Anda di halaman 1dari 28

Konversi Utang Luar Negeri Indonesia melalui Debt Swap

Disusun oleh:
Ida Farida 5552101257 Khairunnisa Nuraini 5552101284 Lystia Yuliyanti 5552101415 Marintan Lestari S 5552101020 Mega Ayu Febriyana 5552101442

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Tahun 2012

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur marilah kita haturkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Taala yang telah melimpahkan rahmat, taufik, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Ekonomi Internasional dengan judul Konversi Utang Luar Negeri Indonesia melalui Debt Swap. Makalah Ekonomi Internasional ini mengenai utang luar negeri Indonesia. Makalah ini dapat kami selesaikan berkat bantuan beberapa pihak, diantaranya Bapak Kuswantoro selaku dosen pengampu mata kuliah Ekonomi Internasional serta teman-teman yang telah membantu, yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Disadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami mengharap saran dan kritik yang sifatnya membangun demi perbaikan pembuatan makalah dikemudian hari. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca. Amin.

Serang, Juni 2012

Penyusun

Daftar Isi

kata Pengantar. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Daftar Isi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

ii iii

Bab I
Latar Belakang. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Tujuan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 4

Bab II
Pengertian. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sejarah Utang Luar Negeri. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Jenis-jenis Utang. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Lembaga/Pihak Pemberi Pinjaman. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Prosedur Penarikan Utang uar Negeri. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Artikel mengenai Debt swap . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . 5 6 7 8 8 11

Bab III
Kesimpulan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 24

Daftar Pustaka . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

iv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang membangun perekonomiannya masih bersifat terbuka, yang artinya masih rentan terhadap pengaruh dari luar. Oleh karena itu perlu adanya fundasi yang kokoh yang dapat membentengi suatu negara agar tidak sepenuhnya dapat terpengaruh dari dunia luar. Selain faktor dari luar, salah satu penyebab krisis yang terjadi di Indonesia juga berasal dari dalam negeri, yaitu proses integrasi perkonomian Indonesia ke dalam perekonomian global yang berlangsung dengan cepat dan kelemahan fundamental mikroekonomi yang tercermin dari kerentanan (fragility) sektor keuangan nasional, khususnya sektor perbankan, dan masih banyak faktor-faktor lainnya yang berperan menciptakan krisis di Indonesia (Syahril, 2003:4). Krisis ekonomi telah membawa dampak yang serius terhadap perekonomian Indonesia, yang menimbulkan stagflasi dan instabilisasi perekonomian, menurunnya tingkat produksi secara drastis sebagai akibat tingginya ketergantungan produsen domestik terhadap barang dan jasa impor, laju inflasi yang tinggi, pemutusan hubungan tenaga kerja, menurunnya pendapatan masyarakat mengaibatkan turunnya daya beli masyarakat. Awal-awal menjelang Krisis ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan perkembangan yang baik, yang artinya tidak ada tanda-tanda yang terlalu merisaukan atau memberi tanda krisis yang serius akan menerpa. Sejak akhir dasawarsa 1980-an pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata sekitar 8% per tahun pada pertengahan 1997 tumbuh dengan laju tahunan 7,4%, (Boediono, 2008:81). Justru kepanikan terjadi karena adanya peningkatan harga yang sangat tajam barang-barang dan jasa akibatnya melemahnya kurs rupiah terhadap dollar. Salah satu beban ekonomi Indonesia adalah utang luar negeri yang terus membengkak, Utang ini sudah begitu berat mengingat pembayaran cicilan dan bunganya yang begitu besar. Biaya ini sudah melewati kapasitas yang wajar sehingga biaya untuk kepentingan-kepentingan yang begitu mendasar dan mendesak menjadi sangat minim yang berimplikasi sangat luas. Sebagai negara berkembang yang sedang membangun, yang memiliki ciri-ciri dan persoalan ekonomi, politik, sosial dan budaya yang hampir

sama dengan negara berkembang lainnya,Indonesia sendiri tidak terlepas dari masalah utang luar negeri, dalam kurun waktu 25 tahun terakhir,utang luar negeri telah memberikan sumbangan yang cukup besar bagi pembangunan di Indonesia. Bahkan utang luar negeri telah menjadi sumber utama untuk menutupi defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan memberikan kontribusi yang berarti bagi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Meskipun utang luar negeri (foreign debt) sangat membantu mentupi kekurangan biaya pembangunan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) namun persoalan pembayaran cicilan dan bunga menjadi beban yang terus menerus harus dilaksanakan,apalagi nilai kurs rupiah terhadap dollar cenderung tidak stabil setiap hari bahkan setiap tahunnya. Pertengahan tahun 1997 Indonesia telah mengalami krisis moneter yang disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya besarnya jumlah hutang swasta jangka pendek dan menengah serta utang-utang pemerintah yang menyebabkan nilai tukar Rupiah tertekan, kebijakan fiskal dan moneter yang tidak konsisten, membesarnya defisit neraca berjalan dan terdepresiasinya mata uang Bath dan berimbas pada nilai dollar. Di Indonesia hal ini juga membuat terjadinya krisis kepercayaan masyarakat terhadap Rupiah sehingga masyarakat menyerbu Dollar untuk mengamankan kekayaanya. Dengan adanya krisis ekonomi tersebut kinerja perbankan Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang memburuk. Hal ini ditandai dengan hilangnya kepercayaan masyarakat dengan terjadinya penarikan besar-besaran (Rush). Berdasarkan data Bank Indonesia, Jumlah pinjaman luar negeri pasca krisis pun meningkat yaitu pada tahun 2000 dalam juta dollar sebesar US$ 133.073,00 padahal sebelumnya pada tahun 1998 dan 1999 jumlah utang luar negeri Indonesia adalah US$ 20.567,00 dan US$ 110.934,00. Pasca awal terjadinya krisis, yaitu tahun 1999 pemerintah sudah mengambil langkah seribu untuk menambah jumlah hutang atau pun pinjaman dari pihak asing. Meningkatnya jumlah pinjaman pada tahun 2000 yakni sebesar US$ 133.073,00 terjadi karena adanya tindakan pemerintah untuk menstabilkan nilai rupiah terhadap mata uang asing sehingga hal ini membutuhkan cadangan devisa yang sangat besar, sementara cadangan devisa sebelumnya sudah terkuras untuk menghadapi kepanikan masyarajat yang secara beramai-ramai membeli dollar secara besar-besaran dengan asumsi dollar akan naik lagi.

