Anda di halaman 1dari 22

Mikroskop Optik Untuk Pengamatan Sel Kulit Ivan Laurentius S 102011265 / B5 Mahasiswa FK UKRIDA Semester 1 FK UKRIDA 2011 Jalan

Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510 E-mail: archgear@gmail.com

Pendahuluan Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu aspek penting dalam peradaban manusia. Seturut dengan perkembangan peradaban, aspek ini juga berkembang dari masa ke masa. Aspek ini memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia; ia mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentunya memberikan dampak langsung terhadap keilmuan serta berbagai instrumen dan peralatan manusia. Salah satu hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah mikroskop. Mikroskop merupakan penemuan yang sangat berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selanjutnya; khususnya pada bidang ilmu kehidupan. Bagi bidang ilmu kehidupan, penemuan mikroskop memperkenalkan manusia pada berbagai kehidupan mikro yang belum diketahui manusia pada saat itu. Dengan mikroskop, manusia mengenal ruangan-ruangan kecil pada gabus yang saat ini dikenal dengan sel. Dari ditemukannya sel ini, terpicu berbagai upaya peningkatan kesejahteraan manusia dengan memanfaatkan berbagai kehidupan mikroskopis.

Mata Manusia Manusia sering kali melakukan pengamatan mikroskop secara langsung; hasil dari perbesaran mikroskop langsung dilihat dengan mata. Seperti terilustrasi pada gambar 1, mata manusia mampu membedakan warna berdasarkan warna yang termasuk dalam spektrum cahaya tampak: dari ungu, nila, biru, hijau, kuning, jingga, hingga merah. Mata manusia tidak dapat melihat gelombang ultraviolet atau gelombang inframerah. Mata manusia juga mampu membedakan kecerahan dan intensitas cahaya, mulai dari warna hitam hingga putih dan warna abu-abu di antara keduanya. Oleh karena itu, agar suatu objek dapat dilihat mata, objek

tersebut harus memantulkan gelombang cahaya tampak dalam warna yang ada pada spektrum cahaya tampak dengan berbagai tingkat intensitas cahaya.1

Gambar 1. Spektrum Cahaya Tampak1

Ilustrasi mata manusia dapat dilihat pada gambar 2. Reseptor pada indera penglihatan adalah retina pada mata. Reseptor mata pada retina untuk membedakan warna ada pada sel kerucut. Sel yang dapat membedakan tingkat kecerahan (bukan warna) adalah sel balok. Selsel ini terdapat di bagian belakang retina di dalam mata. Bagian depan mata termasuk iris, kornea, dan lensa mata adalah mekanisme mata dalam mengatur dan menfokuskan cahaya pada retina. Dari sana, informasi akan diteruskan ke otak melalui saraf optik.1

Gambar 2. Ilustrasi Mata Manusia dan Ilustrasi Retina Mata 1

Sifat Gelombang Cahaya Cahaya merupakan salah satu bentuk energi yang memiliki sifat gelombang. Cahaya datang dari suatu sumber cahaya dan merambat dalam bentuk gelombang.2 Gelombang

cahaya dapat merambat menempuh garis lurus baik dengan atau tanpa medium / perantara. Maka dari itu, gelombang cahaya merupakan gelombang elektromagnetik. Sebagai gelombang, cahaya merambat pada ruang vakum dengan kecepatan sekitar 300.000.000 meter per detik. Kecepatan, frekuensi, dan panjang gelombang cahaya mempengaruhi satu sama lain dengan formula cahaya, adalah frekuensi gelombang cahaya, dan dimana v adalah kecepatan adalah panjang gelombang.

Gelombang cahaya adalah gelombang elektromagnetik yang dapat dilihat oleh mata. Artinya, ada gelombang elektromagnetik yang tidak dapat dilihat mata. Mata hanya dapat melihat gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang sekitar 400nm hingga 750 nm. Gelombang elektomagnetik dengan panjang gelombang dalam jangkauan sedemikian disebut cahaya tampak. Seperti dapat dilihat dalam gambar 1, urutan warna cahaya sesuai dengan peningkatan besar panjang gelombang tersebut adalah ungu, nila, biru, hijau, kuning, jingga, dan merah. Cahaya putih adalah perpaduan dari ketujuh spektrum cahaya ini. Pada medium yang sama, kecepatan cahaya adalah sama. Sesuai dengan formula , maka besar frekuensi gelombang berbanding terbalik dengan panjang gelombang. Di lain sisi, besar frekuensi gelombang berbanding lurus dengan daya tembus gelombang elektromagnetik. Maka dari itu, spektrum cahaya merah dengan panjang gelombang besar dalam spektrum cahaya tampak memiliki daya tembus rendah. Sebaliknya, spektrum cahaya ungu dengan panjang gelombang kecil memiliki daya tembus besar. Karena metode pencahayaan yang umum dipakai adalah metode trans-illumination (cahaya diproyeksikan melalui spesimen; dari permukaan bawah spesimen menuju permukaan atas spesimen), spektrum cahaya yang lebih baik digunakan pada pengamatan mikroskop adalah warna ungu karena memiliki daya tembus yang besar.

