Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL SKRIPSI

Judul : Analisis Regresi Ridge untuk Mengatasi Multikolinieritas dalam Analisis Pengaruh Karakteristik Sosial Ketenagakerjaan terhadap Pendapatan Wanita Rawan Sosial Ekonomi Berstatus Janda di Provinsi Jawa Timur (Analisis Susenas 2011) : Ganes Deatama Musyafi : 08.5649/4SK1

Nama NIM/Kelas

Usulan Dosen : Agung Priyo Utomo S.Si., M.T.

Latar Belakang Penelitian Jumlah penduduk Provinsi Jawa Timur berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 sebanyak 37.476.011 jiwa menjadikan Jawa Timur sebagai salah satu provinsi yang yang mempunyai kepadatan penduduk terbesar di Indonesia. Kepadatan penduduk yang tinggi ini dapat menimbulkan berbagai masalah jika tidak diatur dengan baik. Kuantitas penduduk yang besar memang bisa dijadikan sebagai modal pembangunan, berkaitan dengan ketersediaan tenaga kerja yang melimpah. Namun di sisi lain, jumlah penduduk yang besar di suatu daerah juga mampu memunculkan masalah-masalah yang dapat mengganggu pembangunan. Salah satu masalah yang ditimbukkan oleh kuantitas penduduk yang besar adalah munculnya masalah-masalah sosial yang melahirkan para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial atau yang biasa dikenal dengan PMKS. Berdasarkan data Departemen Sosial Republik Indonesia, secara umum penyebaran jumlah PMKS lebih besar di Pulau Jawa. Hasil pendataan pada 22 jenis PMKS tahun 2009, secara umum dapat disimpulkan bahwa jumlah PMKS pada tahun tersebut meningkat dibandingkan tahun 2008, namun ada beberapa jenis PMKS yang menurun jumlahnya, yakni keluarga rentan, pekerja migran terlantar, anak nakal, penyandang cacat, dan keluarga fakir miskin. Sedangkan 17 jenis PMKS lainnya mengalami peningkatan, termasuk Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE). Bahkan jumlah PMKS Jenis Wanita Rawan Sosial Ekonomi termasuk yang terbesar setelah keluarga fakir miskin, penyandang cacat, anak terlantar, dan balita terlantar.

Wanita Rawan Sosial Ekonomi adalah seorang wanita dewasa berusia 18-59 tahun belum menikah atau janda dan tidak mempunyai penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari (Depsos RI). Dari pengertian ini golongan yang beresiko menderita kerawanan sosial ekonomi adalah wanita yang belum menikah dan janda. Berdasarkan pengolahan terhadap data hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010 dalam website resminya, diketahui bahwa provinsi dengan jumlah janda (penduduk wanita yang cerai hidup dan cerai mati) terbesar adalah Provinsi Jawa Timur yakni sebesar 2.407.394 wanita atau sekitar 21,55 persen dari seluruh janda yang ada di Indonesia. Status janda sangat rentan terhadap masalah-masalah sosial, terutama jika dibandingkan dengan wanita yang berstatus menikah atau yang belum menikah. Berawal dari perpisahan dengan suami, kerawanan ekonomi akan muncul terutama bagi wanita yang kondisi perekonomiannya tidak memadai, apalagi mereka yang mempunyai anak dan harus bertindak sebagai single parent yang akan lebih menambah beban hidup seorang janda. Muncul suatu masalah disini, dimana ketika beban hidup semakin bertambah , seorang janda tidak mempunyai pendamping hidup untuk menghadapi semua itu, sehingga membuat kesejahteraan terpuruk. Kerawanan ekonomi yang muncul ini sangat mungkin akan mengarah pada masalah-masalah sosial. Demi memperoleh tambahan pendapatan, janda-janda yang perekonomiannya tidak memadai dikhawatirkan akan melakukan tindakan-tindakan diluar batas sosial dan mungkin bertentangan dengan norma hukum dan agama. Tindakan ini pada masanya akan menjadikan mereka menyandang masalah kesejahteraan sosial. Selain lebih rentan terhadap masalah kesejahteraan sosial, janda juga memerlukan penanganan khusus. Dewasa ini sudah banyak pihak, baik dari pemerintahan maupun non pemerintah, yang mengungkapkan hendak memberi bantuan sosial, sosialisasi, hingga pelatihan. Namun pada kenyataanya, masih ada saja berita mengenai janda yang mengalami masalah kesejahteraan sosial.

