Anda di halaman 1dari 20

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

MAKALAH ILMU KALAM


TENTANG

Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

Dosen Pembimbing Disusun Oleh

: Drs. H. Ahmad Khatib, MA : Dede Salamah Marhadi M. Subhi Munawaroh Sujono

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT) ALMARHALAH ALULYA BEKASI


Semester II, Maret 2011 Kelompok IV 1

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

TAHUN 2011

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi ALLAH SWT yang telah memberi rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, Keluarga, sahabat dan seluruh umatnya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas individu mata kuliah ILMU KALAM yang berjudul Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah oleh dosen pembimbing Drs. H. Ahmad Khatib, MA. Dalam makalah ini penulis telah berusaha mengumpulkan berbagai referensi dari buku, Al Quran terjemah serta internet yang terkait dengan judul makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi mahasiswa/i STIT AL-MARHALAH AL-ULYA semester II. Penulis mohon maaf jika dalam penyusunan makalah ini terdapat kekurangan. Kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan penulis agar dalam penyusunan makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Penulis mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini.

Bekasi, Maret 2011

Penulis

Semester II, Maret 2011 Kelompok IV

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ....... i Daftar Isi . ii Bab Pendahuluan ... 1 Bab Pembahasan .... 2 A. B. C. D. Al Khawarij ... Al Murjiah .... Al Qadariyah ... Al Jabariyah 2 5 10 12 16

Bab Penutupan Daftar Pustaka

Semester II, Maret 2011 Kelompok IV

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

BAB PENDAHULUAN
Ilmu kalam menurut tata ahli bahasa arab, kalam berarti kata atau lafaz dengan bentuk majemuk (ketentuan atau perjanjian). Dalam istilah teknis, kalam adalah ilmu yang membahas tentang kalam Allah, Al Quran dan sifat-sifat Allah. Ilmu kalam sering juga disebut ilmu tauhid (penjelasan ini telah dijelaskan pada pemakalah sebelumnya). Munculnya pembahasan tentang keakidahan atau keyakinan, serta yang berkaitan dengan itu, yaitu pada masa kekhalifahan Ustman bin Affan yang diawali dari masalah politik, karena ketika itu, politik yang diterapkan Utsman bin Affan, mengakibatkan munculnya pemberontakan di Irak, Sehingga Utsman bin Affan meninggal dunia. Setelah itu, munculah perbedaan pendapat tentang iman dan kufur serta masalah lain yang berkaitan tentang keyakinan atau keakidahan, hingga akhirnya bermunculan aliranaliran tentang masalah itu. Pada bab pembahasan berikut ini akan di jelaskan beberapa aliranaliran yang muncul mengenai perbedaan ini seperti aliran Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah.

Semester II, Maret 2011 Kelompok IV

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

BAB PEMBAHASAN
E. Al Khawarij
Pengertian Khawarij Secara bahasa kata khawarij berarti orang-orang yang telah keluar. Kata ini dipergunakan oleh kalangan Islam untuk menyebut sekelompok orang yang keluar dari barisan Ali ibn Abi Thalib r.a. karena kekecewaan mereka terhadap sikapnya yang telah menerima tawaran tahkim (arbitrase) dari kelompok Muawiyyah yang dikomandoi oleh Amr ibn Ash dalam Perang Shiffin ( 37H / 657 ). Ada juga yang mengatakan bahwa nama khawarij itu didasarkan atas Surah An-Nisa ayat 100 : - )( Artinya : Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ketempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nisa : 100) Pengertian kata dengan arti : Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kaun khawarij memendang diri mereka sebagai orang-orang yang keluar dari rumah semata-mata untuk berjuang dijalan Allah SWT. Selain nama Khawarij, ada beberapa nama lagi yang diberikan kepada kelompok ini, antara lain Al-Muhakkimah berasal dari semboyan mereka yang terkenal la hukma illa lillah (tiada hukum kecuali hukum Allah) atau la hakam illa Allah (tidak ada pembuat hukum kecuali Allah). Berdasarkan alasan inilah mereka menolak keputusan Ali, bagi mereka yang berhak memutuskan perkara hanyalah Allah SWT, bukan arbitrasi atau tahki, sebagaimana yang dijalankan Ali. Syurah Mereka menyebut

Semester II, Maret 2011 Kelompok IV

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

dirinya sebagai syurah, yang berasal dari bahasa arab yasri (menjual). Penanaman ini didasarkan pada surah Al Baqarah ayat 207 :

