Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU REPRODUKSI TERNAK ACARA III HISTOLOGI BETINA

Disusun Oleh: Fuqoro Bagas Mandanu 10/301189/PT/05845 Kelompok : 16

Asisten : Shifa Dillia Nindyawati

LABORATORIUM FISIOLOGI DAN REPRODUKSI TERNAK BAGIAN PRODUKSI TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

TINJAUAN PUSTAKA

Hipofisis Kelenjar hipofisa terletak di dalam legokan pada dasar ruang otak yang dikenal sebagai sella turcica. Kelenjar ini mensekresikan sejumlah besar hormone-hormon, beberapa diantaranya berhubungan langsung dengan

reproduksi dan yang lainnya tidak langsung. Di samping itu hormone-hormon lain seperti MSH (melanophore stimulating hormone) dan vasopressin juga disekresikan oleh kelenjar hipofisa (Toliehere, 1995). Ovarium Ovarium pada sapi berbentuk bulat telur.. Ovarium digantung oleh alat penggantung mesovarium dan ligamentum utero ovarika Ovarium tertinggal di dalam cavum abdominalis. Ovarium mempunyai dua fungsi, sebagai organ eksokrin yang menghasilkan sel telur atau ovum dan sebagai organ endokrin yang mensekresikan hormon kelamin betina estrogen dan progesterone (Toliehere, 1995). Oviduct Oviduct merupakan bagian yang berperan penting dalam peristiwa kopulasi saat proses reproduksi. Oviduct terdapat sepasang (kiri dan kanan) dan merupakan saluran kecil berkelok-kelok membentang dari depan ovarium berlanjut ke tanduk uterus. Oviduct sendiri terdiri dari tiga bagian yaitu infundibulum, ampula, dan isthmus. Pada masing-masing bagian memiliki keunikan tersendiri, seperti misalnya bagian infundibulum, bagian ujung infundibulum terdapat jumbai-jumbai yang disebut fimbria. Bagian isthmus dengan ampula dibatasi oleh suatu ampulari ismic junction yang berperan dalam pembuahan, sedangkan batas antara isthmus dengan uterus adalah uteri tubal junction. Secara histology oviduct terdiri tiga lapisan. Lapisan terluar yaitu tunica serosa, lapisan tengah adalah tunica muscularis, dan paling dalam yang terdapat cilia dan sel secretory ephitelial yaitu tunica mucosa (Bearden, 1997) Bagian ujung infudibulum membentuk suatu fimbria. Infudibulum ini nampaknya berperan aktif dalam ovulasi, paling tidak dalam melingkupi sebagian

atau keseluruhan ovari dan mengarahkan ovum menuju kebukaan abdominal dari tuba uterin. Panjang tuba uterin (oviduct) berkisar 25 cm). Ampula bagian cauda merupakan tempat terjadinya pembuahan. Dalam ampula aktivitas silia merupakan kekuatan utama untuk menggerakkan ovum kearah isthmus, tetapi pada beberapa spesies kontraksi otot juga berperan. Meskipun spermatozoa berkembang dalam saluran reproduksi jantan, kemampuan membuahi pada hewan piaraan hanya dapat dicapai setelah kapasitasi dalam tuba uterina (Bearden, 1997). Pembuahan yaitu persatuan antara sel telur dan sperma, terjadi disepertiga bagian atas dari oviduct (Blakely dan Bade, 1991). Uterus Uterus merupakan bagian saluran alat kelamin betina yang berbentuk buluh, berurat daging licin, untuk menerima ova yang telah dibuahi atau embrio dari tuba falopii. Uterus merupakan tempat implantasi konseptus (zigot yang telah berkembang menjadi embrio). Fungsi uterus adalah sebagai jalannya

sperma pada saat kopulasi dan motilitas (pergerakan) sperma ke tuba falopii dibantu dengan kerja yang sifatnya kontraktil. Uterus juga berperan besra dalam mendorong fetus serta membrannya pada saat kelahiran (Toliehere, 1995). Panjang corpus uteri berkisar antara 2 sampai 4 cm, sedangkan panjang cornua uteri berkisar 35 sampai 40 cm (Frandson, 1992). Dinding uterus terdiri dari tiga lapis yaitu 1) endometrium, 2) tunica muscularis atau miometrium, 3) tunica serosa atau perimetrium (Bearden, 2007). Miometrium merupakan lapisan di bawah endometrium, terdiri dari urat daging licin melingkar (sirkuler) kuat disebelah dalam dan yang memanjang (longitudinal) disebelah luar. Antara endometrium dan miometrium ada lapisan vascular, yang banyak ditemukan pembuluh darah kapiler. Lapisan perimetrium atau lapisan serosa adalah lapisan terluar dari dinding uterus (Bearden, 2007).

