Anda di halaman 1dari 13

Makalah Hujan Asam (Acid Rain) Posted on 1 Juni 2011 by AnnasKurniawan KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberi kan rahmat dan petunjuk-Nya sehingga makalah yang berjudul Hujan Asam (Acid Rain) ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun berdasarkan berbagai sumber yang relevan dengan materi yang disajikan dalam makalah ini. Adapun materi yang dipaparkan adalah mengenai apa y ang dimaksud dengan hujan asam, apa penyebab terjadinya hujan asam, bagaimana da mpak hujan asam terhadap penurunan manusia dan lingkungan, dan bagaimana upaya y ang dapat ditempuh untuk mencegah terjadinya hujan asam. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena it u, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat konstruktif sangat penulis ha rapkan guna kesempurnaan makalah ini. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih, semoga makalah ini bermanfaat bagi penu lis maupun bagi para pembacanya. Singaraja, 9 Mei 2011 Penulis DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .. DAFTAR ISI .. ii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penulisan . 1.4 Manfaat Penulisan 1 2 2 2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Hujan Asam 2.2 Proses Terbentuknya Hujan Asam ... 2.3 Dampak Hujan Asam Terhadap Kehidupan Manusia dan Lingkungan. 4 8 11

2.4 Upaya-Upaya Untuk mengurangi dan Mencegah Dampak Hujan Asam. BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan .. 3.2 Saran 17 17 15

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Dengan semakin meningkatnya ilmu pengetahun dan teknologi (IPTEK), semakin tingg i pula aktivitas kegiatan ekonomi manusia, di antaranya dengan semakin pesatnya perkembangan sektor industri dan sistem transportasi. Sebagai konsekuensi logis, maka semakin dampaknya akan meningkatkan pula zat-zat polutan yang dikeluarkan kegiatan industri maupun transportasi tersebut. Keberadaan zat-zat polutan di ud ara ini tentu akan berpengaruh terhadap proses-proses fisik dan kimia yang terja di di udara. Beberapa contoh efek negatif perkembangan ilmu pengetahuan dan tekn ologi yang menjadi isu-isu global antara lain efek rumah kaca, pemanasan global, polusi, sampah, dan hujan asam. Istilah hujan asam pertama kali digunakan Robert Angus Smith pada tahun 1972. Ia menguraikan tentang keadaan di Manchester, sebuah kawasan industri di bagian ut ara Inggris. Hujan asam ini pada dasarnya merupakan bagian dari peristiwa terjad inya deposisi asam. Ia mengatakan bahwa bahan pencemar di udara yang bercampur d engan air hujan bersenyawa menjadi asam dan menyebabkan kerusakan bangunan dan m onumen bersejarah. Pada dasarnya, air hujan normal memang sudah asam dengan kada r keasaman antara pH 5,6- 5,0. Keasaman ini dihasilkan ketika karbondioksida dan materi asam alami lainnya terurai dalam uap air yang bercampur di udara. Masalah itu masih terjadi hingga kini dan kita tahu bahwa banyak gas polutan yan g menyebabkan pencemaran udara. Ini termasuk sulfur dioksida yang umumnya dihasi lkan oleh pembangkit tenaga listrik yang menggunakan batubara, dan nitrogen oksi da dari kendaraan bermotor serta bahan bakar fosil yang digunakan oleh industri. Kedua unsur tersebut bersenyawa di atmosfer dengan air, oksigen, dan oksidan da ri senyawa-senyawa asam lainnya. Persenyawaan ini membentuk semacam lapisan gabu ngan antara asam sulfur dan asam nitrat. Cahaya matahari mempercepat laju reaksi proses itu. Hujan asam menyebabkan peningkatan kadar asam di tanah, danau-danau , sungai serta menyebabkan kematian pohon. Selain itu asam juga merusak material gedung, patung-patung dan peninggalan sejarah. Mengingat begitu besar dampak yang ditimbulkan oleh hujan asam terhadap kehidupa n manusia dan lingkungan, maka pada makalah ini akan dibahas mengenai bagaimana hujan asam terbentuk, dampak hujan asam terhadap manusia dan lingkungan, serta u saha yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dan mencegah terjadinya hujan asam

1.2

Rumusan Masalah

Ada beberapa rumusan yang ingin dibahas dalam makalah yang akan membahas tentang hujan asam, antara lain: Apa yang dimaksud dengan hujan asam? Bagaimanakah proses terbentuknya hujan asam? Bagaimanakah dampak atau akibat yang ditimbulkan oleh hujan asam terhadap ke hidupan manusia dan lingkungan? Upaya apasajakah yang dapat ditempuh untuk mengurangi dan menegah terjadinya hujan asam?