Artinya: Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hambahamba-Nya. Golongan khawarij memang menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang berkorban demi mencapai keridhoan Allah swt. Haruriyah berasal dari bahasa harura, tempat mereka berkumpul setelah meninggalkan barisan Ali. Tempat ini kemudian mereka jadikan pusat kegiatan. Serta ada nama al Mariqah diberikan kepada mereka karena mereka dianggap telah keluar dari agama. Kata ini berasal dari kata maraqa yang artinya anak panah yang keluar dari busurnya. Nama ini diberikan oleh lawan-lawan mereka. Seperti yang disinggung sebelumnya dalam pendahuluan bahwa Khawarij lahir dari komponen paling berpangaruh dalam khilafah Ali ra. Yaitu dari tubuh militer pimpinan Ali ra. sendiri. Pada saat kondisi politik yang makin tidak terkendali dan dirasa sulit untuk mereda dengan prinsip masing-masing. Maka kubu Muawiyah ra. yang merasa akan dikalahkan dalam perang syiffin menawarkan untuk mengakhiri perang saudara itu dengan Tahkim dibawah AlQuran. Dan sesuai dengan pokok-pokok pemikiran mereka bahwa setiap yang berdosa maka ia telah kafir, maka mereka menilai bahwa setiap individu yang telah melangar prinsip tersebut telah kafir, termasuk Ali ra. Sehingga Mereka memaksanya untuk bertobat atas dosanya itu sebagaimana mereka telah bertobat karena ikut andil dalam proses Tahkim. (Abu Zahrah: 60) Demikian watak dasar kelompok ini, yaitu keras kepala dan dikenal kelompok paling keras memegang teguh prinsipnya. Inilah yang sebenarnya menjadi penyabab utama lahirnya kelompok ini (Syalabi: 333). Khawarij adalah kelompok yang didalamnya dibentuk oleh mayoritas orang-orang Arab pedalaman (arbu al-bdiyah). Mereka cenderung primitive, tradisional dan kebanyakan dari golongan ekonomi rendah, namun keadaan ekonomi yang dibawah standar tidak mendorong mereka untuk meningkatkan pendapatan. Ada sifat lain
Semester II, Maret 2011 Kelompok IV 6

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

yang sangat kontradiksi dengan sifat sebelumnya, yaitu kesederhanaan dan keikhlasan dalam memperjuangkan prinsip dasar kelompoknya. Walaupun keikhlasan itu ditutupi keberpihakan dan fanatisme buta. Dengan komposisi seperti itu, kelompok ini cenderung sempit wawasan dan keras pendirian. Prinsip dasar bahwa tidak ada hukum, kecuali hukum Tuhan mereka tafsirkan secara dzohir saja. (Abu Zahrah: 63) Al-khawarij mempunyai pandangan dangkal pada ayat-ayat al-Quran, kadang-kadang ayat yang mereka fahami itu tidak sesuai dengan maksud sebenarnya dari ayat tersebut, dan juga tidak memiliki hubungan sama sekali dengan ayat yang mereka jadikan sebagai dalil untuk melegitimasi pendapat mereka, karena mereka hanya sebatas memahami ayat secara zahir yang batil. Di kalangan al-Khawarij sendiri, terdapat banyak mazhab-mazhab yang mempunyai pemikiran atau pendapat yang berbeda satu dan lainnya. Namun demikian

mereka tetap menisbahkan pendapat mereka itu kepada Islam,mereka semua mengakui alQuran. Di dalam setiap ajaran dan untuk memperkuat pendapat, mereka selalu menjadikan al-Quran sebagai dasar pijakan dan dasar untuk menumbuhkan keyakinan mereka, namun hanya terkait kepada ayat-ayat yang biasa mendukung pendapat mereka, untuk ayat ini mereka akan tetap mempertahankannya, sebaliknya jka persoalan tersebut tidak bersesuaian dengan pendapat dan pendirian serta kepentingan mereka, mereka berupaya sekuat tenaga untuk lepas dan mulai memalingkan dan mentakwilkan ayat al-Quran sehingga tidak bertentangan dengan pendapat mereka. Diantara mazhab-mazhab dalam sekte al-Khawarij adalah sebagai berikut : Al Azariqah, merupakan pengikut dari Nafi bin al-Azraq, Mazhab ini memiliki beberapa prinsip seperti : Mereka mengkafirkan selain dari kelompok mereka, haram mengkosumsi semblihan dari selain kelompok mereka, dan juga haram menikahi yang bukan dari kelompok mereka, dan tidak boleh mendapat warisan selain dari kelompok mereka, dan bermuamalah dengan selain kelompok mereka sama dengan bermuamalah antara orang kafir dengan orang musrik. Al-Najdad, merupakan pengikut Najdah bin Amir, diantara prinsip mereka adalah : Tidak ada keperluan manusia kepada Imam selama-lamanya, namun sekiranya umat memerlukan pemimpin maka perlu diangkat, jika tidak diperlukan, maka tidak boleh diangkat
Semester II, Maret 2011 Kelompok IV 7

