Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional untuk meningkatkan mutu pendidikan pada umumnya dan pendidikan sains pada khususnya.Namun demikian, sampai saat ini mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti.Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan, khususnya pendidikan sains. Kemerosotan pendidikan kita sudah terasakan selama bertahun-tahun, untuk kesekian kalinya kurikulum dituding sebagai penyebabnya.Hal ini tercermin dengan adanya upaya mengubah kurikulum mulai kurikulum 1975 diganti dengan kurikulum 1984, kemudian diganti lagi dengan kurikulum 1994.Kemerosotan pendidikan bukan diakibatkan oleh kurikulum tetapi oleh kurangnya kemampuan profesionalisme guru dan keengganan belajar siswa.Profesionalisme sebagai penunjang kelancaran guru dalam melaksanakan tugasnya, sangat dipengaruhi oleh dua faktor besar yaitu faktor internal yang meliputi minat dan bakat dan faktor eksternal yaitu berkaitan dengan lingkungan sekitar, sarana prasarana, serta berbagai latihan yang dilakukan guru.Profesionalisme guru dan tenaga kependidikan masih belum memadai utamanya dalam hal bidang keilmuannya.Misalnya guru Biologi dapat mengajar Kimia atau Fisika.Ataupun guru IPS dapat mengajar Bahasa Indonesia.Memang jumlah tenaga pendidik secara kuantitatif sudah cukup banyak, tetapi mutu dan profesionalisme belum sesuai dengan harapan.Banyak diantaranya yang tidak berkualitas dan menyampaikan materi yang keliru sehingga mereka tidak atau kurang mampu menyajikan dan menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar berkualitas. Tanpa mengesampingkan faktor lainnya, guru merupakan salah satu faktor yang paling langsung menentukan kualitas pendidikan sains.Kualitas pendidikan sains sangat bergantung pada kualitas guru sains, bukan pada fasilitas dan material semata.Tenaga guru merupakan unsur penentu terciptanya mutu pelayanan dan hasil pendidikan.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya mengenai etika profesi seorang guru, bahwa seorang guru itu harus memiliki tanggung jawab yang besar terhadap profesinya.Sebagaimana kita tahu bahwa seorang guru itu memiliki imej yang sudah tertanam dengan baik dan tidak sepatutnya disalahgunakan.Kejadian pelanggaran etika yang melibatkan profesi guru ini sebetulnya dikarenakan kurangnya rasa tanggung jawab dari masing-masing pribadi dari seorang profesi guru itu. Kasus pelanggaran etika yang terjadi ini tentunya bukan tanpa sebab.Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kehidupan para guru menjadi pemicu utama.Hal ini dapat terlihat dari fenomena yang terjadi, masih banyaknya guru-guru yang memiliki taraf hidup di bawah rata-rata.Padahal mereka pun memiliki keluarga yang harus dihidupi. Masalah ekonomi inilah yang mendorong guru-guru, khususnya di luar daerah ibukota untuk melakukan hal-hal yang melanggar etika profesi keguruan dan idealisme dari pendidikan

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uaraian latar belakang diatas maka didapat rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apakah yang dimaksud dengan profesionalisme guru sains? 2. Apa saja syarat syarat untuk menjadi guru sains yang profesional? 3. Bagaimana pengembangan profesionalisme guru sains di Indonesia?
4. Bagaimana meningkatkan profesionalisme guru sains?

5. Apa contoh pelanggaran kode etik guru?

C. Tujuan Berdasarkan rumusan masalah diatas maka diperoleh tujuan diantaranya sebagai berikut: 1. Untuk menjelaskan definisi profesionalisme guru sains. 2. Untuk menjelaskan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi guru yang profesional.