1.3

Tujuan

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka penulis merumu skan beberapa tujuan yang ingin dicapai, antara lain: Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan hujan asam. Untukmengetahui proses terbentuknya hujan asam. Untuk mengetahui dampak atau akibat yang ditimbulkan oleh hujan asam terhada p kehidupan manusia dan lingkungan. Untuk mengetahui upaya yang dapat ditempuh untuk mengurangi dan menegah terj adinya hujan asam.

1.4

Manfaat

Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah memberikan kita pengen tahuan dan wawasan mengenai apa yang dimaksud dengan hujan asam, mengetahui tent ang proses terjadinya hujan asam, dampak yang ditimbulkan oleh hujan asam terhad ap kehidupan manusia dan lingkungan, dan usaha yang dapat kita lakukan untuk men gurangi dan mencegah dampak buruk yang ditimbulkan oleh hujan asam. Pengetahuan ini diharapkan semoga mampu meningkatkan kesadaran kita untuk menjaga lingkunga n serta mengubah pola hidup untuk mendukung pelestarian lingkungan hidup.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Hujan Asam

Fenomena hujan asam mulai dikenal sejak akhir abad 17, hal ini diketahui dari bu ku karya Robert Boyle pada tahun 1960 dengan judul A General History of the Air. B uku tersebut menggambarkan fenomena hujan asam sebagai nitrous or salino-sulforus spiris. Selanjutnya revolusi industri di Eropa yang dimulai sekitar awal abad ke 18 mema ksa penggunaan bahan bakar batubara dan minyak sebagai sember utama energi untuk mesin-mesin. Sebagai akibatnya, tingkat emisi precursor (faktor penyebab) dari

hujan asam yakni gas-gas SO2, NOx dan HCl meningkat. Padahal biasanya precussor ini hanya berasal dari gas-gas gunung berapi dan kebakaran hutan. Istilah hujan asam pertama kali digunakan oleh Robert Angus Smith pada tahun 187 2 pada saat menguraikan keadaan di Manchester, sebuah daerah industri di Inggris bagian utara. Smith menjelaskan fenomena hujan asam pada bukunya yang berjudul A ir and Rain: The Beginnings of Chemical Technology. Hujan asam adalah hujan yang bersifat asam daripada hujan biasa (Hunter BT, 2004 dalam Rahardiman, Arya. 2009). Deposit asam dari atmosfer dapat bersifat abash (dari hujan, salju, atau hujan es) atau kering (dari pertukaran turbulen dan pen garuh gravitasi yang tidak berkaitan dengan hujan). Hujan asam dikenal pertama k ali pada tahun 1950, yaitu pada saat hujan asam tersebut memberikan dampak negat ive berupa air yang bersifat asam di danau Skandinavia dan Kanada (Mukono, 2000 dalam Rahardiman, Arya. 2009). Istilah keasaman berarti bertambahnya ion hydrogen ke dalam suatu lingkungan. Su atu lingkungan akan bersifat asam jika kemasukan ion hydrogen yang bersal dari a sam sulfat (H2SO4) dan atau asam nitrat (HNO3). Satu reaksi penting dalam oksida si sulfur dioksida adalah antara sulfur dioksida yang terlarut dan hydrogen pero ksida. Masalah hujan asam dalam skala yang cukup besar pertama terjadi pada tahun 1960an ketika sebuah danau di Skandinavia meningkat keasamannya hingga mengakibatkan berkurangnya populasi ikan. Hal tersebut juga terjadi di Amerika Utara, pada ma sa itu pula banyak hutan-hutan di bagian Eropa dan Amerika yang rusak. Sejak saa t itulah dimulai berbagai usaha penaggulangannya, baik melalui bidang ilmu penge tahuan, teknis maupun politik. Hujan yang normal seharusnya adalah hujan yang tidak membawa zat pencemar dan de ngan pH 5,6. Air hujan memang sedikit asam karena H2O yang ada pada air hujan be reaksi dengan CO2 di udara. Reaksi tersebut menghasilkan asam lemah H2CO3 dan te rlarut di air hujan. Apabila air hujan tercemar dengan asam-asam kuat, maka pH-n ya akan turun dibawah 5,6 maka akan terjadi hujan asam. Hujan asam sebenarnya dapat mencegah global warming, gas buang seperti SO2 penye bab hujan asam mampu memantulkan sinar matahari keluar atmosfer bumi sehingga da pat mencegah kenaikan temperatur bumi. Akan tetapi, efek samping dari hujan asam menghasilkan kerusakan lingkungan yang lebih parah dibandingkan global warming. Sebenarnya hujan asam merupakan istilah yang kurang tepat untuk menggambarkan jat uhnya asam-asam dari atmosfer ke permukaan bumi. Istilah yang lebih tepat seharu snya adalah deposisi asam, karena pengendapan asam dari atmosfir ke permukaan bu mi tidak hanya melalui air hujan tetapi juga melalui kabut, embun, salju, aeroso l bahkan pengendapan langsung. Istilah deposisi asam lebih bermakna luas dari hu jan asam. (Sumber: Ophardt, C.O., (2003)). Karena hujan asam terlihat, dan rasanya seperti air bersih, pengukuran pH diambi l untuk menentukan keasaman yang dimilikinya. Menurut US Environmental Protectio n Agency, air murni memiliki pH 7,0, dan hujan normal memiliki pH sekitar 5.6 (H oward, Rhonda, 2010). Nilai 7,0 dianggap netral, Nilai yang lebih tinggi dari 7, 0 semakin alkali atau dasar, Nilai lebih rendah dari 7,0 semakin asam. ilustrasi di atas juga menggambarkan pH dari beberapa zat umum Deposisi asam ada dua jenis, yaitu deposisi kering dan deposisi basah. Deposisi kering ialah peristiwa kerkenanya benda dan mahluk hidup oleh asam yang ada dala m udara. Ini dapat terjadi pada daerah perkotaan karena pencemaran udara akibat kendaraan maupun asap pabrik. Selain itu deposisi kering juga dapat terjadi di d aerah perbukitan yang terkena angin yang membawa udara yang mengandung asam. Bia

