P. 1
Banyak Pelanggaran Polisi Selama 2011

Banyak Pelanggaran Polisi Selama 2011

|Views: 1,126|Likes:
Dipublikasikan oleh Abdul Kadar
pelanggaran polisi di indonesia
pelanggaran polisi di indonesia

More info:

Published by: Abdul Kadar on Jun 16, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/05/2013

pdf

text

original

Banyak Pelanggaran Polisi Selama 2011, Kapolri Minta Maaf Susi Fatimah - Okezone Jum'at, 30 Desember 2011 Mabes

Polri mengklaim telah memecat dengan tidak hormat anggotanya sebanyak 267 selama 2011. Hal tersebut dikatakan Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo dalam jumpa pers akhir tahun di Mabes Polri Jakarta, Jumat (30/12/2011). Timur menambahkan sebanyak 3.429 anggotanya telah melakukan pelanggaran disiplin, sebanyak 207 anggota terbukti melakukan tindak pidana. Selain itu, sebanyak 12.987 anggota melakukan pelanggaran tata tertib dan 376 anggota disidang terkait kode etik. Sementara 207 anggota melakukan pelanggaran tindak pidana. Kendati demikian, Timur menyadari masih banyak kekurangan dalam menjalankan tugasnya. "Oleh karena itu saya atas nama seluruh jajaran Kepolisian menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Indonesia," tuturnya. Ke depan, sambung Timur, pihaknya akan selalu berupaya memperbaiki diri serta meningkatkan kemampuan. http://news.okezone.com/read/2011/12/30/337/549568/banyak-pelanggaran-polisi-selama2011-kapolri-minta-maaf ============== 500 Polisi Dipecat Tiap Tahun Iman Herdiana - Okezone Sabtu, 14 April 2012 Sekitar 500 anggota Polri dipecat dari kesatuannya setiap tahun. Pemecatan disebabkan karena berbagai macam pelanggaran. "Mereka yang dipecat adalah polisi yang sudah tidak layak jadi polisi. Dipecat bukan karena tidak kredibel. Tapi, pemecatan dilakukan sebagai jalan akhir," jelas Wakapolri Komjen Pol Nanan Sukarna saat ditemui di SMA Krida Nusantara, Jalan Desa Cipadung, Kota Bandung, Jumat (13/4/2012). Dia menjelaskan, pemecatan dilakukan dengan berbagai prosedur. Dan jika sudah di luar batas kewajaran, maka pemecatan menjadi jalan terakhir. ―Ada beberapa kasus misalnya polisi jadi pengguna narkoba, bahkan melakukan kejahatan. Untuk itu, pemecatan adalah hukuman paling tegas,‖ katanya. Nanan berharap, tidak ada lagi pemecatan polisi karena melakukan pelanggaran. Polisi harus bisa menempatkan diri sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Lanjut Nanan, jumlah polisi di Indonesia masih jauh dari jumlah ideal. Saat ini, polisi hanya sekitar 345 ribu. Dan hanya setengahnya dari ideal jumlah polisi Indonesia yakni 600 ribu personel. "Kami akan tetap bekerja maksimal dengan sarana, prasarana dan personel yang ada. Tidak ada alasan personel kurang, kinerja juga berkurang," katanya. Nanan mengatakan, saat ini Polri membuka pendaftaran untuk menjadi polisi bagi siapapun. Bahkan, pendaftaran tidak hanya dilakukan per tahun, melainkan setiap hari. "Pendaftaran sepanjang hari, sepanjang tahun. Mereka yang masih SD atau SMP bisa mendaftar. Begitu daftar, akan terus dipantau dan dibina agar nantinya bisa lulus dalam tes di kepolisian,‖ pungkasnya. (ugo) http://news.okezone.com/read/2012/04/14/337/611386/500-polisi-dipecat-tiap-tahun ============

Prosedur Melaporkan Polisi yang Melakukan Pelanggaran 1. Bagaimana cara mengajukan anggota polisi ke depan komisi kode etik Polri? 2. Bila polisi berada di hiburan malam dan dalam keadaan mabuk kemudian ia memukul warga sipil sedangkan ia tidak sedang bertugas apa dasar hukumnya untuk menuntut anggota polisi tersebut, bagaimana dan ke mana melakukan pengaduan tersebut? Jawaban: 1. Dalam hal seorang polisi melanggar kode etik profesi POLRI, prosedur pengajuan dugaan pelanggaran kode etik oleh anggota kepolisian adalah sebagai berikut : Prosedur Operasional Standar tentang Penerimaan Surat Pengaduan Masyarakat dan Pendistribusiannya kepada Bagian Pelayanan dan Pengaduan

(Sumber: laman resmi Divisi Profesi dan Pengamanan Polri [“Divpropam Polri”] www.propam.polri.go.id). 2. Dalam hal seorang polisi berada di hiburan malam dan dalam keadaan mabuk kemudian ia memukul warga sipil sedangkan ia tidak sedang bertugas maka atas tindakan polisi tersebut dapat dikenakan : a. Tindak pidana umum Polisi tersebut dapat dikenakan ancaman penganiayaan sesuai Pasal 351 Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) yang berbunyi : (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. (3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. (4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan. (5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. Sedangkan, dalam proses peradilan pidananya, sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan Teknis Institusional Peradilan Umum Dari Anggota Kepolisian Republik Indonesia yang berbunyi : “Proses peradilan pidana bagi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia secara umum dilakukan menurut hukum acara yang berlaku di lingkungan peradilan umum.” Maka, bagi anggota Polri yang melakukan tindak pidana penganiayaan dapat dilaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) pada kantor polisi terdekat sehingga dapat diproses menurut hukum acara yang berlaku di lingkungan peradilan umum. b. Pelanggaran Kode Etik Profesi Polri sesuai dengan Peraturan Kapolri Nomor 7 Tahun 2006 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dalam Pasal 7 Kode Etik Profesi Polri disebutkan etika pengabdian Polri antara lain: Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia senantiasa menghindarkan diri dari perbuatan tercela yang dapat merusak kehormatan profesi dan organisasinya, dengan tidak melakukan tindakan-tindakan berupa : a. Bertutur kata kasar dan bernada kemarahan; b. Menyalahi dan atau menyimpang dari prosedur tugas; c. Bersikap mencari-cari kesalahan masyarakat; d. Mempersulit masyarakat yang membutuhkan bantuan/pertolongan; e. Menyebarkan berita yang dapat meresahkan masyarakat; f. Melakukan perbuatan yang dirasakan merendahkan martabat perempuan; g. Melakukan tindakan yang dirasakan sebagai perbuatan menelantarkan anak-anak dibawah umum; h. Merendahkan harkat dan martabat manusia.

Jadi, dalam hal polisi berada di hiburan malam dan dalam keadaan mabuk kemudian ia memukul warga sipil sedangkan ia tidak sedang bertugas, maka atas tindakan tersebut dapat dikategorikan telah melanggar etika profesi Polri. Karena sudah seharusnya polisi menghindarkan diri dari perbuatan tercela yakni mabuk dan memukul warga sipil. Terhadap pelanggaran etika profesi tersebut dapat dilaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) pada kantor polisi terdekat, sedangkan untuk proses pelanggaran kode etik yang diduga dilakukan, akan ditindaklanjuti secara terpisah oleh Divpropam Polri. Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat. Dasar hukum: 1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek Van Strafrecht, Staatsblad 1915 No. 732); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan Teknis Institusional Peradilan Umum Dari Anggota Kepolisian Republik Indonesia; 3. Peraturan Kapolri Nomor 7 Tahun 2006 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia. http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl4445/prosedur-melaporkan-polisi-yangmelakukan-pelanggaran ============= Peran Polisi saat ini adalah sebagai pemelihara Kamtibmas juga sebagai aparat penegak hukum dalam proses pidana. Polisi adalah aparat penegak hukum jalanan yang langsung berhadapan dengan masyarakat dan penjahat. Dalam Pasal 2 UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia, ―Fungsi Kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat‖, Dalam Pasal 4 UU No.2 Tahun 2002 juga menegaskan ―Kepolisian Negara RI bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib, dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketentraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia‖. Dalam menjalankan tugas sebagai hamba hukum polisi senantiasa menghormati hukum dan hak asasi manusia. Penyelenggaraan fungsi kepolisian merupakan pelaksanaan profesi artinya dalam menjalankan tugas seorang anggota Polri menggunakan kemampuan profesinya terutama keahlian di bidang teknis kepolisian. Oleh karena itu dalam menjalankan profesinya setiap insan kepolisian tunduk pada kode etik profesi sebagai landasan moral. Kode etik profesi Polri mencakup norma prilaku dan moral yang dijadikan pedoman sehingga menjadi pendorong semangat dan rambu nurani bagi setiap anggota untuk pemulihan profesi kepolisian agar dijalankan sesuai tuntutan dan harapan masyarakat. Jadi polisi harus benarbenar jadi pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat, serta sebagai penegak hukum yang bersih agar tercipta clean governance dan good governance. Etika profesi kepolisian merupakan kristalisasi nilai-nilai yang dilandasi dan dijiwai oleh Pancasila serta mencerminkan jati diri setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam wujud komitmen moral yang meliputi pada pengabdian, kelembagaan dan kenegaraan, selanjutnya disusun kedalam Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Etika profesi kepolisian terdiri dari : 1. Etika pengabdian merupakan komitmen moral setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia terhadap profesinya sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, penegak hukum serta pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.

2. Etika kelembagaan merupakan komitmen moral setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia terhadap institusinya yang menjadi wadah pengabdian yang patut dijunjung tinggi sebagai ikatan lahir batin dari semua insan Bhayangkara dan segala martabat dan kehormatannya. 3. Etika kenegaraan merupakan komitmen moral setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dan institusinya untuk senantiasa bersikap netral, mandiri dan tidak terpengaruh oleh kepentingan politik, golongan dalam rangka menjaga tegaknya hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keberhasilan penyelenggaraan fungsi kepolisian dengan tanpa meninggalkan etika profesi sangat dipengaruhi oleh kinerja polisi yang direfleksikan dalam sikap dan perilaku pada saat menjalankan tugas dan wewenangnya. Dalam Pasal 13 UU Kepolisian ditegaskan tugas pokok kepolisian adalah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, dan memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Profesionalisme polisi amat diperlukan dalam menjalankan tugas sebagai penegak hukum, mengingat modus operandi dan teknik kejahatan semakin canggih, seiring perkembangan dan kemajuan zaman. Apabila polisi tidak profesional maka proses penegakan hukum akan timpang, akibatnya keamanan dan ketertiban masyarakat akan senantiasa terancam sebagai akibat tidak profesionalnya polisi dalam menjalankan tugas. Tugas polisi disamping sebagai agen penegak hukum (law enforcement agency) dan juga sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat (order maintenance officer). Polisi adalah ujung tombak dalam integrated criminal justice system. Di tangan polisilah terlebih dahulu mampu mengurai gelapnya kasus pelanggaran yang terjadi di jalanan. Karena Negara Indonesia adalah negara hukum, yang ditegaskan pada Pasal 1 ayat 2 UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai Negara hukum. Negara akan memperlakukan sebagai warganya bersama kedudukannya didepan hukum, siapapun yang melanggar hukum akan ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku. Dalam penegakan hukum landasan yang digunakan adalah hukum pidana materiil dan hukum pidana formil atau hukum acara pidana. Definisi hukum acara pidana menurut Moeljatno adalah ―bagian dari keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara, yang memberikan dasar-dasar dan aturan-aturan yang menentukan dengan cara apa dan prosedur macam apa, ancaman pidana yang ada pada suatu perbuatan pidana dapat dilaksanakan apabila ada sangkaan bahwa orang telah melakukan delik tersebut‖. Sedangkan menurut Sudarto dalam bukunya Suryono Sutarto yang berjudul Sari Hukum Acara Pidana. I ialah ―aturan-aturan yang memberikan petunjuk apa yang harus oleh aparat penegak hukum dan pihak-pihak atau orang-orang lain yang terlibat di dalamnya, apabila ada persangkaan bahwa hukum pidana dilanggar. Dalam hukum acara pidana terdapat beberapa asas,yaitu sebagai berikut : 1. Perlakuan yang sama atas diri setiap orang di muka hukum dengan tidak mengadakan perbedaan perlakuan atau diskriminasi, yang asas ini biasa disebut equality before the law. 2. Penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan hanya dilakukan berdasarkan perintah tertulis oleh pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang dan hanya dalam hal dan dengan cara yang diatur oleh undangundang, atau yang biasa disebut principle of legality. 3. Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Asas ini biasanya disebut asas praduga tak bersalah atau presumption of innocent.

4. Kepada seorang yang ditangkap, ditahan, dituntut ataupun diadili tanpa alas an yang berdasarkan undang-undang dan atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan wajib diberi ganti rugi dan rehabilitasi sejak tingkat penyidikan dan para pejabat penegak hukum yang dengan sengaja atau karena kelalaiannya menyebabkan asas hukum ini dilanggar, dituntut, dipidana dan atau dikenakan hukuman. 5. Peradilan harus dilakukan dengan adil, bebas, jujur serta tidak memihak, yang diterapkan secara konsekuen di seluruh tingkat peradilan. Asas ini disebut fair trial. 6. Setiap orang yang tersangkut perkara wajib diberi kesempatan memperoleh bantuan hukum yang semata-mata diberikan untuk melaksanakan kepentingan pembelaan atas dirinya. 7. Peradilan harus dilakukan dengan cepat, sederhana dan biaya ringan. 8. Pengadilan memeriksa perkara pidana dengan hadirnya terdakwa. 9. Sidang pemeriksaan pengadilan terbuka untuk umum kecuali dalam hal yang diatur dalam undang-undang. 10. Peradilan dilakukan oleh hakim karena jabatannya dan tetap. 11. Sidang pengadilan dilakukan secara langsung dan lisan. 12. Asas Akusatoir bukan Inkusatoir, yaitu pelaku sebagai subyek bukan sebagai obyek. 13. Asas Legalitas dan Oportunitas, yang sebagai pengecualian Asas-asas tersebut di atas muncul karena adanya pranata-pranata baru dalam hukum acara pidana, pranata baru tersebut antara lain : terjaminnya hak asasi manusia; adanya bantuan hukum pada semua tingkat pemeriksaan; penangkapan dan penahanan diberi batas waktu; adanya pemberian ganti kerugian dan rehabilitasi; adanya pra penuntutan; penggabungan perkara yang berkaitan dengan gugatan ganti kerugian; adanya upaya hukum (perlawanan sampai dengan Peninjauan Kembali); koneksitas; adanya hakim, pengawas, dan pengamat; serta adanya pra peradilan. Dengan adanya asas-asas tersebut akan menjadi pedoman untuk menjamin hak asasi manusia dihadapan hukum dan mereka tidak lagi merasa adanya ketidakadilan disetiap permasalahan kejahatan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Namun demikian, praktek kenyataan di lapangan oleh pihak aparat penegak hukum tidak selalu sesuai dengan teori asas-asas dalam hukum acara pidana, sebab tindakan yang sebagian besar didasarkan atas pertimbangannya sendiri atau diskresi telah menimbulkan jaminan hak asasi manusia di muka hukum mengalami pergeseran ke tingkat yang lebih rendah, dimana tindakan tersebut dinilai masyarakat selalu dibarengi tindakan kesewenang-wenangan. Menurut pendapat Chambliss dan Seidman di dalam bukunya Satjipto Rahardjo yang berjudul “Penegakan Hukum Suatu Tinjauan Sosiologis‖, bahwa apabila suatu masyarakat yang secara murni diatur oleh hukum merupakan suatu ideal yang tidak akan dapat dipenuhi atau dicapai. Sebab pengaturan secara murni yang dimaksud tersebut ialah seluruh masyarakat diatur oleh hukum yang dirumuskan secara jelas dan tegas, tanpa dibutuhkan adanya diskresi oleh para pejabat dalam penerapannya atau implementasinya. Suatu keadaan atau ideal itu sama tidak mungkinnya dengan suatu masyarakat yang kehidupannya didasarkan semata-mata pada kebebasan, kelonggaran, atau diskresi yang dimiliki oleh para penegak hukumnya. Dari uraian tersebut di atas dapat dilihat bahwa diskresi menggambarkan ketertiban, sekalipun diskresi tidak dapat dihindari sama sekali, namun diskresi dapat dibatasi. Pemberian diskresi kepada penyidik pada hakekatnya bertentangan dengan prinsip negara yang didasarkan atas hukum. Diskresi ini menghilangkan kepastian terhadap hal-hal yang akan terjadi. Akan tetapi suatu tatanan dalam masyarakat yang sama sekali dilandaskan pada hukum juga merupakan suatu ideal yang tidak akan bisa dicapai. Oleh karena itu, sesungguhnya diskresi merupakan kelengkapan dari sistem pengaturan oleh hukum itu sendiri, maka menurut Skolnick di dalam

bukunya Satjipto Rahardjo tersebut, adalah keliru apabila diskresi disamakan begitu saja dengan kesewenang-wenangan atau berbuat sekehendak hati penyidik dalam melaksanakan tugas penyidikannya terhadap kasus-kasus kejahatan yang terjadi. Diskresi sendiri dalam kamus hukum memiliki pengertian sebagai suatu ―kebebasan mengambil keputusan dalam setiap situasi yang dihadapi menurut pendapatnya sendiri. Tindakan diskresi yang dilaksanakan oleh pihak penyidik dilakukan dengan alasan bahwa tindakan ini dapat mengefektifkan penyelesaian tindak pidana pelanggaran lalu lintas, dimana tersangka melakukan pelanggaran lalu lintas dan karena kelalaiannya menyebabkan orang lain meninggal dunia dan luka-luka. Namun, tindakan tersebut menuai permasalahan yang pelik, yang mana disatu sisi tindakan diskresi ini merupakan aplikasi dari hukum pidana yang dilakukan sesuai dengan kebijakan sendiri untuk mengefektifkan hukum yang berjalan secara kaku. Sedangkan disisi lain tindakan ini menjadi batu sandungan bagi pihak penegak hukum khususnya penyidik, yang mana penyidik selalu disalahkan atas pelaksanaan diskresi yang dilakukan karena tindakan diskresi tersebut memunculkan diskriminasi dalam penerapan hukumnya. ============== SBY Minta Polri Tindak Tegas Polisi Nakal Anwar Khumaini - detikNews Jumat, 18/06/2010 15:06 WIB Presiden SBY meminta agar Polri bersikap terbuka terhadap kritik yang datang dari masyarakat dan menindak tegas oknum polisi nakal. Selain itu reformasi Polri juga harus terus bergulir. "Saya berharap dengarkan kritik atas ketidakpuasan. Atas terjadinya pelanggaran terus diberantas dan hukum ditegakkan," kata Presiden SBY dalam jumpa pers di Istana Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Jumat (18/6/2010). Hadir dalam kegiatan ini sejumlah menteri dan keluarga Presiden. SBY mengakui saat ini masih ada polisi yang lalai dalam menjalankan tugasnya. Karena itu dia kembali menekankan soal reformasi di tubuh kepolisian. "Apakah masih ada oknum yang berbuat lalai? Ya masih ada. Karena itu kita ingin kepolisian melakukan langkah reformasi, Kejaksaan Agung juga, harapan saya Mahkamah Agung, sehingga justice system reform berjalan," terangnya. Selain itu, kalau kemudian terjadi pelanggaran atas oknum polisi itu, berlaku pula aturan yang berlaku. "Kalau polisi terlibat korupsi berlaku juga hukum kepad polisi itu," tutupnya. http://www.detiknews.com/read/2010/06/18/150636/1381366/10/sby-minta-polri-tindaktegas-polisi-nakal ============ 25 Anggota Polisi Lakukan Pelanggaran Sabtu, 24 Maret 2012 Kabid Propam Polda Babel, AKBP Suharjo menyatakan, hingga 21 Maret 2012 terdata sebanyak 25 orang anggota kepolisian Polda Babel yang melakukan berbagai pelanggaran. Dari 25 orang ini kata Suharjo, tercatat 18 orang melakukan pelanggaran karena kurangnya displin dalam jam kerja, satu orang karena tersangkut kasus narkoba dan satu orang lagi tersangkut kasus pengerit BBM serta lima orang pelanggaran lain-lainnya. Untuk itu, 25 orang anggota yang melakukan pelanggaran ini akan di proses sesuai dengan kesalahan yang diperbuatnya. Terkait hal ini, Suharjo meminta kepada semua anggota Polda Babel agar wajib untuk taat aturan. Hal ini supaya setiap anggota dapat memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,