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

Al-Sufriyah, merupakan pengikut Ziyad bin al-Asfar, diantara prinsip mereka adalah pelaku dosa besar adalah Musrik, namun ada diantara mereka mengatakan bahwa setiap pelaku dosa sudah disediakan had nya dalam Syariah, pelakunya tidak dikatakan Musrik ataupun dinamakan sesuai dengan dosa yang mereka lakukan. Al-Ibadiyyah, merupakan pengikut Abdullah bin Ibad, kelompok ini adalah yang paling sederhana/moderat dan ajarannya mendekati faham ahlu Sunnah wal Jamaah, seperti : Sebagai contoh, kita bisa lihat, bahwa sesungguhnya mayoritas kalangan mazhabmazhab dari sekte al-Khawarij ini setuju bahwa pelaku dosa besar disebut kafir dan mereka kekal di dalam neraka Jahannam, pendapat ini merupakan pendapat dan prinsip umum dari al-Khawarij, dan semua mazhab tunduk dibawah prinsip ini dan tidak akan pernah berubah. Musrik, tetapi

F. Al Murjiah
Kata murjiah berasal dari suku kata bahasa arab Rajaa yang berarti kembali. Aliran Murji'ah adalah aliran Islam yang muncul dari golongan yang tak sepaham dengan Khawarij. Ini tercermin dari ajarannya yang bertolak belakang dengan Khawarij. Pengertian murji'ah sendiri ialah penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Allah SWT kelak. Jadi, mereka tak mengkafirkan seorang Muslim yang berdosa besar, sebab yang berhak menjatuhkan hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah SWT, sehingga seorang Muslim, sekalipun berdosa besar, dalam kelompok ini tetap diakui sebagai Muslim dan punya harapan untuk bertobat. Murjiah, baik sebagai kelompok politik maupun teologis, diperkirakan lahir bersamaan dengan kemunculaan syiah dan khawarij (Abdul Rozak dan Rosihan Anwar.Ilmu Kalam. CV Pustaka Setia,Bandung, 2007. Hal: 56). Pada mulanya kaum Murjiah merupakan golongan yang tidak mau turut campur dalam pertentangan - pertentangan yang terjadi ketika itu dan menyerahkan penentuan hukum kafir atau tidak kafirnya orang-orang yang bertentangan itu kepada Tuhan (Harun Nasution. Teologi Islam: Aliran- Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, UI-Press, Jakarta, 1986. Hal: 22). Lebih lanjut kelompok ini menganggap bahwasanya pembunuhan dan pertumpahan darah yang terjadi di kalangan kaum muslimin sebagai
Semester II, Maret 2011 Kelompok IV 8

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

suatu kejahatan yang besar. Namun mereka menolak menimpakan kesalahan kepada salah satu di antara kedua kelompok yang saling berperang (Abul Ala AlMaududi.Op. cit. 2007. Hal: 254). Awal Kemunculan Kelompok Murjiahh dapat dibagi menjadi 2 sebab yaitu: Permasalahan Politik, Ketika terjadi pertikaian antara Ali dan Muawiyah, dilakukanlahtahkim (arbitrase) atas usulan Amr bin Ash, seorang kaki tangan Muawiyah. Kelompok Ali terpecah menjadi 2 kubu, yang pro dan kontra. Kelompok kontra akhirnya keluar dari Ali yakni Khawarij. Mereka memandang bahwa tahkim bertentangan dengan Al-Quran, dengan