3. Untuk mengetahui cara mengembangkan profesionalisme guru sains di Indonesia.


4. Untuk mengetahui peningkatan profesionalisme guru.

5. Untuk mengetahui conntoh pelanggaran kode etik guru.

BAB II PEMBAHASAN A. Profesionalisme Guru Sains Guru (dalam bahasa jawa) seorang yang harus digugu dan harus ditiru oleh semua muridnya. Harus di gugu artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan diyakini sebagai kebenaran oleh semua murid. Segala ilmu pengetahuan yang datang dari guru dijadikan sebagai sebuah kebenaran yang tidak perlu dibuktikan atau diteliti lagi.Seorang guru juga harus ditiru, artinya seorang guru menjadi suri tauladan bagi semua muridnya. Mulai dari cara berfikir, cara bebicara, hingga cara berprilaku sehai-hari. Sebagai seorang yang harus digugu dan ditiru seorang dengan sendirinya memiliki peran yang luar biasa dominannya bagi murid (Anonim, 2011). Guru menurut Undang-Undang tentang Guru (dalam Anonim, 2011) adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Guru sebagai tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu.Guru adalah bagian dari kesadaran sejarah pendidikan di dunia. Citra guru berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan dan perubahan konsep dan persepsi manusia terhadap pendidikan dan kehidupan itu sendiri. Slogan pahlawan tanpa tanda jasa senantiasa melekat pada profesi guru.Hal ini didasarkan pada pengabdiannya yang begitu tinggi dan tulus dalam dunia pendidikan. Tidak hanya itu, sikap kearifan, kedisiplinan, kejujuran, ketulusan, kesopanan serta sebagai sosok panutan menjadikan profesi satu ini berbeda dengan yang lain. Lantaran tanggung jawab dari profesi guru tidak berhenti pada selesai ia mengajar, melainkan keberhasilan siswa dalam menangkap, memahami, mempraktekkan serta mengamalkan ilmu yang diterima dalam kehidupan seharihari baik langsung maupun tak langsung. Dalam sebuah proses pendidikan guru merupakan satu komponen yang sangat penting, selain komponen lainnya seperti tujuan, kurikulum, metode, sarana

dan prasarana lingkungan, dan evaluasi. Guru profesional adalah guru yang mampu menerapkan hubungan yang berbentuk multidimensional, guru yang demikian adalah guru yang secara internal memenuhi kriteria administratif, akademis dan kepribadian. Profesionalisme guru merupakan tuntutan yang harus dipenuhi oleh setiap guru. Porfesionalisme adalah sifat-sifat profesional yang dimiliki individu sedangkan profesional akan dapat menjalankan kemampuannya sesuai tuntutan profesinya. Guru dituntut untuk bisa melayani murid sebagai subjek belajar dan memperlakukannya secara adil, melihat perbedaan sebagai keberagaman pribadi dengan aneka potensi yang harus dikembangkan, maka hubungan antara guru dengan muridd merupakan pola hubungan yang fleksibel, ada kalanya guru menempatkan diri sebagai partner belajar siswa, saat yang lain sebagai pemmbimbing dan berposisi sebagai penerima informasi yang belumdiketahuinya.Disinilah pembelajaran berlangsung sebagai potensi untuk mencapai kesuksesan belajar (Madjid dalam Ambarita, 2008). Untuk menjadi guru sains profesional terdapat sejumlah kompetensi dasar yang berkaitan dengan kualitas profesional yang perlu ditingkatkan.Kompetensi itu meliputi, penguasaan materi subjek, pemahaman terhadap pembelajar, pemahaman terhadap prinsip-prinsip keterampilan mengajar dan penerapannya dalam praktik, pemahaman terhadap cabang-cabang pengetahuan lainnya, dan pemahaman serta apresiasinya terhadap profesi keguruan. Di samping itu, untuk mengikuti perkembanagan iptek guru sains juga harus memiliki kompetensi lain seperti: belajar sepanjang hayat (lifelong learning); memahami konten sains dalam perspektif inkuiri; literat sains dan teknologi; mengintegrasikan pengetahuan konten, pembelajaran, pedagogy, dan siswa; menguasai bahasa asing khususnya bahasa Inggris; melaksanakan penelitian tindakan kelas; mampu berkomunikasi secara ilmiah, dan memanfaatkan information technology (Suma, 2004).