mengingat polisi bekerja selama 24 jam non stop. Menurut Suharjo, selain menjalankan tugas untuk memberikan pelayanan dan keamanan kepada masyarakat, anggota polisi juga harus taat terhadap aturan intern kepolisian termasuk di dalam dan luar jam kerja. ―Polisi itu wajib taat aturan, kalau tidak akan dilakukan sidang kode etik, salah satu langkah memberikan teguran atau untuk meningkatkan kedisplinan setiap anggotanya,‖ ucapnya. Suharjo menambahkan, polisi supaya dapat menjadi tauladan dan menjadi polisi yang profesional dalam menjalankan tugas serta tidak melakukan pelanggaran. Untuk itu apabila ada polisi yang melanggar maka akan di lakukan sidang kode etik. "Kemudian apabila melakukan perbuatan hukum akan diproses dalam persidangan, dan bisa saja dilakukan Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH), namun harus melalui proses hukum yang berlaku," tegas Suharjo. (ydi) http://www.radarbangka.co.id/berita/detail/kamtibmas/6525/25-anggota-polisi-lakukanpelanggaran.html ============= 90 Orang Polisi Lampung Melakukan Pelanggaran Kode Etik Selasa, 22 May 2012 Dari data sementara yang tercatat bulan Januari hingga Maret tahun ini, sekitar 90 orang anggota polisi melakukan sejumlah pelanggaran kedisiplinan dan kode etik, hal ini dibenarkan oleh keterangan Kabid Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih diruang kerjanya. Dari penjelasan tersebut terdapat satu orang polisi menggunakan narkoba serta 4 orang polisi terkena sangsi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) sisanya adalah terkait dengan ketidak disiplinan seragam. Sedangkan total data untuk tahun lalu sebanyak 385 pelanggaran dilakukan oleh oknum aparat kepolisian di wilayah ranah hukum kepolisian daerah Lampung. Perinciannya adalah tahun lalu tercatat 367 pelanggaran kode etik profesi dan disiplin, 13 oknum terkena PTDH dan untuk penyalah gunaan narkoba sebanyak 5 kasus. Sedangkan mereka yang tercatat lakukan pelanggaran narkoba tersebut kini dalam proses menjalani pelatihan dan pendidikan di SPN Kemiling dengan tujuan pembenahan diri melalui pelatihan fisik , jasmani dan rohani. Lebih jauh untuk mengoptimalkan kedisiplinan di tubuh personel penegak hukum ini, masih diterangkan oleh Sulistyaningsih, jajaran Polda Lampung akan terus lakukan pembinaan, termasuk mutasi perubahan status jabatan. ‖ Ini sebagai bentuk penyegaran supaya hasil dari kinerja para petugas terus meningkat. http://milisnews.com/polisi/9120-90-orang-polisi-lampung-melakukan-pelanggaran-kodeetik.html ============ Polisi Dituntut Profesional jumat, 01 juni 2012 01:13 WIB Anggota kepolisian dituntut untuk profesional dan proporsional dalam menjalankan tugasnya. Salah satunya menindak pelanggar lalu lintas dengan melakukan penilangan. Demikian disampaikan Kapolres Cimahi, AKBP Anwar, S.I.K., M.Si. di hadapan jajaran anggota polisi Polres Cimahi, pada upacara gelar pasukan menjelang Operasi Simpatik Lodaya di Mapolres Cimahi, Kamis (31/5). Anwar mengatakan, setiap anggota kepolisian Polres Cimahi wajib menjalankan tugas sesuai tupoksinya secara profesional. Menurut Anwar, hingga saat ini pihaknya masih mendapatkan

laporan masyarakat yang mengeluhkan adanya anggota polisi yang mencari-cari kesalahan saat operasi rutin lalu lintas. "Saya minta setiap anggota bisa bersikap profesional. Lakukan tilang jika pengendara bermotor benar-benar melakukan kesalahan. Jadi, tidak perlu mencari-cari kesalahan. Tilang yang diberikan tanpa alasan jelas, malah akan membuat masyarakat marah sehingga bisa mencoreng citra polisi," tegas Anwar. Terkait operasi Simpatik Lodaya 2012, Anwar mengatakan, kegiatan tersebut akan dilaksanakan secara serentak selama 21 hari, mulai Senin (1/6) dengan melibatkan 97 personel. Disebutkan, operasi simpatik dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait aturan lalu lintas yang wajib dipatuhi oleh pengendara bermotor, dengan memberikan peringatan kepada masyarakat tanpa memberikan sanksi hukum. "Operasi simpatik ini merupakan kegiatan kepolisian di luar tindakan hukum refresif. Jadi jika ditemukan pelanggaran yang kira-kira bisa disampaikan dengan edukasi, lebih baik ditegur saja, tidak usah dengan sanksi hukum. Hal itu untuk mendidik masyarakat agar menegakkan aturan. Sehingga ke kami enak, ke masyarakat juga enak. Win-win solution-lah," katanya. Disebutkan, pelanggaran dan kemacetan yang terjadi di wilayah hukum Polres Cimahi, khususnya di Kota Cimahi dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama dalam membantu kelancaran roda perekonomian. "Rendahnya disiplin masyarakat terhadap lalu lintas ini membuat kepolisian harus memberikan kesadaran sosial berlalu lintas. Untuk itu, diperlukan peran serta dari stakeholder dalam hal ini pemerintah setempat," ungkapnya. http://www.klik-galamedia.com/polisi-dituntut-profesional ========== Propam Polda Jatim Proses 125 Kasus Polisi Nakal Jum'at, 16 Maret 2012 19:43:52 WIB Reporter : Nyuciek Asih Surabaya (beritajatim.com) - Selama periode Januari dan Februari 2012, Bidang Profesi dan Pengamanan (Bidpropam) Polda Jatim telah menangani 125 kasus terkait pelanggaran yang dilakukan anggota jajaran Polda Jatim. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Hilman Thayib menyatakan dari kasus-kasus itu jenis pelanggaran yang terjadi bervariasi.Mulai pelanggaran disiplin, kode etik, hingga pidana. "Kita tetap profesional dan proporsional,untuk anggota yang melanggar akan kita lakukan pembinaan sesuai dengan jenis pelanggaran yang terjadi,"ujar Kombes Pol Hilman Thayib, Jum'at,(16/3/2012). Hilman menambahkan, untuk bulan Januari, Bidpropam menangani 64 kasus polisi bermasalah. Terdiri dari 59 orang pelanggar disiplin, dua pelanggar kode etik, dan tiga pelanggar pidana. Sedangkan, di bulan Februari terdapat 57 polisi yang melanggar disiplin dan empat polisi pelanggar kode etik. Selain polisi, masih ada dua orang PNS di lingkungan kepolisian Jatim yang melanggar pidana. "Berdasarkan data,mayoritas pelanggaran yang dilakukan masih sebatas pelanggaran disiplin.Seperti,membolos, tidak ikut atau terlambat mengikuti apel, perizinan senjata mati,dan beberapa hal lainnya,‘‘ ujarnya. Menurut Hilman, pelanggaran jenis tersebut,walaupun ringan tetap akan di beri sanksi sesuai aturan dan mekanisme yang berlaku di internal Polri. "Jika terbukti akan di punishment,macam-macam bentuknya,bisa saja kurungan maksimal 21 hari di Rumah Tahanan Polisi,"tegasnya. Menurut Hilman,begitu juga dengan jenis pelanggaran kode etik,hukumannya pun bervariasi

hingga yang terberat dengan pemberhentian tidak dengan hormat. "Khusus pelanggaran pidana, akan di proses hingga pengadilan umum serta Bidpropam akan melakukan sidang kode etik terhadapnya,‘‘ tegas mantan Kapoltabes Banjarmasin itu.[uci/ted] http://www.beritajatim.com/detailnews.php/4/Hukum_&_Kriminal/2012-03-16/129763 =========== Kapolri Janji Hukum Polisi Penyiksa Tahanan Monday, 04 June 2012 Kapolri Timor Pradopo bakal menghukum anggota polri yang terbukti menyiksa 22 tahanan di penjara seluruh Indonesia. Kapolri berjanji akan membawa kasus pelanggaran HAM itu ke pengadilan. Saat ini polisi mementingkan proses pengawasan dalam proses hukum itu. "Tentunya semua yang sudah jadi pelanggaran hukum diproses polisi. Termasuk anggota polisi. Langkah yang kaitan dengan masalah ke depan, itu penting. Bagaimana pengawasan itu lebih diutamakan. Tapi yakin bahwa kalau melakukan pelanggaran, polisi akan diproses. saya kira itu. (Penyiksaan terhadap tahanan?) siapa yang menyiksa? (Katanya polisi?) Ya itu semua ada prosesnya dan semuanya akan kita pertanggungjawabakan di depan hukum," tegasnya. Sebelumnya LSM HAM Elsam mencatat dalam 4 bulan terakhir ada 22 kasus penyiksaan yang dilakukan terhadap tahanan. Ada 30 orang korban dari 22 kasus penyiksaan tersebut. 20 diantaranya luka-luka dan 10 orang meninggal dunia. Menurut Elsam, kepolisian menggunakan cara-cara penyiksaan tahanan untuk mendapatkan pengakuan dari tarsangka. Padahal sudah banyak teknologi untuk pembuktian kejahatan. http://kbr68h.com/berita/nasional/26752-kapolri-janji-hukum-polisi-penyiksa-tahanan =========== Data: Polisi banyak pelanggaran HAM di Sumut Monday, 02 January 2012 20:35 TEGUH YUDI TRI PRASETYO Dalam hal pelanggaran hak asasi manusia (HAM), aparat kepolisian menempati posisi teratas pada tahun 2011 di Sumatera Utara (Sumut), bila dibandingkan aparatur lainnya. Hal itu berdasarkan data yang terekam Bantuan Hukum Sumatera Utara (Bakumsu) dan Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan Sumatera Utara (Kontras Sumut). Sekretaris Eksekutif Bakumsu, Benget Silitonga mengungkapkan dalam pengamatan yang dilakukannya bersama Kontras Sumut mengenai kinerja aparat penegak hukum, diantaranya kepolisian, kejaksaan, birokrat, dan Satuan Keamanan Sipil (Satpol PP) selama bulan JanuariNovember 2011 menemukan ada sebanyak 145 kasus pelanggaran HAM dan kekerasan yang melibatkan sektor keamanan negara di wilayah Sumut. Dari jumlah tersebut, terdapat 8 kasus dilakukan oleh TNI, 1 kasus dilakukan oleh Satpol PP, 6 kasus dilakukan oleh Kejaksaan, 4 kasus dilakukan birokrat dan 16 kasus dilakukan oleh pelaku lainnya (OTK, satpam). Dan yang paling banyak melakukan dilakukan oleh kepolisian sebanyak 107 kasus. ―Ini menunjukkan kepolisian belum mampu menjadi pengayom dan pelayan masyarakat sesuai dengan fungsi dan tugas pokoknya,‖ katanya hari ini. Benget menjelaskan, dari total kasus kekerasan tersebut, terdapat 15 kasus pelanggaran HAM dan kekerasan terhadap pembela/penggiat HAM yakni para aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), aktivis mahasiswa, dan wartawan yang sedang bertugas. ―Kepolisian seringkali menjadi alat pengamanan korporasi melawan masyarakat,‖ sebutnya. Dia kemudian mencontohkan beberapa kasus besar yang penting disoroti agar penanganannya transparan dan tuntas, antara lain kriminalisasi terhadap 7 orang petani di Desa Dagang

Kerawan, Tanjung Morawa, Deli Serdang. Kriminalisasi anggota kelompok tani MBK dan kelompok tani Sidodadi di Desa Merbau Selatan, Kecamatan Merbau, Labuhanbatu Utara oleh Kepolisian Resort Labuhanbatu. Kasus bentrokan terjadi antara masyarakat adat rakyat penunggu Kampong Sei Jernih dengan Brimob di atas tanah adat masyarakat adat rakyat penunggu. Akibatnya, lima masyarakat adat rakyat penunggu dipukuli dan dianiaiaya oleh Brimog hingga pingsan. Kemudian kasus pelanggaran HAM dalam konflik masyarakat lokal Mandailing Natal (Madina) yang menolak keberadaan PT Sorik Mas Mining. Kasus penggusuran lahan seluas sekitar 7,5 hektar di Jalan Jati, Pulo Brayan Medan, ratusan warga pemilik 52 Sertifikat Hak Milik (SHM) dipaksa keluar dari lahannya oleh polisi dan juru sita Pengadilan Negeri Medan. Dalam Perkap No 8/2009 tentang implementasi prinsip dan standar HAM dalam penyelenggaraan tugas Polri, yang intinya mewajibkan kepolisian mengedepankan prinsipprinsip penghormatan HAM dalam melakukan tugasnya. Koordinator Kontras Sumut, Muhrizal Syaputra mengatakan bila kepolisian tak bisa melakukan reformasi internal dan peningkatan kapasitas anggotanya mengenai HAM, maka kinerjanya sia-sia. ―Kami meminta supaya polisi juga menindak personelnya yang melanggar HAM,‖ ujarnya. http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=229178:data-polisibanyak-pelanggaran-ham-di-sumut&catid=77:fokusutama&Itemid=131 ============ ELSAM: Polisi Jadi Pelanggar HAM Tertinggi Kamis, 02 Februari 2012 TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Imparsial mencatat aparat keamanan mendominasi kasus pelanggaran HAM sepanjang tahun 2011. Kepolisian menempati urutan pertama kasus kekerasan terhadap masyarakat sipil. "Tercatat sedikitnya terjadi 38 kasus kekerasan terhadap warga sipil di berbagai daerah yang mengemuka dan mendapat sorotan publik," kata peneliti Imparsial Erwin Maulana di Kantor Imparsial, Minggu (29/1/2012). Selain aparat kepolisian, aparat TNI juga menjadi pelaku kekerasan dimana tercatar ada delapan kasus melibatkan anggota militer yang mencuat ke publik. "Militer cenderung turun. Apakah ini indikator keberhasilan perbaikan di lembaga kemiliteran? Karena justru tahun 2011 menunjukkan jumlah kasus kepolisan meningkat," ujar Erwin. Ia melihat kinerja satuan Brimob sangat buruk sehingga harus menjadi perhatian petinggi kepolisian. Polisi, kata Erwin, menjadi alat kepetingan pemodal sehingga harus penataan sektor keamanan. Imparsial melihat trend kekerasan aparat banyak terjadi di sektor kondlif perbutan sumber daya alam. Tercatat sedikitnya 11 kasus konflik Sumber Daya Alam yang melibatkan aparatur keamanan seperti kasus Mesuji, BIM dan petani Sarolangun. Lebih lanjut, kata Erwin, impunitas juga masih menjadi kendala serius dalam penegakan HAM di Indonesia sepanjang 2011. Praktik itulah yang mengakibatkan berulangnya berbagai pelanggaran HAM. "Penghukuman tidak sesuai standar, beberapa polisi hanya terkena kode etik. Posisi negara mengabaikan akuntabilitas HAM," kata Direktur Operasional Imparsial, Batara Ibnu Reza. http://bakumsu.or.id/news/index.php?option=com_content&view=article&id=783:elsampolisi-jadi-pelanggar-ham-tertinggi&catid=54 ============

Pelanggaran Polisi Dibahas di Sidang HAM Friday, 09 December 2011 18:56 Jakarta – Sidang hak asasi manusia (HAM) yang akan digelar Komisi Nasional Perempuan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia, akan mengajukan beberapa tindakan pelanggaran HAM, termasuk pelanggaran HAM oleh polisi. ―Fokus yang diajukan Komnasham yakni pelanggaran HAM yang dilakukan polisi, korporasi, dan otonomi daerah,‖ terang Ketua Komnas Perempuan, Yuniyanti Chuzaifah, pada media briefing sidang HAM di Kantor Komnas Perempuan, Jakarta Pusat, Jumat (9/12). Menurutnya, sesuai data pengaduan yang diterima Komnas HAM, polisi merupakan pihak yang paling banyak diadukan melakukan pelanggaran HAM, yakni 1.503 pengaduan. Perusahaan swasta menjadi peringkat kedua dengan 1.119 pengaduan. ―Urutan ketiganya, pemerintah daerah dengan 779 pengaduan,‖ ungkapnya. Dijelaskannya, atas dasar hal tersebut, Komnasham akan fokus pada pembahasan ketiga elemen tersebut. Sedangkan fokus dan isu bersama pada sidang HAM yakni hak atas keadilan, kebenaran, dan pemulihan korban. Sidang ini dihadiri berbagai elemen, antara lain; korban pelanggaran HAM, LSM, lembaga negara, mekanisme regional dan internasional, serta pakar. Sidang dihelat pada hari Senin (12/12) di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat. [IS] http://m.gatra.com/hukum/31-hukum/5814-pelanggaran-polisi-dibahas-di-sidang-ham ============= Polisi Semakin Arogan di Medan Senin, 05 Desember 2011 15:12 | Ditulis oleh Suara Pembaruan | | | [MEDAN] Lembaga Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat Sumatera Utara (Bakumsu) menilai, aparat kepolisian di daerah ini terkesan arogan dalam menghadapi masyarakat saat melakukan eksekusi sekaligus penghancuran pemukiman di Jl Jati II, Kelurahan Pulo Brayan Bengkel, Kecamatan Medan Timur, Sumatera Utara (Sumut). "Tindakan mereka dalam melibatkan diri saat melakukan eksekusi rumah masyarakat sangat berlebihan. Polisi terkesan mempertontonkan kekuasaan di tengah masyarakat. Tindakan mereka itu bila diamati seperti dibenarkan pimpinannya," ujar Sekretaris Eksekutif Perhimpunan Bakumsu, Benget Silitonga dalam siaran persnya kepada wartawan, Senin (5/12). Benget mengatakan, tindakan petugas yang terlibat dalam melakukan eksekusi pemukiman masyarakat tersebut sudah sangat melukai hati masyarakat. Jika pimpinan polisi dari pusat tidak mengambil tindakan tindakan lebih parah lagi dikhawatirkan semakin diperlihatkan oknum aparat kepolisian di daerah ini. Masyarakat bakal semakin menderita akibat ulah oknum tersebut. "Sangat disayangkan jika aparat kepolisian terkesan buka membela kebenaran demi hukum, apalagi laporan masyarakat sama sekali terkesan tidak ditangani dengan baik. Kasus ini harus diselidiki sampai tuntas. Bila ada keterlibatan oknum aparat di balik putusan eksekusi ini maka perlu untuk diungkap. Masyarakat sudah menderita akibat ulah oknum - oknum kepolisian ini," katanya. Menurutnya, polisi tidak hanya memperlihatkan kearoganan saat melakukan eksekusi. Sebaliknya, polisi yang seharusnya hanya melakukan pengamanan justru terkesan brutal. Polisi tidake mempunyai hati nurani dalam mengeksekusi pemukiman masyarakat. Padahal, masyarakat di sana memiliki sertifikat rumah yang diakui secara hukum oleh negara. Masyarakat Jl Jati II, Kelurahan Pulo Brayan Bengkel, Kecamatan Medan Timur, Sumatera Utara (Sumut), yang menjadi korban dari ketidakadilan pemerintah dan peradilan, menuding

polisi tidak netral dalam menangani laporan pengaduan. Bahkan, polisi justru dianggap melakukan pembiaran meski rumah warga yang deilengkapi sertifikat tersebut dihancurkan. "Tidak ada pencegahan dari aparat penegak hukum. Kapolda Sumut Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro seperti pura - pura tidak mengetahui kejadian. Padahal, ada kasus pidana di balik kasus ini. Mereka ditengarai mengetahui hal ini namun tidak mengambil tindakan hukum," ujar kuasa hukum masyarakat Jl Jati II, Djonggi Simorangkir. Djonggi mengatakan, masyarakat korban dari mafia hukum tidak lagi mempercayai kinerja Polda Sumut. Masyarakat tidak percaya kepada penyidik karena kasus ini sudah sangat lama dilaporkan namun tidak ada pihak - pihak yang diproses secara hukum. Bahkan, masyarakat mencurigai polisi juga terkait di balik eksekusi lahan di kawasan Pulo Brayan tersebut. "Seperti ada negara di dalam negara ini. Kekuasaan di daerah ini seperti dikendalikan oleh mafia yang diduga bekerjasama dengan aparat penegak hukum. Ini sudah tidak benar lagi, apalagi tidak ada keadilan buat masyarakat kecil. Apakah masyarakat harus memberikan perlawanan dengan cara besar baru kasus ini menjadi perhatian? Kasus ini harus sampai ke pusat," katanya. Menurutnya, kasus ini sudah dilaporkan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Lembaga anti kekerasan atas hak asasi ini pun sudah menemukan indikasi keterlibatan aparat di balik eksekusi tersebut. Selain melaporkan ke Komnas HAM, masyarakat juga meminta Komisi Yudisial (KY) meneliti ulang putusan eksekusi hakim pengadilan negeri (PN) Medan. "Jangan memikirkan diri sendiri dengan mengorbankan masyarakat kecil. Ini bisa berdampak pada perlawanan rakyat terhadap aparat penegak hukum. Harus ada kesadaran bersama dari semua pihak, termasuk kalangan DPR untuk membantu masyarakat. Jangan biarkan mafia menguasai daerah ini," tegasnya. Sebelumnya, Komisioner Pemantau Penyelidikan Pelanggaran HAM Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Johny Nelson Simanjuntak mensinyalir keterlibatan oknum polisi dengan mafia peradilan di balik eksekusi lahan seluas 7,5 hektar (Ha) di Jl Jati, Kelurahan Pulo Brayan Bengkel.. Rencana penggusuran terhadap penduduk yang sudah tinggal selama puluhan tahun dan memiliki sertifikat hak milik ini pun merupakan pelanggaran berat HAM. "Tidak hanya oknum polisi, kasus ini pun melibatkan oknum hakim dari pengadilan. Ini harus diusut sampai tuntas. Siapa yang terlibat harus diproses sampai ke meja hijau. Bila tidak ditindak justru semakin memperburuk proses penegakan hukum di tanah air," ujarnya. Johny mengatakan, pemukiman penduduk di atas lahan yang dipersengketakan tersebut sah dan memiliki kekuatan hukum. Sebab, pemukiman penduduk yang ditempati selama puluhan tahun tersebut dilengkapi surat hak milik yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). Oleh karena itu, patut dipertanyakan jika ada pihak yang menganggap pemukiman penduduk yang sebagian berada di atas lahan sengketa itu. "Ini membuktikan bahwa mafia tanah bekerjasama dengan mafia peradilan di balik rencana ekseskusi pemukiman penduduk tersebut. Kami sudah menemui Komisi III DPR, Komisi Yudisial dan Menteri Hukum dan HAM untuk membahas kasus ini. Eksekusi lahan tidak tepat karena bukan termasuk objek perkara dalam gugatan. Pasti ada mafia yang terlibat di belakang ini," tegasnya. Menurut Johny, kasus ini sangat pantas untuk menjadi perhatian. Bahkan, indikasi keterlibatan oknum aparat sudah sangat mengental. Oleh karena itu, Komnas HAM mengharapkan Kapolri Jenderal Timur Pradopo menurunkan tim untuk mengusut kasus tersebut. Kapolri pun harus dapat mengungkap kasus tindak pidana oleh mafia tanah dan peradilan tersebut. Sebab, kasus ini merupakan pidana.

