Anda di halaman 1dari 10

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN LAPORAN PENDAHULUAN Nama Mahasiswa Ruangan : :

A. TINJAUAN TEORITIS 1. Definisi Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif Lain (NAPZA) adalah bahan atau zat atau obat yang bila masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak atau susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependdensi) terhadap NAPZA. Istilah NAPZA umumnya digunakan oleh sektor pelayanan kesehatan yang menitikberatkan pada upaya penanggulangan dari sudut kesehatan fisik, psikis, dan sosial. NAPZA sering disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran. Ada kata lain yang sering berhubungan dengan NAPZA, yaitu NARKOBA, yang merupakan singkatan dari Narkotika dan Obat / Berbahaya. Istilah ini sangat populer di masyarakat termasuk media massa dan aparat penegak hukum yang sebenarnya mempunyai makna yang sama dengan NAPZA. Ada juga yang menggunakan istilah Madat untuk NAPZA, namun istilah ini tidak disarankan karena istilah tersebut hanya berkaitan dengan penggunaan jenis narkotika turunan opium saja. 2. Rentang Respon Gangguan Penyalahgunaan NAPZA Rentang respon gangguan penyalahgunaan NAPZA berfluktuasi dari kondisi yang ringan sampai dengan yang berat. Indikator rentang respon ini berdasarkan perilaku yang ditampakkan oleh pengguna penyalahgunaan NAPZA, sebagai berikut : a. Respon adaptif b. Respon maladaptif c. Eksperimental, rekreasional, situasional, penyalahgunaan dan ketergantungan Eksperimental : kondisi pengguna taraf awal yang disebabkan rasa ingin tahu dari pengguna, dimana hal ini timbul karena adanya keinginan untuk mencari pengalaman yang baru dan biasa juga dikenal dengan taraf coba-coba. Rekreasional : penggunaan zat adiktif pada waktu berkumpul dengan yang lain untuk bersosialisasi. Penggunaan ini mempunyai tujuan rekreasi bersama dengan pengguna zat adiktif lainnya. Situasional : penggunaan zat adiktif mempunyai tujuan secara individual yang sudah menjadi kebutuhan bagi dirinya sendiri. Seringkali penggunaan ini merupakan cara untuk melarikan diri atau mengatasi masalah yang sedang

dihadapinya. Misalnya, individu menggunakan zattersebut pada saat sedang ada konflik, sedang dalam keadaan stres dan frustasi. Penyalahgunaan : penggunaan zat yang sudah cukup patologis dan sudah mulai digunakan secara rutin, minimal selama 1 bulan serta sudah terjadi penyimpangan perilaku yang menganggu fungsi dan peran di lingkungan sosial seperti dalam pendidikan dan pekerjaan. Ketergantungan : penggunaan zat yang sudah berat dan telah terjadi ketergantungan fisik dan psikologis. Ketergantungan fisik ditandai dengan adanya toleransi dan sindroma putus obat. Toleransi merupakan suatu kondisi dari individu yang mengalami peningkatan dosis (jumlah zat) untuk dapat mencapai tujuan yang biasa diinginkannya. Sedangkan sindroma putus zat merupakan suatu kondisi dimana individu yang biasa menggunakan zat adiktif secara rutin, pada dosis tertentu menurunkan jumlah zat yang digunakan atau berhenti memakai, sehingga menimbulkan kumpulan gejala sesuai dengan macam zat yang digunakan.

3. Jenis NAPZA a. Heroin Heroin berupa serbuk putih seperti tepung yang bersifat opioid yang dapat menekan rasa nyeri dan memiliki sifat depresan (menekan) sistem saraf pusat. b. Kokain Kokain diolah dari pohon Coca yang mempunyai sifat halusinogenik. c. IIKOw Putauw merupakan salah satu golongan heroin yang berbentuk bubuk. d. Ganja Ganja berisi zat kimia delta-9-tetra hidrokanbiol yang berasal dari daun Cannabis yang dikeringkan. Ganja dikonsumsi dengan cara dihisap seperti rokok tetapi ganja dihisap melalui hidung. e. Shabu-shabu Shabu-shabu merupakan kristal yang berisi methamphetamine, yang dikonsumsi dengan menggunakan alat khusus yang disebut dengan Bong yang kemudian dibakar. f. Ekstasi Ekstasi merupakan suatu zat dengan komponen kimiawi methylendioxy methamphetamine dalam bentuk tablet atau kapsul, yang mampu meningkatkan ketahanan seseorang yang biasa disalahgunakan untuk aktivitas seksual dan aktivitas hiburan di malam hari. g. Diazepam, Nipam, Megadon Merupakan jenis obat-obatan yang jika dikonsumsi secara berlebihan dapat menimbulkan efek halusinogenik. h. Alkohol Alkohol merupakan minuman yang berisi produk fermentasi yang menghasilkan etanol dengan kadar diatas 40% yang mampu menyebabkan depresi susunan saraf