sanya deposisi jenis ini terjadi dekat dari sumber pencemaran. Deposisi basah ialah turunnya asam dalam bentuk hujan. Hal ini terjadi apabila a sap di dalam udara larut di dalam butir-butir air di awan. Jika turun hujan dari awan tadi, maka air hujan yang turun bersifat asam. Deposisi asam dapat pula te rjadi karena hujan turun melalui udara yang mengandung asam sehingga asam itu te rlarut ke dalam air hujan dan turun ke bumi. Asam itu tercuci atau wash out. Dep osisi jenis ini dapat terjadi sangat jauh dari sumber pencemaran. Beberapa penyebab hujan asam diantaranya : Pada dasarnya Hujan asam disebabkan oleh 2 polutan udara, Sulfur Dioxide (SO 2) dan nitrogen oxides (NOx) yang keduanya dihasilkan melalui pembakaran. Akan t etapi sekitar 50% SO2 yang ada di atmosfer diseluruh dunia terjadi secara alami, misalnya dari letusan gunung berapi maupun kebakaran hutan secara alami. Sedangkan 50% lainnya berasal dari kegiatan manusia, misalnya akibat pembakaran BBF, peleburan logam dan pembangkit listrik. Minyak bumi mengadung belerang anta ra 0,1% sampai 3% dan batubara 0,4% sampai 5%. Waktu BBF di bakar, belerang ters ebut beroksidasi menjadi belerang dioksida (SO2) dan lepas di udara. Oksida bele rang itu selanjutnya berubah menjadi asam sulfat. Oksida nitrogen, atau NOx, dan sulfur dioksida, atau SO2, adalah dua sumber utam a hujan asam. Sulfur dioksida, yang merupakan gas tidak berwarna, dilepaskan seb agai produk oleh-ketika bahan bakar fosil yang mengandung belerang yang terbakar . Gas ini dihasilkan karena berbagai proses industri, seperti pengolahan minyak me ntah, pabrik utilitas, dan besi dan pabrik baja. berarti alam dan bencana juga d apat mengakibatkan belerang dioksida yang dilepaskan ke atmosfer, seperti vegeta si membusuk, plankton, semprot laut, dan gunung berapi, yang semuanya memancarka n sekitar 10% belerang dioksida. Secara keseluruhan, pembakaran industri bertang gung jawab atas 69,4% emisi sulfur dioksida ke atmosfer, dan transportasi kendar aan bertanggung jawab atas sekitar 3,7% (Anonim , 2009). NOx juga berasal dari aktifitas jasad renik yang menggunakan senyawa organik yang mengandung N. Oksida N merupakan hasil samping aktifitas jasad renik itu. Di dalam tanah pupuk N yang tidak terserap tumbuhan juga mengalami kimi-fisik da n biologik sehingga menghasilkan N. Karena itu semakin banyak menggunakan pupuk N, makin tinggi pula produksi oksida tersebut. Hujan asam juga dapat terbentuk melalui proses kimia dimana gas sulphur diox ide atau sulphur dan nitrogen mengendap pada logam serta mengering bersama debu atau partikel lainnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National Atmospheric Deposition Progr am di Amerika, menunjukkan bahwa pada Tahun 2004 terjadi hujan asam yang diperki rakan disebabkan oleh pembangkit listrik di New Jersey atau Michigan. Adapun Gambar 1 tentang hujan asam yang terjadi di kawasan tersebut adalah sebag ai berikut:

