Anda di halaman 1dari 39

Pengertian Belanja Bantuan Sosial dan Risiko Sosial

Belanja Bantuan Sosial adalah : transfer uang atau barang yang diberikan oleh Pemerintah Pusat/Daerah kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya risiko sosial. Transfer uang/barang/jasa tersebut memiliki ketentuan sebagai berikut : Belanja bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atau lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. 2. Belanja bantuan sosial bersifat sementara atau berkelanjutan. 3. Belanja bantuan sosial ditujukan untuk mendanai kegiatan rehabilitasi sosial, perlindungan sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, penanggulangan kemiskinan dan penanggulangan bencana. 4. Belanja bantuan sosial bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas, kelangsungan hidup, dan memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian sehingga terlepas dari risiko sosial. 5. Belanja bantuan sosial diberikan dalam bentuk: a. bantuan langsung; b. penyediaan aksesibilitas; dan/atau c. penguatan kelembagaan.

1.

Risiko sosial adalah : kejadian atau peristiwa yang dapat mempengaruhi kesejahteraan rumah tangga (masyarakat) yang disebabkan oleh pembebanan tambahan permintaan atas sumber daya. Pengertian lain disebutkan bahwa risiko sosial terkait dengan kerentanan, yaitu kemungkinan kejadian atau peristiwa yang membuat rumah tangga (masyarakat) yang saat ini tidak termasuk miskin akan jatuh di bawah garis kemiskinan, atau jika saat ini berada di bawah garis kemiskinan, akan tetap berada di bawah garis kemiskinan atau semakin jauh terperosok di bawah garis kemiskinan. Risiko sosial merupakan potensi atau kemungkinan terjadinya guncangan dan kerentanan sosial yang akan ditanggung oleh seseorang, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat, sebagai dampak dari penyakit sosial berupa ketakpedulian, ketakacuhan, indisipliner, fatalitas, selfishness, egoism dan immoralitas yang jika tidak dilakukan pemberian belanja bantuan sosial oleh pemerintah maka seseorang, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat tersebut akan semakin terpuruk dan tidak dapat hidup dalam kondisi wajar. Guncangan dan kerentanan sosial adalah keadaan tidak stabil yang terjadi secara tiba-tiba sebagai akibat dari situasi krisis sosial, ekonomi, politik, bencana, dan fenomena alam. Kemampuan seseorang, kelompok, dan/atau masyarakat untuk menangani risiko dan penanganan yang layak diterapkan untuk menangani risiko tergantung kepada sumber risiko, frekuensi dan intensitas kejadian. Risiko sosial menurut Buletin Teknis ini adalah kejadian atau peristiwa yang dapat menimbulkan potensi terjadinya kerentanan sosial yang ditanggung oleh individu, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat sebagai dampak krisis sosial, krisis ekonomi, krisis politik, fenomena alam dan bencana alam yang jika tidak diberikan belanja bantuan sosial akan semakin terpuruk dan tidak dapat hidup dalam kondisi wajar. Keadaan yang memungkinkan adanya risiko sosial antara lain, namun tidak terbatas pada: Wabah penyakit yang apabila tidak ditanggulangi maka akan meluas dan memberikan dampak yang memburuk kepada masyarakat. Wabah kekeringan atau paceklik yang bila tidak ditanggulangi akan membuat petani/nelayan menjadi kehilangan penghasilan utamanya. Cacat fisik dan/atau mental yang bila tidak dibantu tidak akan bisa hidup secara mandiri. Penyakit kronis yang bila tidak dibantu tidak akan bisa hidup secara mandiri. Usia lanjut yang bila tidak dibantu tidak akan bisa hidup secara mandiri. Putus sekolah yang bila tidak dibantu akan semakin terpuruk dan tidak dapat hidup secara mandiri, Kemiskinan yang bila tidak dibantu akan semakin terpuruk dan tidak dapat hidup secara wajar. Keterisolasian tempat tinggal karena kurangnya akses penghubung yang mempersulit perkembangan masyarakat di suatu daerah. Bencana yang bila tidak ditanggulangi akan rnengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat.

Kriteria Belanja Bantuan Sosial Untuk membatasi apa saja yang dapat dikategorikan sebagai belanja bantuan sosial, memiliki kriteria berikut ini:

1. 2. 3. 4.

Tujuan penggunaan Pemberi Bantuan Persyaratan Penerima Bantuan Bersifat Sementara atau Berkelanjutan. Untuk dapat diklasifikasikan sebagai belanja bantuan sosial, pengeluaran harus memenuhi keempat persyaratan di atas. Tujuan Penggunaan Pengeluaran belanja bantuan sosial hanya dapat dilakukan untuk kegiatan yang ditujukan untuk:

1.

a.

Rehabilitasi sosial dimaksudkan untuk memulihkan dan mengembangkan kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi sosial agar dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar. Perlindungan sosial dimaksudkan untuk mencegah dan menangani risiko dari guncangan dan kerentanan sosial seseorang, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat agar kelangsungan hidupnya dapat dipenuhi sesuai dengan kebutuhan dasar minimal. Pemberdayaan Sosial adalah semua upaya yang diarahkan untuk menjadikan warga negara yang mengalami masalah sosial mempunyai daya, sehingga mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Jaminan Sosial adalah skema yang melembaga untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak. Penanggulangan kemiskinan merupakan kebijakan, program, dan kegiatan yang dilakukan terhadap orang, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat yang tidak mempunyai atau mempunyai sumber mata pencaharian dan tidak dapat memenuhi kebutuhan yang layak bagi kemanusiaan. Penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat dan rehabilitasi.

b.

c.

d. e.

f.

2.

Pemberi Bantuan Sosial Pemberi bantuan sosial adalah : Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah. Institusi pemerintah baik pusat atau daerah yang dapat memberikan bantuan sosial adalah institusi yang melaksanakan perlindungan sosial, rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, penanggulangan kemiskinan dan pelayanan dasar serta penanggulangan bencana. Bantuan sosial yang diberikan oleh masyarakat, lembaga sosial atau lembaga lain selain Pemerintah, selama tidak dimasukkan dalam anggaran pemerintah, adalah di luar ruang lingkup pengaturan buletin teknis ini.

3.

Persyaratan Penerima Bantuan Sosial Pemberian bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah haruslah selektif, yaitu hanya diberikan kepada calon penerima yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dalam pengertian belanja bantuan sosial yaitu "melindungi dari kemungkinan risiko sosial". Oleh karena itu diperlukan persyaratan/kondisi yang harus dipenuhi oleh calon penerima, yaitu adanya perlindungan atas kemungkinan terjadinya "Risiko Sosial". Penerima belanja bantuan sosial adalah : Seseorang, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat yang mengalami keadaan yang tidak stabil sebagai akibat dari situasi krisis sosial, ekonomi, politik, bencana, dan fenomena alam agar dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum, termasuk di dalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan, keagamaan dan bidang lain yang berperan untuk melindungi individu, kelompok dan/atau masyarakat dari kemungkinan terjadinya risiko sosial.

4.

Bersifat Sementara atau Berkelanjutan Pemberian belanja bantuan sosial umumnya bersifat sementara dan tidak terus menerus, namun terdapat kondisi dimana Belanja Bantuan Sosial tersebut diberikan secara terus menerus atau berkelanjutan. Yang dimaksud dengan Belanja Bantuan Sosial berkelanjutan yaitu : bantuan yang diberikan secara terus menerus untuk mempertahankan taraf kesejahteraan sosial dan upaya untuk mengembangkan kemandirian. Belanja bantuan sosial yang diberikan secara tidak terus menerus/tidak mengikat diartikan bahwa pemberian bantuan tersebut tidak wajib dan tidak harus diberikan setiap tahun anggaran, belanja bantuan sosial dihentikan pada saat pihak yang dibantu telah lepas dari masalah sosial tersebut. Bantuan sosial dapat terus menerus, misalnya untuk menjaga kinerja sosial yang telah tercapai agar jangan menurun kembali. Jangka waktu pemberian belanja bantuan sosial kepada anggota masyarakat atau kelompok masyarakat tergantung pada apakah si penerima bantuan masih memenuhi kriteria/persyaratan sebagai pihak yang berhak menerima bantuan. Apabila si penerima sudah tidak termasuk yang mempunyai resiko sosial, telah dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum maka kepada yang bersangkutan tidak dapat diberikan bantuan lagi.

yang bersifat sementara yaitu yang bersifat berkelanjutan

: Pemerintah memberikan bantuan terhadap orang cacat, namun setelah orang tersebut dapat mandiri, belanja bantuan sosial tersebut dihentikan. : Pemerintah memberikan bantuan terhadap orang cacat yang tidak pernah dapat mandiri, belanja bantuan sosial tersebut dapat diberikan secara berkelanjutan.

Bentuk Pemberian Belanja Bantuan Sosial Bentuk pemberian belanja bantuan sosial adalah : a. uang; b. barang; atau c. jasa; yang diterima langsung oleh penerima bantuan sosial. Belanja bantuan sosial terdiri dari berbagai bentuk, ragam, dan jenis bantuan tetapi pada umumnya terbagi dalam kelompok uang, barang dan jasa. Belanja bantuan sosial tidak boleh digunakan untuk mendanai kegiatan di lingkungan instansi pemerintah walaupun terkait dengan penyelenggaraan kegiatan pemerintah untuk menangani risiko sosial. Kegiatan tersebut dilakukan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi pemerintah untuk menyelenggarakan kesejahteraan rakyat sehingga didanai dengan menggunakan belanja pegawai, barang atau modal. Belanja bantuan sosial dalam bentuk uang diberikan langsung kepada penerima bantuan sosial. Uang tersebut diberikan secara langsung kepada penerima dan pemerintah tidak akan meminta kembali uang tersebut atau uang tersebut tidak dikembalikan. Belanja bantuan sosial tidak boleh diberikan kepada pegawai pemerintah atau instansi pemerintah lain yang terkait dengan pelaksanaan tugas dan fungsinya. Belanja bantuan sosial dalam bentuk barang diberikan dalam bentuk barang dan diserahkan kepada penerima. Belanja tersebut karena tujuan penggunaannya untuk kegiatan yang sesuai dengan kriteria belanja bantuan sosial, maka tidak boleh dimasukkan dalam belanja barang. Barang yang belum didistribusikan kepada penerima bantuan sosial akan dicatat sebagai persediaan. Namun, belanja barang untuk aktivitas instansi pemerintah dalam rangka kegiatan penanganan risiko sosial tidak dimasukkan dalam belanja bantuan sosial tetapi tetap dikategorikan sebagai belanja barang. Belanja bantuan sosial dalam bentuk jasa diberikan dalam bentuk pembayaran kepada pihak ketiga yang melakukan aktivitas yang sesuai dengan kriteria bantuan sosial. Pihak ketiga ini dapat terdiri dari individu, kelompok, masyarakat atau lembaga non pemerintah yang melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perlindungan terjadinya risiko sosial. Belanja bantuan sosial dalam bentuk jasa tidak boleh diberikan kepada instansi pemerintah lain atau pegawai pemerintah walaupun terkait dengan aktivitas penangangan risiko sosial.