pengertian, tidak ber-tahkim dengan hukum Allah. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa melakukan tahkim adalah dosa besar, dan pelakunya dapat dihukumi kafir, sama seperti perbuata dosa besar yang lain (Abdul Rozak dan Rosihan Anwar.Op. Cit. 2007. Hal: 57). Seperti yang telah disebutkan di atas Kaum khawarij, pada mulanya adalah penyokong Ali bin Abi thalib tetapi kemudian berbalik menjadi musuhnya. Karena ada perlawanan ini, pendukung-pendukung yang tetap setia pada Ali bin Abi Thalib bertambah keras dan kuat membelanya dan akhirnya mereka merupakan golongan lain dalam islam yang dikenal dengan nama Syiah (Harun Nasution.Op. Cit. 1986. Hal: 22). Dalam suasana pertentangan inilah, timbul suatu golongan baru yang ingin bersikap netral tidak mau turut dalam praktek kafir mengkafirkan yang terjadi antara golongan yang bertentangan ini. Bagi mereka sahabat-sahabat yang bertentangan ini merupakan orang-orang yang dapat dipercayai dan tidak keluar dari jalan yang benar. Oleh karena itu mereka tidak mengeluarkan pendapat siapa sebenarnya yang salah, dan lebih baik menunda (arjaa) yang berarti penyelesaian persoalan ini di hari perhitungan di depan Tuhan. Gagasan irja atau arja yang dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat islam ketika terjadi pertikaian politik dan juga bertujuan menghindari sekatrianisme (Abdul Rozak dan Rosihan Anwar.Op. Cit. 2007. Hal: 56). Permasalahan Ke-Tuhanan, Dari permasalahan politik, mereka kaum Murjiah pindah kepada permasalahan ketuhanan (teologi) yaitu persoalan dosa besar yang ditimbulkan kaum khawarij, mau tidak mau menjadi perhatian dan pembahasan pula bagi mereka. Kalau kaum Khawarij menjatuhkan hukum kafir bagi orang yang membuat dosa besar, kaum Murjiah menjatuhkan
Semester II, Maret 2011 Kelompok IV 9

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

hukum mukmin (Harun Nasution.Op. Cit. 1986. Hal: 23). Pendapat penjatuhan hukum kafir pada orang yang melakukan dosa besar oleh kaum Khawarij ditentang sekelompok sahabat yang kemudian disebut Murjiah yang mengatakan bahwa pembuat dosa besar tetap mukmin, tidak kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah, apakah dia akan mengampuninya atau tidak (Abdul Rozak dan Rosihan Anwar.Op. Cit. 2007. Hal: 57). Aliran Murjiah menangguhkan penilaian terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu di hadapan Tuhan, karena hanya Tuhan-lah yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang melakukan dosa besar masih di anggap mukmin di hadapan mereka. Orang mukmin yang melakukan dosar besar itu dianggap tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya. Dengan kata lain bahwa orang mukmin sekalipun melakukan dosa besar masih tetap mengucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi dasar utama dari iman. Oleh karena itu, orang tersebut masih tetap mukmin, bukan kafir (Abuddin Nata.Ilmu Kalam, Filsafat dan Tassawuf, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. 1995. Hal: 33). Pandangan golongan ini dapat dilihat terlihat dari kata Murjiah itu sendiri yang berasal dari kata arjaa yang berarti orang yang menangguhkan, mengakhirkan dan memberikan pengaharapan. Menangguhkan berarti bahwa mereka menunda soal siksaan seseorang di tangan Tuhan, yakni jika Tuhan mau memaafkan ia akan langsung masuk surga, sedangkan jika tidak, maka ia akan disiksa sesuai dengan dosanya, setelah ia akan dimasukkan ke dalam surga. Dan mengakhirkan dimaksudkan karena mereka memandang bahan perbuatan atau amal sebagai hal yang nomor dua bukan yang pertama. Selanjutnya kata menangguhkan, dimaksudkan karena mereka menangguhkan keputusan hukum bagi orang-orang yang melakukan dosa di hadapan Tuhan. Disamping itu ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nama Murjiah yang diberikan pada golongan ini, bukan karena mereka menundakan penentuan hukum terhadap orang islam yang berdosa besar kepada Allah di hari perhitungan kelak dan bukan pula karena mereka memandang perbuatan mengambil tempat kedua dari iman, tetapi karena mereka memberi pengaharapan bagi orang yang berdosa besar untuk masuk surga (Harun Nasution.Op. Cit. 1986. Hal: 24).