Lensa dan Pengaruhnya Pada Cahaya Lensa dapat dibuat dari material bening atau transparan seperti kaca, plastik, atau bahkan intan.2 Sebagai suatu benda bening, cahaya dapat menembus lensa. Namun, berkas cahaya sebelum menembus lensa dapat berbeda dengan berkas cahaya setelah menembus lensa. Sifat akhir bayangan setelah menembus lensa dipengaruhi oleh bentuk dan jenis lensa yang dilaluinya. Sifat bayangan setelah melalui lensa akan mengalami perubahan karena adanya peristiwa pembiasan. Pembiasan terjadi karena adanya perbedaan indeks bias antara satu medium perambatan cahaya dengan medium yang lain. Berdasarkan hukum pembiasan,

cahaya yang datang dari medium kurang rapat menuju medium lebih rapat akan dibiaskan mendekati garis normal. Sebaliknya, cahaya yang datang dari medium lebih rapat menuju medium kurang rapat akan dibiaskan menjauhi garis normal. Perlu diingat bahwa dalam pembiasan juga dipengaruhi oleh sudut datang cahaya. Besarnya bayangan yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh bentuk lensa. Bila lensa memiliki permukaan yang datar, maka bayangan yang terbentuk tidak mengalami perubahan besar. Bila bentuknya berupa lensa cembung, bayangan yang dihasilkan dapat menjadi lebih besar. Bila bentuknya berupa lensa cekung, bayangan yang dihasilkan dapat menjadi lebih kecil. Pada mikroskop, lensa yang digunakan adalah lensa cembung. Lensa cembung merupakan lensa yang tipis pada bagian tepi dan tebal pada bagian tengah. Lensa cembung dapat menghasilkan bayangan gambar yang diperbesar atau terbalik. Biasanya sebuah mikroskop optik terdiri dari dua buah lensa; lensa objektif dan lensa okuler.2

Definisi Mikroskop Optik Mikroskop memiliki definisi: alat untuk melihat benda yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa (seperti kuman-kuman); kaca pembesar.3 Mikroskop merupakan peranti yang terdiri dari susunan lensa untuk memperbesar objek dekat.4 Dengan demikian, mikroskop merupakan suatu instrumen penelitian yang terdiri dari susunan lensa dengan fungsi utama memperbesar objek pengamat yang tidak bisa dilihat mata. Mikroskop biasa digunakan untuk mengamati berbagai kehidupan mikro (selanjutnya disebut mikroorganisme) yang tidak dapat diamati langsung dengan mata. Mikroskop optik berarti mikroskop ini menggunakan gelombang cahaya sebagai sumber cahaya. Selain cahaya, sumber sinar pada mikroskop dapat berupa hal-hal lain. Mikroskop dengan elektron sebagai sumber cahaya disebut mikroskop elektron. Mikroskop yang menggunakan gelombang bunyi disebut scanning acoustic microscope.

Cara Kerja Mikroskop Optik Sebuah mikroskop memanfaatkan fenomena refleksi, refraksi, dan difraksi untuk memperbesar bayangan objek. Gambar 3 menjelaskan bagaimana proses pembentukan bayangan pada mikroskop. Objek benda (O) dengan ketinggian h diproyeksikan pada bagian retina mata di O. Lensa objektif (Lob) memproyeksikan bayangan nyata dan terbalik dari objek O di mana bayangan ini diperbesar menjadi sebesar O pada ruang bayangan mikroskop. Ini terjadi pada 4

jarak yang tetap fb + z di belakang lensa objektif. Pada gambar ini, fb merepresentasikan jarak fokus dari lensa objektif dan z merepresentasikan panjang badan optik mikroskop. Bayangan O yang terbentuk kemudian kembali diperbesar oleh lensa okuler (Ley) dan menghasilkan bayangan O yang terbalik pada retina pengamat.5

Gambar 3. Proses Pembentukan Bayangan pada Mikroskop5

Perbesaran bayangan pada lensa objektif dihitung dengan mempertimbangkan jarak antara objek (O) dengan lensa objektif (Lob), serta jarak fokus lensa objektif pada bagian depan lensa (f). Jarak objek (z) diatur hingga dekat dengan jarak fokus bagian depan lensa objektif (f), sehingga z+f=a. Bayangan O akan berada pada jarak b, dimana jarak b sama dengan jarak fokus lensa objektif (fb) ditambah panjang badan optik mikroskop (z). Besarnya bayangan hasil lensa objektif adalah h. Besarnya h pada poin ini merupakan hasil perkalian panjang badan mikroskop (b) dengan besar benda (h); kemudian dibagi dengan jarak antara benda dengan lensa objektif (a): h=(hb)/a. Dari pernyataan ini, dapat disimpulkan bahwa perbesaran bayangan yang dihasilkan lensa objektif adalah faktor b/a (sama dengan f/z dan z/fb), yaitu jarak fokus lensa objektif dibagi dengan jarak benda dari lensa objektif.5 Bayangan nyata h kemudian kembali diperbesar dengan faktor 25 centimeter (jarak dekat mata) dibagi dengan jarak fokus lensa okuler. Dengan demikian, perbesaran total mikroskop adalah hasil perkalian perbesaran lensa objektif dengan perbesaran lensa okuler.5 Bayangan yang dilihat oleh pengamat akan tampak seolah-olah berjarak 25 centimeter dari mata pengamat.5