B. Syarat-Syarat Guru Profesional

Syarat guru profesional memang merupakan hal yang harus dimiliki oleh setiap guru. Guru profesional merupakan impian semua guru di tanah air, banyak hal utuk mewujudkan rasa keprofesionalitas seorang guru seperti sayarat-syarat dibawah. Untuk menjadi seorang guru profesional tidaklah sulit, karena profesionalnya seorang guru datang dari guru itu sendiri. Seorang guru sebenarnya memiliki komitmen yang sama yaitu mencerdaskan anak bangsa. Dewasa ini image seorang guru dimata masyarakat sangatlah susah seorang guru itu menyandang guru profesional. Masyarakat menilai bahwa guru pada masa ini tidak seperti guru dimasa abad ke 12 yang memiliki pengabdian tinggi di dunia pendidikan.Didukung juga dengan adanya berbagai survey kelayakan mengajar yang diadakan oleh pemerintah.LSM, maupun organisasi lainnya bahwa kelakan mengajar seorang guru dibawah standar. Menurut Arifin (2000) mengemukakan guru Indonesia yang profesional dipersyaratkan mempunyai :
1. Dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat teknologi

dan masyarakat ilmu pengetahuan di abad 21


2. Penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis pendidikan yaitu

ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan proses yang terjadi di lapangan dan bersifat ilmiah, serta riset pendidikan hendaknya diarahkan pada praksis pendidikan masyarakat Indonesia
3. Pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan, profesi guru

merupakan profesi yang berkembang terus menerus dan berkesinambungan antara LPTK dengan praktek pendidikan. Kekerdilan profesi guru dan ilmu pendidikan disebabkan terputusnya program pre-service dan in-service karena pertimbangan birokratis yang kaku atau manajemen pendidikan yang lemah. Dengan adanya persyaratan profesionalisme guru ini, perlu adanya paradigma baru untuk melahirkan profil guru Indonesia yang profesional di abad 21 yaitu: 1. 2. 3. 4. memiliki kepribadian yang matang dan berkembang penguasaan ilmu yang kuat keterampilan untuk membangkitkan peserta didik kepada sains dan teknologi pengembangan profesi secara berkesinambungan.

Keempat aspek tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dan ditambah dengan usaha lain yang ikut mempengaruhi perkembangan profesi guru yang profesional. Apabila syarat-syarat profesionalisme guru di atas itu terpenuhi akan mengubah peran guru yang tadinya pasif menjadi guru yang kreatif dan dinamis. Hal ini sejalan dengan pendapat Semiawan (dalam Hasan,2003) bahwa pemenuhan persyaratan guru profesional akan mengubah peran guru yang semula sebagai orator yang verbalistis menjadi berkekuatan dinamis dalam menciptakan suatu suasana dan lingkungan belajar yang invitation learning environment. Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, guru memiliki multi fungsi yaitu sebagai fasilitator, motivator, informator, komunikator, transformator, change agent, inovator, konselor, evaluator, dan administrator (Soewondo, 1972 dalam Arifin 2000).

C. Pengembangan Profesionalisme Guru Di Indonesia Menurut para ahli, profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya.Maister dalam Hasan (2003) mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan. Memperhatikan kualitas guru di Indonesia memang jauh berbeda dengan dengan guru-guru yang ada di Amerika Serikat atau Inggris. Di Amerika Serikat pengembangan profesional guru harus memenuhi standar sebagaimana yang dikemukakan NRC (da1am Hasan, 2003) bahwa ada empat standar standar pengembangan profesi guru yaitu:
1. Standar pengembangan profesi A adalah pengembangan profesi untuk para

guru sains memerlukan pembelajaran isi sains yang diperlukan melalui perspektif-perspektif dan metode-metode inquiri. Para guru dalam sketsa ini melalui sebuah proses observasi fenomena alam, membuat penjelasanpenjelasan dan menguji penjelasan-penjelasan tersebut berdasarkan fenomena alam