Contoh bentuk pemberian belanja bantuan sosial: a. Bantuan berbentuk uang tunjangan kesehatan putra-putri pahlawan yang tidak mampu; b. Bantuan berbentuk uang beasiswa (tunjangan pendidikan) masyarakat miskin. c. Bantuan makanan pokok/pakaian kepada yatim piatu/tuna sosial/bencana alam di tempat penampungan sementara atau tempat tinggal sementara d. Bantuan berbentuk perawatan kesehatan/obat-obatan kepada masyarakat kurang mampu e. Bantuan barang berupa penyediaan pemakaman sekelompok masyakat tidak mampu f. Bantuan dana yang diberikan kepada sebuah LSM untuk mendanai kegiatan penyuluhan penanggulangan HIV/AIDS bagi masyarakat tidak mampu. g. Bantuan dana yang dibayarkan kepada dokter swasta untuk kegiatan penanggulangan bencana. Belanja bantuan sosial tidak dapat diberikan kepada pegawai negeri terkait dengan pelaksanaan tugas dan fungsinya sebagai pegawai negeri. Contohnya adalah : beasiswa yang diberikan oleh Pemerintah Daerah kepada pegawainya untuk mengikuti pendidikan di sebuah universitas atau beasiswa yang diberikan kepada pegawai instansi pemerintah lainnya untuk mengikuti pendidikan atau pelatihan. Belanja bantuan sosial hanya dapat diberikan kepada pegawai negeri dalam kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang terkena risiko sosial. Contohnya adalah : pemberian bantuan kebutuhan dasar kepada korban bencana, termasuk di dalamnya pegawai negeri yang menjadi korban bencana. Belanja bantuan sosial dalam bentuk barang yang pada saat pembelian tidak ditujukan untuk diserahkan kepada pihak penerima bantuan sosial tetapi sebagai aset instansi tidak dapat diklasifikasikan sebagai belanja bantuan sosial. Demikian juga belanja barang untuk kepentingan kegiatan Pemerintah daerah tidak dapat diklasifikasikan sebagai belanja bantuan sosial. Contohnya adalah : pembelian kendaraan operasional yang digunakan oleh tenaga penyuluh kesehatan di daerah terpencil dan biaya perjalanan dinas tim penyuluh kesehatan ke daerah pedalaman.

CONTOH KASUS UNTUK BELANJA BANTUAN SOSIAL


Sesuai dengan Paragraf 31 PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran, Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah. Dengan demikian, bantuan sosial sebagai kelompok belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran belanja bantuan sosial tersebut dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah. Disamping itu, belanja bantuan sosial diakui apabila memenuhi pengertian dan kriteria yang telah ditetapkan. Berdasarkan pengakuan tersebut, jurnal yang dilakukan untuk mencatat belanja bantuan sosial adalah sebagai berikut:

CONTOH KASUS UNTUK BELANJA BANTUAN SOSIAL : Contoh 1 : Pemberian Beasiswa Kepada Pegawai Instansi Pemerintah

Dinas XYZ menganggarkan belanja bantuan sosial yang ditujukan sebagian untuk biaya pendidikan S2 sebesar Rp200.000.000,00. Bea siswa tersebut diberikan kepada sejumlah guru yang merupakan pegawai dari Dinas XYZ tersebut. Realisasi dan pertanggungjawaban atas belanja tersebut adalah sebagai belanja bantuan sosial. Penganggaran belanja bantuan sosial tersebut tidak tepat karena: a. Tidak memenuhi kriteria tujuan penggunaan yaitu bukan untuk kegiatan rehabilitasi sosial, perlindungan sosial, pemberdayaan sosial, jaminan sosial, penanggulangan kemiskinan dan penanggulangan bencana. Tidak memenuhi kriteria penerima bantuan sosial yaitu seseorang atau kelompok masyarakat yang mengalami keadaan tidak stabil sebagai akibat dari situasi krisis sosial, ekonomi, politik, bencana, dan fenomena alam agar dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum. Contoh 2 : Pemberian Beasiswa Prestasi/Penghargaan

b.

Kementerian ABC menganggarkan belanja bantuan sosial yang ditujukan untuk siswa berprestasi sebesar Rp200.000.000,00. Beasiswa tersebut diberikan kepada sejumlah siswa karena prestasi akademisnya yang bagus. Tujuan pemberian adalah sebagai bentuk penghargaan yang diberikan oleh pemerintah untuk memotivasi kepada siswa untuk terus maju dan berkembang di masa depan. Kemudian realisasi dan pertanggungjawaban atas belanja tersebut dicatat sebagai belanja bantuan sosial. Penganggaran maupun pencatatan atas belanja bantuan sosial tersebut tidak tepat karena : a. Tidak memenuhi kriteria tujuan penggunaan yaitu bukan untuk kegiatan rehabilitasi sosial, perlindungan sosial, pemberdayaan sosial, jaminan sosial, penanggulangan kemiskinan dan penanggulangan bencana. Tidak memenuhi kriteria penerima bantuan sosial yaitu seseorang atau kelompok masyarakat yang mengalami keadaan tidak stabil sebagai akibat dari situasi krisis sosial, ekonomi, politik, bencana, dan fenomena alam agar dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum. Contoh 3 : Pemberian Beasiswa Kepada Masyarakat Miskin

b.

Kementerian DEF menganggarkan belanja bantuan sosial yang ditujukan untuk siswa tidak mampu/miskin dan berprestasi sebesar Rp200.000.000,00. Beasiswa tersebut diberikan kepada sejumlah siswa yang memenuhi persyaratan sebagai siswa tidak mampu/miskin dan berprestasi sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian DEF. Tujuan pemberian beasiswa adalah untuk memastikan siswa tidak mampu/miskin dan berprestasi tersebut mampu terus melanjutkan pendidikannya. Realisasi dan pertanggung jawaban atas belanja tersebut adalah sebagai belanja bantuan sosial. Penganggaran tersebut tepat dianggarkan ke Belanja Bantuan Sosial karena: a. Memenuhi kriteria tujuan pengeluaran belanja bantuan sosial, yaitu pengeluaran belanja bantuan sosial dapat dilakukan untuk kegiatan yang ditujukan untuk rehabilitasi sosial,

perlindungan sosial, pemberdayaan sosial, jaminan sosial, penanggulangan kemiskinan dan penanggulangan bencana. b. Memenuhi kriteria penerima yaitu mempunyai risiko sosial karena diberikan kepada siswa tidak mampu/miskin.

Contoh 4 :

Pemberian Bantuan Barang Kepada Lembaga/Yayasan Sosial

Dinas Sosial Provinsi XX menganggarkan belanja bantuan sosial untuk dibelikan komputer sebesar Rp 100.000.000,00 yang akan diberikan kepada lembaga/yayasan yang mengurus rumah yatim piatu. Penganggaran Belanja Bantuan Sosial tepat karena: a. Memenuhi kriteria tujuan pengeluaran belanja bantuan sosial, yaitu pengeluaran belanja bantuan sosial dapat dilakukan untuk kegiatan yang ditujukan untuk rehabilitasi sosial, perlindungan sosial, pemberdayaan sosial, jaminan sosial dan penanggulangan kemiskinan. Memenuhi persyaratan penerima bantuan sosial. Penerima bantuan social adalah seseorang, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat yang mengalami keadaan yang tidak stabil dari situasi krisis sosial, ekonomi, politik, bencana, dan fenomena alam agar dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum termasuk didalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. Contoh 5 : Bantuan Kepada Lembaga Keagamaan

b.

Pemerintah Kabupaten OPQ memberi bantuan kepada beberapa lembaga keagamaan untuk bantuan rutin kegiatan organisasi tersebut, misalnya kepada MUI/KWI/PGI dengan total sebesar Rp500.000.000,00. Bantuan tersebut telah dianggarkan pada APBD sebagai belanja bantuan sosial dan pada saat realisasi dan pertanggungjawaban diakui sebagai belanja bantuan sosial. Penyaluran bantuan tersebut tidak tepat sebagai belanja bantuan sosial karena :

a.

Tidak memenuhi kriteria tujuan pengeluaran belanja bantuan sosial. Pengeluaran belanja bantuan sosial hanya dapat dilakukan untuk kegiatan yang ditujukan untuk rehabilitasi sosial, perlindungan sosial, pemberdayaan sosial, jaminan sosial dan penanggulangan kemiskinan.

b.

Tidak memenuhi persyaratan penerima bantuan sosial. Penerima bantuan sosial adalah seseorang, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat yang mengalami keadaan yang tidak stabil dari situasi krisis sosial, ekonomi, politik, bencana, dan fenomena alam agar dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum termasuk didalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. Contoh 6 : Pemberian Bantuan Kepada Nelayan Untuk Penanggulangan Kemiskinan

Pemerintah Provinsi GHI memberikan bantuan sebesar Rp50.000.000,00 kepada para nelayan miskin dengan maksud agar kehidupan nelayan tersebut lebih baik. Bantuan yang diberikan kepada nelayan dimaksudkan untuk tidak dikembalikan lagi kepada pemerintah. Jumlah bantuan tersebut dianggarkan di APBD sebagai belanja bantuan sosial dan realisasi pembayarannya kepada nelayan dibukukan dan disajikan sebagai belanja bantuan sosial. Penganggaran Belanja Bantuan Sosial tersebut tepat karena : a. b. Telah memenuhi kriteria penerima belanja Bantuan Sosial yaitu diberikan kepada nelayan miskin,penerima mempunyai resiko sosial. Telah mememenuhi kriteria tujuan pemberian bantuan tersebut juga telah memenuhi kriteria dari belanja bantuan sosial yaitu penanggulangan kemiskinan. Contoh 7 : Bantuan Kepada Nelayan Miskin

Kementerian XYZ merencanakan untuk memberikan bantuan perahu kepada kelompok nelayan miskin dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupan nelayan miskin tersebut. Rencana pengadaan perahu tersebut dianggarkan dalam APBN sebagai belanja modal dan pada saat realisasi dipertanggungjawabkan sebagai belanja modal. Pembelian bantuan tersebut tidak tepat sebagai belanja modal karena pemberian perahu kepada nelayan miskin seharusnya dialokasikan sebagai belanja bantuan sosial, karena: a. Memenuhi kriteria tujuan pengeluaran belanja bantuan sosial, yaitu pengeluaran belanja bantuan sosial dapat dilakukan untuk kegiatan yang ditujukan untuk rehabilitasi sosial, perlindungan sosial, pemberdayaan sosial, jaminan sosial dan penanggulangan kemiskinan.

b.

Memenuhi persyaratan penerima bantuan sosial, yaitu seseorang, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat yang mempunyai risiko sosial.