pusat. Penggunaan alkohol dalam dosis tinggi dapat memicu sirosis hepatik, hepatitis alkoholik maupun gangguan sistem persarafan 4. Golongan NAPZA Berdasarkan Undang-Undang RI, NAPZA terbagi menjadi beberapa golongan yang dibagi menjadi : a. Narkotika (menurut UU RI nomor 22 tahun 1997 tentang narkotika) Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagai berikut : Narkotika Golongan I Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi untuk menimbulkan ketergantungan. Contoh : heroin, putauw, kokain, ganja. Narkotika Golongan II Narkotika yang berkhasiat untuk pengobatan. Digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi menimbulkan ketergantungan. Contoh : morfin, petidine. Narkotika Golongan III Narkotika yang berkhasiat untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh : kodein. b. Psikotropika (menurut UU RI no.5 tahun 1997 tentang psikotropika) Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang dapat menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika dibedakan dalam golongan-golongan sebagai berikut : Psikotropika Golongan I Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat untuk menimbulkan sindroma ketergantungan. Contoh : ekstasi, shabu-shabu, Lysergic Acid Dyethylamide (LSD). Psikotropika Golongan II Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat untuk menimbulkan sindroma ketergantungan. Contoh : amfetamin, metilfenidat atau ritalin). Psikotropika Golongan III Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi obat-obatan dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai

potensi sedang untuk menimbulkan sindroma ketergantungan. Contoh : pentobarbital, flunitrazepam. Psikotropika Golongan IV Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan untuk menimbulkan sindroma ketergantungan. Contoh : diazepam, bromazepam, fenobarbital, klonazepam, klordiazepoxide, nitrazepam (seperti pil BK, pil Koplo, rohip, dum, MG). c. Zat Adiktif Zat adiktif adalah suatu bahan atau zat yang apabila digunakan dapat menimbulkan kecanduan atau ketergantungan. d. Zat Psikoaktif Zat psikoaktif adalah golongan zat yang bekerja secara selektif terutama pada otak, sehingga dapat menimbulkan perubahan pada perilaku, emosi, kognitif, persepsi dan kesadaran seseorang. Ada 2 jenis psikoaktif, yaitu : Psikoaktif Bersifat Adiksi Golongan Opioida : morfin, heroin (putauw), candu, kodein, petidine. Golongan Cannabis : ganja (mariyuana), minyak hassish. Golongan Kokain : serbuk kokain dan daun koka. Golongan Alkohol : semua minuman yang mengandung ethyl alcohol seperti brandy, bir, wine, cognac, brem, tuak, anggur orangtua (AO), dan sebagainya. Golongan Sedatif Hipnotik : BK, rohypnol, magadon, dumolid, nipam, madrax. Golongan Methylene Dioxy Ampethamine (MDA) : amphetamine benzedrine, dexedrine. Golongan Methylene Dioxy Meth Ampetahamine (MDMA) : ekstasi. Golongan Halusinogen : LSD, meskaloin, mushroom, kecubung. Golongan Solven dan inhalansia : aica aibon (glue), aceton, thiner, N2O. Nikotin : tembakau. Kafein : kopi dan teh. Golongan lainnya. Psikoaktif Bersifat Non Adiksi Obat neuroleptika untuk kasus gangguan jiwa psikotik, obat anti depresi. Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan, NAPZA dapat digolongkan menjadi beberapa golongan, yaitu : Golongan Depressan (Downer) Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya merasa tenang, pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri. Golongan ini termasuk opioida (morfin, heroin/putauw, kodein), sedatif (penenang), hipnotik (obat tidur), tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain. Golongan Stimulan (Upper)

Adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Zat yang termasuk ke dalam golongan ini adalah amphetamine (shabushabu, ekstasi), kafein, kokain. Golongan Halusinogen Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda, sehingga seluruh perasaan dapat terganggu. Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis. 5. Penyebab Penyalahgunaan NAPZA Penyebab penyalahgunaan NAPZA sngat kompleks akibat interaksi berbagai faktor, yaitu : a. Faktor Individual Kebanyakan penyalahgunaan NAPZA dimulai pada saat remaja, sebab masa remaja merupakan masa transisi dimana seseorang mengalami perubahan biologi, psikologi maupun sosial yang pesat. b. Faktor Lingkungan Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan, baik sekitar rumah, sekolah, teman sebaya, maupun lingkungan sosial atau masyarakat. c. Lingkungan Keluarga Terdiri dari berbagai kondisi seperti komunikasi antar anggota keluarga yang kurang baik, hubungan antar anggota keluarga yang kurang harmonis, kurangnya sosok di keluarga yang menjadi teladan dalam hidupnya, kurangnya kehidupan beragama, kegiatan masing-masing anggota keluarga yang terlampau sibuk dan kurangnya perhatian antar sesama anggota keluarga. d. Lingkungan Sekitar Faktor lingkungan sekitar yaitu keluarga / sekolah / tempat kerja yang kurang disiplin, tempat tinggal / sekolah / tempat kerja yang terletak dekat dengan tempat hiburan, keluarga / sekolah / tempat kerja yang kurang memberi kesempatan pada masing-masing individu untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif, dan adanya anggota keluarga / teman sekolah / teman sebaya / teman kerjanya yang juga pengguna NAPZA. e. Lingkungan Pergaulan berteman dengan penyalahguna atau adanya tekanan atau ancaman dari orang lain. f. Lingkungan Masyarakat / Sosial : lemahnya penegak hukum, situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung. 6. Akibat Penyalahgunaan NAPZA Beberapa aspek yang timbul sebagai akibat langsung penyalahgunaan NAPZA antara lain : a. Secara Fisik Penggunaan NAPZA akan mengubah metabolisme tubuh seseorang. Hal ini terlihat dari peningkatan dosis yang semakin lama semakin besar dan gejala putus
5

obat. Keduanya menyebabkan seseorang untuk berusaha terus menerus mengkonsumsi NAPZA. b. Secara Psikis Berkaitan dengan berubahnya beberapa fungsi mental, seperti rasa bersalah, malu dan perasaan nyaman yang timbul dari mengkonsumsi NAPZA. Cara yang kemudian ditempuh untuk beradaptasi dengan perubahan mental itu adalah dengan mengkonsumsi NAPZA lagi. c. Secara Sosial Dampak sosial yang memperkuat pemakaian NAPZA. Proses ini biasanya diawali dengan perpecahan di dalam kelompok sosial terdekat seperti keluarga, sehingga muncul konflik dengan orangtua, teman-teman, pihak sekolah atau pekerjaan. Perasaan dikucilkan oleh pihak-pihak ini kemudian menyebabkan si penyalahguna bergabung dengan kelompok orang-orang serupa, yaitu para penyalahguna NAPZA juga. 7. Gejala Klinis Penyalahgunaan NAPZA a. Perubahan Fisik Gejala fisik yang terjadi tergantung dari jenis zat yang digunakan, tapi secara umum dapat digolongkan sebagai berikut : Pada saat menggunakan NAPZA ; jalan sempoyongan, bicara pelo (cadel), apatis (acuh tak acuh), mengantuk, agresif, curiga. Bila kelebihan dosis (overdosis) : napas sesak, denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba dingin, napas lambat atau berhenti, meninggal. Bila sedang ketagihan (putus zat / sakau) : mata dan hidung berair, menguap terus menerus, diare, rasa sakit di seluruh tubuh, takut air sehingga malas mandi, kejang, kesadaran menurun. Pengaruh jangka panjang : penampilan tidak sehat, tidak peduli terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi tidak terawat dan keropos, terdapat bekas suntikan pada lengan atau bagian tubuh lain (pada para pengguna jarum suntik). b. Perubahan Sikap Dan Perilaku Prestasi sekolah ataupun kerja menurun, sering tidak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, membolos, pemalas, kurang bertanggung jawab. Pola tidur berubah, begadang, sulit bangun di pagi hari, mengantuk di siang hari. Sering bepergian sampai larut malam, kadang tidak pulang tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Sering mengurung diri, berlama-lama di kamar mandi, menghindar bertemu dengan anggota keluarga lain di rumah. Sering mendapat telepon dan didatangi oleh orang yang tidak dikenal oleh keluarga, kemudian menghilang.