"Sangat ironis, pemukiman itu sudah dihuni oleh masyarakat dari tahun 1975 tiba - tiba harus digusur atas perintah yang dikeluarkan pihak pengadilan negeri. Padahal, masyarakat yang menempati rumah di lahan itu memiliki sertifikat hak milik. Keabsahan dari sertifikat tersebut dikeluarkan oleh negara dan memiliki kekuatan hukum tetap. Namun kenapa bisa digusur?. Anehnya, oknum aparat justru mengawal pengamanan ekseskusi ini," sebutnya. [155] http://bakumsu.or.id/news/index.php?option=com_content&view=article&id=771:polisisemakin-arogan-di-medan&catid=56:kekerasan-polisi ============= Oknum Polisi Ketangkap Bawa 5 Kg Ganja Jumat, 07 Oktober 2011 TAPTENG- Oknum polisi bertugas di Polsek Dolok, Polres Tapanuli Selatan (Tapsel), Aiptu Herdison Purba (44) ditangkap membawa lima kilogram daun ganja kering di dalam mobilnya, Rabu (5/10) sekira pukul 01.30 WIB. Informasi dihimpun METRO (grup Sumut Pos), penangkapan berawal dari masuknya informasi ke Polsek Pandan yang menyatakan ada warga Sidimpuan yang belum diketahui identitasnya akan melintas dengan mobil pribadi dan membawa ganja dengan jumlah yang tidak sedikit menuju arah Padang Sidimpuan. Mendapat informasi itu, personel Polsek Pinang Sori segera melakuan razia di depan Mapolsek setempat dengan maksud membuktikan informasi tersebut. Sekitar pukul 01.00 WIB, petugas melihat mobil Isuzu Panther hitam bernomor polisi B 7375 UV berhenti sekitar 100 meter dari lokasi razia. Salah seorang penumpang perempuan bernama Rita Nasution (32) turun dengan menyandang tas kulit warna hitam. Tiba-tiba mobil itu mencoba melaju ke arah Sidimpuan. Polisi pun berhasil menghentikan mobil Panther tersebut. Pengemudinya menyebutkan kalau dia adalah anggota kepolisian. Namun petugas mendekati perempuan yang diturunkan itu dan menanyakan apa isi tas yang dibawanya. Rita menjawab kalau isi tasnya adalah pakaian. Ketika masih ditanyai petugas, mobil itu putar kepala kembali menuju arah Sibolga dan langsung menaikkan Rita, kemudian melaju dengan kecepatan tinggi ke Jalan Asrama Haji, Desa Sitonong Bangun, Kecamatan Pinang Sori, Kabupaten Tapteng. Polisi kembali melakukan pengejaran dan berhasil memepet mobil Panther itu sampai berhenti di Jalan Asrama Haji. Selanjutnya petugas langsung mengamankan pengemudinya dan membawanya ke Mapolsek Pinang Sori. Sementara Rita Nasution dan seorang penumpang lainnya yakni Gustina Jambak (66) warga Jalan SM Raja Gang Setia, Kota Padang Sidimpuan juga diamankan. Saat diinterogasi, awalnya Aiptu Herdison mengelak kalau dirinya membawa barang haram itu. Setelah didesak, akhirnya Herdison mengaku, kalau dirinya membawa daun ganja dan telah membuangnya di Jalan Asrama Haji. Petugas langsung melakukan pencarian dengan membawa tersangka Herdison. Setelah hari terang, daun ganja itu ditemukan di sekitar kompleks Asrama Haji Pinang Sori, tepatnya di semak-semak. Kapolres Tapteng AKBP Dicky Patrianegara melalui Kasat Narkoba AKP K Nababan didampingi Kapolsek Pinang Sori AKP Khamdani di Mapolsek Pinang Sori membenarkan, pihaknya menangkap dan mengamankan seorang oknum polisi karena membawa dan memiliki daun ganja kering sebanyak lima bungkus besar atau sekitar 5 kilogram yang dibungkus dengan kertas koran dan dilakban kuning di dalam tas kulit hitam. ―Jumlah penumpang itu ada tiga orang dan seluruhnya sudah diamankan di Mapolsek Pinang Sori untuk dilakukan penyelidikan dan pengembangan kasus. Hasil pemeriksaan sementara,

tersangka berniat menjual daun ganja itu kepada salah seorang di Sibolga. Namun karena tidak ada kesepakatan diantara mereka, akhirnya daun ganja itu dibawa kembali menuju Sidimpuan. Sebelum sampai di sana, petugas menangkap dan mengamankan ketiganya beserta barang bukti,‖ tandasnya. Sementara itu, Kapolres Tapsel AKBP Subandriya SH MH melalui Kasubbag Humas AKP AR Siregar, kepada wartawan mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan kabar tersebut meskipun belum mendapatkan pemberitahuan resmi. ―Informasinya kita sudah terima kalau ada anggota kita yang ketangkap bawa ganja, tapi secara resmi belum. Soal apa tindakan, kita masih menunggu kelanjutan proses pemeriksaan. Karena unsur pidana dan jika terbukti, maka yang bersangkutan menjalani hukumannya. Dan jika sudah selesai dijalankan hukumannya, barulah tindakan disiplin dikenakan. Biasanya menurut aturan, bias saja berujung pada pemecetan dengan tidak hormat atau dengan hormat,‖ jelasnya. (tob/phn/smg) http://bakumsu.or.id/news/index.php?option=com_content&view=article&id=755:oknumpolisi-ketangkap-bawa-5-kg-ganja&catid=56:kekerasan-polisi ============ Tipu Pengusaha dan Rekannya, Polisi Ditangkap Propam Rabu, 24 Agustus 2011 13:01 | Ditulis oleh Harian ANALISA Diduga melakukan penipuan Briptu PP (25) ditangkap karena menipu pengusaha handpone Edy Erianto (43) yang juga mitra Prima Koperasi Polisi (Primkoppol) di Toko Bersama Jalan Letda Sujono Kecamatan Medan Tembung, Selasa (23/8) siang. Berdasarkan informasi di kepolisian, sejak awal 2011, PP sudah melakukan penipuan dengan modus mengambil barang dari Toko Bersama milik Edy dengan menggunakan tiga nama anggota Sat Sabhara Polresta Medan. Karena mitra Primkoppol, Edy tak curiga dan memberikan HP berbagai merk kepada Prantoni. PP lalu menjual ponsel hasil menipunya kepada masyarakat dengan harga rendah. Berhasil sekali, PP mengulangi kembali aksinya hingga tiga kali. Namun, aksi PP tidak hanya berjalan sampai di situ saja sehingga modus kejahatan PP tercium polisi akibat banyaknya pengusaha yang resah. Bahkan tiga teman Prantoni yang namanya digunakan untuk mengambil HP tersebut mulai keheranan akibat gaji ketiganya selalu terpotong setiap kali mengambil gaji. Merasa curiga, ketiganya pun mulia protes ke bagian pengambilan gaji di Polresta Medan. Usut punya usut, ternyata nama ketiganya digunakan PP untuk menipu. Berdasarkan temuan itu, Kapolresta Medan Kombes Pol Tagam Sinaga memerintahkan Propam Polresta Medan untuk memburu PP. Petugas lalu meminta Edy untuk menghubungi PP dengan dalih menawarkan barang lagi. Tak curiga, PP mendatangi Toko Bersama milik Edy yang sudah ditunggui Provost. Merasa tak ada masalah, PP kemudian duduk di sofa milik Edy sembari mengangkat kakinya dan tersenyum. Namun, senyum Edy hanya sesaat setelah tiga orang Provost memegang lengannya dan langsung memboyongnya menuju Polresta Medan. Serlanjutnya Edy membuat pengaduan di Unit Tipiter Polresta Medan. Kapolresta Medan Kombes Pol Tagam Sinaga ketika dihubungi wartawan membenarkan penangkapan Briptu Prantoni. Kombes Pol Tagam juga menegaskan akan segera mengeluarkan sanksi terhadap tersangka. "Tersangka sedang diperiksa dan akan segera kita berikan hukuman," paparnya. (aru)

http://bakumsu.or.id/news/index.php?option=com_content&view=article&id=726:tipupengusaha-dan-rekannya-polisi-ditangkap-propam&catid=56:kekerasan-polisi ============ Dua oknum polisi ditangkap nyabu Jumat, 19 Agustus 2011 Dua orang personil kepolisian Polresta Medan tertangkap tangan sedang memakai sabu di sebuah rumah yang berada di Jalan HM Said Gang Zuki Medan Timur, tadi malam. Menurut infomasi yang didapat, keduanya berada dirumah Narso yang merupakan teman kedua polisi tersebut. saat dilakukan penggrebekkan oleh personil Pembina Propam Polresta Medan terhadap kedua polisi tersebut, namun saat penggrebekkan Narso anak pemilik rumah tidak ada berada ditempat. Kedua polisi tersebut diketahui bernama Briptu David Salatua Siregar berasal dari Polsekta Medan Kota yang sedang dalam pembinaan Propam Polresta Medan dan saat ini bertugas di Sabhara Polresta Medan, sedangkan Brigadir Erik Sebayang yang masih dalam pembinaan Propam Polresta Medan, Anggota Satuan Sabhara Polresta Medan. Saat dilakukan penangkapkan petugas Propam Polresta Medan, mengamankan satu buah bong disertai bekas bakaran sabu-sabu dan mancis 4 buah, plastik kecil bekas paket sabu yang telah digunakan keduanya.Pemilik rumah, ibu Lis (50) yang ditemui mengatakan keduanya sering datang kekediaman miliknya."Tadi dia bilang mau minta minum, tapi ternyata dia lagi memakai sabu,"ungkapnya. Dirinya menambahkan, bahwa dirinya sering marah kepada David saat datang kerumahnya. David juga pernah membawa sepeda motornya hingga dua minggu lamanya baru dikembalikan.Diketahui, keduanya personil tersebut jarang masuk tugas dan sering meninggalkan tugas saat waktu dinas. sehingga kedua personil tersebut menjadi pembinaan Propam Polresta Medan. Saat ini Polresta Medan Sedang melakukan pemeriksaan terhadap seluruh personil yang sedang dalam pembinaan. http://bakumsu.or.id/news/index.php?option=com_content&view=article&id=719:duaoknum-polisi-ditangkap-nyabu&catid=56:kekerasan-polisi ========= Penembak Fahri Diduga Oknum Polisi Jumat, 10 Juni 2011 10:31 | Ditulis oleh Sumut Pos Penembakan terhadap Tengku Fahri (27), warga Jalan Bundar Pulo Brayan Bengkel Baru, Medan Timur, di Jalan Tol Balmera Mabar pada Sabtu (4/6) dinihari lalu masih misterius. Pihak PT Jasa Marga Cabang Balmera menyangkal kalau pelaku penembakan tersebut adalah petugas jaga pintu tol Mabar. ―Mana mungkin petugas kami yang melakukan penembakan tersebut. Petugas kami tidak ada diberikan senjata, mau nembak pakai apa?‖ kata Kasubag Pengamanan Lalu Lintas Tol Cabang Balmera, Nurmawan saat dijumpai di ruang kerjanya, Rabu (8/6). Nurmawan menjelaskan, informasi yang diterimanya dari Dani (21), petugas lapangan yang saat itu di lokasi kejadian, kronologis penembakan yang terjadi di jalan Tol tersebut berawal saat mobil yang dikendarai korban yakni Daihatsu Feroza BK 1060 LO dikejar dua mobil Avanza warna hitam, Xenia warna Silver dan dua sepeda motor. Tepat di pintu keluar Jalan Tol Mabar, mobil korban diberhentikan mobil Avanza tersebut. Selanjutnya, pengendara mobil Avanza tersebut keluar dan petugas pintu tol terkejut, karena

waktu itu yang keluar merupakan oknum polisi berseragam lengkap mengeluarkan senjata api dan menodongkannya ke arah mobil korban. Selanjutnya, para petugas jaga pintu tol itu langsung lari bersembunyi ke pos satpam yang tidak jauh dari pos pembayaran tiket. Pengendara yang ditodongkan senjata api itu pun panik dan membanting setir dengan memundurkan mobilnya ke belakang. Namun mobil tersebut malah terperosok ke semak-semak di kebun sawit. Kemudian, setelah terperosok, oknum polisi tersebut mengejar mereka. ―Nah, saat itulah petugas kami mendengar ada dua suara letusan tembakan,‖ tambahnya. Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan AKP Hamam saat dikonfirmasi mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan. ―Kami masih proses kasus ini Bang,‖ ujarnya. Dia menjelaskan, barang bukti sudah mereka dapatkan berupa proyektil peluru yang digunakan untuk melakukan penembakan. Sejauh ini, untuk jenisnya belum diketahui karena akan dilakukan identifikasi terhadap proyektil tersebut. ―Kami akan identifikasi proyektil tersebut untuk mempermudah mencari oknum yang melakukan penembakan tersebut dan kami belum bisa memastikan oknum penembakan tersebut,‖ jelasnya. Terpisah, Kanit Reskrim Polsek Labuhan AKP Oktavianus mengatakan, sampai saat ini pihaknya sudah memeriksa lima orang saksi. Tiga saksi merupakan teman korban dan dua saksi lagi merupakan petugas jaga PT Jasa Marga. (mag-11) http://bakumsu.or.id/news/index.php?option=com_content&view=article&id=691:penembak -fahri-diduga-oknum-polisi&catid=56:kekerasan-polisi ============ Empat Kapolsek Diselidiki Selasa, 07 Juni 2011 12:53 | Ditulis oleh Pos Metro Pasca terbongkarnya setoran bos togel kepada 20 perwira di jajaran Polres Binjai, tim khusus Polres Binjai terus mendalami pemeriksaan terhadap ketiga tersangka. Termasuk menyelidiki keterlibatan empat kapolsek dan kanit reskrimnya. ―Polres Binjai, masih mendalami pemeriksaan keterlibatan keempat Kapolsek dan Kanit Reskrimnya,‖ tegas Kabid Humas Poldasu, AKBP Raden Heru Prakoso, Minggu (5/6) kemarin. Dikatakan Heru, bila hasil penyelidikan Polres Binjai nantinya menemukan indikasi keterlibatan anggotanya melakukan pembiaran praktik judi dengan menerima setoran, maka Direktorat Profesi dan Pengamanan (Dit Propam) Poldasu akan menanganinya. ―Bila ada indikasi anggota terlibat, Propam Poldasu yang akan menanganinya, ‖ katanya. Saat disinggung mengapa penyelidikan kasus ini tidak diambil alih Poldasu, Heru menuturkan kalau penyelidikan sepenuhnya diserahkan kepada kapolresnya. ―Kita serahkan pemeriksaanya terhadap kapolresnya, karena yang bersangkutan merupakan kepala satuan wilayahnya, ‖cetusnya. Jadi kata dia, Poldasu hannya mengikuti perkembangan dari hasil penyelidikan yang dibuat Polres Binjai. ‗‘Namun, bila nanti ditemukan ada anggota yang terlibat maka Kapoldasu akan mengambil tindakan tegas, ‖ ucapnya sembari mengatakan pemberantasan judi merupakan atensi Kapoldasu Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro. Dibelikan Fasilitas Terungkapnya upeti bandar judi ini bak membuka kotak pandora kelakuan bandar judi togel berinisial A, terhadap aparat di jajaran Polres Binjai.

Soalnya, selain rajin menyetor sejumlah uang kepada polisi, bandar togel A juga kerap memberi setoran berupa fasilitas kantor polisi. Seperti diungkapan sumber wartawan koran ini, Minggu (5/6), bahwa AC (pendingin udara) di ruangan Kapolsek Binjai Kota, merupakan pemberian dari bandar judi togel berinisial A tersebut. ―Selain mendapat setoran, terkadang ada oknum yang ingin memiliki TV, AC dan lainnya. Maka, sejumlah oknum polisi tak jarang meminta kepada bandar judi itu. Bahkan, permintaan seperti ini sebahagian besar dipenuhi oleh sang bandar,‖ ungkap sumber wartawan koran ini. Permintaan seperti ini, sambungnya, tidak diberikan saat oknum polisi itu meminta. Paling tidak, disepakati dalam beberapa waktu. ―Kalau barang yang diminta sudah ada, baru barang tersebut diambil oleh anggota dan diberikan kepada oknum yang bersangkutan,‖ paparnya. Kapolsek Binjai Kota, AKP ZA Harahap, saat dikonfirmasi terkait AC yang ada di kantornya, membantah kalau AC tersebut diberi oleh bandar judi berinisial A. ―Mana ada, AC itu saya beli. Saya tak kenal bandar judi itu, entah macam mana orangnya, petak, bulat, pendek, saya tak tahu itu. Udahlah, biar enak ceritanya nanti datang saja ke kantor. Saya lagi di Medan ini, ada acara pesta,‖ ujar ZA Harahap yang dikonfirmasi Sumut Pos (grup POSMETRO), lewat selulernya, kemarin. Keterangan terakhir yang dihimpun koran ini, bahwa nama-nama perwira yang diduga terlibat menerima upeti dari bandar togel A, saat ini sudah berada di tangan Kapolres Binjai. Sayang, Kapolres Binjai, AKBP Rina Sari Ginting, ketika dihubungi koran ini lewat telepon tak mengangkat. Bahkan, SMS koran ini yang menanyakan nama-nama perwira penerima upeti dari bandar togel, belum juga dibalasnya. Segera Diselesaikan Terkait meledaknya kasus dugaan perwira polisi Polres Binjai terima upeti dari bandar judi togel membuat Wakil Wali Kota Binjai, Timbas Tarigan, angkat bicara. ―Pemberantasan judi sudah menjadi komitmen kita bersama. Jadi, dengan adanya dugaan kolusi dari aparat kepolisian ini harus menjadi perhatian serius petinggi Polri,‖ ujar Timbas Tarigan, kemarin lewat pesan singkatnya. Mantan anggota DPRD Sumut ini menambahkan, kampanye Kapoldasu untuk pemberantasan judi sangat serius. ―Maka, hendaknya kampanye Kapolda ini, dapat dijalankan oleh seluruh jajarannya,‖ harap Timbas. Bercerita tentang sanksi terhadap oknum perwira di jajaran Polres Binjai, jika terbukti menerima upeti, Timbas mengatakan, bahwa masalah sanksi menurutnya sudah pasti ada aturanya di kepolisian sendiri. ―Yang pasti, ini harus di selesaikan agar institusi kepolisian kita tetap baik dimata publik,‖pinta Timbas. Hal senada ditegaskan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Binjai, Irhamsyah Putra Pohan, kepada wartawan koran ini mengatakan, sangat menyayangkan kalau memang benar oknum perwira di jajaran Polres Binjai terlibat suap dari bandar judi togel. ―Setelah mendengar dan membaca media cetak terkait oknum perwira terima upeti dari bandar judi, saya langsung kaget. Untuk itu, saya hanya meminta dan berharap, agar petugas kepolisian menjalankan kesepakatan bersama untuk memberantas judi dan lainnya demi kebaikan masyarakat,‖ ujarnya. Irhamsyah sangat menyayangkan, jika dugaan itu menjadi benar. ―Sangat disasyangkan kalau memang ada anggota Polri menjadi beking judi,‖ pungkasnya .(adl/dan/ton/smg) Berbagai Judi di ‗Las Vegas‘ Binjai

Pria berdarah Tionghoa berinisial A, yang dikabarkan bandar togel terbesar di Binjai, ternyata tidak asing lagi di telinga masyarakat. Namanya sudah melegenda di Brahrang, Lingcun dan Kampun Tanjung atau disebut-sebut Las Vegas Binjai. Sayangnya, tak setenar namanya, sosok A sangat jarang terlihat. ―Siapa yang gak pernah dengar namanya. Hampir semua orang tau namanya. Tapi kalau ditanya pernah melihat, warga sini gak tahu yang mana orangnya,‖ kata salah seorang warga Kampung Kanjung atau yang santer disebut Las Vegas Binjai, kepada kru koran ini, kemarin (5/6) siang. Nama Las Vegas itu sendiri, menurutnya, karena di daerah tersebut banyak ditemukan permainan judi. Namun permaian itu sangat rapi dan tertutup, sehingga susah untuk membuktikannya. ―Selain judi togel, juga ada beberapa arena judi. Diantaranya, judi dadu dam ada juga yang namanya judi genap ganjil. Semua jenis judi disini semuannya disebut-sebut dikelola oleh A,‖ ujarnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, cara permainan genap ganjil ini yakni para pemain berkumpul di sebuah warung. Setelah itu, datang seseorang yang biasanya menggunakan becak bermotor menyambangi para pemaian tersebut. Nah, abang becak ini, sudah diberikan uang oleh bandar judi atau kaki tangan bandar. Dimana uang yang diberikan terkadang genap dan ganjil. Sesampainya abang becak ini di lokasi pemain berkumpul, barulah para pemain mencoba menebak berapa jumlah uang yang dibawa abang becak itu. Setelah masing-masing pemain menuliskan tebakannya, serta besaran jumlah taruhannya, barulah bandar mebuka besaran uang yang dibawa oleh abang becak tesebut. ―Siapa pemain yang menebak dengan tepat atau mendekati, akan menjadi pemenang dan berhak mendapat uang sebesar taruhan yang dipasangnya. Sementara, taruhan pemain yang kalah, akan diambil oleh bandar,‖ tandasnya. Secara terpisah, Kepling I Kampung Tanjung, Tangkas, berkata sedikit samar mengingat sosok A. ―Saya sedikit lupa, kalau ada fotonya saya ingat,‖ kata Tangkas lewat ponselnya, mengaku lokasi judi di sana sudah jadi rahasia umum. ―Tapi itu dulu, kalau sekarang ini saya tidak begitu mengetahui lagi,‖ katanya.(mag04/joe) http://bakumsu.or.id/news/index.php?option=com_content&view=article&id=689:empatkapolsek-diselidiki&catid=56:kekerasan-polisi =========== Pelanggaran anggota polisi meningkat Senin, 9 Januari 2012 Pelanggaran anggota kepolisian yang bertugas di wilayah hukum Polrestabes Bandung pada 2011 meningkat dibandingkan 2010. Tercatat pada 2011 lalu ada empat anggota polisi yang diganjar pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH). Padahal, pada 2010 lalu hanya dua anggota yang PTDH. Secara umum, sepanjang 2011 ada 109 anggota Polretabes Bandung yang melakukan pelanggaran disiplin. Jumlah itu naik 28 persen (bertambah 24 anggota) dibandingkan 2010 yang hanya 85 anggota. Bahkan, dua anggota lainnya berpangkat perwira, yakni mantan Kapolsekta Cicendo Kompol Brussel Duta Samodra dan mantan Kanitreskrim Polsekta Cicendo AKP Suherman. Keduanya kini tengah menjalani sidang dugaan korupsi Rp1 miliar di Pengadilan Negeri Bandung. Wakapolrestabes Bandung AKBP Rintho Prastowo menyebutkan, pelanggaran disiplin yang dilakukan anggota di antaranya meliputi narkoba ada lima orang, pelanggaran kode etik atau profesi tujuh orang anggota, pelanggaran tindak pidana lima orang. Mereka semua berasal dari bintara di lingkungan Polsek dan Polretabes.

