Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Pabrik Pupuk Phonska Departemen Produksi II PT. Petrokimia Gresik mempunyai spesifikasi kadar air di dalam produk maksimal 1,5%. Untuk mendapatkan granul dengan kadar air kurang dari 1,5% dilakukan pengeringan terhadap granul. Proses pengeringan granul phonska di Departemen Produksi II PT. Petrokimia Gresik menggunakan alat pengering yaitu rotary dryer. Keberhasilan proses pengeringan granul tersebut sangat dipengaruhi oleh unjuk kerja rotary dryer. Unjuk kerja rotary dryer tidak dapat diamati secara langsung tapi dengan melakukan perhitungan effisiensi thermal rotary dryer. Perhitungan effisiensi thermal rotary dryer ini didasarkan pada perhitungan neraca massa dan neraca panas pada rotary dryer.

1.2 Perumusan Masalah Rotary dryer merupakan salah satu alat utama yang digunakan sebagai alat pengering granul phonska. Unjuk kerjanya dapat dilihat dengan mengamati effisiensi thermal yang dihitung berdasarkan pada perhitungan neraca massa (berdasarkan bahan baku masuk dan keluar) dan perhitungan neraca panas (berdasarkan jumlah panas masuk dan keluar). Komposisi bahan baku, suhu masuk dan keluar rotary dryer dapat diketahui dari Central Contol Room (CCR), Laboratorium Phonska dan pengamatan secara langsung.

1.3 Tujuan Tujuan evaluasi unjuk kerja rotary dryer ini untuk mengetahui layak tidaknya suatu rotary dryer bekerja. Kelayakan tersebut dapat diamati dari perbedaan nilai effisiensi thermal rotary dryer yang didapatkan dari perhitungan neraca massa dan neraca panas rotary dryer dan efisiensi desain rotary dryer. Apabila terdapat effisiensi thermal yang tidak sesuai atau jauh beda dengan efisiensi desain dapat segera diatasi dan dicari pemecahannya sehingga tidak menimbulkan kerugian yang terlalu besar.

1.4 Manfaat Dengan perhitungan neraca massa dan neraca panas pada rotary dryer maka dapat diketahui berapa besar effisiensi thermal rotary dryer sehingga dapat dibuat rekomendasi dalam rangka memberi masukan pada unit produksi mengenai layak tidaknya rotary dryer tersebut digunakan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengeringan Pengeringan secara umum didefinisikan sebagai pengambilan sejumlah kecil air dari bahan yang dikeringkan dengan menggunakan panas. Operasi pengeringan dilakukan dengan menghembuskan udara panas yang tidak jenuh pada bahan yang akan dikeringkan. Udara panas tersebut disebut media pengering yang menyediakan panas untuk penguapan air dan sekaligus membawa uap air keluar. Berbeda dengan evaporasi dimana pada proses ini air yang teruapkan dari bahan memiliki jumlah yang relatif besar. Dalam evaporasi air teruapkan pada titik didihnya, sementara dalam operasi pengeringan, air yang terambil berada dalam keadaan uap. Pengering dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu : 1. Pengering berdasarkan kondisi operasinya Pengering berdasarkan kondisi operasinya dibagi dua yaitu pengering yang beroperasi secara batch dan pengering yang beroperasi secara kontinyu 2. Pengering berdasarkan perpindahan panasnya Pengering yang berdasarkan perpindahan panasnya diklasifikasikan menjadi : a. Pengering adiabatik (pengering langsung) Pengering yang dalam prosesnya bahan yang akan dikeringkan dikontakkan secara langsung dengan media pengering. Media pengering yang digunakan dapat berupa udara hasil pembakaran ataupun hasil pemanasan udara dengan alat pemanas. b. Pengering non adiabatik (pengering tidak langsung) Pengering yang prosesnya panas berpindah menuju bahan dari medium luar. Dalam pengering ini gas yang harus dikeluarkan adalah uap air/uap zat pelarut. (McCabe & Smith, 1993) Untuk mempelajari proses pengeringan padatan sangat tergantung pada mekanisme internal aliran cairan atau kondisi luar, yaitu: - temperatur - humiditi - aliran udara

