P. 1
Eramuslim- Diponegoro2

Eramuslim- Diponegoro2

|Views: 33|Likes:
Dipublikasikan oleh ian111980

More info:

Published by: ian111980 on Jun 18, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/18/2012

pdf

text

original

Sections

Tahun 1647, Amangkurat I memancung kepala 6.

000 ulama Jawa beserta keluarganya di alun-alun Kraton Plered, Yogyakarta. Syiar Islam di Tanah Jawa, paska era Wali Songo, pun mandeg. VOC, sekutu utama Raja Mataram itu, bergembira. Lebih satu abad kemudian, Diponegoro mengobarkan jihad fi sabilillah untuk mengusir kaum kafir Belanda dan menegakkan panji syahadat di Tanah Jawa, dalam bentuk sebuah negara merdeka berasaskan Islam. Jihad fi sabilillah ini oleh sejarawan Belanda direduksi hanya sebagai perang sakit hati, yang hanya disebabkan perebutan tahta dan persoalan tanah makam leluhur. Sejarah selalu berulang. Dan hari ini, episode Amangkurat I, Pangeran Diponegoro, Sentot Alibasyah, Kiai Modjo, dan Patih Danuredjo pun kembali terjadi. Dalam bentuk yang lebih canggih, tapi lakonnya tetaplah sama. Persis sama...

Dengan penuh hormat dan kebanggaan, kupersembahkan kepada anak keturunan dan keluarga besar Pangeran Diponegoro, semoga kemuliaan perjuangan Beliau menginspirasi hidup kita semua...

PROLOG Plered, Jawa Tengah, 1647

APA YANG SEKARANG DILIHAT DENGAN mata dan kepalanya sendiri sungguh-sungguh membuat Dyah Jayengsari ingin muntah. Dua jam lalu, kepala juru masak kraton menyuruhnya membakar panci besi tebal. Bentuknya seperti topi. Dyah Jayengsari tidak berani bertanya untuk apa panci besi itu dibakar. Sebagai orang baru di kraton, dia harus tahu diri. Walau diliputi tanda tanya besar, namun gadis dari Krapyak ini tidak berani bertanya macam-macam. Setelah panci itu membara, berubah jadi pijar panas yang mengerikan, dua prajurit Mataram menggotongnya dengan sebuah gerobak kayu ke bagian selatan alun-alun yang tidak jauh dari tempat Dyah Jayengsari berdiri. Di sana berkerumun banyak orang. Para prajurit juga berjaga-jaga Menurut kabar burung, seorang pemberontak pengikut Pangeran Alit tertangkap. Dia akan segera dihukum. Gadis itu tidak tahu apa hubungannya dengan panci panas itu. Didorong penasaran, dia berjalan mendekati kerumunan. Dengan susah payah Dyah Jayengsari menyibak kerumunan orang, hingga akhirnya dia berdiri dekat dengan seorang lelaki paruh baya, bertelanjang dada, yang sedang duduk bersimpuh dengan tangan terikat. Kedua matanya ditutup secarik kain hitam. Satu tombak di depan lelaki itu, terdapat sebuah lubang seukuran badan orang dewasa. Lima prajurit kraton berjaga di sampingnya. Tanda tanya besar masih memenuhi kepala gadis itu. Tiba-tiba seorang prajurit Mataram yang bertindak selaku algojo memerintahkan agar sang pesakitan dipendam di lubang yang ada di depannya. Lima orang prajurit bertubuh besar yang berjaga di sekeliling lelaki itu bergegas mengangkatnya. Dengan kasar mereka mengubur tubuh lelaki itu dari leher ke bawah. Anehnya, lelaki itu tidak meronta-ronta. Ketika kain hitam dibuka, kedua matanya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Sorot matanya begitu tenang, menyiratkan kepasrahan yang total pada kehendak Yang Maha Kuasa. Mulutnya terlihat komat-kamit membaca doadoa dalam bahasa Arab. Dari belakang, dua prajurit yang tadi ikut mengubur lelaki itu menggotong panci yang masih membara dan kemudian segera menangkupkan panci itu ke kepala sang pesakitan. “Allahu Akbar!!!” Lelaki itu melolong kesakitan. Begitu keras dan memilukan. Tak kuat menahan sengatan sakit yang luar biasa, lelaki itu langsung pingsan. ‘Topi besi panas’ itu melumerkan batok kepalanya. Suara gemerisik terdengar, seiring desis daging terbakar. Semua yang menonton

menjerit ketakutan. Termasuk Dyah Jayengsari. Badan gadis itu menggigil hebat. Perutnya mual. Pandangan matanya berkunang-kunang. Kesadarannya mulai hilang. Dyah Jayengsari akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Gadis itu tiba-tiba tersadar. Dia menengok ke sekeliling ruangan. Tidak ada kerumunan orang. Dia ternyata sendirian di bilik tidurnya. Mimpi itu ternyata terulang kembali. Mimpi nyata yang pernah dilihatnya beberapa pekan lalu. Dari atap rumbia yang bolong di sana-sini hingga menyisakan ruang bagi sorot matahari yang menerobos ke dalam, Dyah Jayengsari tahu bahwa hari masih siang. Arah sinarnya ke timur menandakan Sang Surya telah mulai tergelincir ke barat. Entah mengapa, perasaan gadis itu tidak enak. Keringatnya mengucur deras membasahi bajunya. Jantungnya berdegup keras menggedor-gedor relung dadanya. Baru saja dia hendak berdiri, sebuah teriakan keras mengagetkan dirinya. “Keluar! Atas nama Paduka Yang Mulia, semua yang ada di dalam rumah ini keluar!” Dyah Jayengsari menggigil ketakutan. Gadis itu tahu, teriakan itu berasal dari prajurit kraton. Gerangan apa yang membuat mereka ke sini? “Cepat keluar! Atau kami dobrak!” Sambil berjalan, Dyah Jayengsari merenggut kerudung yang tersampir di bilik bambu dinding kamar dan menutupi kepala sekadarnya. Gadis itu bergegas keluar. Rumah sepi. Hanya ada dirinya. Benar saja, di depan pintu telah berdiri tiga orang prajurit kraton lengkap dengan pedang dan tombak. Yang membuatnya kaget, ayahnya dan Wulung Ludhira—adik satusatunya yang masih berusia sepuluh tahun—sudah berada di antara pasukan itu dengan pengawalan ketat. “Siapa lagi yang ada di dalam!” hardik salah seorang prajurit. Tangan kanannya menggenggam tombak dengan ujung besi mirip trisula. “Tidak ada lagi, Tuan. Saya sendirian...,” jawab Dyah pelan. Ketakutan segera menyergap dirinya. Tapi prajurit-prajurit kraton itu tidak percaya. Mereka mendobrak gubuk itu lalu menerabas ke dalam. Sesaat kemudian mereka keluar tanpa membawa siapa pun. Nihil. “Dia benar. Tak ada lagi orang...” Seorang prajurit yang sepertinya bertindak sebagai kepala regu memerintahkan semuanya pergi ke alun-alun. Dyah Jayengsari, ayah, serta adiknya hanya bisa mengikuti pasukan penjemputnya dengan menaiki seekor kuda yang telah diikat tali. Untunglah gubuk mereka tidak begitu jauh dengan alun-alun, sehingga dalam waktu singkat mereka sudah tiba di

