Anda di halaman 1dari 24

Tugas Makalah Teknologi Sediaan Solid KELOMPOK 36 PELLET SWELLING ISOSORBIT DINITRATE

Dosen : Dr. Teti Indrawati MSi.,Apt Disusun Oleh : Masitha Wahida S Nia Kurniasari 10334089 10334085

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL JAKARTA 2012 KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT karena rahmat dan hidayahNya, kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan judul PELLET SWELLING ISOSORBIT DINITRATE

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata kuliah Teknologi Sediaan Solid.Dalam menyelesaikan tugas ini,kami mendapat bimbingan dan motivasi yang sangat berarti.untuk itu pada kesempatan ini perkenanakan kami mengucapkan terimakasih kepada: 1. Dr. Teti Indrawati MSi.,Aptsebagai dosen mata kuliah Teknologi Sediaan Solid. 2. Semua pihak yang telah membantu dalam memyusun tugas ini

Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, Akhir kata kami sampaikan terimakasih.

Jakarta, Juni 2012

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i DAFTAR ISI............................................................................................................ ii BAB I PENDAHULUAN I.i Latar Belakang.......................................................................................... 1 I.ii Pengertian ................................................................................................ 1 I.iii Tinjauan Pustaka ................................................................................... 2 I.iv Tujuan ..................................................................................................... 2 I.V Masalah ....................................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Obat ....................................................................................... 3 2.2 Pengertian Kapsul ................................................................................... 4 A. Sejarah Sediaan Kapsul............................................................. 4 B. Pengertian Umum ...................................................................... 4 C. Tujuan Pembuatan Sediaan Kapsul......................................... 6 2.4 Zat Aktif .............................................................................................. 15 BAB III RANCANGAN DAN PEMBAHASAN ................................................. 24 3.1 Formulasi................................................................................................. 24 3.2 Metode pembuatan ................................................................................. 24 3.3 Kemasan .................................................................................................. 24

BAB IV KESIMPULAN ........................................................................................ 25 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 27

ii

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang Bentuk sediaan lepas lambat (Sustained release) banyak mendapatkan perhatian dalam pengembangan sistem penghantaran obat karena dibandingkan bentuk sediaan konvensional, bentuk lepas lambat memiliki beberapa kelebihan. Antara lain sediaan lepas lambat dapat mengurangi efek samping, mengurangi/menjarangkan jumlah penggunaan, mengurangi fluktuasi obat dan secara umum dapat meningkatkan kenyamanan bagi pasien (Welling, 1997). Kebanyakan bentuk lepas lambat (sustained release) dirancang supaya pemakaian satu unit dosis tunggal menyajikan pelepasan sejumlah obat segera setelah pemakaiannya, secara tepat menghasilkan efek terapeutik yang diinginkan secara berangsur-angsur dan terus menerus melepaskan sejumlah obat lainnya selama periode waktu yang diperpanjang biasanya 8 sampai 12 jam (Ansel et al., 2005). Menurut Rao et al, (2001), tujuan utama dari sediaan lepas lambat adalah untuk mempertahankan kadar terapeutik obat dalam darah atau jaringan selama waktu yang diperpanjang. Keunggulan bentuk sediaan ini menghasilkan kadar obat dalam darah yang merata tanpa perlu mengulangi pemberian unit dosis. Penghantaran obat ke reseptor atau tempat bekerjanya obat sering terhambat dengan adanya efek samping obat ataupun karena pelepasan obat tidak sesuai pada tempat kerjanya. Untuk itu, obat dibuat dalam bentuk controlled release atau sediaan lepas terkendali. Sediaan lepas terkendali ini mengatur pelepasan obat di dalam tubuh yang dimaksudkan untuk meningkatkan efektifitas obat pada reseptornya. Sediaan sustained release atau sediaan lepas lambat merupakan bagian dari bentukcontrolled relese. Sediaan lepas lambat merupakan sediaan yang menyebabkan obat terlepas ke dalam tubuh dalam waktu yang lama.

