Anda di halaman 1dari 24

Hukum Antar Tata Hukum: Perbuatan Melawan Hukum

Depok, 23 November 2009 Yu Un Oppusunggu Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Bacaan
Sudargo Gautama, Hukum Perdata Internasional Indonesia, Jilid III Bagian 2, Buku VIII, Bandung: Alumni, 1987, hal. 115-202. ____________, Hukum Antargolongan Suatu Pengantar, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993, hal. 97-100.

(c) Yu Un Oppusunggu 2

Peristilahan
Belanda: onrechtmatige daad Inggris: (intentional/unintentional) tort Prancis: delit, acte illicit Indonesia: Perbuatan Melanggar Hukum, Perbuatan Melawan Hukum

(c) Yu Un Oppusunggu

PMH dalam Hukum Perdata Internasional

(c) Yu Un Oppusunggu

Ajaran tentang Perbuatan Melanggar Hukum


1.
2.

Ajaran Klasik
1.

Lex loci delicti commissi

3.
4. 5.

Lex Fori Kombinasi lex loci dan lex fori The Proper Law of the Tort The Most Characteristic Locality

(c) Yu Un Oppusunggu

1 Lex Loci Delicti Commissi

Hukum yang berlaku untuk perbuatan melanggar hukum ialah hukum di mana perbuatan itu dilakukan (atau terjadi). Hukum ini menentukan baik mengenai
1. 2.

syarat-syarat terjadinya suatu PMH, maupun sampai sejauh mana akibat-akibat dari suatu PMH.

(c) Yu Un Oppusunggu

Alasan Pro Lex Loci Delicti


1.
2.

3.

4.

5.

Mudah menentukan hukum yang berlaku. Lex loci delicti memberikan perlindungan harapan sewajarnya bagi khalayak ramai. Bersifat preventif, bagi korban maupun pelanggar. Memberikan kepastian hukum bagi si pelanggar, sehubungan dengan hukum yang berlaku baginya. Uniformitas keputusan.
(c) Yu Un Oppusunggu 7

Keberatan-keberatan terhadap Lex Loci Delicti


1.

Suatu hard and fast rule

Perlu dilakukan pelembutan terhadap aplikasi hukum atas suatu PMH. Perlindungan terhadap publik dapat diberikan jika sudah jelas hukum mana yang akan diberlakukan.

2.

Perlindungan harapan publik bersifat petitio principii

3. 4. 5. 6.

Sifat preventif adalah relatif Tidak ada kesatuan universal terhadap penerimaan ajaran ini Penentuan locus tidak selalu simpel dan mudah Kurang sesuai dengan milieu sosial

(c) Yu Un Oppusunggu

2 Lex Fori
Hukum Sang Hakim diterapkan dalam mengadili suatu perkara PMH Internasional. Penerapan lex fori didasarkan pada pertimbangan praktis:

locus sukar untuk ditentukan. Lex fori memberikan kepastian hukum, untuk pemenuhan syarat-syarat dan batasan akibatakibat suatu PMH.

(c) Yu Un Oppusunggu 9

Mencari Locus
1.

Tempat terjadinya kerugian


Penitikberatan pada tempat di mana kerugian timbul. Dianut oleh Amerika Serikat Pasal 377 Restatement of Conflict of Laws:

The place of wrong is in the state where the last event necessary to make an actor liable for an alleged tort takes place.

2. 3.

Tempat dilakukannya perbuatan

Dianut oleh kebanyakan negara-negara Eropa Kontinental

Kombinasi kebebasan memilih

Korban dapat memilih hukum yang akan digunakan.


(c) Yu Un Oppusunggu 10

3 Kombinasi Lex Loci & Lex Fori (Inggris) (1)

Philips v. Eyre (1870) Philips menggugat Eyre, mantan Gubernur Jamaica, karena perbuatan Eyre yang secara sewenang-wenang memenjarakannya, di muka pengadilan Inggris. Pemerintah Jamaica memberlakukan Act of Indemnity yang berlaku surut dan mengesahkan perbuatan Eyre. Pengadilan Inggris mengganggap Act tersebut sah.
(c) Yu Un Oppusunggu 11

3 Kombinasi Lex Loci & Lex Fori (Inggris) (2)

Pertimbangan dari Willes, J:


Harus

terpenuhi syarat actionability:

First, the wrong must be of such a character that it would have been actionable if committed in England .

Harus

terpenuhi syarat justifiability:

Secondly, the act must not have been justifiable by the law of the place where it was done.

Similarity/Similitude Principle
(c) Yu Un Oppusunggu 12

3 Kombinasi Lex Loci & Lex Fori (Jerman)


Pada asasnya di Jerman berlaku lex loci delicti untuk suatu perbuatan melanggar hukum. Pasal 12 EGBGB memberikan pembatasan:

Orang-orang Jerman tidak dapat dituntut di Jerman untuk PMH yang dilakukan di luar negeri untuk jumlah ganti kerugian yang lebih besar dari apa yang wajib menurut ketentuan hukum Jerman.
(c) Yu Un Oppusunggu 13

Suatu manifestasi dari Vorbehaltklausel.