lapangan yang luas, di mana di sebelah selatannya berdiri bangunan Kraton Plered yang belum rampung dibangun. Walau demikian, Raja Amangkurat I sudah menempatinya. Kraton Mataram Plered merupakan kraton baru. Yang lama berada di Kerto, lima kilometer selatan Kotagede. Adalah Susuhunan Amangkurat I yang memindahkan pusat kerajaannya itu dari Kerto setelah dua tahun berkuasa. Berbeda dengan kraton lama yang hanya berpagar kayu, maka kraton baru ini lebih mirip sebuah benteng. Bangunannya dikelilingi dinding batubata dan semen, dengan tinggi lima sampai enam meter. Tebalnya mencapai satu setengah meter. Sebuah parit buatan yang terhubung dengan Kali Opak dibuat mengelilingi kraton-benteng berbentuk belah ketupat ini, sehingga pusat kekuasaan Mataram di bawah Amangkurat I tampak seperti sebuah pulau di kelilingi daratan luas. Alun-alun kraton ada dua, di utara dan selatan. Antara alun-alun dengan istana dihubungkan dengan sebuah jembatan yang selalu dijaga ketat prajurit kraton. Model keraton-benteng ini mengingatkan kita pada model istana-benteng raja-raja Eropa. Hanya saja, bangunan Keraton Mataram di Plered tidak dibuat tinggi bertingkat-tingkat. Dari atas kudanya yang berjalan lambat, Dyah Jayengsari, Wulung Ludhira, dan Ki Ageng Ludhira baru memasuki jalan utama menuju alun-alun kraton. Di sisi kanan dan kiri jalan utama yang lurus terbuat dari tanah yang dipadatkan, berjejer beringin putih setinggi empat sampai lima meteran. Di tiap pohon beringin, dua pasukan kraton bersenjatakan tombak berdiri dalam sikap siaga seolah tengah bersiap berperang. “Ada apa gerangan, Nduk?” bisik Ki Ageng Ludhira kepada anaknya yang duduk di belakangnya mengapit Wulung. Gadis itu menggelengkan kepalanya, “Aku ndak tahu, Pak. Tapi perasaanku ndak enak.” “Berdoa saja ya, Nduk. Perasaanku juga tidak enak. Mudah-mudahan tidak terjadi suatu apa.” Walau berkata begitu, tetapi kedua mata Ki Ageng Ludhira tidak bisa membohongi anaknya. Dyah Jayengsari tahu jika sesuatu yang buruk pasti akan terjadi. Apa yang dilakukan prajuritprajurit ini pasti atas perintah Susuhunan Amangkurat I. Dan semua yang dilakukan raja lalim ini semuanya pasti berakhir tragis. Karakter raja ini sangat buruk. Dia amat berbeda dengan ayahnya, Sultan Agung Hanyokrokusumah, dan juga dengan adik-adiknya. Di awal kekuasaannya, Amangkurat I melakukan pembersihan terhadap loyalis ayahnya sendiri yang berada di dalam lingkungan kraton maupun di luar. Mereka dibunuh dengan cara yang sangat keji. Jumlahnya mencapai tiga ribuan. Menurut bisik-bisik orang kraton sendiri, Amangkurat I memiliki kegemaran yang tidak lazim. Selain memiliki nafsu yang tak pernah terpuaskan terhadap perempuan-perempuan

muda, raja ini juga gemar menyiksa rakyatnya. Bahkan sang raja menciptakan sendiri caracara penyiksaan yang teramat sadis, terlebih kepada orang-orang yang dicurigai hendak melawan kekuasaannya. Cara-cara penyiksaan ala Amangkurat I di antaranya adalah: Pertama, dari bagian atas telinga, kepala pesakitan dikuliti sampai batok kepalanya terlihat. Orang-orang yang mendapat hukuman ini kebanyakan meninggal dunia. Namun ada pula yang masih bisa bertahan hidup walau kemudian akhirnya juga menemui ajal dengan amat menyakitkan. Kedua, kaki pesakitan diikat, lalu digantung dengan posisi kepala di bawah. Di bawah kepala, ditaruh panci panas berukuran besar berisi minyak yang mendidih. Kemudian, kepala orang itu dicelupkan ke dalam minyak yang bergolak sampai sebatas telinga hingga rambut dan kulit kepalanya mengelupas. Semua yang mengalami siksaan jenis ini menemui ajal karena sakit yang tak terperikan. Ketiga, siksaan yang tak kalah menakutkan adalah si terhukum diperintahkan untuk mengenakan topi besi yang tebal yang telah dipanaskan hingga menjadi merah membara. Rambut akan hangus, kulit kepala terkelupas dan gosong, dan otaknya akan terbakar. Tak ada yang selamat dari jenis siksaan seperti ini. Dan sore ini, sesuatu yang mengerikan sepertinya akan terjadi. Dyah Jayengsari mendapati dirinya tidak sendirian. Dari berbagai arah, juga berdatangan—mengalir bagai air bah— ribuan ulama, guru ngaji, anak-anak santri dan santriwati, beserta seluruh keluarganya, yang seluruhnya digiring dan dijaga ketat pasukan Mataram ke alun-alun. Semuanya dikumpulkan di lapangan yang luas hingga tercipta lautan jubah putih. Di tanah lapang itu mereka semua dikumpulkan menjadi satu. Semuanya, tanpa kecuali, disuruh duduk bersila di atas tanah menghadap ke arah timur di mana sebuah bukit yang tidak begitu tinggi tampak memanjang searah dengan aliran Kali Opak. Ribuan orang itu, besar dan kecil, tua dan muda, duduk di atas tanah dalam barisan yang diatur paksa oleh para prajurit. Di sekeliling lapangan, tiga lapis pasukan Mataram bersenjata pedang dan tombak mengepung orang-orang itu dalam formasi siaga. Agaknya Amangkurat I memerintahkan semua pasukannya mengepung alun-alun dengan rapat, hingga tak ada celah untuk meloloskan diri. Ketika hari sudah mulai gelap, ribuan ulama, santri, dan keluarganya dilarang untuk menunaikan sholat maghrib. Para prajurit mengancam, siapa pun yang ketahuan mengerjakan sholat, akan langsung ditebas lehernya. Beberapa ulama tidak mengindahkan ancaman itu dan tetap mengerjakan sholat, walau sambil duduk. Celakanya, hal itu diketahui para prajurit. Tanpa ampun lagi, mereka memenggal leher beberapa ulama tersebut dengan pedangnya. Jerit dan tangis segera pecah di tengah kerumunan massa. Namun suasana dengan cepat jadi senyap kembali karena para prajurit itu lagi-lagi

mengeluarkan ancamannya akan melakukan hal yang sama jika ada yang berani berteriak atau membuat ribut. Dalam kesenyapan yang mencekam itu tiba-tiba semua mata melihat ke arah pintu gerbang kraton yang menuju ke bukit di sebelah timur alun-alun yang tanpak bercahaya. Dari gapura batu kali setinggi enam meteran, serombongan orang dengan membawa tiang obor keluar dari dalam kraton. Di belakang pasukan obor terlihat sepuluh orang anggota Trisat Kenya, pasukan khusus pengawal raja yang semuanya terdiri dari perawan cantik dengan pakaian lelaki bersulam emas, terlihat menyandang pedang dan tombak. Di bawah cahaya ratusan obor, pasukan itu terlihat begitu anggun dan gagah. “Trisat Kenya...,” ujar Dyah Jayengsari lirih. Ayahnya hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Bibirnya yang sudah kering karena tidak diberi air minum sejak berada di alunalun, terus bergerak-gerak melantunkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Bola kecil di tenggorokannya terus bergerak-gerak tak pernah berhenti. Ki Ageng Ludhira dan juga Dyah Jayengsari tahu, Trisat Kenya merupakan pasukan khusus pengawal Susuhunan Amangkurat Agung I yang semuanya terdiri dari para perawan cantik yang dibekali olah kanjuragan tingkat tinggi. Disebut sebagai pasukan pengawal khusus karena tugas seorang Trisat Kenya bukan saja bertanggungjawab terhadap keamanan dan keselamatan fisik sang raja, namun juga wajib menjaga kewibawaan dan melindungi rahasia sang raja dalam hal yang paling pribadi sekali pun. Pasukan ini merupakan hal yang baru dalam tradisi Mataram Islam. Adalah Kanjeng Ratu Ibu yang membentuk pasukan ini untuk menjaga Amangkurat I. Sang Ibu sungguh-sungguh paham jika sejak kecil Amangkurat I yang memiliki perangai buruk, memang punya banyak musuh. Jauh di dalam hatinya, Kanjeng Ratu Ibu sesungguhnya menyesal dan meratapi keberadaan Raden Mas Sayidin, nama kecil dari Susuhunan Amangkurat I, yang bersifat kurang baik, beda dengan adiknya, Pangeran Alit. Raden Mas Sayidin sangat temperamental, kekanak-kanakan, dan memiliki kegemaran yang tidak masuk akal dan tidak terpuaskan terhadap perempuan. Pada tahun 1637, ketika masih berstatus sebagai putra mahkota, Raden Mas Sayidin sudah terlibat dalam skandal memalukan yang melibatkan isteri seorang abdi dalem senior, Tumenggung Wiraguna. Tumenggung kepercayaan Sultan Agung ini melaporkan hal itu kepada Sultan Agung. Akibatnya Raden Mas Sayidin dihukum. Untuk beberapa lama, dia dibuang ke hutan larangan. Kejadian ini kelak menimbulkan dendam membara di dada putera mahkota tersebut, sehingga di awal kekuasaanya, Raden Mas Sayidin yang telah menjadi Susuhunan Amangkurat I membunuh Tumenggung Wiraguna dan seluruh pengikutnya. Namun sebagai seorang ibu, apa dan bagaimana pun juga perangai sang anak, dia tetaplah harus menjaga dan melindungi anaknya, bahkan walau nyawanya sendiri jadi taruhan. Itulah