I.2 Pengertian Sediaan Lepas Lambat Sediaan lepas lambat merupakan bentuk sediaan yang dirancang untuk melepaskan obatnya ke dalam tubuh secara perlahan-lahan atau bertahap supaya pelepasannya lebih lama dan memperpanjang aksi obat (Ansel et al., 2005). Dalam beberapa keadaan penyakit, bentuk sediaan obat yang ideal adalah mampu memberikan jumlah obat untuk sampai ke reseptor (tempat aksi obat) dan kemudian secara konstan dipertahankan selama waktu pengobatan yang diinginkan. Pemberian obat dalam dosis yang cukup dan frekuensi yang benar maka konsentrasi obat terapeutik steady state di plasma dapat dicapai secara cepatdan dipertahankan dengan pemberian berulang dengan bentuk sediaan konvensional peroral. Namun terdapat sejumlah keterbatasan dari bentuk sediaan konvensional peroral (Collett and Moreton, 2002). Adapun keterbatasan bentuk sediaan konvensional peroral adalah: melepaskan secara cepat seluruh kandungan dosis setelah diberikan, konsentrasi obat dalam plasma dan di tempat aksi mengalami fluktuasi sehingga tidak mungkin untuk mempertahankan konsentrasi terapetik secara konstan di tempat aksi selama waktu pengobatan, fluktuasi konsentrasi obat dapat menimbulkan overdosis atau underdosis jika nilai Cmax dan Cmin melewati jendela terapetik obat. Obat dengan t1/2 pendek membutuhkan frekuensi pemberian lebih sering untuk mempertahankan konsentrasi obat dalam jendela terapeutik, dan frekuensi pemberian obat yang lebih sering dapat menyebabkan pasien lupa sehingga dapat menyebabkan kegagalan terapi (Collett and Moreton, 2002).

Tablet konvensional atau kapsul hanya memberikan kadar puncak tunggal dan sementara (transient). Efek farmakologi kelihatan sepanjang jumlah obat dalam interval terapeutik. Masalah muncul ketika konsentrasi puncak dibawah atau diatas interval terapeutik, khususnya untuk obat dengan jendela terapeutik sempit. Pelepasan orde satu yang lambat yang dihasilkan oleh sediaan lepas lambat dicapai dengan memperlambat pelepasan dari bentuk sediaan obat. Pada beberapa kasus, hal ini dapat diperoleh melalui proses pelepasan yang kontinyu (Jantzen and Robinson, 1996).

Keuntungan bentuk sediaan lepas lambat dibandingkan bentuk sediaan konvensional adalah sebagai berikut (Ansel et al., 2005): a. Mengurangi fluktuasi kadar obat dalam darah. b. Mengurangi frekuensi pemberian. c. Meningkatkan kepuasan dan kenyamanan pasien. d. Mengurangi efek samping yang merugikan. e. Mengurangi biaya pemeliharaan kesehatan.

Kelemahan sediaan lepas lambat diantaranya adalah (Simon, 2001): a. Kemungkinan terjadinya kegagalan sistem lepas lambat sehingga bahan aktif yang relatif tinggi dilepas sekaligus (dose dumping). b. Lebih sulit penanganan penderita apabila terjadi kasus keracunan atau alergi obat, karena kandungan bahan aktif yang relatif lebih tinggi. c. Harga obat biasanya lebih mahal karena biaya pengembangan dan produksi yang relatif lebih tinggi. Faktor - faktor yang berpengaruh dalam pembuatan sediaan lepas lambat: a) Faktor - faktor biologis (Syukri, 2002) 1. Waktu paruh biologis Waktu paruh biologis bertujuan menetapkan tingkatan terapi jangka waktu lama. Waktu paruh pendek akan mengurangi frekuensi dosis. Obat-obat dengan waktu paruh panjang lebih dari 8 jam tidak dipakai dalam bentuk sediaan berkelanjutan karena efeknya sendiri sudah berkelanjutan, seperti digoksin, warfarin dan fenitoin. 2. Absorbsi Absorbsi bertujuan untuk memperoleh keadaan dimana rata - rata pelepasan jauh lebih rendah dibandingkan rata - rata absorbsi. 3. Metabolisme Obat - obat yaang dimetabolisme sebelum absorbsi baik pada lumen atau jaringan usus dapat menunjukkan ketersediaan hayati yang menurun. b) Faktor fisika kimia (Jantzen and Robinson, 1996): 1. Ukuran dosis

