya seorang pasien dalam melakukan pengobatan dapat menjadi suatu indikasi bahwa pasien tersebut tidak patuh. Kesembuhan akan sulit dicapai jika pasien menggunakan pengobatan alternatif lain diluar pengobatan medis yang sedang dijalaninya. Hal ini disebabkan, jika pasien mencoba pengobatan alternatif lain, maka secara otomatis pengobatannya yang sekarang akan dihentikannya yang akibatnya terapi pada obat pertama tadi tidak akan dicapai karena instruksi dokter untuk meminum obat yang diresepkan tidak dijalani sepenuhnya. Tukar-menukar pengobatan atau tidak fokusnya pasien menjalani pengobatan akan berdampak buruk bagi pasien yang bersangkutan, lebih berbahaya lagi jika pasien tersebut mengkombinasikan semua obat-obatan dari semua tempat pelayanan kesehatan yang dikunjunginya. Disini peran seluruh tenaga kesehatan sangat berguna untuk mencegah tindakan pasien tersebut terjadi. Edukasi tentang penggunaan obat atau menjalani pengobatan yang seharusnya sangat penting diketahui oleh pasien dengan tujuan meminimalisir efek samping yang merugikan akibat salahnya penggunaan obat atau lebih jauh lagi dapat menimbulkan komplikasi penyakit yang pada akhirnya berdampak sangat buruk bagi pasien. Selain pasien yang bersangkutan, keluarga pasien juga hendaknya dilibatkan dalam proses edukasi tersebut sehingga kemungkinan untuk terjadinya tukar-menukar pengobatan akan semakin berkurang akibat adanya pengawasan dari keluarga.

4.4.8 Hubungan Mahalnya Biaya Pengobatan dengan Ketidakpatuhan Pasien. Faktor ini menjadi permasalahan yang sangat kuat untuk mendorong pasien tidak patuh terhadap terapi obat yang dijalaninya. Berdasarkan nilai

Universitas Sumatera Utara

kebermaknaan yang diperoleh dari hasil penelitian ini yaitu sebesar 0,043 (p<0,05), menunjukkan bahwa faktor ini memiliki hubungan yang bermakna dengan ketidakpatuhan pasien dalam melaksanakan pengobatannya. Akibat kurangnya biaya untuk mengobati penyakitnya, pasien cenderung menganggap remeh perkembangan penyakitnya atau terkadang mengabaikannya atau pada sebahagian pasien memang peduli dan takut terhadap efek yang dapat ditimbulkan dari penyakitnya tetapi tidak mampu mengobatinya karena faktor ekonomi yang tidak mendukung. Hal ini sangat berpotensi untuk menimbulkan penyakit komplikasi lain. Dari hasil yang didapat, faktor biaya menunjukkan hubungan yang bermakna untuk mendesak pasien menjadi tidak patuh. Dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap pasien, didapat informasi bahwa pasien yang menanggung biaya pengobatannya sendiri masih terasa terbebani karena karena mengangap biaya pengobatan tersebut masih tergolong mahal.. namun ada beberaa pasien yang mendapatkan program bantuan kesehatan dari pemerintah, misalnya askeskin atau sejenis lainnya. Bantuan ini sangat membantu pasien, oleh karena itu harapan pasien cukup besar terhadap pemerintah untuk terus menggalakkan program kesehatan gratis ini sehingga akan lebih banyak dirasakan oleh masyarakat kurang mampu lainnya yang pada akhirnya sangat bermanfaat untuk menekan angka kematian akibat penyakit komplikasi dari hipertensi. Kesuksesan dari manajemen pengobatan hipertensi sepatutnya harus dievaluasi tidak hanya dalam melaksanakan target pengobatan, seperti pengontrolan tekanan darah dan menjauhi segala faktor resiko terjadinya penyakit kardiovaskuler, tetapi juga pendekatan terhadap sumber daya yang digunakan. Pengefektifan dalam pengaturan biaya yang harus dikelurkan oleh pasien harus dioptimalkan bagi setiap individu maupun kelompok. Keefektifan pengeluran biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien harus sebanding dengan keuntungan yang diperoleh oleh pasien tersebut. Keuntungan tersebut termasuk pencegahan terhadap terjadinya morbiditas dan penyakit kardiovaskuler yang fatal serta meningkatkan kualitas hidup tanpa harus sering datang ke rumah sakit (Anonimc, 1996).