Sering berbohong dan meminta banyak uang dengan berbagai alasan yang tidak jelas penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau milik keluarga, mencuri, terlibat tindak kekerasan atau berurusan dengan polisi. Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, marah, kasar, sikap bermusuhan, tertutup dan penuh rahasia.

8. Komplikasi Dari Penyalahgunaan NAPZA Komplikasi yang bisa terjadi pada pengguna NAPZA antara lain : infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), hepatitis B dan hepatitis C, gastritis, penyakit kulit dan kelamin, bronchitis dan chirosis hepatis. Masalah kesehatan yang muncul yaitu depresi sistem pernapasan, depresi pusat pengatur kesadaran, kecemasan yang sangat berat sampai panik, perilaku agresif, gangguan daya ingat, gangguan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan kebersihan diri, gangguan sistem muskuloskeletal misalny nyeri sendi dan otot, serta perilaku mencederai diri. 9. Tujuan Terapi Dan Rehabilitasi a. Abstinensia atau menghentikan sama sekali penggunaan NAPZA. Tujuan ini tergolong sangat ideal, namun banyak orang tidak mampu atau mempunyai motivasi untuk mencapai tujuan ini. Terutama kalau ia baru menggunakan NAPZA pada fase-fase awal. Pasien tersebut dapat ditolong dengan meminimasi efek-efek yang langsung atau tidak langsung dari NAPZA. Sebagian pasien memang telah abstinesia terhadap salah satu NAPZA tetapi kemudian beralih untuk menggunakan jenis NAPZA yang lain. b. Pengurangan frekuensi dan keparahan relaps. Sasaran utamanya adalah pencegahan relaps. Bila pasien pernah menggunakan satu kali saja setelah clean maka ia disebut slip. Bila ia menyadari kekeliruannya, dan ia memang telah dibekali ketrampilan untuk mencegah pengulangan penggunaan kembali, pasien akan tetap mencoba bertahan untuk selalu abstinensia. Pelatihan relapse prevention programe, program terapi kognitif, opiate antagonist maintenance therapy dengan naltreson merupakan beberapa alternatif untuk mencegah relaps. c. Memperbaiki fungsi psikologi dan fungsi adaptasi sosial. Dalam kelompok ini, abstinensia bukan merupakan sasaran utama. Terapi rumatan (maintence) metadon merupakan pilihan untuk mencapai sasaran terapi golongan ini. ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. Fisik Data fisik yang mungkin ditemukan pada klien dengan penggunaaan NAPZA pada saat pengkajian adalah sebagai berikut : nyeri, gangguan pola tidur, menurunnya selera makan, konstipasi, diare, perilaku seks melanggar norma,
7

b.

c.

d.

e.

f.

kemunduran dalam kebersihan diri, potensial komplikasi jantung, hati, infeksi pada paru-paru, dan sebagainya. Emosional Perasaan gelisah (takut kalau diketahui), tidak percaya diri, curiga dan tidak berdaya. Sosial Lingkungan sosial yang biasa akrab dengan klien biasanya adalah teman pengguna zat, anggota keluarga lain pengguna zat, lingkungan sekolah atau kampus yang digunakan oleh para pengedar. Intelektual Pikiran yang selalu ingin menggunakan zat adikitif, perasaan ragu untuk berhenti, aktivitas sekolah atau kuliah menurun sampai berhenti, pekerjaan terhenti. Spiritual Kegiatan keagamaan tidak ada, nilai-nilai kebaikan ditinggalkan karena perubahan perilaku (tidak jujur, mencuri, mengancam dan lain-lain). Keluarga Ketakutan akan perilaku klien, malu pada masyarakat, penghamburan dan pengurasan secara ekonomi oleh klien, komunikasi dan pola asuh tidak efektif, dukungan moril terhadap klien tidak terpenuhi.