2. Kelarutan Senyawa dengan kelarutan yang sangat rendah (< 0,01 mg/ml) sudah bersifat lepas lambat, pelepasan obat dari bentuk sediaan dalam cairan gastrointestinal dibatasi oleh kecepatan disolusinya. 3. Koefisien partisi Senyawa dengan koefisien partisi yang rendah akan mengalami kesulitan menembus membran sehingga bioavaibilitasnya rendah. 4. Stabilitas Obat yang tidak stabil dalam usus halus akan menunjukkan penurunan bioavaibilitas jika diberikan dalam bentuk sediaan lepas lambat. Mekanisme Pelepasan Sediaan Lepas Lambat a. Difusi Pada mekanisme ini, obat dapat berdifusi keluar melalui sistem matriks.. Pada sistem reservoir, inti obat dienkapsulasi dalam membran polimer, sehingga difusi obat melalui membran dapat dikendalikan kecepatan pelepasannya. Mekanisme pelepasan obat yang terjadi berawal dari terlarutnya obat di dalam membran dan diikuti oleh difusi dan terlepasnya obat dari permukaan pada sisi lain dari membran. Jika polimer tidak larut air, maka kelarutan obat dalam membran merupakan faktor penting yang mendorong terjadinya difusi melintas membran. Sedangkan jika membran merupakan polimer larut air, sebagian polimer akan terlarut membentuk saluran-saluran yang merupakan panjang lintasan difusi yang bersifat konstan. b. Disolusi Obat disalut dalam bahan polimerik dan kecepatan disolusi polimer menentukan kecepatan pelepasan obat. Sistem ini dapat digunakan untuk menahan pelepasan obat melalui cara yang berbeda-beda. Salah satunya dengan menempatkan partikel-partikel obat ke dalam penyalut yang masing-masing memiliki ketebalan yang bervariasi, akibatnya pelepasan obat akan terjasi secara bertahap. Partikel obat yang memiliki lapisan penyalut yang paling tipis akan memberikan pelepasan yang segera, sehingga dapat memenuhi konsentrasi obat yang dibutuhkan pada tahap awal pemberian dosis, sedangkan lapisan penyalut yang lebih tebal akan memenuhi kadar obat yang dibutuhkan utuk menjaga agar konsentrasi obat tetap konstan di dalam tubuh.

c. Osmosis Penempatan membran semipermeabel di sekeliling tablet, partikel atau larutan obat, menyebabkan adanya pembentukan perbedaan tekanan osmotik antara bagian dalam dan bagian luar tablet sehingga memompa larutan obat keluar dari tablet melalui celah kecil dan memberikan sifat pelepasan obat yang diperlama. Pada sistem ini, membran semipermeabel digunakan untuk mengendalikan kecepatan pelepasan obat. Kecepatan pelepasan obat dapat konstan selama konsentrasi obat melewati membran juga tetap.

d. Swelling Ketika suatu polimer kontak dengan air, maka terjadi penyerapan air yang menyebabkan polimer dapat mengembang, sehingga obat yang terdispersi di dalam polimer akan berdifusi keluar. Akibatnya, pelepasan obat bergantung pada dua proses kecepatan yang simultan yaitu antara proses berdifusinya air ke dalam polimer dan peregangan rantai polimer.

e.

Proses Erosi Pada sistem ini, polimer pada matriks akan mengalami erosi atau pengikisan karena terbentuk ikatan labil akibat reaksi yang terjadi secara hidrolisis maupun enzimatis. Seiring dengan terkikisnya polimer, maka obat akan dilepaskan ke dalam medium di sekitarnya.

I.3 Tinjauan pustaka

PENGERTIAN Peletisasi adalah proses pembesaran ukuran, dimana bahan berbentuk halus atau granular dikonversi menjadi unit kecil, mengalir bebas berbentuk sferis atau semi feris. Pellet untuk tujuan farmasi rentang ukurannya adalah 0,5-1,5 mm. tujuan utamanya untuk sediaan oral dengan pelepasan terkendali. Metode pelitisasi prinsipnya hamper sama dengan proses granulasi. Proses yang digunakan secara luas adalah ekstruksi dan sferonisasi, dan pelapisan dengan larutan atau suspense. Cara lain yang dapat pula dilakukan adalah globulisasi dengan bermacam teknik semprot kering, kompresi, dan aglomerasi terkontrol menggunakan mikser-granulator. Produksi pellet merupakan proses yang mahal, membutuhkan peralatan sangat khusus, seperti ekstruder, sferonizer, dan rotor-granulator. Sediaan lepas lambat dirancang untuk melepaskan sejumlah obat dengan segera pada pemakaian dosis tunggal untuk menghasilkan efek terapi yang diharapkan. Efek terapi yang diperoleh dipertahankan dengan pelepasan bahan obat pada tahapan berikutnya yang berlangsung secara bertahap dan kontinu dalam periode diperpanjang selama 8-12 jam. Sistem pelepasan obat seperti ini menghasilkan kadar obat dalam darah yang merata dalam rentang waktu tanpa memerlukan pengulangan dosis(Ansel,1989) TIPE PRODUK PRODUK CONTROLLED RELEASE

Seluruh produk yang pelepasannya diperpanjang dianggap sama sebagai produk yang pelepasannya dikontrol tanpa dibedakan ketelitian mekanisme pelepasannya.