Identifikasi Masalah Status janda lebih rentan terhadap kerawanan sosial ekonomi dibandingkan dengan wanita yang belum menikah. Seorang wanita yang berstatus janda mempunyai beban hidup lebih berat, baik dari sisi ekonomi, sosial maupun psikologi. Seorang janda haru berusaha hidup sendiri bahkan menghidupi anaknya tanpa nafkah dari suami. Tidak seperti wanita yang mempunyai suami, seorang janda hanya menerima pendapatan dari dirinya sendiri.

Dengan pendapatan yang kurang, wanita rawan sosial ekonomi berstatus janda harus tetap bertahan hidup. Penelitian ini ingin melihat pengaruh beberapa karakteristik sosial-ketenagakerjaan terhadap pendapatan Wanita Rawan Sosial Ekonomi berstatus janda di Provinsi Jawa Timur, dimana karakteristik sosial-ketenagakerjaan ini mencakup beberapa variabel antara lain : tingkat pendidikan, daerah tempat tinggal, lapangan usaha, status dalam pekerjaan, umur, dan jam kerja selama seminggu. Maruf (2003) dalam penelitiannya memasukkan variabel status tempat tinggal (perdesaan/perkotaan) dan tingkat pendidikan secara bersamaan, dan kesimpulan yang dihasilkan adalah bahwa kedua variabeltersebut tidak signifikan dalam model. Hal ini mengindikasikan adanya multikolinieritas antara kedua variabel tersebut. Demikian pula yang terjadi dalam penelitian Banunu (2005) mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi Wanita Rawan Sosial Eknomi, juga memasukkan dua variabel tersebut, namun hanya satu yang signifikan, yakni tingkat pendidikan. Yunastiti (2006) dalam penelitiannya yang berjudul Determinan Jam Kerja para Pekerja di Provinsi Jawa Tengah mendapatkan kesimpulan bahwa umur mempengaruhi jam kerja secara signifikan. Disimpulkan dari beberapa penelitian yang memasukkan beberapa variabel yang sama dengan variabel yang ada pada penelitian ini, mengaraha pada kesimpulan bahwa dimungkinkan terdapat multikolinieritas antara beberapa variabel penjelas.

Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1. Mengetahui gambaran karakteristik sosial-ketenagakerjaan serta pendapatan Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE) berstatus janda di Provinsi Jawa Timur 2. Mengatasi multikolinieritas dalam analisis pengaruh karakteristik sosial-ketenagakerjaan terhadap pendapatan Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE) berstatus janda di Provinsi Jawa Timur 3. Mengetahui pengaruh pengaruh karakteristik sosial-ketenagakerjaan terhadap pendapatan Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE) berstatus janda di Provinsi Jawa Timur

Manfaat Penelitian Bagi STIS, penelitian ini diharapkan dapat mendorong Regresi Ridge untuk diajarkan dalam mata kuliah Analisis Regresi untuk mengatasi multikolinieritas, mengingat kasus multikolinieritas sering menjadi kendala dalam Analisis Regresi Linier. Bagi pemerintah Jawa Timur khususnya, penelitian ini diharapkan dapat menjadi suatu masukan untuk lebih memperhatikan wanita-wanita berstatus janda yang mengalami masalah kesejahteraan sosial. Bagi para mahasiswa, diharapkan penelitian dapat menjadi suatu bahan pembelajaran dalam penerapan metode analisis baru yang menungkinkan adanya multikolinieritas antar variabel penjelas.

Landasan Teori Menurut definisi dari Departemen Sosial Republik Indonesia, Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) adalah seseorang, keluarga atau kelompok masyarakat yang karena suatu hambatan, kesulitan, atau gangguan tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya sehingga tidak terpenuhi kebutuhan hidupnya baik jasmani, rohani, maupun sosial secara memadai dan wajar. Hambatan, kesulitan, atau gangguan tersebut dapat berupa kemiskinan, ketelantaran, kecacatan, ketunaan sosial, keterbelakangan, keterasingan/ketertinggalan, dan bencana alam maupun bencana sosial. Saat ini Kementerian Sosial menangani 22 jenis PMKS, yaitu sebagai berikut : Anak Balita TelantarAnak Telantar, Anak Nakal, anak Jalanan, Wanita Rawan Sosial Ekonomi, Korban Tindak Kekerasan, Lanjut Usia Telantar, Penyandang CacatTuna Susila, Pengemis, Tuna Susila, Lanjut usia terlantar, Gelandangan, Bekas Warga Binaan Lembaga Kemasyarakatan (BWBLK), Korban Penyalahgunaan NAPZA, Keluarga Fakir Miskin, Keluarga Berumah Tidak Layak Huni, Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis, Komunitas Adat Terpencil, Korban Bencana Alam Korban Bencana Sosial atau Pengungsi, Pekerja Migran Telantar, Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), dan Keluarga Rentan. Sedangkan definisi Wanita Rawan Sosial Ekonomi adalah seorang wanita dewasa berusia 18-59 tahun belum menikah atau janda dan tidak mempunyai penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari (Keputusan Menteri Sosial Nomor. 24/HUK/1996). Adapun kriteria WRSE adalah sebagai berikut : a. Wanita usia 18 - 59 tahun.