2. Standar pengembangan profesi B adalah pengembangan profesi untuk guru

sains memerlukan pengintegrasian pengetahuan sains, pembelajaran, pendidikan, dan siswa, juga menerapkan pengetahuan tersebut ke pengajaran sains. Pada guru yang efektif tidak hanya tahu sains namun mereka juga tahu bagaimana mengajarkannya. Guru yang efektif dapat memahami bagaimana siswa mempelajari konsep-konsep yang penting, konsep-konsep apa yang mampu dipahami siswa pada tahap-tahap pengembangan, profesi yang berbeda, dan pengalaman, contoh dan representasi apa yang bisa membantu siswa belajar
3. Standar pengembangan profesi C adalah pengembangan profesi untuk para

guru sains memerlukan pembentukan pemahaman dan kemampuan untuk pembelajaran sepanjang masa. Guru yang baik biasanya tahu bahwa dengan memilih profesi guru, mereka telah berkomitmen untuk belajar sepanjang masa. Pengetahuan baru selalu dihasilkan sehingga guru berkesempatan terus untuk belajar 4. Standar pengembangan profesi D adalah program-program profesi untuk guru sains harus koheren (berkaitan) dan terpadu. Standar ini dimaksudkan untuk menangkal kecenderungan kesempatan-kesempatan pengembangan profesi terfragmentasi dan tidak berkelanjutan. Apabila guru di Indonesia telah memenuhi standar profesional guru sebagaimana yang berlaku di Amerika Serikat maka kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia semakin baik. Selain memiliki standar profesional guru sebagaimana uraian di atas, di Amerika Serikat sebagaimana diuraikan dalam jurnal Educational Leadership 1993 (dalam Supriadi 1998) dijelaskan bahwa untuk menjadi profesional seorang guru dituntut untuk memiliki lima hal:
1. Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya 2. Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya

serta cara mengajarnya kepada siswa,


3. Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai

cara evaluasi
4. Guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar

dari pengalamannya

5. Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkunganprofesinya. Pengembangan profesionalisme guru menjadi perhatian secara global, karena guru memiliki tugas dan peran bukan hanya memberikan informasiinformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga membentuk sikap dan jiwa yang mampu bertahan dalam era hiperkompetisi.Tugas guru adalah membantu peserta didik agar mampu melakukan adaptasi terhadap berbagai tantangan kehidupan serta desakan yang berkembang dalam dirinya.Pemberdayaan peserta didik ini meliputi aspek-aspek kepribadian terutama aspek intelektual, sosial, emosional, dan keterampilan.Tugas mulia itu menjadi berat karena bukan saja guru harus mempersiapkan generasi muda memasuki abad pengetahuan, melainkan harus mempersiapkan diri agar tetap eksis, baik sebagai individu maupun sebagai profesional. D. Sosok Guru Sains Masa Depan Menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian cepat, terdapat sejumlah kompetensi lain yang harus dimiliki guru sains pada masa depan. Komptensi tersebut adalah belajar sepanjang hayat, leterasi sains dan teknologi, menguasai bahasa Inggris, terampil melaksanakan penelitian tindakan kelas (Susilo, 2004); berkomunikasi secara ilmiah (McDermott, 1990; Leibbrandt,1999 ); mampu menggunakan dan mengakses information technology sytem (Leibbrandt (1999). Berikut adalah uraian secara singkat kompetensikompetensi dimaksud. Mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat.Ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus tumbuh dan berkembang menuntut guru sains harus selalu meningkatkan pengetahuan mereka tentang sains dan bidang-bidang lain yang terkait.Dalam konteks ini, pengembangan profesional guru hendaknya menyediakan kesempatan bagi adanya refleksi individual dan kolegial secara regular (NRC, 1996).Selain pengetahuan konten, pengetahuan tentang psikologi anak,psikologi pembelajaran, model-model pembelajaran juga terus tumbuh dan berkembang. Demikian pula kehidupan sosial masyarakat akan terus-menerus mempengaruhi kehidupan dan pengalaman siswa. Oleh karena itu, guru perlu juga mempelajari strategi pembelajaran dan strategi evaluasi yang paling tepat.