Sebagian besar preparasi pelepasan obat yang dikontrol merupakan hasil kombinasi dari proses disolusi, permeasi, dan difusi. Faktor yang terpenting adalah permeasi air, tanpa faktor tersebut mekanisme pelepasan produk tidak akan dapat terlaksana. Pengontrolan kecepatan masuknya air ke dalam produk akan menentukan kecepatan keterlarutan obat. Ketika obat trerlarut, maka kecepatan difusi obat lebih lanjut akan dikontrol menjadi kecepatan sesuai yang dikehendaki.

Preparasi Sustained-release Tipe Pellet

Preparasi sediaan sustained release tipe pellet disebut juga preparasi tipe butiran. Butiranbutiran disiapkan dengan menyelimuti serbuk obat dengan non-pareil seeds. Non-pareil seeds dibuat dari starch, sukrosa, dan laktosa. Inti granul kasar dibulatkan di dalam panci berisi penyalut/pelapis, lalu dikelompokkan sesuai ukurannya.

Penggunaan berbagai variasi larutan penyalut dapat menghasilkan butiran dengan berbagai variasi proteksi penyalutan. Proses pencampuran butiran yang hati-hati akan meningkatkan profil pelepasan. Bentuk sediaan pellet dapat dipreparasi menjadi tablet atau kapsul. Ketika pellet dipreparasi menjadi tablet, butiran-butiran harus dikempa dengan ringan sehingga tidak akan pecah. Biasanya, bahan penghancur pada tablet akan menyebabkan pelepasan yang cepat setelah pemberian. Formulasi obat menjadi bentuk pellet akan mereduksi iritasi lambung, karena obat dilepas lambat selama berada di lambung.

Ada beberapa contoh penggunaan bentuk sediaan pellet. Contohnya penilpropanolamin, obat pengurang berat badan kadang diformulasikan menjadi produk kapsul pellet sustained release untuk mengontrol nafsu makan selama 12 jam. Beberapa produk obat long acting juga mengambil konsep butiran.

Keuntungan utama bentuk sediaan pellet Adalah pellet memiliki kesensitifan lebih rendah terhadap waktu pengosongan lambung. Karena ada beberapa pellet di dalam kapsul, beberapa pellet akan berangsur-angsur mencapai usus halus dan melepaskan obatnya. Waktu pengosongan lambung penting dalam formulasi produk salut enterik. Tablet salut enterik akan dilepas selama berjam-jam, sesuai jumlah makanan di lambung, pellet salut enterik relatif tidak begitu dipengaruhi oleh jumlah makanan di lambung.

Tablet prolonged-action Cara utama untuk memperlama aksi obat adalah dengan mengurangi solubilitas obat, sehingga obat larut lambat selama beberapa waktu. Solubilitas obat tergantung dari bentuk garam yang

ditambahkan. Pada umumnya sifat asam basa dari obat lebih kurang larut dibandingkan dalam bentuk garamnya. Contohnya sodium fenobarbital lebih mudah larut dibandingkan fenobarbital. Pada kasus yang sulit untuk mempersiapkan keterlarutan yang rendah dari bentuk obat, obat mungkin digranulasi dengan suatu eksipien, untuk memperoleh disolusi yang lambat. Kadang material lipofilik waxy/fatty digunakan dalam formulasi. Asam stearat, castorwax, carbowax, gliseril monostearat, white wax, dan spermaceti oil adalah bahan tambahan yang sangat berguna untuk memberikan barrier minyak agar penetrasi air dan disolusi tablet berjalan lambat. Beberapa lubrikan yang digunakan dalam penabletan juga digunakan sebagai agen lipofilik untuk memperlambat disolusi. Kerugian utama dari preparasi ini adalah kesulitan untuk memperoleh pelepasan obat yang reprodusibel dari satu pasien ke pasien yang lain. I.4 Tujuan

Adapun yang menjadi tujuan pembuatan makalah ini adalah : Untuk mengetahui definisi dari sistem swelling Untuk mengetahui mekanisme pelepasan obat secara swelling Untuk mengetahui tujuan dibuatnya sediaan obat lepas terkendali.

