Anda di halaman 1dari 15

Tugas Kelompok

Teknik Ramah Lingkungan


Produksi Bersih pada Industri Pengolahan Daging dan Unggas

Kelompok Anggota kelompok : Adji Rachmanto Yoga Asmara Rendi Himawan 21030111060051 21030111060053 21030111060054 2011A 2011A 2011A 2011A Aji Bayu Kurniawan 21030111060052

Program Studi Diploma III Teknik Kimia Program Diploma Fakultas Teknik Universitas Diponegoro 2012
1

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT. Karena atas karuniaNya lah penyusun dapat menyelesaikan makalah ini sebagai tugas Teknik Ramah Lingkungan dengan judul Produksi Bersih pada Industri Pengolahan Daging dan Unggas . Makalah ini dimaksudkan untuk menambah ilmu pengetahuan khususnya Teknik Ramah Lingkungan sehingga dapat membantu pengetahuan tentang pembuatan preparat untuk pengecetan dan pengecetan gram pada khususnya. Ungkapan terima kasih secara khusus penulis ucapkan kepada: 1. Bapak Ir. Edy Supriyo, MT, selaku Ketua Jurusan Diploma III Teknik Kimia Universitas Diponegoro. 2. Ir. Hadi Suyanto, MSi selaku dosen pembimbing mata kuliah Teknik Ramah Lingkungan. 3. Rekan-rekan D3 Teknik Kimia yang telah membantu terselesaikannya makalah ini. 4. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Dalam penyusunan makalah ini penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan masukan, saran dan kritik dari seluruh pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan membawa kebaikan bagi para pembacanya.

Semarang, Mei 2012

Penyusun

BAB I
2

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Daging merupakan bahan pangan asal ternak yang sangat essensial bagi tubuh, karena bahan pangan ini mengandung zat-zat makananan yang sangat diperlukan oleh tubuh terutama pada periode pertumbuhan. Menurut Widyakarya Pangan dan Gizi (1998), bahwa konsumsi rakyat Indonesia harus 15 g protein hewani per kapita per hari, dimana diharapkan 6 gram disediakan dari hasil peternakan dan sisanya dari hasil perikanan, namun menurut data yang ada (Dirjen Peternakan, 2000) bahwa sampai dengan tahun 1999 konsumsi protein hewani dari hasil peternakan baru mencapai 3,4 g/kapita/hari, yaitu 2,10 g dari daging, 0,74 g dari telur dan 0,36 g dari susu. Penyediaan daging untuk memenuhi standar kecukupan pangan berarti harus meningkatkan produksi ternak.Untuk memenuhi kebutuhan tersebut tampaknya kurang optimistik bila hanya dipenuhi oleh ternak sapi, kerbau, domba, kambing, babi dan unggas saja, karena ternak ruminansia lambat tingkat reproduksinya, sedangkan unggas dan babi meskipun mempunyai kapasitas reproduksi yang tinggi dan tingkat pertumbuhan yang cepat, masih membutuhkan pakan yang mahal harganya dan berkompetesi dengan kebutuhan manusia. Namun, peningkatan produksi juga tidak diimbangi dengan peningkatan pengolahan l;imbahnya. Nyataanya masih banyak industri pengolahan dging dan unggas di Indonesia yang belum menerapkan kopnsep produksi bersih. Dimana limbah yang dihasilkan langsing dibuang begitu saja tanpa diolah sehingga mencemari lingkungan. Mengingat pentingnya permasalahan tersebut, kelompok kami bermaksud mengangkatnya dalam makalah ini. 2. Rumusan Masalah 2.1 Apa saja limbah yang dihasilkan pada industri pengolahan daging dan unggas ? 2.1 Bagaimana penanganan limbah yang dihasilkan pada industri pengolahan daging dan ungggas ? 2.2 Bagaimana penerapan produksi bersih pada industri pengolahan daging dan unggas ?

3. Tujuan Penelitian 3.1 Tujuan Umum Mengetahui proses pengolahan pada industri daging dan unggas Mengetahui macam-macam limbah pada industri pengolahan daging dan unggas 3.2 Tujuan Khusus Memahami penerapan produksi bersih pada industri pengolahan daging dan unggas. 3. Manfaat Penelitian Bagi para akademisi, makalah ini dapat menjadi sumber referensi yang patut dibaca untuk menambah pengetahuan terkait industri penolahan daging dan unggas sekaligus pengolahan limbah untuk melaksanakan produksi bersih. Sedangkan, bagi masyarakat, makalah ini dapat memberi gambaran mengenai industri pengolahan daging dan unggas sekaligus kontrol apakah sudah tepat penerapan konsep produksi bersihnya.