Contoh 8 :

Bantuan Kepada Kelompok Nelayan Miskin-Bergulir

Kementerian FXJ menganggarkan belanja bantuan sosial sebesar Rp10.000.000.000,00 untuk memberikan bantuan kepada satu kelompok nelayan dengan maksud agar kehidupan nelayan tersebut lebih baik. Bantuan yang diberikan kepada nelayan diniatkan akan dipungut/ditarik kembali oleh pemerintah apabila kegiatannya telah berhasil dan selanjutnya akan digulirkan kembali kepada kelompok nelayan lainnya sebagai dana bergulir. Bantuan tersebut tidak tepat dianggarkan sebagai belanja bantuan sosial karena: a. b. c. Pemerintah mempunyai niat untuk menarik kembali dana tersebut dan menggulirkannya kembali kepada kelompok nelayan lainnya. Pengeluaran dana tersebut mengakibatkan timbulnya investasi jangka panjang yang bersifat non permanen dan disajikan di neraca sebagai Investasi Jangka Panjang. Pemberian bantuan untuk nelayan di atas dicantumkan di APBN/APBD dan dikelompokkan pada Pengeluaran Pembiayaan yaitu pengeluaran investasi jangka panjang. Terhadap realisasi penerimaan kembali pembiayaan juga dicatat dan disajikan sebagai Penerimaan Pembiayaan -Investasi Jangka Panjang. Contoh 9 : Bantuan Langsung Kepada Masyarakat Lanjut Usia, Terlantar dan Cacat Berat.

Kementerian Sosial menganggarkan belanja bantuan sosial sebesar Rp100.000.000,00 kepada kelompok masyarakat yang lanjut usia dan terlantar atau yang cacat berat. Penganggaran tersebut didasarkan pada usulan proposal yang diterima dari masyarakat dengan mencantumkan nama dan alamat masing-masing calon penerima kepada Kementerian Sosial untuk meminta bantuan dana. Setelah mendapat rekomendasi dari Dinas Sosial Kabupaten dan Dinas Sosial Provinsi, maka Kementerian Sosial menganggarkan belanja bantuan sosial untuk membantu kelompok masyarakat tersebut. Belanja tersebut tepat dianggarkan sebagai belanja bantuan sosial karena: a. Memenuhi kriteria tujuan yaitu bantuan untuk rehabilitasi sosial atas kelompok masyarakat cacat dan terlantar serta jaminan sosial kepada kelompok masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak. Penerima bantuan adalah kelompok dan/atau masyarakat yang mempunyai risiko sosial yaitu lanjut usia, terlantar, cacat berat. Contoh 10 : Bantuan Barang Kepada Rumah Jompo Unit Vertikal Milik Intansi Pemerintah.

b.

Kementerian Sosial sebagai salah satu institusi yang menjalankan fungsi perlindungan sosial merencanakan untuk membeli mesin jahit yang akan diberikan kepada rumah jompo milik kementerian tersebut. Bantuan tersebut tidak tepat dianggarkan sebagai bantuan sosial karena: a. Penerima akhir memenuhi kriteria tujuan dan penerima karena kelompok individu yang mengalami risiko sosial, namun rumah jompo adalah satuan kerja vertikal Kementerian Sosial sehingga pengeluaran tersebut termasuk belanja barang. Penyelenggaraan kegiatan dalam rumah jompo tersebut sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Kementerian Sosial. Contoh 11 : Bantuan Barang Kepada Sekolah Negeri

b.

Dinas Pendidikan Kota XXX memberikan bantuan mesin jahit kepada sebuah SMK Negeri di Kota XXX. SMK Negeri tersebut khusus diperuntukkan untuk siswa yang cacat dan mengalami keterbelakangan mental. Mengingat SMK tersebut khusus untuk mendidik siswa yang mengalami risiko sosial maka belanja tersebut dianggarkan sebagai belanja bantuan sosial. Bantuan tersebut tidak tepat dianggarkan sebagai bantuan sosial karena: a. Penerima akhir memenuhi kriteria tujuan dan penerima karena kelompok individu yang mengalami risiko sosial, namun SMK tersebut adalah sekolah negeri yang merupakan satuan kerja vertikal Dinas Pendidikan sehingga pengeluaran tersebut termasuk belanja modal. Penyelenggaraan kegiatan dalam sekolah negeri tersebut tersebut sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Dinas Pendidikan.

b.

Contoh 12 :

Bantuan Dana Kepada Sekolah Swasta swasta di kota tersebut khusus sekolah yang merupakan pemberian maka belanja tersebut

Dinas Pendidikan Kota XXX memberikan dana kepada semua sekolah untuk bantuan kegiatan operasional sekolah. Tidak ada kriteria mendapat bantuan dana tersebut. Mengingat kegiatan tersebut bantuan langsung kepada masyarakat untuk kegiatan pendidikan dianggarkan sebagai belanja bantuan sosial.

Bantuan tersebut tidak tepat dianggarkan sebagai bantuan sosial karena: a. Tidak memenuhi tujuan pemberian belanja bantuan sosial. Pengeluaran belanja bantuan sosial hanya dapat dilakukan untuk kegiatan yang ditujukan untuk rehabilitasi sosial, perlindungan sosial, pemberdayaan sosial, jaminan sosial, penanggulangan kemiskinan dan penanggulangan bencana. Tidak memenuhi kriteria penerima belanja bantuan sosial, karena bantuan diberikan kepada sekolah swasta yang tidak menangani masyarakat yang mengalami risiko sosial. Bantuan Kendaraan Kepada Sekolah Swasta Luar Biasa Untuk Masyarakat Tidak Mampu Dinas Pendidikan Kota XXX memberikan bantuan berupa kendaraan operasional yang diberikan kepada sekolah swasta luar biasa yang diperuntukkan untuk siswa cacat dan mengalami keterbelakangan mental. Kegiatan tersebut merupakan pemberian bantuan langsung lembaga pendidikan yang menangani masyarakat yang mengalami risiko sosial maka belanja tersebut dianggarkan sebagai belanja bantuan sosial. Bantuan tersebut tepat dianggarkan sebagai bantuan sosial karena: a. b. Telah memenuhi tujuan pemberian belanja bantuan sosial karena diberikan dalam rangka perlindungan sosial terhadap masyarakat yang mengalami risiko sosial. Telah memenuhi kriteria penerima belanja bantuan sosial, karena bantuan diberikan kepada sekolah swasta menangani masyarakat yang mengalami risiko sosial. Contoh 14 : Terlantar Bantuan Dana Kepada LSM untuk Kegiatan Penyuluhan Bagi Masyarakat

b. Contoh 13 :

Dinas Sosial Kota XXX memberikan bantuan dana sebesar Rp100.000.000,00 kepada LSM Melati untuk kegiatan penyuluhan dan bimbingan kepada masyarakat terlantar yang tinggal di bantaran sungai. Kegiatan tersebut merupakan pemberian bantuan langsung lembaga swadaya masyarakat yang menangani masyarakat yang mengalami risiko sosial maka belanja tersebut dianggarkan sebagai belanja bantuan sosial. Bantuan tersebut tepat dianggarkan sebagai belanja bantuan sosial karena: a. b. Telah memenuhi tujuan pemberian belanja bantuan sosial yang diberikan dalam rangka rehabilitasi dan perlindungan terhadap masyarakat yang mengalami risiko sosial. Telah memenuhi kriteria penerima belanja bantuan sosial, karena bantuan diberikan kepada LSM yang melakukan pembinaan dan penyuluhan masyarakat yang mengalami risiko sosial. Contoh 15 : Bantuan Dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) kepada Sekolah Negeri.

Dinas Pendidikan Kabupaten YYY menerima alokasi dana BOS dari Pemerintah Pusat melalui mekanisme transfer sebesar Rp1.000.000.000,00 yang berasal dari dana perimbangan dalam bentuk Dana Penyesuaian untuk Bantuan Operasional Sekolah. Dana tersebut diperuntukkan bagi seluruh sekolah negeri setingkat SD dan SMP di Kabupaten YYY. Dana tersebut dialokasikan berdasarkan data jumlah siswa tiap sekolah dan tidak ada kriteria khusus sekolah yang mendapat bantuan dana terkait dengan jumlah siswa yang memiliki risiko sosial. Terhadap rencana penggunaan dana BOS tersebut tidak tepat dianggarkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten YYY sebagai belanja bantuan sosial, karena: a. Tidak sepenuhnya memenuhi tujuan pemberian belanja bantuan sosial, karena penerima akhir tidak seluruhnya memenuhi kriteria tujuan sebagai kelompok individu yang mengalami risiko sosial. b. Penerima sekolah negeri merupakan satuan kerja vertikal Dinas Pendidikan.

Contoh 16 :

Bantuan Dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) kepada Sekolah Swasta.

Dinas Pendidikan Kabupaten YYY menerima alokasi dana BOS dari pemerintah pusat melalui mekanisme transfer sebesar Rp1.000.000.000,00 yang berasal dari dana perimbangan dalam bentuk Dana Penyesuaian untuk Bantuan Operasional Sekolah. Dana tersebut diperuntukkan bagi sekolah swasta setingkat SD dan SMP yang telah memiliki ijin operasi dan tidak dikembangkan menjadi bertaraf internasional di Kabupaten YYY. Dana tersebut dialokasikan berdasarkan data jumlah siswa tiap sekolah dan tidak ada kriteria khusus sekolah yang mendapat bantuan dana terkait dengan jumlah siswa yang memiliki risiko sosial. Terhadap rencana penggunaan dana BOS tersebut tidak tepat dianggarkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten YYY sebagai belanja bantuan sosial, karena: a. Tidak sepenuhnya memenuhi tujuan pemberian belanja bantuan sosial, karena penerima akhir tidak seluruhnya memenuhi kriteria tujuan sebagai kelompok individu yang mengalami risiko sosial. b. Penerima sekolah swasta tidak dikhususkan bagi sekolah swasta yang menangani masyarakat yang mengalami risiko sosial.

(sumber : *Buletin Teknis Nomor 10 tentang Akuntansi Belanja Bantuan Sosial)

PEDOMAN PENYUSUNAN RKA-SKPD DAN RKA-PPKD


Nomor : ..................... TENTANG : PEDOMAN PENYUSUNAN RKA-SKPD DAN RKA-PPKD TAHUN ANGGARAN 2012. I. Dasar : a. Pasal 89 ayat (2) dan ayat (3) serta Pasal 116 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2012 tentang Perubahan kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusnan APBD Tahun Anggaran 2012. II. Dalam Timetable penyusunan APBD TA. 2012, seharusnya penyampaian rancangan KUA dan PPAS oleh Kepala Daerah kepada DPRD telah dilaksanakan pada pertengahan Bulan Juni TA. 2011, untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD TA. 2012 antara Tim Anggaran Pemerintah Daerah dengan Badan Anggaran DPRD serta disepakati paling lambat pada akhir Bulan Juli 2011. Rancangan KUA dan PPAS yang telah disepakati tersebut, menjadi dasar bagi Pemerintah Daerah dalam menyusun, menyampaikan dan membahas RAPBD sampai dengan tercapainya persetujuan bersama terhadap rancangan Peraturan Daerah Tentang APBD TA. 2012 paling lambat pada tanggal 30 Nopember 2011. Sejalan dengan hal tersebut, untuk mempercepat pembahasan KUA dan PPAS maka penyampaian kedua dokumen tersebut dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan sehingga hasil dari pembahasan rancangan KUA dan PPAS dapat disepakati dan ditandatangani pada waktu yang sama.