Bagian Mikroskop Mikroskop merupakan peranti yang terdiri dari susunan lensa untuk memperbesar objek dekat.4 Agar dapat menjalankan fungsinya dan dapat menghasilkan gambar yang fokus, bagian-bagian mikroskop didesain sedemikian rupa sesuai dengan peruntukan jenis mikroskop tersebut. Gambar 4 menunjukkan bagian-bagian dari compound microscope. Perlu dicantumkan bahwa bagian-bagian yang akan ditinjau pada tinjauan pustaka ini merupakan bagian mikroskop yang lazim ditemukan pada compound microscope (mikroskop optik yang banyak digunakan dalam proses pendidikan formal). Bagian-bagian mikroskop dapat saja diubah dan dimodifikasi sesuai dengan keperluan pengamat. Jenis mikroskop yang berbeda tentunya memiliki bagian-bagian mikroskop yang berbeda pula.

Gambar 4. Compound Microscope Sumber: http://www.celestron.com/c3/images/files/downloads/1211246798_microscopesinfo.pdf

1. Lensa Objektif Lensa objektif merupakan bagian terpenting dari mikroskop. Fungsi dasar dari lensa objektif adalah mengumpulkan cahaya yang melalui spesimen, lalu memproyeksikan bayangan objek pada tabung badan mikroskop. Sistem lensa pada lensa objektif seperti yang terilustrasi pada gambar 5 memperbesar bayangan objek agar dapat dilihat oleh mata. Sebagian besar lensa objektif umumnya dibuat dari bahan gelas agar mendapatkan hasil yang baik.

Gambar 5. Sistem Lensa pada Lensa Objektif5

Pada permukaan luar lensa objektif compound microscope, tertulis informasi tentang lensa objektif tersebut. Informasi ini mencangkup kemampuan perbesaran, kode warna universal, apertur numerik, dan informasi-informasi lainnya (gambar 6).

Gambar 6. Spesifikasi Lensa Objektif5

Apertur numerik merupakan angka yang menunjukkan kemampuan lensa untuk mengamati dua titik yang berdekatan (resolusi). Semakin tinggi angka apertur numerik yang tertera, semakin baik resolusi gambar yang diamati. Apertur numerik yang umumnya digunakan pada lensa objektif dengan perbesaran masing-masing adalah sebagai berikut: 4x=0.10, 10x=0.25, 40x=0.65, dan 100x=1.25. Resolusi merupakan jarak pisah antara dua titik yang berdekatan tetapi masih dapat terlihat sebagai dua titik yang terpisah. Semakin tinggi resolusinya, semakin sempit jarak antara dua titik berdekatan tersebut yang masih dapat dilihat terpisah. Resolusi bayangan

objek hanya dipengaruhi lensa objektif mikroskop; lensa okuler mikroskop hanya memperbesar bayangan yang telah dibentuk lensa objektif. Kemampuan perbesaran lensa objektif bervariasi dari 1 hingga 160. Pada umumnya, compound microscope memiliki lensa objektif dengan perbesaran 4, 10, 40, dan 100 (dengan kode warna universal secara berurutan: merah, kuning, biru muda, dan putih) dan keempat lensa objektif dapat digunakan secara bergantian dengan memutar revolver mikroskop. Lensa objektif dengan perbesaran 4, 10, dan 40 disebut lensa objektif kering karena penggunaannya tidak memerlukan minyak imersi. Lensa objektif dengan perbesaran 100 disebut lensa objektif basah karena penggunaannya memerlukan minyak imersi. Pada perbesaran 1000, minyak imersi digunakan sebagai pengganti media perantara udara antara ujung lensa objektif dengan permukaan atas preparat. Minyak imersi merupakan satu-satunya minyak yang sesuai untuk pengamatan mikroskop dan dapat mendukung hasil perbesaran yang baik serta mencegah kerusakan pada lensa objektif. Ada dua jenis minyak imersi pada umumnya: Tipe A untuk viskositas rendah dan Tipe B untuk viskositas tinggi.

2. Lensa Okuler Lensa okuler seperti terilustrasi pada gambar 7 terdiri dari susunan beberapa lensa yang diatur dalam suatu tabung dan terletak di ujung atas mikroskop. Fungsi dasar lensa okuler adalah untuk memperbesar kembali bayangan objek yang telah dibentuk lensa objektif sebelum dilihat oleh mata.

Gambar 7. Sistem Lensa pada Lensa Okuler5

Lensa objektif pada umumnya memiliki perbesaran 10, tetapi ada juga lensa objektif dengan perbesaran 5, 12.5, 15, dan 20. Angka kemampuan perbesaran ini tertulis pada permukaan luar lensa okuler bersama dengan diameter wilayah pandang efektif. Sebagai pelengkap, beberapa lensa okuler juga dilengkapi dengan mistar, penunjuk, dan lain-lain.