Penurunan nilai tukar Rupiah yang sangat tajam sebagai rangkaian krisis ekonomi dan krisis moneter yang melanda Indonesia sejak bulan Juli 1997 mengakibatkan sebagian besar peminjam swasta tidak dapat lagi memenuhi kewajiban luar negeri yang jatuh tempo. Sementara itu disisi Pemerintah, krisis nilai tukar juga menyebabkan meningkatnya beban pembayaran kembali pinjaman luar negeri yang akan menjadi beban dalam APBN. Untuk menyelesaikan permasalahan pinjaman luar negeri tersebut, untuk pinjaman yang diterima swasta, Pemerintah telah membentuk Tim Penanggulangan Masalah Utang-Utang Perusahaan Swasta Indonesia (THSI). Sedangkan utang penyelesaian pinjaman luar negeri yang diterima Pemerintah, dibentuk satuan tugas yang terkoordinir yang terdiri dari Departemen Keuangan, Bank Indonesia dan Bappenas dalam rangka melaksanakan negosiasi restrukturisasi utang. Baik THIS maupun satgas yang dibentuk Pemerintah tersebut, mempunyai tugas untuk melakukan negosiasi terhadap kreditur luar negeri dalam rangka restrukturisasi pinjaman luar negeri yang diterima swasta, Pemerintah Indonesia telah melakukan pembicaraan dengan steering committee yang terdiri atas 13 perbankan internasional dengan cochairman Deutche Bank, Chase Manhattan Bank dan Bank of Tokyo Mitsubishi untuk mewakili seluruh kreditur. Dalam perundingan antara Pemerintah Indonesia dengan steering committee yang berlangsung di Frankfurt tanggal 1-4 Juni 1998, menghasilkan Frankfurt Agreement yang terdiri atas 3 kesepakatan : Trade Maintenance Facility (TMF), yaitu perbankan luar negeri akan memberikan dan membuka credit line dalam rangka perdagangan internasional kepada perbankan Indonesia Interbank Debt Exchange Offer Program (EOP), yaitu perbankan luar negeri akan menjadwal ulang pinjaman luar negeri perbankan Indonesia Indonesian Debt Restructuring Agency (INDRA), yaitu penyelesaian utang luar negeri swasta melalui upaya restrukturisasi utang. Sementara itu untuk menyelesaikan utang luar negeri Pemerintah, telah dilakukan berbagai upaya dan negosiasi untuk mendapatkan keringanan pembayaran utang dengan memanfaatkan forum Paris Club. Dalam 3 kali pertemuan, telah dihasilkan perolehan keringanan pembayaran pinjaman dengan penjadwalan kembali pembayaran utang dari kesepakatan sebelumnya, baik pokok maupun bunganya (Laporan BI,2005).

1.2

Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui hubungan timbal balik antara utang luar negeri dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2. Untuk mengetahui hubungan keseimbangan jangka panjang antara utang luar negeri dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia 3. Untuk mengetahui pengaruh Utang luar negeri (foreign debt) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sebelum dan sesudah krisis moneter 4. Untuk mengetahui sejauh mana dampak restrukturisasi utang luar negeri Indonesia

Bab II ISI
2.1 Pengertian
Utang luar negeri merupakan jenis pinjaman yang berasal dari luar negeri dan memiliki persyaratan tertentu yang dibebankan kepada pihak (negara) penerima utang tersebut. Dalam pengertian anggaran negara, utang luar negeri disebut juga sebagai sumber pendanaan alternatif yang digunakan untuk pembiayaan anggaran negara. Utang luar negeri dapat menjadi sumber pendanaan anggaran (APBN), akan tetapi di sisi lain menjadi beban anggaran, karena dibebankan persyaratan pembayaran bunga dan cicilan pokok utang luar negeri. Keputusan untuk mengambil utang luar negeri dikarenakan keterbatasan sumbersumber pendanaan ataupun pembiayaan di dalam negeri. Pemerintah membutuhkan pendanaan yang cukup besar untuk sejumlah pengeluaran yang tidak bisa hanya mengandalkan dari sumber penerimaan dalam negeri. Misalnya, untuk keperluan penyediaan infrastruktur, pendanaan tahap awal pelaksanaan program pembangunan, dan pendanaan dalam negeri lainnya. Idealnya pengeluaran hendaknya menyesuaikan dengan besarnya sumber-sumber pendanaan di dalam negeri. Namun, melihat dinamika pembangunan dan kebutuhannya akan membuka pilihan alternatif pendanaan yang berasal dari luar negeri berupa utang. Bentuk utang luar negeri dapat berupa dana segar ataupun berupa dana yang sudah dikonversikan ke dalam bentuk program ataupun proyek tertentu. Bentuk lain dari utang luar negeri dapat berupa surat-surat utang atau obligasi negara. Sekalipun tergolong utang luar negeri, akan tetapi seperti surat utang ataupun obligasi negara memiliki mekanisme pembayaran yang berbeda dengan utang luar negeri. Dengan semakin bertambahnya hutang luar negeri Indonesia, maka pemerintah sedang mempertimbangkan sejauh mana Indonesia membutuhkan restrukturisasi hutang. Restrukturisasi hutang adalah pembayaran hutang dengan syarat yang lebih lunak atau lebih ringan dibandingkan dengan syarat pembayaran hutang sebelum dilakukannya proses restrukturisasi hutang, karena adanya konsesi khusus yang diberikan kreditur hanya kepada debitur yang mengalami kesulitan keuangan.