SURAT EDARAN

III. Pedoman penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD, sebagaimana tercantum dalam Lampiran Surat Edaran ini yang meliputi : a. Teknis penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD b. Kebijakan dalam perencanaan dan penganggaran pada penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD c. Hal-hal khusus lainnya yang mencakup : 1. Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah Daerah dalam RAPBD TA. 2012 dengan Prioritas Pembangunan Nasional. 2. Format Nota Kesepakatan KUA dan PPAS Demikian, untuk menjadi pedoman dan dilaksanakan sepenuhnya.

BUPATI TULANG BAWANG,

DR. ABDURACHMAN SARBINI

Tentang

Lampiran : Surat Edaran Bupati Tulang Bawang Nomor : : Pedoman Penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD TA. 2012.

PEDOMAN PENYUSUNAN RKA-SKPD DAN RKA-PPKD TAHUN ANGGARAN 2012 I. TEKHNIK PENYUSUNAN RKA-SKPD DAN RKA-PPKD Berdasarkan Nota Kesepakatan KUA dan PPAS, Kepala Daerah menerbitkan Surat Edaran tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD, sebagai acuan/pedoman bagi Kepala SKPD dan SKPKD dalam menyusun rencana kerja dan anggarannya. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun RKA-SKPD dan RKA-PPKD antara lain : RKA-SKPD disusun dengan menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah, penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja. Pendekatan penganggaran berdasarkan prestasi kerja dilaksanakan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran yang diharapkan dari pelaksanaan program dan kegiatan serta manfaat yang diharapkan. A. RKA-SKPD memuat antara lain : Rincian anggaran Pendapatan SKPD, yang terdiri dari : 01. Pajak Daerah 02. Retribusi Daerah 03. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan 04. Lain-Lain PAD yang sah Rincian anggaran Belanja Tidak Langsung SKPD antara lain : 01. Gaji pokok dan tunjangan pegawai; 02. Tambahan Penghasilan PNS; 03. Belanja penerimaan lainnya Pimpinan dan anggota DPRD serta KDH/Wkl. Kdh. 04. Khusus pada Sekretariat DPRD dianggarkan pula Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD, dll Rincian anggaran Belanja Langsung menurut program dan kegiatan SKPD. Formulir RKA-SKPD terdiri dari : i. Formulir RKA SKPD. Memuat ringkasan anggaran SKPD yang sumber datanya berasal dari peringkasan Jumlah pendapatan menurut Kelompok dan Jenis penerimaan yang diisi dalam Formulir RKA-SKPD 1, Jumlah Belanja Tidak Langsung menurut Kelompok dan Jenis Belanja yang diisi dalam formulir RKA-SKPD 2.1 dan penggabungan dari seluruh Jumlah Kelompok dan Jenis Belanja Langsung yang diisi dalam setiap Formulir RKA KPD 2.2.1.

i.

ii.

iii.

ii. Formulir RKA - SKPD 1 Memuat rencana penerimaan SKPD, disesuaikan dengan penerimaan tertentu dari pelaksanaan tugas pokok dan fungsi SKPD sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Kode Rekening, Uraian nama Kelompok, Jenis, Obyek dan Rincian obyek pendapatan yang dicantumkan dalam RKA-SKPD 1 bersumber dari PAD. iii. Formulir RKA - SKPD 2.1 Memuat rencana kebutuhan Belanja Tidak Langsung SKPD yang terdiri dari Belanja pegawai untuk Gaji pokok, tunjangan pegawai dan tambahan penghasilan. Khusus untuk SKPD Sekretariat DPRD dianggarkan pula Belanja Penunjang Operasioanal Pimpinan DPRD. iv. Formulir RKA - SKPD 2.2.1 Memuat rencana Belanja Langsung dari setiap Kegiatan yang di Programkan, sehingga apabila dalam 1 (satu) Program terdapat 1 (satu) atau lebih kegiatan maka setiap Kegiatan dituangkan dalam formulir RKA-SKPD 2.2.1 masing-masing. v. Formulir RKA - SKPD 2.2 Memuat Rekapitulasi dari seluruh program dan kegiatan SKPD yang dikutip dari setiap formulir RKA - SKPD 2.2.1 (Rincian Anggaran Belanja Langsung menurut Program dan Per Kegiatan SKPD). B. RKA-PPKD Pasal 98 ayat (3) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Permendagri Nomor 21 Tahun 2012 tentang Perubahan kedua Atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, bahwa pada Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selain RKA-SKPD disusun pula RKAPPKD yang dipergunakan untuk menampung : i. a. b. c. a. b. c. d. e. Rincian anggaran Pendapatan PPKD meliputi : 01. Penerimaan Dana Perimbangan terdiri dari : Dana Bagi Hasil Pajak/ Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus 02. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang sah terdiri dari : Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Dana Bagi hasil Pajak dari Pemerintah Provinsi Dana Penyesuaian Bantuan Keuangan dari Provinsi

ii. Rincian anggaran Belanja Tidak Langsung PPKD, terdiri dari : 01. Belanja bunga; 02. Belanja subsidi; 03. Belanja hibah; 04. Belanja bantuan sosial; 05. Belanja bagi hasil; 06. Belanja bantuan keuangan; dan 07. Belanja tidak terduga iii. Rrincian Pembiayaan 01. Penerimaan pembiayaam a. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran TA. sebelumnya b. Pencairan dana cadangan c. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan d. Penerimaan Pinjaman Daerah e. Penerimaan kembali pemberian pinjaman f. Penerimaan piutang daerah g. Penerimaan kembali investasi dana bergulir 02. Pengeluaran pembiayaan a. Pembentukan dana cadangan b. Penyertaan Modal/Investasi pemerintah daerah c. Pembayaran pokok hutang d. Pemberian pinjaman daerah Formulir RKA-PPKD terdiri dari : 1. Formulir RKA-PPKD Memuat ringkasan anggaran PPKD yang sumber datanya berasal dari peringkasan Jumlah pendapatan menurut Kelompok dan Jenis yang diisi dalam formulir RKAPPKD.1, Jumlah Belanja Tidak Langsung menurut Kelompok dan Jenis Belanja yang diisi dalam formulir RKA-PPKD 2.1. Khusus formulir RKA-PPKD, setelah baris surplus dan defisit anggaran diuraikan kembali penerimaan dan pengeluaran pembiayaan sebagaimana tercantum dalam formulir RKA-PPKD 3.1 serta formulir RKA-PPKD 3.2 2. RKA - PPKD 1. Memuat rencana pendapatan PPKD yang disesuaikan dengan pendapatan tertentu yang akan diterima dari pelaksanaan tugas pokok dan fungsi PPKD berdasarkan peraturan perundang-undangan. Kode rekening dan uraian nama Kelompok, Jenis, Obyek dan Rincian obyek pendapatan yang dicantumkan dalam formulir RKA-PPKD 1. Pengisian formulir RKA-PPKD 1 3. RKA - PPKD 2.1 Memuat rencana kebutuhan Belanja Tidak Langsung PPKD pada tahun anggaran yang direncanakan. Pengisian Jenis Belanja Tidak Langsung berpedoman pada Ketentuan Pasal 37 peraturan ini. 4. RKA - PPKD 3.1 5. RKA - PPKD 3.2 II. KEBIJAKAN DALAM PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN PADA PENYUSUNAN RKA-SKPD DAN RKA-PPKD. Ketentuan Pasal 90 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2012 tentang Perubahan kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Kepala SKPD menyusun RKA-SKPD berdasarkan Prestasi Kerja dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan hasil yang diharapkan dari program dan kegiatan yang direncanakan. Pokok-Pokok Kebijakan yang perlu mendapat perhatian dalam penyusunan RKASKPD dan RKA-PPKD terkait dengan pendapatan, belanja dan pembiayaan adalah sbb :

1.

PENERIMAAN i. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah merupakan komponen utama dalam Pendapatan Asli Daerah yang pada saat ini diatur dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Masing-Masing SKPD hanya dapat menganggarkan rencana pendapatan yang bersumber dari Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sesuai dengan pelaksanaan dari tugas pokok dan fungsi SKPD, dengan ketentuan sbb : 01. Penerimaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang dituangkan dalam RKA-SKPD merupakan perkiraan yang terukur, tidak memberatkan masyarakat dan/atau dunia usaha serta rasional serta memiliki kepastian DASAR HUKUM penerimaannya. 02. Peraturan daerah tentang pajak daerah dan retribusi daerah berpedoman pada Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah 03. Dalam hal RSUD telah berbentuk BLUD maka penerimaan RSUD tersebut dicantumkan dalam RKA-SKPD pada Jenis penerimaan Lain-Lain PAD yang sah, Objek Pendapatan BLUD, Rincian Objek Pendapatan BLUD. Dalam hal belum menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD maka penerimaan Rumah Sakit tersebut termasuk Pelayanan Masyarakat Miskin melalui Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) dituangkan dalam RKA-SKPD pada Jenis Retribusi Daerah 04. Penerimaan dari Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan hanya dianggarkan pada RKA-PPKD pada akun Pendapatan, Kelompok PAD, Jenis Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan, Objek Pendapatan Bagian Laba atas Penyertaan Modal Daerah. 05. Penerimaan dari hasil Pengelolaan Dana Bergulir, dialokasikan pada RKA-PPKD pada Akun Pendapatan Kelompok PAD, Jenis Lain-Lain PAD yang sah, Obyek pendapatan hasil Pengelolaan Dana bergulir dan Rincian obyek hasil pengelolaan dana bergulir dari kelompok masyarakat. 06. Penerimaan bunga dari dana cadangan dianggarkan pada RKA-PPKD pada Jenis Pendapatan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah. ii. Dana Perimbangan. Dana Perimbangan merupakan penerimaan daerah yang bersumber dari APBN (Belanja Transfer ke Daerah) untuk mendanai kebutuhan daerah serta mengurangi kesenjangan fiskal antar daerah yang diatur dalam Undang-Undang Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Selanjutnya dijelaskan bahwa Dana Perimbangan merupakan tulang punggung APBD Kabupaten Tulang Bawang yang terdiri dari : Dana Bagi Hasil Pajak/ Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Sebagaimana yang diatur dalam Pasal 10 ayat (1) UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD pada Pasal 159 : Presiden mengajukan rancangan Undang-Undang tentang APBN disertai Nota Keuangan dan dokumen pendukungnya kepada DPR pada bulan Agustus tahun sebelumnya. Pengambilan Keputusan oleh DPR mengenai rancangan Undang-Undang tentang APBN dilakukan paling lambat 2 (dua) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan. Hal ini dipahami bahwa, penetapan alokasi Dana Perimbangan oleh Pemerintah baru dapat dilaksanakan sekitar bulan Oktober 2011, Sehingga jika pemerintah daerah menunggu penetapan alokasi definitif Dana Perimbangan TA.