Literat sains dan teknologi.Guru sains masa depan diharapkan juga literat sains dan teknologi. Susilo (2000) menggambarkan guru yang literat sains dan teknologi adalah (1) memiliki pemahaman mengenai aspek-aspek sains dan teknologi yang bermanfaat bagi mereka, (2) menganggap sains dan teknologi ini menarik dan memberi manfaat, (3) menggunakan pemahaman mengenai sains dan teknologi itu dalam lingkungan, dan (4) memiliki kepercayaan diri untuk mempelajari teknologi.. Menguasai bahasa asing khususnya bahasa Inggris.Hampir sebagian besar komunikasi ilmiah dewasa ini, baik lewat jurnal, media masa, maupun internet menggunakan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris.Demikian juga literatur-literatur dalam bidang sains ataupun dalam bidang pendidikan sains. Oleh karena itu tuntutan akan kemampuan guru dalam berbahasa Inggris, baik lisan maupun tertulis merupakan sesuatu yang wajar (Leibbrandt, 1999). Terampil melaksanakan penelitian tindakan kelas.Guru sains masa depan diharapkan selalu aktif dalam melakukan perbaikan-perbaikan pembelajarannya melalui penelitian tindakan kelas. Pada masa depan hendaknya kebiasaan meneliti ini tumbuh dan berkembang secara alami. Guru sains seyogianya tidak lagi menjadi sasaran kegiatan penelitian atau pengabdian pada masayarakat oleh dosen LPTK, tetapi lebih banyak menjadi sumber pengembangan profesinya sendiri sekaligus pendukung perkembangan profesi guru sains lainnya (NRC, 1996). Mampu berkomunikasi secara ilmiah.Pada masa depan guru diharapkan memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian tindakan kelas atau pemikiran-pemikiran mereka dalam bidang pendidikan sains, baik secara lisan maupun tertulis. Mereka harus dapat mengeskpresikan ide-ide mereka secara ringkas dan jelas (Leibbrandt, 1999; McDermott, 1990). Guru diharapkan dapat memanfaatkan pertemuan-pertemuan ilmiah dan terbitan ilmiah untuk mengkomunikasikan ide-ide mereka. Mampu menggunakan dan mengakses information technology. Teknologi informasi melalui jaringan internet dewasa ini merupakan sumber informasi dan sumber belajar yang penting. Oleh karena itu, guru harus memiliki kemampuan untuk memanfaatkan media ini dalam mencari informasi atau menggunakannya sebagai sumber belajar.Sekolah hendaknya mampu menyediakan

fasilitas ini, dan memungkinkan bagi guru mereka harga yang terjangkau. E. Peningkatan Kualitas Profesionalisme Guru Peningkatan kualitas profesional guru ditujukan pada peningkatan lima kompotensi dasar, yaitu penguasaan materi pelajaran yang akan diajarkan, pemahaman terhadap pembelajar, pemahaman terhadap prinsip-prinsip keterampilan mengajar dan penerapannya dalam praktik, pemahaman terhadap cabang-cabang pengetahuan lainnya, dan pemahaman serta apresiasinya terhadap profesi keguruan (CSMTP dalam Suma, 2004). Berikut adalah uraian singkat dari masing-masing kompetensi tersebut.
a.