- keadaan tiap partikel - keseragaman tiap partikel - kontak antar permukaan padatan basah Menurut Coulson dan Richardson (vol 3, 1985; 690) operasi pengeringan bertujuan untuk : - Mengurangi biaya transportasi - Memudahkan penanganan bahan selanjutnya - Meningkatkan nilai guna suatu bahan agar dapat memberikan hasil yang baik pada suatu penggunaan (mengawetkan bahan) - Mengurangi bahaya korosi

2.2 Rotary Dryer Rotary dryer atau pengering putar adalah alat pengering yang digunakan untuk mengeringkan NPK granul Phonska di Unit Produksi II PT. Petrokimia Gresik. Rotary dryer terdiri dari sebuah selongsong berbentuk silinder (yang dipasang pada suatu batangan roll) yang dapat berputar secara horizontal atau sedikit miring kebawah membentuk sudut dengan bidang dasar di atas suatu support. Panjang silinder sekitar 30,8 meter dan diameternya berukuran 3,8 meter. Pada bagian dalam silinder terdapat sekat-sekat yang arahnya membujur sejajar sumbu silinder, sepanjang silinder. Sekat ini disebut flight yang berfungsi untuk mengangkut bahan yang akan dikeringkan pada silinder yang berputar. Bahan basah dimasukkan pada bagian ujung yang lebih tinggi dan akan keluar sebagai produk yang kering pada ujung bagian yang lebih rendah. Gerakan maju dari bahan yang dikeringkan ini disebabkan oleh adanya gaya gravitasi, putaran silinder, kemiringan silinder dan adanya flight (Perry, 1988). Perputaran terjadi karena alat ini dilengkapi dengan gear yang dipasang pada shell dan dihubungkan dengan suatu drive ke motor penggerak. Jenis Rotary Dryer berdasarkan cara kontak antara zat yang akan dikeringkan dengan udara pengering ada 3 macam : 1. Direct Rotary Dryer, zat padat dikontakkan langsung dengan gas sebagai udara pengering 2. Indirect Rotary Dryer, zat padat dikontakkan dengan gas panas yang mengalir melalui mantel luar 3. Direct-indirect Rotary Dryer, gas panas terlebih dahulu dilewatkan melalui mantel dan kemudian masuk ke selongsong, dimana gas tersebut kontak langsung dengan zat padat yang dikeringkan.

Media pemanas yang digunakan dalam Rotary Dryer biasanya berupa gas panas atau udara panas yang alirannya dapat terjadi secara searah dengan bahan yang akan dikeringkan (cocurrent) atau berlawanan arah dengan bahan yang akan dikeringkan (countercurrent). Rotary Dryer yang digunakan di pabrik pupuk Phonska Unit Produksi II PT. Petrokimia Gresik adalah jenis Direct Rotary Dryer dan sebagai medium pemanas digunakan udara yang dipanasi terlebih dahulu dalam suatu dryer combution chamber (furnace). Aliran udara yang digunakan searah dengan aliran NPK granul yang masuk ke Rotary Dryer (cocurrent). Dasar Rotary Dryer ini adalah : NPK granul yang dikeringkan bersifat free flowing proses yang terjadi adalah kontinyu operasi dari alat ini relative sederhana

2.2.1 Prinsip kerja Rotary Dryer 09-M-110 Pabrik Pupuk Phonska Rotary Dryer akan mengeringkan padatan NPK granul hingga mencapai kadar air 1 1,5% dengan bantuan udara pengering yang disuplai dari Combution chamber (furnace) dengan arah co-current. Dengan adanya putaran pada Rotary Dryer akan mempermudah NPK granul untuk dikeringkan karena proses kontak dengan udara panas lebih sering terjadi, disamping itu proses pengeluaran produk NPK granul dari Rotary Dryer juga akan lebih mudah.

2.2.2 Kondisi Operasi Rotary Dryer 09-M-110 Pabrik Pupuk Phonska Kadar air produk granulator = 1,8 - 5% yang akan dikeringkan di dryer 9-M-110, untuk mencapai spesifikasi produk. Produk dari granulator masuk ke Rotary Dryer melalui chute dengan sudut elevasi 70o. Kemiringan Rotary Dryer antara 3 5o. Putaran Rotary Dryer 3 rpm. Udara panas disuplai dari combustion chamber(furnace) 9-B-101 dengan kalori yang diperlukan berkisar 4106 - 6106 kkal/jam. Temperatur udara masuk tergantung dari jumlah air yang harus diuapkan, dan dikendalikan otomatis berdasarkan temperatur udara keluar dengan TIC-105. Peralatan pelengkap Rotary Dryer adalah Lump Crusher 9-Q-102 di tengah shell sisi keluaran, dan Grizzly sepanjang 800 mm yang dilengkapi rangka besi membentuk sudut pengangkat bongkahan produk dan memasukkannya ke crusher.