Universitas Sumatera Utara

4.4.9 Hubungan Informasi Mengenai Penyakit dengan Ketidakpatuhan Pasien. Informasi merupakan salah satu faktor yang sangat essential dalam meningkatkan kepatuhan pasien untuk mengkonsumsi obat yang telah di rekomendasikan kepadanya. Dari Hasil penelitian ini, faktor ini menunjukkan hubungan kebermaknaan yang sangat signifikan secara statistik dengan nilai p sebesar 0,08 (p<0,05), dari hasil ini mengingatkan kembali kepada kita bahwa kita tidak boleh menaksir terlalu rendah akan pentingnya informasi bagi pasien. Pasien yang telah mendapatkan informasi yang cukup 15 kali cenderung untuk lebih patuh terhadap pola pengobatannya daripada pasien yang tidak mendapatkan informasi mengenai penyakitnya. Pemberian informasi yang cukup sangat memungkinkan pasien termotivasi dalam menjalani pengobatannya dan mengetahui tentang penyakit yang sedang dideritanya. Oleh karena itu, informasi tentang penyakit yang sedang dideritanya, maupun hal-hal (faktor resiko) yang harus dijauhi pasien yang bersangkutan sangat penting diketahui oleh pasien agar keberhasilan terapi yang diinginkan dapat dicapai. Informasi dan sikap empati dari dokter kepada pasiennya dapat menjadi motivator yang kuat bagi pasien untuk menjalani pengobatannya. Kebanyakan pasien tidak memahami apa itu hipertensi, faktor resiko hipertensi secara keseluruhan, komplikasi, dan pengobatan yang diperlukan (Irmalita, 2003). Informasi ini sangat penting bagi pasien, karena sekalipun obat yang diberikan efektif, pengobatan tidak akan berhasil kecuali pasiennya termotivasi untuk meminum obatnya dan memodifikasi gaya hidupnya. Agar pasien yang bersangkutan selalu ingat terhadap pola pengobatan yang dianjurkan, maka ada baiknya dokter yang bersangkutan menuliskan instruksi tertulis bagi pasiennya.

4.4.10 Hubungan Jumlah Obat yang Diminum dengan Ketidakpatuhan Pasien. Banyaknya jumlah obat yang harus diminum oleh pasien, dapat dijadikan suatu alasan bagi pasien untuk tidak meminum obatnya. Alasan tersebut dapat berupa karena pasien yang bersangkutan sudah jenuh dengan obat yang diminumnya selama ini ditambah lagi dengan banyaknya jenis obat yang harus

Universitas Sumatera Utara

diminum sedangkan pasien yang bersangkutan tidak suka dengan rasa obat. Hal lain dapat memperparah keadaan ini, jika pasien tersebut telah lama menderita penyakit hipertensi sehingga rasa jenuh meminum obat dengan jenis yang banyak akan kerap mendekatinya. Namun demikian, berdasarkan hasil yang telah diperoleh dari penelitian ini, faktor ini menunjukkan hubungan yang tidak bermakna secara statistik dengan ketidakpatuhan pasien, hal ini dapat kita lihat dari nilai kebermaknaan sebesar 0,722 (p>0,05). Beberapa penelitian lain juga menunjukkan bahwa penyebab utama tidak terjadi penurunan tekanan darah yang optimal adalah karena pasien mengurangi penggunaan obat. Hal ini sudah menjadi suatu kebiasaan dimana pasien hanya ingin menggunakan obat sedikit mungkin untuk menyembuhkan tekanan darah tingginya(begitu pula terhadap obat-obat yang lain). Padahal tindakan ini sangat membahayakan bagi kesehatannya. Sayangnya, banyak dokter yang tidak mengetahui bahwa pasien mereka mengkonsumsi obat kurang dari dosis yang ditetapkan. Pada saat itu dokter berfikir bahwa obat yang diberikan belum cukup kuat untuk menurunkan tekanan darah, maka tanpa segan-segan dokter tersebut akan menaikkan dosisnya. Akibat dari masalah ini maka pasien harus mengkonsumsi lebih banyak obat sehingga akan timbul keengganan untuk meminum obatnya ke depan akibat tindakan pasien tersebut yang telah mengurangi penggunaan obat pada awalnya. Kondisi ini dalam waktu jangka panjang akan menyebabkan penyakit pasien menjadi bertambah parah atau akan menyebabkan terjadinya komplikasi penyakit (Soetrisno, 1986) Ketidakpatuhan tersebut dapat meningkat jika pengobatan yang diberikan tidak praktis, misalnya dengan beberapa kali dosis pemberian per hari. Bahkan ada suatu penelitian yang dilakukan terhadap pasien penderita hipertensi yang menyebutkan bahwa pasien-pasien tersebut sering lupa meminum obatnya di akhir pekan, meningkatkan dosis obat sebelum kontrol ke dokter dan sering kali tidak teratur meminum obatnya (Irmalita, 2003).