Gambar 1. Hujan Asam yang disebabkan oleh pembangkit listrik di New Jersey atau Michigan. (Sumber: National Atmospheric Deposition Program dalam Likens, Gene (2010) )

2.2

Proses Terbentuknya Hujan Asam

Deposisi asam terjadi apabila asam sulfat, asam nitrat, atau asam klorida yang a da do atmosfer baik sebagai gas maupun cair terdeposisikan ke tanah, sungai, dan au, hutan, lahan pertanian, atau bangunan melalui tetes hujan, kabut, embun, sal ju, atau butiran-butiran cairan (aerosol), ataupun jatuh bersama angin. Asam-asam tersebut berasal dari prekursor hujan asam dari kegiatan manusia (anth ropogenic) seperti emisi pembakaran batubara dan minyak bumi, serta emisi dari k endaraan bermotor. Kegiatan alam seperti letusan gunung berapi juga dapat menjad i salah satu penyebab deposisi asam. Reaksi pembentukan asam di atmosfer dari pr ekursor hujan asamnya melalui reaksi katalitis dan photokimia. Reaksi-reaksi yan g terjadi cukup banyak dan kompleks, namun dapat dituliskan secara sederhana sep erti dibawah ini. 1. Pembentukan Asam Sulfat (H2SO4)

Gas SO2, bersama dengan radikal hidroksil dan oksigen melalui reaksi photokatali tik di atmosfer, akan membentuk asamnya. SO2 + OH HSO3 HSO3 + O2 HO2 + SO3 SO3 + H2O H2SO4 Selanjutnya apabila diudara terdapat Nitrogen monoksida (NO) maka radikan hidrop eroksil (HO2) yang terjadi pada salah satu reaksi diatas akan bereaksi kembali s eperti: NO + HO2 NO2 + OH Pada reaksi ini radikal hidroksil akan terbentuk kembali, jadi selama ada NO diu dara, maka reaksi radikal hidroksil akan terbantuk kembali, jadi semakin banyak SO2, maka akan semakin banyak pula asam sulfat yang terbentuk. 2. Pembentukan Asam Nitrat (HNO3)

Pada siang hari, terjadi reaksi photokatalitik antara gas Nitrogen dioksida deng an radikal hidroksil. NO2 + OH HNO3 Sedangkan pada malam hari terjadi reaksi antara Nitrogen dioksida dengan ozon NO2 + O3 NO3 + O2 NO2 + NO3 N2O5 N2O5 + H2O HNO3 Didaerah peternakan dan pertanian akan concong menghasilkan asam pada tanahnya m engingat kotoran hewan banyak mengandung NH3 dan tanah pertanian mengandung urea . Amoniak di tanah semula akan menetralkan asam, namun garam-garam ammonia yang terbentuk akan teroksidasi menjadi asam nitrat dan asam sulfat. Disisi lain amon iak yang menguap ke udara dengan uap air akan membentuk ammonia hingga memungkin kan penetralan asam yang ada di udara. HNO3 sangat asam dan larut dengan baik sekali. Selain itu juga merupakan asam ke ras dan reaktif terhadap benda-benda lain yang menyebabkan korosif. Oleh sebab i

tu, presipitasinya akan merusak tanaman terutama daun (Manahan, 1994 dalam Rahma waty, 2002). 3. Pembentukan Asam Chlorida (HCl)