2.2

Sejarah Utang Luar Negeri


Presiden Soekarno adalah sosok pemimpin yang sebenarnya anti utang. Salah

a. Utang Era Soekarno (19451966) satu bapak pendiri bangsa ini pernah memberikan satu pernyataan terkenal yaitu Go To Hell with Your Aid yang menyikapi campur tangan IMF pada peristiwa konfrontasi Indonesia dengan Malaysia pada 1956. Dari pernyataan tersebut, Soekarno dapat dikategorikan sebagai pemimpin yang tegas dan berani mengambil sikap untuk menolak intervensi asing. Namun, pada akhir pemerintahan Soekarno, negara ini ternyata dibebani oleh utang. Seperti dikutip dari harian Republika (17/4/2006), jumlah utang Indonesia pada masa pemerintahan Soekarno sebesar US$6,3 miliar, terdiri dari US$4 miliar adalah warisan utang Hindia Belanda dan US$2,3 miliar adalah utang baru. Utang warisan Hindia Belanda disepakati dibayar dengan tenor 35 tahun sejak 1968 yang jatuh tempo pada 2003 lalu, sementara utang baru pemerintahan Soekarno memiliki tenor 30 tahun sejak 1970 yang jatuh tempo pada 1999.

b. Utang Era Soeharto (19661998) Pada masa Orde Baru, utang didefinisikan menjadi penerimaan negara.Berarti pemerintah saat itu membiayai program-program pemerintah melalui instrumen pendapatan yang salah satunya adalah utang.Jika dilihat dari struktur anggaran pemerintah, maka utang dimasukkan ke dalam porsi penerimaan selain pajak. Akibatnya, pengelolaan utang negara pun menjadi sangat tidak transparan. Orde Baru diklaim berutang sebesar Rp1.500 triliun yang jika dirata-ratakan selama 32 tahun pemerintahannya maka utang negara bertambah sekitar Rp46,88 triliun tiap tahun. Sampai 1998, dari total utang luar negeri sebesar US$171,8 miliar, hanya sekitar 73% yang dapat disalurkan ke dalam bentuk proyek dan program, sedangkan sisanya (27%) menjadi pinjaman yang idle dan tidak efektif. Pada masa Orde Baru, kredit Indonesia mendapat rating BBB dari Standard & Poors (S&P), lembaga penilai keuangan internasional. Rating BBB, yang hanya satu tingkat di bawah BBB+, membuat iklim investasi dan utang Indonesia pada masa Orde Baru dinilai favorable bagi para investor, baik domestik maupun asing.Komposisi utang Orde Baru terdiri atas utang jangka panjang dengan tenor 1030 tahun. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengeluarkan pernyataan bahwa utang Orde Baru jatuh tempo pada 2009 dengan struktur utang yang jatuh tempo sepanjang tahun 2009 adalah sebesar Rp94

triliun, terdiri dari Rp30 triliun berupa utang domestik dan Rp64 triliun berupa utang luar negeri.

c. Utang Era Habibie (19981999) Masa pemerintahan B. J. Habibie merupakan pemerintahan transisi dari Orde Baru menuju era Reformasi.Habibie hanya memerintah kurang lebih setahun, 1998 1999.Pada 1998 terjadi krisis moneter yang menghempaskan perekonomian Indonesia dan pada saat yang bersamaan juga terjadi reformasi politik.Kedua hal ini mengakibatkan rating kredit Indonesia oleh S&P terjun bebas dari BBB hingga terpuruk ke tingkat CCC.Artinya, iklim bisnis yang ada tidak kondusif dan cenderung berbahaya bagi investasi. Pada masa pemerintahan Habibie, utang luar negeri Indonesia sebesar US$178,4 miliar dengan yang terserap ke dalam pembangunan sebesar 70%, dan sisanya idle. Terjadinya penurunan penyerapan utang, yaitu dari 73% pada 1998 menjadi 70% pada 1999, disebabkan pada 1999 berlangsung pemilihan umum yang menjadi tonggak peralihan dari Orde Baru menuju era Reformasi. Banyak keraguan baik di kalangan investor domestik maupun investor asing terhadap kestabilan perekonomian, sementara pemerintah sendiri saat itu tampak lebih disibukkan dengan pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

2.3

Jenis-jenis Utang Luar Negeri

Secara umum utang luar negeri dibagi menjadi 3 jenis: a. Bantuan Program Bertujuan menunjang neraca pembayaran dan anggaran pembangunan. Bantuan dalam bentuk devisa ini akan menunjang neraca pembayaran dalam usaha memenuhi kebutuhan impor, sedangkan nilai lawan rupiahnya dimasukkan dalam kas Negara. b. Bantuan Proyek Dapat berbentuk hibah atau pinjaman dan digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan proyek pembangunan baik dalam rangka rehabilitasi, pengadaan

barang/peralatan dan jasa, perluasan ataupun pengembangan proyek baru. c. Bantuan Teknis Seluruh utang luar negeri yang diberikan Negara/lembaga pemberi bantuan dalam bentuk jasa keahlian dan fasilitas keahlian dengan tujuan untuk mempercepat proses alih teknologi dan keterampilan. Umumnya dalam bentuk hibah.

Dari ke-3 jenis ini, hanya pinjaman dalam bentuk Bantuan Program dan Bantuan Teknis yang berupa block grant dan dalam bentuk tunai (in cash). Arus kas masuk dapat langsung digunakan Indonesia dengan bebas, baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan keperluan bangsa Indonesia sendiri. Sementara bantuan proyek biasanya adalah fasilitas berbelanja secara kredit ke Negara-negara pemberi utang. Oleh sebab itu jenis penggunaan bantuan ini biasanya terkait langsung dengan proyek-proyek fisik yang telah disepakati dalam perjanjian utang dengan pihak lender.