BAB II
4

ISI MAKALAH 2.1 Daging dan unggas Daging adalah bagian dari tubuh mahluk hidup yang sifatnya lunak, mengandung protein dan bisa dimakan. Pada dasarnya dalam industri pengoplahan daging dan unggas perlun dilakukan treatment tentunya pemotopngan dan pembersihan yang nantinya digunakan sebagai bahan baku pembuatan prosduk.

Gambar 2.1 Daging Produki olahan daging dan unggas biasanya akan menjadi produk seperti nugget, fillet daging, sosis, kornet dll. 2.2 Proses Pengolahan daging dan unggas
Penurunan (unloading), penimbangan, pemeriksaan ante mortem

Pemingsanan, penyembelihan, penirisan darah Pencelupan air panas (scalding tank), pencabutan bulu dan pencucian karkas Pengeluaran jeroan, pemeriksaan post mortem, penanganan jeroan Pencucian karkas, pendinginan karkas, seleksi, penimbangan, pemotongan, pemisahan daging dari tulang, pengemasan, pendinginan, penyimpanan, pengiriman. Pengolahan menjadi produk misalnya sosis, nugget, dll

Sehingga dari proses-proses diatas, limbah akhirnya dikelompokkan menjadi 2, yaitu : a. Limbah padat Tulang, rambut, kuku dan bagian padat yang disaring dari limbah cair. b. Limbah cair Darah, Feses dan urine, lemak, air bekas pencuci karkas. 2. Sumber dan karasteristik limbah cair Limbah dari pengolahan pangan berbahan daging dan unggas yang utama berasal dari bagian bukan daging dan cairan yang mengandung darah. Cairan yang mengandung darah merupakan sumber polusi yang harus ditangani dengan cepat dan benar. Sebagai contoh, darah yang dihasilkan dari pengolahan daging sapi sekitar 32.5 kg darah/ton daging dan sekitar 8% dari berat tubuh ayam adalah darah yang 70% diantaranya dapat dikeluarkan. Nilai BOD dan COD dari pengolah pengemas daging rata-rata adalah 1240 dan 2940 mg/l dan dari industri pengolah unggas adalah berkisar 150-2400 dan 2-3200 mg/l. Tabel 2.1 Karasteristik limbah industri pengolahan daging dan unggas

3. Pengendalian di dalam pabrik untuk mengurangi pencemaran Pada dasarnya setiap pabrik dituntut untuk menerapkan konsep produksi bersih. Dimana pengendalian dilakukan pada sumber terjadinya limbah pada salah satu proses. Misalnya : Darah

Darah dapat dikumpulkan di bak pengumpulan darah atau dialirkan ke bah ksusus dengan sistem drainage sehingga darah tidak bercampur dengan limbah cair lain dan dapat dioleh sebagai hasil ikutan (by product). Lemak dapat dikumpulkan dengan menangkap partikel-partikel lemak dengan menggunakan sistem perangkap Bahan padat lainnya yang bukan daging dapat dikumpulkan dengan cara mencuci & memisahkan isi perut (rumen) kemudian menyaring limbah cair tersebut.

Gambar 2.2 Diagram pengendalian limbah sederhana oleh pabrik Pada intinya, suatu pabrik yang menerapkan konsep produksi bersih, haruslah menampung dan memisahkan terlebih dahulun seperti disebutkan pada langkah diatas. Langkah selanjutnya adalah memikirkan untuk pengolahan atau pemanfaatan kembali limbah tadi. Yang akan dibahas pada sub bab berikutnya. 4. Pengolahan limbah cair 5.1 Chemical Treatment Partikel-partikel yang kecil dari zat organik tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi, untuk mengatasi hal ini, maka partikel yang kecil perlu digabungkan menjadi kumpulan partikel.

