Anda di halaman 1dari 15

Teknologi Pengolahan Penepungan Dan Pengeringan (Tepung Singkong)

TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN PENEPUNGAN DAN PENGERINGAN TEPUNG SINGKONG (Manihot esculenta) Anita Nugroho, Dandy Yusuf, Sofia W, Samba Kemal INTISARI
Tepung adalah partikel padat yang berbentuk butiran halus atau sangat halus tergantung pemakaiannya. Tujuan dari percobaan pembuatan tepung adalah untuk menurunkan kadar air pada bahan pangan sampai batas tertentu sehingga meminimalkan serangan mikroba enzim dan insekta perusak dan menghasilkan bahan pangan siap diolah lebih lanjut. Prinsip dari percobaan pembuatan tepung adalah berdasarkan perpindahan panas secara konduksi dan konveksi, pengurangan kadar air sampai batas tertentu dan dilanjutkan dengan prosesreduksi sampai berukuran 100 mesh, sehingga bahan berbentuk tepung. Berdasarkan hasil percobaan pembuatan tepung dengan cara blanching didapatkan berat produk 113 gram dengan persentase produk 37,67%, dan lost product sebanyak 1 gram, secara organoleptik tepung singkong mempunyai warna agak putih, aroma khas singkong, tekstur kasar, kenampakan kurang menarik, dan rasa agak tawar. Pembuatan tepung dengan cara direndam dengan Na2S2O5 didapatkan berat produk 98 gram dengan persentase produk 32,67%, dan lost product sebanyak 1 gram, secara organoleptik tepung singkong mempunyai warna sangat putih, aroma khas singkong, tekstur halus, kenampakan sangat menarik, dan rasa tawar. Pembuatan tepung dengan cara direndam dengan air didapatkan berat produk 99 gram dengan persentase produk 24,75%, dan lost product sebanyak 3 gram, secara organoleptik tepung singkong mempunyai warna putih, aroma khas singkong, tekstur agak kasar, kenampakan menarik, dan rasa agak tawar. Kata kunci : Penepungan, Pengeringan, Tepung Singkong.

PENDAHULUAN Latar Belakang Serealia dan umbi-umbian banyak tumbuh di Indonesia. Produksi serealia terutama beras sebagai bahan pangan pokok dan umbi-umbian cukup tinggi. Begitu pula dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan akan serealia dan umbi-umbian sebagai sumber energi pun terus meningkat. Tanaman dengan kadar karbohidrat tinggi seperti halnya serealia dan umbi-umbian pada umumnya tahan terhadap suhu tinggi. Serealia dan umbi-umbian sering dihidangkan dalam bentuk segar, rebusan atau

kukusan, hal ini tergantung dari selera. Usaha penganekaragaman pangan sangat penting artinya sebagai usaha untuk mengatasi masalah ketergantungan pada satu bahan pangan pokok saja. Misalnya dengan mengolah serealia dan umbiumbian menjadi berbagai bentuk awetan yang mempunyai rasa khas dan tahan lama disimpan. Bentuk olahan tersebut berupa tepung, gaplek, tapai, keripik dan lainya. Hal ini sesuai dengan program pemerintah khususnya dalam mengatasi masalah kebutuhan bahan pangan, terutama non-beras. Ubi kayu atau singkong merupakan salah

Teknologi Pengolahan Penepungan Dan Pengeringan (Tepung Singkong)

