Anda di halaman 1dari 5

Ketidakmerataan Pembangunan antara daerah di Indonesia.......

Pembangunan yang telah dilakukan selama ini secara umum telah mampu meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat, namun demikian pembangunan tersebut ternyata menimbulkan kesenjangan perkembangan antarkawasan, antarkota, kecamatan dan antar kelompok. Tujuan dari pembangunan adalah kemakmuran bersama. Pemerataan hasil pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi untuk menciptakan kemakmuran bersama merupakan tujuan pembangunan yang ingin dicapai. Tingkat pertumbuhan yang tinggi tanpa disertai pemerataan pembangunan hanyalah menciptakan perekonomian yang lemah dan eksploitasi sumber daya manusia. Pemerataan hasil pembangunan di indonesia masih asangat memprihatinkan. Ketidakmerataan juga menjadi masalah dunia. Gini index untuk pemerataan penghasilan indonesia adalah 0,34, hal ini menunjukkan adanya ketidakmerataan penghasilan yang cukup besar di indonesia. Gini index merupakan ukuran tingkat penyimpangan distribusi

penghasilan, gini index diukur dengan menghitung area antara kurva lorenz dengan garis hipotesis pemerataan absolut.

Garis diagonal merupakan garis yang menunjukkan keadaan pemerataan pendapatan yang sempurna (perfect equality) dalam distribusi pendapatan. Dilain pihak, kuva Lorenz menunjukkan deviasi dari suatu kondisi pemerataan sempurna kepada arah ketidakmerataan.

Semakin jauh jarak kurva lorenz dari garis diagonal, maka tingkat pemerataan pendapatan semakin timpang (tidak merata distribusi pendapatannya. Ketidakmerataan pendapat dapat disebabkan oleh keberagaman dalam suatu daerah/wilayah ketika ketidakmerataan tersebut ditetapkan, dan juga dapat disebabkan oleh kebhinekaan seseorang. Menguntungkan atau tidak sangat tergantung dari apa yang mereka punya, gabungan dari semuanya dan dapat dilihat dari berbagai perspektif seperti perbedaan konsentrasi contohnya kebebasan, hak, pendapatan, kesehatan, sumberdaya, sembako, dsb. Gambaran ketidamerataan di suatu daerah berbeda dan tidak saling berhubungan satu sama lain. Efek dari ketidakmerataan pendapatan adalah meningkatnya angka kriminalitas, kesenjangan sosial. Dari segi pendidikan, Pemerataan dan kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Hal ini terbukti dari survei Political and Economic Risk Consultant (PERC) mengatakan bahwa, kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 Negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam, yang terbilang baru saja merdeka yang di bandingkan dengan Indonesia yang sudah merdeka selama 66 tahun, tapi tidak diikutseratakan dalam kemerdakaan dalam bidang pendidikan. Berdasarkan Gini indeks untuk pemerataan pendidikan di indonesia mencapai 0,32, angka ini menunjukkan adanya ketidakmerataan pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan akan mengakibatkan rendahnya produktivitas dan berakibat pula pada rendahnya tingkat pendapatan. Kesenjangan tingkat pendidikan mengakibatkan adanya kesenjangan tingkat pendapatan yang semakin besar. Ketidakmerataan pendidikan di Indonesia ini terjadi pada lapisan masyarakat miskin . Faktor yang mempengaruhi ketidakmerataan ini disebabkan oleh faktor finansial atau keuangan. Semakin tinggi tingat pendidikan, semakin mahal biaya yang dikeluarkan oleh individu. Indonesia merupakan negara berkembang yang sebagian besar masyarakatnya hidup pada taraf yang tidak berkecukupan. Masyarakat menganggap bahwa banyak yang lebih penting daripada sekedar membuang-buang uang mereka untuk bersekolah. Selain itu, biaya pendidikan di Indonesia yang relatif mahal jika dibandingkan negara lain meskipun biaya di beberapa tingkat pendidikan telah di bebaskan. Terlihat bahwa faktor biaya menjadikan pendidikan masyarakat miskin menjadi lebih rendah dibandingkan masyarakat kota. Akses tempat inggal pun menjadi faktor rendahnya pendidikan masyarakat miskin. Masyarakat miskin yang biasanya bertempat tinggal di desa-desa memiliki akses jalan yang sulit dijangkau. Sehingga pendidikan yang masuk ke dalam masyarakat miskinpun menjadi