3. Kondensor Kondensor merupakan lensa gelas atau sistem lensa yang terletak pada atau di bawah meja preparat compound microscope. Fungsi utama kondensor adalah mengumpulkan cahaya dari sumber cahaya dan memfokuskan cahaya tersebut menuju spesimen. Ada dua jenis kondensor yang banyak digunakan: basic condenser dan Abbe condenser (gambar 8). Basic condenser bersifat tetap / fixed pada meja preparat. Abbe condenser dapat digerakkan dan lebih akurat karena dapat digerakkan secara horizontal maupun vertikal sehingga dapat lebih mengatur cahaya yang masuk dari sumber cahaya. Abbe condenser terletak di bawah meja preparat dan biasanya memiliki apertur seperti iris untuk mengatur diameter cahaya yang masuk ke dalamnya. Pengaturan iris ini bermanfaat terutama untuk pengamatan spesimen dengan perbesaran 400 atau lebih.

Gambar 8. Basic Condenser dan Abbe Condenser Sumber: http://www.celestron.com/c3/images/files/downloads/1211246798_microscopesinfo.pdf

Kondensor sebaiknya memiliki apertur numerik sama atau lebih dari apertur numerik lensa objektif yang digunakan. Untuk perbesaran 400 atau kurang, apertur numerik kondensor cukup 0.65. Akan tetapi, untuk perbesaran yang lebih besar, apertur numerik 1.20 atau 1.25 banyak digunakan dan apertur numerik sedemikian terdapat pada Abbe condenser.

4. Diafragma

Diafragma biasanya terletak di bagian bawah meja preparat. Diafragma memiliki fungsi utama mengatur banyaknya cahaya yang masuk dan kemudian melalui spesimen. Terdapat dua jenis diafragma: Disc Diaphragm dan Iris Diaphragm (gambar 9).

Gambar 9. Disc Diaphragm dan Iris Diaphragm Sumber: http://www.celestron.com/c3/images/files/downloads/1211246798_microscopesinfo.pdf

Disc diaphragm merupakan diafragma yang paling sederhana dan murah. Ia terletak di antara sumber cahaya dan spesimen. Ia memiliki disk yang tertanam dengan lima hingga sepuluh lubang dengan diameter berbeda untuk membatasi banyaknya cahaya yang masuk. Iris diaphragm merpakan diafragma yang lebih baik dan mahal. Ia memiliki variable diameter yang kontinuu guna mengatur diameter lubang masuk untuk membatasi banyaknya cahaya yang masuk.

5. Sumber Cahaya Sumber cahaya merupakan bagian mikroskop yang menjadi sumber cahaya pada objek atau spesimen. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan iluminasi. Iluminasi merupakan hasil dari aplikasi cahaya pada objek. Iluminasi objek harus terang, tidak kabur, dan merata pada wilayah pandang; sehingga diperlukan sumber cahaya yang baik. Sumber cahaya bisa berupa lampu ruangan, lampu belajar, atau sinar matahari tak langsung dimana cahaya ini dipantulkan oleh cermin yang terdapat di bagian bawah mikroskop. Sumber cahaya bisa juga berupa lampu yang telah terintegrasi dalam mikroskop. Sumber cahaya ini biasanya berada di bawah spesimen, tetapi bisa juga berada di atas spesimen (misalnya pada stereo microscope). Intensitas cahaya bisa tetap dan bisa diubah-ubah; tergantung pada sumber cahaya yang digunakan. Untuk mengatur intensitas dari sumbernya yang telah terintegrasi pada mikroskop, hal sedemikian dapat dilakukan dengan mengatur variable resistor yang bersangkutan. Perlu dicantumkan juga bahwa sumber cahaya pada mikroskop dapat diubah / dimodifikasi; sesuai dengan kebutuhan dan jenis mikroskop yang digunakan. 10

6. Makrometer dan Mikrometer Makrometer dan Mikrometer memiliki fungsi mengatur kedudukan tinggi-rendahnya meja preparat guna mendapatkan bayangan objek yang fokus (gambar 10). Makrometer digunakan untuk mendapatkan bayangan kasar dari objek, sedangkan mikrometer digunakan untuk mendapatkan bayangan fokus dari objek. Mikrometer lebih bermanfaat dari makrometer untuk pengamatan dengan perbesaran yang tinggi (400 dan lebih)

Gambar 10. Makrometer dan Mikrometer Sumber: http://www.celestron.com/c3/images/files/downloads/1211246798_microscopesinfo.pdf

Makrometer dan mikrometer digunakan dengan diputar. Untuk menjaga agar tidak terjadi putaran berlebih yang dapat merusak lensa objektif dan preparat, makrometer dan mikrometer dilengkapi dengan pengaman yang membatasi putaran kedua bagian ini.

7. Kepala Mikroskop Bagian kepala mikroskop merupakan bagian yang menghubungkan lensa okuler dengan revolver (tempat lensa objektif berada) mikroskop. Beberapa kepala mikroskop tertanam pada mikroskop dan dapat diputar hingga sudut 60. Pada mikroskop yang lebih mahal, kepala mikroskop dapat dilepas dan dapat diputar secara 360 sehingga memungkinkan dua atau lebih pengamat melihat hasil pembentukan bayangan spesimen tanpa harus memindahkan / memutarkan mikroskop.