Semester II, Maret 2011 Kelompok IV

10

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

Pembagian Kelompok Murjiah Pada umunmnya kaum Murjiah di golongkan menjadi dua golongan besar, yaitu: Golongan Moderat, Golongan moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka. Tetapi akan dihukum dalam neraka sesuai dengan besarnya dosa yang dilakukannya, dan ada kemungkinan bahwa tuhan akan mengampuni dosanya dan oleh karena itu tidak akan masuk neraka sama sekali. Golongan Murjiah yang moderat ini termasuk Al-Hasan Ibn Muhammad Ibn Ali bin Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan beberapa ahli Hadits. Menurut golongan ini, bahwa orang islam yang berdosa besar masih tetap mukmin. Dalam hubungan ini Abu Hanifah memberikan definisi iman sebagai berikut: iman adalah pengetahuan dan pengakuan adanya Tuhan, Rasul-rasul-Nya dan tentang segala yang datang dari Tuhan dalam keseluruhan tidak dalam perincian; iman tidak mempunyai sifat bertambah dan berkurang, tidak ada perbedaan manusia dalam hal iman (Abuddin Nata. Op. Cit. 1995. Hal: 34). Dengan gambaran serupa itu, maka iman semua orang islam di anggap sama, tidak ada perbedaan antara iman orang islam yang berdosa besar dan iman orang islam yang patuh menjalankan perintah-perinyah Allah. Jalan pikiran yang dikemukakan oleh Abu Hanifah itu dapat membawa kesimpulan bahwa perbuatan kurang penting dibandingkan dengan iman. Golongan Murjiah Ekstrim, Adapun yang termasuk ke dalam kelompok ekstrim adalah Kelompok Al-Jahmiyah Adapun golongan Murjiah ekstrim adalah Jahm bin Safwan dan pengikutnya disebut al-Jahmiah. Golongan ini berpendapat bahwa orang Islam yang percaya pada Tuhan, kemudian menyatakan kekufurannya secara lisan, tidaklah menjadi kafir, karena kafir dan iman tempatnya bukan dalam bagian tubuh manusia tetapi dalam hati sanubari. Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa orang yang telah menyatakan iman, meskipun menyembah berhala, melaksanakan ajaran-ajaran agama Yahudi degan

menyembah berhala atau Kristen degan menyembah salib, menyatakan percaya pada trinitas, kemudian mati, tidaklah menjadi kafir, melainkan tetap mukmin dalam pandangan Allah. Dan orang yang demikian bagi Allah merupakan mukmin yang sempurna imannya (Harun Nasution.Op. Cit. 1986. Hal: 26). Kelompok Ash-Shalihiyah Bagi kelompok pengikut Abu Al-Hasan Al-Salihi iman adalah megetahui Tuhan dan Kufr adalah tidak tahu pada Tuhan. Dalam pengertian
Semester II, Maret 2011 Kelompok IV 11

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

bahwa mereka sembahyang tidaklah ibadah kepada Allah, karena yang disebut ibadat adalah iman kepadanya, dalam arti mengetahui Tuhan. Begitu pula zakat, puasa dan haji bukanlah ibadah melainkan sekedar mengamabrkan kepatuhan (Abdul Rozak dan Rosihan Anwar.Op. Cit. 2007. Hal: 61). Kelompok Al-Yunusiyah dan Kelompok Al-Ubaidiyah Melontarkan pernyataan bahwa melakukan maksiat atau perbuatan jahat tidaklah merusak iman seseorang. Mati dalam iman, dosa-dosa dan perbuatan- perbuatan jahat yang dikerjakan tidaklah merugikan orang yang bersangkutan. Dalam hal ini, Muqatil bin Sulaiman berpendapat bahwa perbuatan jahat banyak atau sedikit, tidak merusak iman seseorang sebagai musyrik (politheist). Kaum Yunusiyah yaitu pengikut- pengikut Yunus ibnu Aun an Numairi berpendapat bahwa iman itu adalah mengenai Alla, dan menundukkan diri padanya dan mencintainya sepenuh hati. Apabila sifat-sifat tersebut sudah terkumpul pada diri seseorang, maka dia adalah mukmin. Adapun sifat-sifat lainnya, seperti taat misalnya, bukanlah termasuk iman, dan orang yang meninggalkan bukanlah iman, dan orang yang meninggalkan ketaatan tidak akan disiksa karenanya, asalkan saja imannya itu benar-benar murni dan keyakinannya itu betul- betul benar (A. Syalabi,Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid II, PT Pustaka Al-Husa baru, Jakarta. 2003. Hal: 296. Kelompok Al-Hasaniyah Kelompok ini mengatakan bahwa, saya tahu tuhan melarang makan babi, tetapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini, maka orang tersebut tetap mukmin bukan kafir. Begitu pula orang yang mengatakan saya tahu Tuhan mewajibkan naik haji ke Kabah, tetapi saya tidak tahu apakah Kabah di India atau di tempat lain, orang yang demikian juga tetap mukmin (Harun Nasution.Op. Cit. 1986. Hal: 27). Doktrin Pemikiran Kelompok Murjiah Secara umum kelompok Murjiah menyusun teori-teori keagamaan yang independen, sebagai dasar gerakannya, yang intisarinya sebagai berikut (Abul Ala Al-Maududi.Op. cit. 2007. Hal: 254): 1. Iman adalah cukup dengan mengakui dan percaya kepada Allah dan Rasulnya saja. Adapun amal atau perbuatan, tidak merupakan sesuatu keharusan bagai adanya iman. Berdasarkan hal ini, seseorang tetap dianggap sebagai mukmin walaupun ia