Gas dari Rotary Dryer mengalir melalui dryer cyclone 9-D-106 A/B/C/D, diisap oleh dryer exhaust fan 9-C-107, gas langsung ke scrubbing system sebelum dibuang ke atmosfer.

2.2.3 Gambar penampang Rotary Dryer Gambar penampang Rotary Dryer dapat dilihat pada gambar 2.1

2.3 Perpindahan Massa dalam Pengering Perpindahan massa dalam pengering terjadi dari permukaan padat ke gas. Laju ratarata perpindahan massa Mv, diperoleh dengan persamaan : Mv = Ms (Xs-Xb) Dimana : Mv : laju massa uap air Ms : laju massa padatan kering Xs Xb : fraksi massa zat cair awal : fraksi massa zat cair akhir (McCabe & Smith, 1993)

Jika gas (udara) masuk pada kelembaban Hs dan keluar pada kelembaban Hb dan Mg adalah laju massa gas kering, maka : Hb = Hs + = Hs +
Ms (Xs Xb) Mg Mv Mg

(McCabe & Smith, 1993)

Neraca Massa Rotary Dryer Muk, Mao

Mfk

Rotary Dryer

Mpk

Maf

Map

Muk, Mai

Massa Masuk = Massa Keluar Mfk + Maf + Muk + Mai = Mpk + Map + Muk + Mao + Mc Dimana : Muk Mai Mfk Maf Mao Map Mpk Mc = Laju alir massa udara kering = Laju alir massa air dalam udara kering = Laju alir massa umpan kering = Laju alir massa air dalam umpan basah = Laju alir massa air dalam udara keluar = Laju alir massa air dalam produk = Laju alir massa produk kering = Laju alir massa produk kering yang lolos ke cyclone

2.4 Perpindahan Panas dalam Pengering Neraca Panas Rotary Dryer Qloss

Qf Rotary Dryer Qi

Qp

Qo

Panas Masuk Qi + Qf Muk . Hi + Ms . Hs

= Panas keluar = Qo + Qp + Qloss = Muk . Ho + Ms . Hp + Qloss

Dimana : Qi Qf Qo Qp Hi Ho Hs Hp Ms Qloss = Laju alir panas udara kering = Laju alir panas yang dibawa oleh umpan = Laju alir panas udara keluar = Laju alir panas yang dibawa produk = Enthalpi udara masuk = Enthalpi udara keluar = Enthalpi zat padat = Enthalpi produk = Laju alir massa zat padat = Laju alir panas yang hilang

Enthalpi udara dihitung dengan persamaan : Hy = (1,005 + 1,88H) (T TooC) + 2501,4H Enthalpi campuran padat-cair dihitung dengan persamaan : Hs = Cps (Ts -To) + X.Cpl (Ts - To) Dimana : Hy H T Hs Cps Cpl Ts To X : enthalpi udara : kelembaban udara : suhu udara panas : enthalpi campuran padat-cair : kalor spesifik zat panas : kalor spesifik zat cair : suhu campuran : suhu dasar : kadar air (Geankoplis, 1997) (Geankoplis, 1997)

BAB III METODOLOGI

3.1 Cara Memperoleh Data Data yang diperlukan untuk perhitungan neraca massa, neraca panas dan effisiensi thermal Rotary Dryer diperoleh dengan 2 cara yaitu pengamatan di lapangan secara langsung dan studi literature. Pengamatan secara langsung di lapangan diperoleh dari : 1. Central Control Room Pabrik Phonska 2. Pengamatan langsung di alat Rotary Dryer 3. Laboratorium Pabrik Phonska Data yang diperoleh langsung dari lapangan yaitu: 1. Total produk NPK perhari 2. Temperatur udara panas masuk 3. Temperatur udara panas keluar 4. Temperatur NPK granul masuk 5. Temperatur NPK granul keluar 6. Kadar air NPK granul masuk 7. Kadar air NPK granul keluar 8. Cpl 9. Cps 10. Laju udara kering masuk : 1500 ton/hari : 300oC : 90oC : 80oC : 90oC :5% : 1,5 % : 4,187 kJ/kg oC : 1,382 kJ/kg oC : 105.667,81 m3/jam ( Data lapangan plant Phonska,2009)