satu bahan makanan sumber karbohidrat (sumber energi). Ubi kayu dalam keadaan segar tidak tahan lama. Untuk pemasaran yang memerlukan waktu lama, ubi kayu harus diolah dulu menjadi bentuk lain yang lebih awet, seperti gaplek, tapioka (tepung singkong), tapai, peuyeum, keripik singkong dan lain-lain (Anoim, 2011). Tepung singkong adalah tepung yang dibuat secara langsung dari singkong yang dikeringkan dan dijadikan tepung, tetapi bukan dibuat gaplek sehingga warnanya masih keputihan. Tepung inilah yang kemudian diolah menjadi mi dan hasil masakan dari mi ini tetap nikmat. Hal ini bergantung pada bagaimana mengolah resepnya dan campuran isinya (Soenardi, 2010). Sebelum dilakukannya proses penepungan dan siap diolah untuk menghasilkan bahan yang siap untuk diolah lebih lanjut, terlebih dahulu bahan hasil pertanian mengalami proses pengeringan sebagai salah satu upaya pengawetan. Pengeringan adalah proses perpindahan panas dan uap air secara simultan, yang memerlukan energi panas untuk menguapkan kandungan air yang dipindahkan dari permukaan bahan, yang dikeringkan oleh media

pengering yang biasanya berupa panas. Pengeringan pangan berarti pemindahan air dengan sengaja dari bahan pangan. Pada kebanyakan peristiwa, pengeringan berlangsung dengan penguapan air yang terdapat di dalam bahan pangan dan untuk ini panas laten penguapan harus diberikan. Pengeringan adalah metode tertua pada pengawetan bahan pangan (Wirakartakusumah, 1992). Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan pembuatan tepung adalah untuk menurunkan kadar air pada bahan pangan sampai batas tertentu sehingga meminimalkan serangan mikroba enzim dan insekta perusak dan menghasilkan bahan pangan siap diolah lebih lanjut. Prinsip Percobaan Prinsip dari percobaan pembuatan tepung adalah berdasarkan perpindahan panas secara konduksi dan konveksi, pengurangan kadarair sampai batas tertentu dan dilanjutkan dengan prosesreduksi sampai berukuran 100 mesh, sehingga bahan berbentuk tepung.

Teknologi Pengolahan Penepungan Dan Pengeringan (Tepung Singkong)

BAHAN, ALAT DAN METODA PERCOBAAN Bahan yang Digunakan Bahan-bahan yang digunakan untuk percobaan ini adalah singkong, air, Na2S2O5. Alat-alat yang Digunakan Alat-alat yang digunakan dalam percobaan adalah slicer, timbangan, panci, tray, oven, ayakan 60 mesh, pisau, tunnel dryer, dan plastik sampel. Metoda Percobaan Metode percobaan pembuatan tepung ubi kayu adalah ubi kayu disortasi berdasarkan ukuran dan sortasi juga bertujuan untuk memisahkan bahan dari kotoran.

Proses selanjutnya adalah trimming. Trimming bertujuan untuk memisahkan bahan yang tidak akan digunakan dengan bahan yang akan digunakan. Pada ubi kayu bahan yang tidak digunakan berupa kulit.

Gambar 3. Proses Trimming Setelah dikupas, ubi kayu dicuci. Pencucian bertujuan untuk membersihkan bahan baku dari kotoran yang menempel pada daging singkong. Pencucian dilakukan dengan menggunakan air bersih dan menghasilkan limbah air kotor.

Gambar 1. Proses Sortasi Ubi Kayu Setelah dilakukan sortasi, ubi kayu ditimbang untuk mengetahui berat dari ubi kayu. Ubi kayu ditimbang sesuai dengan basisnya Gambar 4. Proses Pencucian Setelah bahan baku bersih, dilakukan pengirisan. Pengirisan bertujuan untuk memperkecil ukuran ubi kayu dan memperluas permukaan bahan sehingga mempermudah proses selanjutnya.

Gambar 2. Proses Penimbangan

Teknologi Pengolahan Penepungan Dan Pengeringan (Tepung Singkong)

Proses selanjutnya adalah blansir, blansir bertujuan untuk inaktifasi enzim yang terdapat pada singkong proses ini menggunakan uap air. Gambar 5. Proses Pengirisan Setelah diiris bahan dilakukan proses perendaman dengan air, perendaman dengan Na2S2O5 dan proses blanching. Proses perendaman dengan air bertujuan agar ubi kayu tidak mengalami browning enzimatis sehingga ubi kayu tetap berwarna putih.