b. Berpenghasilan kurang atau tidak mencukupi untuk kebutuhan fisik minimum (sesuai kriteria fakir miskin). Dimana kriteri fakir miskin adalah penghasilan rendah atau berada dibawah garis kemiskinan seperti tercermin dari tingkat pengeluaran perbulan, yaitu Rp. 62.000,- untuk perkotaan, dan Rp. 50.090,- untuk pedesaan (tahun 2000) per orang per bulan. c. Tingkat pendidikan rendah (umumnya tidak tamat/maksimal pendidikan dasar). d. Isteri yang ditinggal suami tanpa batas waktu dan tidak dapat mencarii nafkah. e. Sakit sehingga tidak mampu bekerja. Kurniasih (2011) menyatakan bahwa dewasa ini adanya perbedaan gender telah melahirkan bentuk ketidakadilan gender yang menimpa kaum wanita. Bentuk-bentuk ketidakadilan gender lainnya adalah marginalisasi atau proses pemiskinan perempuan, subordinasi atau anggapan yang menomorduakan perempuan dalam mengambil keputusan, pembentukan stereotipe atau pelabelan negatif terhadap perempuan, kekerasan, serta beban kerja yang lebih banyak dan lebih panjang. Pendapatan dari sisi penerimaan merupakan semua penghasilan yang diterima oleh semua anggota keluarga dari berbagai jenis kegiatan, baik pertanian maupun non pertanian. Selanjutnya pendapatan rumah tangga merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan rmah tangga, yang secara umum dapat dikatakan semakin tinggi tingkat pendapatan akan semakin tinggi tingkat kesejahterannya. (Amini, 2010). Menurut Mubyarto (1997 dalam Anonim, 2009) pendapatan merupakan penerimaan yang dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan. Pendapatan seorang pada dasarnya tergantung dari pekerjaan di bidang jasa atau produksi, serta waktu jam kerja yang dicurahkan, tingkat pendapatan per jam yang diterima, serta jenis pekerjaan yang dilakukan. Berdasarkan penelitian Sri Wijayanti mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan pengusaha Model di Desa Serenan Kecamatan Juwiring Kabupaten Klaten, menghasilkan kesimpulan bahwa tingkat pendidikan secara signifikan mempengaruhi pendapatan seseorang. Makin tinggi tingkat pendidikannya dari sisi intelektualitas makin tinggi derajat sosialnya di dalam masyarakat biasanya keluaran dari pendidikan formal. (Karsidi dalam Ridwan, 2009) Menurut Undang-Undang no.2 tahun 1999, pengukuran tingkat pendidikan formal digolongkan menjadi 4 (empat) yaitu: 1. Tingkat pendidikan sangat tinggi, yaitu minimal pernah menempuh pendidikan tinggi 2. Tingkat pendidkan tinggi, yaitu pendidikan SLTA/sederajat 3. Tingkat pendidikan sedang, yaitu pendidikan SMP/ sederajat