4.4.11 Hubungan Pelayanan Dokter dengan Ketidakpatuhan Pasien. Tidak dapat dipungkiri bahwa atensi seorang dokter yang begitu besar terhadap pasien yang ditanganinya dapat membantu meningkatkan kepatuhan

Universitas Sumatera Utara

pasien tersebut. Seperti yang telah dijelaskan pada faktor informasi diatas, pengalaman baik seorang pasien terhadap dokternya dapat mendorong pasien tersebut untuk bersungguh-sungguh menjalani instruksi yang telah diberikan kepadanya. Disini dokter mempunyai peranan yang sangat penting, cepat tanggapnya seorang dokter menangani keluhan pasien dapat menjadi faktor penentu dalam mencapai terapi yang diinginkan. Atensi ini dapat dilakukan dengan berbagai upaya, misalnya menanyakan tentang riwayat pengobatan pasien sebelumnya, menanyakan apakah ada perkembangan kesembuhan setelah pengobatan sekarang dijalani, dan yang tidak kalah pentingnya apakah pasien tersebut ada mengalami efek samping obat yang telah diberikan padanya saat ini. Hal ini sangat penting untuk ditanyakan kepada pasien yang bersangkutan karena jika hal ini terjadi maka pasien tersebut sangat memungkinkan untuk menghentikan pengobatannya maka dari itu ada baiknya dokter yang menangani pasien tersebut melakukan pendekatan lain(menggunakan terapi obat lainnya) sehingga motivasi pasien untuk tetap patuh terhadap pengobatannya tetap terjaga. Namun demikian, berdasarkan hasil penelitian yang telah ditabulasi, dengan nilai kebermaknaan 0,616 (p>0,05), variabel ini tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan ketidakpatuhan pasien dalam melaksanakan pengobatannya.

4.4.12 Hubungan Pelayanan Kesehatan dengan Ketidakpatuhan Pasien. Selain dokter, perangkat kesehatan lain juga tidak kalah penting berperan dalam menurunkan tingkat ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan yang dijalaninya. Peralatan yang memadai, keramahtamahan petugas dalam melayani, serta penerapan sistem pelayanan yang efektif dapat merangsang pasien penderita hipertensi secara intensif dan berkala melaksanakan semua pola pengobatan yang telah diinstruksikan. Keberhasilan terhadap pelayanan ini secara berkepanjangan tidak hanya menjadi kepuasan tersendiri bagi pasien tersebut, tetapi dapat membangun citra yang baik akan pengobatan medis di mata masyarakat .pelayanan yang baik dari semua tenaga kesehatan dapat menghambat pasien untuk menghentikan pengobatannya. Kepatuhan ini dapat ditingkatkan jika tenaga kesehatan dapat bekerja secara estafet dan bersatu dalam menangani pasien,

Universitas Sumatera Utara

karena pada dasarnya tidak semua tanggung jawab sosial ini dibebankan kepada dokter. Ada baiknya seorang farmasis dilibatkan juga dalam memonitor terapi sehingga penanganan ini menjadi lebih intensif dengan harapan terapi yang diinginkan dapat dicapai. Hal kecil lain yang dapat berdampak besar bagi pasien yang dapat dilakukan oleh perangkat kesehatan lain untuk meningkatkan kepatuhan pasien yaitu dengan memberikan informasi tambahan yang cukup tentang obat yang telah diresepkan dokter, misalnya tentang efek samping yang mungkin timbul sehingga pasien tersebut tidak berfikir negatif jika efek samping tersebut dirasakan yang pada akhirnya tidak membuat pasien tersebut menghentikan pengobatannya. Sistem pelayanan yang baik juga memegang peranan penting dalam memotivasi pasien untuk terus check up atau memantau perkembangan kesembuhannya, misalnya dengan membuat antrian yang teratur serta pelayanan yang cepat dan efektif sehingga pasien yang sedang sakit tidak merasa jenuh menunggu. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, variabel ini tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan ketidakpatuhan pasien dalam melaksanakan pengobatannya karena nilai kebermaknaan hasil tabulasi dari faktor ini adalah 0,225 (p>0,05).

4.4.13 Hubungan Mudahnya Mendapatkan Obat dengan Ketidakpatuhan Pasien. Sukarnya mendapatkan obat di daerah tertentu terkadang mendesak pasien menstop meminum obatnya untuk sementara waktu. Masalah ini biasanya dialami oleh pasien yang bertempat tinggal jauh dari daerah perkotaan. Hal ini terjadi pada saat obat yang dibawa pasien dari tempat pelayanan kesehatan habis, sedangkan pada saat ingin membelinya kembali di apotik di daerah tempat tinggalnya obat tersebut sulit didapatkan atau terkadang didapatkan tapi tidak semua jenis obat yang diresepkan ada terjual. Jika hal ini kita amati, kita akan berfikir bahwa hal ini sangat berbahaya bagi pasien, karena setelah dilakukan wawancara, pasien yang mengalami hal ini(tidak menebus resepnya kembali setelah habis akibat kurangnya persediaan obat di daerah tempat tinggalnya) selalu melakukan pemeriksaan ulang dengan keadaan tekanan darah diatas normal karena sudah

