Anda di halaman 1dari 6

Bakteri Bacillus thuringiensis

Bacillus thuringiensis ditemukan pertama kali pada tahun 1911 sebagai patogen pada ngengat (flour moth) dari Provinsi Thuringia, Jerman. Bakteri ini digunakan sebagai produk insektisida komersial pertama kali pada tahun 1938 di Perancis dan kemudian di Amerika Serikat (1950). Pada tahun 1960-an, produk tersebut telah digantikan dengan galur bakteri yang lebih patogen dan efektif melawan berbagai jenis insekta. Pada lingkungan dengan kondisi yang baik dan nutrisi yang cukup, spora bakteri ini dapat terus hidup dan melanjutkan pertumbuhan vegetatifnya. Bacillus thuringiensis dapat ditemukan pada berbagai jenis tanaman, termasuk sayuran, kapas, tembakau, dan tanaman hutan. Klasifikasi Bacillus thuringiensis : Kerajaan Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Eubacteria : Firmicutes : Bacilli : Bacillales : Bacillaceae : Bacillus : Bacillus thuringiensis (sumber : Wikipedia.org)

Bacillus thuringiensis (Bt) adalah bakteri gram positif yang berbentuk batang, aerobik dan membentuk spora. Banyak strain dari bakteri ini yang menghasilkan protein yang beracun bagi serangga. Sejak diketahui potensi dari protein Kristal atau cry Bt sebagai agen pengendali serangga, berbagai isolasi Bt mengandung berbagai jenis protein kristal. Dan sampai saat ini telah diidentifikasi protein kristal yang beracun terhadap larva dari berbagai ordo serangga yang

menjadi hama pada tanaman pangan dan hortikultura. Kebanyakan dari protein kristal tersebut lebih ramah lingkungan karena mempunyai target yang spesifik yaitu tidak mematikan serangga dan mudah terurai sehingga tidak menumpuk dan mencemari lingkungan (Agus Krisno,, 2011). Oleh karena itu Bakteri Bacillus thuringiensis (Bt) banyak digunakan sebagai alternatif tanaman yang resisten terhadap hama. Hingga pada tahun 1998, Bacillus thuringiensis dibagi menjadi 67 subspesies berdasarkan fenotipe dari flagela (H). Ciri khas bakteri Bacillus yang membedakan dengan yang lainnya adalah kemampuan membentuk kristal paraspora yang berdekatan dengan endospora selama fase sporulasi. 95% kristal terdiri dari protein dengan asam amino terbanyak terdiri dari asam glutamat, asam aspartat dan arginin, sedangkan lima persen terdiri dari karbohidrat yaitu mannosa dan glukosa. Kristal protein tersusun dari subunit-subunit protein yang berbentuk batang atau halter, mempunyai berat molekul 130 140 kDa yang berupa protoksin. Protoksin akan menjadi toksin setelah mengalami hidrolisis dalam kondisi alkalin di dalam saluran pencernaan serangga. Hidrolisis ini melepaskan protein kecil dengan berat molekul sekitar 60 kDa dan bersifat toksik (Bulla, Kramer dan Davidson, 1977). Bacillus thuringiensis dapat memproduksi dua jenis toksin, yaitu toksin kristal (Crystal, Cry) dan toksin sitolitik (cytolytic, Cyt). Toksin Cyt dapat memperkuat toksin Cry sehingga banyak digunakan untuk meningkatkan efektivitas dalam mengontrol insekta. Lebih dari 50 gen penyandi toksin Cry telah disekuens dan digunakan sebagai dasar untuk pengelompokkan gen. Bacillus thuringiensis menghasilkan protein toksin sewaktu terjadi sporulasi atau saat bakteri memberntuk spora. Dalam bentuk spora, berat toksin mencapai 20% dari berat spora. Apabila larva serangga memakan spora, maka di dalam alat pencernaan larva serangga tersebut, spora bakteri pecah dan mengeluarkan toksin. Toksin yang masuk ke dalam membran sel alat pencernaan larva mengakibatkan sistem pencernaan tidak berfungsi dengan baik dan pakan tidak dapat diserap sehingga larva mati. Dengan membiakkan Bacillus thuringiensis kemudian diekstrak dan dimurnikan, makan akan diperoleh insektisida biologis