minim, padahal desa dapat membantu perekonomian Indonesia menjadi lebih baik. Disini terlihat dari Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah namun Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang memiliki pendidikan, sehingga SDA yang dimiliki kurang dimanfaatkan sebaik mungkin. Berdasarkan data dari UNDP mengenai Indeks Pembangunan Manusia, pada tahun 2012 ini, Indonesia berada pada rangking 124 dari 182 negara. Namun jika dibandingkan dengan dengan negara dikawasan asia, maka indonesia berada pada peringkat ke-lima. Diurutan pertama adalah Singapura (33), Malaysia (61), Thailand (103), dan Filiphina (112). Ssedangkan di bawah indonesia adalah Vietnam (128), Laos (138), Kamboja (139), Myanmar (149). Dari segi kesehatan, Di Indonesia persentase balita yang kekurangan gizi mencapai 27,3% pada tahun 2000. Pada 1960, Angka Kematian Bayi (AKB) Indonesia adalah 128 per 1.000 kelahiran hidup.4 Angka ini turun menjadi 68 per 1.000 kelahiran hidup padam1989, 57 pada 1992 dan 46 pada 1995.5 Pada dekade 1990-an, rata-rata penurunan lima persen per tahun, sedikit lebih tinggi daripada dekade 1980-an sebesar empat persen per tahun6. Walaupun pencapaian telah begitu menggembirakan, tingkat kematian bayi di Indonesia masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN, yaitu 4,6 kali lebih tinggi dari Malaysia, 1,3 kali lebih tinggi dari Filipina, dan 1,8 kali lebih tinggi dari Thailand7. Angka ini cukup besar dan harus menjadi perhatian yang serius bagi pemerintah. Tingkat gizi yang rendah akan mempengaruhi produktivitas sehingga tingkat pendapatan akan rendah. Fasilitas kesehatan yang kurang menjangkau ke daerah terpencil di Indonesia menyebabkan rendahnya kualitas kesehatan masyarakat. Pemerataan hasil pembangunan perlu diupayakan supaya pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Pemerataan pendidikan dan pemerataan fasilitas kesehatan merupakan salah satu upaya penting yang diharapkan meningkatkan pemerataan hasil pembangunan dengan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Jika dilihat angka kemiskinan yang ada, diman Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Indonesia pada Maret 2011 mencapai 30,02 juta orang (12,49 persen), turun 1,00 juta orang (0,84 persen) dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2010 yang sebesar 31,02 juta orang (13,33 persen). Selama periode Maret 2010Maret 2011, penduduk miskin di daerah

perkotaan berkurang sekitar 0,05 juta orang (dari 11,10 juta orang pada Maret 2010 menjadi 11,05 juta orang pada Maret 2011), sementara di daerah perdesaan berkurang sekitar 0,95 juta orang (dari 19,93 juta orang pada Maret 2010 menjadi 18,97 juta orang pada Maret 2011). Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah selama periode ini. Penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2010 sebesar 9,87 persen, menurun sedikit menjadi 9,23 persen pada Maret 2011. Di lain pihak, penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2010 sebesar 16,56 persen, juga menurun sedikit menjadi 15,72 persen pada Maret 2011. Perkembangan tingkat kemiskinan dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2011,

Jumlah dan persentase penduduk miskin menurun dari tahun 2004 ke 2005. Pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin naik karena harga barang-barang kebutuhan pokok naik tinggi yang digambarkan oleh inflasi umum sebesar 17, 95 persen. Namun mulai tahun 2007 sampai 2011 jumlah maupun persentase penduduk miskin kembali mengalami penurunan. PDB/GDP (Produk Domestik Bruto / Gross Domestik Product) adalah jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu Negara selama satu tahun. Dalam perhitungannya, termasuk juga hasil produksi dan jasa yang

dihasilkan oleh perusahaan / orang asing yang beroperasi diwilayah yang bersangkutan. PNB/GNP (Produk Nasional Bruto / Gross Nasional Product) adalah seluruh nilai produk barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat suatu Negara dalam periode tertentu, biasanya satu tahun, termasuk didalamnya barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat Negara tersebut yang berada di luar negeri. PDB/PNB per kapita merupakan PDB/PNB atas dasar harga berlaku deibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Pada tahun 2011, nilai PDB perkapita diperkirakan mencapai Rp. 30,8 juta (US$3.542,9) dengan laju peningkatan sebesar 13,8 % dibandingkan dengan PDB per kapita tahun 2010 yang sebesar Rp. 27,1 juta (US$3.010,1). Sementara itu PNB per kapita juga meningkat dari Rp. 26,3 juta (US$2.925,4) pada tahun 2010 menjadi Rp. 29,9 juta (US$3.441,9) pada tahun 2011 atau terjadi peningkatan sebesar 13,7 persen.