Gambar 11. Mikroskop dengan Kepala Binokuler Sumber: http://www.celestron.com/c3/images/files/downloads/1211246798_microscopesinfo.pdf

11

Ada beberapa jenis kepala mikroskop: mikroskop monokuler seperti gambar 4 dan mikroskop binokuler seperti gambar 11. Mikroskop dengan kepala monokuler hanya memiliki satu lensa okuler sehingga pengamatan spesimen dilakukan dengan salah satu mata. Mikroskop dengan kepala binokuler memiliki dua lensa okuler sehingga pengamatan spesimen dapat dilakukan dengan dua mata. Mikroskop binokuler umumnya terdapat pada mikroskop yang relatif mahal dan lebih nyaman untuk digunakan.

8. Revolver Revolver merupakan bagian mikroskop yang terletak di atas meja preparat dan melekat padanya beberapa lensa objektif. Dengan memutar revolver, pengamat dapat menggunakan lensa objektif yang berbeda untuk mendapatkan perbesaran yang diinginkan. Lensa objektif akan berada pada posisi yang tepat saat terasa click.

9. Lengan Mikroskop Lengan mikroskop merupakan bagian mikroskop tempat bagian-bagian mekanisme fokus berada, termasuk bagian kepala mikroskop yang menampung lensa okuler; serta meja preparat. Saat memindahkan mikroskop, bagian lengan mikroskop yang harus dipegang oleh pengamat. Ada beberapa tipe lengan mikroskop: fixed dan pillar. Fixed adalah tipe lengan mikroskop yang menyatu dengan kaki mikroskop sehingga tidak dapat digerakkan. Pillar adalah tipe lengan mikroskop yang melekat dengan kaki mikroskop pada porosnya, sehingga lengan mikroskop dapat bergerak mengitari porosnya.

10. Kaki Mikroskop Kaki mikroskop adalah bagian yang menyokong mikroskop sehingga mikroskop dapat berdiri. Kaki mikroskop bisa juga digunakan sebagai wadah peralatan elektronik yang diperlukan oleh bagian sumber cahaya.

11. Meja Preparat Meja preparat merupakan tempat meletakkan objek atau spesimen yang ingin diamati. Meja preparat memiliki permukaan yang halus dan dapat berbentuk persegi atau lingkaran. Pada compound microscope, kedudukan tinggi-rendahnya meja preparat diatur oleh makrometer dan mikrometer sedangkan revolver berada pada keadaan stationer. Namun, pada 12

beberapa mikroskop, hal sedemikian dapat saja terbalik; meja preparat menjadi stationer dan revolver dapat digerakkan. Meja preparat mempunyai lubang pada bagian tengah agar cahaya dari sumbernya dapat lewat. Ada beberapa tipe meja preparat: meja preparat sederhana dan meja preparat mekanik (gambar 12). Meja preparat sederhana hanya memiliki pengapit sehingga relatif sulit untuk memposisikan objek yang ingin diamati. Meja preparat mekanik memiliki pengapit yang mudah digerakkan sehingga menggeser posisi objek yang ingin diamati menjadi lebih mudah.

Gambar 12. Mikroskop dengan Kepala Binokuler Sumber: http://www.celestron.com/c3/images/files/downloads/1211246798_microscopesinfo.pdf

Jenis Mikroskop Optik Ada beberapa jenis mikroskop optik. Perbedaan antara jenis mikroskop yang satu dengan jenis mikroskop yang lain mencangkup teknik pencahayaan, resolusi / ketajaman gambar, sifat objek yang diamati, dan aspek-aspek lainnya.

1. Compound Microscope Compound microscope merupakan jenis mikroskop yang paling banyak digunakan. Desain dari compound microscope umumnya seperti yang terlihat pada gambar 4. Total perbesaran gambar yang dihasilkan umumnya berkisar antara 40 hingga 1000 (umumnya 40, 100, 400, dan 1000). Total perbesaran ini merupakan hasil perkalian dari perbesaran lensa objektif dengan lensa okuler. Pada umumnya lensa objektif memiliki perbesaran 4, 10, 40, dan 100; sedangkan lensa okuler memiliki perbesaran 10. Kata Compound mengacu pada kenyataan bahwa untuk memperbesar gambar objek, cahaya melalui beberapa lensa yang disusun dalam satu garis lurus di mana masing-masing lensa memperbesar gambar yang telah melalui lensa sebelumnya. Pada umumnya, susunan lensa ini terdiri dari lensa objektif (lensa yang dekat dengan objek); lensa okuler (lensa yang dekat dengan mata pengamat); serta makrometer dan mikrometer untuk mengatur jarak kedua lensa sehingga dapat dihasilkan gambar objek yang fokus. 13

Metode pencahayaan yang umum dipakai adalah metode trans-illumination (cahaya diproyeksikan melalui spesimen; dari permukaan bawah spesimen menuju permukaan atas spesimen. Gambar yang dihasilkan umumnya berupa gambar 2 dimensi dan terbalik.