Asam klorida biasanya terbentuk di lapisan stratosfer, dimana reaksinya melibatk an Chloroflorocarbon (CFC) dan radikal oksigen O* CFC + hv(UV) Cl* + produk CFC + O* ClO + produk O* + ClO Cl* + O2 Cl + CH4 HCl + CH3 Reaksi diatas merupakan bagian dari rangkaian reaksi yang menyebabkan deplesi la pisan ozon di stratosfer. Perbandingan ketiga asam tersebut dalam hujan asam bia sanya berkisar antara 62 persen oleh Asam Sulfat, 32 persen Asam Nitrat dan 6 pe rsen Asam Chlorida. Pulau Jawa memiliki tingkat emisi penyebab hujan asam tertinggi di Indonesia, te rutama disebabkan oleh sebagian besar kegiatan perekonomian yang terpusat di pul au ini. Pada tahun 1989, tingkat precursor SOx di Indonesia mencapat 157.000 ton per tahun, sedangkan NOx mencapai 175.000 ton per tahun. Kota Surabaya pada tah un 2000 tercatat mengemisikan 0,26 ton SO2 dan 66,4 ton NOx ke udara dari berbag ai sumber pencemar (Musfil A.S., (2008) dalam Sumahamijaya, I., (2009)). Mekanisme proses terbentuknya hujan asam, dapat diamati pada Gambar 2 berikut: Gambar 2. Mekanisme Terbentuknya Hujan Asam

(Sumber: PhysicalGeography.net dalam Likens, Gene, 2010) Secara alami hujan asam dapat terjadi akibat semburan dari gunung berapi dan dar i proses biologis di tanah, rawa, dan laut. Akan tetapi, mayoritas hujan asam di sebabkan oleh aktivitas manusia seperti industri, pembangkit tenaga listrik, ken daraan bermotor dan pabrik pengolahan pertanian (terutama amonia). Gas-gas yang dihasilkan oleh proses ini dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer di atmos fer sebelum berubah menjadi asam dan terdeposit ke tanah. Hujan asam karena proses industri telah menjadi masalah yang penting di Republik Rakyat Cina, Eropa Barat, Rusia dan daerah-daerah di arahan anginnya. Hujan asa m dari pembangkit tenaga listrik di Amerika Serikat bagian Barat telah merusak h utan-hutan di New York dan New England. Pembangkit tenaga listrik ini umumnya me nggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya. Bukti terjadinya peningkatan hujan asam diperoleh dari analisa es kutub. Terliha t turunnya kadar pH sejak dimulainya revolusi industri dari Ph 6 menjadi 4,5 ata u 4. Informasi lain diperoleh dari organisme yang dikenal sebagai diatom yang me nghuni kolam-kolam. Setelah bertahun-tahun, organisme-organisme yang mati akan m engendap dalam lapisan-lapisan sedimen di dasar kolam. Pertumbuhan diatom akan m eningkat pada pH tertentu, sehingga jumlah diatom yang ditemukan di dasar kolam akan memperlihatkan perubahan pH secara tahunan bila kita melihat ke masing-masi ng lapisan tersebut. Sejak dimulainya Revolusi Industri, jumlah emisi sulfur dioksida dan nitrogen ok sida ke atmosfer turut meningkat. Industri yang menggunakan bahan bakar fosil, t erutama batu bara, merupakan sumber utama meningkatnya oksida belerang ini. Pemb

acaan pH di area industri terkadang tercatat hingga 2,4 (tingkat keasaman cuka). Penggunaan cerobong asap yang tinggi untuk mengurangi polusi lokal berkontribus i dalam penyebaran hujan asam, karena emisi gas yang dikeluarkannya akan masuk k e sirkulasi udara regional yang memiliki jangkauan lebih luas. Sering sekali, hu jan asam terjadi di daerah yang jauh dari lokasi sumbernya, di mana daerah pegun ungan cenderung memperoleh lebih banyak karena tingginya curah hujan di sini.