BAB II MATERI DAN METODE

Materi Alat. Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah pita ukur, gunting bedah, pinset, kamera dan kertas kerja. Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah preparat basah berupa organ reproduksi sapi betina.

Metode Metode yang dilakukan pada saat kegiatan praktikum adalah praktikan diharuskan mengamati, mengetahui fungsi, membedakan, dan mengukur dengan seksama dengan pita ukur bagian-bagian alat reproduksi betina. Setelah pengukuran selesai, praktikan menerangkan kembali apa yang telah dikerjakan selama pengamatan dan pengukuran.

Hasil dan Pembahasan

Hipofisis Kelenjer hipofisis secara embriologik berkembang dari ektoderm saluran pencernaan pada atap mulut dan ektoderm neural pada hipotalamus yang sedang berkembang. Asal berganda ini sebagian terbawa keorganisme dewasa dimana kedua bagian utama tetap dipertahankan sebagai kesatuan-kesatuan nyata kelenjar adenohipofisa dan neurohipofisa Adenohipofisa terdiri dari pars distalis dan pars tuberalis. Neurohipofisa terdiri dari pars intermedia dan pars nervosa (processus infundibularis). Tangkai hipofisis terutama terdiri dari tangkai neural yang menghubungkan dengan hipotalamus (Toliehere, 1995). Adenohypophysis merupakan bagian dari kelenjar hipotalamus pada anterior lobe, berdasarkan pengamatan adenohypophysis terdiri dari cromophile sell, dan cromophill yang dibagi menjadi alfa cell dan betha cell,

adenohypophysis terdiri dari pars distalis yang merupakan bagian utama mengandung sel-sel yang mensekresikan hormon STH, ACTH, TSH, FSH, LH dan LTH. Pars distalis merupakan bagian hasil pertumbuhan keluar epitel titpis dari pars distalis yang mengelilingi tangkai neural, bagian ini tidak memiliki fungsi sebagai endokrin. Adenohipofisis merupakan kelenjar yang memepengaruhi hormone reproduksi baik jantan maupun betina (Bearden, 2007)

Gambar 1. Histologi Adenohipofisa sapi

Ovarium Ovarium pada hewan menyusui terdapat sepasang ovarium yang menghasilkan ovum. Ovarium terletak dibelakang ginjal kanan dan ginjal kiri. Menurut Toliehere (1992), Ovari merupakan sepasang kelenjar yang terletak dibelakang ginjal kanan dan ginjal kiri, jarak antara ovari dengan ginjal tergantung pada spesies. Ovum yang dihasilkan ovarium setelah mengalami ovulasi berkembang melalui tahapan antara lain : Folikel Primer, Folikel Sekunder, Folikel Tersier, dan Folikel de Graaf. Tahapan di atas merupakan pertumbuhan dan perkembangan folikel sejak mengalami ovulasi sampai ternak tersebut mengalami masa estrus. Panjang siklus estrus pada sapi heifer (sapi Dara) 20 hari, dan sapi dewasa 21-22 hari. Ovari adalah organ primer reproduksi pada betina, Ovari dianggap bersifat endokrin karen mampu menghasilkan hormon yang diserap langsung kedalam peredaran darah (Fandson, 1992). Ovarium terletak di dalam rongga perut, tidak turun seperti halnya testes. Semua hewan menyusui mempunyai sepasang ovarium dan mempunyai ukuran yang berbeda-beda tergantung species, umur, dan masa reproduksi hewan betina (Bearden, 1997).

Gambar 2. Histologi ovarium sapi

Oviduct Tuba falopii (Oviduct) dibagi menjadi: infundibulum tubae yang

mempunyai pintu ke rongga abdominal disebut osteum tubae abdominale.