yang dilakukan Kanjeng Ratu Ibu yang berinisiatif membentuk pasukan khusus pengawal raja. Awalnya, Kanjeng Ratu Ibu—alias Ratu Wetan, puteri dari Tumenggung Upasanta yang merupakan Bupati Batang keturunan dari Ki Juru Martani—menginginkan sang raja dijaga prajurit lelaki pilihan. Namun Amangkurat I sendiri menolaknya dan mengatakan dia tidak bisa mempercayai laki-laki sedikit pun. Anaknya itu meminta agar seluruh anggota pasukan pengawal khususnya hanya terdiri dari para perempuan muda, masih perawan, dan tentu saja harus cantik. “Mereka harus dilatih dengan keras agar terampil menggunakan senjata, dan juga harus dibekali olah kanuragan yang mumpuni,” ujar Amangkurat I kepada Kanjeng Ratu Ibu. “...dan tugas atau keanggotaan setiap Trisat Kenya hanya akan berakhir manakala mereka dihadiahkan kepada para adipati atau bawahanku.” Sang ibu hanya bisa mengangguk. Setiap keinginan sang raja bagaimana pun adalah sabda pandhita ratu, yang tidak bisa ditolak sedikit pun. Akhirnya terbentuklah pasukan Trisat Kenya yang seperti sekarang tengah berjalan dengan langkah tegap menaiki bukit di timur alun-alun. Sepuluh Trisat Kenya yang berbaris paling depan adalah pembuka jalan. Di belakangnya, sepuluh abdi dalem laki-laki bertelanjang dada tanpa dibekali senjata, menggotong tandu besar berisi kursi raja yang terbuat dari jati yang berat, lengkap dengan atapnya yang berumbai sutera dan bordiran benang emas. Di sekeliling raja, tigapuluh anggota Trisat Kenya berjaga. Ada yang membawa pedang, keris, tombak, dan juga tulup, sejenis sumpit panjang yang diisi dengan panah kecil yang ujungnya beracun. Masing-masing Trisat Kenya punya keahlian berbeda dalam penggunaan senjata dan juga ilmu kanuragannya. Pelan tapi pasti, rombongan raja itu bergerak menaiki puncak perbukitan. Beberapa lelaki tua pembawa tiang obor setinggi dua tombak berada paling depan membuka jalan. Di bagian paling belakang juga ditutup sejumlah abdi dalem laki-laki sepuh memegang tiang obor. Ketika singgasana diturunkan di tempat yang paling tinggi, para abdi dalem laki-laki semuanya langsung turun kembali ke bawah bukit. Demikian pula dengan yang membawa obor. Sehingga sekarang hanya ada sang raja yang duduk dengan pongahnya di atas singgasana, dikelilingi empatpuluhan Trisat Kenya lengkap dengan senjatanya. Suasana kemudian bertambah hening. Kesenyapan selama beberapa menit itu sungguhsungguh meremas jantung. Semua mata memandang ke atas bukit, menanti apa yang hendak dilakukan atau diperintahkan oleh sang raja. Untuk beberapa lama sang raja hanya duduk diam di atas singgasananya. Mungkin dia tengah menikmati lautan jubah putih yang memenuhi alun-alun yang berada di bawah kakinya. Entah apa yang ada di dalam benaknya ketika itu.

Dyah Jayengsari, Ki Ageng Ludhira, dan ribuan orang lainnya yang masih duduk di alun-alun melihat dari kejauhan ketika Susuhunan Amangkurat I mulai bergerak turun dari singgasananya. Dia berjalan beberapa langkah ke depan, dan berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang. Raja lalim itu terus berdiri dengan tegak. Kedua tangannya masih berkacak pinggang. Dia mengedarkan pandangan ke bawah kakinya, menyapu seluruh areal alun-alun kratonnya. Bibirnya yang menghitam mencibir. Sorot matanya yang dipenuhi dendam kesumat berbinar-binar tanda puas. Kepalanya mengangguk-angguk. Dengan tangan kanan masih berkacak pinggang, tiba-tiba tangan kirinya diangkat ke atas tinggi-tinggi. Sebuah perintah yang hanya dipahami seluruh pasukannya yang sedari sore telah siap dengan senjatanya. “Habisi !!!” teriak para komandan regu dengan suara yang menggelegar. Seketika itu juga berlompatanlah para prajurit itu dengan pedang terhunus ke tengahtengah lapangan yang dipenuhi lautan manusia tanpa daya. Dengan teramat ganas, pasukan Mataram itu menyabetkan pedangnya ke kanan dan kiri, memenggal leher siapa pun yang ada di dekatnya tanpa pandang bulu, apakah itu laki-laki tua, perempuan, bahkan anak kecil. Jerit tangis, lolong kesakitan, dan kumandang doa memenuhi angkasa alun-alun kraton malam itu. Namun tak ada yang sanggup menghentikan kegilaan yang tengah dipertontonkan pasukan Mataram yang notabene kebanyakan juga sudah memeluk agama Islam. Di atas bukit, Amangkurat I masih berkacak pinggang menyaksikan pembantaian besar yang dilakukan prajuritnya terhadap enam ribuan ulama, santri, dan seluruh keluarganya. Kepalanya mengangguk-angguk puas. Sesekali jemarinya memilin kumisnya yang tebal melintang. Dia benar-benar menikmati pemandangan di bawahnya. Betapa ribuan orang yang tengah menanti ajal itu sebentar lagi akan lenyap dari muka bumi. Musuh-musuhnya akan semakin sedikit. Dan dia akan bisa berkuasa dengan tenang, tanpa diusik oleh siapa pun. Raja Jawa itu merasa sangat aman berada di atas bukit. Di sekelilingnya berdiri dengan kewaspadaan penuh puluhan Trisat Kenya. Dalam waktu teramat singkat, ribuan nyawa melayang dengan kepala terpisah dari jasadnya. Tanah alun-alun yang begitu luas seketika berubah menjadi lautan darah. Dari cahaya ratusan tiang obor yang menyala di sekeliling alun-alun, terlihat pasukan Mataram yang sudah belepotan darah itu masih saja bergerak buas membunuh ke sana-kemari tanpa perlawanan. Pasukan yang sebagian pernah ikut menyerang VOC di Batavia semasa kekuasaan Sultan Agung itu kini berbalik menjadi mesin penjagal bagi bangsanya sendiri. Pembantaian yang sangat mengerikan itu berlangsung tidak sampai setengah jam!