Gambar 8. Blanching Setelah proses blansir dan perendamaan bahan kemudian ditiriskan untuk membuang kotoran serta residu.

Gambar 6. Proses Perendaman dengan air. Perendamaan dengan Na2S2O5 bertujuan untuk mencegah terjadinya browning enzimatis pada bahan dan natrium meta bisulfit juga berfungsi sebagai bahan pemucat sehingga tepung tampak lebih putih serta dapat mengurangi kandungan HCN pada bahan.

Gambar 9. Penirisan Setelah ditiriskan bahan disusun diatas tray lalu kemudian di keringkan selama 6-7 jam pada suhu 70oC sampai bahan benar-benar kering. Pengeringan bertujuan untuk memperpanjang umur simpan karena kadar air dikurangi hingga batas tertentu sehingga kegiatan atau aktifitas mikroorganisme dan enzim terhenti ataupun terhambat.

Gambar 7. Proses Perendaman dengan Na2S2O5

Teknologi Pengolahan Penepungan Dan Pengeringan (Tepung Singkong)

Gambar 10. Proses Penyusunan pada tray Gambar 13. Proses Pengayakan Tepung hasil pengayakan kemudian ditimbang. Penimbangan ini bertujuan untuk mengetahui berat tepung yang dihasilkan dari proses pengeringan. Kemudian dilakukan proses pengamatan. pengamatan bertujuan untuk mengamati tepung secara organoleptik dan menghitung persen produk.

Gambar 11. Pengeringan dengan tunnel dryer Setelah proses pengeringan, maka dilakukan proses penggilingan. Penggilingan bertujuan untuk menghaluskan ubi kayu yang sudah dikeringkan sehingga menjadi tepung

Gambar 14. Tepung Singkong

Gambar 12. Proses Penggilingan Proses selanjutnya adalah proses pengayakan menggunakan ayakan yang berukuran 60 mesh. Pengayakan bertujuan untuk memisahkan antara tepung halus dan tepung yang kasar sehingga tepung yang lolos atau tepung halus memiliki ukuran yang seragam.

Teknologi Pengolahan Penepungan Dan Pengeringan (Tepung Singkong)

Umbi-umbian

Sortasi

Kotoran dan benda asing

Penimbangan

Trimming

Kulit

Air Bersih

Pencucian

Air kotor

Penimbangan :3

Reduksi Ukuran (Pengirisan)


Air + Na2S2O5 sisa

Air

Blancing t=5'

Uap air

Air + Na2S2O5

Perendaman dengan Na2S2O5

Air Bersih

Perendaman dgn air

Air kotor

Reduksi Ukuran (Pengirisan) Pengeringan T = 70C, t = 5 jam

Air + Residu

Penggilingan

Pengayakan Tepung Penimbangan

Tepung Kasar

Pengamatan

Gambar 15. Diagram Alir Proses Pembuatan Tepung Singkong

Teknologi Pengolahan Penepungan Dan Pengeringan (Tepung Singkong)

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Hasil Percobaan Berdasarkan pengamatan terhadap tepung singkong pada pengolahan

penepungan dan pengeringan yang telah dilakukan maka dapat diperoleh hasil yang dapatdilihat pada table berikut :

No 1 2 3 4 5 6 7 7.1 7.2 7.3 7.4 7.5 8

Tabel 1. Hasil Pengamatan Pembuatan Tepung Singkong Hasil Pengamatan Analisa 1 2 3 Nama Produk Tepung Singkong Basis 400 gram 300 gram 300 gram Berat Produk 99 gram 98 gram 113 gram Bahan Utama Singkong Proses Produk Direndam Air Direndam Na2S2O5 Blanching Bahan Air Na2S2O5 Tambahan Organoleptik Warna Putih Sangat Putih Agak Putih Aroma Khas Singkong Khas Singkong Khas Singkong Tekstur Agak Kasar Halus Kasar Kenampakan Menarik Sangat menarik Kurang Menarik Rasa Agak Tawar Tawar Agak Tawar Gambar Produk