2.5

Lembaga / Pihak Pemberi Pinjaman


Dikutip dari data Ditjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Selasa

(22/5/2012), per April 2012, negara pemberi utang terbesar ke Indonesia adalah Jepang dengan nilai Rp 274,68. Secara persentase, utang dari Jepang mempunyai porsi 44% dari total utang luar negeri bilateral pemerintah Indonesia. Berikut daftar 3 besar negara pemberi utang bilateral ke Indonesia : Jepang, Prancis dan Jerman. Selain negara, utang luar negeri Indonesia juga didapat dari lembaga multilateral yang totalnya Rp 212,92 triliun. Berikut daftar lembaga multilateral pemberi utang terbesar ke Indonesia:

Bank Pembangunan Asia (ADB/Asian Development Bank) Bank Dunia Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IDB) Lembaga multilateral lainnya

2.6

Prosedur Penarikan Utang Luar Negeri


Sebagaimana diatur dalam SKB antara Menteri Keuangan dan Ketua Bappenas

No. 185/KMK.03/1995 dan No. KEP. 031/KET/5/1995 tentang Tata cara Pelaksanaan / Penatausahaan, dan Pernantauan Pinjainan/Hibah Luar Negeri dalam rangka pelaksanaan APBN dan Perubahannya No. 459/KMK.03/1999 dan No.KEP 264/KET/09/1999 tanggal 29 September 1999, penarikan pinjaman luar negeri dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:

A. Pembukaan Letter of Credit (L/C) oleh Bank Indonesia

B.

Pembayaran Langsung (Direct Payment) oleh Lender Direct payment adalah transfer pembayaran langsung kepada rekanan

(kontraktor proyek) oleh lender. Pelaksanaan transfer oleh lender dilakukan atas dasar permintaan dari Pemerintah / Depkeu.

C.

Penggantian Pembiayaan Pendahuluan (Reimbursement) Adalah penarikan pinjaman luar negeri untuk mengganti pembayaran pembiayaan yang telah dilakukan terlebih dahulu dengan dana sendiri, atas beban rekening BUN.

D.

Rekening Khusus (Special Account) di Bank Indonesia Rekening Khusus atau Special Account adalah rekening yang dibuka dalam

rangka pencairan pinjaman luar negeri. Penggunaan rekening khusus dimaksudkan untuk meningkatkan percepatan daya serap pinjaman luar negeri. Rekening khusus juga dimaksudkan lender untuk menghimpun berbagai dropping dana yang jumlahnya relatif kecil. Rekening ini digunakan untuk menampung dropping dana pinjaman luar negeri untuk satu proyek tertentu yang dibiayai. Terdapat dua macam dropping dana dari lender dalam rangka rekening khusus, yaitu: Initial Deposit, yaitu pengisian rekening khusus oleh lender atas permintaan Pemerintah untuk pertama kali Replenishment, yaitu pengisian kembali rekening khusus setelah dana dalam rekening tersebut ditarik oleh Pemerintah guna membiayai proyek. Biaya dan Fee Yang Harus Ditanggung Penerima Pinjaman Biaya-biaya yang harus ditanggung oleh penerima pinjaman luar negeri adalah: Bunga Pinjaman, merupakan biaya bunga atas fasilitas pinjaman luar negeri yang telah disediakan yang telah ditarik (disburshed loan). Besarnya bunga pinjaman telah

ditetapkan dalam perjanjian pinjaman (loan agreement) tergantung pada jenis pinjaman, yaitu pinjaman lunak, semi lunak, komersial. Commitment Fee, yaitu fee yang dibayarkan kepada pemberi pinjaman (lender) atas komitmen pinjaman yang telah diberikan dan telah dituangkan dalam loan agreement. Besarnya commitment fee dihitung berdasarkan plafond pinjaman yang belum ditarik (undisburshed loan). Administration Fee, Agent Fee, adalah fee yang dibayarkan kepada agen yang ditunjuk oleh Pemerintah RI dalam rangka perolehan pinjaman sindikasi. Agen tersebut berfungsi sebagai penghubung antara Pemerintah RI dengan seluruh member dapam kredit sindikasi.

2.6

Perlukah adanya Debt Swap Utang luar negeri Indonesia ?

Berikut ini beberapa artikel mengenai debt swap dan konversi utang luar negeri : Pemerintah Upayakan ''Debt Swap'' Jakarta (Bali Pot) Pemerintah akan mengupayakan mekanisme debt swap (pertukaran utang dengan program-red) kepada negara-negara maju. Alternatif pendanaan pembangunan ini dirasa lebih menguntungkan ketimbang pinjaman lunak bahkan hibah sekalipun. "Paling enak debt swap karena duit sudah ada, sudah kita pakai di APBN. Tetapi sebelum kita kirim (kembalikan) kita tanya dulu sama kedutaan besar mereka di Jakarta, ada yang mau enggak debt swap," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dorojatun Kuntjoro-Jakti di Jakarta, Selasa (5/8) kemarin. Djatun mencontohkan, utang ditukar dengan mensponsori terumbu karang di kawasan timur Indonesia. Kemudian, ditukar dengan program membantu pendidikan dasar dan pelatihan bidan di pedesaan. "Kita cari negaranya yang bersedia melakukan itu, sehingga uang yang diparkir tidak jadi dikirim ke mereka," ujar Dorojatun dengan sikap optimis. Namun, ia mengaku pola debt swap ini baru disetujui Jerman selaku negara kreditor. Opsi yang ditawarkan bisa melalui forum multilateral seperti Consultative Group on Indonesia (CGI) atau melalui hubungan bilateral antarkedua negara. Mengenai debt swap yang ditawarkan Jerman, menurutnya, dialokasikan pada kegiatan perbaikan pelayanan kesehatan dan peningkatan mutu pendidikan dasar. "Jerman sudah kita usahakan lagi di CGI. Maunya sampai puluhan juta dolar," katanya. Menyangkut usulan debt swap tersebut, menurut Djatun, memang ditemui kendala, seperti

ketidaksiapan parlemen dari negara kreditur bersangkutan siap. Pemahaman definisi dari debt swap memang masih menjadi perdebatan. Beberapa negara mau bicara debt equity swap (ditukar dengan saham), debt poverty swap (program kemiskinan) dan debt nature swap (lingkungan hidup). "Tetapi kita harus kejar terus keperincian yang lebih jauh, jangan hanya ke saham, lingkungan hidup, kemiskinan saja." (kmb2) http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/8/6/e3.htm