Pemahaman terhadap materi pelajaran. Materi pelajaran merupakan komponen esensial dari pengetahuan guru. Jika mengajar adalah membantu siswa belajar, maka pemahaman terhadap apa yang akan diajarkan merupakan kebutuhan sentral dalam pembelajaran . Guru sains yang efektif adalah guru yang memahami secara luas dan mendalam konten sains. Guru atau calon guru sains harus mendapatkan kuliah-kuliah sains berbasis inkuiri, seperti yang akan mereka ajarkan di kelas.

b. Pemahaman terhadap pembelajar. Komponen kedua yang esensial bagi tugas-tugas mengajar dan mendidik guru sains adalah pemahaman terhadap pembelajar.Yang dimasudkan dengan pemahaman terhadap pembelajar adalah pemahaman terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia.Jika guru berharap mengajar dengan efektif, ia harus tahu berapa banyak siswa yang berada pada berbagai level kedewasaan dan kemampuan memahami. Mereka harus tahu minat siswa dan pengalaman awal yang bisa digunakan untuk memotivasi belajarnya. c. Pemahaman terhadap prinsip-prinsip dan keterampilan-keterampilan mangajar serta menerapkannya pada tataran implementasi. Agar pembelajaran menjadi efektif, seorang guru sains harus mengetahui bukan hanya apa yang akan diajarkan, tetapi juga bagaimana mengajarkannya. Jadi, komponen ketiga yang esensial bagi tugas mengajar adalah keterampilanketerampilan metode mengajar.Metode mengajar meliputi pemahaman terhadap teori dan praktik kurikulum, hakikat dan prinsip-prinsip belajar, tipe-

tipe belajar, tipe-tipe hasil belajar, dan psikologi motivasi dan perbedaan individu. Pengetahuan ini merupakan dasar bagi pemilihan dan mengorganisasikan pengalaman belajar. d. Pemahaman umum tentang cabang-cabang pengetahuan. Jika guru berharap membantu siswa memahami dan mengapresiasi dunia, di mana mereka hidup, mereka harus memahami saling keterkaitan dan saling kebergantungan berbagai bidang pengetahuan. Ia harus mampu menunjukkan bagaimana kaitan antara materi pelajarannya dengan bidang lainnya, khususnya untuk masalah-masalah kehidupan nyata. e. Pemahaman dan apresiasi terhadap profesi mengajar. Derajat keberhasilan guru bergantung seberapa baik sikap mereka terhadap pekerjaannya. Mengajar melibatkan berbagai hubungan antar berbagai individu. Guru harus mengetahui bagaimana bekerja secara efektif, tidak hanya dengan siswa tetapi juga dengan orang lain yang ada di sekolah.. Guru penting memahami bahwa rofesi mereka merupakan kerja yang berguna secara sosial. Ia harus sadar terhadap nilai organisasi profesional bagi dirinya dan juga bagi pendidikan secara umum. F. Pelanggaran Etika Profesi Guru Kasus pelanggaran etika yang terjadi ini tentunya bukan tanpa sebab.Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kehidupan para guru menjadi pemicu utama.Salah satu penyebab adanya pelanggaran etika yaitu rendahmya profesionalisme guru.Kondisi pendidikan nasional kita memang tidak secerah di negara-negara maju.Baik institusi maupun isinya masih memerlukan perhatian ekstra pemerintah maupun masyarakat.Dalam pendidikan formal, selain ada kemajemukan peserta, institusi yang cukup mapan, dan kepercayaan masyarakat yang kuat, juga merupakan tempat bertemunya bibit-bibit unggul yang sedang tumbuh dan perlu penyemaian yang baik.Pekerjaan penyemaian yang baik itu adalah pekerjaan seorang guru.Jadi guru memiliki peran utama dalam sistem pendidikan nasional khususnya dan kehidupan kita umumnya. Guru sangat mungkin dalam menjalankan profesinya bertentangan dengan hati nuraninya, karena ia paham bagaimana harus menjalankan profesinya namun