(Sumber: Kelompok B, Meja 1, 2011) Pembahasan Berdasarkan hasil percobaan pembuatan tepung dengan cara blanching didapatkan berat produk 113 gram dengan persentase produk 37,67%, dan lost product sebanyak 1 gram, secara organoleptik tepung singkong mempunyai warna agak putih, aroma khas singkong, tekstur kasar, kenampakan kurang menarik, dan rasa agak tawar. Pembuatan tepung dengan cara direndam dengan Na2S2O5 didapatkan berat produk 98 gram dengan persentase produk 32,67%, dan lost product sebanyak 1 gram, secara organoleptik tepung singkong mempunyai warna sangat putih, aroma khas singkong, tekstur halus, kenampakan sangat menarik, dan rasa tawar. Pembuatan tepung dengan cara direndam dengan air didapatkan berat produk 99 gram dengan persentase produk 24,75%,

Teknologi Pengolahan Penepungan Dan Pengeringan (Tepung Singkong)

dan lost product sebanyak 3 gram, secara organoleptik tepung singkong mempunyai warna putih, aroma khas singkong, tekstur agak kasar, kenampakan menarik, dan rasa agak tawar. Tepung singkong dibuat dari potongan ubi kayu yang telah kering, kemudian dihaluskan. Ubi kayu yang digunakan harus baik dan sudah tua, sehingga tepung yang dihasilkanpun baik. Ubi kayu yang berumur 6 bulan kadar airnya masih sangat tinggi sehingga zat tepungnya hanya sedikit. Tepung singkong dipakai sebagai bahan membuat makanan (Anonim, 2011). Singkong yang telah kering, kemudian digiling dan ditimbang untuk mengetahui berat awal tepung sebelum pengayakan, biasanya terjadi lost product antara berat tepung sebelum pengayakan dengan berat tepung setelah diayak. Hal ini terjadi karena kesalahan pada saat pengayakan yang menyebabkan tepung banyak yang terbuang, dan juga tepung yang masih menenpel pada ayakan. Penambahan larutan Na2S2O5 bertujuan untuk mecegah terjadinya browning pada bahan yang akan merusak tampilan dari bahan jika diolah menjadi tepung nantinya. Selain dengan menggunakan Na2S2O5 untuk mencegah terjadinya browning dapat dilakukan dengan cara blanching dengan uap air. Tujuan dari pengeringan yaitu untuk menghilangkan kadar air dalam suatu bahan pangan. Dalam pengeringan air yang teruapkan merupakan air bebas yang tidak terikat pada senyawa kimia (Winarno, 1997). Proses pengeringan bahan O dilakukan dengan suhu 70 C selama

6-7 jam agar tidak terjadi overheating yang akan menyebabkan bahan menjadi browning dan gosong sehingga tepung yang dihasilkan akan kurang baik pada penampakannya. Waktu yang digunakan 6-7 jam agar pengeringan terjadi merata dan tidak terjadi case hardening. Kombinasi suhu dan waktu pada proses pengeringan sangat menentukan dari hasil tepung. HTST (High Temperature Short Time) pengeringan dengan menggunakan suhu yang tinggi maka waktu pengeringan lebih sebentar dibandingkan dengan LTLT (Long Temperature Long Time) pengeringan dengan suhu yang rendah membutuhkan waktu yang lebih lama. Bila dibandingkan hasil tepung, tepung yang menggunakan LTLT lebih baik dalam hal warna karena pengeringan dengan HTST seakan kadar air yang ada dalam bahan dipaksa untuk keluar agar pengeringan lebih cepat dan hasilnya pun kurang maksimal. Sisa yang lolos pada proses pengayakan masih cukup banyak hal ini dapat terjadi karena proses pengeringan yang kurang sehingga akan terjadi case hardening. Case hardening merupakan kejadian dimana air yang terdapat dalam bahan terkurung dan tidak dapat menguap karena tertutupnya pori-pori permukaan sehingga bahan akan kering diluar dan basah di dalam bahan tersebut. Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat proses pengeringan adalah suhu dan tekanan yang harus benar-benar diatur dan disesuaikan dengan kondisi bahan, seperti ketebalan bahan dan luas permukaan bahan.