3.2 Pengolahan Data Dari data yang diperoleh dilakukan langkah-langkah perhitungan sebagai berikut : 1. Neraca Massa Rotary Dryer Muk, Mao

Mfk

Rotary Dryer

Mpk

Maf

Map

Muk, Mai Massa Masuk = Massa Keluar Mfk + Maf + Muk + Mai = Mpk + Map + Muk + Mao + Mc Dimana : Muk Mai Mfk Maf Mao Map Mpk Mc = Laju alir massa udara kering = Laju alir massa air dalam udara kering = Laju alir massa umpan kering = Laju alir massa air dalam umpan basah = Laju alir massa air dalam udara keluar = Laju alir massa air dalam produk = Laju alir massa produk kering = Laju alir massa produk kering yang lolos ke cyclone

2. Neraca Panas Rotary Dryer Q loss

Qf Rotary Dryer Qi

Qp

Qo

Panas Masuk Qi + Qf Muk . Hi + Ms . Hs Dimana : Qi

= Panas keluar = Qo + Qp + Q loss = Muk . Ho + Ms . Hp + Qloss

= Laju alir panas udara kering

Qf Qo Qp Hi Ho Hs Hp Ms Qloss

= Laju alir panas yang dibawa oleh umpan = Laju alir panas udara keluar = Laju alir panas yang dibawa produk = Enthalpi udara masuk = Enthalpi udara keluar = Enthalpi zat padat = Enthalpi produk = Laju alir massa zat padat = Laju alir panas yang hilang

4. Yield Rotary Dryer

5. Effisiensi Thermal Rotary Dryer

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Dari hasil perhitungan didapatkan Yield dari Rotary Dryer pabrik Pupuk Phonska PT. Petrokimia Gresik adalah 95,96%. Effisiensi thermal Rotary Dryer pabrik Pupuk Phonska PT. Petrokimia Gresik adalah 73,3%.

4.2 Pembahasan Evaluasi Rotary Dryer dilakukan dengan menghitung Yield dan effisiensi thermal Rotary Dryer berdasarkan neraca massa dan neraca panas. Effisiensi thermal Rotary Dryer berdasarkan data yang diperoleh adalah 73,3%. Sedangkan effisiensi thermal design minimal 65%. Jadi dapat diambil kesimpulan alat ini layak digunakan. Effisiensi thermal Rotary Dryer yang terjadi diatas minimal effisiensi thermal design (65%), hal ini berarti Rotary Dryer memiliki kemampuan untuk mengeringkan granul NPK dalam keadaan baik.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Effisiensi thermal Rotary Dryer pabrik pupuk Phonska adalah 73,3% sedangkan efisiensi termal desain Rotary Dryer minimal sebesar 75%, sehingga alat ini masih layak digunakan.

5.2 Saran Perlu adanya pengaturan kadar H2O dari umpan dan udara yang masuk Rotary Dryer sesuai dengan spesifikasi alat. Agar tidak terjadi penurunan efisiensi kerja Rotary Dryer dilakukan pembersihan secara berkala setiap 3 bulan sekali.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1998, Proceeding NPK Fertilizer ProductionAlternatives

Anonim, 2000, Panduan Operasi Pabrik Phonska 300.000 ton/tahun, INCRO, Spanyol

Coulson, JM & Richardson, JF, 1980, Chemical Engineering, vol 2., Pergamon Press, London

Geankoplis, Christie, 1997, Transport Processes and Unit Operation, 3rd ed, Prentice-Hall, New Delhi

Mc. Cabe Smith & Harriot, 1993, Operasi Teknik Kimia, 2nd ed, Erlangga, Jakarta

Perry, R.H & Don Green, 1988, Perrys Chemical Engineers Handbook, 6th ed, Mc GrawHill, New York