01. 02. 03.

Ayat (1) Ayat (4)

2012 maka proses penetapan APBD TA. 2012 akan mengalami keterlambatan. Menyikapi hal tersebut diperlukan Langkah-Langkah Strategis dan Kebijakan Politik Anggaran sbb : Penyusunan RKA-PPKD yang Idealnya sudah berjalan sejak awal bulan Agustus 2011, maka untuk pencantuman alokasi Dana Perimbangan TA. 2012 mengikuti ketentuan sbb : 01. DBH Pajak. Dana Bagi Hasil Pajak, bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dengan prinsip by origin atau proporsi yang lebih besar bagi daerah penghasil. Kebijakan alokasi DBH diatur dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, yang terdiri dari : 01. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 dan PPh Pasal 25/29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri (WPOPDN); 02. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB); Penganggaran dalam RKA-PPKD didasrkan pada pagu definitif TA. 2011 dengan tetap memperhitungkan realisasi penerimaannya pada TA. 2010.

02. DBH Sumber Daya Alam. Memenuhi amanat UU Nomor 33 Tahun 2004 dan PP Nomor 55 Tahun 2005, bagian pemerintah daerah atas DBH SDA ditetapkan sebesar 80% yang terdiri dari : 01. SDA Pertambangan Umum; 02. SDA Kehutanan, serta 03. SDA Perikanan Penetapan alokasi DBH Sumber Daya Alam tersebut, dimulai dengan perkiraan alokasi yang dihitung berdasarkan rencana penerimaan yang dimuat dalam UU tentang APBN dan dalam rangka pelaksanaan penyalurannya ke daerah perhitungannya dilakukan berdasarkan realisasi penerimaan tahun anggaran berjalan secara triwulanan melalui mekanisme rekonsiliasi data. Untuk hal tersebut Estimasi penganggarannya dalam RKA-PPKD menggunakan Alokasi Pagu Definitif TA. 2011. 03. Dana Alokasi Umum. Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah dan untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Besaran DAU yang didistribusikan kepada pemerintah daerah mengacu kepada formula yang telah ditetapkan dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 dan PP Nomor 55 Tahun 2005 yaitu : 01. Alokasi dasar, yang dihitung atas dasar jumlah gaji PNSD, antara lain meliputi gaji pokok ditambah dengan tunjangan keluarga, dan tunjangan jabatan sesuai dengan peraturan penggajian pegawai negeri sipil; serta 02. celah fiskal, yaitu selisih antara kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal. DAU ditransfer ke Kas Daerah setiap awal bulan sebesar 1/12 dari besaran alokasi DAU yang ditetapkan. Sesuai mekanisme tersebut maka Estimasi alokasi penerimaan DAU TA. 2012 menggunakan pagu definitif TA. 2011. 04. Dana Alokasi Khusus (DAK) DAK merupakan dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu untuk membantu mendanai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat dalam rangka mendorong percepatan pembangunan daerah. Perhitungan Alokasi DAK dilaksanakan melalui 2 (Dua) tahapan yaitu : 01. Penentuan Daerah tertentu yang akan menerima DAK dengan memperhatikan : a. Kriteria umum, b. kriteria khusus, dan c. kriteria teknis. 02. Penentuan besaran alokasi DAK yang dilakukan dengan perhitungan Indeks berdasarkan kreterian Umum, Kreteria Khusus dan Kreteria Khusus. Menyikapi hal tersebut maka pencantuman penerimaan alokasi DAK TA. 2012 pada RKA-PPKD didasarkan pada alokasi definitif DAK TA. 2011 dan Petunjuk Teknis DAK terkait. Selanjutnya dalam hal Pemerintah Daerah memperoleh alokasi DAK TA. 2012 setelah Perda tentang APBD TA. 2012 ditetapkan, maka penganggaran dan pelaksanaan DAK tersebut dilaksanakan dengan cara : 01. Terlebih dahulu melaksanakan Perubahan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD TA. 2012 02. Memberitahukan kepada Pimpinan DPRD, dan 03. ditampung dalam Perubahan APBD TA. 2012 iii. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang sah. Penganggaran penerimaan yang bersumber dari Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah, hanya dicantumkan/ dialokasikan dalam RKA-PPKD dengan kebijakan sbb : 01. Estimasi penerimaan yang bersumber dari DBH Pajak dari Pemerintah Provinsi, didasarkan pada alokasi bagi hasil pada TA. 2011 dengan tetap memperhitungkan realisasi penerimaan DBH Pajak dari Pemerintah Provinsi pada tahun 2010. Dalam hal bagian pemerintah kabupaten yang belum direalisasikan oleh pemerintah

01. 02. 03. 04. 02.

01. 02. 03. 04.

provinsi sebagai akibat dari pelampauan target penerimaan TA. 2011 ditampung dalam Perubahan APBD Tahun Anggaran 2012, dengan rincian penerimaan sbb : Hasil penerimaan dari PKB dan BBN-KB diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang sebesar 30%. Hasil penerimaan dari Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor/ PBB-KB, dibagi hasilkan kepada Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang sebesar70%. Hasil penerimaan Pajak Rokok diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang sebesar 70% Hasil penerimaan Pajak Air Permukaan diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang sebesar 50% Dana Penyesuaian. Dana Penyesuaian merupakan dana yang dialokasikan untuk membantu daerah dalam rangka melaksanakan kebijakan tertentu sesuai peraturan perundangundangan. Dalam Undang-Undang Tentang APBN disebutkan bahwa dana penyesuaian terdiri dari : Dana tambahan penghasilan guru PNSD Dana insentif daerah (DID); Tunjangan profesi guru (TPG) PNS Daerah; dan Bantuan operasional sekolah (BOS) Estimasi penerimaan dana penyesuain sebagaimana tersebut diatas didasarkan pada alokasi dana penyesuaian TA. 2011. Dalam hal penerimaan dana penyesuaian setelah penetapan Perda tentang APBD TA. 2012 maka penganggaran dan pelaksanaan kegiatan dimaksud dilakaukan dengan cara menetapkan Peraturan Bupati tentang Perubahan Penjabaran APBD TA. 2012 mendahului Penetapan Perda tentang Perubahan APBD TA. 2012. Penganggaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), didasarkan pada alokasi dana BOS TA. 2011, dengan memperhatikan realisasi dana BOS TA 2010. Selisih lebih atau kurang dari alokasi anggaran untuk dana BOS ditampung dalam perubahan APBD TA. 2012 dengan cara terlebih dahulu melakukan Perubahan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD Tahun Anggaran 2012 dengan pemberitahuan kepada Pimpinan DPRD. 2. BELANJA Belanja SKPD disusun dengan pendekatan prestasi kerja yang berorientasi pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan, oleh karena itu dalam penyusunan RKA-SKPD agar lebih mengutamakan pada pencapaian hasil melalui program dan kegiatan Belanja Langsung dari pada keperluan Belanja Tidak Langsung. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 ayat (3) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, bahwa rencana belanja dikelompokan menurut Kelompok Belanja Tidak Langsung dan Kelompok Belanja Langsung, yang masing-masing kelompok diuraikan menurut Jenis, Objek dan Rincian Objek Belanja. i. BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Tidak Langsung yang dianggarkan pada masing-masing RKA-SKPD adalah untuk keperluan :

01. Belanja Pegawai. 01. Gaji dan Tunjangan Dianggarkan untuk pemberian Gaji Pokok dan Tunjangan Pegawai serta pembayaran Gaji ke tigabelas serta tambahan penghasilan pegawai. Untuk mengantisipasi adanya kenaikan gaji pokok dan tunjangan pegawai, gaji berkala dan penambahan PNSD dilaksanakan dengan memperhitungkan Acress sebesar 2,5% dari jumlah belanja pegawai. Khusus pada Sekretariat DPRD dianggarkan juga Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD.

02. Alokasi anggaran untuk penyelenggaraan asuransi kesehatan sebagaimana ditentukan dalam PP Nomor 28 Tahun 2003 tentang Subsidi dan luran Pemerintah dalam Penyelenggaraan Asuransi Kesehatan bagi PNS dan Penerima Pensiun, dianggarkan pada masing-masing RKA-SKPD.

03. Penganggaran Penghasilan dan Penerimaan Lainnya Pimpinan dan Anggota DPRD, serta alokasi Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD harus berdasarkan pada : a. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2007 Permendagri No. 21 Tahun 2007 tentang Pengelompokan Kemampuan Keuangan Daerah, Penganggaran dan Pertanggungjawaban Penggunaan Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD serta Tata Cara Pengembalian Tunjangan Komunikasi Intensif dan Dana Operasional.

b.

04. Belanja Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berpedoman pada ketentuan sebagai berikut : a. Penganggaran belanja Kdh dan Wkl. Kdh berdasarkan pada PP No. 109 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. b. Biaya Penunjang Operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) PP No. 109 Tahun 2000 yang semula tertulis "Biaya Penunjang Operasional Kepala Daerah Kabupaten/Kota" termasuk didalamnya "Biaya Penunjang Operasional Wakil Kepala

Daerah Kabupaten/Kota".

05. Biaya Pemungutan PBB (BP-PBB) Alokasi Biaya Pemungutan PBB merupakan perkiraan yang akan diterima dalam TA, 2012 berdasarkan atas rencana penerimaan PBB sebagaimana yang ditetapkan dalam Undang-Undang Tentang APBN TA. 2012. Dengan demikian penyaluran perkiraan alokasi Biaya Pemungutan PBB dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan PBB pada tahun anggaran berjalan. Berkenaan dengan hal tersebut, Estimasi penerimaan BP-PBB dialokasikan berdasarkan perkiraan TA. 2011 dengan memperhitungkan Realisasi penerimaan pada TA. 2010. 06. Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Insentif pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah, dapat dianggarkan oleh masing-masing SKPD yang melaksanakan pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah serta mencapai kinerja yang ditentukan.

02. Belanja Hibah

Kepala SKPD yang melaksanakan pemungutan pajak daerah dan/atau retribusi daerah, menyusun anggaran Insentif pemungutan pajak daerah dan/atau retribusi daerah berdasarkan target kinerja penerimaan pajak daerah dan/atau retribusi daerah dlm tahun anggaran berjalan yang diformulasikan ke dalam RKA-SKPD. Insentif pemungutan pajak dan retribusi daerah, dikelompokan pada Belanja Tidak Langsung, Jenis Belanja Pegawai, Obyek belanja Insentif pemungutan pajak dan retribusi daerah serta Rincian Obyek Belanja Insentif Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Isentif dimaksud dapat diberikan sepanjang telah diatur dalam Peraturan Bupati tentang Tatacara pemberian dan pemanfaatan insentif pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah.

01.

02.

03.

04.

Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dan Pasal 4 ayat (3) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang bersumber dari APBD, pemerintah daerah dapat memberikan Hibah berupa uang, barang atau jasa dengan tujuan untuk menunjang pencapaian sasaran program dan kegiatan pemerintah daerah dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, rasionalitas, dan manfaat untuk masyarakat. Belanja Hibah dipergunakan untuk menganggarkan pemberian Hibah kepada : Pemerintah dalam hal ini diberikan kepada Instansi Vertikal seperti untuk kegiatan TMMD, pengamanan daerah dan penyelenggaraan PILKADA oleh KPUD dan PANWAS Kabupaten serta Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang wilayah kerjanya berada dalam Kabupaten Tulang Bawang. Pemerintah daerah lainnya, dalam hal ini diberikan kepada kabupaten baru hasil pemekaran daerah sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundangundangan. Masyarakat dalam hal ini diberikan kepada kelompok orang yang memiliki kegiatan tertentu dalam bidang perekonomian, pendidikan, kesehatan, keagamaan, kesenian, adat istiadat, dan keolahragaan non-profesional. Organisasi kemasyarakatan dalam hal ini kepada organisasi kemasyarakatan yang dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan seperti kepada PMI, KONI, Pramuka, Korpri dan PKK. Hibah berupa uang dicantumkan dalam RKA-PPKD pada Kelompok Belanja Tidak Langsung, Jenis Belanja Hibah, Obyek dan Rincian obyek belanja yang terkait. Berkenaan dengan Penganggaran Hibah kepada KPUD dan PANWAS Kabupaten Tulang Bawang dalam rangka penyelenggaraan pemilihan Kepala Daerah dan Wkl. Kepala Daerah didasarkan pada Permendagri Nomor 44 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Belanja Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2009. Hibah berupa barang atau jasa dicantumkan dalam RKA-SKPD pada Kelompok

03. Belanja Bantuan Sosial.

Belanja Langsung yang diformulasikan kedalam program dan kegiatan serta diuraikan kedalam Jenis Belanja Barang dan Jasa, Obyek belanja hibah barang dan jasa berkenaan kepada pihak ketiga/masyarakat dan rincian obyek belanja hibah barang atau jasa kepada pihak ketiga/masyarakat berkenaan pada SKPD .
Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun dan Bantuan Sosial yang bersumber memberikan bantuan Sosial berupa uang ayat (1) dan Pasal 26 ayat (1) Peraturan 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dari APBD, Pemerintah daerah dapat atau barang kepada :

01. Anggota/kelompok masyarakat yang meliputi : Individu, keluarga dan/atau masyarakat yang mengalami keadaan yang tidak stabil sebagai akibat dari krisis

sosial, ekonomi, politik, bencana, atau fenomena alam agar dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum. 02. Lembaga non pemerintahan bidang pendidikan, keagamaan dan bidang lain yang berperan untuk melindungi individu, kelompok, dan/ atau masyarakat dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. Penganggaran belanja bantuan Sosial berupa uang dicantumkan dalam RKA-PPKD pada Kelompok Belanja Tidak Langsung, Jenis Belanja Bantuan Sosial, Obyek dan

Rincian Obyek belanja berkenaan.

Untuk penganggaran belanja bantuan sosial yang berupa barang dicantumkan dalam RKA-SKPD pada Kelompok Belanja Langsung yang

diformulasikan kedalam Program dan Kegiatan, yang diuraikan kedalam Jenis Belanja Barang dan Jasa, obyek belanja bantuan sosial barang berkenaan yang akan diserahkan kepada pihak ketiga/ masyarakat, dan rincian obyek belanja bantuan sosial barang yang akan diserahkan pihak ketiga/ masyarakat berkenaan.

04. Belanja Bantuan Keuangan Penganggaran belanja bantuan keuangan dialokasikan pada RKA-PPKD yang terdiri dari : 01. Belanja Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik yang dialokasikan pada Jenis belanja bantuan keuangan, objek belanja bantuan keuangan kepada partai politik dan rincian objek belanja dengan nama partai politik penerima bantuan keuangan. Selanjutnya berkenaan dengan besaran penganggaran, pelaksanaan dan pertanggungjawaban bantuan keuangan kepada partai politik berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan kepada Partai Politik dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2009 Tentang pedoman tatacara penghitungan, penganggaran dalam APBD, pengajuan, penyaluran, dan laporan pertanggungjawaban penggunaan bantuan keuangan Partai Politik, serta Peraturan Bupati tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik 02. Tunjangan Penghasilan Perangkat Kampung/ TPAPK 03. Alokasi Dana Desa (ADD) sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 68 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa. 05. Belanja Tidak Terduga Penganggaran belanja tidak terduga dilakukan secara rasional dengan mempertimbangkan realisasi Tahun Anggaran 2010 dan kemungkinan adanya kegiatan-kegiatan yang sifatnya tidak dapat diprediksi sebelumnya, diluar kendali dan pengaruh pemerintah daerah. Belanja tidak terduga merupakan belanja untuk mendanai kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan terjadi berulang, seperti : 01. kebutuhan tanggap darurat bencana 02. penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak tertampung dalam bentuk program dan kegiatan pada Tahun Anggaran 2012, 03. Pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah pada tahun-tahun sebelumnya Dalam rangka mengantisipasi pengeluaran untuk keperluan pendanaan keadaan darurat dan keperluan mendesak, dapat dicantumkan Kriteria belanja untuk keadaan darurat dan Keperluan mendesak dalam Peraturan Daerah tentang APBD TA. 2012, Sebagaimana diamanatkan dalam Penjelasan Pasal 81 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005

ii. BELANJA LANGSUNG Ketentuan Pasal 97 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2012 tentang Perubahan kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, disebutkan bahwa Belanja Langsung terdiri atas : Belanja Pegawai; Belanja Barang dan Jasa; serta Belanja Modal Berkenaan dengan alokasi Belanja Langsung pada masing-masing RKA-SKPD dalam rangka pelaksanaan Program dan Kegiatan, perlu memperhatikan hal-hal sbb :

01. Belanja Pegawai

01. Penganggaran honorarium bagi PNSD supaya dibatasi frekuensinya sesuai dengan kewajaran beban tugas PNSD yang bersangkutan. Dasar penghitungan besaran honorarium disesuaikan dengan Standar Biaya yang telah ditetapkan dengan Peraturan Bupati. 02. Penganggaran Honorarium Non PNSD, hanya dapat disediakan bagi pegawai tidak tetap yang benar-benar memiliki peranan dan kontribusi serta yang terkait langsung dengan kelancaran pelaksanaan kegiatan pada masing-masing SKPD, termasuk didalamnya untuk Narasumber/ Tenaga ahli di luar instansi pemerintah. 03. Uang Lembur Merupakan kompensasi bagi PNS yang melakukan Kerja Lembur MINIMAL 1 (stau) Jam penuh, Berdasarkan Surat Perintah dari pejabat yang berwenang. Pemberian uang lembur dan uang makan lembur memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Uang makan lembur diperuntukkan bagi semua golongan dengan besaran yang sama dan dapat diberikan setelah bekerja lembur Minimal 2 (dua) jam berturut-turut. b. Batas waktu Kerja Lembur pada hari kerja MAKSIMAL 3 (Tiga) Jam/ hari atau 15 (Lima belas) Jam/ Minggu. c. Pada hari libur kerja, Waktu kerja Lembur dapat melebihi 3 (tiga) Jam/ hari. d. Pada hari libur kerja, tarif uang lembur 200% dari tarif uang lembur pada hari kerja dan dalam hal kerja lembur dilaksanakan selama 8 (delapan) jam atau lebih, uang makan lembur diberikan maksimal 2 (dua) kali.

04. Honorarium Pengelolaan Dana BOS Hanya digunakan untuk pengelolaan belanja dana BOS pada RKA-SKPD Dinas Pendidikan dan RKA-PPKD Belanja Hibah Dana Bantuan Operasional Sekolah SD dan SMP Swasta di Kabupaten Tulang Bawang. 05. Uang untuk diberikan kepada Pihak Ketiga/ masyarakat. Rekening ini dapat dipergunakan oleh masing-masing SKPD untuk menganggarkan pemberian hadiah dalam bentuk uang kepada kelompok masyarakat dan/atau perorangan yang berprestasi terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah baik yang diperoleh melalui lomba Desa/ Kelurahan atau berprestasi dalam pelatihan.

02. Belanja Barang Dan Jasa

01.

02. 03.

04.

05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

Belanja Barang/Jasa, dipergunakan untuk menganggarkan pengadaan barang/jasa yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas) bulan dan barang yang akan diserahkan atau dijual kepada masyarakat atau pihak ketiga sebagaimana diatur dalam Pasal 52 ayat (1) Permendagri Nomor 21 Tahun 2012 tentang Perubahan kedua Atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Selanjutnya disebutkan dalam Pasal 52 ayat (2) Permendagri Nomor 21 Tahun 2012 tentang Perubahan kedua atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Belanja Barang/Jasa dimaksud terdiri dari : Belanja barang pakai habis; Dalam menetapkan jumlah anggaran untuk belanja barang pakai habis agar disesuaikan dengan kebutuhan Riil dan dikurangi dengan sisa barang persediaan tahun anggaran 2011. Untuk menghitung kebutuhan riil disesuaikan dengan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi SKPD dengan mempertimbangkan jumlah pegawai dan volume pekerjaan. Bahan/material; Digunakan untuk mengalokasikan biaya bahan baku dan material dalam rangka pelaksanaan Program dan Kegiatan masing-masing SKPD. Jasa kantor; Digunakan untuk mengalokasikan kebutuhan jasa kantor seperti pembayaran Listrik, telpon, air, Internet, dll. Sejalan dengan amanat Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, agar masingmasing SKPD dapat menganggarkan PKB dan BBN-KB kendaraan bermotor Milik Pemerintah Daerah, termasuk memperhitungkan pembayaran beban Pajak pengadaan kendaraan bermotor baru oleh masing-masing SKPD bersangkutan. Premi asuransi; Rekening ini dipergunakan untuk menganggarkan Biaya Premi Asuransi Kesehatan bagi Anggota DPRD dan Biaya premi asuransi atas aset Pemerintah Daerah yang diformulasikan kedalam bentuk Program dan Kegiatan SKPD terkait. Perawatan kendaraan bermotor; Cetak/penggandaan; Sewa rumah/gedung/gudang/parkir; Sewa sarana mobilitas; Sewa alat berat; Sewa perlengkapan dan peralatan kantor; Makanan dan minuman; Pakaian dinas dan atributnya; Pakaian kerja; Pakaian khusus dan hari-hari tertentu; Belanja Perjalanan Dinas Rekening ini dipergunakan untuk menganggarkan Biaya Perjalanan Dinas Keluar Daerah dalam rangka pelaksaan Tugas Pokok dan Fungsi SKPD, yang penganggaran dan pelaksanaannya berdasarkan pada Peraturan Bupati tentang Perjalanan Dinas Keluar Daerah.