4. Tingkat pendidikan rendah, yaitu pendidikan SD/ sederajat Dalam menentukan jam kerja normal, BPS berpatokan pada jumlah jam kerja minimal 35 jam dalam seminggu. Bila seseorang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu, maka orang tersebut dikategorikan sebagai setengah penganggur. Sedangkan bila seseorang yang selama seminggu yang lalu (dalam periode survei) sementara tidak bekerja, atau jam kerjanya nol, maka tidak dikategorikan sebagai setengah pengangguran ataupun pengangguran terbuka. Pengecualian ini berlaku karena sebenarnya statusnya adalah bekerja, namun karena selama pencacahan sedang cuti, sakit, menunggu panen dan sebagainya, maka yang bersangkutan sementara tidak bekerja. namun dalam hal ini, orang tersebut masih termasuk dalam angkatan kerja. Dalam konsep BPS, Status Pekerjaan Utama dibedakan menjadi : 1. Berusaha sendiri adalah bekerja atau berusaha dengan menanggung resiko secara ekonomis, diantaranya dengan tidak kembalinya ongkos produksi yang telah dikeluarkan dalam rangka usahanya tersebut, serta tidak menggunakan pekerja dibayar maupun pekerja tak dibayar. Termasuk yang sifatnya memerlukan teknologi atau keahlian khusus. 2. Berusaha dibantu buruh tidak tetap atau buruh tidak dibayar adalah bekerja atau berusaha atas risiko sendiri, dan menggunakan buruh/karyawan/pegawai tak dibayar dan atau buruh/karyawan/pegawai tidak tetap. 3. Berusaha dibantu buruh tetap/dibayar adalah berusaha atas risiko sendiri dan mempekerjakan paling sedikit satu orang buruh/karyawan/pegawai tetap yang dibayar. 4. Buruh/karyawan/pegawai adalah seseorang yang bekerja pada orang lain atau instansi/kantor/perusahaan secara tetap dengan menerima upah/gaji baik berupa uang maupun barang. Pekerja yang tidak mempunyai majikan tetap, tidak digolongkan sebagai buruh/karyawan/pegawai tetapi sebagai pekerja bebas. Pekerja dianggap memiliki majikan tetap jika memiliki satu majikan yang sama dalam sebulan terakhir, khusus pekerja pada sektor bangunan dianggap buruh jika bekerja minimal tiga bulan pada satu majikan. 5. Pekerja bebas, mencakup pekerja bebas di usaha pertanian dan non pertanian. Pekerja bebas di pertanian, adalah seseorang yang bekerja pada orang lain/majikan/ institusi yang tidak tetap (lebih dari satu majikan dalam sebulan terakhir) di usaha pertanian baik yang berupa usaha rumah tangga maupun bukan usaha rumah tangga atas dasar balas jasa dengan menerima upah atau imbalan baik berupa uang maupun barang, dan baik dengan sistem pembayaran harian maupun borongan. Usaha pertanian meliputi pertanian

tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan, dan perburuan, termasuk jasa pertanian. Majikan adalah orang atau pihak yang memberikan pekerjaan dengan pembayaran yang disepakati. 6. Pekerja keluarga atau tak dibayar adalah seseorang yang bekerja membantu orang lain yang berusaha tanpa mendapat upah/gaji, baik berupa uang maupun barang. Lapangan usaha adalah bidang kegiatan atau bidang usaha yang dilakukan

perusahaan/usaha/lembaga tempat sesorang bekerja. seseorang yang mempunyai lebih dari satu pekerjaan selama seminggu yang lalu, maka lapangan pekerjaan utamanya adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu terbanyak.

Metodologi Penelitian Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2011. Untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel karakteristik sosial-ketenagakerjaan terhadap pendapatan Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE) berstatus janda digunakan analisis Regresi Linier Berganda dengan variabel terikat pendapatan dan variabel penjelas : tingkat pendidikan, daerah tempat tinggal, lapangan usaha, status dalam pekerjaan, umur, dan jam kerja selama seminggu. Didalam analisis linier berganda dengan banyak variabel penjelas, hubungan antar variabel penjelas sering muncul dan ini menimbulkan masalah dalam ketajaman analisisnya. Korelasi yang sangat tinggi akan menghasilkan penaksir yang terbias, tidak stabil dan mungkin jauh dari nilai sasaran (Gonst and Mason dalam Soemartini, 2008). Oleh karena itu, untuk mengatasi multikolinieritas yang dimungkinkan terjadi antar variabel bebas dalam penelitian ini digunakan metode Regresi Ridge. Apabila terjadi multikolinieritas tidak sempurna antar variabel penjelas, pada diagonal XX ditambah bilangan kecil positif yang bernilai antara 0 dan 1. (Hoerl A.E, 1962 dalam Soemartini, 2008). Tahapan penaksiran koefisien ridge regression adalah : 1. Mentransformasi matriks X (yang dibentuk dari variabel penjelas) dan vektor dibentuk dari variabel terikat), melalui centering dan rescaling. 2. Menghitung matriks korelasi dari variabel bebas (ZZ), serta menghitung korelasi dari variabel bebas terhadap variabel tak bebas 3. Menghitung nilai penaksir * dengan berbagai kemungkinan tetapan bias , dimana bernilai positif (lebih dari atau sama dengan nol) (yang