(biopestisida) dalam bentuk kristal. Pada tahun 1985 dimulai rekayasa gen dari Bacillus thuringiensis dengan kode gen Bt toksin. Dengan kemajuan IPTEK di bidang teknologi molekuler telah

memberikan peluang untuk mengatasi keterbatasan itu, dimana beberapa aspek mikro dalam pemuliaan dalam diketahuai yaitu: Identifikasi dan penentuan letak gen, Pemindahan gen tak terbatas, Peningkatan pemahaman proses genetik dan fisiologi tanaman, Perbaikan diagnosis penyakit dengan metode molekuler, Pengaturan produksi protein pada tanaman serealia dan kacang-kacangan untuk meningkatkan gizi, Memudahkan dalam menghasilkan dan menyeleksi tanaman tahan hama, penyakit dan cekaman lingkungan, serta Memungkinkan

dilakukannya transformasi, konstruksi, dan ekspresi genetik melalui teknologi DNA. Berdasarkan hal itu, potensi penggunaan gen Bt sebagai alat untuk melakukan karakterisasi genetik dalam penanda molekuler, yang dapat digunakan untuk memeriksa lokasi suatu gen yang bertanggung jawab terhadap suatu sifat yang sederhana, misalnya resisten terhadap hama atau sifat kuantitatif yang komplek pada kromosom. Dengan dihasilkannya rekayasa genetika melalui beberapa metode yang akan disisipkan gen dari bakteri Bacillus thuringiensis ke dalam sel jaringan tanaman bahan pokok, menjadi tanaman yang tahan hama. (Adiwilaga, K. 1998). Rekayasa genetika dalam bidang tanaman ini akan menghasilkan tanaman transgenic yang fertil, sehingga meningkatkan

produktivitas hasil panen pada tanaman pokok.

Gambar 2. Salah satu teknik penyisipan gen Bt pada DNA tanaman Dalam rekayasa genetik tanaman pokok contohnya jagung, kentang, padi, ubi dan tebu, sifat unggul tidak hanya didapatkan dari tanaman itu sendiri, tetapi juga dari spesies lain sehingga dapat dihasilkan tanaman transgenik. Tanaman Bt merupakan tanaman transgenik yang mempunyai ketahanan terhadap hama, di mana sifat ketahanan tersebut diperoleh dari bakteri Bacillus thuringiensis (Herman 1997). Beberapa kajian tentang teknik gen Bt menjelaskan cara gen Bt disisipkan ke dalam tanaman pokok. Gen Bt yang telah diidentifikasi, diisolasi dan kemudian dimasukkan ke dalam sel tanaman. Melalui suatu sistem tertentu, sel tanaman yang membawa gen tersebut dapat dipisahkan dari sel tanaman yang tidak membawa gen. Tanaman pembawa gen Bt kemudian ditumbuhkan secara normal. Tanaman inilah yang disebut sebagai tanaman transgenik karena ada gen asing yang telah dipindahkan dari makhluk hidup lain ketanaman tersebut (Muladno, 2002).Tanaman transgenik merupakan hasil rekayasa gen dengan cara disisipi satu atausejumlah gen. Gen yang dimasukkan itu disebut transgen bisa diisolasi dari tanaman tidak sekerabat atau spesies yang lain sama sekali (BPPT,2000). Dampak Peranan Bacillus thuringiensis dalam Ketahanan Pangan di Indonesia Adapun kajian dari studi gen Bt dalam ketahanan pangan antara lain, sebagai berikut :

Dampak positif peranan Bacillus thuringiensis 1. Hasil produksi menigkat sehingga akan mengatasi kelaparan. 2. Dapat menekan penggunaan pestisida, sehingga menurunkan biaya produksi. 3. Ketahanan tanaman terhadap hama dan jamur toksin dari Fusarium penyebab pembusukan, dibandingkan dengan tanaman non-Bt yang mengalami kerusakan berat. Dampak negatif peranan Bacillus thuringiensis 1. Dapat menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan pada konsumen akibat adanya bahan kimia yang terdapat dalam tanaman transgenic. 2. Menimbulkan gangguan pada keseimbangan ekosistem lingkungan yang terdapat tanaman transgenik. 3. Terjadi persaingan harga tanaman jagung transgenik dan tanaman jagung biasa.

DAFTAR PUSTAKA Adiwilaga, K. 1998. Permohonan pengkajian keamanan hayati tanaman transgenik. http ://www.wordpress.Blog/pondok ilmu. (diakses tanggal 27 April 2012). Herman, M. 1997. Perakitan tanaman tahan serangga hama melalui teknik rekayasa genetik. Buletin AgroBio 5(1): 1-13. Krisno, Agus. 2011. Rekayasa Genetika bakteri Bt dalam Perakitan Tanaman transgenik. http://aguskrisnoblog.wordpress.com/2012/01/13/perananbacillus-thuringiensis-untuk-meningkatkan-ketahanan-pangan-diindonesia/.(diakses tanggal 27 April 2012).