Semester II, Maret 2011 Kelompok IV

12

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

meninggalkan apa yang difardhukan kepadanya dan melakukan perbuatan-perbuatan dosa besar. 2. Dasar keselamatan adalah iman semata-mata. Selama masih ada iman dihati, maka setiap maksiat tidak akan mendatangkanmudharat ataupun gangguan atas diri seseorang. Untuk mendapatkan pengampunan, manusia hanya cukup dengan menjauhkan diri syirik dan mati dalam keadaan akidah tauhid. Dengan kata lain, kelompok murjiah memandang bahwa perbuatan atau amal tidaklah sepenting iman, yang kemudian meningkat pada pengertian bahwa, hanyalah imanlah yang penting dan yang menentukan mukmin atau tidak mukminnya seseorang; perbuatanperbuatan tidak memiliki pengaruh dalam hal ini. Iman letaknya dalam hati seseorang dan tidak diketahui manusia lain.

G. Al Qadariyah
Latar Belakang Lahirnya Aliran Qadariyah Pengertian Qadariyah secara etomologi, berasal dari bahasa Arab, yaitu qadara yang bemakna kemampuan dan kekuatan. Adapun secara termenologi istilah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diinrvensi oleh Allah. Aliran-aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Aliran ini lebih menekankan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbutan-perbutannya. Harun Nasution menegaskan bahwa aliran ini berasal dari pengertian bahwa manusia menusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan.( Lihat Rosihan Anwar, op.cit., h. 70; Abudin Nata, op.cit., h. 36; Hadariansyah, op.cit., h. 68) Menurut Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Dr. Hadariansyah, orangorang yang berpaham Qadariyah adalah mereka yang mengatakan bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan memiliki kemampuan dalam melakukan perbuatan. Manusia mampu melakukan perbuatan, mencakup semua perbuatan, yakni baik dan buruk.( Hadariansyah, loc.cit.,) Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih merupakan sebuah perdebatan. Akan tetepi menurut Ahmad Amin, ada sebagian pakar teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh
Semester II, Maret 2011 Kelompok IV 13

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

Mabad al-Jauhani dan Ghilan ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M. (Hadariansyah, loc.cit.,; Harun Nasution, op.cit., h. 32; Rosihan Anwar, op.cit., h. 71) Ibnu Nabatah menjelaskan dalam kitabnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad Amin, aliran Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh orang Irak yang pada mulanya beragama Kristen, kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen. Namanya adalah Susan, demikian juga pendapat Muhammad Ibnu Syuib. Sementara W. Montgomery Watt menemukan dokumen lain yang menyatakan bahwa paham Qadariyah terdapat dalam kitab ar-Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul Malik oleh Hasan al-Basri sekitar tahun 700M.( Rosihan Anwar, op.cit., h. 68) Ajaran-ajaran Qadariyah Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghalian tentang ajaran Qadariyah bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbutannya. Manusia sendirilah yang melakukan baik atas kehendak dan kekuasaan sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbutan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. Tokoh an-Nazzam menyatakan bahwa manusia hidup mempunyai daya, dan dengan daya itu ia dapat berkuasa atas segala perbuatannya. (Harun Nasution, op.cit., h. 31). Dengan demikian bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memperoleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya. Ganjaran kebaikan di sini disamakan dengan balasan surga kelak di akherat dan ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akherat, itu didasarkan atas pilihan pribadinya sendiri, bukan oleh takdir Tuhan. Karena itu sangat pantas, orang yang berbuat akan mendapatkan balasannya sesuai dengan tindakannya.( Rosihan Anwar, op.cit., h. 73) Faham takdir yang dikembangkan oleh Qadariyah berbeda dengan konsep yang umum yang dipakai oleh bangsa Arab ketika itu, yaitu paham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu. Dalam perbuatannya, manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah ditentukan sejak azali terhadap dirinya. Dengan demikian takdir adalah ketentuan Allah yang diciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya, sejak azali, yaitu hokum yang dalam istilah Alquran adalah sunnatullah. Secara alamiah sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak dapat diubah. Manusia dalam demensi fisiknya tidak dapat bebruat lain, kecuali mengikuti hokum alam. Misalnya manusia
Semester II, Maret 2011 Kelompok IV 14