2.3

Dampak Hujan Asam Terhadap Kehidupan Manusia dan Lingkungan

Terjadinya hujan asam harus diwaspadai karena dampak yang ditimbulkan bersifat g lobal dan dapat menggangu keseimbangan ekosistem. Hujan asam memiliki dampak tid ak hanya pada lingkungan biotik, namun juga pada lingkungan abiotik, antara lain : a) Danau Kelebihan zat asam pada danau akan mengakibatkan sedikitnya spesies yang bertaha n. Terdapat hubungan yang erat antara rendahnya pH dengan berkurangnya populasi ikan di danau-danau. pH di bawah 4,5 tidak memungkinkan bagi ikan untuk hidup, s ementara pH 6 atau lebih tinggi akan membantu pertumbuhan populasi ikan. Asam di dalam air akan menghambat produksi enzim dari larva ikan trout untuk keluar dar i telurnya. Asam juga mengikat logam beracun seperi alumunium di danau. Alumuniu m akan menyebabkan beberapa ikan mengeluarkan lendir berlebihan di sekitar insan gnya sehingga ikan sulit bernafas. Pertumbuhan Phytoplankton yang menjadi sumber makanan ikan juga dihambat oleh tingginya kadar pH. Gambar mengenai dampak hujan asam terhadap penurunan kualitas air danau atau air permukaan, dapat dicermati pada gambar berikut: Gambar 3. Dampak Hujan Asam Terhadap Penurunan Kualitas Air Danau

(Sumber: PhysicalGeography.net dalam Likens, Gene, 2010)

b)

Tanah

Efek tidak langsung dari hujan asam adalah efek terhadap tanah. Gejala ini menye babkan terjadinya pencucian mineral seperti Ca, Mg, dan Potassium, yang merupak an yamg merupakan mineral utama bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Miner al tersebut digantikan oleh logam berat seperti Al, yang justru menghambat pertu mbuhan akar dan menghambat penyerapan air. Tanaman kemudian mulai mati, karena k ekurangan air. Adanya pelapukan dalam batang menandakan terjadinya kerusakan sis tem transportasi air pada tanaman. Dr. Ulrich dari Universitas Gottingen (Jerman ) menyimpulkan bahwa hujan asam menghambat beberapa pohon spruce dan beech menca pai umur lebih dari 30 40 tahun (Nandika, Dodi.,2004). c) Tumbuhan

Tanaman dipengaruhi oleh hujan asam dalam berbagai macam cara. Lapisan lilin pad a daun rusak sehingga nutrisi menghilang sehingga tanaman tidak tahan terhadap k eadaan dingin, jamur dan serangga. Pertumbuhan akar menjadi lambat sehingga lebi h sedikit nutrisi yang bisa diambil, dan mineral-mineral penting menjadi hilang. Hujan asam yang larut bersama nutrisi didalam tanah akan menyapu kandungan terse but sebelum pohon-pohon dapat menggunakannya untuk tumbuh. Serta akan melepaskan zat kimia beracun seperti aluminium, yang akan bercampur didalam nutrisi. Sehin

gga apabila nutrisi ini dimakan oleh tumbuhan akan menghambat pertumbuhan dan me mpercepat daun berguguran, selebihnya pohon-pohon akan terserang penyakit, keker ingan dan mati. d) Kesehatan Manusia

Dampak deposisi asam terhadap kesehatan telah banyak diteliti, namun belum ada y ang nyata berhubungan langsung dengan pencemaran udara khususnya oleh senyawa NO x dan SO2. Kesulitan yang dihadapi dkarenakan banyaknya faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang, termasuk faktor kepekaan seseorang terhadap pencemaran yan g terjadi. Misalnya balita, orang berusia lanjut, orang dengan status gizi buruk relatif lebih rentan terhadap pencemaran udara dibandingkan dengan orang yang s ehat. Akan tetapi, kuat dugaan bahwa ion-ion beracun yang terlepas akibat hujan asam m enjadi ancaman yang besar bagi manusia. Tembaga di air berdampak pada timbulnya wabah diare pada anak dan air tercemar alumunium dapat menyebabkan penyakit Alzh eimer. Walaupun hujan asam ditemukan di tahun 1852, baru pada tahun 1970-an para ilmuwan mulai mengadakan banyak melakukan penelitian mengenai fenomena ini. Kes adaran masyarakat akan hujan asam di Amerika Serikat meningkat di tahun 1990-an setelah di New York Times memuat laporan dari Hubbard Brook Experimental Forest in New Hampshire tentang banyaknya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh hu jan asam. e) Korosi Hujan asam juga dapat mempercepat proses pengkaratan dari beberapa material sepe rti batu kapur, pasirbesi, marmer, batu pada diding beton serta logam. Ancaman s erius juga dapat terjadi pada bagunan tua serta monument termasuk candi dan patu ng. Hujan asam dapat merusak batuan sebab akan melarutkan kalsium karbonat, meni nggalkan kristal pada batuan yang telah menguap. Seperti halnya sifat kristal se makin banyak akan merusak batuan. Lebih lanjut, Harjanto, N.T., (2008) mengungkapkan beberapa dampak dari deposisi asam ini sangat luas yakni terhadap makhluk hidup, vegetasi dan struktur bangun an seperti pada Tabel 1 dibawah ini : Tabel 1. Dampak Deposisi Asam Dampak terhadap Keterangan Makhluk Hidup Punahnya beberapa jenis ikan Mengganggu siklus makanan Mengganggu pemanfaatan air untuk air minum, perikanan, pertanian Menimbulkan masalah pada kesehatan, pernafasan dan iritasi kulit Vegetasi Perubahan keseimbangan nutrisi dalam tanah Mengganggu pertumbuhan tanaman Merusak tanaman Menyuburkan pertumbuhan jamur madu yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman (menjadi layu)