Teknologi Pengolahan Penepungan Dan Pengeringan (Tepung Singkong)

Faktor-faktor pengendali kecepatan pengeringan selama proses pada periode kecepatan konstan adalah : 1) luas permukaan pengeringan, 2) perbedaan suhu bola kering dengan suhu bola basah udara pengeringan, dan 3) koefisien pindah massa dan pindah panas (Wirakartakusumah, 1992). Alat-alat yang digunakan harus benar-benar bebas dari kontaminan, baik fisik, kimia, ataupun mikroorganime. Tepung yang telah jadi harus dilihat apakah benar-benar bersih. Selain itu produk yang telah mengalami pengeringan biasanya akan lebih bersifat higroskopis (menyerap air), sebaiknya setelah diayak tepung singkong langsung dikemas untuk menghindari hal tersebut agar tepung tidak menyerap air dan tidak menggumpal sehingga tepung singkong pun menjadi lebih

tahan lama dan memiliki kualitas yang baik. Berdasarkan uji organoleptik pada bahan, dengan 3 perlakuan, setiap perlakuan mempunyai hasil yang berbeda-beda. Secara keseluruhan, hasil yang paling baik adalah tepung yang direndam oleh larutan Na2S2O5. Dari ketiga hasil pengamatan , bila dibandingkan dengan SNI, kualitas tepung yang direndam dengan air mempunyai mutu yang baik karena bau, rasa, dan warna sesuai dengan SNI. Tepung yang direndam dengan Na2S2O5 mempunyai bau dan rasa yang sesuai dengan SNI, hanya warna tepung yang direndam dengan Na2S2O5 lebih putih, tepung yang diblanching mempunyai baud an rasa yang sesuai dengan SNI hanya warna tepung lebih pucat.

Teknologi Pengolahan Penepungan Dan Pengeringan (Tepung Singkong)

Tabel 2. Syarat Mutu Tepung Singkong


No. 1. 1.1 1.2 1.3 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Jenis uji Keadaan Bau Rasa Warna Benda-benda asing Serangga Jenis pati Abu, % b/b Air, % b/b Derajat putih, b/b (BaSO4 = 100%) Serat kasar, % b/b Derajat asam (ml N NaOH/100g) Asam sianida Kehalusan (lolos ayakan 80 mesh), % Pati, % b/b Bahan tambahan makanan (bahan pemutih dan pematang tepung) Cemaran logam Timbal (Pb) Tembaga (Cu) Seng (Zn) Raksa (Hg) Arsen (As) Cemaran mikroba Angka lempeng E. Coli Kapang Satuan mg/kg Persyaratan Khas singkong Khas singkong Putih Tidak boleh ada Tidak boleh ada Khas singkong maks. 1,5 maks. 1,2 min. 85 maks. 4 maks.3 maks. 40 min. 90 min. 75 Sesuai SNI 01-0222-1995

12. 13.