―Dibandingkan 2010, pelanggaran disiplin tersebut menurun. Itu kita proses ke peradilan umum. Untuk PTDH naik 200%. Sebelumnya (2010) dua orang, menjadi empat orang tahun ini,‖ katanya, di Mapolrestabes Bandung, kemarin. Melihat masih adanya pelanggaran disiplin, kode etik, tindak pidana, dan PTDH, Rintho berharap pada 2012 ini hal negatif tersebut tidak lagi terjadi apalagi meningkat. ―Kita selalu mengingatkan dan menegaskan kepada anggota untuk tidak melakukan pelanggaran. Kita juga telah minta pengawasan diperketat,‖ ujarnya. http://www.sindonews.com/read/2012/01/09/447/553777/pelanggaran-anggota-polisimeningkat ============== Polisi Aktor Utama Pelanggaran HAM 2011 Firman Hidayat | The Globe Journal Kamis, 29 Desember 2011 00:00 WIB Banda Aceh — Selama tahun 2011, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh menerima dan menangani kasus sebanyak 145 kasus. Pelanggaran HAM yang terjadi sepanjang tahun 2011 menunjukkan bahwa Hak Asasi Manusia (HAM) belum menjadi bagian kerja rezim Pemerintahan Aceh saat ini. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur LBH Banda Aceh, Hospinovizal Sabri, SH melalui Kepala Divisi Hak Sipil Politik, Syahminan Zakaria SH dalam konperensi pers catatan akhir tahun di Petuah Toe Cafe, Kamis (29/12) siang tadi. LBH Banda Aceh mencatat telah terjadi 60 kasus pelanggaran HAM dengan perincian 41 kasus pelanggaran hak sipil politik dan 19 kasus pelanggaran hak ekonomi, sosial dan budaya. Data pelanggaran HAM ini merupakan hasil database LBH Banda Aceh sepanjang 2011 yang berasal dari Banda Aceh, Lhokseumawe, Takengon dan Meulaboh. Sama seperti catatan akhir tahun 2010 lalu. Pada tahun 2011 ini, Polisi masih menjadi aktor utama pelaku pelanggaran HAM terhadap hak sipil politik yaitu sebanyak 20 kasus. Sedangkan pada tahun 2010 lalu LBH Banda Aceh mencatat sebanyak 27 kasus pelaku pelanggaran HAM Sipol adalah anggota Polisi. Beberapa pelanggaran HAM yang dilakukan polisi ini seperti, penyiksaan dalam penyidikan, penangkapan dan penahanan yang sewenang-wenang, eksekusi diluar proses hukum dan melakukan pembiaran perkara. Lemahnya akuntabilitas dan pertanggungjawaban dalam institusi polisi sendiri merupakan salah satu penyebab polisi menjadi aktor dominan pelanggaran HAM. Ketidakmauan dan ketidakmampuan polisi untuk menindak anggota sendiri menyebabkan tidak adanya pelajaran yang dapat dipetik sehingga pelanggaran HAM masih terus dilakukan polisi. ―Polisi cenderung masih membela satuannya,‖ kata Wakil Direktur Bidang Operasional LBH Band Aceh, M. Alhamda SHI usai konperensi pers. Selain itu ketidakprofesionalnya polisi dalam melakukan penyidikan juga menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM dalam penyidikan. Malasnya melakukan investigasi yang mendalam saat memecahkan kasus membuat polisi hanya mengejar pengakuan tersangka sebagai satu-satunya alat bukti utama untuk kelengkapan berkas penyidikan. Gaya bekerja seperti ini merupakan gaya bekerja polisi zaman belanda yang hanya mengutamakan pengakuan dari tersangka padahal alat bukti pengakuan (terdakwa) merupakan alat bukti yang paling lemah dalam sistem pembuktian pidana.

Sepanjang 2011, LBH Banda Aceh mencatat ada 145 jumlah kasus yang dilakukan penanganan, rinciannya 41 kasus terhadap pelanggaran Sipil Politik, 19 kasus terhadap ekonomi sosial dan budaya dan 85 kasus terhadap bantuan hukum cuma-cuma. Jika dibandingkan tahun 2010 lalu, catatan kasusnya lebih banyak lagi yaitu sebanyak 232 kasus dengan perincian, 47 kasus pelanggaran sipil politik, 39 kasus pelanggaran Ekosob dan 146 kasus untuk bantuan hukum cuma-Cuma. [003] http://theglobejournal.com/hukum/polisi-aktor-utama-pelanggaran-ham-2011/index.php =========== Lima Kapolres Sertijab Kapoldasu: Pelanggaran Disiplin Polisi Masih Tinggi Kamis, 09 Feb 2012 08:35 WIB MedanBisnis – Medan. Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapoldasu) Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro mengakui pelanggaran disiplin oleh personelnya masih tinggi. Menurutnya, tindakan para ‗polisi nakal‘ ini menurunkan citra Polri di masyarakat. Padahal, kata Kapoldasu, masyarakat selain membutuhkan rasa aman, juga sangat mendambakan terwujudnya kehidupan yang lebih demokratis, pemerintah yang bersih, transparan dan Akuntabel, serta meningkatnya kinerja anggota yang profesional dan proporsional. ―Untuk dapat mewujudkan harapan dan tuntutan masyarakat, Polri harus intropeksi diri, memahami akan kekurangan dan kesalahannya, dan yang terpenting terus berusaha melakukan perbaikan secara konsisten dalam pelaksanaan tugas, sehingga keberadaan Polri betul-betul dapat dirasakan oleh masyarakat sebagai pelindung, pengayom dan pelayan,‖ kata Kapoldasu ketika melantik dan menyaksikan serah terima jabatan 5 Kapolres, di aula Kamtibmas Mapolda Sumut, Jalan Sisingamangaraja KM 10,5, Medan, Rabu (8/2). Kepada Kapolres baru, Kapolda meminta untuk meningkatkan pelayanan. "Saya minta kepada pejabat yang baru dilantik untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Serah terima jabatan ini merupakan hal yang biasa dilakukan guna meningkatkan kinerja Polri," ujarnya. Menurut Wisjnu, pada hakekatnya sertijab dalam suatu organisasi akan selalu terjadi sebagai bagian dinamika organisasi. Alih tugas dan sertijab hendaknya dapat dimaknai sebagai suatu proses dalam rangka peningkatan kinerja. Tantangan eksternal bagi setiap personel Polri, kata Kapolda, selain gangguan kamtibmas yang bersifat konvensional, seperti perampokan, juga gangguan yang ditimbulkan sebagai dampak permasalahan idiologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Pejabat yang melakukan serahterima jabatan adalah Kapolresta Medan dari Kombes Pol Tagam Sinaga SH kepada Kombes Pol Monang Situmorang, yang sebelumnya Dirpamobvit Polda Riau. Tagam diangkat menjadi analis kebijakan madya bidang pidter Bareskrim Polri (dalam rangka Dik Sespimti 2012). Kapolres Tanah Karo dari AKBP Ignatius Agung Prasetyoko SH MH kepada AKBP Marcelino Sampouw SH SIK MT (sebelumnya Kabagdiklat Pusdik Lantas Lemdikpol). Kapolres Langkat dari AKBP Mardiyono SIK MSI kepada AKBP Leonardus Eric Bhismo SIK SH (sebelumnya Kapolres Nias Selatan. Kapolres Nias Selatan dari AKBP Leonardus kepada AKBP Juliat Permadi Wibowo SIK MH (sebelumnya Gadik Madya Setukpa Polri Lemdikpol), Kapolres Asahan dari AKBP Drs Marzuki M kepada AKBP Yustan Alpiani SIK (sebelumnya Kapolres Dairi). AKBP Marzuki M diangkat sebagai Wadirpamobvit Polda Kaltim.

Kapolres Dairi dari AKBP Yustan Alpiani SIK kepada AKBP Enggar Pareanom SSos SIK (sebelumnya Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Jabar). Kemudian, Dirlantas Poldasu dari Kombes Pol Drs Bambang Sukamto SH MH kepada Kombes Pol Drs M Arkan Hamzah. Kombes Bambang Sukamto dalam rangka Dik Lemhanas. Kapolres Karo yang baru, AKBP Marcelino Sampouw menyatakan pemberantasan judi merupakan prioritas kerjanya. Namun, ia harus mempelajari situasi dan kondisi di wilayah tugasnya. "Kita akan memetakan situasi di wilayah hukum Polres Karo. Sebagai penegak hukum, untuk melakukan tindakan kita harus kita melihat dampak konflik yang ditimbulkan," ungkapnya. Seperti informasi yang diterimanya, lokasi Pasar Buah Tiga Binanga, Karo dan kedai kopi di tengah kebun coklat, persisnya di Simpang Perlamben, Kecamatan Tiga Binanga, sering jadi arena bermain judi yang sudah sangat meresahkan warga. "Tetapi kita harus melakukan cek dan ricek terlebih dahulu. Apabila terbukti, maka dilakukan tindakan hukum terhadap bandar atau pemain judi," tegasnya. (zahendra) http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/02/09/80576/kapoldasu_pelanggaran_ disiplin_polisi_masih_tinggi/#.PDX6aFIlHtk =========== AJMI Surati Kapolri Copot Kapoltabes Banda Aceh Firman Hidayat | The Globe Journal Jum`at, 02 Desember 2011 00:00 WIB Banda Aceh — Direktur Aceh Judicial Monitoring Institute (AJMI), Agusta Mukthar mengaku sudah melayangkan surat ke Kapolda Aceh dengan tembusan Kapolri untuk mencopot Kapoltabes Banda Aceh jika dalam dua minggu tidak mampu mengusut tuntas aksi teror granat yang sudah dua kali terjadi di Banda Aceh. Kepada The Globe Journal, Jum‘at (02/12) Ia menjelaskan teror bom di Kota Banda Aceh telah membuat situasi politik di Aceh semakin memanas menjelang Pemilukada. Sudah selayaknya pihak kepolisian bekerja secara maksimal untuk menanggulangi setiap bentuk teror yang terjadi sehingga masyarakat tidak diresahkan dengan aksi-aksi teror yang dilakukan oleh kelompok yang tidak bertanggung jawab. Polisi harus mengusut tuntas kasus bom yang terjadi di Banda Aceh ini agar tidak menjadi sebuah pembiaran. ―Setidaknya bisa memberikan rasa aman bagi masyarakat dalam situasi politik menjelang Pemilukada di Aceh,‖ sebut Agusta. ―Polisi bertanggung jawab untuk memberi rasa aman kepada warga negara, jika dalam tempo 2 (dua) minggu polisi tidak mampu mengungkap kasus ini, maka sudah selayaknya Kapolda segera mencopot Kapoltabes Banda Aceh‖. sebut dia melalui surat bernomor : 41/AJMI/D/XII/2011 perihal; copot Kapoltabes Banda Aceh. Kapoltabes Banda Aceh sangat lamban dalam merespon terjadinya teror bom, sehingga terjadi jatuhnya korban dari masyarakat. Kalau hal ini terus dibiarkan tidak tertutup kemungkinan akan terulang lagi aksi teror dengan memanfaatkan kondisi politik yang sedang terjadi di aceh. Aceh Judicial Monitoring Institute — AJMI, mendukung sepenuhnya Polda Aceh untuk mengusut tuntas aksi teror bom yang terjadi di kota Banda Aceh. Demikian Direktur AJMI Aceh, Agusta Mukhtar. Sebelumnya suara pencopotan Kapolda Aceh juga mengalir dari Wakil Sekretaris DPD I Partai Golkar Aceh, Hendra Budian yang meminta Kapolda Aceh harus mengusut tuntas kasus bom yang terjadi di Aceh. ―Jika Kapolda Aceh tidak mampu mengusut aksi teror ini dalam waktu 1

minggu maka sudah selayaknya Kapolri selaku pimpinan tertinggi Kepolisian mencopot Kapolda Aceh,‖ tukas Hendra juga pernah aktif sebagai aktifis HAM Aceh. Usai Sholat Jum'at (02/12) di Masjid Polda Aceh, Kapolda Aceh, Iskandar Hasan kepada wartawan The Globe Journal mengatakan terus mengejar pelaku teror tersebut. "Kita tidak bisa menduga siapa pelakunya, kemungkinan ada aktor intelektual dibalik ini," kata Kapolda Aceh. Sebagaimana berita The Globe Journal yang mengutip pernyataan Kapolda Aceh bahwa ada aktor intelektual pelempar granat di Lampriet, maka Kapolda Aceh menghimbau agar masyarakat tidak terpancing dengan situasi seperti ini. "Serahkan sepenuhnya kepada pihak keamanan untuk melakukan investigasi masalah ini dan kepada masyarakat yang mengetahui indikasi kejadian ini untuk memberi informasi kepada polisi untuk menangkap pelakunya, kita akan lakukan upaya-upaya hukum," demikian Kapolda Aceh, Iskandar Hasan. [003]. http://theglobejournal.com/politik/ajmi-surati-kapolri-copot-kapoltabes-bandaaceh/index.php =========== Polisi Terkesan Tak Berdaya pada Kasus Bernuasa Politis di Aceh Muhajir Juli | The Globe Journal Jum`at, 02 Desember 2011 00:00 WIB Lhoukseumawe- Kejadian pengranatan di Lampriet yang telah menciderai 3 masyarakat sipil, merupakan bentuk-bentuk teror dengan pola lama yang kembali dimainkan di Aceh. untuk mencegah kejadian tersebut terulang di daerah lain di Aceh, aparat kepolisian harus mampu menangkap pelaku teror secepat mungkin. Pernyataan ini disampaikan oleh ketua Dewan Pimpinan wilayah Lhokseumawe Partai Rakyat Aceh Sofyan Panton kepada The Globe Journal melalui hubungan telepon, Jumat (2/12). Menurut aktifis partai politik itu, perilaku menebar teror merupakan pekerjaan yang sangat hina dan pelakunya pantas diberi label manusia yang tak bermoral. Untuk itu, pihaknya meminta kepada aparat kepolisian Polda Aceh agar mampu menangkap pelakunya secepat mungkin untuk memotong mata rantai aksi-aksi serupa yang kemungkinan besar akan dilakukan di tempat-tempat lain di Aceh. ―Penebaran teror ini merupakan perbuatan biadap. Apalagi telah menelan korban dari masyarakat sipil. Polisi dalam hal ini jajaran Polda Aceh bertanggung jawab untuk untuk menguaknya sampai tuntas,‖ Kata Sofyan. Dalam catatan PRA Lhokseumawe, selama ini Polisi Aceh selalu tidak mampu dan terkesan ―mempeti es-kan‖ setiap kasus kekerasan bermotif politik di Aceh. contohnya kasus penembakan Saiful Cage salah seorang mantan pembesar GAM di Bireuen. sampai saat ini belum jelas titik terangnya. Demikian pula dengan serentetan kasus lainnya. Ini merupakan citra negatif bagi pihak aparat keamanan. Untuk itu, kedepan Polisi harus mampu mengungkap setiap kasus kekerasan baik kriminal murni maupun yang bernuansa politik seperti yang terjadi di Lamprik dan di Seuramoe Irwandi. Bila polisi kembali gagal, maka ke depan, kawasan rawan lain seperti Bireuen, Pase dan Aceh Timur akan sangat terbuka sekali untuk terulangnya teror seperti di Lampriek.[003] http://theglobejournal.com/hukum/polisi-terkesan-tak-berdaya-pada-kasus-bernuasa-politisdi-aceh/index.php ========== Kapolda Aceh : Ada Aktor Intelektual Pelempar Granat di Lampriet Hayatullah | The Globe Journal Jum`at, 02 Desember 2011 00:00 WIB

Banda Aceh-Pihak Kepolisian Daerah (Polda) Aceh masih belum mendapatkan hasil dari identifikasi dua granat yang terjadi di Lamprit. Namun Polda Aceh terus mengejar sindikat pelaku peledakan yang terjadi di Seramoe Irwandi-Muhyan dan Wisma Lamprit Banda Aceh. Sementara itu menurut Kapolda Aceh, Irje Polisi Iskandar Hasan, di belakang aksi tersebut ada actor intelektual. ―Kita tidak bisa menduga siapa kelompok pelaku ini, saya pikir ada aktor intelektual di balik ini, yang memang ingin menciptakan situasi ini tidak kondusif,‖ ungkap Kapolda kepada The Globe Journal dan Serambi usai Shalat Jumat, di Masjid Polda Aceh, Jumat (2/12). Sampai sejauh ini pihaknya sedang menelusuri kasus itu, rencana sore ini Polda Aceh akan mengadakan rapat masalah itu. Menurut Kapolda Aceh, kejadian di Seramoe Irwandi dilakukan oleh orang sama. ―Nggak jauh-jauh (pelakunya-red), kita masih belum tahu siapa pelakunya ini, yang jelas mereka memanfaatkan situasi. artinya, ini pelakunya kerdil yang tidak memikirkan orang banyak, dia bukannya ikut mengademkan atau menentramkan situasi , malah membuat bergini,‖ujar Iskandar. Namun kata Kapolda lagi, dirinya belum bisa memastikan apakah kasus ini ada hubungannya dengan politik atau tidak. Yang pasti katanya kasus ini dilakukan oleh kelompok yang tidak senang terhadap perdamaian di Aceh. Lanjutnya, Kapolda juga sudah perintahkan seluruh jajaran untuk melakukan kegiatan peningkatan dalam menciptakan suasana kondusif seperti razia untuk mengeliminir kasus ini. Tapi Kapolda yakin masyarakat Aceh sudah jauh berfikir positif untuk menanggapi hal seperti ini, tentu harapan masyarakat tidak terpancing dengan situasi seperti ini. ‖serahkankan lah sepenuhnya kepada kami/keamnanan untuk menginvestigasi masalah ini, harapan kami juga kepada masyarakat yang mengetahui indikasi-indikasi kejadian ini untuk member informasi kepada polisi untuk menangkap pelakunya, kita akan lakukan upaya —upaya hukum,‖imbuhnya.[003] http://theglobejournal.com/hukum/kapolda-aceh--ada-aktor-intelektual-pelempar-granat-dilampriet/index.php ========= 10 Polisi Dipecat, PNS Polda Riau Nihil Pelanggaran Senin, 02 Januari 2012 13:48 rizal Pekanbaru (Tony : katakabar) - Polisi ternyata belum semuanya taat aturan. Tengok saja, pelanggaran yang terjadi di jajaran Polda Riau sepanjang 2011 justru semuanya dilakukan personil polisi. Menurut Kapolda Riau, Brigjen Suedi Husein, jumlah yang melakukan pelanggaran mencapai 172 personil, 10 diantaranya dijatuhi sanksi pemecatan dengan tidak hormat. "Pelanggaran terbanyak terjadi di Polresta Pekanbaru. Tiga polres lainnya juga dapat rekor karena anggotanya banyak yang mendapat sanksi," jelasnya. "Mungkin banyaknya pelanggaran dipicu jumlah personil di empat kesatuan itu yang lebih banyak dari polres lainnya," tambahnya. Suedi menegaskan, pemecatan 10 personil terpaksa dilakukan karena pelanggaran yang dilakukan termasuk kategori berat. Sanksi tegas itu diharapkan menjadi contoh agar personil lainnya tidak melakukan pelanggaran sejenis di masa yang mendatang. "Pemberian sanksi diharapkan bisa membenahi polisi agar bekerja lebih baik dan memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat," tukasnya. Jika banyak oknum polisi di jajaran Polda Riau masih harus belajar aturan, sebaliknya PNS rekan kerja mereka justru tak satu pun yang melakukan pelanggaran. Suedi sendiri mengaku bangga atas prestasi itu. "Patut diacungi jempol," ujarnya.