I.5 Masalah Apakah definisi tablet dengan sistem swelling? Bagaimana mekanisme obat sistem swelling? Apakah tujuan dibuatnya sediaan ini?

PRAFORMULASI Komponen tablet 1.Bahan aktif/ zat aktif 2. Bahan Tambahan Dalam Tablet

a. Bahan Pengisi (filler) Bahan pengisi ditambahkan dalam tablet berfungsi untuk menambah berat tablet dan memperbaiki daya kohesi sehingga dapat dikempa langsung atau untuk memacu aliran (Banker dan Anderson, 1986). Bahan pengisi yang sering digunakan antara lain laktosa, pati dan selolusa mikrokristal (Anonim, 1995).

b. Bahan pengikat (binder) Bahan pengikat adalah bahan yang mempunyai sifat adesif yang digunakan untuk mengikat serbuk-serbuk menjadi granul selanjutnya bila dikempa akan menghasilkan tablet kompak. Zat pengikat dapat ditambahkan dalam bentuk larutan (Anonim, 1995).Bahan pengikat sebaiknya digunakan sedikit mungkin karena apabila terlalu berlebihan menjadi penabletan yang keras sehingga tidak mudah hancur dan waktu pengempakannya membutuhkan tenaga yang lebih. Bahan pengikat yang biasa digunakan yaitu gula, jenis pati, gelatin turunan selulosa, gom arab dan tragakan (Voigt, 1984).

c. Bahan penghancur (disintergrant) Bahan penghancur dimaksudkan untuk menarik air masuk dalam tablet sehingga memudahkan hancurnya tablet dalam medium cair sehingga dapat pecah menjadi granul atau partikel penyusunnya (Banker dan Anderson, 1986). Kerja bahan penghancur adalah melawan kerja bahan pengikat dan kekuatan fisik tablet sebagai akibat tekanan mekanik pada proses pengempaan. Makin kuat kerja bahan

pengikat maka diperlukan bahan penghancur yang lebih efektif. Bahan penghancurnya yang umum digunakan adalah amilum, alginat dan selulosa (Voigt, 1984). d. Bahan Pelicin Bahan pengatur aliran (glidant) berfungsi memperbaiki sifat alir massa atau granul yang akan di tablet dan mengurangi penyimpangan massa sehingga meningkatkan ketepatan dosis dari tablet. Bahan pelicin (lubricant) berfungsi memudahkan mendorong tablet ke atas keluar cetakan melalui pengurangan gesekan antara dinding dalam lubang ruang cetak dengan permukaan sisi tablet. Bahan pemisah bentuk (anti adherent) berfungsi mengurangi lekatnya massa tablet pada dinding ruang cetak dan permukaan punch serta menghasilkan kilap pencetakan pada tablet (Voigt, 1984). Optimisasi dari variable proses untuk pengembangan produk pellet, hanya akan berhasil secara rutin walau di produksi dalam skala besar jika formulasi tidak peka terhadap variasi kecil parameter proses. Hal ini meliputi : a. b. c. Kelarutan obat Tipe dan konsentrasi pengikat Viskositas larutan atau suspense.

Rentang viskositas akan menentukan kandungan padat formulasi yang akan dapat berhasil disemprotkan pada inti awal dan pellet yang terbentuk. Factor paling penting yang perlu diperhatikan adalah ukuran partikel obat. Jika ukuran partikel obat dalam suspense besar atau kasar, jumlah pengikat yang dibutuhkan untuk imobilisasi partikel pada inti akan tinggi, konsekuensinya akan dihasilakan pellet berpotensi rendah.

Ada 2 pelapisan yang merupakan metode klasik pembuatan pellet, diklasifikasikan dalam 3 kategori : Pelapisan dengan larutan dan suspense Merupakan deposisi dari bahan aktif obat pada inti awal yang dapat berupa bahan inert, , atau granul dari obat yang sama. Untuk proses pelapisan ini digunakan alat yang umum digunakan untuk penyalutan. Selama pelapisan larutan atau suspense, semua komponen

formulasi dilarutkan atau disuspensikan dalam medium aplikasi, dan karenanya menentukan kadar padatan dan viskositas cairan yang disemprotkan.