14. 14.1 14.2 14.3 14.4 15. 16. 16.1 16.2 16.3

mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg koloni/g koloni/g koloni/g

maks. 1,0 maks. 10,0 maks. 40,0 maks. 0,05 maks. 0,5 maks. 1,0 x 105 maks. 10 maks. 1,0 x 104

( Sumber : SNI 01-2997-1995 ) KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan pembuatan tepung dengan cara blanching didapatkan berat produk 113 gram dengan persentase produk 37,67%, dan lost product sebanyak 1 gram, secara organoleptik tepung singkong mempunyai warna agak putih, aroma khas singkong, tekstur kasar, kenampakan kurang menarik, dan rasa agak tawar. Pembuatan tepung dengan cara direndam dengan Na2S2O5 didapatkan berat produk 98 gram dengan persentase produk 32,67%, dan lost product sebanyak 1 gram, secara organoleptik tepung singkong mempunyai warna sangat putih, aroma khas singkong, tekstur halus, kenampakan sangat menarik, dan rasa tawar. Pembuatan tepung dengan cara direndam dengan air didapatkan berat produk 99 gram dengan persentase produk 24,75%, dan lost product sebanyak 3 gram, secara organoleptik tepung singkong mempunyai warna putih, aroma khas singkong, tekstur agak kasar, kenampakan menarik, dan rasa agak tawar.

Teknologi Pengolahan Penepungan Dan Pengeringan (Tepung Singkong)

Saran Saran yang dapat diberikan oleh penulis sebaiknya setelah diiris bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan tepung harus segera diberikan perlakuan misalnya direndam dengan air agar tidak terjadi browning enzimatis, dan sebaiknya diiris setipis mungkin agar proses pengering dapat berlangsung dengan cepat. DAFTAR PUSTAKA Anonim, (2011), Teknologi Pengolahan tepung Singkong, http://www.iptek.net.id/ind/warin tek/?mnu=6&ttg=6&doc=6b29, akses 20 April 2011.

Soenardi, Tuti, (2010), Agar Singkong Lebih Bergizi, http://kipti.blogspot.com/2010/ 03/agar-singkong-lebihbergizi.html, akses 30 april 2011 Winarno F.G., (1997), Kimia Pangan dan Gizi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Wirakartakusumah., (1992), Peralatan Dan Unit Proses Industri Pangan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Teknologi Pengolahan Penepungan Dan Pengeringan (Tepung Singkong)

LAMPIRAN 1. Tepung dengan Blanching Basis = 300 gram W setelah pengeringan = 114 gram W setelah pengayakan = 113 gram Lost product = 114 113 = 1 gram % Produk (Blanching) = W Produk x100%
W Bahan

= 113 x100%
300

= 37,67 % 2. Tepung direndam Na2S2O5 Basis = 300 gram W setelah pengeringan = 99 gram W setelah pengayakan = 98 gram Lost product = 99 98 = 1 gram % Produk (Na2S2O5) = W Produk x100%
W Bahan

98 x100% 300

= 32,67 % 3. Tepung direndam air Basis = 400 gram W setelah pengeringan = 102 gram W setelah pengayakan = 99 gram Lost product = 102 99 = 3 gram % Produk (Air) = W Produk x100%
W Bahan

99 x100% 400

= 23 %

Teknologi Pengolahan Penepungan Dan Pengeringan (Tepung Singkong)

LAMPIRAN QUIS 1. Apa tujuan blanching pada penepungan? Tujuan dari blanching adalah bahan akan menjadi bersih, mengurangi populasi bakteri, mempertajam flavour, warna, dan dapat menghilangkan flavour yang tidak disukai. Dengan adanya pemanasan akan menyebabkan dinding sel menjadi lebih lunak dan permeabel terhadap air. Dengan demikian maka akan mempercepat terjadinya proses penguapan air dari dalam bahan, dan berarti drying rate-nya menjadi lebih besar sehingga dengan demikin proses pengeringannya menjadi lebih cepat. 2. Sebutkan dan jelaskan jenis umbi kayu berdasarkan kandungan HCN! HCN tinggi, seperti ganyong dan garut HCN sedang, seperti singkong HCN rendah, seperti ubi jalar 3. Apa keuntungan dari penepungan? Masa simpan atau umur simpan lebih awet Ukurannya lebih kecil Dapat digunakan untuk bahan pembuatan kue, dll. 4. Apa yang dimaksud dengan browning? Browning adalah proses pencoklatan pada buah atau sayur yang disebabkan oleh senyawa fenolik dengan enzim fenolase. Browning terjadi secara enzimatis dan non enzimtis. 5. Sebutkan cara lain untuk memperbaiki performance dari tepung! Dengan cara blanching Dengan cara modifikasi Dengan cara menggunakan enzim