4 The Proper Law of the Tort

Morris: menerapkan parameter the proper law of the contract untuk perkara-perkara PMH. The Proper Law of the Tort adalah hukum yang memiliki hubungan paling riil (the most real connection):

Melakukan individualisasi dari setiap kasus PMH yang dihadapi. Memperhatikan social surroundings dari tiap-tiap peristiwa. Berdasarkan hal-hal yang sifatnya kasuistis, dapat ditemukan hukum yang tepat (the proper law).
(c) Yu Un Oppusunggu 14

5 The Most Characteristic Locality


Rabel: menerapkan parameter the most characteristic connection dari kontrak untuk perkara-perkara PMH. Melakukan individualisasi dari setiap kasus PMH untuk menemukan koneksi/hubungan yang paling karakteristik.

Mencari center of gravity dari setiap kasus PMH.


(c) Yu Un Oppusunggu 15

PMH dalam HATAH Intern

(c) Yu Un Oppusunggu

16

Asas Hukum untuk PMH dalam HATAH Intern

Hukum dari orang yang melanggar (recht van de dader)

Hukum yang berlaku dalam PMH dalam hubungan HATAH adalah hukum dari sang pelanggar. Suasana hukum sang korban

Pengecualian:

Jika dader dianggap telah masuk ke dalam suasana hukum sang korban, maka hukum yang berlaku atas PMH tersebut adalah hukum sang korban.

Karena locus dalam HAG bukan bersifat teritorial, tetapi personal.


(c) Yu Un Oppusunggu 17

Masuk ke dalam Suasana Hukum Pihak yang Lain

Zich begeven in de rechtssfeer van den ander Orang yang berasal dari satu golongan rakyat lain karena untuk melakukan suatu perbuatan hukum masuk ke suasana hukum dari golongan rakyat lain. Apakah telah terjadi pemasukan oleh satu pihak ke suasana hukum pihak lain, disimpulkan dari kenyataan-kenyataan yang harus ditetapkan hakim dalam concreto.
(c) Yu Un Oppusunggu 18

Yurisprudensi
Ford Motor Company of Canada Ltd, 1935 Pemasangan papan Ford Service oleh bengkel di Jakarta dianggap sebagai PMH atau konkurensi curang oleh Ford.

Tuntutan:

papan merek Ford tidak digunakan lagi.

RvJ (1933) mengabulkan; Hoogerechtshof membatalkan putusan RvJ


(c) Yu Un Oppusunggu 19

Yurisprudensi Mahkamah Agung

Tan Bun Pong v Achmad Dahlan


M.A. 10 Januari 1957, H. 1957, No. 7-8, 61, H.K. No. 86 Ganti kerugian atas penjualan karet sheet yang tidak diserahkan oleh Tergugat kepada Penggugat, meski pembayaran telah dilakukan. Penggugat meminta dilakukan sitaan konservatoir atas sejumlah truk milik Tergugat. Penggugat dikalahkan, dan digugat balik oleh ahli waris Tergugat atas sitaan yang tidak sah. Hakim menggunakan hukum adat untuk mengadili perbuatan melanggar hukum tersebut, karena lebih luwes dan supel. Dalam hukum adat tidak selalu kerugian seluruhnya harus diganti. MA berpendapat bahwa selayaknya kerugian dipikul bersama oleh kedua belah pihak.
(c) Yu Un Oppusunggu 20

Pasal-pasal Penting dalam BW Terkait PMH

Pasal 1365: Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk mengganti kerugian tersebut.
Pasal 1366: Setiap orang bertanggung jawab, bukan hanya atas kerugian yang disebabkan perbuatan-perbuatan, melainkan juga atas kerugian yang disebabkan kelalaian atau kesombronoannya.
(c) Yu Un Oppusunggu 21

Rancangan Undang-Undang Hukum Perdata Internasional

Prinsip Umum

Pasal 11 ayat (1):

Selama tidak ditentukan oleh Undang-Undang ini atau peraturan perundang-undangan Indonesia lainnya, sahnya suatu bentuk perbuatan hukum ditentukan oleh hukum dari negara tempat perbuatan itu dilakukan.

Prinsip Khusus

Pasal 19 ayat (1)

Hukum dari negara tempat suatu peristiwa hukum terjadi menentukan apakah peristiwa itu adalah suatu perbuatan melanggar hukum, serta menentukan segala akibat hukumnya. Akibat hukum yang termasuk dalam suasana hukum dari negara lain daripada tempat terjadinya perbuatan melangar hukum itu dapat ditentukan oleh hukum dari negara lain tersebut.
(c) Yu Un Oppusunggu 22

Pasal 19 ayat (2)

staff.ui.ac.id
Ketik

di kolom search Yu Un Oppusunggu Klik Yu Un Oppusunggu Klik Materials Silahkan unduh

(c) Yu Un Oppusunggu

23

* * * End of slides ***

(c) Yu Un Oppusunggu

24