2. Stereo Microscope Stereo Microscope biasa disebut juga oblique microscopy atau dissection microscope. Desain dari stereo microscope umumnya seperti yang terlihat pada gambar 12. Total perbesaran gambar yang dihasilkan umumnya berkisar antara 10 hingga 80 (biasanya perbesaran 10 dan 40). Mikroskop ini dapat digunakan untuk mengamati benda tebal seperti rambut, koin, perangko, dan lain-lain. Mikroskop ini juga dapat digunakan untuk mengamati irisan objek tipis seperti preparat walaupun perbesaran total yang dapat dihasilkan tidak terlalu besar.

Gambar 13. Stereo Microscope Sumber: http://www.celestron.com/c3/images/files/downloads/1211246798_microscopesinfo.pdf

Bila pada compound microscope hanya memiliki satu sumber cahaya, stereo microscope memiliki dua sumber cahaya terpisah sehingga gambar yang dihasilkan berupa gambar 3 dimensi. Dua sumber cahaya ini melalui lensanya masing-masing; dimana kedua lensa ini terdapat di dalam lensa objektif mikroskop. Serupa dengan compound microscope, pada umumnya lensa pada stereo microscope terdiri dari lensa objektif, lensa okuler, dan makrometer dan mikrometer untuk mengatur jarak kedua lensa sehingga dapat dihasilkan gambar objek yang fokus.

14

3. Darkfield Illumination Pada darkfield Illumination, sinar cahaya utama yang biasanya menembus melalui spesimen dihalangi sehingga hanya sinar cahaya datang yang telah dibelokkan yang menembus spesimen. Metode ini merupakan metode yang populer dan praktis digunakan pada pengamatan spesimen yang bersifat transparan; di mana spesimen ini akan terlihat terang akibat penyinaran pada latar belakang yang gelap.5

Gambar 14. Ilustrasi Metode Darkfield Illumination5

Ilustrasi metode darkfield illumination dapat dilihat pada gambar 14. Sinar cahaya yang dibelokkan datang dari darkfield kondensor, mengenai spesimen dari semua azimuth, kemudian terdifraksi, terpantulkan, dan dibiaskan menuju lensa okuler mikroskop. Bila tidak ada spesimen yang diamati pada meja preparat dan aparatur numerik kondensor lebih besar dari aparatur numerik lensa objektif, maka sinar cahaya yang dibelokkan akan saling bersilangan hingga menjauhi serta tidak memasuki lensa objektif. Pada kondisi sedemikian, yang terlihat pada pengamat hanyalah hitam.

4. Phase Contrast Microscopy Phase Contrast Microscopy merupakan mikroskop yang memanfaatkan perbedaan indeks bias dan interferensi gelombang cahaya. Mikroskop ini digunakan untuk mengamati 15

objek transparan yang tidak menyerap cahaya yang kemudian disebut phase object karena objek ini mengubah fase cahaya yang terdifraksi akibat melalui objek tersebut. Perubahan fase cahaya yang berubah ini berupa penurunan fase gelombang cahaya sekitar satu per empat panjang gelombang.5 Pada objek normal, objek memberikan kontras yang baik bila cahaya yang terdifraksi dan cahaya tidak terdifraksi memiliki beda fase setengah panjang gelombang. Agar dihasilkan kontras yang baik pada phase object, maka mikroskop diatur sedemikian rupa sehingga cahaya yang tidak terdifraksi akibat melalui phase object memiliki fase gelombang satu per empat panjang gelombang lebih cepat. Dengan demikian, perbedaan fase gelombang antara kedua berkas cahaya ini adalah setengah panjang gelombang sehingga dapat terjadi interferensi cahaya yang konstruktif.5 Ilustrasi metode ini dapat dilihat pada gambar 15.

Gambar 15. Ilustrasi Metode Phase Contrast Microscopy5

5. Polarized Light Microscopy Berdasarkan sifat optiknya, suatu kristal dapat dibedakan menjadi dua kategori: kristal isotropic dan kristal anisotropic. Kristal isotropic adalah kristal di mana cahaya bergerak dalam medium tersebut dengan sudut dan kecepatan yang konstan tanpa terpolarisasi. Kristal anisotropic adalah kristal di mana cahaya bergerak dalam medium tersebut dapat terpolarisasi menjadi dua berkas cahaya yang bergerak dalam sudut dan kecepatan yang berbeda. 16

Polarized light microscopy memanfaatkan sifat optik dari kristal anisotropic. Kedua berkas cahaya terpolarisasi ini kemudian melalui analyzer pada lensa objektif dan berinteferensi; baik inteferensi konstruktif maupun inteferensi destruktif. Hasil dari inteferensi ini yang kemudian kita lihat sebagai bayangan objek. Objek yang umum diamati dengan polarized light microscopy bersifat transparan. Ilustrasi metode polarized light microscopy dapat dilihat pada gambar 16.