Ampula tubae adalah tempat terjadi pembuahan. Isthmus mempunyai rongga sempit dan berkelok-kelok serta sangat panjang. Extremitas uterinae dengan osteum tubae uterinae yang bermuara pada kornua uteri. Pada osteum ini terdapat benjolan-benjolan atau papilla yang disebut papilla uterinae, khususnya pada kuda dan anjing memiliki jumlah yang besar (Hardjopranjoto, 1993). Menurut Frandson (1992), oviduct yang berada dekat dengan ovarium adalah infundibulum yang ujungnya berjumbai disebut fimbria. Infudibulum terletak didekat Ovarium yang berfungsi menangkap folikel yang telah masak (ovum). Pergantungan oviduct disebut mesosalving. Fungsi oviduct antara lain pertemuan ovum dengan spermatozoa atau tempat terjadinya fertilisasi di bagian ampula. Blakely dan Bade (1991) berpendapat bahwa pembuahan yaitu persatuan antara sel telur dan sperma, terjadi disepertiga bagian atas dari oviduct. Transport ovum yang telah dibuahi (zygot) menuju ke uterus. Hal itu sesuai dengan pendapat Dellman dan Brown (1992), bahwa dalam ampula aktivitas silia merupakan kekuatan utama untuk menggerakkan ovum kearah isthmus, tetapi pada beberapa spesies kontraksi otot juga sangat berperan.

Gambar 3. Histologi oviduct sapi

Uterus Uterus merupakan suatu struktur saluran muskuler yang diperlukan untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi, nutrisi dan perlindungan foetus. Uterus terdiri dari tiga bagian yaitu corpus uteri (badan uteri), cervix uteri (terletak dekat dengan cervix) dan cornu uteri. Lapisan penyangga pada uterus disebut mesometrium. Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan yaitu endometrium, perimetrum, dan myometrium. Pada uterus terdapat percabangan yang

berbentuk tanduk. Percabangan tersebut disebut sebagai Bivo casio uteri atau bivo casio of horn (Dellman dan Brown, 1992). Seperti halnya kebanyakan organ internal yang menyerupai tabung, dinding uterin terdiri dari suatu lapis membrane mukosa, suatu lapis otot intermediate, dan suatu lapis serosa bagian luar, yaitu perimetrium (peritoneum) (Frandson, 1992). Uterus berfungsi sebagai tempat implantasi embrio dan tempat tubuh serta berkembangnya embrio. Hal itu sesuai dengan pendapat Dellman dan Brown (1992), bahwa uterus merupakan tempat implantasi konseptus (zigot yang telah berkembang menjadi embrio). Selain itu uterus juga berfungsi sebagai saluran yang dilewati spermatozoa menuju oviduct, dan berperan dalam proses kelahiran. Hunter (1995) menyatakan bahwa fungsi uterus adalah sebagai jalannya sperma pada saat kopulasi dan motilitas (pergerakan) sperma ke tuba falopii dibantu dengan kerja yang sifatnya kontraktil. Uterus juga berperan besar dalam mendorong fetus serta membrannya pada saat kelahiran.

Kesimpulan

Dari hasil praktikum diperoleh kesmpulan yaitu histologi betina yaitu meliputi ovarium, hipofisis, uterus, dan oviduct. Adapun fungsi dari masingmasing bagian tersebut antara lain Uterus berfungsi sebagai saluran yang dilewati spermatozoa menuju oviduct, tempat implantasi embrio, tempat pertumbuhan dan perkembangan embrio, berperan dalam proses kelahiran, dan pada hewan betina yang tidak bunting berfungsi mengatur siklus estrus, Oviduct befungsi sebagai tronspor spermatozoa dari uterus menuju ampulla, tempat pertemuan ovum dengan spermatozoon (fertilisasi), tempet terjadinya proses kapasitasi spermatozoa, memproduksi cairan, dan transpor ovum yang telah dibuahi, ovarium berfungsi sebagai penghasil hormon estrogen, progesteron, inhibin, dan memproduksi ovum, dan hipofisis berfungsi sebagai kelenjar yang memepengaruhi hormone reproduksi baik jantan maupun betina.

Daftar Pustaka

Blakely, J dan Bade, H. D. 1991. Ilmu Peternakan Edisi keempat. Gadjah Mada University Press.Yogyakarta.