4 Negara Sepakati Konversi $75 Juta Utang Indonesia Kamis, 15 Juli 2010 15:42 WIB | 1560 Views Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia tengah menjalankan proyek-proyek terkait debt swap (konversi utang) yang disepakati bersama empat negara kreditor, Jerman, Italia, Amerika Serikat, dan Australia. Program debt swap dengan Australia ditandatangani di Jakarta Kamis ini yang melibatkan tiga pihak yaitu Pemerintah Indonesia, Pemerintah Australia dan Global Fund, kata Deputi Menteri Perekonomian Bidang Kerjasama Ekonomi dan Pembiayaan Internasional Rizal Affandi Lukman. Melalui program itu utang Pemerintah Indonesia sebesar 75 juta dolar Australia dihapus, dan setengah dari jumlah itu akan digunakan untuk pemberantasan tubercolosis di Indonesia melalui Global Fund. Program debt swap merupakan program pengurangan stok utang luar negeri Pemerintah Indonesia yang disepakati bersama dengan negara kreditur yang tergabung dalam Paris Club. Kesepakatan itu tertuang dalam article IV dari perjanjian penjadualan utang dari Paris Club II dan III, di mana pelaksanaannya dilakukan melalui kesepakatan dengan negara-negara kreditur secara bilateral. Tiga negara lain yang telah memberi pengalihan utang kepada Indonesia adalah Jerman, Italia, dan Amerika Serikat. Tahap pertama penandatangan perjanjian dengan AS 30 Juni 2009. Selanjutnya Pemerintah AS juga menawarkan TFCA tahap II senilai 20 juta dolar AS dengan tambahan dana 20 persen atau 4,0 juta dolar AS dari swap partner. Dari beberapa NGO yang diundang jadi swap partner, ada tiga NGO yang menyatakan kesediaan yaitu WWF Indonesia, The Nature Consevancy, dan Conservation Internasional. "Saat ini sedang dilakukan pembahasan mekanisme dan penunjukan swap partner," kata Rizal.

Berikut rincian debt swap untuk Indonesia dengan Jerman, Italia, dan AS: Jerman 143,6 juta Euro Italia Nias). Tahap I sebesar 1,43 juta Euro dan 5,03 juta dolar AS pada November 2007 dan penghapusan - Tahap II sebesar 2,50 juta Euro dan 11,64 juta dolar AS. Amerika Serikat AS disepakati pelaksanaan program debt swap Tropical Forest Conservation Act (TFCA) yang menghapuskan utang luar negeri Indonesia sebesar 20 juta dolar AS dan 2,0 juta dolar AS. (ANT/S026) Editor: Suryanto http://www.antaranews.com/berita/1279183345/4-negara-sepakati-konversi-75-jutautang-indonesia Debt swap I (untuk pendidikan) sebesar 25,56 juta Euro Debt swap II (pendidikan) sebesar 23,00 juta Euro Debt swap III (lingkungan hidup) 25,00 juta Euro Debt swap IV (pendidikan) 20 juta Euro Debt swap V (kesehatan) 50 juta Euro. (bagi proyek-proyek rekonstruksi dan Program Keluarga Harapan di NAD dan

Wapres Minta Pengertian Kreditor Pertimbangkan Debt Swap Jakarta, 7 Agustus 2002 15:35 Wakil Presiden Hamzah Haz mengharapkan pengertian negara-negara kreditor yang menolak usulan Indonesia berupa program "debt swap" agar mau mempertimbangkan kembali keputusannya demi untuk kepentingan bersama. Hal tersebut dikemukakan Wapres Hamzah Haz, seusai membuka seminar tentang pluralisme yang diselenggarakan Lembaga Perekonomian Nahdatul Ulama (LPNU) di Jakarta, Rabu. Hamzah Haz mengatakan, negara-negara kreditor yang menolak debt swap tersebut perlu lebih memikirkan ke depan. "Debt swap itu kan untuk kepentingan kita dan juga buat kepentingan mereka," kata Wapres Hamzah Haz. Menurut dia, jika Indonesia sudah mampu mengurangi

kemiskinan dan kegiatan ekonomi tumbuh, maka bagi luar negeri itu merupakan `market` potensial. "Jadi, diharapkan pengertian dari negara-negara yang sekarang menolak itu," tambahnya. Seperti diberitakan sebelumnya, delapan negara kreditor menyambut baik permintaan pemerintah Indonesia untuk melakukan program debt swap, sementara empat

negara lainnya menyatakan menolak melakukan program tersebut dengan beberapa alasan. Delapan negara tersebut adalah Kanada, Finlandia, Perancis, Jerman, Italia, Selandia Baru, Swedia dan Inggris. Sementara empat negara lainnya yang juga menolaknya adalah Austria, Denmark, Jepang dan Korea Selatan. Sedangkan Australia masih akan mempertimbangkannya untuk mengikuti program tersebut. Kebanyakan negara kreditor menginginkan pelaksanaan program debt swap yang berkaitan dengan program pembangunan, pemberantasan kemiskinan, dan lingkungan hidup.

Negara-negara yang menolak program itu, seperti Austria, menyatakan, mereka tidak mempunyai dasar hukum untuk debt swap atau mengkonversi utang luar negeri dengan negara yang dalam kesepakatan Paris Club, utangnya tidak dapat dihapuskan, seperti Indonesia. Jepang menolaknya, karena mereka menyatakan program itu dipandangnya sebagai salah satu bentuk debt reduction yang bagi pemerintah Jepang merupakan masalah sensitif. Jepang hanya menegaskan untuk memperpanjang fasilitas special yen loan dan hibah untuk memulihkan ekonomi Indonesia. [Tma, Ant] http://arsip.gatra.com/2002-08-07/artikel.php?id=19568