Gambar 16. Ilustrasi Metode Polarized Light Microscop5

6. Differential Interference Contrast Metode differential interference contrast memanfaatkan sifat polarisasi dan intereferensi gelombang cahaya dan umumnya digunakan untuk melihat objek transparan. Seperti yang diilustrasikan gambar 17, cahaya yang datang dipolarisasikan terlebih dahulu pada sebelum memasuki kondensor, dengan cara yang sama seperti pada polarized light microscopy.5 Kemudian cahaya melalui Prisma Wollaston sehingga terpisah menjadi dua berkas sinar. Kemudian kedua berkas sinar bergerak melalui kondenser, spesimen, dan lensa objektif di mana setiap saat kedua sinar cahaya melalui medium-medium ini, terjadi perubahan pada kedua sinar cahaya. Namun kedua sinar cahaya ini belum dapat saling 17

berinteferensi karena mereka saling bergetar secara tegak lurus. Maka dari itu, setelah melalui lensa objektif, kedua cahaya melalui Prisma Wollaston kedua dan Analyzer. Bayangan yang terbentuk pada mikroskop differential interference contrast bersifat semi tiga dimensi.

Gambar 17. Ilustrasi Metode Differential Interference Contrast5

Prosedur Pengamatan dengan Mikroskop Pengamatan mikroskopis dengan menggunakan mikroskop tentunya memiliki prosedur tersendiri. Prosedur pengamatan juga bergantung pada spesimen dan hasil perbesaran yang diinginkan. Pada perbesaran 40, 100, dan 400 dapat dilakukan tanpa menggunakan minyak imersi. Akan tetapi, pada perbesaran 1000 perlu digunakan minyak imersi. Hal ini dikarenakan pada perbesaran 1000, jarak antara lensa objektif dengan meja preparat sangat kecil. Penggunaan minyak imersi dilakukan agar tidak terjadi gesekan yang dapat menimbulkan kerusakan pada lensa objektif dan meja preparat serta agar hasil pembentukan bayangan yang terlihat dapat menjadi jelas. Berikut prosedur pengamatan mikroskop optik dengan perbesaran 40, 100, dan 400 (tanpa minyak imersi):

18

1. Aktifkan sumber cahaya dan atur intensitas cahaya untuk pengamatan yang nyaman. 2. Saat melihat melalui lensa okuler pada mikroskop binokuler, pegang kedua tabung lensa okuler dengan dua tangan dan atur sedemikian rupa sehingga kedua lingkaran cahaya yang terlihat melalui lensa okuler menjadi satu. Pengaturan sedemikian dilakukan untuk menyesuikan mikroskop dengan jarak antar pupil mata pengamat. 3. Letakkan preparat spesimen pada meja preparat. Dengan menggunakan mata sebelah kanan dan tangan kanan, dengan perbesaran 10 lensa objektif, secara perlahan atur kedudukan meja preparat dengan makrometer. Atur sehingga bayangan terlihat fokus, kemudian atur kembali kedudukan meja preparat dengan mikrometer sehingga bayangan yang terbentuk semakin fokus.1 4. Untuk menggunakan perbesaran 40 dan 400, lakukan langkah 3 dengan perbesaran lensa objektif 4 dan 40. Perlu diingat bahwa sebelum memutar revolver untuk mengganti lensa objektif, kedudukan meja preparat diturunkan terlebih dahulu agar tidak terjadi benturan pada saat pemutaran revolver.

Berikut prosedur pengamatan mikroskop optik dengan perbesaran 1000 (dengan menggunakan minyak imersi): 1. Dengan teknik Koehler Illumination, fokuskan bayangan spesimen yang terbentuk dengan perbesaran lensa objektif 10. Kemudian gunakan perbesaran lensa objektif 40 dan atur kedudukan spesimen agar bagian yang ingin diamati terlihat oleh pengamat. 2. Rendahkan kedudukan meja preparat, kemudian tetesi 1 tetes minyak imersi di atas kaca penutup preparat. 3. Putar revolver dan gunakan lensa objektif dengan perbesaran 1000 4. Saat melihat spesimen tanpa melalui lensa mikroskop, secara perlahan tinggikan kedudukan meja preparat hingga bagian depan lensa objektif perbesaran 1000 bersentuhan dengan tetesan minyak imersi pada preparat. 5. Dengan menggunakan mikrometer saja, atur kedudukan meja preparat hingga pembentukan bayangan spesimen terlihat fokus.1

Pengamatan Sel Kulit Dengan Mikroskop

19

Sel kulit dapat diamati dengan mikroskop. Agar dapat dilakukan pengamatan mikroskopis, preparat sel kulit harus dibuat terlebih dahulu. Sel kulit diperoleh dari kerokan kulit dengan menggunakan scapel nomor 15. Kemudian, preparat diberi tetesan KOH 10% sebelum ditutup cover glass. KOH 10% digunakan karena KOH dapat menembus kulit dan merusak kulit karena dapat melarutkan keratin.6 Pemberian KOH 10% dilakukan untuk mendeteksi keberadaan jamur dan spora pada sampel kulit. Mikroskop optik yang banyak digunakan dalam pendidikan adalah compound microscope. Mikroskop ini memiliki perbesaran total 40, 100, 400, dan 1000. Dengan perbesaran sedemikian, suatu sel dapat terlihat jelas. Sel akan terlihat seperti ruanganruangan dengan satu bulatan di dalamnya melalui mikroskop ini. Sel kulit manusia tentunya termasuk dalam kategori sel hewan. Telah disebut sebelumnya bahwa dengan perbesaran yang dimiliki compound microscope, suatu sel akan terlihat seperti ruangan dengan bulatan di dalamnya. Namun, bila sel hewan diamati menggunakan microskop elektron dengan perbesaran yang lebih besar, suatu sel akan terlihat seperti ruangan dengan bulatan besar dan beberapa komponen lainnya di dalam ruangan tersebut. Ilustrasi struktur sel hewan dapat dilihat pada gambar 18.