Teknologi Pengolahan Penepungan Dan Pengeringan (Tepung Singkong)

LAMPIRAN DISKUSI 1. Jelaskan tujuan blanching pada pembuatan tepung! Tujuan dari blanching adalah bahan akan menjadi bersih, mengurangi populasi bakteri, mempertajam flavour, warna, dan dapat menghilangkan flavour yang tidak disukai. Dengan adanya pemanasan akan menyebabkan dinding sel menjadi lebih lunak dan permeabel terhadap air. Dengan demikian maka akan mempercepat terjadinya proses penguapan air dari dalam bahan, dan berarti drying rate-nya menjadi lebih besar sehingga dengan demikin proses pengeringannya menjadi lebih cepat. 2. Jelaskan mengenai mekanisme reaksi terjadinya browning enzimatis dan non enzimatis! Browning enzimatis Browning ini terjadi karena adanya senyawa fenolik . senyawa fenolik ada yang bertindak sebagai substrat dalam proses pencoklatan enzimatis pada buah dan sayuran. Proses ini memerlukan adanya fenol oksidase danoksigen yang harus berhubungan dengan substrt tersebut. Browning non enzimatis Suatu aldosa bereakasi bolak-balik dengan asam amino atau dengan seuatu gugus amino dari protein sehingga menghasilkan basa schiff. 3. Jelaskan mengenai perbedaan antara proses pengeringan alami dan pengeringan buatan dan jelaskan pula keuntungan dan kerugian dari pengeringan tersebut! Pengeringan alami adalah suat cara menghilangkan atau menurunkan kadar air pada bahan atau produk secara alami denga cara memanfaatkan sinar matahari. Keuntungan : murah dan mudah didapat. Kerugian : memrlukan waktu yang lama, membutuhkan tempat yang luas, bergantung pada cuaca, tidak higienis, dan suhu tidak bisa diatur. Pengeringan buatan adalah suatu cara untuk menghilangkan atau menurunkan kadar air pada bahan dengan menggunakan alat atau instrumen. Keuntungan : waktu pengeringan cepat, tidak membutuhkan lahan besar, tidak bergantung kondisi cuaca, dan suhu mudah diatur. Kerugian : mahal, membutuhkan biaya perawatan yang mahal, dan memerlukan daya listrik yang besar. 4. Adakah pengaruh signifikan dari bahan yang digunakan terhadap kualitas tepung? Ada. Dalam suatu komoditi terutama tepung sanagta penting hubugannya dengan bahan yang terdapat dalam tepung tersebut dan juga dalam proses pembuatannya. Contoh, tepug terigu, kualitas tepung terigu dapat terbentuk tergantung pada faktorbahan baku dan pemrosesan melalui proses pencucian, pengupasan sekam, penggilingan, dan pemutihan maka jadilah tepung terigu seperti yang kita kenal. Sedangkan dalam bahan baku kualitas protein serta

Teknologi Pengolahan Penepungan Dan Pengeringan (Tepung Singkong)

gluten ditentukan oleh kualitas jenis gandum yang diimpor serta varietas yang akan mempengaruhi kualitas tepung terigu. 5. Adakah cara lain yang dapat digunakan untuk memperbaiki performance tepung yang dihasilkan? Dengan cara blanching Dengan cara modifikasi Dengan cara menggunakan enzim