Proses koagulasi ini dengan cara menambahkan coagulant seperti Alumino Feric (setara dengan 17 ppm Aluminium), dan dapat mengurangi kadar BOD5 air limbah dari 856 ppm menjadi 305 ppm (reduksi 64%) 5.2 An aerobic Biological Treatment Proses digesti anaerobic diselenggarakan tanpa adanya gas oksigen mikro organisme anaerobic dalam proses tersebut menggunakan oksigen yang terdapat dalam bahan organik. Pada pengolahan air limbah dengan cara ini, bahan organik di dalam limbah tersebut akan dipecah menjadi gas Methane (CH4) dan karbondioksida (CO2). Dengan cara ini reduksi kadar BOD5 air limbah RPH dapat mencapai 95% . 4.3.Aerobic Biological Treatment Sebenarnya ada 3 cara utama pengolahan limbah cair RPH secara aerobic dengan menggunakan prinsip-prinsip biokimiawi, yaitu : 5.3.1 Activated sludge Mikroorganisme aerobik bereaksi dengan udara sehingga terjadi proses biologis oleh bakteri tsb. Setelah proses terjadi, cairan yang tercampur tadi mengalir menuju tangki pengenadapan di mana Activated sludge mengendap & terjadi proses biologis bakteri aerob, sehingga cairan supernatant di tangki pengendapan dihancurkan & keluar sebagai efluen. 5.3.2 Oxydation Ponds Kolam oxidasi adalah bentuk sederhana dari Aerobic biological treatment dan dapat dipandang sebagai proses pengolahan limbah secara alam. Prinsip kerjanya memanfaatkan pengaruh sinar matahari, ganggang, baktyeri dan oksigen. 5.3.3 Trickling Filters Pada Trickling Filters digunakan saringan tipis seperti film yang mempunyai permukaan kuat. Limbah ditahan pada permukaan filter & langsung turun ke bawah, sementara itu udara percolasi menembus tapis tengah & memberikan suply oksigen untuk purifikasi. Trickling Filters merupakan metoda yang baik untuk pengolahan limbah cair RPH & industri daging karena standard efluent yang baik dapat dicapai.

5. Pengolahan limbah padat 6.1 Dibakar Metode ini paling baik & memuaskan. Untuk memusnahkan limbah padat RPH yang tidak dapat didaur ulang adalah dengan jalan membakar limbah padat tersebut dalam suatu tungku pembakaran (Incenirator). 6.2 Ditanam Cara ini tidak dianjurkan karena bahan-bahan berbahaya dari limbah tsb dapat digali kembali oleh binatang lain. Dari kedua uraian diatas, sebenarnya ada langkah lain selain mengolah limbah baik di reduksi,ataupun didaur ulang. Pemanfaatan limbah adalah salah satu caranya. Beberapa dari limbah tadi ( padat dan cair ), dapat dimanfaatkan, yaitu :

1. Darah sendiri dapat diproses menjadi : a. tepung darah digunakan oleh pabrik pakan ternak sebagai campuran makanan ternak ayam baik petelur maupun pedaging & itik. a Darah hewan mengandung max 20% solid & kira-kira 5 kg darah segar akan menghasilkan 1 kg tepung darah kering dengan kelembaban 10-12%. Bahan makanan tepung darah mengandung protein dalam kadar tinggi (8082%).
9

b. Darah yang dibekukan Digunakan untuk makanan anjing (dog food) 2. Tepung tulang (calcinated bone meal) Tepung tulang sebagai suplement atau penambah unsur phosphat pada pakan ternak. Setiap 45 kg tulang dari hewan yang baru disembelih mengalami konversi menjadi 15 kg tepung tulang Tulang diproses dan diolah menjadi : a. Bahan baku lem/perekat b. nitrogen, calcium & phospor yang terdapat ditulang dapat diolah menjadi pupuk. c. Untuk bahan campuran pakan ternak Penambahan 2 s/d 3 sendok tepung tulang setiap hari pada pakan sapi, dapat menyebabkan (Manual Kesvet, 1985) : memperpendek Calving interval, meningkatkan produksi susu, meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh bagi induk dan anak sapi, Penambahan kuku dan tanduk pada tepung tulang tidak diperkenankan karena produk tersebut sukar dicerna oleh hewan. 3. Isi rumen (ruminal contents) Adalah makanan yang belum dicerna secara sempurna pada lambung pertama ruminansia & mengandung saliva, mikroba an aerob, selulosa, hemi selulosa, protein, lemak, karbohidart, mineral dan vitamin (Van Soest, 1982) Secara mekanis makanan yang tidak tercerna tersebut tercampur dengan Saliva dalam jumlah yang besar sehingga membuat sejumlah bakteri dapat hidup & berkembang di dalam rumen. Isi rumen mengandung serat kasar tinggi dan kandungan protein yang rendah (Mc. Donald et.al.,1987). Kadar protein isi rumen adalah 6,13% dengan kadar serat kasar 28,5% dan kadar hemiselulosa 19,07% (Surjoatmodjo, 1988). Walaupun kualitas isi rumen sapi rendah akan tetapi Preston dan Leng (1986) menyatakan bahwa isi rumen dapat digunakan sebagai pakan ternak. Isi rumen juga dapat diproses menjadi bahan padat, bahan padat tersebut dapat digunakan untuk : a. Pemupukan kolam ikan dan udang b. Dicampur dengan kotoran ternak menjadi kompos