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Kunjungan Kerja dan/atau Studi banding agar dilakukan secara selektif dan hanya diperkenankan apabila terkait dengan upaya pengkayaan wawasan dan substansi kebijakan daerah yang sedang dirumuskan oleh pemerintah daerah dan dilengkapi dengan laporan hasil kunjungan kerja dan studi banding dimaksud 16. Belanja Beasiswa Pendidikan PNS Rekening ini dipergunakan untuk menganggarkan belanja Beasiswa Pendidikan PNS/ Tugas Belajar yang dialokasikan pada SKPD Badan Kepegawaian Daerah dan/atau Sekretariat Kabupaten Tulang Bawang. 17. Belanja Kursus, Pelatihan, Sosialisasi dan Bimbingan Teknis PNS. Rekening ini dipergunakan untuk menganggarkan Biaya Pelatihan, Kursus, Sosialisasi dan Bimtek dalam rangka pengembangan SDM yang diselenggarakan oleh Instansi Pemerintah/ Lembaga Non Pemerintah yang bekerjasama dan/atau direkomendasikan oleh departemen terkait.

18. Belanja Pemeliharaan Rekening ini dipergunakan untuk menganggarkan biaya belanja pemeliharaan yang meliputi : a. Pemeliharaan barang inventaris kantor, yang disesuaikan dengan kondisi fisik barang yang akan dipelihara dan lebih diprioritaskan untuk mempertahankan kembali fungsi barang inventaris yang bersangkutan. b. Belanja Pemeliharaan Jalan c. Belanja Pemeliharaan Jembatan d. dst. 19. Jasa konsultansi Rekening ini dipergunakan untuk menganggarkan belanja: a. Jasa Konsultansi Penelitian b. Jasa Konsultansi Perencanaan; dan c. Jasa Konsultansi Pengawasan 20. Belanja Barang Dana BOS Rekening ini hanya dipergunakan oleh SKPD Dinas Pendidikan dalam rangka pelaksanaan program dan kegiatan BOS. 21. Belanja Barang yang akan diserahkan kepada masyarakat/ Pihak ketiga. Rekening ini dipergunakan untuk menganggarkan Belanja Hibah dan Belanja Bantuan Sosial dalam bentuk barang yang diformulasikan kedalam program dan kegiatan SKPD berkenaan. Selanjutnya dapat juga dipergunakan SKPD untuk menganggarkan pemberian hadiah dalam bentuk barang kepada kelompok masyarakat dan/atau perorangan yang berprestasi terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah baik yang diperoleh melalui lomba Desa/ Kelurahan dan Kelompok masyarakat atau perorangan yang berprestasi dalam pelatihan 22. Belanja Barang yang akan dijual kepada masyarakat/ Pihak Ketiga 03. BELANJA MODAL Dalam rangka perencanaan anggaran untuk pengadaan belanja Modal/ barang inventaris memperhatikan ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah. Sejalan dengan hal tersebut disampaikan hal-hal sebagai berikut : Pasal 6 ayat (4) huruf a Kepala SKPD selaku pengguna barang milik daerah berwenang dan bertanggungjawab mengajukan Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah bagi SKPD yang dipimpinnya kepada Kepala Daerah melalui pengelola. Selanjutnya sebagaimana diatur dalam Pasal 7, Ayat (1) Ayat (2) Ayat (3) Perencanaan kebutuhan barang milik daerah disusun dalam RKA-SKPD Perencanaan kebutuhan pemeliharaan barang milik daerah disusun dalam RKASKPD. Perencanaan kebutuhan dan pemeliharaan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), berpedoman pada Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintahan Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah dan Standar harga yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah. Peraturan Kepala Daerah dan Keputusan Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dijadikan acuan dalam menyusun Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah/RKBMD dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah/RKPBMD. Rencana kebutuhan barang milik daerah dan Rencana kebutuhan pemeliharaan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Sebagai dasar penyusunan RKA masing-masing SKPD sebagai bahan RAPBD.

Ayat (4)

Ayat (5)

Dengan demikian, hal-hal yang berkenaan dengan belanja pemeliharan inventaris kantor dan/atau belanja modal barang milik daerah, direncanakan dan dianggarkan pada masing-masing RKA-SKPD yang diformulasikan kedalam RKA-SKPD dalam rangka pelaksanaan program dan kegiatan SKPD. 3. PEMBIAYAAN DAERAH i. Penerimaan Pembiayaan. 01. Penganggaran SILPA agar dihitung berdasarkan perkiraan yang Rasional. 02. Pemerintah Daerah dalam rangka menutupi Defisit anggaran dapat melakukan pinjaman daerah dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 30 tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah. 03. Penerimaan kembali Pokok pinjaman Dana Bergulir setelah selesai masa perguliran dana, dianggarkan dalam RKA-PPKD pada Akun Pembiayaan Kelompok Penerimaan Pembiayaan Jenis Penerimaan Kembali pemberian pinjaman daerah sesuai dengan Objek dan rincian Objek berkenaan. ii. Pengeluaran Pembiayaan 01. Pemerintah Daerah dapat menganggarkan investasi jangka panjang Non Permanen dalam bentuk Dana Bergulir, sebagaimana diatur dalam Pasal 118 ayat (3) PP 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Penganggaran Dana Bergulir dialokasikan pada RKA-PPKD akun Pembiayaan Daerah kelompok pengeluaran pembiayaan daerah Jenis pemberian pinjman Daerah sesuai dengan Objek dan rincian objek berkenaan. 02. Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pasal 71 ayat (7) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, menyatakan Investasi Pemerintah Daerah dapat dianggarkan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang Penyertaan Modal. Berkenaan dengan hal tersebut, pemahaman terhadap pelaksanaan Pasal 71 ayat (7) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yaitu : Perda tentang Penyertaan Modal dimaksud merupakan LANDASAN HUKUM yang memuat Kebijakan awal/ Induk yang mengatur tentang Kebijakan dan Jumlah Modal yang akan ditempatkan/disertakan pada BUMD dan/atau Badan Usaha lainnya. Selanjutnya dalam perkembangan Usaha dan Investasi, bilamana diperlukan penambahan Penyertaan Modal akan dilakukan/ dilaksanakan melalui mekanisme Pembahasan APBD dan ditetapkan dalam Perda tentang APBD tahun anggaran berkenaan, dimana untuk pertimbangan ataupun Jumlah Penyertaan Modal nya ditambahkan dalam DIKTUM/ PASAL tertentu pada Perda tentang APBD dimaksud. iii. Sisa Lebih Pembiayaan (SILPA) Tahun Anggaran Berjalan=0

III.

HAL-HAL KHUSUS LAINNYA Selain Pokok-Pokok Kebijakan dalam Perencanaan dan Penganggaran serta Teknis Penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD, perlu diperhatikan pula Hal-Hal Khusus Lainnya dalam proses penyusunan dan penetapan APBD yang dikaitkan dengan penetapan Undang-Undang Tentang APBN.

1.

Anggaran Transfer ke Daerah antara lain terdiri dari :

i. Dana Perimbangan yang terdiri dari : 01. Dana Bagi Hasil 02. Dana Alokasi Umum 03. Dana Alokasi Khusus; ii. Dana Penyesuaian yang terdiri dari : 01. Dana tambahan penghasilan guru PNSD 02. Dana insentif daerah (DID); 03. Tunjangan profesi guru (TPG) PNS Daerah; dan 04. Bantuan operasional sekolah (BOS) 2. Program dan kegiatan yang dibiayai dari dana transfer dan sudah jelas peruntukannya seperti DAK, Dana Darurat, Dana Bencana Alam, dan pelaksanaan kegiatan dalam keadaan darurat dan/atau mendesak lainnya, yang belum cukup tersedia dan/atau belum dianggarkan dalam APBD, dapat dilaksanakan mendahului penetapan peraturan daerah tentang Perubahan APBD dengan cara : i. Menetapkan Peraturan Bupati tentang Perubahan Penjabaran APBD dan memberitahukan Kepada Pimpinan DPRD; ii. Menyusun RKA-SKPD dan mengesahkan DPA-SKPD sebagai dasar pelaksanaan kegiatan; iii. Ditampung dalam peraturan daerah tentang perubahan APBD, atau disampaikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, apabila daerah telah menetapkan perubahan APBD atau tidak melakukan perubahan APBD.

3.

Alokasi belanja yang bersumber dari DAK, dianggarkan pada RKASKPD yang berkenaan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Berkenaan dengan penerimaan/ alokasi DAK TA. 2012 yang tidak akan sama dengan tahun anggaran sebelumnya baik bidang ataupun besaran alokasinya, maka untuk penganggaran/penggunaan alokasi pagu definitif DAK TA. 2012 sesuai dengan yang ditetapkan oleh pemerintah akan langsung dicantumkan dan/atau disesuaikan dengan program dan kegiatan DAK TA. 2012 dalam mekanisme pembahasan RAPBD. Dalam hal Pemerintah Daerah menerima pagu alokasi DAK setelah KUA dan PPAS ditetapkan, maka untuk menjaga konsistensi antara substansi KUA dan PPAS dengan RAPBD, pencantuman alokasi pagu definitif DAK dalam RAPBD langsung ditampung dan/atau disesuaikan dalam pembahasan RAPBD dengan terlebih dahulu mencantumkan klausul dalam Nota Kesepakatan KUA dan PPAS yang menyatakan bahwa sambil menunggu pagu alokasi DAK yang

4.

ditetapkan Pemerintah, pagu alokasi tersebut dapat langsung ditampung dan/atau disesuaikan pada saat proses pembahasan RAPBD dengan mengacu pada petunjuk teknis DAK, tanpa perlu melakukan perubahan Nota Kesepakatan KUA dan PPAS.

5.

Dalam hal pagu DAK diterima setelah kesepakatan KUA dan PPAS yang menggunakan klausul tersebut diatas, maka penyusunan RKAPPKD dan RKA-SKPD dilaksanakan sebelum persetujuan bersama

antara pemerintah daerah dengan DPRD mengenai Raperda tentang APBD TA, 2012

6.

Pencantuman klausul dimaksudkan untuk menyepakati pagu alokasi dan penggunaan DAK dalam rancangan Peraturan Daerah tentang APBD serta untuk menjaga konsistensi antara materi KUA dan PPAS dengan program dan kegiatan DAK yang ditetapkan dalam APBD.

7. Penyediaan dana pendamping hanya untuk kegiatan yang telah diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan seperti DAK. Untuk Kegiatan fisik yang dananya bersumber dari DAK, agar dialokasikan dana pendamping minimal 10% yang penganggarannya disusun menyatu dengan RKA-SKPD Kegiatan DAK berkenaan. 8. Dalam hal Pemerintah Daerah menerima dana Belanja Transfer ke daerah dan/atau Dana Penyesuaian untuk pelaksanaan kegiatan yang sudah jelas peruntukannya setelah Peraturan Daerah tentang APBD TA. 2012 ditetapkan, maka penganggaran dan pelaksaan program/kegiatan dimaksud dilaksanakan melalui mekanisme Perubahan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD TA. 2012 mendahului Penetapan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD TA. 2012 dengan pemberitahuan kepada Pimpinan DPRD yang selanjutnya ditampung dalam Perubahan APBD TA. 2012.

9.