Universitas Sumatera Utara

tidak meminum lagi obatnya dalam jangka waktu tertentu. Masalah ini perlu kita waspadai, karena jika pasien tersebut terus-menerus berada dalam keadaan tensi diatas normal, maka lama-kelamaan hal tersebut sangat berpotensi untuk menimbulkan komplikasi penyakit. Masalah ini dapat dicegah dengan

memberikan jumlah obat yang dapat dikonsumsi oleh pasien dalam jangka waktu yang agak lama bagi pasien yang sedikit kesulitan mendapatkan obat di daerah tempat tinggalnya. Hal ini juga sangat membantu bagi pasien, yaitu efisiensi waktu dan jumlah uang yang dikeluarkan. Suatu survei menyebutkan bahwa pasien yang tempat tinggalnya tidak jauh dari tempat pelayanan kesehatan mempunyai kemungkinan 3 kali untuk teratur berobat atau disiplin melaksanakan pengobatan dibandingkan dengan pasien yang menyatakan bahwa tempat tinggalnya jauh dari tempat pelayanan kesehatan (Senewe, 2002). Namun demikian, berdasarkan hasil penelitian ini, variabel tersebut tidak memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan ketidakpatuhan pasien dalam melaksanakan pengobatannya, hal ini ditunjukkan dengan nilai

kebermaknaan yang lebih besar dari 0,05 (p = 0,230).

Universitas Sumatera Utara

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap 110 orang pasien yang ikut serta sebagai responden dalam penelitian ini, diperoleh gambaran umum karakteristik subjek yaitu : 62.73 % yang berusia > 55 Tahun, 50 % berjenis kelamin wanita, dan 41.82 % yang sejauh ini telah menyelesaikan pendidikan dasarnya. Hasil analisis data secara statistik terhadap berbagai faktor ketidakpatuhan pasien penderita hipertensi dalam melaksanakan terapi obatnya diperoleh kesimpulan sebagai berikut : a. Faktor utama yang mempengaruhi ketidakpatuhan pasien hipertensi di RSU H. Adam Malik Medan adalah mendapatkan informasi tentang penyakitnya. Hal ini terjadi 15 kali lebih besar pada pasien yang kurang cukup mendapatkan informasi tentang penyakitnya daripada pasien yang lebih cukup mendapatkan informasi (Wald = 6,978;OR = 15,298; Cl 95% = 2,02 - 115,77). b. Faktor ketidakpatuhan lainnya adalah adanya pengobatan lain yang dijalani oleh pasien (Wald = 6,043;OR = 0,091; Cl 95% = 0,013 0,615), faktor usia (Wald = 5,282 ;OR = 9,334 ; Cl 95% = 1,389 62,712), pendidikan (Wald = 5,016 ;OR = 0,050 ;Cl 95% = 0,004 0,688), lamanya telah menderita penyakit (Wald = 4,235 ;OR = 0,173 ;Cl 95% =0,033 0,920), tingkat kesembuhan yang telah dicapai (Wald = 4,199 ;OR = 21,189 ; Cl 95% = 1,142 393,056), rutinnya melakukan

pemeriksaan ulang (Check Up) (Wald = 3,975 ;OR =10,283 ;Cl 95% = 1,040 -101,655), adanya reaksi obat yang merugikan (Wald = 3,899 ;OR= 0,176 ;Cl 95% = 0,013 0,615), mahalnya biaya pengobatan (Wald = 4,094 ;OR = 0,026 ;Cl 95% = 0,001 0,892). Prevalensi ketidakpatuhan melaksanakan pengobatan 9,3 kali lebih tinggi pada pasien yang berumur >55 tahun; 10,3 kali lebih tinggi pada pasien yang jarang melakukan check up, 21,2 kali lebih tinggi pada pasien yang tidak merasakan kesembuhan

Universitas Sumatera Utara

penyakit; serta 8,7 kali lebih tinggi pada pasien yang agak kesulitan mendapatkan obatnya.

5.2 Saran a. Diharapkan kepada seluruh farmasis agar dapat memberikan edukasi bagi pasien akan pentingnya melakukan pengobatan secara regular serta informasi mengenai penyakit komplikasi yang dapat timbul akibat hipertensi jika pasien tidak patuh dalam melaksanakan pengobatanya. b. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor

ketidakpatuhan lain pada pengobatan hipertensi.

Universitas Sumatera Utara