http://www.katakabar.com/kabar-hukum/100-2011-08-28-14-53-04/1967-10-polisi-dipecatpns-polda-riau-nihil-pelanggaran ========== Tragedi Sape Bima Polri Tetapkan Lima Oknum Polisi Lakukan Pelanggaran Penulis : Ghani Nurcahyadi Minggu, 01 Januari 2012 Kepolisan Republik Indnesia telah menetapkan lima orang anggotanya telah melakukan pelanggaran disiplin dalam penanganan aksi unjuk rasa warga di Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat. "Sementara yang terpenuhi sekarang tambah lagi 2, lima sekarang artinya ini bisa berkembang sekarang berkembang dua lagi," ujar Kepala Biro Pengaman Internal Divisi Profesi dan Pengamanan Polri Brigjen Pol Budi Wasesa, Sabtu kemarin(31/12). Sebelumnya pada kamis (29/12) Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspketur Jenderal Polisi Saud Usman Nasution mengatakan kepada wartawan, Polri telah ditetapkan 3 angota yang melakukan pelanggaran disiplin dalam penanganan unjuk rasa di Pelabuan Sape, Bima, NTB. Kelima polisi yang menjadi melakukan pelanggaran disiplin tersebut adalah F dari Brimob Polda NTB, kemudian A, MS, F, dan S dari Polresta Bima. Budi Wasesa menjelaskan kelima oknum polisi yang melakukan pelanggaran disiplin tersebut merupakan polisi yang berada di area pelabuhan, mereka dikenakan sanksi disiplin karena melakukan penganiayaan ringan terhadap warga dengan memopor, memukul, dan menendang warga. Terkait dengan ditemukannya dua warga tewas di luar area pelabuhan, Budi mengatakan prosesnya masih berjalan karena polisi masih mencari proyektil peluru yang digunakan untuk menembak kedua korban tersebut. "Senjata sudah saya sita dan nomor senjata sudah dicatat, sekarang tinggal cari proyektil, tim Puslabfor masih bekerja," imbuhnya. Budi mengatakan memang ada satu peleton pasukan Brimob yang disiagakan untuk menjaga pom bensin di dekat arela pelabuhan, karena berdasarkan data Intelijen pom bensin bisa saja dibakar massa, namun dirinya belum dapat menentukan karena belum ditemukan proyektil. Hasil otopsi korban juga akan digunakan sebagai alat bukti, selain itu juga akan diadakan rekonstruksi berdasarkan keterangan saksi yang saat ini sedang dikumpulkan. Budi menegaskan tidak ada peluru tajam yang digunakan dalam penanganan unjuk rasa di area Pelabuhan Sape, namun dirinya menjanjikan masih akan terus melakukan pemeriksaan internal terhadap kasus ini, dengan mengumpulkan keterangan saksi-saksi dari masyarakat. "Kita kan juga ambil saksi dari masyarakat, tidak hanya terfokus pada video, kita akan tanya saksi yang merasa jadi korban, nanti dia bisa cerita," tandasnya. Saat ini polisi dalam proses pemeriksaan internal telah memeriksa 115 orang yang terdiri dari 97 anggota polisi dan 18 saksi dari masyarakat. (*/X-12) http://www.mediaindonesia.com/read/2012/01/01/288408/290/101/Polri-Tetapkan-LimaOknum-Polisi-Lakukan-Pelanggaran========== Lakukan Pungli, Anggota Polisi Diperiksa Jumat, 15 Jun 2012 Dugaan adanya kasus suap tilang damai dengan uang yang dilakukan Oknum anggota Unit Sabhara Polsek Kenjeran, Surabaya terhadap seorang pelanggar lalu lintas di Jembatan Suramadu, kini telah diamankan tim paminal Mabes Polri dan Polda Jatim, pada 14 Juni 2012 (kemarin,red). Oknum anggota tersebut ialah Bripda Ricky Octavianto. Informasi tentang kejadian itu, bermula sekitar pukul 22.20 WIB, saat Yoseph Ajuwan, yang hendak melintas di

tengah jembatan Suramadu, dihentikan oleh Bripda Ricky. Yoseph (pelapor,red) dihentikan, karena sepeda motor L-2966-PY yang ditumpanginya bersama seorang perempuan itu, tidak ada spion. Pemuda 26 tahun itu ternyata juga tidak membawa SIM. Dari KTP nya, Yoseph tinggal di Dusun Walakean RT 32, Leudeka, Nabatukan, Lembata, NTT. Menurut yoseph, saat itu dia dimintai uang damai Rp 50 ribu. Dan, memberikannya. Nah, sesaat setelah uang diberikan, tim paminal dari Mabes Polri dan Polda Jatim, menyergap Bripda Ricky. Polisi itu lantas dibawa ke pos pantau di pintu Suramadu. Bersama dengan 6 petugas yang satu regu dengannya, termasuk perwira pengawasnya, dibawa dan diperiksa ke Propam Polda Jatim. Dari hasil pemeriksaan, dipastikan hanya Ricky yang bertanggungjawab atas dugaan pungli tersebut. Ketika diperiksa, di propam polda jatim, petugas itu membantah telah melakukan pungli. Namun, dari Yoseph, uang itu dibuang Bripda Ricky ke laut, saat petugas provost menyergap Ricky. Hingga kemarin, Ricky masih menjalani pemeriksaan. Secara terpisah, Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Tri Maryanto membenarkan hal tersebut. "Ada dugaan yang bersangkutan melakukan pelanggaran. Namun, sekarang masih diperiksa. Jika memang nanti terbukti, tentu akan ada sanksinya," tegas Tri, kepada Wartawan, Jum'at (15/6). Yoseph juga masih diperiksa terkait dengan pengakuannya tersebut. Kasus ini selanjutnya akan dilimpahkan ke Polrestabes Surabaya, untuk ditindaklanjuti. http://www.centroone.com/news/2012/06/2v/lakukan-pungli-anggota-polisi-diperiksa/ ========== Tuntut Hasil Penyelidikan, Bonek Demo Polisi Kamis, 14 Jun 2012 Puluhan Bonek, suporter fanatik Persebaya, menggelar demontrasi menuntut penghentian aksi kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian pada bonek, di depan Monumen Polisi di Jl. Polisi Istimewa Surabaya, Kamis (14/06). Andik Peci, koordinator aksi mengatakan, dalam aksi solidaritas ini, pihaknya juga menuntut pengusutan kematian Purwo Adi Utomo di Gelora 10 November dan kematian lima bonek di Lamongan beberapa waktu lalu. "Kita meminta kepolisian untuk mempercepat pengusutan kasus kematian bonek. Baik Purwo Adi Utomo dan 5 bonek di Lamongan yang 'katanya' sudah dilakukan penyelidikan. Mana hasilnya?!,"tutur Andik Peci mempertanyakan. Dalam aksi tersebut, beberapa bonek yang membawa simbol batu nisan bertulis nama-nama bonek yang tewas beberapa waktu lalu. Pembagian bunga mawar dan selebaran pada pengguna jalan juga oleh Bonita disela aksi teatrikal. Tak hanya itu, aksi bonek kali ini juga menyodorkan 4 tuntutan yang yang harus segera dituntaskan oleh kepolisian, diantaranya : 1. Mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Purwo Adi satu diantara bonek yang tewas yang usai pertandingan Persebaya melawan Persija di Gelora 10 November, Minggu (3/6/2012) lalu. 2. Mendesak Polda Jawa Timur agar segera mengusut kematian Purwo karena meskipun sering diadakan kegiatan di Gelora 10 November selama ini tidak pernah terjadi tragedi memilukan seperti itu. 3. Bonek akan melakukan upaya-upaya lain karena kasus ini akan dilaporkan ke Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) karena diindikasikan ada kesalahan prosedur dari aparat kepolisian yakni penembakan gas air mata kearah penonton pertandingan. 4. Bonek juga akan mendesak Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) di Jakarta agar melakukan kontrol terhadap persoalan ini.

"Aksi kita tak berhenti disini, kita akan sampaikan 4 tuntutan tadi ke Mapolda Jatim," pungkasnya. http://www.centroone.com/news/2012/06/2r/tuntut-hasil-penyelidikan-bonek-demo-polisi/ ========== Lakukan Pungli, Anggota Polisi Diperiksa Jumat, 15 Jun 2012 Dugaan adanya kasus suap tilang damai dengan uang yang dilakukan Oknum anggota Unit Sabhara Polsek Kenjeran, Surabaya terhadap seorang pelanggar lalu lintas di Jembatan Suramadu, kini telah diamankan tim paminal Mabes Polri dan Polda Jatim, pada 14 Juni 2012 (kemarin,red). Oknum anggota tersebut ialah Bripda Ricky Octavianto. Informasi tentang kejadian itu, bermula sekitar pukul 22.20 WIB, saat Yoseph Ajuwan, yang hendak melintas di tengah jembatan Suramadu, dihentikan oleh Bripda Ricky. Yoseph (pelapor,red) dihentikan, karena sepeda motor L-2966-PY yang ditumpanginya bersama seorang perempuan itu, tidak ada spion. Pemuda 26 tahun itu ternyata juga tidak membawa SIM. Dari KTP nya, Yoseph tinggal di Dusun Walakean RT 32, Leudeka, Nabatukan, Lembata, NTT. Menurut yoseph, saat itu dia dimintai uang damai Rp 50 ribu. Dan, memberikannya. Nah, sesaat setelah uang diberikan, tim paminal dari Mabes Polri dan Polda Jatim, menyergap Bripda Ricky. Polisi itu lantas dibawa ke pos pantau di pintu Suramadu. Bersama dengan 6 petugas yang satu regu dengannya, termasuk perwira pengawasnya, dibawa dan diperiksa ke Propam Polda Jatim. Dari hasil pemeriksaan, dipastikan hanya Ricky yang bertanggungjawab atas dugaan pungli tersebut. Ketika diperiksa, di propam polda jatim, petugas itu membantah telah melakukan pungli. Namun, dari Yoseph, uang itu dibuang Bripda Ricky ke laut, saat petugas provost menyergap Ricky. Hingga kemarin, Ricky masih menjalani pemeriksaan. Secara terpisah, Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Tri Maryanto membenarkan hal tersebut. "Ada dugaan yang bersangkutan melakukan pelanggaran. Namun, sekarang masih diperiksa. Jika memang nanti terbukti, tentu akan ada sanksinya," tegas Tri, kepada Wartawan, Jum'at (15/6). Yoseph juga masih diperiksa terkait dengan pengakuannya tersebut. Kasus ini selanjutnya akan dilimpahkan ke Polrestabes Surabaya, untuk ditindaklanjuti. http://www.centroone.com/news/2012/06/2v/lakukan-pungli-anggota-polisi-diperiksa/ =========== Terungkap Tiga Pelanggaran Polisi Dalam sidang disipliner terhadap tiga anggota Kepolisian Sektor Koja, Jakarta Utara, terungkap adanya tiga bentuk pelanggaran yang mereka lakukan ketika melakukan penangkapan yang berujung penembakan terhadap Muhammad Rifki. Pelanggaran pertama yakni nama Brigadir Satu Riswanto Hari yang kini menjadi terdakwa kasus ini ternyata tidak tercantum dalam surat perintah untuk menangkap Muhammad Rifki. Pelanggaran kedua terungkap setelah Riswanto mengakui penembakan ke betis korban yang dia lakukan tidak terlebih dulu melalui tahapan tembakan peringatan. Pelanggaran ketiga yakni tentang keberadaan proyektil peluru. Dalam persidangan terungkap timah panas tetap dibiarkan bersarang cukup lama di betis kanan Rifki, yakni selama tiga bulan. Kasus penembakan terhadap remaja putus sekolah ini terjadi tiga bulan lalu di kawasan Sunter Podomoro, Jakarta Utara. Latar belakangnya ialah karena dia terlibat perkelahian di Jalan Yos Sudarso, Jakarta utara. http://megapolitan.infogue.com/terungkap_tiga_pelanggaran_polisi =======

Usut tuntas pelanggaran Polisi di kasus Bima Ketua DPP PPP itu juga meminta aparat kepolisian yang melanggar SOP dalam kerusuhan Sape, Bima beberapa waktu lalu untuk segera diusut. "Terlebih, hasil pemeriksaan internal kepolisian menunjukkan bahwa korban diduga ditembak dalam jarak dekat," kata dia. Reporter : Zulkifli SKB (skb@gresnews.com) Editor : Oki Baren (oki@gresnews.com) Sekretaris Fraksi PPP, Arwani Thomafi mendesak pengusutan dugaan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dalam penanganan aksi demonstrasi di Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat yang menewaskan dua orang demonstran. Pasalnya, luka yang tembus di tubuh korban tewas mengindikasikan bahwa jarak antara penembak dengan korbannya tak terlalu jauh. "Ini harus ditelusuri kenapa bisa seperti itu. Kita minta aparat kepolisian yang terbukti melanggar diberikan sanksi tegas," kata Arwani kepada gresnews.com, Jakarta, Rabu (28/12). Ketua DPP PPP itu juga meminta aparat kepolisian yang melanggar SOP dalam kerusuhan Sape, Bima beberapa waktu lalu untuk segera diusut. "Terlebih, hasil pemeriksaan internal kepolisian menunjukkan bahwa korban diduga ditembak dalam jarak dekat," kata dia. Tak hanya itu, Arwani juga menyayangkan sikap Bupati Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Ferry Zulkarnain yang tidak mau mencabut izin perusahaan pertambangan, PT Sumber Mineral Nusantara (SMN) yang melakukan penambangan di Sape, Bima, NTB. "Saya menyayangkan sikap Bupati Bima yang menyatakan bahwa izin operasional PT SMN tidak bisa dicabut," kata Arwani. Anggota Komisi V DPR RI itu juga menyebutkan, izin PT SMN harus dievaluasi karena lebih merugikan rakyat setempat. "Bupati itu dipilih oleh rakyat. Jika sebuah peraturan justru merugikan publik, peraturan itu bisa dicabut. Bupati tidak perlu ragu untuk mengevaluasi izin kepada PT SMN," ujar Arwani. http://www.gresnews.com/berita/hukum/022912-usut-tuntas-pelanggaran-polisi-di-kasusbima#.PDX-c1IlHtk ======== Bima membara Inilah 8 Pelanggaran HAM Polisi di Bima Kamis, 5 Januari 2012 Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) bersama komunitas budaya di Bima melakukan investigasi di lapangan pada 27 Desember 2011. Kontras berpendapat telah terjadi pelanggaran HAM berat di Bima. Hasil investigasi ini kemudian dilaporkan Kontras ke Komisi III DPR. Aktivis Kontras yang diwakili oleh Koordinator Badan Pekerja Kontras Hars Azhar, diterima oleh Wakil Ketua Komisi III DPR Nasir Jamil di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (5/1/2012). Dari kronologi yang diperoleh, Kontras menduga adanya pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Berikut paparan Kontras terkait temuan pelanggaran HAM di Bima: 1. Bahwa peristiwa itu terjadi karena ada pengkhianatan Kapolda dan Kapolresta Bima terhadap warga. Sebab, ada negosiasi pencabutan SK sampai kemudian ada pertemuan yang Kapolda menawarkan tim advokasi terdiri dari anggota DPD RI dari Bima, Wakil Ketua DPRD Bima, dan Kapolda. Tetapi ketika ditawarkan tidak diikuti otentisifikasinya. Pagi hari ada mobilisasi pasukan polisi. 2. Kontras menemukan, tidak ada tindakan warga mencoba membahayakan polisi. Warga

justru membukakan pintu polisi, dan membukakan pintu pelabuhan. 3. Pasukan masuk pelabuhan dengan melakukan penembakan sporadis. Banyak saksi melihat, tindakan kepolisian dipimpin Kapolresta. Bahkan ada yang melihat Wakapolda berpakaian bebas. Kontras melihat hal ini sebagai sebuah tindakan yang terencana atau sistematis. 4. Ada mobilisasi intel tidak dengan fungsi intelijen, tapi melakukan penyerangan. 5. Penembakan dilakukan dari jarak dekat sekitar 10-15 meter. Saat itu tidak ada aba-aba dari korlap untuk melawan. Tembakan itu sebagian besar tembus. 6. Banyak perampasan harta dan perusakan barang. Sepeda motor banyak yang rusak, handphone, dan lain-lain banyak yang hilang. 7. Ada sniper yang mengawasi warga. Warga juga mendapat seruan untuk tidak berada di rumah karena akan ada serangan. Jadi serangan itu tersistematis. 8. Pasca peristiwa masih ada penembakan. Pasca peristiwa suasana masih mencekam, sehingga warga tak berani keluar rumah. Banyak korban tembak yang tidak tertangkap, berobat ke puskesmas. "Kesimpulannya patut diduga telah terjadi pelanggaran HAM berat di Bima. Saya yakin ini sistematis, ada pimpinannya, ada komandonya, ada pengerahan pasukan, ada mobilisasi ambulan," papar Haris. "Ada seorang ibu-ibu yang melihat ada 15 ambulans. Sampai malam hari ada Kapolda yang mengikuti itu semua. Saya tidak yakin Kapolresta dapat memobilisir sabara, intel, ambulans, untuk memimpin operasi itu karena pasukan yang hadir sampai 500-700," tambahnya. Selain terhadap warga, aparat kepolisian juga melakukan intimidasi terhadap jurnalis setempat. "Ada intimidasi dan ancaman penghilangan orang kepada jurnalis dari polisi lokal. Banyak anak-anak jadi korban penyiksaan setelah kejadian di Bima," kata Haris. (wbs) http://www.sindonews.com/read/2012/01/05/436/552180/inilah-8-pelanggaran-ham-polisidi-bima ========== Kasus Pelanggaran Disiplin Polisi Naik 947% di Sulselbar Kasus pelanggaran disiplin di jajaran Kepolisian Daerah (Polda ) Sulselbar di tahun 2008 meningkat drastis dari tahun sebelumnya. Jumlah kasus di tahun 2008 tercatat 663,naik 947% dari 2007 yang hanya berjumlah 70 kasus. Makassar, Kabar News-Pelanggaran disiplin ini meliputi kasus penyalahgunaan wewenang, meninggalkan tugas tanpa izin, hingga terlibat kasus narkoba, penganiayaan, dan perzinahan,‖ ujar Kapolda Sulselbar Irjen Polisi Sisno Adiwinoto saat memaparkan indev kriminal akhir tahun di Hotel Clarion kemarin. Kasus pelanggaran disiplin oknum polisi ini melibatkan perwira menengah (Pamen), perwira pertama (Pama), hingga Bintara Polri. Sisno menyebutkan, dalam tahun 2007 melibatkan lima oknum Pamen,10 oknum Pama, 54 oknum Bintara, serta satu orang PNS. Adapun pada tahun 2008 pelanggaran disiplin melibatkan 18 oknum Pamen, 90 oknum Pama, 548 oknum Bintara,serta tujuh oknum PNS.Sisno menyebutkan, dua oknum Pamen diantaranya terlibat kasus penipuan penggelapan, dua Pama yang terlibat kasus perzinahan dan penggelapan, sedangkan 42 oknum Bintara terbelit sejumlah kasus diantaranya penganiayaan, penggelapan, pencurian, perjudian hingga narkoba.‖Pada tahun 2008 ini sudah ada 46 oknum polisi yang menjalani sidang pelanggaran disiplin dan kode etik untuk diberikan sanksi.Dari 46 tersebut, 15 oknum dipecat secara tidak terhormat karena melakukan pelanggaran berat,‖ tukas mantan Kepala Divisi (Kadiv) Humas Mabes Polri ini saat memberikan keterangan pers kepada wartawan. Penindakan disiplin Polri terhadap anggota di bawahnya ini, kata Sisno, sebagai langkah monitoring polisi dalam

membenahi SDM Polda Sulselbar secara internal,seperti dikutif Sindo. Hal ini juga dalam upaya langkah penegakan hukum sesuai dengan komitmen Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri saat dilantik menjadi Kapolri. ‖Semakin aktif kita melakukan penertiban, semakin banyak pelanggaran oknum anggota yang terungkap,‖ kata Perwira Tinggi (Pati) Polri berkumis tebal ini. Selain pelanggaran disiplin oknum anggotanya, Kapolda juga mengumumkan jenis tindak pidana tertentu atau menonjol selama tahun ini.Untuk kasus pembunuhan di tahun 2008 ini menurun 2,75% dibanding tahun sebelumnya. Tahun 2008 jumlahnya 106 kasus, sedangkan tahun2007terdapat109kasus. Kasus penganiayaan berat pada tahun 2008 terdapat 534 kasus, ini menurun sekitar 44,95% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 970 kasus. Sedangkan kasus pencurian kekerasan (curas) meningkat 6,31% dimana pada 2007 hanya terdapat 428 kasus, sedangkan selama 2008 mencapai 455 kasus. Dalam kesempatan itu, Sisno yang didampingi Kabid Humas Kombes Polisi Hery Subiansauri ini, juga mengumumkan lima besar Polres yang menempati rangking lima besar dalam tingkat gangguan kamtibmas sepanjang 2008. Rangking pertama ditempati Polresta Makassar Timur dengan menangani sebanyak 2.206 kasus, disusul Polresta Makassar Barat yang menangani 1.310 laporan kasus. Diurutan ketiga ditempati Polresta Gowa yang menangani 1.310 laporan kasus, disusul Polresta Maros yang menangani 811 kasus, dan yang terakhir Polres Wajo yang menangani 785 kasus kamtibmas. ‖Tahun 2008 ini gangguan kamtibmas di Sulselbar, khususnya Kota Makassar,relatif kondusif dengan adanya tren penurunan angka. Untuk bisa menanggulangi terjadinya peningkatan, media sangat berperan karena citra daerah ini lebih parah dari pada keadaannya yang relatif aman-aman saja,paparnya. Di tempat terpisah, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar menggelar konferensi pers di kantornya di Jalan Serigala. LBH menilai kinerja kepolisian selama tahun 2008 ini sangat buruk.(Agussalim/Andi Ahmad) http://www.liputan-kota.com/2008/12/kasus-pelanggaran-disiplin-polisi-naik.html ============ 166 Polisi Gorontalo Lakukan Pelanggaran Jumat, 25 Desember 2009 Sebanyak 166 anggota Kepolisian Daerah (Polda) wilayah Gorontalo telah melakukan berbagai tindak pelanggaran di tahun 2009, kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Gorontalo, Ajun Komisaris Besar Polisi Wilson Damanik, Jumat. "Pelanggaran ini, merupakan akumulasi data yang terjadi sejak Januari hingga Desember 2009," kata dia. Hingga saat ini, menurut dia, pihaknya telah menyidangkan 98 kasus diantaranya, sedang empat kasus lainnya dimasukkan dalam sidang profesi. "Yang masih dalam proses penyidikan ada tiga kasus," katnya. Dia mengemukakan, terdapat juga 13 kasus yang akhirnya ditutup perkaranya karena tidak cukup bukti. Pihaknya juga mengembalikan sejumlah kasus pelanggaran itu ke kepolisian resort (polres) tempat para anggota polisi itu bertugas. Meski demikian, Damanik mengatakan, tidak ada satu pun dari anggota polisi yang melanggar itu telah dipecat dari korps kepolisian. "Semuanya masih bisa kembali bertugas seperti sedia kala, usai menjalani hukuman atau sanksi," ujarnya menambahkan. (*) Editor: Priyambodo RH http://www.antaranews.com/berita/1261754643/166-polisi-gorontalo-lakukan-pelanggaran ============