Gambar 18. Struktur Sel Hewan Sumber: http://ifragenius.blog.unsoed.ac.id/files/2011/11/Picture13.png

Di dalam sel terdapat beragam komponen yang disebut organel (organ kecil) yang sebagian besar dilindungi oleh membran. Organel yang paling menonjol dalam dalam sel hewan biasanya adalah nukleus. Kromatin dalam nukleus terdiri atas DNA, yang membawa gen, bersama-sama dengan protein. Kromatin ini sebenarnya merupakan kumpulan struktur terpisah yang disebut kromosom, yang tampak sebagai unit terpisah hanya pada saat sel yang 20

sedang membelah. Bagian-bagian pada kromatin dalam nukleus yang saling bersambungan ialah satu atau lebih nukleoi (tunggal, nukleolus). Nukleoli terlibat dalam produksi partikel yang disebut ribosom, yang mensintesis protein. Nukleus dibatasi oleh selubung berpori yang terdiri atas dua membran.7 Sebagian besar kegiatan metabolisme sel terjadi dalam sitoplasma, seluruh daerah antara nukleus dan membran plasma yang melindungi sel. Sitoplasma dipenuhi oleh organel terspesialisasi yang tersuspensi dalam medium semi-cairan yang disebut sitosol. Yang mengisi bagian terbesar sitoplasma ialah retikulum endoplasmik (RE), suatu membran labirin yang membentuk gelembung dan kantung pipih yang memisahkan kandungan RE dari sitosol. RE ini terdapat dalam dua bentuk: kasar (ditonjoli oleh ribosom) dan halus. Banyak jenis protein yang dibuat oleh ribosom yang melekat pada membran RE, dan RE juga memainkan peran penting dalam menyusun (merakit) selaput membran lain sel tersebut.7 Aparatus golgi, merupakan jenis lain organel sel membran, terdiri atas tumpukan kantung pipih yang aktif dalam sintesis, penyempurnaan, penyimpanan, penyortiran, dan ekskresi berbagai produk kimiawi. Organel terbungkus membran lainnya ialah: lisosom, yang mengandung campuran enzim-enzim pencernaan yang menghidrolisis makromolekul; peroksisom, beragam kelompok organel yang mengandung enzim-enzim yang melakukan proses metabolisme terspesialisasi; dan vakuola, yang memiliki beragam fungsi penyimpanan dan metabolisme. Mitokondria (tunggal, mitokondrion) melakukan respirasi seluler yang menghasilkan ATP dari bahan bakar organik seperti gula.7 Organel nonmembran di dalam sel termasuk mikrotubula dan mikrofilamen. Keduanya membentuk kerangka yang disebut sitoskeleton, yang memperkuat bentuk dan fungsi sel dalam pergerakan sel. Salah satu organel yang terbuat dari mikrotubula adalah sentriol, yang terletak di dekat nukleus. Sentriol ini berperan dalam pembelahan sel.7

Penutup Mikroskop optik dapat digunakan untuk melakukan pengamatan mikroskopis. Untuk dapat melakukan fungsi ini, sebuah mikroskop terdiri dari bagian-bagian yang membentuk mekanisme yang terspesialisasil; misalnya mekanisme fokus yang terdiri dari bagian lensa objektif, lensa okuler, dan kondensor. Dengan perbesaran 40, 100, 400, dan 1000; mikroskop optik dapat digunakan dalam pengamatan sel. Dengan perbesaran sedemikian, sel kulit (sel hewan pada umumnya) akan terlihat seperti ruangan dengan satu bulatan di dalamnya.

21

Daftar pustaka 1. Abramowitz M. Microscope Basics and Beyond. New York: Olympus America Inc; 2003. 2. Levin S, Johnstone L. The ultimate guide to your microscope. New York: Sterling Publishing Co. Inc.; 2008. 3. Kamus besar bahasa Indonesia. 3rd ed. Jakarta: Balai Pustaka; 2005. Mikroskop; h.743. 4. Kamus kedokteran. 5th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2008. Mikroskop; h.167. 5. Davidson MW, Abramowitz M. Encyclopedia of Imaging Science and Technology. Hoboken: John Wiley & Sons Inc.; 2002. 6. Metkar A, Pande S, Khopkar U. An open, nonrandomized, comparative study of imiquimod 5% cream versus 10% potassium hydroxide solution in the treatment of molluscum contagiosum. Indian Journal of Dermatology, Venereology and Leprology 2008;74(6):614-8. 7. Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG. Biologi. 5th ed. Jakarta: Erlangga; 2002.

22