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

ditakdirkan oleh Tuhan kecuali tidak mempunyai sirip seperti ikan yang mampu berenang di lautan lepas. Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan seperti gajah yang mampu membawa barang seratus kilogram. Dengan pemahaman seperti ini tidak ada alasan untuk menyandarkan perbuatan kepada Allah. Di antara dalil yang mereka gunakan adalah banyak ayat-ayat Alquran yang berbicara dan mendukung paham itu. a. QS al-Kahfi: 29 . .. Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir" b. QS Ali Imran: 165


Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu Telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

H. Al Jabariyah
Latar Belakang Lahirnya Jabariyah Secara bahasa Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung pengertian memaksa. Di dalam kamus Munjid dijelaskan bahwa nama Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Salah satu sifat dari Allah adalah al-Jabbar yang berarti Allah Maha Memaksa. Sedangkan secara istilah Jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur). (Rosihan Anwar, Ilmu Kalam, (Bandung: Puskata Setia, 2006), cet ke-2, h. 63) Menurut Harun Nasution Jabariyah adalah paham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah. Maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak
Semester II, Maret 2011 Kelompok IV 15

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

berdasarkan kehendak manusia, tapi diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendakNya, di sini manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat, karena tidak memiliki kemampuan. Ada yang mengistilahlkan bahwa Jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya.( Harun Nasution, op.cit., h. 31). Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya penjelelasan yang sarih. Abu Zahra menuturkan bahwa paham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa Bani Umayyah. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah Qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan.( Tim, Enseklopedi Islam, "Jabariyah" (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1997), cet ke-4, h. 239) Adapaun tokoh yang mendirikan aliran ini menurut Abu Zaharah dan al-Qasimi adalah Jahm bin Safwan,( Adapun riwayat Jahm tidak diketahui dengan jelas, akan tetapi sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa dia berasal dari Khurasan yang juga dikenal dengan tokoh murjiah, dan sebagai pemuka golongan Jahmiyah. Karena kelerlibatanya dalam gerakan melawan kekuasaan Bani Umayyah, sehingga dia ditangkap.) yang bersamaan dengan munculnya aliran Qadariayah. Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyatakat arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan disekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukarankesukaran hidup. Artinya mereka banyak tergantung dengan Alam, sehingga menyebabakan mereka kepada paham fatalisme. Benih-benih faham al-Jabar juga dapat dilihat dalam beberapa peristiwa sejarah. Ketika Khalifah Ali bin Abu Thalib ditanya tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan siksa dan pahala. Orang tua itu bertanya,"apabila perjalanan (menuju perang siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan, tidak ada pahala sebagai balasannya. Kemudian Ali menjelaskannya bahwa Qadha dan Qadha Tuhan bukanlah sebuah paksaan. Pahala dan siksa akan didapat berdasarkan atas amal perbuatan manusia. Kalau itu sebuah paksaan, maka tidak ada pahala dan siksa, gugur pula janji dan ancaman Allah, dan tidak pujian bagi orang yang baik dan tidak ada celaan bagi orang berbuat dosa. Di samping adanya bibit pengaruh faham jabar yang telah muncul dari pemahaman terhadap ajaran Islam itu sendiri. Ada sebuah pandangan mengatakan bahwa aliran Jabar muncul karena adanya pengaruh dari dari pemikriran asing, yaitu pengaruh agama Yahudi bermazhab Qurra dan agama Kristen bermazhab Yacobit.