Diajukan "Debt Swap" Senilai 23 Juta Euro Jakarta, Kompas - Pemerintah akan melakukan moratorium utang dari Jerman dengan mengembangkan program debt swap tahap II dengan jumlah penghapusan utang 23 juta euro (sekitar Rp 230 miliar) yang segera direalisasikan. Selain itu, pemerintah juga telah mempersiapkan penghapusan utang dari Jerman tahap III dengan jumlah 25 juta euro. Demikian diutarakan Menteri Keuangan Boediono dalam Rapat Kerja dengan Panitia Anggaran DPR di Jakarta, Senin (30/8). Sebelumnya pemerintah telah berhasil melakukan penghapusan utang dari Jerman sebanyak 50 juta mark yang dilakukan melalui program debt for education swap. "Namun, untuk debt swap tahap II dan III dengan Jerman, kami belum tahu detail programnya," katanya. Selain dari Jerman, kata Boediono, pemerintah juga sedang membahas upaya pengurangan utang melalui program debt swap dengan Inggris, Perancis, dan Italia. "Namun ini masih dalam tahap awal," katanya. Menurut dia, pada

masa lalu pemerintah telah mengupayakan berbagai cara untuk mengurangi beban utang, antara lain melalui penjadwalan kembali utang luar negeri (rescheduling), pengurangan utang melalui program konversi utang, menyusun kembali waktu jatuh tempo (reprofiling) utang dalam negeri, dan mengupayakan pinjaman dengan kondisi yang lebih lunak, dalam artian dikenai suku bunga yang lebih rendah dan jangka waktu pembayaran yang lebih panjang. "Sejauh ini, pemerintah telah melakukan penjadwalan utang luar negeri melalui skema Paris Club I, II, dan III senilai 15 miliar dollar AS untuk periode Agustus 1998 sampai Desember 2003. Namun, upaya penjadwalan ulang utang melalui skema Paris Club hanya dimungkinkan selama Indonesia mengikuti program IMF," katanya. Adapun saat ini Indonesia sudah memutuskan kerja sama dengan Dana

Moneter Internasional (IMF). (BOY/FAJ) http://www.suarapembaruan.com/News/2004/08/31/Ekonomi/eko02.html

Paris Club adalah grup informal pejabat-pejabat finansial dari 19 negara terkaya di dunia, yang menyediakan layanan finansial seperti strukturisasi hutang, keringanan hutang, pembatalan hutang kepada negara peminjam dan para kreditornya. Umumnya, negara penghutang direkomendasikan oleh Dana Moneter Internasional untuk menempuh jalur ini setelah solusi alternatif lainnya gagal. Paris Club bersidang setiap 6 minggu di Paris, Perancis. Lembaga ini diketuai oleh pejabat senior Departemen Keuangan Perancis. Lembaga ini berawal dari pembicaraan mengenai krisis yang diadakan di Paris pada tahun 1956 antara negara Argentina dan para kreditornya. Pada tahun 2004, Paris Club memutuskan untuk membatalkan hutang negara Irak dan sebagian negara yang terkena bencana Gempa bumi Samudra Hindia 2004. Anggota permanen grup ini antara lain: Australia, Austria, Belanda, Belgia, Denmark, Finlandia, Inggris, Irlandia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Norwegia, Perancis, Rusia, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Amerika Serikat.

Data Badan Pusat statistik mengenai Outstanding Hutang Luar Negeri Pemerintah untuk jangka waktu tahun 2002-2011 (dalam Miliar US$)
2006 Bilateral Multilateral Komersial Suppliers lain-lain Total 62.02 62.25 66.69 65.02 68.10 68.19 41.07 18.84 2.01 0.11 2007 41.03 19.05 2.08 0.08 2008 44.28 20.34 1.98 0.09 2009 41.27 21.53 2.15 0.07 2010 41.89 23.13 3.02 0.06 Nov 2011 42.70 22.60 2.84 0.06

Catatan : 1. Angka sangat-sangat sementara, per 30 November 2011 2.Termasuk pinjaman semi komersial 3. Beberapa yang masuk semi konsesional 4. Seluruhnya merupakan pinjaman komersial

Total utang luar negeri pemerintah posisi terakhir mencapai Rp 618,04 triliun dari total seluruh utang pemerintah Rp 1.903,21 triliun. Dikutip dari data Ditjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuanganper April 2012, negara pemberi utang terbesar ke Indonesia adalah Jepang dengan nilai Rp 274,68. Secara persentase, utang dari Jepang mempunyai porsi 44% dari total utang luar negeri bilateral pemerintah Indonesia.

Berikut daftar 3 besar negara pemberi utang bilateral ke Indonesia yang nilainya 319,8 triliun dari total utang luar negeri Rp 618,04 triliun:

Jepang, nilainya Rp 274,68 triliun (44%) Prancis, nilainya 24,14 triliun (3,9%) Jerman, nilainya Rp 20,97 triliun (3,4%) Pinjaman bilateral lainnya, nilainya Rp 83,2 triliun (13,4%) Selain negara, utang luar negeri Indonesia juga didapat dari lembaga multilateral

yang totalnya Rp 212,92 triliun. Berikut daftar lembaga multilateral pemberi utang terbesar ke Indonesia:

Bank Pembangunan Asia (ADB / Asian Development Bank), nilainya Rp 96,41 triliun (15,7%)

Bank Dunia Rp 112,19 triliun (18,1%) Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IDB), nilainya Rp 4,32 triliun (0,7%)

Lembaga multilateral lainnya, senilai Rp 2,13 triliun (0,3%) Seperti diketahui, total utang pemerintah Indonesia hingga April 2012 mencapai Rp 1.903,21 triliun, naik Rp 99,72 triliun dari posisi di akhir 2011 yang nilainya Rp 1.803,49 triliun. Jika dibandingkan Maret 2012 yang jumlahnya Rp 1.859,43 triliun, maka utang pemerintah naik Rp 43,78 triliun. Secara rasio terhadap PDB, utang pemerintah Indonesia berada di level 26,3% pada April 2012.