Stuktur Bangunan Melarutkan Kalsium Karbonat pada beton, lantai marmer Melarutkan tembaga dan baja Mempercepat korosi pada pipa saluran air Mengikis bangunan candi dan patung

2.4

Upaya-Upaya Untuk Mengurangi dan Mencegah Dampak Dari Hujan Asam

Usaha untuk mengendalikan deposisi asam ialah menggunakan bahan bakar yang menga ndung sedikit zat pencemaran, menghindari terbentuknya zat pencemar saar terjadi nya pembakaran, menangkap zat pencemar dari gas buangan dan penghematan energi. a) Menggunakan Bahan Bakar Dengan kandungan Belerang Rendah

Kandungan belerang dalam bahan bakar bervariasi. Penggunaan gas asalm akan mengu rangi emisi zat pembentuk asam, akan tetapi kebocoran gas ini dapat menambah emi si metan. Usaha lain yaitu dengan menggunakan bahan bakar non-belerang atau baha n bakar alternatif yang ramah lingkungan, misalnya metanol, etanol dan hidrogen. b) Pengendalian Pencemaran Selama Pembakaran

Beberapa teknologi untuk mengurangi emisi SO2 dan Nox pada waktu pembakaran tela h dikembangkan. Salah satu teknologi ialah lime injection in multiple burners (L IMB). Selain itu, bisa juga dilakukan dengan penggunaan Scrubbers. Alat ini mamp u mengurangi emisi sulfur okida hingga 80-95 % (Ophardt, C.O., 2003). c) Pengendalian Setelah Pembakaran

Zat pencemar juga dapat dikurangi dengan gas ilmiah hasil pembakaran. Teknologi yang sudah banyak dipakai ialah fle gas desulfurization (FGD). Cara lain ialah d engan menggunakan amonia sebagai zat pengikatnya sehingga limbah yang dihasilkan dapat dipergunakan sebagi pupuk.

d)

Mengaplikasikan prinsip 3R (Reuse, Recycle, Reduce)

Hendaknya prinsip ini dijadikan landasan saat memproduksi suatu barang, dimana p roduk itu harus dapat digunakan kembali atau dapat didaur ulang sehingga jumlah sampah atau limbah yang dihasilkan dapat dikurangi. e) Untuk mengurangi dampak buruk yang muncul dari hujan asam terhadap tanah ataupun danau dapat dilakukan dengan menambahkan zat kapur kedalam tanah atau k edalam danau. Penambahan kapur kedalam tanah maupun danau dapat menetralkan sifa t asam. f) Melakukan Reboisasi atau penanaman kembali. Keberhasilan program rebois asi dan rehabilitasi lahan akan dapat meningkatkan produktivitas lahan dan kuali tas lingkungan terutama dalam aspek: Fungsi hidrologi Fungsi perlindungan tanah

Stabilitas iklim mikro Penghasil O2, dan penyerap gas-gas pencemar udara Potensi sumberdaya pulih yang dapat dipanen Pelestarian sumberdaya plasma nutfah Perkembangbiakan ternak dan satwa liar Pengembangan kepariwisataan dan rekreasi Menciptakan kesempatan kerja Penyediaan fasilitas pendidikan dan penelitian.