Tiba-tiba terdengar lengkingan peluit panjang tiga kali yang ditiup para pimpinan regu pasukan. Penyembelihan telah berakhir. Semua orang yang ada di dalam daftar berikut keluarganya sudah dihabisi. Mendengar isyarat peluit itu, Amangkurat I mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Buang semua mayat itu ke parit! Sebagian prajurit yang masih bersiaga dengan pedang terhunus berjajar satu lapis dalam jarak tiap lima tombak mengepung alun-alun. Pedang dan badan mereka belepotan darah. Prajurit yang lain menyambut datangnya gerobak-gerobak dorong yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Gerobak-gerobak itu segera saja diisi dengan mayat-mayat tanpa kepala dan kepala tanpa jasad hingga penuh. Setelah gerobak penuh, prajurit yang membawa gerobak itu mendorongnya ke arah parit buatan dan membuang semua isinya ke dalam parit yang berair deras menuju ke Kali Opak. Berkali-kali mereka melakukan itu, mondar-mandir bagai kereta maut, hingga tak satu pun jasad tersisa. Air parit dan Kali Opak yang tadinya jernih berubah menjadi kental berwarna merah. Bau anyir darah tercium di mana-mana. Tanpa diketahui siapa pun, Wulung Ludhira, bocah sepuluh tahun adik dari Dyah Jayengsari, ternyata masih hidup. Tubuhnya yang kecil tertutup oleh mayat-mayat tanpa kepala yang sebagiannya menindih tubuhnya. Anak yang sudah ditinggal ibunya sejak bayi itu menggigil ketakutan. Ayah dan kakak satu-satunya sudah meninggal dengan cara yang sangat mengerikan. Dia ingin menjerit dan menangis. Tapi suaranya tercekat oleh kengerian yang teramat sangat. Bocah itu hanya bisa diam tak bergerak. Tubuhnya dirasa amat lemas dan juga kaku. Seluruh badan, kepala, dan rambutnya basah oleh darah kental yang membanjir di sekitarnya. Tiba-tiba Wulung Ludhira merasakan tubuh kecilnya ikut digotong dan dilempar ke dalam gerobak bersama belasan mayat lainnya. Ditumpuk begitu saja menjadi satu. Bocah itu sungguh-sungguh ketakutan. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Dia nyaris tidak bisa bernafas.Tapi itu malah menyelamatkan nyawanya. Bocah kecil itu bisa merasakan jika gerobaknya ditarik dengan kasar oleh sejumlah prajurit. Roda-rodanya yang terbuat kayu dilapis karet hitam berderak-derak sebentar, lalu berhenti. Wulung Ludhira bisa merasakan gerobak tiba-tiba miring. Dia bersama belasan mayat tanpa kepala dan kepala tanpa jasad yang masih hangat itu pun langsung meluncur bebas ke dalam parit yang deras airnya. Dia pun hanyut di parit yang sudah dipenuhi mayat. Walau pandai berenang, namun bocah itu kesulitan menggerakkan tubuhnya disebabkan mayat dan kepala ada di mana-mana. Dengan menahan kengerian yang teramat sangat, dia berpegangan pada salah satu kaki jasad yang mengambang. Bocah kecil itu terus mengikut kemana air membawanya.

Pekatnya malam membuatnya tak terlihat oleh pasukannya Amangkurat I yang masih sibuk membersihkan alun-alun. Bocah kecil itu kelelahan. Semua kejadian malam itu menguras seluruh tenaga dan perasaannya. Akhirnya Wulung Ludhira pingsan. Dia terus hanyut dibawa air hingga jauh dari alun-alun. Hingga tubuhnya tersangkut akar beringin yang menjulur ke Kali Opak, beberapa kilometer ke selatan Kraton Plered. Entah sudah berapa lama Wulung Ludhira tak sadarkan diri. Ketika siuman, matahari sudah berada di atas kepalanya. Bocah kecil itu mendapati dirinya masih tersangkut suluran akar beringin yang tumbuh di pinggir kali. Sebagian badannya masih terendam di bawah air kali. Di beberapa tempat, jasad tanpa kepala dan kepala tanpa badan juga tersangkut. Kengerian yang teramat sangat kembali menyergapnya. Walau seluruh tubuhnya sakit, dan juga lelah, dengan sisa-sisa tenaga bocah kecil itu berusaha merangkak naik ke pinggir kali, hingga dia tergeletak di atas rerumputan, satu meter dari air kali. Entah kini dia berada di mana. Bocah itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada rumah barang satu pun. Yang ada hanya hamparan rumput dengan tiga pohon beringin besar yang tumbuh di dekat dirinya. Lainnya hanya berupa semak dan tumbuhan perdu. Anak kecil itu tidak tahu nama tempat ini. Perutnya yang tidak terisi sejak kemarin terasa perih. Tubuhnya dirasa makin lemah. Dia menggigil kedinginan. Bocah itu akhirnya tak sadarkan diri kembali. Dia tergeletak begitu saja di atas rerumputan, dinaungi pohon beringin besar yang ada didekatnya. Tak lama kemudian, seorang lelaki tua bertelanjang dada, dengan kepala ditutupi caping yang sudah kusam, mendekati bocah itu dengan hati-hati. Ketika mendapati ada bocah kecil yang menggeletak di atas rumput, lelaki tua itu mengusap kepala Wulung Ludhira dengan lembut. Bibirnya yang sudah sedikit keriput tersenyum tulus. Dengan penuh hati-hati akhirnya dia menggendong bocah itu dan bergegas pergi menghilang begitu saja ke arah barat...

Bab 1

178 tahun kemudian... Gua Selarong, Yogyakarta, 1825

NYALI LEBIH PENTING KETIMBANG OTAK! Walau malam ini gelap gulita, tak ada bulan dan bintang yang menggantung di atas langit, namun Ki Singalodra tidak perduli. Lelaki kekar dengan wajah berewokan itu terus memacu kudanya seperti dikejar setan. Derap kaki kudanya menggetarkan bumi. Kepulan debu yang ditinggalkannya membentuk tabir pekat yang tak tembus pandang. Semua hewan malam menyingkir dari jalan jika tak ingin tergilas kegilaan kuda dan penunggangnya itu. Jagoan dari Dusun Ngampilan ini memegang tali kekang hanya dengan sebelah tangan. Tangan yang satunya lagi memeluk seorang bocah kecil yang tubuhnya berlumuran darah. Bocah itu sudah tak bernyawa. Tubuh mungilnya bergerak-gerak, seirama gerak kuda yang terus berlari dengan amat cepat bagai terbang di atas tanah. Dada Ki Singalodra sungguh-sungguh sesak, terbakar amarah. Setengah jam lalu dusunnya dibakar Belanda. Celakanya, saat itu dia tengah berada di dusun tetangga. Mendengar kabar mengejutkan itu, dia langsung pulang untuk menyelamatkan isteri dan anaknya. Namun terlambat. Gubuknya sudah terbakar habis. Seluruh isinya tlah jadi arang. Asap masih mengepul. Bara masih menyala merah di mana-mana. Dengan histeris tanpa memperdulikan bara yang terinjak kaki dan hawa panas yang masih menyengat kulit, lelaki itu terus mencari isteri dan anak semata wayangnya itu. Tapi nasi sudah jadi bubur. Isterinya ditemukan tergeletak tak bernyawa di dekat sumur. Perempuan yang sangat dicintainya itu terlihat sedang memeluk anaknya yang nyaris seluruh tubuhnya terbakar. Dengan mata berkaca-kaca menahan kesedihan sekaligus kemarahan yang amat sangat, lelaki itu berteriak histeris. Dia segera mengambil anak itu dan memeluknya. Setelah mencium kening isterinya untuk yang terakhir kali, Ki Singalodra langsung melompat ke atas kuda hitamnya. Dengan sekali gebrak, kuda itu melesat pergi meninggalkan dusunnya. Londo anjing!!! Belanda telah menggali kapak peperangan dengan dirinya! Sia-sia saja selama ini dia mengabdi pada mereka, jika balasan yang diterimanya ternyata seperti ini! Tekadnya telah bulat. Yang dulu kawan mulai malam ini menjadi lawan terbesarnya. Sekarang juga dia akan bergabung dengan pasukan Kanjeng Pangeran Diponegoro yang tengah menyusun kekuatan untuk memerangi Belanda dari Tegalredjo dan Selarong.