Tahun 2011 Tercatat 1.204 Polisi Terlibat Pelanggaran, 64 Dipecat Hasil Analisis dan Evaluasi (Anev) Polda Jatim, mencatat jumlah polisi yang melakukan pelanggaran disiplin terjadi peningkatan. Tahun 2011, polisi yang melanggar mencapai 1.204 personel. Jumlah ini mengalami peningkatan 314 dibanding tahun 2010 yang hanya 890. Dan pada kurun waktu 2010-2011, Polda Jatim tercatat telah memecat 64 anggotanya yang terbukti telah melakukan pelanggaran. Sedangkan 8 personel polisi yang lainnya diberhentikan dengan hormat. Selain pelanggaran disiplin, lanjutnya, ada juga anggota polisi yang melanggar kode etik dan pidana. Jumlah anggota polisi yang melanggar kode etik adalah 52 orang, sedangkan yang melakukan pelanggaran pidana ada 39 orang. Kabid Humas Kombes Pol Rachmat Mulyana juga mengatakan, dalam dua tahun terakhir, Polda Jatim telah memberikan sanksi serta hukuman pada tiga jenis pelanggaran ini. Diantaranya, teguran tertulis 910 orang, penindakan pendidikan 432 orang, penundaan kenaikan gaji 27 orang, penundaan kenaikan pangkat 398 orang, mutasi 263 orang dan penempatan pada tempat khusus 829 orang. "Selain itu ada juga anggota polisi yang dibebaskan karena tak cukup bukti, yaitu sebanyak 120 orang," katanya, Jumat (30/12/2011). Selain itu, 12 personel kepolisian juga diminta melakukan permintaan maaf pada korps kepolisian karena pelanggaran yang dilakukannya itu. "Jumlah ini dalam dua tahun. Sebab ada polisi yang melakukan pelanggaran pada 2010 lalu di PDTH (Pemberhentian dengan tidak Hormat) pada 2011," tuturnya. Selain itu, para pelanggar ini juga diganjar dengan hukuman seperti tour of area dan tour of duty. Tingginya jumlah pelanggar ini, merupakan bukti bahwa kepolisian tak pandang bulu dalam menindak personelnya. Menurut Rachmat, setiap anggota yang melakukan kesalahan atau melanggar peraturan di kepolisian pasti dihukum sesuai tingkat kesalahan mereka. http://m.detik.com/read/2011/12/30/075319/1802820/466/tahun-2011-tercatat-1204-polisiterlibat-pelanggaran-64-dipecat =========== Oknum Polisi Tertangkap Nyabu Bersama Seorang oknum polisi kembali tertangkap menyalahgunakan narkoba. Polisi berpangkat Briptu tertangkap sedang nyabu bareng bersama seorang purel di sebuah rumah kos Jalan Wonoboyo I. Bintara tersebut bernama Ambin (26), warga Jalan Tanjung Harapan 5 Perumahan Gresik Kota Baru (GKB). Ambin sendiri masih aktif berdinas di Polres Gresik. Sedangkan purel yang tertangkap adalah Nursinta yang biasa bekerja di sebuah tempat hiburan malam di kawasan Kedungdoro. "Satu tersangka yang tertangkap adalah anggota tetapi kami masih mengembangkan kasus ini," kata AKBP Iskandar, Rabu (14/12/2011). Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya itu mengatakan akan memeriksa kedua tersangka secara intensif termasuk dari mana barang haram tersebut didapat. "Akan kami proses lebih lanjut karena perbuatan tersangka sudah mencoreng institusi," tambah Iskandar. Dari kedua tersangka petugas mengamankan 0,75 gram sabu-sabu berserta sebuah bong (alat hisap).

http://m.detik.com/read/2011/12/14/193925/1791579/466/oknum-polisi-tertangkap-nyabubersama-purel ============

Tes Urine, 14 Anggota Positif Konsumsi Narkoba Anggota Polrestabes Surabaya dan jajaran dikabarkan harus menjalani tes urine untuk membuktikan apakah mereka mengkonsumsi narkoba atau tidak. Tes urine dilakukan pasca ditangkapnya 3 anggota Polsek Genteng setelah kedapatan nyabu di Jalan Sidotopo beberapa minggu lalu. Dari informasi yang dihimpun, Kamis (8/12/2011), tes urine dilakukan secara bertahap. Gelombang pertama dilakukan pada Jumat lalu dan gelombang kedua pada Senin lalu. Pada gelombang pertama ada 4 urine anggota yang dinyatakan positif dan ada 10 urine anggota yang positif pada gelombang kedua. "Ada 14 urine yang positif, gelombang pertama 4 dan gelombang kedua 10," kata sumber detiksurabaya.com di kepolisian. Namun anggota bintara tersebut tidak tahu dari kesatuan mana anggota yang urinenya positif tersebut. Yang pasti hasil tes urine dia negatif. Rencananya ribuan anggota Polrestabes Surabaya dan jajaran akan menjalani tes urine. Namun adanya tes urine tersebut dibantah oleh Polrestabes Surabaya, Kombespol Coki Manurung. Coki mengatakan bahwa hanya 3 anggota Polsek Genteng yang ditangkap saja yang sudah menjalani tes urine. "3 Anggota itu sudah dites dan hasilnya positif. Kalau tes urine semua personel, nggak ada tuh," ujar Coki. http://m.detik.com/read/2011/12/08/130014/1786058/466/tes-urine-14-anggota-positifkonsumsi-narkoba ========== Pemecatan Polisi Meningkat Pada 2009 Jum'at, 11 Desember 2009 Wakil Kepala Divisi (Wakadiv) Humas Mabes Polri, Brigjen Pol. Sulistyo Ishak mengatakan pemecatan anggota polisi mengalami peningkatan pada tahun 2009 yaitu tercatat sekitar 270 orang dibanding tahun sebelumnya sebanyak 252 orang. 'Peningkatan jumlah pemecatan itu menunjukan Polri tegas menindak anggota yang melakukan pelanggaran,' kata Sulistyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (11/12). Sulistyo menuturkan data anggota yang mengalami Pemecatan Tidak Dengan Hormat (PTDH) pada tahun 2009 itu hanya sampai Oktober sehingga masih terjadi penambahan karena masih ada dua bulan lagi sampai akhir 2009. Sulistyo menyebutkan data pelanggaran baik disiplin maupun tindak pidana dari anggota Polri dan penyelesaian kasusnya sejak tahun 2004 hingga 2009 mengalami fluktuasi. Data pelanggaran jenis disiplin pada tahun 2004 mencapai 3.835 kasus dan tindak pidana sekitar 1.072 kasus, sedangkan penyelesaian pelanggaran disiplin mencapai 1.592 dari 2.243 kasus dan pidana sekitar 186 dari 886 kasus, serta jumlah pemecatan sebanyak 131 orang. Tahun 2005 jenis pelanggaran disiplin mencapai 2.830 kasus dan tindak pidana sebanyak 697 kasus, penyelesaian pelanggaran disiplin 688 perkara dan sisanya 2.142 kasus dan penyelesaian kasus pidana 286 perkara dan sisanya 411 kasus, serta jumlah pemecatan sebanyak 254 orang. Tahun 2006 jenis pelanggaran disiplin mencapai 2.961 kasus dan tindak pidana sebanyak 961 kasus, penyelesaian pelanggaran disiplin 1.280 sisanya 1.681 kasus dan pidananya 412 sisanya 549 kasus dengan jumlah pemecatan 150 orang. Tahun 2007 menunjukan jenis pelanggaran disiplin (5.703 kasus) dan pidana (357 kasus),

penyelesaian pelanggaran disiplin 1.475 kasus, sisanya 4.228 kasus) dan pidana 56 kasus dan sisanya 301 kasus, sementara jumlah pemecatan 160 orang. Tahun 2008 menunjukan jenis pelanggaran disiplin (7.035 kasus) dan pidana (1.164 kasus), penyelesaian pelanggaran disiplin 2.518 perkara dan sisanya 4.517 kasus, kemudian penyelesian pidana 272 kasus dan sisanya 892 kasus, sementara dengan jumlah pemecatan 252 orang. Pada tahun 2009 terdapat 5.464 kasus pelanggaran disiplin dan 1.082 pelanggaran pidana dengan penyelesaian disiplin 1.585 kasus dan sisanya 3.872 kasus dan penyelesaian pelanggaran pidana 108 kasus dan sisanya 974 kasus, sementara jumlah pemecatan 270 orang. Sulistyo menyatakan pihaknya tidak menutupi perilaku anggota Polri yang melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) baik secara pelanggaran internal maupun pelanggaran pidana. 'Dalam kurun waktu itu, polisi ingin meningkatkan kinerjanya agar lebih baik,' ujarnya. Wakadiv Humas Polri menyatakan upaya pemahaman Polri tentang HAM melalui penjabaran instrumennya, seperti pendidikan Polri pada pendidikan Sekolah Calon Bintara (Secaba), Sekolah Calon Perwira (Secapa) dan Sekolah Perwira Tinggi (Sespati). Sedangkan masalah pengawasan internal terdapat Inspektorat Pengawasan Umum(Itwasum) dan pengawasan eksternal (Komnas HAM, Komnas Anak dan Komnas Perempuan).(Cha/At) http://www.berita8.com/read/2009/12/11/2/17172/Pemecatan-Polisi-Meningkat-Pada-2009 ======== Tersandung KDRT, Anggota Provost Polsek Semampir Dipecat Imam Wahyudiyanta : detikSurabaya detikcom - Surabaya, Seorang polisi yang berdinas di provost Polsek Semampir dipecat tidak dengan hormat dari kesatuannya. Aiptu Joko Suprapto, nama polisi tersebut, diPTDH (Pemberhentian Tidak Dengan Hormat) setelah tersandung kasus KDRT. Namun bintara tersebut tak menghadiri upacara PTDH. "Meski tak dihadiri yang bersangkutan, secara administrasi dan ketentuan hukum yang ada, proses PTDH sudah dianggap syah dan mengikat," kata AKBP Jayadi kepada wartawan, Rabu (30/11/2011). Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak itu mengatakan bahwa Joko dipecat berdasarkan Surat Keputusan (SK) Kapolda Jatim: KEP/965/XI/2011/tanggal 21 November 2011, terhitung mulai 30 Nopember 2011. "Ini bukan suatu prestasi yang dibanggakan. Tetapi ini dilakukan untuk terlaksananya mekanisme reward and punishment," tambah Jayadi. Selain Joko, ada 3 bintara lain yang sudah menjalani sidang Komisi Kode Etik Profesi (KKEP) dan tinggal menunggu SK PTDH. Mereka adalah Briptu M Prasetyo, Bripka Indra Setyabudi (provost Polsek Semmapir) dan Bripka Dadi Priludiharsa (satuan tahanan dan barang bukti Polres Pelabuhan Tanjung Perak). "Mereka tersandung kasus desersi sejak proses bergabungnya Polsek Pabean cantikan dan Polsek Semampir ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak," kata AKP Lily Djafar, humas Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Tak hanya itu, Polres Pelabuhan juga sedang mempersiapkan sidang bagi dua polisi nakal lagi yakniBripka Ananto Yuli (Sabhara Polsek Pabean Cantikan) dan Aiptu Suharyanto (Intelkam Polsek Semampir). "Untuk Bripka Ananto masih menunggu keputusan banding dari PT karena PN telah memvonisnya 1 tahun 1 bulan terkait narkoba. Sedangkan Aiptu Suharyanto masih menunggu PK," tandas Lily.

===================== Bocah 9 Tahun Jadi Korban Peluru Nyasar Muhammad Nur Abdurrahman - detikNews Makassar - Muhammad Rian, bocah berusia 9 tahun menjadi korban peluru nyasar saat tengah terlelap di rumahnya, Jl Abdul Muthalib Dg Narang, Kec Tombolo, Kab Gowa, Sulawesi Selatan, sekitar pukul 01.45 Wita, Jumat dini hari tadi (15/6/2012). Bocah kelas 3 SD ini tertembak di bagian paha kirinya dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit Stella Maris, Makassar, untuk menjalani operasi pembedahan guna mengangkat proyektil. Kini Rian terbaring lemah di ruang perawatan Theresia, kamar 709, usai menjalani operasi oleh tim dokter RS Stella Maris. Anita, ibu korban yang ditemui wartawan di RS Stella Maris menuturkan, sebelum mendapati anak sulungnya kesakitan, ia lebih dulu mendengar suara letusan dari bagian luar rumahnya. Ia meminta pihak kepolisian segera mengungkap siapa pelaku penembakan putranya tersebut. "Kasihan Rian anakku, karena peristiwa ini mungkin saja ia tidak bisa ikut ujian naik kelas yang rencananya hari Senin nanti, kami mau polisi segera menangkap pelakunya," tutur Anita. Sementara itu, aparat Polres Gowa masih menyelidiki asal-muasal peluru nyasar tersebut. Hingga kini pihak Polres Gowa masih enggan memberi komentar terkait kasus yang menimpa bocah malang ini. ========== Ketua DPR: Pembenahan Institusi Polri Perlu Waktu Rabu, 25 November 2009, 15:34 WIB Ketua DPR RI Marzuki Alie mengatakan, Polri masih memerlukan koreksi dan waktu yang panjang untuk pembenahan institusi tersebut agar dapat memulihkan citranya. 'Saya kira masih perlu waktu yang panjang dan koreksi guna membenahi institusi Polri,' katanya usai menghadiri pemberian Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada situs www.ramadhanpohan.com, di Gedung DPR Jakarta, Rabu (25/11). Menurut dia, yang diminta Presiden Yudhoyono adalah melakukan pembenahan dan sekaligus reformasi internal di tubuh Polri. Oleh karena itu, katanya, hal tersebut harus direspons sebagai upaya dan niat baik memperbaiki citra Polri di mata publik. 'Lho, yang diminta Presiden itu kan pembenahan internal Polri, saya kira itu jelas maksudnya untuk memulihkan citra Polri,' tambahnya. Ia menambahkan, langkah Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri yang mencopot Komjen Pol Susno Duaji dari jabatannya sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri tentu sudah jelas, karena hal itu adalah arahan Presiden secara langsung. 'Lho, sinyal dari Presiden kan sudah jelas. Koreksi Presiden Yudhoyono itu perlu ditindaklanjuti oleh Kapolri,' ujarnya. Yang jelas, katanya, pihaknya mendukung langkah Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri membenahi internal Polri. 'Sepanjang itu positif dan baik, ya tentu bagus untuk perbaikan institusi,' tandasnya. Sekjen DPP Partai Demokrat itu menambahkan, pencopotan Susno itu pertanda Polri serius dan ingin menegakkan hukum sehingga masyarakat juga diharapkan memberikan respons positif. 'Kita ingin menegakkan hukum, tapi jangan melanggar hukum. Jadi wajar saja itu dilakukan (pencopotan),' tegasnya. Menyinggung dugaan keterlibatan Susno dalam skandal Bank Century, Marzuki mengatakan,

siapapun yang terlibat harus diproses secara hukum. 'Saya kira jelas kalau terlibat akan diproses secara hukum,' ucapnya. Yang jelas, lanjut pria asal Sumsel itu, Fraksi Partai Demokrat sendiri setelah mempelajari hasil audit BPK dan meminta agar kasus skandal Bank Century diungkap secara tuntas agar tak menimbulkan isu-isu negatif. 'Setelah kami dapat audit BPK, memang ada yang harus ditindaklanjuti. Jangan ada penzaliman, atau isu-isu yang sumir,' katanya. Marzuki berhartap, penuntasan skandal Bank Century bisa membongkar tabir yang selama ini menutupinya. 'Jangan sampai berkembang ke mana-mana dan menjadi fitnah kepada mereka yang tidak bersalah. DPR komitmen untuk membongkar perkara tersebut menjadi `terang`,' ujarnya.(Cie/An/Bm) ========== Citra Polisi Diuji Publik Sabtu, 14 November 2009 Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri mengatakan, citra Polri sebagai aparat penegak hukum sedang diuji oleh publik. Ia mengatakan hal itu saat menyampaikan amanat pada Hari Ulang Tahun (HUT) Korps Brimob ke-64 di Markas Brimob Polri, Kelapa Dua, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (14/11). 'Citra dan harga diri diuji oleh opini publik yang menyangsikan profesionalisme Polri dalam menjalankan tugasnya khususnya dalam penegakkan hukum,' katanya. Bambang Hendarso Danuri mengatakan, opini publik telah 'mengubur' sejumlah keberhasilan yang telah diraih Polri selama ini. 'Selama 64 tahun, dinamika Polri yang menorehkan banyak prestasi seolah tertutup dengan fenomena penegakan hukum yang dilaksanakan Polri,' ujarnya. Untuk itu, Kapolri berharap agar semua anggota Polri tetap tegas, setia dan bangga sebagai anggota Bhayangkara yang profesional. Kapolri meminta agar semua prajurit Polri tetap menjaga semangat dalam menjalankan tugas dengan penuh keikhlasan. 'Semua ini adalah ujian dalam membangun Polri yang bisa dipercaya. Tantangan ini harus dihadapi,' katanya. Polri, katanya, akan tetap tegar dan harus tegar serta tangguh dengan profesionalisme dalam menyikapi fenomena dalam masyarakat.(Cie/Bim/An/Fz) ========= Polisi Kasus Salah Tangkap Jalani Sidang Disiplin Selasa, 08 Desember 2009 Sebanyak tiga anggota Polsek Metro Beji, Kota Depok, Jawa Barat, yakni Briptu AT, Briptu MA dan Brigadir Sa akan menjalani sidang disiplin di Polres Metro Depok, Rabu (9/12), sekitar pukul 10.00 WIB. 'Ketiganya akan menjalani sidang pelanggaran disiplin terkait dengan kasus dugaan salah tangkap dan penganiayaan,' kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Boy Rafli Amar di Jakarta Selatan, Selasa. Boy menuturkan, sidang pelanggaran disiplin itu akan menentukan apakah yang bersangkutan akan menjalani sidang kode etik atau tidak sebagai bentuk penanganan kasus lanjutannya. Kabid Humas mengatakan, selain menjalani sidang pelanggaran disiplin, ketiga anggota polisi

sektor itu akan mengikuti proses persidangan terhadap perkara tindak pidananya. 'Kedua sidang itu digelar secara terpisah,' ujar Boy. Boy mengungkapkan, ketiga aparat penegak hukum itu sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun masih aktif sebagai anggota polisi. Terkait kemungkinan adanya bentuk sanksi pemecatan, Boy menyatakan hal tersebut bisa dilakukan, namun harus sesuai prosedur melalui keputusan sidang kode etik anggota Polri. Boy menjelaskan, hasil sidang pelanggaran disiplin bisa mengeluarkan rekomendasi agar kasus ketiganya dilanjutkan melalui sidang kode etik Polri yang memungkinkan terjadi pemecatan. 'Tentunya rekomendasi itu harus disampaikan kepada Kapolda terkait sanksi pemberhentian secara tidak hormat,' ujarnya. Di tempat terpisah, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri, Irjen Oergroseno menyatakan seharusnya polisi yang terlibat salah tangkap dan penganiayaan diberikan sanksi pemecatan. 'Ya sudah dipecat saja,' kata Oergroseno.(AZ/Zh/At) ========= Lembaga Kebudayaan Betawi, Kecam Polisi Soal Salah Tangkap Terhadap Rizal Selasa, 08 Desember 2009 Ketua umum Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), H Tatang Hidayat mengecam keras aparat Kepolisian yang memukul dan salah tangkap terhadap JJ Rizal. 'Kita kecam keras aparat karena salah tangkap, apalagi yang bersangkutan adalah peneliti yang peduli pada masalah kebudayaan tradisional Betawi,' katanya, Senin (7/12). Karena itu, kata Tatang lagi, pihaknya merasa prihatin atas kejadian tersebut. 'Ya, tentu saja, kita prihatin atas kejadian tersebut, kok bisa salah tangkap dan main pukul lagi,' katanya. Menurut Tatang, pihaknya selama ini selalu mendukung aparat Kepolisian dalam penegakan hukum. Namun, dalam kejadian tersebut, polisi ternyata tidak bertindak profesional dalam penegakan hukum. 'Selama ini kita dukung polisi, tetapi kok ternyata tidak profesional dalam penegakan hukum. Jadi malah masyarakat bertanya-tanya,' tambahnya. Yang jelas, kata Tatang, ini makin memperlihatkan dan sekaligus menunjukkan bahwa polisi kurang profesional dalam bekerja di lapangan. 'Jelas sudah, salah tangkap menunjukkan kelemahan dan kelalaian dalam melaksanakan prosedur penegakan di lapangan,' katanya. Tatang mengatakan LKB mendesak Kapolda Metro Jaya untuk mengusut dan menindak tegas polisi yang terlibat dalam insiden tersebut. 'Kita minta Kapolda Metro menindak tegas oknum polisi yang melakukan kesalahan di lapangan, karena tak sesuai dengan prosedur dan tak profesional,' katanya.(Juh/At) ========= YLBHI Minta Kapolri Tindak Polisi Yang Lakukan Salah Tangkap Selasa, 08 Desember 2009 Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) meminta Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri memproses hukum dan menindak anak buahnya yang melanggar hukum dan bertindak sewenang-wenang. Permintaan tersebut disampaikan melalui surat terbuka yang ditandatangani Ketua Badan Pengurus YLBHI A Patra M Zen dan Direktur Advokasi Nur Hariandi di Jakarta, Senin (7/12) 'Kami meminta kepada Bapak Kapolri untuk segera memerintahkan bawahannya untuk mengambil tindakan dan proses hukum terhadap aparat kepolisian yang melanggar hukum

dan melakukan kesewenang-wenangan,' tulis Patra dalam suratnya itu. Dalam surat terbuka itu, YLBHI memaparkan dua kasus kekerasan yang dilakukan polisi yakni terhadap warga desa Rengas, Payaraman, kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatra Selatan dan terhadap J.J Rizal, direktur Penerbit Komunitas Bambu. Dalam kekerasan terhadap JJ Rizal terjadi pada 5 Desember 2009. Ia dipukuli oleh lima orang polisi dari Polsek Beji di depan Depok Town Square. Rizal sempat dirawat di RS Mitra Keluarga Depok. Belakangan diketahui aparat kepolisian 'salah tangkap'. Dalam suratnya, YLBHI meminta Kapolri secara serius menjalankan Peraturan Kapolri Nomor 8/2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia, tertanggal 22 Juni 2009. YLBHI juga meminta Kapolri bertanggungjawab mengganti kerugian yang dialami para korban, termasuk membiayai pengobatan bagi para korban. (For/*An) ====== Propam Periksa Lima Polisi Kasus Salah Tangkap Senin, 07 Desember 2009, Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Metro Jaya terus memeriksa lima polisi dalam kasus dugaan salah tangkap yang menimpa Direktur Komunitas Bambu, JJ Rizal di Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (5/12) malam. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol, Boy Rafli Amar di Jakarta, Senin (7/12), mengatakan, pemeriksaan oleh Propam itu dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pelanggaran prosedur dan disiplin dalam kasus itu. Menurut dia, tidak hanya lima anggota Polsek Metro Beji Polres Depok yang diperiksa oleh Bid Propam tapi juga Kapolsek Metro Beji. 'Propam juga telah meminta keterangan korban dan saksi-saksi yang ada di lokasi kejadian. Jika ada yang salah dengan anggota itu, maka akan ada proses berikutnya,' katanya. Selain oleh Propam, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya juga ikut memeriksa lima polisi dan Kapolsek Metro Beji karena bisa saja kasus ini merupakan pidana. Boy menegaskan, korban bukan target operasi polisi karena saat itu, polisi sedang mencari tersangka kasus pencurian. Menurut dia, saat kejadian, anggota Polsek Metro Beji mendengar teriakan 'maling' dari warga di depan pusat perbelanjaan Margo City, Jl Margonda. Beberapa warga lalu menyebutkan bahwa maling lari ke seberang jalan tepat di depan pusat perbelanjaan Depok Town Square (Detos). Lima polisi lalu berlari ke arah Detos dan menjumpai Rizal yang sedang berada di depan Detos dengan gerak-gerik yang diduga mencurigakan sehingga polisi menangkap dia. Ketika polisi menanyakan identitas, korban diduga malah berusaha lari sehingga polisi menggunakan upaya paksa agar bisa menangkapnya lagi. Polisi lalu menginterogasi korban dengan terlebih dulu menunjukkan identitas sebagai anggota reserse. Karena sejumlah warga mulai berdatangan, polisi membawa korban ke Mapolsek Metro Beji untuk dimintai keterangan. Di kantor polisi, polisi baru dapat memastikan bahwa korban adalah korban salah tangkap dan bukan tersangka kasus kejahatan. Korban lalu melaporkan kasus ini ke Polda Metro Jaya karena mengalami luka di badan saat penangkapan. Sementara itu, Kapolres Metro Depok AKBP Saidal Mursalin menyesalkan kasus salah tangkap itu.