2. Diagnosa Keperawatan Ada beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin dapat timbul pada klien dengan penyalahgunaan obat, antara lain : a. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak mampu mengatasi keinginan menggunakan zat adiktif. b. Distress spiritual berhubungan dengan kurangnya pengetahuan. c. Perubahan pemeliharaan kesehatan dan ADL berhubungan dengan efek penggunaan zat adiktif. d. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan pola asuh yang salah. e. Gangguan kesadaran somnolent berhubungan dengan intoksikasi obat sedative hipnotik. 3. Intervensi Keperawatan Dx.1. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak mampu mengatasi keinginan menggunakan zat adiktif. Tujuan : klien mampu untuk mengatasi keinginan menggunakan zat adiktif Intervensi : Individu : - Identifikasi situasi yang menyebabkan timbulnya sugesti - Identifikasi perilaku ketika sugesti datang - Diskusikan cara mengalihkan pikiran dari sugesti yang lebih positif - Bantu klien mengekspresikan perasaannya Kelompok : - Diskusikan pengalaman mengucapkan kata-kata yang mengandung semangat
8

menghindari zat adiktif Keluarga : - Motivasi keluarga untuk membantu klien mampu jujur bila sugestinya dating - Diskusikan upaya keluarga membantu klien mengurangi sugesti - Bantu suasana mendukung keakraban di rumah Dx.2. Distress spiritual berhubungan dengan kurangnya pengetahuan. Tujuan : klien meningkatkan kegiatan spiritual Intervensi : Individu : - Bantu mengidentifikasi kebutuhan spiritual - Identifikasi arti keyakinan keagamaan - Motivasi menjalankan keagamaan Kelompok : - Diskusikan nilai-nilai kebaikan - Lakukan kegiatan ibadah bersama Keluarga : - Diskusikan pentingnya kegiatan keagamaan - Bantu menyiapkan kegiatan keagamaan di rumah - Motivasi orang tua sebagai contoh untuk kegiatan keagamaan Dx.3. Perubahan pemeliharaan kesehatan dan ADL berhubungan dengan efek penggunaan zat adiktif. Tujuan : klien mampu mengambil keputusan merubah dan memperbaiki gaya hidupnya Intervensi : Individu : - Identifikasi gaya hidup selama menggunakan zat adiktif - Diskusikan kerugian gaya hidup pengguna zat adiktif - Bantu kebiasaan mengontrol penggunaan zat/merokok - Bantu latihan gaya hidup sehat : makan, mandi dan tidur teratur Kelompok : - Diskusikan gaya hidup sehat dan manfaatnya Keluarga : - Identifikasi gaya hidup keluarga - Diskusikan keluarga sebagai model dan tempat berlatih untuk hidup sehat Dx.4. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan pola asuh yang salah. Tujuan : keluarga mampu memberikan kenyamanan pada klien sehingga mampu berhenti menggunakan zat adiktif Intervensi : Kelompok : - Beri kesempatan untuk mengekspresikan perasaan - Diskusikan cara menghadapi perilaku klien dan rencana sebelum pulang
9

- Bantu mencapai kesepakatan tndak lanjut perawatan rehabilitasi mental Keluarga : - Identifikasi penerimaan keluarga terhadap masalah - Bantu menerima masalah - Identifikasi harapan untuk sembuh total - Bantu respon keluarga bila klien menggunakan zat adiktif - Bantu keluarga latihan mengucapkan kata-kata yang menghargai dan mendukung klien untuk berhenti Dx.5. Gangguan kesadaran somnolent berhubungan dengan intoksikasi obat sedative hipnotik. Tujuan : klien mampu melakukan interaksi dan memberikan respon terhadap stimulus secara optimal. Intervensi : Individu : - Observasi tanda-tanda vital terutama kesadaran - Bekerja sama dengan dokter dalam pemberian terapi medis - Memberikan rasa nyaman dan aman dengan pengaturan posisi - Menjaga keselamatan diri klien selama kesadaran terganggu - Observasi keseimbangan cairan Keluarga : - Berikan penjelasan tentang pengaruh zat adiktif terhadap kondisi fisik, social dan emosional klien DAFTAR PUSTAKA Allen K.M. (1996). Nursing care of the addicted client. Philadelphia : Lippincott. Morgan. (1991). Segi praktis psikiatri. Jakarta : Bina Rupa Aksara. Smith, C.M. (1995). Community health nursing : theory and practice. Philadelphia : W.B. Saunders Company. Stuart Sundeen (1998). Principles and practice of psychiatric nursing. St Louis : Mosby Year Book. The Indonesian Florence Nightingale Foundation. (1999). Kiat penanggulangan dan penyalahgunaan ketergantungan NAPZA. Jakarta : EGC. Tom, Kus, Tedi. (1999). Bahaya NAPZA bagi pelajar. Bandung :Yayasan Al-Ghifari.

10