Aku akan menjadi pedang yang paling tajam bagi Gusti Kanjeng Pangeran! Bagi warga Merapi hingga sekitar Laut Kidul, nama Ki Singalodra sudah tak asing lagi. Sejak pulang dari bertapa dan berguru di berbagai gua, lembah, dan gunung beberapa tahun lalu, Ki Singalodra kembali ke dusunnya di Ngampilan dan menantang semua jagoan di sana. Tidak saja di Ngampilan, lelaki ini juga berkeliling untuk mengadu kesaktian melawan para jagoan lainnya di sekitar Merapi, Merbabu, Dieng, dan Lawu. Walau sempat beberapa kali kepayahan dan menderita luka dalam sejumlah perkelahian, namun kecerdikan dan kenekatannya membuat dirinya keluar sebagai pemenang. Sosok Ki Singalodra menjadi sosok yang ditakuti. Dia pun akhirnya bisa mempersunting gadis idaman hatinya, bunga Dusun Ngampilan, yang sejak kecil telah mencuri perhatiannya. Ketenaran namanya didengar langsung Residen Yogyakarta. Pejabat Belanda ini akhirnya memerintahkan kepala pasukan setempat untuk merekrutnya. Tetapi karena Ki Singalodra tidak mau ditempatkan sebagai kepala regu pasukan reguler yang harus bekerja tiap hari dan wajib memiliki disiplin tinggi, akhirnya dia dipekerjakan sebagai tenaga khusus. Sekarang, Ki Singalodra sama sekali tidak menyangka. Pengabdiannya yang total selama ini kepada Belanda, ternyata dibalas dengan sangat menyakitkan. Ibarat pepatah, air susu dibalas dengan air tuba. Sebab itu, tidak ada jalan lain. Mulai malam ini, dia akan mengubah haluan hidupnya seratus delapan puluh derajat. Dendamnya teramat sangat besar. Darah harus dibalas dengan darah. Nyawa harus diganti nyawa. Kedua matanya merah menyala-nyala. Belanda, Patih Danuredjo, dan orang-orang kraton cecunguk asing itu sekarang menjadi musuh terbesarku! Kedua mata jagoan dari Dusun Ngampilan itu lagi-lagi melotot garang. Dadanya sesak oleh amarah dan dendam. Jalan tanah selebar tiga meter di depannya mulai menanjak lurus. Sebentar lagi dia akan tiba di pelataran menuju Gua Selarong, di mana Kanjeng Pangeran tengah berada. Mengingat sosok Pangeran Diponegoro, hatinya diliputi perasaan yang aneh. Antara semangat yang membara dan kerinduan yang teramat sangat. Inilah jalanku! Tiba-tiba kudanya berhenti dan mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi. Ringkikannya memecah keheningan malam yang sepi. Hampir saja Ki Singalodra terjatuh jika dia tidak kuat menahan tali kekangnya. Dia segera merapatkan tubuhnya dengan leher kuda sehingga keseimbangannya tetap terjaga. Sebelah tangannya tetap kuat mendekap tubuh anaknya. Tak jauh di depannya, empat lelaki dengan mengenakan baju wulung hitam dan ikat kepala

yang juga hitam mencegatnya dengan tombak dan pedang terhunus. Salah satunya membawa obor di tangannya. “Berhenti!” teriak mereka. “Hendak kemanakah kisanak dan siapa yang digendong itu!” teriak salah satunya. Dengan penuh kewaspadaan, lelaki yang satu itu mendekati Ki Singalodra dari sisi kanan. Sedangkan yang satunya lagi bergerak menyamping ke sisi yang berlainan. Dua lelaki lainnya masih berdiri menghadang dengan senjata terhunus. Ketika lelaki itu melihat wajah Ki Singalodra dengan jelas, wajah yang tak asing lagi dan sangat ditakuti orang-orang kampung, nyalinya agak bergetar. Namun bayangan sosok Kanjeng Pangeran Diponegoro yang setiap waktu memberinya nasehat keagamaan membuat dirinya kuat dan berani. “Takutlah kalian hanya kepada Allah Subhana wa Ta’ala, bukan kepada mahluk-Nya. Allah Maha Kuat, sedang mahluknya sangatlah lemah...” Tangan lelaki itu memperkuat genggaman tangannya pada gagang pedangnya, “Ternyata kau Singalodra. Hendak kemana engkau malam ini dan siapa lagi itu yang kau bunuh!” Dengan penuh amarah, Ki Singalodra menjawab, “Ini anakku! Minggir kalian semua! Isteri dan anakku mati malam ini dibunuh Belanda! Aku mau menghadap Gusti Kanjeng Pangeran!” Keempat lelaki yang menghadangnya tak percaya. “Apa katamu? Bukankah engkau pelayan kafir Belanda! Janganlah berdusta. Pulanglah sekarang. Kembalilah kepada tuanmu itu sebelum kami membunuhmu!” “Wahai prajurit, aku bicara jujur. Aku sekarang ingin menghadap Gusti Kanjeng Pangeran. Aku mau bergabung dengan kalian. Jika kalian masih saja menghadangku, maka terpaksa tanganku ini yang akan berbicara!” bentak Ki Singalodra dengan suara mengguntur. Semua orang tahu, Ki Singalodra memiliki ajian Brajamusti, suatu ilmu pukulan yang sangat mematikan. Bahkan korbannya bisa hangus terkena pukulan itu. Keempat lelaki bersenjata pedang dan tombak itu bergerak mundur sesaat, namun mereka masih mengepung Ki Singalodra dengan penuh kewaspadaan. Pedang dan tombak masih terhunus. Masing-masing terdiam sejenak dalam situasi saling menunggu. Namun tiba-tiba suara derap kuda terdengar mendekat dari arah Gua Selarong. “Tunggu! Berhenti! Siapa itu!” Dalam formasi masih mengepung Ki Singalodra, keempat prajurit itu menoleh ke arah datangnya suara. Dari pekatnya malam, muncul seorang penunggang kuda dengan wajah yang sangat berwibawa. Sorot matanya tajam dengan kumis melintang. Ki Singalodra tahu,

lelaki ini pastilah Ki Guntur Wisesa, seorang ulama yang juga pendekar dari lereng utara Gunung Merapi yang telah bergabung dengan barisan perlawanan Kanjeng Pangeran Diponegoro sejak dua tahun lalu. Dia belum pernah bertanding dengan orang ini karena Ki Guntur selalu saja menghindar dan sama sekali tidak tertarik untuk melakukan uji kesaktian melawannya. Ketika melihat Ki Singalodra yang berkuda sambil menggendong seorang bocah yang berlumuran darah, Ki Guntur Wisesa menyapanya lembut, “Assalamu’alaikummusalam warahmatullahi wabarakatuh, wahai Singalodra. Apa gerangan yang membawamu ke sini! Anak siapa yang kau bawa itu?” Ketika mendengar sapaan yang lembut, hati Ki Singalodra yang tadinya panas mendadak sejuk, bagai bara api tersiram air pegunungan. “Wa’alaikumusalam... Aku ingin bergabung dengan barisan Kanjeng Gusti Pangeran, wahai Ki Guntur Wisesa. Ini anakku, Surya Mandriga. Dia mati dibunuh Belanda tadi malam, juga isteriku... Izinkan aku menghadap Kanjeng Gusti Pangeran sekarang juga.” Ki Guntur Wisesa bergerak meminggirkan kudanya, memberi jalan pada tamunya. “Silakan Kisanak. Kami akan mengawal Kisanak sampai di atas sana...” “Terima kasih, Ki Guntur...” Ki Singalodra mengangguk takzim pada ulama-pendekar itu dan kembali memacu kudanya, namun tidak sekencang tadi. Kuda Ki Guntur Wisesa berjalan di depan. Sedangkan keempat anak buahnya mengapit di kiri kanan dan belakangnya. Mereka beriringan melintasi jalan utama yang terus menanjak menuju Gua Selarong yang berada di bawah sebuah bukit batu yang besar. Setibanya mereka di pelataran yang landai di mana di hadapan mereka terbentang batu karang yang besar dengan sebuah tangga batu menuju ke atas, Ki Guntur Wisesa memberi aba-aba dengan sebelah tangannya yang diangkat ke atas. “Ya, kita berhenti sampai disini. Kita turun dan berjalan kaki ke atas sana.” Ki Guntur yang mengenakan pakaian serba putih melompat dari kuda dan menambatkannya pada salah satu pokok pohon yang ada di pinggir pelataran. Ki Singalodra juga melompat turun dari kudanya sambil masih menggendong Surya Mandriga. “Mari Kisanak, ikut aku,” ajak Ki Guntur Wisesa. Dia menghampiri Ki Singalodra dan menawarkan diri untuk membantu menggendongkan anaknya. Namun Ki Singalodra menolaknya. “Biar aku saja... Tolong tunjukkan saja jalannya.”