Semester II, Maret 2011 Kelompok IV

16

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

Dengan demikian, latar belakang lahirnya aliran Jabariyah dapat dibedakan kedalam dua factor, yaitu factor yang berasal dari pemahaman ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah, yang mempunyai paham yang mengarah kepada Jabariyah. Lebih dari itu adalah adanya pengaruh dari luar Islam yang ikut andil dalam melahirkan aliran ini. Adapun yang menjadi dasar munculnya paham ini adalah sebagai reaksi dari tiga perkara: pertama, adanya paham Qadariyah, keduanya, telalu tekstualnya pamahaman agama tanpa adanya keberanian menakwilkan dan ketiga adalah adanya aliran salaf yang ditokohi Muqatil bin Sulaiman yang berlebihan dalam menetapkan sifat-sifat Tuhan sehingga membawa kepada Tasybih. (Ali Syami anNasyar, Nasy'at al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam, (Cairo: Dar al-Ma'arif, 1977), h. 335) Ajaran-ajaran Jabariyah Adapun ajaran-ajaran Jabariyah dapat dibedakan berdasarkan menjadi dua kelompok, yaitu aliran ekstrim, Di antara tokoh adalah Jahm bin Shofwan dengan pendapatnya adalah bahwa manusia tidak mempu untuk berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan. Pendapat Jahm tentang keterpaksaan ini lebih dikenal dibandingkan dengan pendapatnya tentang surga dan neraka, konsep iman, kalam Tuhan, meniadakan sifat Tuhan, dan melihat Tuhan di akherat. Surga dan nerka tidak kekal, dan yang kekal hanya Allah. Sedangkan iman dalam pengertianya adalah ma'rifat atau membenarkan dengan hati, dan hal ini sama dengan konsep yang dikemukakan oleh kaum Murjiah. Kalam Tuhan adalah makhluk. Allah tidak mempunyai keserupaan dengan manusia seperti berbicara, mendengar, dan melihat, dan Tuhan juga tidak dapat dilihat dengan indera mata di akherat kelak.( Rosihan Anwar, op.cit., h. 67-68; Lihat juga Hadariansyah, Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Islam, (Banjarmasin: Antasari Press, 2008), h. 79-80) Aliran ini dikenal juga dengan nama al-Jahmiyyah atau Jabariyah Khalisah.(Hadariansyah, loc.cit; Lihat asy-Syahrastani, al-Milal wa anNihal, (Beirut-Libanon: Dar al-Kurub al-'Ilmiyah, t.th) Ja'ad bin Dirham, menjelaskan tentang ajaran pokok dari Jabariyah adalah Alquran adalah makhluk dan sesuatu yang baru dan tidak dapat disifatkan kepada Allah. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk, seperti berbicara, melihat dan mendengar. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala hal. Ajaran Jabariyah yang moderat adalah Tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik itu positif atau negatif, tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan
Semester II, Maret 2011 Kelompok IV 17

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

perbuatannya. Manusia juga tidak dipaksa, tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan tuhan. Tokoh yang berpaham seperti ini adalah Husain bin Muhammad an-Najjar yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatanperbuatan itu dan Tuhan tidak dapat dilihat di akherat. Sedangkan adh-Dhirar (tokoh jabariayah moderat lainnya) pendapat bahwa Tuhan dapat saja dilihat dengan indera keenam dan perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pihak.( Ibid., Abudin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), h. 41-42; Yusran Asmuni, Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h. 75).

Semester II, Maret 2011 Kelompok IV

18

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

BAB PENUTUPAN
Semua aliran teologi dalam islam, termasuk mutazilah yang menggunakan akal dalam menyelesaikan persoalan-persoalan teologi yang timbul dikalangan umat manusia. Perbedaan yang terdapat antara aliran-aliran itu adalah perbedaan dalam derajat kekuatan yang diberikan kepada akal. Semua aliran juga berpegang teguh kepada wahyu. Dalam hal ini perbedaan yang terdapat antara aliran-aliran itu hanyalah perbedaan dalam interpretasi mengenai teks ayat-ayat al quran dan hadis. Perbedaan dalan interpretasi inilah sebenarnya yang menimbulkan perbedaan. Dengan demikian tiap orang islam bebas memilih salah satu dari aliran-aliran teologi tersebut sepanjang masih sesuai akidah islam sebagaimana yang diwariskan oleh Rasulullah SAW, sahabat ra. Dan para ulama pewaris para nabi.

Semester II, Maret 2011 Kelompok IV

19

Ilmu Kalam - Al Khawarij, Al Murjiah, Al Qadariyah dan Al Jabariyah

DAFTAR PUSTAKA
Ln, Komaruzzaman, Materi Ilmu Kalam. Bekasi: MA Annida al islami Atang abdul hakim, Drs, dkk. Metedologi studi islam, Bandung: PT remaja rosdakarya. Internet, http://uin-suska.ac.id/ushuluddin/attachments/073_Afrizal.pdf Idem, http://balikpapankota.depag.go.id/AlQuranDigital/s002a207.htm Idem, http://kalamstai.blogspot.com/2009/03/aliran-khawarij.html Idem, http://www.scribd.com/doc/18933274/Aliran-Pemikiran-MurjiAh Idem, http://c.1asphost.com/sibin/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=18 Idem, http://www.abatasa.com/pustaka/alquran-cari//46 Idem, http://c.1asphost.com/sibin/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=76#Top Idem, http://ahmad-mubarak.blogspot.com/2008/09/ilmu-kalam.html Idem, http://sulufiyyah.blogspot.com/2010/05/ilmu-kalam.html

Semester II, Maret 2011 Kelompok IV

20