Pelapisan dengan serbuk Meliputi deposisi secara berturut-turut dari serbuk kering obat dan atau eksipien pada inti/core yang sudah ada dengan bantuan cairan pengikat. Pelapisan dengan serbuk melibatkan aplikasi secara simultan cairan pengikat dan serbuk kering. Peralatan utama terkait pelapisan dengan serbuk adalah kontener serbuk yang harus mempunyai dinding solid tanpa adanya perforasi untuk mencegah kehilangan serbuk selama proses dan sebelum serbuk diikat atau diambil oleh masa basah pellet yang sedang dilapisi. Selama proses pelapisan serbuk, secara berturut-turut/intermiten ditambahkan larutan pengikat dan serbuk halus secara simultan pada inti awal/core dengan kecepatan yang terkendali. Selama proses, penting sekali untuk men-delivery serbuk secara akurat pada kecepatan yang sebelumnya sudah ditentukan, dengan tetap menjaga kesetimbangan antara kecepatan aplikasi cairan pengikat dan kecepatan delivery serbuk. Kalau kecepatan delivery serbuk tidak dijaga pada kecepatan yang sudah ditentukan akan terjadi pembasahan secara berlebihan (over weet) dan pengeluaran debu.

Peralatan

Panci penyalut (coating pan) Panci konvensional Panci yang dimodifikasi

Granulator sentrifugal chamber rotary granulator Double chamber rotary granulator Centrifugal fluid-bet equipment dan proses dengan suatu double-wallet produk chamber Peralatan pelengkap System penanganan udara Alat untuk delivery serbuk

System penyemprotan Alat untuk delivery serbuk volumetric Feeder loss-in-weight

System penyemprotan System hydrolik (airless) Pneumatic (air-atomized)

Ukuran tetesan ditentukan oleh tekanan yang diaplikasikan dan diameter lubang nozel.

3.

Ekstruksi

Ekstruksi-sferonisasi sebagai teknik pembuatan pellet dikembangkan pada awal tahun 1960an. Teknologi ini unik karena sesuai untuk mengembangkan formulasi pellet yang mengandung bahan obat dalam jumlah besar, tetapi juga dapat digunakan untuk menghasilkan pellet dengan pelepasan yang dimodifikasi melalui tahap yang sama, dan selanjutnya dilakukan tahap penyalutan lapis tipis pellet. Proses ekstruksi meliputi tahap berikut : a. Pencampuran dan pembentukan masa basah, dimana obat dan eksipien dicampur

dengan pengikat yang sesuai dan atau air, membentuk masa yang rapat, masa plastic seperti masa granul. b. Pembentukan masa berbentuk batangan, dimana masa dibentuk menjadi bentuk

silinder dengan diameter yang uniform. c. d. Tahap pemotongan dimana batang silinder dipotong menjadi panjang yang sama. Pembulatan dimana potongan masa silinder dibundarkan menjadi bentuk bola/sfer

(sferonisasi). Peralatan

Bermacam alat digunakan dalam pembuatan pellet secara ekstruksi, seperti pencampur (blender), granulator, pengayak untuk meratakan ukuran, ekstruder, dan sfenorizer. Ekstruder

Screw-fed ekstruders Mempunyai sekrup yang berputar sepanjang sumbu horizontal sehingga melakukan transport material secara horizontal. Gravity-fed ekstruder

Terdiri atas dua silinder rotary dan roda (gear) ekstruder, yang berbeda dalam desain dari dua silinder yang bergerak berlawanan arah. Ram ekstruder, tipe ekstruder paling tua, suatu torak (piston) Memindahkan dan menekan melalui suatu cetakan (die) bahan pellet. 4. Sferonisasi

Teknologi sferonisasi diintroduksir oleh nakahara pada tahun 1964. Sejak saat itu, teknologi sferonisasi telah dimodifikasi dan ditingkatkan sehingga sekarang telah dihasilkan untuk bermacam skala dan secara komersial tersedia peralatan yang sesuai dengan kapasitas yang diinginkan. Marumerizer adalah suatu alat sferonisasi yang terdiri atas silinder statik atau stator, dan plat fraksi rotator pada bagian dasar. Kecepatan rotasi plat-fraksi bervariasi antara 100-2000 rpm, bergantung pada diameter unit. Pada sferonisasi yang dibantu udara, dialirkan dari bawah melewati celah antara plat fraksi dan dinding silinder. Proses Ekstruksi-sfenorisasi merupakan proses dengan tahap, meliputi : Mencampur maasa secara kering. Membentuk masa seperti masa granul. Melewatkan pada lubang dengan diameter tertentu masa granul sehingga berbentuk batang (seperti membuat mie) (ekstruksi). Memotong masa batang dalam panjang tertentu. Masa potongan batang diputar dengan kecepatan tinggi pada alat sfenorisasi