karena tidak sesuai dengan kehendak pemberi petunjuk atau komando maka caracara para guru tidak dapat diwujudkan dalam tindakan nyata. Guru selalu diinterpensi. Tidak adanya kemandirian atau otonomi itulah yang mematikan profesi guru dari sebagai pendidik menjadi pemberi instruksi atau penatar. Bahkan sebagai penatarpun guru tidak memiliki otonomi sama sekali. Selain itu, ruang gerak guru selalu dikontrol melalui keharusan membuat satuan pelajaran (SP). Padahal, seorang guru yang telah memiliki pengalaman mengajar di atas lima tahun sebetulnya telah menemukan pola belajarnya sendiri. Dengan dituntutnya guru setiap kali mengajar membuat SP maka waktu dan energi guru banyak terbuang.Waktu dan energi yang terbuang ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya. Akadum (1999) menyatakan dunia guru masih terselingkung dua masalah yang memiliki mutual korelasi yang pemecahannya memerlukan kearifan dan kebijaksanaan beberapa pihak terutama pengambil kebijakan,yaitu:
1. profesi keguruan kurang menjamin kesejahteraan karena rendah gajinya.

Rendahnya gaji berimplikasi pada kinerjanya


2. profesionalisme guru masih rendah.

Selain faktor di atas faktor lain yang menyebabkan rendahnya profesionalisme guru disebabkan oleh antara lain, masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara utuh. Hal ini disebabkan oleh banyak guru yang bekerja di luar jam kerjanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga waktu untuk membaca dan menulis untuk meningkatkan diri tidak ada. Belum adanya standar profesional guru sebagaimana tuntutan di negara-negara maju.Kemungkinan disebabkan oleh adanya perguruan tinggi swasta sebagai pencetak guru yang lulusannya asal jadi tanpa mempehitungkan outputnya kelak di lapangan sehingga menyebabkan banyak guru yang tidak patuh terhadap etika profesi keguruan.Kurangnya motivasi guru dalam meningkatkan kualitas diri karena guru tidak dituntut untuk meneliti sebagaimana yang diberlakukan pada dosen di perguruan tinggi. Akadum (1999) juga mengemukakan bahwa ada lima penyebab rendahnya profesionalisme guru yaitu masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara total, rentan dan rendahnya kepatuhan guru terhadap norma dan etika profesi keguruan, pengakuan terhadap ilmu pendidikan dan keguruan masih setengah hati

dari pengambilan kebijakan dan pihak-pihak terlibat. Hal ini terbukti dari masih belum mantapnya kelembagaan pencetak tenaga keguruan dan kependidikan, masih belum smooth-nya perbedaan pendapat tentang proporsi materi ajar yang diberikan kepada calon guru, masih belum berfungsi PGRI sebagai organisasi profesi yang berupaya secara makssimal meningkatkan profesionalisme anggotanya.Kecenderungan PGRI bersifat politis memang tidak bisa disalahkan, terutama untuk menjadi pressure group agar dapat meningkatkan kesejahteraan anggotanya.Namun demikian di masa mendatang PGRI sepantasnya mulai mengupayakan profesionalisme para anggo-tanya.Dengan melihat adanya faktorfaktor yang menyebabkan rendahnya profesionalisme guru, pemerintah berupaya untuk mencari alternatif untuk meningkatkan profesi guru. Contoh:

Lagi, Guru Aniaya Siswa SD Terjadi di Banten


Murid SD itu mengaku kepalanya sempat dibenturkan di tembok hingga memar. Rabu, 2 Desember 2009, 15:25 WIB