Pada tahun 1970 Amerika mulai mengontrol emisi SO2 dan NOx dengan peraturan peme rintah. Peraturan ini menentukan standar polutan dari kendaraan bermotor dan ind ustri. Pada tahun 1990 kongres menyetujui amandemen untuk lebih memperketat kont rol emisi yang menyebabkan hujan asam. Amandemen tersebut tercatat mempu mengura ngi pengeluaran SO2 dari 23,5 juta ton menjadi sekitar 16 juta ton. US juga mere ncanakan untuk mengurangi emisi NOx hingga 5 juta ton pada tahun 2010.

BAB III PENUTUP

3.1.

Kesimpulan

Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida d i udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam b ahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan berea ksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehi ngga jatuh bersama air hujan. Secara sedehana, reaksi pembentukan hujan asam seb agai berikut: Pada dasarnya Hujan asam disebabkan oleh 2 polutan udara, Sulfur D ioxide (SO2) dan nitrogen oxides (NOx) yang keduanya dihasilkan melalui pembakar an. Adapun beberapa dampak yang ditimbulkan oleh hujan asam antara lain Kelebiha n zat asam pada danau akan mengakibatkan sedikitnya species yang bertahan, hujan asam yang larut bersama nutrisi didalam tanah akan menyapu kandungan tersebut s ebelum pohon-pohon dapat menggunakannya untuk tumbuh, korosi dan menyebabkan ter ganggunya kesehatan manusia. Usaha untuk mengendalikan deposisi asam ialah menggunakan bahan bakar yang m engandung sedikit zat pencemar, menghindari terbentuknya zat pencemar saar terja dinya pembakaran, menangkap zat pencemar dari gas buangan dan penghematan energi serta penambahan zat kapur.

3.2.

Saran

Agar pemerintah dan masyarakat baik dari kalangan industri maupun umum, untuk b

ekerja sama dalam menjalankan peraturan yang berkaitan dengan upaya penurunan po lusi udara agar dapat terlaksana dan diterapkan dengan baik dan seksama. Dengan penurunan polusi udara, diharapkan akan mampu mencegah terjadinya hujan asam yan g membawa akibat buruk tidak hanya erhadap lingkungan namun terhadap kelangsunga n hidup manusia.

Daftar Pustaka

Anonim . 2009. Cause and Effects of Acid Rain. Diperoleh dari: http://www.buzzle .com/ articles/ causes and effects of acid rain.html. Diakses pada: 4 Mei 2011.

Harjanto, N.T., 2008. Dampak Lingkungan Pusat Listrik Tenaga Fosil Dan Prospek P ltn Sebagai Sumber Energi Listrik Nasional. Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir, BATAN. Diperoleh dari: http://www.batan.go.id/ptbn/php/pdf-publikasi /PIN/ pin-p df/ 06Anto.pdf. Diakses pada: 5 Mei 2011.

Howard, Rhonda. 2010. Acid Rain and Heart Disease. Diperoleh pada: http://www.eh ow.co.uk/about_5640136_ acid- rain- heart- disease .html. Diakses pada: 4 Mei 20 11.

Likens, Gene . 2010. Acid Rain. Diperoleh dari: http://www.eoearth.org/article/ Acid_rain?topic. Diakses pada 4 Mei 2011.

Nandika, Dodi.,2004. Hujan Asam Suatu Fenomena yang Mengancam Kelestarian Hutan. Sataf Pengajar Jurusan Teknologi Hasil Hutan-IPB. Diperoleh dari: http://reposi tory.ipb.ac.id/bitstream/handle/ 123456789/ 23543/Dodi% 20Nandika_RK.pdf?sequenc e=1. Diakses pada: 5 Mei 2011.

Ophardt, C.O., 2003. Acid Rain. Diperoleh dari: http://www.elmhurst.edu/~chm/vch embook. Diakses pada 4 Mei 2011.

Rahardiman, Arya. 2009. Hujan Asam. Diperoleh dari: http://keslingbanget.blogspo t.com/2009/03/ hujan -asam. html. Diakses pada: 5 Mei 2011. Rahmawaty, 2002. Dampak Pencemaran Udara Terhadap Tumbuhan. Fakultas Pertanian P rogram Ilmu Kehutanan Universitas Sumatera Utara. Diperoleh dari: http://reposit ory.usu.ac.id/bitstream /123456789/857/1/ hutan-rahmawaty2.pdf. Diakses pada 5 M ei 2011.

Sumahamijaya,I., 2009. Hujan Asam Menghancurkan Bumi. Diperoleh dari http://maj arimagazine.com/2009/03/ hujan asam mencegah global warming-menghancurkan- bumi/ . Diakses pada 5 Mei 2011.