BAB II FORMULASI

ZAT AKTIF

: ISOSORBIT DINITRAT

Sinonim MF Berat Molekul InChI CAS NO EINECS Kepadatan Titik didih Indeks bias Titik nyala

1,4:3,6-dianhydrosorbitol 2,5-dinitrate; sorbide nitrate; Isosobide dinitrate; 1,4:3,6dianhydro-2,5-di-O-nitrohexitol; 1,4:3,6-dianhydro-2,5-di-O-nitro-D-glucitol C6H8N2O8 236.1363 InChI=1/C6H8N2O8/c9-7(10)15-3-1-13-6-4(16-8(11)12)2-14-5(3)6/h3-6H,12H2/t3-,4+,5-,6-/m1/s1 87-33-2 201-740-9 1.65g/cm3 365.9C at 760 mmHg 1.537 186.6C

Pemerian Sifat Fisikokimia

: serbuk putih gading, tidak berbau : Isosorbid berbentuk kristal roset berwarna putih, sedikit larut dalam air

dan mudah larut dalam alkohol

Mekanisme Kerja Menstimulasi c-GMP intraseluler sehingga menyebabkan relaksasi otot polos baik pada arteri maupun vena. Menurunkan tekanan menurunkan ventrikel kiri (preload) dan dilatasi arterial sehingga oksigen

resistensi arterial (afterload). Hal ini akan menurunkan kebutuhan

sekaligus adanya dilatasi arteri koroner akan memperbaiki aliran darah pada derah iskemik

ZAT TAMBAHAN

Hydroxypropyl Methylcellulose

Sinonim

: cellulose, hydroxypropyl methyl ether, HPMC, Methyl cellulose propylene glycol ether, pharmacoat

Pemerian

: tidak berbau dan berasa, putih atau krem berserat berwarna putih atau bubuk butiran.

MAGNESIUM STEARAT

Magnesium stearat [(CH3)(CH2)16COO]2Mg

Merupakan senyawa magnesium dengan campuran asam-asam organik padat yang diperoleh dari asam lemak, terutama terdiri dari magnesium stearat dan magnesium palmitat dalam berbagai perbandingan, mengandung setara dengan tidak kurang dari 6.8% dan tidak lebih dari 8.3%magnesium oksida.

Pemerian

: serbuk halus, putih dan volminus, bau lemah khas, mudah elekat dikulit, bebas dari butiran.
25

Microcrystalline Cellulose

Sinonim

: avicel, Cellulose gel, E460, Tabulose, Vivacel

Avicel PH 102 merupakan nama dagang dari mikrokristalin selulosa yang memiliki sifat kompresibilitas yang sangat baik dan merupakan bahan pengisi yang banyak digunakan dalam kempa langsung. Avicel PH 102 dapat menghasilkan tablet yang cukup keras dengan sedikit pengempaan. Avicel PH 102 dapat mengalami deformasi plastis pada proses pengempaan sehingga menjadi lebih sensitif terhadap lubrikan. Tablet yang dihasilkan sifat alirnya cukup baik, tidak larut dalam air (Sulaiman, 2007). Avicel berbentuk serbuk kristal berwarna putih, tidak berbau, tidak berasa. Kelarutannya yaitu tidak larut dalam air, sedikit larut dalam 5 % larutan hidroksida. Senyawa ini stabil meskipun merupakan bahan yang higroskopis (Rowe et al., 2006). Selama pengempaan Avicel diduga menimbulkan perubahan bentuk yang melepas stress menurut beberapa mekanisme. Proses ini akan menghasilkan tablet yang keras dengan pengempaan yang rendah. Avicel PH 102 mempunyai ukuran partikel lebih besar dan berguna untuk meningkatkan sifat alir (Agoes, 2008).