4. Menghitung nilai C dengan berbagai nilai . Dimana C merupakan nilai staistik Cp Mallows yang digunakan untuk memilih nilai yang stabil. Adapun rumus dari nilai statistik tersebut adalah :

Dimana

Keterangan : n [ 5. Setelah memperoleh nilai nilai

= jumlah kuadrat residu dari persamaan Ridge Regression = banyaknya pengamatan = eigen value dari matriks (ZZ + ] = trace dari matriks = penaksir varians metode kuadrat terkecil , nilai terpilih dalah nilai yang dapat meminimumkan )

(Mayers, 1990 dalam Soemartini 2010)

6. Menentukan koefisien penaksir Ridge Regression dari nilai yang bersesuaian. ( )

Keterangan : i = 1, 2, 3, ... = galat baku dari data awal Y = galat baku dari data awal X ke-i = koefisien regresi setelah melalui metode Rudge Regression 7. Menghitung nilai dan melakukan analisis ANOVA

Penelitian yang berkaitan 1. Banunu, Novianti Harlenci. 2005. Pengkategorian dan Faktor-Faktor yang

Mempengaruhi Wanita Rawan Sosial Ekonomi di Provinsi Jawa Timur tahun 2003. Jakarta : Sekolah Tinggi Ilmu Statistik 2. Soemartini. 2008. Penyelesaian Multikolinieritas melalui Metode Ridge Regression. Jatinangor : Universitas Padjajaran

Daftar Pustaka Amini, Fauziah. 2010. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Keluarga Miskin di Kota Medan. Medan : Universitas Sumatera Utara Anonim. 2008. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Pendapatan Pekerja. Dalam

http://www.scribd.com/doc/56156211/11/Faktor-faktor-yang-Mempengaruhi-PendapatanPekerja

Badan Pusat Statistik. 2009. Profil Ketenagakerjaan Papua Barat. Papua Barat . dalam
http://www.scribd.com/doc/50175901/16/Bekerja-Menurut-Jam-Kerja

Badan

Pusat

Statistik.

2010.

Konsep

Ketenagakerjaan.

Dalam

http://sukabumikab.bps.go.id/component/content/article/52-ekonomi/153ketenagakerjaan.html

Badan Pusat Statistik. 2011. Publikasi Sensus Penduduk 2010. Dalam http://sp2010.bps.go.id Banunu, Novianti Harlenci. 2005. Pengkategorian dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Wanita Rawan Sosial Ekonomi di Provinsi Jawa Timur tahun 2003. Jakarta : Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Departemen Sosial. 2009. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Potensi dan Kesejahteraan Sosial (PSKS) Tahun 2009. Dalam
http://database.depsos.go.id/modules.php?name=Pmks2009&opsi=pmks2009-2

Dinas Sosial. 2006. Definisi dan Kriteria Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial.dalam
http://www.dinsos.pemda-diy.go.id/index.php?option=content&task=view&id=88

Firdaus,

Aini.

2001.

PEKKA

LejitkanPotensi

Kaum

Janda.

Dalam

http://www.pekka.or.id/8/index.php?option=com_content&view=article&id=184%3Apekkalejitkan-potensi-kaum-janda&catid=43%3Apekka-in-the-news&Itemid=45&lang=in

Keputusan Menteri Sosial Nomor. 24/HUK/1996 Kurniasih, Pebriyanti. 2011. Janda, Stigma, dan Budaya Patriarki. Dalam

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&jd=Janda%2C+Stigma+dan+Budaya+Pat riarki&dn=20110605083817

Maruf, Farid. 2003. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Wanita Melakukan Kejahatan. Jakarta : Sekolah Tinggi Ilmu Statistik. Purwaningsih, Yunastiti dan Murtiningsih. 2003. Determinan Jam Kerja Para Pekerja di Propinsi Jawa Tengah. Surakarta : Universitas Sebelas Maret Ridwan, Achmad. 2009. Keterkaitan Tingkat Pendidikan dan Pendapatan Masyarakat. Dalam http://ridwan-belitung.blogspot.com/2009/10/keterkaitan-tingkat-pendidikandan.html

Soemartini. 2008. Penyelesaian Multikolinieritas melalui Metode Ridge Regression. Jatinangor : Universitas Padjajaran

Wijayanti, Sri. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendpatan Pengusaha Mebel di Desa Serenan Kecamatan Juwiring. Surakarta : Universitas Negeri Sebels Maret Surakarta dalam http://digilib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=detail&d_id=1639