Amril Amarullah Kekerasan Anak di Sekolah (corbis.com) VIVAnews -- Kasus kekerasan yang dilakukan seorang guru terhadap siswanya kembali terjadi. Di Lebak, Banten, siswa SDN 2 Karanganyar harus menjalani perawatan akibat luka-luka lebam di sekujur tubuhnya karena di pukuli gurunya. Sementara guru kelas 2 SD itu, pelaku pemukulan kini harus menjalani pemeriksaan di Polres Lebak, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Informasi yang diterima VIVAnews, Rabu, 2 Desember 2009, kasus itu bermula ketika korban memperagakan gelagat oknum guru dengan berpura-pura batuk dihadapan rekan-rekannya. Tapi, perbuatan itu ternyata dilaporkan oleh salah seorang rekan korban kepada oknum guru tersebut. Mendengar laporan itu sang guru pun berang dan langsung menemui korban yang pada saat itu masih berada di dalam kelas. Tanpa bertanya lagi, guru itu langsung menyeret korban, di hadapan para siswa, guru itu kemudian menghujan bogem mentah kearah korban sambil membenturkan muka korban ke dingding tembok.

Mengetahui anaknya diperlakukan tidak layak, orang tua korban Ahmad Riyanto mendatangi guru itu dan langsung membalas perlakukan tersangka terhadap anaknya. Di temui usai menjalani pemeriksaan di Polres Lebak, guru yang bernama Ujang membantah dirinya telah memukuli korban.Menurut dia saat itu dirinya hanya memberikan efek jera kepada korban, karena kelakukan korban dianggap mengganggu ketertiban siswa. "Saya tidak menampar, melainkan hanya memegang muka korban untuk menakutnakuti korban agar tidak melakukan perbuatan itu lagi," tutur Ujang. Sementara, Kanit I Polres Lebak Iptu Syah Johan membenarkan pihaknya telah memeriksa tersangka Ujang di duga telah melakukan penganiyaan terhadap korban Aceng."Untuk menindaklanjuti laporan dari korban, tersangka kami periksa," katanya.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan 1. 2. Untuk menjadi guru sains profesional terdapat sejumlah kompetensi dasar yang berkaitan dengan kualitas profesional yang perlu ditingkatkan Syarat-syarat guru profesional di Indonesia

Dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat teknologi dan masyarakat ilmu pengetahuan di abad 21 Penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis pendidikan Pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan

3. Empat standar standar pengembangan profesi guru sains yaitu:

Standar pengembangan profesi A Standar pengembangan profesi B Standar pengembangan profesi C Standar pengembangan profesi D
4. Peningkatan kualitas profesional guru sians ditujukan pada peningkatan lima

kompotensi dasar: Pemahaman terhadap materi pelajaran. Pemahaman terhadap pembelajar Pemahaman terhadap prinsip-prinsip dan keterampilan-keterampilan mangajar serta menerapkannya pada tataran implementasi. Pemahaman umum tentang cabang-cabang pengetahuan. Pemahaman dan apresiasi terhadap profesi mengajar.

DAFTAR RUJUKAN

Akadum. 1999. Potret Guru Memasuki Milenium Ketiga. Suara Pembaharuan. (Online) (http://www.suarapembaharuan.com/News/1999/01/220199/OpEd, diakses 18 Oktober 2011). Hlm. 1-2. Ambarita, Bier. 2008. Meningkatkan Profesionalisme Guru Melalui Kepemimpinan.Generasi Kampus Vol. 1 No.2 hal.36-48. Anonim. 2011. Citra Guru Profesional. (Online) (http://citra-guru-profesional.html, diakses pada tanggal 18 Oktober 2011 ) Arifin, I. 2000. Profesionalisme Guru: Analisis Wacana Reformasi Pendidikan dalam Era Globalisasi. Simposium Nasional Pendidikan di Universitas Muham-madiyah Malang, 25-26 Juli 2001. Hasan , Ani M. 2003. Pengembangan Profesionalisme Guru di Abad Pengetahuan. Malang: PPS Universitas Negeri Malang. (Online) (www.tcpdf.org, diakses pada tanggal 18 Oktober 2011) Suma, Ketut. 2004. Peningkatan Profesional Guru Sains.Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi khusus Thn. XXXVII Desember 2004 hlm. 68-77 Supriadi, D. 1998. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Jakarta: Depdikbud