Kemudian Ki Guntur memerintahkan seorang anak buahnya berlari terlebih dahulu ke atas untuk memberitahukan kedatangan Ki Singalodra kepada Kanjeng Pangeran Diponegoro. Anak buah itu segera berlari ke atas. “Sekarang kita tunggu dulu disini, Kisanak...,” ujar Ki Guntur. Ki Singalodra menganggukkan kepala dan tetap berdiri dengan tegap di ujung bawah susunan bebatuan yang membentuk anak tangga menuju ke gua yang ada di atasnya. Tak lama kemudian, anak buah yang tadi ke atas tampak berlompatan menuruni anak tangga yang sama. Dia langsung melapor kepada Ki Guntur yang berdiri di sisi kanan Ki Singalodra. “Kanjeng Gusti Pangeran siap menerimanya....” Anak buah itu kemudian bergerak menggeserkan badannya ke samping, memberi jalan kepada Ki Guntur dan Ki Singalodra. Keduanya lalu berlompatan bagai Kijang Kencana menaiki tangga batu yang cukup curam. Hanya dengan beberapa kali hentakan loncatan, badan mereka sudah melambung ke atas dengan cepat. Keempat prajurit muda yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan takjub. Mereka segera menyusul kedua orang itu dengan berlari menaiki tangga. Setibanya di atas, Ki Singalodra tampak sedang diterima Pangeran Diponegoro. Ustadz Muhammad Taftayani, Pangeran Ngabehi Jayakusuma alias Pangeran Bei (Putera Sultan Hamengku Buwono II), Ki Guntur Wisesa, dan beberapa alim-ulama lainnya yang seluruhnya berpakaian putih-putih tampak mendampinginya. Semuanya menyandang senjata. Ada yang menyelipkan keris di pinggang, ada pula yang memegang pedang. Sebagaimana kawulo-alit yang bertemu dengan rajanya, sambil terus memeluk jasad anaknya, Ki Singalodra segera berlutut. Dengan kepala menunduk, lelaki dengan janggut dan cambang yang lebat ini berkata pelan, “Kanjeng Gusti Pangeran, hamba....” Belum selesai lelaki itu mengucapkan perkataannya, Pangeran Diponegoro yang mengenakan jubah serba putih lengkap dengan surban hijau lembut yang menutupi sebagian kepalanya menyapa dengan lembut, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh wahai Ki Singalodra... Semoga Allah Subhana wa ta’ala selalu melindungi, merahmati, dan memberkati Kisanak...” Badan Ki Singalodra menggigil mendengar suara yang sangat berwibawa itu. Entah mengapa, mendengar salam dari orang-orang berjubah itu dia merasakan satu getaran yang aneh di dalam dirinya. Getaran yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Ki Singalodra

tidak berani mengangkat wajahnya dari tanah. Dia tidak menjawab apa pun. Bibirnya yang juga bergetar bagaikan terkunci rapat. “Bangunlah saudaraku. Tidak perlu berlutut seperti itu. Kita adalah sama. Semua manusia itu sederajat. Yang membedakan di antara manusia bukanlah keturunan, pangkat, atau jabatan, melainkan ketakwaannya kepada Allah subhana wa ta’ala...,” ujar Diponegoro lagi. Lelaki dengan pakaian serba hitam itu perlahan bangun dan berdiri. Tangannya tetap memeluk jasad anaknya dengan erat. Ki Singalodra masih saja tidak berani menatap langsung wajah Diponegoro. Dia hanya melihat ke bawah. “Gerangan apa yang membuatmu ke sini Kisanak?” “Maafkan saya Kanjeng Gusti Pangeran... Saya ingin bergabung dengan Kanjeng Gusti Pangeran...” Diponegoro tersenyum. Ustadz Muhammad Taftayani yang berdiri di samping Diponegoro membisikkan sesuatu ke telinga anak didiknya itu, “Sebaiknya kita urus dahulu jenazah anak itu...” Pangeran Diponegoro mengangguk dan memanggil dua pengawalnya untuk mengurus jenazah anak dari Ki Singalodra itu. “Maafkan saya Kisanak. Sebaiknya jenazah anak Kisanak diurus terlebih dahulu dengan baik. Sebagai Muslim, kita wajib memperlakukan jenazah dengan layak. Serahkan saja pada kita...” Ki Singalodra segera menuruti perkataan Diponegoro. Dengan hati-hati dan berlinang airmata dia menyerahkan jenazah puteranya itu kepada dua orang pengawal yang segera menyambutnya. Setelah jenazah anak itu dibawa, Pangeran Diponegoro berkata kembali, “Nah, apakah seorang Ki Singalodra sungguh-sungguh ingin berjihad di sisi kami dalam menegakkan kalimah tauhid di tanah Jawa ini? Mengusir kaum kafir Belanda dari negeri ini?” Dengan mantap lelaki itu mengangguk, “Ya, Kanjeng Gusti Pangeran. Saya bersungguhsungguh.” “Apakah Kisanak mengetahui apa yang sedang kami perjuangkan disini?” “Melawan Belanda...?” “Itu betul. Namun tujuan kami lebih mulia dari itu semua. Belanda bukanlah musuh kami. Sebagaimana kami tidak memusuhi Danurejo dan orang-orangnya. Musuh kami adalah kekufuran dan kezaliman. Itu yang kami perangi. Kami tidak memerangi orang, tapi kami memerangi sistem yang melawan perintah Allah. Kami memerangi sistem thagut.”

“Thagut...?” “Ya. Sebelum bergabung dengan kami, sebaiknya Kisanak bisa memahami dengan benar apa yang harus diperjuangkan oleh kita semua, kaum Muslimin, di dalam hidupnya. Untuk itu, jika tidak keberatan, Kisanak terlebih dahulu akan mengikuti pengajian yang akan disampaikan Ki Guntur atau Ustadz Taftayani. Beliaulah yang akan menerangkan kepada kita semua tentang apa dan bagaimana seharusnya berperang di dalam Islam. Saya pun saat ini masih selalu belajar memperdalam ilmu agama. Mari kita sama-sama belajar mendalami ilmu, karena itu adalah perintah agama.” “Berperang di dalam Islam..?” “Ya. Itu benar, Kisanak. Jihad fi sabilillah namanya. Semuanya nanti akan diterangkan oleh ustadz-ustadz yang ada di sini. Dan satu lagi...” Ki Singalodra mengkerutkan dahinya. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan perang dalam Islam. Baginya perang adalah membunuh musuh sebanyakbanyaknya, mengalahkannya, hingga musuh takluk. Itu saja. Pangeran Diponegoro melanjutkan kalimatnya, “...semua yang ada disini harus memperbaharui akidahnya. Jika Kisanak bersedia, silakan mengikuti perkataan saya sekarang. Bagaimana?” Lelaki berewokan itu menganggukkan kepalanya, “Baik Kanjeng Gusti Pangeran, saya bersedia.” “Nah, sekarang ikuti perkataan saya...” Di depan gua yang gelap pekat tanpa penerangan obor, dengan perlahan namun jelas, Pangeran Diponegoro berjalan mendekati Ki Singalodra yang masih berdiri mematung. Tanpa ragu Diponegoro mengangkat kedua tangannya memegang kedua bahu lelaki itu. Kemudian dia mulai mengucapkan dua kalimah syahadah yang diikuti kata demi kata oleh Ki Singalodra. “Asyhadu ala Ilaha Ilallah... wa asyhadu alla Muhammad ar-Rasulullahu... Saya bersaksi, tiada tuhan yang patut disembah kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul utusan Allah...” Dengan terbata-bata, jagoan dari Dusun Ngampilan yang jika mendengar namanya saja orang kebanyakan bisa gemetar itu mengucapkan dua kalimah syahadat. Ki Singalodra cukup cerdas. Sekali saja Diponegoro menuntunnya, dia sudah bisa mengikutinya. Setelah selesai, semuanya mengucapkan syukur. “Alhamdulillahi Rabb al’Amien...”