10

4. Kotoran ternak (feses) Kotoran ternak yang berasal dari kandang penampungan sementara dan kandang karantina, dikumpulkan ditempat penampungan. Kotoran ternak tersebut kemudian dikelola & dimanfaatkan menjadi : a. Pupuk tanaman Kotoran ternak sebelum dipergunakan sebagai pupuk diproses terlebih dahulu, agar unsur-unsur kandungan zat hara seperti nitrogen, phospos dan kalium serta elemenlainnya yang dibutuhkan tanaman tidak terbuang. b. Pupuk perikanan darat Dengan mengalirnya kotoran ternak ke kolam ikan, maka pertumbuhan Algae (ganggang) & plankton menjadi subur. Algae & plankton ini sangat berguna sebagai makanan ikan. c. Sebagai sumber energi Kotoran ternak dapat diproses untuk menghasilkan gas bio. Gas bio merupakan bahan bakar yang berguna karena nilai kalornya cukup tinggi, yaitu dalam kisaran < 800 -6700 kcal/m3 (Harahap, 1978) Penggunaan energi gas bio untuk pemakaian rumah tangga, pertanian, industri skala kecil & sebagainya. Lumpur gas bio dapat dipergunakan untuk pupuk tanaman, karena kandungan unsur N-P-K nya cukup tinggi. Lumpur gas bio tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk stabilisasi tanah yang berlempung/ berkapur. Sebagai material untuk pembuatan kompos, lumpur gas bio ini dapat dikombinasikan dengan sampah kota atau enceng gondok. 5. Kelenjar Kelenjar dari ternak sapi dapat dimanfaatkan dalam dunia farmasi untuk dijadikan obat-obatan. 6. Baku mutu limbah cair

11

Beban Pencemaran maksimum limbah pengolahan daging dan unggas

12

13

BAB III PENUTUP Industri pengolahan daging dan unggas memakai bahan baku berupa hewan ternak yang dipotong dan di ambil dagingnya. Selama prosesnya timbul hasil sampingan berupa bahan buangan. Misalnya darah, feses, lemak terlarut, dan cairan lainnya sebagai limbah cair dan kuku, bulu, tanduk sebagai limbah padat. Produksi bersih dilakukan pada sumber terjadinya limbah selama proses. Penyimpanan sementara perlu dilakukan baru dilakukan pengolahan misalnya dengan metode separasi, reduksi dll. Kenyataan yang didapat, sebagian besar industri pengolahan daging dan unggas belum bisa menerapkan produksi bersih, limbah yang dihasilkan selama proses dibuang begitu saja pada saluran sehingga mencemari lingkungan. Oleh karena itu dibutuhkan pemikiran lebih lanjut oleh semua pihak untuk membuat konsep produksi bersih dapat menjadi trend industri sehingga diterapkan dan menyelamatkan lingkungan. Daftar Pusaka Bennett, B. 1988. Raising Rabbits The Modern Way. A Garden Way Pub. Book, United States. Chan, W., J. Brown, S.M. Lee and D.H. Buss. 1995. Meat, Poultry and Game, The Royal Society of Chemistry, London Cheeke, P.R., N.M. Patton, S.D. Lukefahr and J.I. Mc. Nitt. 1987. Rabbit Production, The Interstate Printers and Pub., Inc. Danville Illinois. Dirjen Peternakan. 1999. Buku Statistik Peternakan (Statistical Book on Livestock), Jakarta. Forrest, J.C., E.D. Aberle, H.B. Hedrick, M.D. Judge and R.A. Merkel. 1975. Priciples of Meat Science, W.H. Freeman and Co., San Fransico Lebas, F. 1983. Small Scale Rabbit Production, Feeding and Management System, World Anim. Rev. 46, 11-17. Lebas, F. and M. Collin. 1992. World Rabbit Production and Research Situation. 1992. J. Appl. Rabbit Res, 15, 29-54. Raharjo, Y.C. 1994. Potential and Prospect of an Integrated Rex Rabbit Farming in
14

Supporting an Export Oriented Agribisnis, J. IARD. 16, 69-81. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI. 1998. LIPI, Jakarta. Yurmiaty, H. 1991. Pengaruh Pakan, Umur Potong Dan Jenis Kelamin Terhadap Bobot Hidup, Karkas Dan Sifat Dasar Kulit Kelinci Rex, Desertasi, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

15