Oleh sebab itu, rakyat harus mewaspadai perkembangan utang luar negeri karena besarnya utang Indonesia ternyata tidak menunjukkan korelasi signifikan terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi yang indikatornya ditunjukkan oleh perbaikan kualitas pelayanan dasar kepada masyarakat yang masih terbatas. Gencarnya pemerintah melakukan hutang luar negeri menunjukkan bahwa pemerintah kebingungan membayar utang-utang lama, sehingga menarik utang baru untuk mengurangi beban utang. Krisis ekonomi Indonesia sampai saat ini masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda untuk segera pulih. APBN kita masih dikuras dalam jumlah besar untuk membayar bunga utang baik utang luar negeri maupun bunga utang dalam negeri dalam bentuk bunga obligasi rekap bank konvensional. Di sisi lain pembayaran hutang yang sangat besar menyebabkan beban sosial di APBN karena dana yang seharusnya bisa dialokasikan pada pembangunan infrastruktur, kesehatan ataupun pendidikan berubah untuk membayar cicilan hutang serta bunganya yang semakin membengkak. Hasil riset kelompok pemikir penganut teori dependensia yang dimotori oleh Christopher Chase-Dunn dan Richard Robinson mengenai problematika ketergantungan terhadap investasi dan bantuan luar negeri telah menghasilkan kesimpulan berikut: ada beberapa akibat hutang luar negeri. Pertama, akibat penanaman modal asing dan bantuan luar negeri memang memperbesar perbedaan penghasilan sehingga tidak terjadi pemerataan kesejahteraan. Kedua, penanaman modal asing dan bantuan luar negeri dalam jangka pendek memepersebar pertumbuhan ekonomi. Ketiga, dalam jangka panjang (5-20 tahun) pertumbuhan ekonomi berkurang. Keempat, penanaman modal asing dan bantuan luar negeri mempunyai akibat negative untuk Negara dan Negara miskin. Penyebab besar Utang : 1) Strategi defisit anggaran tanpa diimbangi kontrol. Selama ini Indonesia selalu menerapkan strategi ini, dengan harapan, jika utang kepada luar negeri, maka hasil utang dapat digunakan untuk pembiayaan pembangunan, sehingga sektor riil berkembang dan harapannya pendapatan nasional dapat meningkat signifikan. Namun hasil dari pendapatan nasional ini tidak sepenuhnya digunakan untuk membayar utang luar negeri. 2) Tidak menyadari secara penuh biaya yang harus ditanggung di masa depan Pemikiran irasional banyak mendominasi penentu kebijakan di negara sedang berkembang dalam melakukan utang (Alesina dan Tabellini).

3) Adanya faktor sosial politik dari penentu kebijakan Faktor sosial dan politik lebih dominan dibanding faktor ekonomi dalam melakukan utang (Sebastian Edwards).

Kasus Debt for Education Swap antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jerman (KfW)
DM 50 juta

Pemerintah Jerman/ KfW

Pemerintah Indonesia

DM 25 juta

Alokasi pembiayaan dalam mata Proyek pendidikan dasar uang Rupiah yang jumlahnya setara dengan DM 25 juta

Keterangan Berdasarkan Consolidation Agreement tanggal 22 November 2000,

pemerintah Jerman/KfW akan menghapuskan utang pemerintah Indonesia senilai DM 50 juta. Untuk maksud tersebut pemerintah Indonesia harus membiayai dan melaksanakan proyek yang disepakati kedua belah pihak (dalam hal ini proyek peningkatan mutu pendidikan dasar). Pembiayaan proyek tersebut dalam mata uang lokal (Rupiah) dengan nilai minimal setara dengan DM 25 juta. Dengan demikian pemerintah Indonesia praktis hanya membayar utangnya dengan mata uang lokal sebesar 50% dari jumlah yang mesti dibayar (mendapat penghapusan utang senilai DM 25 juta).

Keuntungan dan Potensi Negatif Skema Debt Conversion Skema debt conversion sering digambarkan sebagai deals where everyone benefits (Occhiolini, 1990). Dalam skema debt conversion khususnya tipe debt for development swap terdapat tiga pihak yang terlibat dan ketiganya sama-sama diuntungkan dengan adanya skema tersebut.

1.

Negara/lembaga pemberi utang (kreditor) Melihat ilustrasi mekanisme kerja debt conversion di atas, pertanyaan yang kerap muncul adalah apa keuntungan pihak kreditor dalam skema ini. Skema debt conversion dalam praktiknya diperlakukan terhadap sekumpulan utang yang menurut perhitungan teknis berdasarkan kondisi keuangan debitor akan sulit terbayar sesuai jadwal. Umumnya pokok pinjaman (principal), dan mungkin juga sebagian bunga pinjamannya (interest) sudah terbayar. Karena itu, dalam skema ini diambil inisiatif yaitu pihak yang akan membeli utang dalam pasar sekunder cukup membayar pokok pinjaman dan sejumlah kecil bunga pinjaman. Dengan demikian pihak kreditor diuntungkan karena dapat segera memperoleh piutangnya dalam hard currency (misalnya Dollar AS, Euro). Dalam hal direct conversion, utang yang dikonversikan biasanya merupakan kumpulan tunggakan bunga pinjaman (yang pokoknya sudah terbayar) atau pokok pinjaman utang berjangka waktu (maturity) sangat panjang (30 tahunan). Selain keuntungan ekonomis (opportunity cost) tersebut, pihak kreditor juga mendapatkan keuntungan non ekonomis seperti promosi dan publisitas politik.

2.

Negara pengutang (debitor) Melalui skema ini negara pengutang mempunyai kesempatan untuk mengurangi tekanan kebutuhan devisa dalam rangka debt service karena adanya kesempatan untuk mengganti pembayarannya dengan mata uang lokal.

3.

Kelompok sasaran Skema debt conversion memungkinkan tersedianya dana/tambahan dana untuk kegiatan-kegiatan, antara lain pembangunan perdesaan, pembangunan kesehatan masyarakat, konservasi lingkungan, bea siswa untuk pendidikan dasar dan pendidikan tinggi. Meski secara umum dipandang sebagai upaya yang banyak membawa

keuntungan, terdapat beberapa hal yang perlu dicermati dalam pemanfaatan dan pelaksanaan skema debt conversion sehingga pemanfaatan dan pelaksanaan skema ini tidak menimbulkan dampak negatif. Beberapa dampak negatif yang mungkin muncul adalah:

1.

Skema ini justru dapat memperburuk kesulitan anggaran/pendanaan jika pengeluaran untuk program-program debt conversion jauh melebihi kewajiban pembayaran utang yang dikonversikan.