Pangeran Diponegoro kemudian langsung memeluk Ki Singalodra dengan hangat. Bagai pelukan seorang kekasih yang lama tak berjumpa. Sama sekali tidak ada kecanggungan tampak di sana. Diponegoro, sang putera Sultan Hamengku Buwono III, dengan sangat akrab dan hangat memeluk erat seorang jagoan yang tangannya banyak berlumur darah orang lain. Hal ini langsung membuat hati Ki Singalodra luluh. Lelaki ini lumer dan menangis terisak. “Dosa-dosaku sudah banyak, Kanjeng Gusti Pangeran... Apakah ada cara untuk menebusnya agar nanti saya bisa berkumpul dengan anak dan isteriku di surga?” Pangeran Diponegoro masih memegang kedua bahu Ki Singalodra. Kedua matanya yang tajam tapi menyejukkan menatap langsung ke dalam mata lelaki itu. “Saudaraku, Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Semua dosa umat-Nya akan diampuni asalkan kita mau bersungguh-sungguh bertobat, terkecuali dosa syirik, yaitu dosa karena menyekutukan Allah dengan sesuatu. Dosa syirik adalah dosa yang tak terampuni.” “Bagaimana caranya agar saya bisa kembali berkumpul nanti dengan keluargaku di surga?” ulang Ki Singalodra. “Berjihadlah dengan ikhlas, semata-mata demi tegaknya tauhid. Li ila kalimatillah. Asal kita tidak berhutang pada orang lain, setiap orang yang menemui kematian di jalan jihad, syahid fi sabilillah, dijamin Allah langsung masuk surga...tanpa dihisab.” Kedua mata Ki Singalodra berbinar. Wajahnya menjadi cerah. “Terima kasih, Kanjeng Gusti Pangeran. Terima kasih. Saya akan berjihad disamping Paduka.” Ustadz Taftayani maju ke depan. Dia kemudian menyalami dan juga memeluk Ki Singalodra. Setelah itu salah seorang guru dari Pangeran Diponegoro ini berdiri dan memberikan sambutannya, “Dahulu ketika menghadapi kaum musyrikin Quraisy, Allah subhana wa ta’ala mengirimkan seorang Hamzah bin Abdul Muthalib, untuk memperkuat barisan kaum Muslimin. Hamzah adalah Singa Allah dan Rasul-Nya. Dialah yang menjadi pahlawan Perang Badr dan Uhud. Dan sekarang, Allah subhana wa ta’ala mengirimkan bagi kita seorang Ki Singalodra yang gagah berani. Insya Allah, dengan izin Allah, dengan bergabungnya Ki Singalodra, barisa kita akan bertambah kuat. Cahaya kemenangan semakin dekat. Saya yakin, Ki Singalodra adalah Hamzah yang dikirimkan Allah kepada kita.Allahu akbar!” “Amien ya Rabb! Allahu akbar!” teriak semua yang ada disitu.

Bab 2

ISLAM TIDAK PERNAH BERSEKUTU DENGAN Thagut, sebagaimana air yang tidak pernah bersatu dengan minyak, atau pun al-haq yang tidak akan pernah berdamai dengan kebathilan. Ustadz Muhammad Taftayani menegaskan salah satu prinsip Islam ini di dalam setiap pengajiannya. Seperti juga malam ini, digelar ‘taklim dadakan’ yang hanya diikuti tujuh orang anggota pasukan baru, yakni Ki Singalodra dan enam orang lainnya yang di antaranya para senopati terpilih yang sengaja dikirim oleh Raja Surakarta, Kanjeng Susuhunan Paku Buwono VI yang juga merupakan keponakan Diponegoro. Hal ini dilakukan Paku Buwono VI untuk membantu persiapan perjuangannya pamannya itu. [Kanjeng Susuhunan Paku Buwono VI lahir di Surakarta, 26 April 1807 dan meninggal dalam pembuangan Belanda di Ambon, pada tanggal 2 Juni 1849. Nama aslinya Raden Mas Sapardan. Beliau naik tahta dalam usia 16 tahun dan setahun kemudian, dalam usia 17 tahun, beliau telah menjadi pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro yang loyal walau terikat perjanjian dengan Belanda. Pakubuwana VI meninggal dunia di Ambon pada tanggal 2 Juni 1849. Menurut keterangan resmi Belanda, beliau meninggal karena kecelakaan saat berpesiar di laut. Di tahun 1957, jasad Pakubuwana VI dipindahkan dari Ambon ke Astana Imogiri, kompleks makam keluarga raja Mataram. Pada saat makamnya digali, ditemukan bukti bahwa tengkorak Pakubuwana VI berlubang di bagian dahi. Menurut analisis Jenderal TNI Pangeran Haryo Jatikusumo (putera Pakubuwana X), lubang tersebut seukuran peluru senapan Baker Riffle. Ditinjau dari letak lubang, kematian Pakubuwana VI jelas ditembak pada bagian dahi, bukan kecelakaan.] Selain sejumlah senopati pilihan, Susuhunan Paku Buwono VI juga mengirimkan pasukanpasukan kraton terlatih dan dana perang yang tidak sedikit. Di dalam gua dengan penerangan sebuah obor kecil di sudut belakang, terhalang tiga gundukan batu yang besar, Ustadz Taftayani duduk bersila di atas batu datar menghadap ke bagian pintu gua. Dari tempat bersilanya, ulama dari Minangkabau yang sudah menetap di Tegalredjo tersebut bisa melihat dua sosok prajurit yang berjaga di pintu masuk gua. Walau hanya duduk, tidak berdiri seperti layaknya orang yang tengah berjaga, namun mereka tetap waspada. Malam ini, setelah bergabungnya Ki Singalodra ke dalam barisan Mujahidin, beserta sejumlah orang baru, Ustadz Muhammad Taftayani segera menggelar pengajian yang bertujuan untuk menyamakan persepsi tentang perjuangan yang tengah dipersiapkan melawan kafir Belanda dan antek-anteknya. Semua anggota pasukan Diponegoro harus memiliki persepsi yang sama di dalam jihad fi sabilillah, sebab itu, setiap ada anggota baru yang bergabung, maka dia setidaknya harus melewati tiga tahapan penting: bertobat dan