Kapolres berjanji akan memproses masalah tersebut secepatnya. Polisi yang sedang menjalani pemeriksaan di Bid Propam itu adalah AT, SR, SA, MA, dan SU. (Ar/At) ========= Kapolri Terus Bina Prajurit Nakal Kamis, 16 Juli 2009 Kapolri terus membina para prajurit yang 'nakal' dengan memberikan hukuman sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan agar aparat penegak hukum itu semakin berwibawa. Wakil Ketua Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Sulistyo Ishak pada acara pertemuan di Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) di Jakarta, Kamis (16/7) mengatakan, pembinaan itu tidak lain supaya aparat kepolisian semakin disegani. Polisi sebagai pengayom masyarakat harus memiliki citra yang baik sehingga mereka nantinya semakin disegani. Sehubungan itu pihaknya terus melakukan pembinaan dengan memberikan hukuman terhadap prajurit yang 'nakal'. Menurut dia, prajurit yang melakukan pelanggaran itu diberikan sanksi mulai dari sanksi ringan seperti teguran tertulis dan terberat dipecat dari jabatan dan anggota. 'Kesemua itu tidak lain supaya citra kepolisian semakin baik dan berwibawa,' katanya. Bedasarkan data pada periode Januari hingga Juni 2009 ini saja jumlah pelanggaran disiplin tercatat 3.295 personil. Kasus pelanggaran dari aparat kepolisian se Indonesia itu sebanyak 1.013 diantaranya sudah diproses dan diberikan sanksi. Anggota Kompolnas, Novel Ali mengatakan, di lapangan memang masih ada oknum polisi melakukan tindak kejahatan dan itu perlu dilakukan pembinaan. 'Tindak pelanggaran disiplin tersebut terjadi karena berbagai faktor dan itu perlu terus dibenahi,' katanya. (Ans/Ant) ============ Polisi Polsek Senen Lecehkan Profesi Wartawati Jum'at, 23 Januari 2009, 15:31 WIB Kapolsek Senen berjanji akan mengusut dan menegur anak buahnya. 'ID Card seperti ini di Senen gampang dibuat.' Begitu ucapan yang dilontarkan JS, salah seorang anggota kepolisin unit Samapta Polsek Senen, kepada salah seorang wartawati online berinisial MA. Peristiwa itu terjadi, Jumat (23/1) dinihari, saat anggota kepolisian menggelar razia tanpa plang di Jalan Letjend Suprapto. Saat itu taksi yang ditumpangi MA dihentikan petugas. Polisi berpangkat Inspektur Dua itu dengan nada membentak menanyakan identitas MA. Ketika MA menunjukkan identitas diri dan kartu pers-nya, JS malah sewot dan mengeluarkan ucapan tersebut. Karena merasa profesinya dilecehkan, MA pun protes. Keributan mulut sempat terjadi antara keduanya. Sementara rekan polisi JS yang lainnya hanya menonton. Cekcok itu reda setelah polisi itu memerintahkan MA untuk pulang. Kepala Kepolisian Sektor Senen Komisaris Arrow Lumban Tobing, saat dihubungi wartawan mengaku tidak mengetahui adanya razia tersebut. Dia berjanji akan mengusut dan menegur anak buahnya tersebut jika memang terbukti melecehkan profesi jurnalis. Sementara Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Zulkarnain

menyebutkan, dalam setiap razia harus dipimpin oleh salah seorang perwira pertama. 'Tujuannya juga harus jelas,' ucap Zulkarnaen. (Dng/Btt) ========== Masyarakat Kecam Oknum Polisi Terlibat Kejahatan Rabu, 03 Desember 2008, Masyarakat mengecam tindakan oknum polisi yang terlibat dalam aski kejahatan seperti, narkoba, penyalahgunaan senjata api, perzinahan, penipuan dan penganiayaan. Mereka juga mendesak para pimpinan Polri untuk memberikan sanksi tegas kepada anak buahnya. Agar di kemudian hari, citra polisi sebagai penegak hukum dan pelindung masyarakat lebih baik lagi. 'Kita dukung tindakan Polri untuk membersihkan negara ini dari orang-orang yang tidak bener kelakuannya. Tidak hanya preman-preman di luar saja yang disikat,' tutur Adit (32) warga Pancoran yang ditemui Berita8.com, Rabu (3/12). Hal ini terkait dengan keterangan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Pol Alantin Simanjuntak, bahwa 391 oknum polisi dari berbagai tingkat kepangkatan menjadi pelaku tindak pidana selama tahun 2008. Atau naik menjadi 40 persen pada tahun 2007 sebesar 234 orang. Diantaranya, 49 orang yang terlibat narkotik dan obat berbahaya, 65 orang yang menyalahgunakan senjata api, sisanya perzinahan, penipuan dan penganiayaan. 'Kalau bisa operasi preman terus digalakkan. Saya merasa puas polisi tidak pandang bulu. Tidak hanya preman tapi juga oknum polisi yang berbuat kejahatan,' ucap Jaman (41) warga Ragunan, Jakarta Selatan. Selain Jaman, hal yang sama juga diungkapkan Nurlela (27) karyawati yang sehari-hari berkerja di salah satu departemen store di Blok M, merasakan lebih tenang jika pulang malam. 'Kalau pulang malam saya agak tenang sekarang. Kan, saya pulang kerjanya malam,' aku Lela panggilan akrab. 'Saya mengecam tindakan oknum polisi yang juga melakukan tindakan kejahatan apapun bentuknya. Harusnya mereka (oknum polisi-red) bisa beri contoh masyarakat, bukannya malah terlibat,' tegas Supri (29) warga Salemba yang ingin berangkat kerja. (Bay) ============ Kapolda: Pelanggaran Oknum Polisi Naik 97% Tahun 2009, sebanyak 37 oknum polisi diberhentikan dengan tidak hormat. Elin Yunita Kristanti, Sandy Adam Mahaputra Selasa, 29 Desember 2009, Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya, Inspektur Jenderal Wahyono, dalam keterangan pers akhir tahun di Markas Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa, 29 Desember 2009 mengungkap jumlah pelanggaran oleh personel Polri di tahun 2009. Menurut dia, ada peningkatan personel yang diajukan ke sidang komisi kode etik profesi. "Dari 40 orang pada tahun 2008, menjadi 79 orang pada tahun 2009, atau naik sebanyak 39 orang atau sebesar 97 persen," kata dia. Pada 2008, yang diajukan ke sidang terdiri dari satu perwira menengah, 4 orang perwira pertama, 32 orang Bintara, dan 3 orang tamtama. Sementara pada 2009 terdiri dari lima perwira menengah, dan 74 bintara. Putusan sidang komisi kode etik profesi Polri tahun 2009 yakni, 37 orang pemberhentian dengan cara tidak hormat, 6 orang pemberhentian dengan hormat, 7 orang tercela, 6 orang

minta maaf, 10 orang pendidikan ulang, 4 dimutasi jabatan, 5 dimutasi wilayah dan 6 personel dinyatakan tidak terbukti. Kapolda juga menyebut pelanggaran pungli alias pungutan liar oleh personel polisi meningkat. Dari yang jumlahnya dari 13 orang pada tahun 2008 menjadi 20 orang pada tahun 2009. "Atau naik sebanyak 7 orang atau sebesar 53,84 persen," kata Wahyono. Peningkatan juga terjadi pada personel yang terbukti menggunakan narkoba. Dari 18 orang pada tahun 2008, menjadi 19 orang pada tahun 2009. "Atau naik sebanyak 1 orang (5,55 persen)," kata dia. Kategori lain adalah penyalahgunaan senjata api. Untuk pelanggaran jenis ini mengalami penurunan, dari tujuh orang pada tahun lalu, menjadi lima orang pada tahun ini. Atau turun sebanyak 2 orang sekitar 28,5 persen. Angka penurunan juga terjadi pada pelanggaran penganiayaan dan pengeroyokan. Dari 9 orang pada tahun 2008 menjadi 7 orang pada tahun 2009 atau turun sebanyak 2 orang (22,22 persen). http://life.viva.co.id/news/read/117014-kapolda__pelanggaran_oknum_polisi_naik_97_ ====== Pelanggaran Disiplin Polisi Meningkat Tajam 2008-12-28 Palembang sepanjang 2008 meningkat tajam jika dibandingkan dengan periode 2007. Di mana, jika pada 2007 lalu pelanggaran disiplin mencapai 47 kasus, tahun ini meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 119 kasus. Sedangkan untuk pemberhentian dengan hormat (PDH) pada 2007 dan 2008 tidak ada. ―Untuk Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) pada 2008 satu orang dan satu masih dalam proses, sedangkan periode 2007 nihil. Untuk pelanggaran pidana pada tahun ini sebanyak lima orang anggota polisi, sedangkan pada tahun sebelumnya tidak ada. Hingga kini anggota polisi yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) sebanyak dua orang.Pada 2008 empat anggota polisi terlibat kasus pidana dan empat orang terlibat kasus narkoba,‖ beber Kapoltabes Palembang Kombes Pol Luki Hermawan kepada wartawan di kantornya kemarin. Selain kasus pelanggaran disiplin anggota polisi, sejumlah kasus kejahatan juga cenderung meningkat. Seperti kasus narkoba, jika pada 2007 lalu terdapat 214 kasus,tahun 2008 meningkat menjadi 236 kasus. Begitu juga kasus kecelakaan lalu lintas, jika pada tahun 2007 sebanyak 174 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak 66 orang,luka berat 94 orang, luka ringan 81 orang dan kerugian Rp434. 935.000, maka pada 2008 meningkat menjadi 220 kasus, korban meninggal dunia 58 orang, luka berat 107 orang, luka ringan 67 orang,dan kerugian materi Rp 527.810.000. Ketika disinggung apakah penyebab terjadinya tren peningkatan pelanggaran yang dilakukan anggota polisi karena faktor ekonomi, Kapoltabes membantah, dengan alas an setiap anggota memiliki gaji bulanan. ―Bukan itu penyebabnya.Lebih kepada prilaku, mental dan disiplin anggota yang kurang baik,‖katanya. Untuk meningkatkan mental anggota lanjut Kapoltabes, setiap anggota diwajibkan mengikuti bimbingan mental setiap Kamis. Selain itu, pihaknya juga meningkatkan pengawasan terhadap kinerja anggota. Pengacara kondang Sumsel, Februarrahman menilai, dengan meningkatnya tindakan pelanggaran disiplin yang dilakukan anggota polisi ini, menunjukan bahwa kualitas dan mutu pendidikan serta rekrutmen anggota polisi sejak awal sudah salah. Dia menambahkan, banyak faktor yang menyebabkan seorang oknum anggota polisi melakukan pelanggaran. Salah satunya lingkungan kerja yang banyak mengarah kepada hal-hal yang salah. Kondisi ini

tentunya berpengaruh pada mental seseorang yang sebelum masuk polisi bermental baik, namun stelah menjadi polisi berubah. Sementara itu, anggota DPRD Sumsel dari Fraksi PDIP Fahlevi Maizano berharap, polisi berkerja dengan profesional dan proporsional. Terlebih polisi sebagai pengayom masyarakat, tentunya dituntut harus peka dengan persoalan masyarakat. ======== Terungkap Tiga Pelanggaran Polisi Timah panas dibiarkan bersarang selama tiga bulan di betis kanan Rifki. Dalam sidang disipliner terhadap tiga anggota Kepolisian Sektor Koja, Jakarta Utara, terungkap adanya tiga bentuk pelanggaran yang mereka lakukan ketika melakukan penangkapan yang berujung penembakan terhadap Muhammad Rifki. Pelanggaran pertama yakni nama Brigadir Satu Riswanto Hari yang kini menjadi terdakwa kasus ini ternyata tidak tercantum dalam surat perintah untuk menangkap Muhammad Rifki. Pelanggaran kedua terungkap setelah Riswanto mengakui penembakan ke betis korban yang dia lakukan tidak terlebih dulu melalui tahapan tembakan peringatan. Pelanggaran ketiga yakni tentang keberadaan proyektil peluru. Dalam persidangan terungkap timah panas tetap dibiarkan bersarang cukup lama di betis kanan Rifki, yakni selama tiga bulan. Kasus penembakan terhadap remaja putus sekolah ini terjadi tiga bulan lalu di kawasan Sunter Podomoro, Jakarta Utara. Latar belakangnya ialah karena dia terlibat perkelahian di Jalan Yos Sudarso, Jakarta utara. 3 Polisi Koja Masih Jalani Sidang Disiplin Ketiganya dianggap telah menyalahgunakan wewenang dan tidak melindungi masyarakat. Tiga anggota Polsek Metro Koja, sekitar pukul 10.00, Kamis 17 Desember 2009, menjalani sidang disiplin, terkait kasus penembakan terhadap Muhammad Rifki (15). Tiga anggota itu, terdiri dari dua anggota Buser Polsek Koja, Briptu Riswanto Hari, Briptu Suhartono, dan mantan Kanit Reskrim Polsek Metro Koja Inspektur Dua Agus Wijayanto, yang kini menjabat sebagai Kanit Reskrim Polsek Pademangan. Sidang yang berlangsung di ruang serba guna lantai enam Mapolres Metro Jakarta Utara ini, dipimpin Wakalpolres Metro Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Suherman Febriyanto. Dalam gugatannya Ajun Komisaris Anak Agung Sudarsana, selaku penuntut, mendakwa ketiganya karena telah menyalahgunakan wewenang sehingga tidak memberikan perlindungan dan pengayoman pada masyarakat. Muhammad Rifki (15), remaja putus sekolah ditembak pada bagian betis kanannya oleh petugas buser Polsek Koja di kawasan Sunter Podomoro Jakarta Utara. Penembakan yang terjadi tiga bulan lalu itu, hanya dikarenakan persoalan sepele, Rifki berkelahi dengan temannya di Jalan Yos Sudarso, Jakarta utara. Setelah penembakan itu, proyektil peluru bersarang selama tiga bulan di betis kanan Rifki. Baru pada Selasa 15 Desember 2009 kemarin, anggota Polsek Metro Koja mengirim Rifki ke rumah sakit Polri Kramatjati untuk operasi pengangkatan proyektil tersebut. Menurut Zulkifli (49) paman korban, perkembangan kondisi Rifki cenderung membaik setelah operasi pengangkatan proyektil peluru yang bersarang di betis kanannya. Besok, 3 Polisi Koja Jalani Sidang Disiplin Mereka terlibat penembakan tersangka perkelahian, Mumammad Rifky yang masih anak-anak.

Tiga petugas kepolisian Polsek Koja akan menjalani sidang disiplin di Polres Jakarta Utara, Kamis 17 Desember pagi. Ketiganya masing-masing, Brigadir Satu SH, Brigadir Satu RH, serta mantan Kanit Reskrimnya, Inspektur Dua Agus Widjajanto yang terlibat dalam penembakan tersangka perkelahian, Mumammad Rifky. "Ketiganya sudah selesai menjalani pemeriksaan Propam Polda, dan besok akan menjalani sidang disiplin, pukul 09.00 pagi, di Polres Jakarta Utara," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Boy Rafli Amar kepada wartawan, Rabu 16 Desember 2009. Dia menjelaskan, berdasarkan pemeriksaan Brigadir Satu SH yang melakukan penembakan, sedangkan Brigadir Satu RH yang ikut serta saat melakukan penangkapan dan menyaksikan penembakan tersebut. Sedangkan Kanit Reskrim selaku penanggung jawab atas tindakan anak buahnya. "Berdasarkan mengakuan SH, korban dilumpuhkan dengan timah panas karena berusaha melarikan diri, sedangkan RH yang ikut dilokasi juga tidak mencegah, tapi membiarkan korban dilumpuhkan, padahal korban masih anak-anak," ujar Boy. Namun yang menjadi kesalahan utama yakni tidak melakukan perawatan mencabut peluru yang bersarang di betis korban. Dengan alasan biaya operasi pengangkatan peluru cukup malah, sebesar Rp 8 juta. "Saat itu 2 anggota sudah memberikan laporan soal penembakan dan rencana perawatan itu ke kanit, tapi kanit tidak melaporkan ke Kapolsek, sehingga terjadi pembiaran," katanya. Sehingga dalam hal ini, mantan Kapolsek Koja, Komisaris Yudi Sulistyanto tidak terlibat kerena tidak mengetahui adanya pembiaran untuk tidak memberikan perawatan terhadap korban. "Mantan Kapolsek Koja sudah kita periksa, dan hasilnya dia tidak tahu hal itu, karena anak buahnya tidak melapor kejadian tersebut," ungkap Boy. Boy menjelaskan setiap pelaku yang terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas oleh petugas karena mencoba melawan atau melarikan diri, harus segera dilakukan operasi. Dan biayanya ditanggung Polsek. "Meskipun dibawa ke RS Polri, tapi biayanya tidak gratis," ujarnya. Boy membantah jika penembakan korban M Rifky (15) dilakukan secara sengaja oleh Brigadir Satu RH dengan cara menyuruh korban berpura-pura lari saat sedang dibawa ke Polsek Koja dari Bekasi. "Korban dilumpuhkan karena berusaha kabur, ya kalaupun ada kesalahan prosedur karena masih anak-anak itu juga akan dilihat dalam sidang disiplin nanti," katanya. "Kalaupun ada keterangan keluarga jika korban sengaja ditembak, ya tidak bisa juga langsung disimpulkan secara sepihak. Tapi yang pasti telah terjadi pembiaraan untuk tidak melakukan perawatan terhadap korban." Berdasarkan cerita Mumammad Rifky, dirinya ditangkap RH dari kawasan Bekasi. Selanjutnya Rifky dibawa ke daerah Sunter Podomoro. Rifky kemudian diminta turun dari mobil lalu ditembak dari arah belakang sehingga terkesan hendak melarikan diri. Sebelumnya Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya, Inspektur Jenderal Wahyono berjanji menyelesaikan kasus ini hingga tuntas. "Sekarang sedang diproses sesuai dengan mekanisme sistem yang ada," ujarnya. Kepolisian, menurut Kapolda, menganggap kesalahan itu adalah hal yang wajar. Namun, tidak berarti institusi membenarkan kesalahan itu. Kasus penembakan yang menimpa Muhammad Rifky terjadi sekitar tiga bulan lalu. Tapi keluarga baru mengetahuinya sebulan. Keluarga korban kemudian melaporkan kasus ini ke Polsek Koja, Jakarta Utara, Senin 14 Desember 2009. Propam Segera Panggil Mantan Kapolsek Koja Dia akan dimintai keterangan terkait perilaku bawahanya Brigadir Satu RH.

Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metro Jaya juga akan memintai keterangan mantan Kapolsek Koja, Komisaris Yudi Sulistyanto dan Kanit Reskrimnya, Inspektur Dua Agus Widjajanto. Keduanya akan dimintai keterangan terkait perilaku bawahanya Brigadir Satu RH, yang diduga melakukan penembakan terhadap M Rifky, 15 tahun, karena hal sepele. Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Boy Rafli Amar, meski keduanya tidak mengetahui kejadian penembakan itu, sebagai pimpinan yang pernah menjabat di polsek tersebut, keduanya juga akan dimintai keterangan. Hingga kini Dit Propam Polda Metro juga masih melakukan pemeriksaan terhadap Brigadir Satu RH, yang diduga melakukan penembakan terhadap M Rifky. "Kita lihat nanti hasilnya. Sidang disiplin ketiganya rencananya akan dilakukan minggu depan," ujarnya, Rabu 16 Desember 2009. Mantan Kapolsek Koja, Komisaris Yudi Sulistyanto, sekarang ini menjabat sebagai Kapolsek Cakung, Jakarta Timur. Sementara Ispektur Dua Agus Widjajanto menjabat sebagai Kanit Reskrim Polsek Pademangan, Jakarta Utara. Berdasarkan cerita Mumammad Rifky, dirinya ditangkap RH dari kawasan Bekasi. Selanjutnya Rifky dibawa ke daerah Sunter Podomoro. Rifky kemudian diminta turun dari mobil lalu ditembak dari arah belakang sehingga terkesan hendak melarikan diri. Sebelumnya Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya, Inspektur Jenderal Wahyono berjanji menyelesaikan kasus ini hingga tuntas. "Sekarang sedang diproses sesuai dengan mekanisme sistem yang ada," ujarnya. Kepolisian menurut kapolda menganggap kesalahan itu adalah hal yang wajar. Namun, tidak berarti institusi membenarkan kesalahan itu. Kasus penembakan yang menimpa Muhammad Rifky terjadi sekitar tiga bulan lalu. Tapi keluarga baru mengetahuinya sebulan. Keluarga korban kemudian melaporkan kasus ini ke Polsek Koja, Jakarta Utara, Senin 14 Desember 2009. Polisi Berharap Keluarga Rifki Mau Berdamai Hingga kini keluarga belum memberikan jawaban terkait permohonan damai tersebut. Keluarga Muhammad Rifki, korban penembakan anggota Polsek Koja Jakarta Utara, mengaku telah mendapat permintaan damai dari Kepala Kepolisian Sektor Koja, Komisaris Agus Suwito. Dalam permintaan maafnya, polisi meminta keluarga agar tidak meladeni wartawan untuk meliput kasus ini. Namun, hingga kini keluarga belum memberikan jawaban terkait permohonan damai tersebut. "Kami harus merundingkan permintaan itu dengan keluarga besar kami," jelas Zulkifli, 49 tahun, paman korban kepada wartawan, Selasa 15 Desember 2009. Sementara itu Rifki telah menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru di Rumah Sakit Polri Kramatjati Jakarta Timur. Kini kondisinya dalam keadaan baik meski agak sediki lemah. Keluarga Rifki kembali menyayangkan tindakan polisi untuk mengoperasi anak pertama dari empat bersaudara ini tanpa persetujuan pihak keluarga. Padahal keluarga ingin Rifki menjalani visum terlebih dahulu sebelum dioperasi pengangkatan proyektil di betis kanannya. "Ternyata anak kami dioperasi, tanpa ada persetujuan dari keluarga," ujarnya. Propam Polda Metro Periksa Penembak Rifky

Brigadir Satu RH, anggota Polsek Koja, Jakarta Utara, diduga yang menembak Muhammad Rifky. Bidang Profesi dan Pengamanan Kepolisian Daerah Metro Jaya masih memeriksa Brigadir Satu RH, anggota Polsek Koja, Jakarta Utara, yang diduga menembak Muhammad Rifky, 15 tahun. "Nanti hasilnya kalau sudah selesai dikabari lagi. Diduga RH yang melakukan penembakan," ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Boy Rafli Amar, Selasa 15 Desember 2009. Berdasarkan cerita Mumammad Rifky, dirinya ditangkap RH dari kawasan Bekasi. Selanjutnya Rifky dibawa ke daerah Sunter Podomoro. Rifky kemudian diminta turun dari mobil lalu ditembak dari arah belakang sehingga terkesan hendak melarikan diri. Sebelumnya Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya, Inspektur Jenderal Wahyono berjanji menyelesaikan kasus ini hingga tuntas. "Sekarang sedang diproses sesuai dengan mekanisme sistem yang ada," ujarnya. Kepolisian menurut kapolda menganggap kesalahan itu adalah hal yang wajar. Namun, tidak berarti institusi membenarkan kesalahan itu. Kasus penembakan yang menimpa Muhammad Rifky terjadi sekitar tiga bulan lalu. Tapi keluarga baru mengetahuinya sebulan. Keluarga korban kemudian melaporkan kasus ini ke Polsek Koja, Jakarta Utara, Senin 14 Desember 2009. Kapolda Janji Penembakan di Jakut Diproses Kapolda berjanji selesaikan kasus ini agar tidak mencederai atau merusak citra polisi. Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya, Inspektur Jenderal Wahyono berjanji untuk memproses sesuai dengan mekanisme yang berlaku terkait penembakan yang dilakukan anggota Polsek Metro Koja terhadap anak 15 tahun hanya karena soal sepele. Kapolda mengaku baru mengetahui peristiwa ini pagi tadi. Dia berjanji akan menyelesaikan kasus ini agar tidak mencederai atau merusak citra polisi. "Sekarang sedang di proses sesuai dengan mekanisme sistem yang ada," ujarya saat pemusnahan barang bajakan di halaman Direktorat Polda Metro Jaya, Selasa 15 Desember 2009. Kepolisian menurut kapolda beranggapan wajar kalau ada kesalahan, namun tidak berarti institusi membenarkan kesalahan itu. Kasus penembakan yang menimpa Muhammad Rifky, 15 tahun, telah berlangsung sekitar tiga bulan lalu. Tapi keluarga baru mengetahui kejadian penembakan itu satu bulan lalu. Peristiwanya bermula saat warga Jalan Walang Sakti, Plumpang Semper, Tugu Utara, Jakarta Utara ini terlibat perkelahian dengan rekannya bernama Aco, 20 tahun, warga Permai. Diduga persoalan berawal dari rebutan menadah bensin dari mobil tanki Pertamina. Berdasarkan pengakuan Rifky kepada Zulkifly, akibat perkelahian yang terjadi sekitar Puasa lalu itu, lawannya menderita luka di kepala dan berdarah. Kemudian Rifky melarikan diri ke Bekasi. "Dia takut, karena katanya korban memiliki saudara yang menjadi anggota polisi," ujar pria yang juga menjabat Wakil Ketua Front Pembela Islam Kecamatan Koja, ini menceritakan kembali pengakuan Rifky. Polisi pun akhirnya mengetahui keberadaan Rifky yang bersembunyi di Bekasi, dan menangkapnya. Selanjutnya Rifky dibawa ke daerah Sunter Podomoro. "Sampai di Sunter, dia disuruh turun," kata Arifin, 43 tahun, paman Rifky yang lain, ikut menjelaskan. "Lalu ditembak dari belakang, sehingga seolah-olah lari." Sementara itu, Wakil Kepala Resor Metro Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Suherman,

membenarkan penembakan terhadap Rifky. Hanya, sampai saat ini, polisi masih menyelidiki prosedur penanganan yang terjadi.

Soal Sepele, Bocah 15 Tahun Ditembak Polisi Rifky hanya terlibat perkelahian dengan kawannya bernama Aco, 20 tahun.
Hanya karena persoalan sepele seorang bocah di Jakarta Utara mengalami luka tembak di bangian kaki. Penembak adalah anggota polisi dari Polsek Metro Koja. Kejadian yang menimpa Muhammad Rifky, 15 tahun, memang telah berlangsung lama, sekitar tiga bulan lalu. Tapi keluarga baru mengetahui kejadian penembakan itu satu bulan lalu. "Keluarga tahu dari Subhan kawan Rifky," ujar Zulkifly, paman korban, di Polsek Koja, Senin 12 Desember 2009. Padahal, Zulkifly melanjutkan, Rifky yang tinggal di Jalan Walang Sakti, Plumpang Semper, RT 06, RW 012, Tugu Utara, Jakarta Utara, ini hanya terlibat perkelahian dengan kawannya bernama Aco, 20 tahun, warga Permai. Diduga persoalan berawal dari rebutan menadah bensin dari mobil tanki Pertamina. Berdasar pengakuan Rifky kepada Zulkifly, akibat perkelahian yang terjadi sekitar Puasa lalu itu, lawannya menderita luka di kepala dan berdarah. Kemudian Rifky melarikan diri ke Bekasi. "Dia takut, karena katanya korban memiliki saudara yang menjadi anggota polisi," ujar pria yang juga menjabat Wakil Ketua Front Pembela Islam Kecamatan Koja, ini menceritakan kembali pengakuan Rifky. Polisi pun akhirnya mengetahui keberadaan Rifky yang bersembunyi di Bekasi, dan menangkapnya. Selanjutnya Rifky dibawa ke daerah Sunter Podomoro. "Sampai di Sunter, dia disuruh turun," kata Arifin, 43 tahun, paman Rifky yang lain, ikut menjelaskan. "Lalu ditembak dari belakang, sehingga seolah-olah lari." Arifin merasa tidak terima karena ponakannya ditangkap di luar prosedur. "Urusan sepele kok pakai ditembak," ujar dia. Menurutnya, Kepala Kepolisian Sektor Metro Koja Komisaris Agus Suwito sudah mengakui kesalahan prosedur penangkapan itu. "Dia sudah meminta maaf dan berjanji akan bertanggung jawab," katanya. Wakil Kepala Resor Metro Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Suherman, membenarkan penembakan terhadap Rifky. Hanya, sampai saat ini, polisi masih menyelidiki prosedur penanganan yang terjadi. "Kalau ada pelanggaran pasti akan kami tindak tegas," kata Suherman. "Karena kami memang sedang berusaha menjaga citra dan memperbaiki kepolisian." ======== Pelanggaran Polisi Didominasi Kasus Desersi October 27, 2011 Kepala Unit Profesi dan Pengamanan Kepolisian Resor Kota Besar Makassar Ajun Komisaris Djoko mengatakan, dari 113 pelanggaran yang dilakukan polisi di Makassar, sebagian didominasi kasus desersi. Dari jumlah tersebut, 60 kasus di antaranya sudah disidangkan dan sisanya masih dalam proses. ―Iya, mayoritas pelanggarannya adalah desersi atau malas masuk kantor,‖ kata Djoko kemarin. ―Vonisnya bervariasi. Ada hukuman kurungan, ada penundaan kenaikan pangkat, dan sanksi lainnya.‖ Selain itu, terdapat tiga anggota polisi yang dijatuhi vonis pemberhentian dengan tidak hormat (PDTH), yakni Aiptu Zainuddin Latong, Brigadir Affandi, dan Briptu Racmat Panca. Kepala Subbagian Humas Polres Kota Besar Makassar Komisaris Mantasiah mengatakan pihaknya terus melakukan pembinaan terhadap anggota polisi di ruang lingkup Kepolisian Resor Kota Besar Makassar. Soal tiga polisi yang dipecat, Mantasiah menjelaskan, pihaknya telah berupaya melakukan pembinaan.

―Susah juga kalau kita sudah mau bantu, tapi orangnya tetap malas,‖ katanya. Ketiganya sudah beberapa kali disidang dan diingatkan tentang kelalaiannya. Saat ini pihaknya tengah memproses enam anggota polisi pelaku pelanggaran pidana dan kekerasan dalam rumah tangga. Ketua Lembaga Bantuan Hukum Makassar Abdul Azis mendukung langkah penindakan terhadap anggota polisi yang melakukan pelanggaran. Selama ini dia banyak menerima laporan masyarakat perihal tindak kekerasan yang dilakukan oleh polisi. Menurut dia, 113 kasus pelanggaran yang dilansir oleh polisi itu tergolong tinggi. Karena itu, Azis meminta polisi meningkatkan pengawasan internal. ● TRI YARI KURNIAWAN ========

73 Kasus Pelanggaran Polisi
Januari-Mei 2009

edisi: 04/Jul/2009 wib PANGKALPINANG, BANGKA POS - Polda terus meningkatkan profesional anggotanya. Mereka yang terbukti melanggar dipastikan akan ditindak sesuai pelanggaran yang dilakukan. Masyarakat juga diminta aktif melaporkan jika menemukan oknum aparat kepolisian melanggara hukum. Hal ini ditegaskan Kapolda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Brigjen Anton Setiadi kepada Bangka Pos Group, Jumat (3/7) siang di Mapolda Babel. Menurut Kapolda, selama kurun waktu Januari-Mei 2009, Bidang Propam Polda Babel menangani 73 kasus pelanggaran yang dilakukan oknum anggota kepolisian di jajaran Polda Bangka Belitung. Masalah ini akan terus menjadi perhatian Kapolda sejalan dengan program Kapolri, yaitu quick wins, quick response dan quick SP2HP serta transparansi dalam rekruitmen. Dengan begitu diharapkan Polri ke depan menjadi bagian dari reformasi birokrasi. “Anggota yang arogan, menyalahi kewenangan akan ditindak! Karena dalam suatu institusi ada anggota yang „nakal‟, seperti dalam hal keluarga, anak sendiri saja ada yang nakal dan ada yang baik. Tapi kita tidak akan biarkan itu,” tegas Kapolda. Anton mengibaratkan, anak yang nakal harus dijewer, sedangkan yang arogan dikenakan tindakan disiplin. “Kepolisian terus melakukan pembenahan, dan apabila ada anggota yang arogan akan ditindak,” katanya. Anton juga mengatakan, dalam bulan Juli 2009 dua anggota dikenakan putusan tidak dengan hormat (PTDH) atau dipecat dari kepolisian. “Ada dua anggota yang akan di-PTDH, karena SKEP PTDH sudah ditandatangani dan untuk pelaksanaannya dilakukan oleh polres,” ungkap Anton. Orang nomor satu di jajaran Polda Babel ini berharap ke depan Polri harus lebih baik lagi, sesuai harapan Kapolri. “Ke depan kita lebih baik, kita harus instropeksi, selama 63 tahun apa yang telah dilakukan Polri terhadap masyarakat. Kekurangan-kekurangan itulah yang akan kita benahi,” janji Kapolda. Pada kesempatan kemarin, Anton juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat, karena Polri dalam jajaran Polda Babel belum sepenuhnya memenuhi tuntutan dari masyarakat. Terpisah, Kabid Propam AKBP AA Oka melalui Kasub Bid Provos Kompol Drs Maladi menambahkan, untuk Januari-Mei 2009 pihaknya menangani 73 kasus tindak pelanggaran disiplin oleh anggota. 32 kasus sudah dapat putusan sedangkan 41 kasus masih dalam proses. Kasus yang menonjol adalah penyalahgunaan wewenang dan kasus nikah tanpa izin. Di samping itu, dua anggota dilakukan PTDH dalam kasus narkoba dan desersi. “Untuk hukumannya berupa

kurungan 21 hari, tunda usulan kenaikan pangkat (UKP) dua periode dan ada yang diberi teguran,” jelas Maladi. (rya)
========

Kualitas Pelanggaran Polisi Jateng Meningkat Semarang, CyberNews. Kapolda Jateng Irjen Drs H Dodi Sumantyawan HS SH menyatakan, kualitas pelanggaran yang dilakukan anggotanya meningkat dibanding tahun sebelumnya. Sebaliknya dari sisi kuantitas, terjadi penurunan dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan kualitas pelanggaran yang dinilai Kapolda bila melihat dua kasus yang cukup menonjol. Yakni, kasus penembakan yang dilakukan Briptu Hance Christanto terhadap Wakapolwiltabes Semarang AKBP Drs Lilik Purwanto SH MHum, pada Rabu 14 Maret lalu. Dalam kejadian itu korban penembakan tewas dengan beberapa peluru yang menembus dada dan punggungnya. Sedangkan oknum bintara polisi itu (anggota P3D atau Provost Polwiltabes Semarang-red) yang menjadi pelaku penembakan, juga tewas bunuh diri. Kasus kedua adalah penembakan yang dilakukan Bripda Norman Irawan (26) anggota Detasemen Markas (Denma) Polda Jateng terhadap pengusaha pabrik es di Kudus, Tranggono Sutejo (56), pada Minggu 11 Maret lalu. Pengusaha itu ditembak dengan enam peluru yang menembus dada dan kepala dan mayatnya ditemukan di pinggir jalan Sigarbencah, Tembalang, Senin 12 Maret lalu. Kasus tersebut terungkap dan pelakunya (Bripda Norman Irawan-red)-yang juga sopir pribadi Dirintelkam Polda Jateng, dapat ditangkap, Jumat 13 April. ''Pelanggaran sebelumnya tidak sampai sejauh ini. Membunuh orang dengan senjatanya sendiri. Tindakan dua polisi ini sudah di luar batas kewajaran. Jadi dari sisi kualitas, inilah peningkatannya,'' terang Kapolda. Menurut dia, tindak kriminal yang dilakukan kedua oknum bintara polisi itu merupakan masalah pribadi. Tidak terkait dengan sistem pendidikan maupun perekrutan. Pasti dipecat Kapolda juga menegaskan, Bripda Norman Irawan (26) anggota Denma Polda Jateng, yang terlibat pasti segera dipecat dari keanggotaannya sebagai Polri. ''Bripda Norman pasti dipecat. Tindakannya sudah kelewat batas,'' tandas Kapolda. Anggota polisi di Jateng berjumlah 32.000 personel. Perbuatan dua pelaku atau oknum itu, dinilainya yang bisa merusak nama baik Polri. Karena itulah pihaknya serius dalam menangani pelanggaran yang dilakukan anggotanya. Memang kapolda menyebutkan secara kuantitas ada peningkatan pelanggaran, tanpa menyebutkan jumlahnya. Sebaliknya secara umum tingkat kedisiplinan meningkat, tapi tindakan pelanggaran anggota juga ada peningkatan. Pihaknya sudah memiliki program pembinaan personel. Antara lain, secara periodik melakukan tes psikologi. ''Nah sekarang kita minta seluruh personel untuk saling melihat teman-temannya. Kalau biasanya ceria kok tiba-tiba jadi terlihat termenung atau murung. Para pimpinan kesatuan hendaknya memperhatikan persoalan seperti itu. Ada apa kok termenung atau berdiam diri. Jadi kalau ada anggota yang murung ya harus diwaspadai,'' terang dia. Menyinggung soal pelanggaran paling menonjol, disebutkan masih banyak anggota yang terlambat masuk kantor. Juga tidak membawa identitas. Pelanggaran tersebut memang paling mudah dikontrol karena setiap saat dilakukan pengawasan secara rutin oleh personel P3D di tingkat Polres atau Polwil dan Propam di Polda.

''Masuk kantor terlambat, itu pun bukan karena kurang disiplin. Sebab banyak faktor yang mempengaruhi. Antara lain, rumahnya yang jauh. Ke kantor harus naik angkutan dan sebagainya. Kan sekian ribu anggota saya tinggalnya di luar asrama,'' tutur Kapolda. ( riyono toepra/cn05 )
========

Laporan wartawan Tribun Medan Minggu, 27 Mei 2012 17 Polisi di Sumatera Utara Terlibat Narkoba TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut mengamankan 17 polisi yang terlibat kasus narkoba. Ke 17 polisi itu diamankan hanya dalam kurun waktu Januari-Mei ini. Terakhir, polisi yang terseret kasus narkoba adalah personel Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sumut, Bripka Adi, di Jalan Sendok, Kelurahan Seiputih Timur, Medan Petisah, Jumat (25/5/2012) malam. "Setelah kita menangkap yang bersangkutan (Brigadir Adi) tadi malam, sudah 17 anggota polisi yang kita tangkap sejak Januari 2012," kata Direktur Reserse Narkoba Polda Sumut, Kombes Andjar Dewanto, Sabtu (26/5/2012). Namun Andjar enggan membeberkan identitas 16 polisi lainnya lantaran ia sudah tidak ingat satu per satu namanya. ''Saya nggak tahu persis berapa yang sudah sidang. Kalau nggak salah, delapan kasus yang sudah sidang," ujarnya. Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Raden Heru Prakoso mengatakan, jumlah pelanggaran disiplin anggota polisi sepanjang 2012 sudah 232 kasus. "Sudah selesai 10 kasus, dengan rincian 2 kasus tidak terbukti dan sebagian SP3 dan sudah 8 sidang disiplin. Hukumannya rata-rata teguran tertulis, penundaan naik pangkat, dan penundaan pendidikan," katanya. Polisi bermasalah itu meliputi 17 pamen, 37 pama, 274 brigadir, dan satu PNS. "Itu untuk seluruh jajaran Polda Sumut untuk semua kasus," ujarnya. Kasus polisi terlibat narkoba yang paling menyita perhatian adalah kasus yang melibatkan mantan Wadir Reserse Narkoba Polda Sumut AKBP Aprityanto Basuki Rahmat yang kini tengah disidangkan. Yang lain adalah kasus anggota Polres Sergai Aiptu Antonius Situmorang yang terlibat baku tembak dengan personel Ditresnarkoba, 3 Mei lalu. Andjar mengatakan, pihaknya akan mengejar bandar utama peredaran narkoba di Sumut. Sebelumnya, Brigadir Adi diamankan bersama dua rekannya, Juli Rahmadani dan Fauzi M Nur. Barang bukti yang disita 100 gram sabu dan 215 pil ekstasi di kediamannya, "Kita masih mendalami pemeriksaan para tersangka, khususnya pengembangan terhadap bandar utamanya. Nanti kalau disebutkan kabur pula," katanya. Ia mengatakan Brigadir Adi mengaku sabu tersebut berasal dari Aceh, bukan dari Malaysia. Andjar mengatakan pihaknya masih memeriksa keterlibatan teman perempuan Brigadir Adi, Juli Rahmadani. Ia mengatakan selain mengamankan Brigadir Adi, pihaknya juga menangkap Deni Inra (30), pengedar sabu 95,7 gram di Jalan Brigjen Katamso Medan, Jumat (25/5/2012) malam pukul 21.30 WIB.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->