2.

Alokasi dana untuk program-program konversi justru mengurangi alokasi anggaran untuk program-program lain yang sesungguhnya lebih

prioritas/mendesak. 3. Pembelanjaan untuk program-program konversi lebih jauh dapat berdampak pada naiknya inflasi. (Occhiolini, 1990) 4. Dapat saja terjadi penerapan skema debt conversion yang terkait dengan upaya penjadwalan utang justru memperberat persyaratan pada kesepakatan

penjadwalan utang. Pada akhir tahun 1980 an beberapa negara di benua Amerika menunda pelaksanaan program-program konversi utang karena program ini justru menghadapkan negara-negara tersebut pada kesulitan likuiditas (Sung dan Troia, 1992). Sebagai upaya mengatasi kesulitan tersebut dan menghindari dampak inflasi, beberapa negara menerbitkan obligasi untuk mendukung program debt conversion. Di kawasan Amerika, negara-negara yang telah melaksanakan skema debt conversion ini adalah Brazil, Bolivia, Chile, Colombia, Republik Dominika, Ecuador, Guatemala, Jamaica, Mexico, Paraguay, Peru, Uruguay dan Venezuela. Sementara di kawasan Afrika adalah Nigeria, Madagaskar, Zambia. Filipina merupakan negara di Asia yang cukup menonjol dan berpengalaman dalam memanfaatkan skema debt conversion. adalah Filipina. Sedangkan di kawasan Eropa negara yang memanfaatkan skema ini antara lain Bulgaria dan Polandia. Sampai saat ini Pemerintah Indonesia baru memanfaatkan skema debt for development swap dari Pemerintah Jerman. Beberapa tahun yang lalu sempat dijajagi kemungkinan pemanfaatan skema debt for nature swap dari Amerika Serikat namun rencana tersebut belum dapat terealisasi. Fasilitas skema debt conversion yang diberikan Pemerintah Jerman kepada Pemerintah Indonesia adalah dalam kerangka Memorandum of Understanding on the Consolidation of the Debt of the Republic of Indonesia due to Officials Creditors tanggal 13 April 2000 dan Consolidation Agreement antara Kreditanstalt fr Wiederaufbau (KfW lembaga keuangan Pemerintah Jerman) dengan Pemerintah RI (senilai DM 178.855.200) tanggal 22 November 2000 khususnya Article 6.

Melihat posisi utang luar negeri Indonesia yang saat ini masih tinggi, skema konversi utang (debt swap) dalam jangka pendek perlu dilakukan Indonesia untuk sedikit meringankan beban utang luar negeri di samping juga menjalin hubungan dengaan Negara kreditor serta pembangunan sektor tujuan debt swap. Namun dalam jangka panjang debt swap tetap saja dapat memberikan resiko bagi Indonesia karena beban yang ditimbulkan oleh utang luar negeri tersebut. Alangkah lebih baik jika Indonesia dapat menggunakan utang dengan baik seperti untuk menggerakkan sektor ekonomi rill agar membangkitkan gairah produksi dan daya beli masyarakat, debt swap hanyalah alternative penyelesaian masalah utang luar negeri dan bukan solusi utama.

Bab III Penutup


3.1 Kesimpulan
Utang luar negeri merupakan jenis pinjaman yang berasal dari luar negeri dan memiliki persyaratan tertentu yang dibebankan kepada pihak (negara) penerima utang tersebut. Dalam pengertian anggaran negara, utang luar negeri disebut juga sebagai sumber pendanaan alternatif yang digunakan untuk pembiayaan anggaran negara. Salah satu beban ekonomi Indonesia adalah utang luar negeri yang terus membengkak, Utang ini sudah begitu berat mengingat pembayaran cicilan dan bunganya yang begitu besar. Keputusan untuk mengambil utang luar negeri dikarenakan keterbatasan sumber-sumber pendanaan ataupun pembiayaan di dalam negeri. Pemerintah membutuhkan pendanaan yang cukup besar untuk sejumlah pengeluaran yang tidak bisa hanya mengandalkan dari sumber penerimaan dalam negeri. negara pemberi utang terbesar ke Indonesia adalah Jepang dengan nilai Rp 274,68. Secara persentase, utang dari Jepang mempunyai porsi 44% dari total utang luar negeri bilateral pemerintah Indonesia. Selain negara, utang luar negeri Indonesia juga didapat dari lembaga multilateral yang totalnya Rp 212,92 triliun. Debt swap adalah program pengurangan stok utang luar negeri Pemerintah Indonesia yang disepakati bersama dengan negara kreditur yang tergabung dalam Paris Club. Alternatif pendanaan pembangunan ini dirasa lebih menguntungkan ketimbang pinjaman lunak bahkan hibah sekalipun. Paris Club adalah grup informal pejabat-pejabat finansial dari 19 negara terkaya di dunia, yang menyediakan layanan finansial seperti strukturisasi hutang, keringanan hutang, pembatalan hutang kepada negara peminjam dan para kreditornya.

Daftar Pustaka
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/02/14/05243824/SBY.Persilakan.BPK.Aud it.Utang.Luar.Negeri http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/05/20/11464085/Utang.Luar.Negeri.Menin gkat.Tajam http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=303738 http://09batik.wordpress.com/2011/01/18/utang-luar-negeri/ Sanuri. 2005.Pinjaman Luar Negeri Pemerintah (Long Agreement hingga

Restrukturisasi). Jakarta : Direktorat Luar negeri Bagian Ekspor dan Impor. Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementrian Keuangan Republik Indonesia. 2012. Perkembangan Utang Negara (Pinjaman dan Surat Berharga Negara). Jakarta : Depkeu. Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementrian Keuangan Republik Indonesia. 2012. Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (Eksternal Debt Statistics Of Indonesia). Jakarta : Kementrian Keuangan dan Bank Indonesia . Basri,Yuswar Zainul dan Mulyadi Subri. 2003. Keuangan Negara dan Analisis Kebijakan Utang Luar Negeri. Jakarta : Rajawali Press.
http://09batik.wordpress.com/2011/01/18/utang-luar-negeri/