Sebagaimana dimanatkan dalam Pasal 39 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Satuan Biaya untuk Perjalanan Dinas telah diatur dengan Peraturan Bupati tentang Perjalanan Dinas Keluar Daerah dengan menggunakan pendekatan penetapan biaya baik Lumpsum ataupun

at cost.

10.

Bagi SKPD yang menyelenggarakan kegiatan yang dananya bersumber dari Belanja Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial dan/atau Bantuan Keuangan, agar tetap berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor : Peraturan Bupati tentang Tatacara Pemberian dan Pertanggungjawaban Belanja Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial dan Bantuan Keuangan.

11.

SE Mendagri No. 900/2677/SJ Tentang Hibah dan Bantuan Daerah


SURAT EDARAN
Menindaklanjuti Ketentuan Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44, Pasal 45 dan Pasal 47 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Permendagri 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Perlu disampaikan penjelasan terkait dengan landasan pelaksanaan Hibah dan Bantuan Daerah sebagai berikut : 1. Bahwa dalam mencapai tujuan pembangunan daerah, Pemerintah daerah sesuai ketentuan perundang-undangan diperbolehkan untuk memberikan Hibah dan Bantuan kepada Pemerintah, Pemerintah Daerah lainnya, Perusahaan Daerah, masyarakat dan organisasi kemasyarakatan sesuai dengan ketentuan pemberian hibah dan bantuan yang terdiri atas hibah, bantuan sosial dan bantuan keuangan.

2. Pemberian hibah dan bantuan tersebut pada prinsipnya bersifat tidak


mengikat atau terus menerus yang diartikan bahwa pemberian hibah dan bantuan tersebut akan sangat tergantung pada kemampuan keuangan daerah dan Urgensi serta kepentingan daerah dalam pemberian hibah dan bantuan tersebut, sehingga diharapkan hibah dan bantuan dimaksud akan dapat memberikan nilai manfaat bagi pemerintah daerah dalam mendukung terselenggaranya fungsi pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.

3. Pelaksanaan pemberian hibah dan bantuan dimaksud harus memenuhi


persyaratan administrasi terkait dengan aspek penganggaran, pelaksanaan, dan pertanggungjawabannya agar akuntabilitas dan sasaran pemberian hibah dan bantuan tersebut dapat berjalan secara efektip. Sejalan dengan itu maka instrumen pemberian hibah dan bantuan terdiri atas : Hibah, Bantuan Sosial dan bantuan keuangan yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kepentingan daerah dan ketentuan perundang-undangan.

HIBAH

4. Hibah adalah salahsatu bentuk instrumen bantuan bagi Pemerintah Daerah


baik berbentuk uang, barang dan jasa yang dapat diberikan pemerintah, pemerintah daerah lainnya, perusahaan daerah, masyarakat dan organisasi kemasyarakatan. Sehingga hibah dapat diberikan juga kepada Instansi Vertikal seperti (kegiatan TMMD, pengamanan daerah dan penyelenggaraan PILKADA oleh KPUD) Organisiasi semi pemerintah seperti (PMI,KONI,Pramuka, Korpri dan PKK) Organisasi Non Pemerintah (seperti Ormas dan LSM) dan masyarakat. Oleh karena itu pemberian Hibah harus dilakukan secara selektif sesuai dengan Urgensi dan kepentingan daerah

serta

kemampuan

keuangan

daerah

sehingga

tidak

mengganggu

penyelenggaraan urusan wajib dan tugas-tugas pemerintahan daerah lainnya dalam meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan umum kepada masyarakat

5. Hibah dapat diberikan dalam bentuk uang, barang dan Jasa sebagai berikut
:

a. Hibah dalam bentuk uang dianggarkan oleh PPKD dalam kelompok


Belanja Tidak Langsung yang penyalurannya dilakukan melalui Transfer dana kepada penerima Hibah. Pelaksanaan Pengadaan Barang dilakukan oleh penerima Hibah sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan

b. Hibah dalam bentuk Barang Modal dianggarkan dalam bentuk


Program dan Kegiatan oleh SKPD dalam Kelompok Belanja Langsung dan proses pengadaan barang tersebut dilakukan oleh SKPD yang kemudian dicatat dan dilaporkan sebagai aset pemerintah daerah pada tahun anggaran berkenaan dan pada saatnya diserahkan kepada penerima Hibah dengan terlebih dahulu dilakukan penghaapusan aset.

c. Hibah dalam bentuk Jasa dianggarkan dalam bentuk Program dan


Kegiatan oleh SKPD dalam Kelompok Belanja Langsung. Dilakukan melalui 6. kegiatan SKPD berkenaan sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan. Pertanggungjawaban pemberian Hibah dilakukan sebagai berikut :

a. Hibah dalam bentuk uang kepada Instansi Vertikal seperti (kegiatan


TMMD, pengamanan daerah dan penyelenggaraan PILKADA oleh KPUD) dan Organisiasi semi pemerintah seperti (PMI,KONI,Pramuka, Korpri dan PKK) dipertanggungjawabkan oleh penerima Hibah sebagai Objek pemeriksaan dalam bentuk Laporan Realisasi Penggunaan Dana, bukti-bukti lainnya yang sah sesuai Naskah perjanjian Hibah dan peraturan Perundang-Undangan lainnya.

b. Hibah dalam bentuk uang kepada Organisasi Non Pemerintah


(seperti Ormas dan LSM) dan masyarakat dipertanggungjawabkan dalam bentuk bukti tanda terima uang dan Laporan Realisasi Penggunaan Dana sesuai Naskah Perjanjian Hibah yang pengaturan Pelaksanaannya ditetapkan dengan Peraturan kepala Daerah.

c. Hibah dalam bentuk barang dipertanggungjawabkan oleh penerima


Hibah berdasarkan Berita Acara serah terima barang dan penggunaan atau pemanfaatan harus sesuai dengan Naskah Perjanjian Hibah. BANTUAN SOSIAL

7. Bantuan Sosial adalah salahsatu bentuk instrumen bantuan dalam bentuk


uang dan/atau barang yang diberikan kepada Kelompok anggota masyarakat, selain itu bantuan sosial tersebut sesuai dengan amanat perundang-undangan juga diperuntukan bagi bantuan Partai Politik. Pemberian bantuan sosial berupa uang kepada masyarakat besaran nominalnya seyogyanya dibatasi yang pengaturan pelaksanaannya ditetapkan dalam Peraturan Kepala Daerah.

8. Pada prinsipnya pemberian bantuan sosial adalah diperuntukan bagi upaya


pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat secara langsung serta bersifat Stimulan bagi Program dan Kegiatan Pemerintah Daerah pada umumnya. Oleh karena itu pemberian Bantuan Sosial harus dilakukan secara selektif dan tidak mengikat, terus menerus dalam arti bahwa pemberian bantuan tersebut tidak wajib dan tidak harus diberikan setiap tahun anggaran. Pemberian bantuan tersebut lebih didasarkan pada pertimbangan urgensinya bagi kepentingan daerah dan kemampuan keuangan daerah.

9. Bantuan Sosial dapat diberikan dalam bentuk uang dan/atau barang sebagai
berikut :

a. Bantuan sosial dalam bentuk uang dianggarkan oleh PPKD dalam


Kelompok Belanja Tidak Langsung dan disalurkan melalui Transfer dana kepada penerima bantuan.

b. Bantuan sosial dalam bentuk barang dianggarkan dalam bentuk


Program dan Kegiatan SKPD dalam Kelompok Belanja Langsung. Proses pengadaan barang tersebut dilakukan oleh SKPD sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan selanjutnya hasilnya diserahkan kepada penerima bantuan melalui penyerahan aset oleh pemerintah daerah.

10. Penyerahan bantuan sosial dalam

bentuk

uang

(dana

transfer)

dipertanggungjawabkan oleh penerima bantuan dalam bentuk tanda terima uang beserta peruntukan penggunaannya. Sedangkan pemberian bantuan sosial dalam bentuk barang, pengadaannya dipertanggungjawabkan oleh

SKPD sesuai peraturan perundang-undangan dan penyerahannya kepada penerima bantuan dibuktikan dalam bentuk berita acara serah terima barang. Khusus bagi bantuan untuk Partai politik pertanggungjawabannya mengikuti Permendagri Nomor 25 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Permendagri Nomor 32 Tahun 2005 tentang Pedoman pengajuan, Penyerahan dan Laporan Penggunaan Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik. BANTUAN KEUANGAN .

11. Bantuan keuangan merupakan salahsatu bentuk Instrumen bantuan dalam


bentuk Uang antar pemerintah daerah dengan tujuan untuk mengatasi kesenjangan Fiskal antar daerah diwilayah tertentu dalam rangka meningkatkan kapasitas Fiskal baik untuk kepentingan yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus.

12. Bantuan Keuangan disalurkan langsung ke Kas Daerah/ Kas Desa dan
penggunaannya dianggarkan, dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan pengelolaan keuangan daerah. Demikain untuk menjadi maklum dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

MENTERI DALAM NEGERI

H. MARDIYANTO

Tatacara Pergeseran Anggaran


KERANGKA HUKUM : 1. Ketentuan Bab VII Pasal 122 ayat (5) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, menyatakan bahwa Jumlah belanja yang dianggarkan dalam APBD merupakan batas tertinggi untuk setiap pengeluaran belanja. 2. Namun demikian, dalam perjalanannya tidak menutup kemungkinan akan terjadi suatu perubahan pada jumlah anggaran belanja atau adanya kebijakan strategis dan/atau keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja, sehingga untuk melaksanakan anggaran belanja tersebut perlu dilaksanakan pergeseran anggaran sebagaimana dimaksud pada Pasal 160 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4) dan ayat (5) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Pada ketentuan dimaksud pergeseran anggaran dapat dilakukan atas persetujuan Sekretaris Kabupaten dan PPKD serta tidak menambah pagu anggaran belanja, sementara untuk pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan dan antar jenis belanja merupakan kewenangan dari DPRD. 3. Lebih jauh diatur dalam ketentuan Angka Romawi IV Hal-hal Khusus butir 6 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan APBO Tahun Anggaran 2011, ditegaskan bahwa :

Program dan kegiatan yang dibiayai dari dana transfer dan sudah jelas peruntukannya seperti Dana Darurat, Dana Bencana Alam, DAK dan bantuan keuangan yang bersifat khusus; serta Pelaksanaan kegiatan dalam keadaan darurat

dan/atau mendesak lainnya yang belum cukup tersedia dan/atau belum dianggarkan dalam APBD dapat dilaksanakan mendahului penetapan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD dengan cara : 1. Menetapkan Peraturan Kepala Daerah tentang Perubahan Penjabaran APBD dan memberitahukan kepada Pimpinan DPRD

1. Menyusun RKA-SKPD dan mengesahkan DPA-SKPD sebagai dasar pelaksanaan kegiatan 2. Ditampung dalam Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD, atau disampaikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, apabila daerah telah menetapkan Perubahan APBD atau tidak melakukan Perubahan APBD. Selanjutnya, sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 160 ayat (7) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Tatacara pergeseran anggaran perlu diatur lebih lanjut dalam Peraturan Bupati.