BAB IV BENTUK SEDIAAN PELLET SWELLING PreparasiSustained-releaseTipePellet Preparasi sediaan sustained release tipe pellet disebut juga preparasi tipe butiran. Butiran-butiran disiapkan dengan menyelimuti serbuk obat dengan non-pareil seeds. Non-pareil seeds dibuat dari starch, sukrosa, dan laktosa. Inti granul kasar dibulatkan di dalam panci berisi penyalut/pelapis, laludikelompokkanukurannya.Penggunaan berbagai variasi larutan penyalut dapat menghasilkan butiran dengan berbagai variasi proteksi penyalutan. Proses pencampuran butiran yang hati-hati akan meningkatkan profil pelepasan. Bentuk sediaan pellet dapat dipreparasi menjadi tablet atau kapsul. Ketika pellet dipreparasi menjadi tablet, butiran-butiran harus dikempa dengan ringan sehingga tidak akan pecah. Biasanya, bahan penghancur pada tablet akan menyebabkan pelepasan yang cepat setelah pemberian. Formulasi obat menjadi bentuk pellet akan mereduksi iritasi lambung, karena obat dilepas lambat selama berada di lambung Swelling Ketika suatu polimer kontak dengan air, maka terjadi penyerapan air yang menyebabkan polimer dapat mengembang, sehingga obat yang terdispersi di dalam polimer akan berdifusi keluar. Akibatnya, pelepasan obat bergantung pada dua proses kecepatan yang simultan yaitu antara proses berdifusinya air ke dalam polimer dan peregangan rantai polimer. PEMBUATAN Metode yang digunakan adalah Teknik Granulasi Basah.

swelling butir dibuat dengan menggunakan granulasi basah. Hidroksipropil metilselulosa, Laktosa,natrium katbonat,asam sitrat dan bahan aktif isosorbit dinitrat dicampur secara homogen. Larutkan Alkohol HPMC (1% W/V) digunakan sebagai granulasi. Kemudian butirann-butiran dikeringkan dalam oven udara panas konvensional, granul kering yang disaring melalui 40/60 derajat,magnesium stearate ditambahkan sebagai pelumas dan butiran dikompresi untuk tablet dengan menggunakan punch table single.

EVALUASI Uji Sifat Alir Serbuk, kekerasan, dan keseragaman bobot tabletUji waktu alir dilakukan dengan metode langsung (metode corong). Uji keseragaman bobot dilakukan dengan penimbangan terhadap 20 tablet satu persatu dan dibandingkan dengan persyaratan farmakope. Uji kekerasan dilakukan dengan menggunakan hardness tester.

BAB V KESIMPULAN Sustained release merupakan bentuk sediaan yang dirancang untuk melepaskan obatnya ke dalam tubuh secara perlahan-lahan atau bertahap sehingga pelepasannya lebih lama dan memperpanjang aksi obat. Tujuan utama dari sediaan lepas terkendali adalah untuk mencapai suatu efek terapetik yang diperpanjang disamping memperkecil efek samping yang tidak diinginkan yang disebabkan oleh fluktuasi kadar obat dalam plasma. Long acting menyatakan durasi kerja obat yang relatif lama tanpa menjelaskan durasi pelepasan bahan aktif ari bentuk sediaannya. Keuntungan sediaan sustained release ini antara lain sediaan tersebut dapat dikonsumsi dengan tidak begitu sering dibandingkan sediaan yang diformulasikan untuk lepas segera dengan komposisi obat yang sama dan sediaan ini dapat lebih terjaga secara terus-menerus dalam aliran darah. Tablet sustained relesase diformulasikan di mana bahan-bahan aktif dilingkupi dengan lapisan matriks tak larut sehingga proses pelarutan bahan obat terjadi melalui suatu lubang pada matriks. Pada beberapa formulasi, matriks dibuat mengembang menjadi bentuk gel sehingga obat terlebih dahulu akan larut pada matriks kemudian keluar melalui lapisan matriks terluar. Untuk mencapai fungsi pelepasan obat lepas lambat, sediaan sustained release memerlukan bahan-bahan tambahan sebagai penunjang aksi mekanisnya. Bahan-bahan tersebut antara lain Hidroksi Propil Metil Selulosa (HPMC), Asam Alginat, Carbomer, Polymethacrylates, Hydroxy Ethyl Celullosa (HEC), Asam Hyaluronat (Hyaluronan), Hidroksipropil Selulosa(HPC), Etil Selulosa (Ethylcellulose), dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Wade A. Handbook of Pharmaceutical excipients, 2nd edition. London:The Pharmaceutical Press. Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, Ansel HC, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi ed.4 1989

Anda mungkin juga menyukai