memperbaharui syahadatnya, serta memiliki pemahaman yang lurus dan benar tentang makna jihad di Jalan Allah. Materi pertama malam ini adalah akidah atau Panji Syahadatain. Salah satu bagiannya mengupas tentang Thagut atau ‘tuhan yang lain’. Dengan suara yang pelan namun jelas, Ustadz Taftayani menerangkan, “...Thaghutmerupakan tuhan selain Allah subhana wa ta’ala. Segala pandangan hidup, keyakinan, hukum, norma, peraturan, tradisi, dan sebagainya yang tidak berasal dari hukum Allah, atau malah bertentangan dengan syariat dan akidah Allah, maka itulah Thagut... Apakah ada yang ingin bertanya?” Ki Singalodra mengacungkan tangannya, “Ustadz, apakah bea kerig-aji [Pajak atas kepala atau pajak yang dikenakan pada setiap orang, besar dan kecil tanpa perkecualian] juga bisa dianggap sebagai Thagut?” “Bea kerig aji, sama saja dengan bea pacumpleng[Pajak atas pintu rumah], bea pangawang-awang[Pajak atas pekarangan rumah], bea pajigar[Pajak atas hewan ternak], bea wikah-welit[Pajak atas kepemilikan lahan kebun atau sawah, walau luasnya hanya sedikit], bea pajongket[Pajak yang dikenakan bila hendak pindah rumah], bea bekti[Pajak jika seseorang bertukar tuan tanah atau majikan], bea jalan, bea pertunjukan[Pajak pertunjukkan resminya dikenakan pemerintah kepada warga desa jika ada pertunjukkan kesenian atau hiburan lainnya. Namun nyatanya, walau tidak pernah ada pertunjukkan hiburan, rakyat tetap diharuskan membayar jenis pajak ini], bea penimbangan[Pajak penimbangan padi dilakukan ketika panen. Tapi faktanya, seperti juga pajak pertunjukkan, padi-padi hasil panen para petani tidak pernah ditimbang, namun tetap dikenakan pajak. Bahkan banyak petani miskin diwajibkan kerja di lahan pertanian milik bupati tanpa dibayar sepeser pun], dan banyak lagi yang lainnya. Semua ini merupakan sebagian kecil dari banyak sekali jenis-jenis pajak yang dibebankan penjajah kafirin Belanda kepada rakyat kecil. Jika tidak salah, sekarang ini ada lebih dari 34 jenis pajak yang harus dibayarkan rakyat kepada pemerintah kafir Belanda. Berbagai pajak ini amat menyusahkan rakyat kecil yang memang hidupnya melarat. Kezaliman ini tentu bertentangan dengan Islam. Dan sistem kekuasaan seperti ini, dimana rakyatnya hidup susah, namun para pejabatnya hidup bermewahmewah, jelas merupakan sistem Thagut. Sistem ini harus diakhiri, dihancurkan, dan diganti dengan sistem yang adil....” “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” Tiba-tiba Pangeran Diponegoro sudah berada di dalam gua bergabung dengan mereka. “Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh...,” jawab Ustadz Taftayani dan seluruh yang hadir. Sang Pangeran kemudian duduk bersila di belakang Ki Singalodra. Ketika menyadari siapa yang duduk di belakangnya, lelaki brewokan itu segera bergeser untuk

memberi ruang kepada Diponegoro. Dia benar-benar tidak enak hati jika harus duduk membelakangi Kanjeng Pangeran. Tetapi Diponegoro dengan lembut malah menahannya. “Biarlah saya di sini saja. Kisanak tetap di situ...,” bisiknya sambil tersenyum. Ki Singalodra tidak bisa berbuat apa-apa selain tetap duduk pada tempatnya semula. Walau hatinya merasa teramat sungkan. “Pangeran,” ujar Taftayani. “... kita disini sedang membahas pajak danThagut. Apakah ada yang ingin ditambahkan?” “Apakah soal pajak di Tanah Jawa ini sudah disinggung, Ustadz?” “Sedikit. Silakan paparkan...” Diponegoro terdiam seperti tengah mencari sesuatu. Mungkin kalimat pembuka. Dia kemudian mulai berbicara. Suaranya terdengar halus, namun mengandung kekuatan. “Pajak awalnya diniatkan sebagai salah satu cara untuk mengisi pundi-pundi kas suatu negeri, agar negeri tersebut dapat mengelola dan membangun wilayahnya, termasuk rakyatnya...,” paparnya. Kemudian dia melanjutkan, “...Keberadaan pajak sangat penting, jika suatu negeri memang tidak punya sumber lain yang bisa dimanfaatkan, misalnya sumber daya atau kekayaan alam. Namun tidak di Tanah Jawa, tidak juga di Nusantara. Allahsubhana wa ta’ala telah menitipkan sebagian kekayaan yang ada di surga di tanah ini. Tanah ini sangat subur. Emas permata ada di mana-mana. Belum lagi kekayaan alam lainnya, baik yang ada di darat, laut, maupun udara. Kalau dikelola dengan baik, negeri ini bisa memakmurkan rakyatnya tanpa memungut pajak sedikit pun. Memungut pajak di negeri yang kaya seperti di Tanah Jawa ini adalah haram hukumnya...” Ki Singalodra dan keenam orang lainnya hanya tertegun mendengar kalimat yang disampaikan Pangeran Diponegoro. Sangat jelas dan tegas. “Lantas mengapa kafir Belanda memajaki rakyat kita seperti sekarang? Bahkan orangorangnya Patih Danuredjo juga memusuhi rakyatnya sendiri...” tanya Pangeran Diponegoro. Kemudian dia sendiri yang menjawabnya, “Karena kafir Belanda adalah penjajah bagi bangsa ini. Penjajah selalu melakukan perampokan terhadap bangsa yang dijajahnya. Baik perampokan yang dilakukan terang-terangan, juga perampokan yang dilakukan secara diamdiam, atau berkedok macam-macam, ya seperti pajak yang sekarang ada. Pajak sekarang ini sudah menjadi sumber bagi pejabat untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Para pejabat di negeri ini kian hari kian rakus dengan kelezatan dunia. Kegilaan mereka ini tidak pernah terpuaskan. Yang menjadi korban adalah rakyat kebanyakan...” “Apakah sebab itu kita harus memerangi mereka? Bagaimana berperang ataujihad fisabilillah itu?” tanya salah seorang senopati yang kemarin baru dikirim Paku Buwono VI.

Diponegoro menengokkan wajahnya ke arah Ustadz Taftayani. Namun ustadz itu malah mempersilakan Diponegoro untuk menanggapinya, “Silakan Pangeran...” “Perang di dalam Islam bersifat membebaskan,” jawab Diponegoro, “...sebab itu, jika suatu kota atau negeri telah ditaklukkan oleh kaum Muslimin, maka istilahnya bukanlah penaklukan, kalah, dan sebagainya, tetapi Futuh. Futuh berasal dari bahasa arab yang berarti ‘pembebasan’ atau ‘membebaskan’. Membebaskan dari apa? Yaitu membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allahsubhana wa ta’ala, baik itu ketundukan kepada hukum yang zalim, sistem yang salah, penguasa yang korup, dan sebagainya. Itulah esensi perang di dalam Islam, membebaskan manusia dari kebathilan dan kezaliman...” Mendengar itu, Ustadz Taftayani tersenyum puas. Dia benar-benar menyayangi murid yang satu ini. Ulama rendah hati dari tanah seberang ini tahu jika Pangeran Diponegoro, yang terlahir dengan nama Bendoro Raden Mas Mustahar, yang kemudian dikenal sebagai Bendoro Raden Mas Ontowiryo, pada 11 November 1785 di Kraton Yogyakarta ini memiliki banyak keistimewaan. Diponegoro[11] adalah anak tertua dari Sultan Hamengku Buwono III dan Raden Ayu Mangkarawati. Ketika melihat dan memangku bayi Diponegoro, Sultan Hamengku Buwono I haqul yaqin jika suatu hari nanti Diponegoro akan tumbuh menjadi pembebas rakyat dari kezaliman dan kesengsaraan. “Bayi ini akan menjadi orang yang memimpin perang besar untuk mengusir penjajah Belanda dari tanah Jawa. Dia akan menimbulkan kerusakan yang sangat besar pada kafir Belanda. Dia akan menjelma menjadi orang besar yang dicintai rakyatnya, melebihi diriku,” tegas Sultan Hamengku Buwono I yang juga kakek buyut dari Diponegoro. Sebab itu, Sultan secara khusus mengamanahkan agar bayi Diponegoro kelak diasuh dan dididik permaisurinya sendiri, Ratu Ageng. Nama asli Diponegoro adalah Bendoro Raden Mas (BRM) Mustahar. Lahir di keraton Jogyakarta, pada Jum'at Wage, 7 Muharram Tahun Be (11 November 1785). Tahun 1805, Sultan HB II mengganti namanya menjadi Bendoro Raden Mas (BRM) Ontowiryo. Adapun nama Diponegoro dan gelar Pangeran baru disandangnya sejak tahun 1812 ketika ayahnya naik takhta. Di masa itu, perempuan-perempuan dan laki-laki Jawa—termasuk di kalangan bangsawan kraton—lazim menikah di usia yang masih relatif sangat muda. Ketika Diponegoro dilahirkan, Raden Ayu Mangkarawati, sang ibu, masih berusia 14 tahun, dan ayahnya 16 tahun. Dan sudah menjadi kelaziman jika sang anak kemudian diasuh oleh nenek atau buyutnya. Hal ini merupakan tradisi leluhur agar sang anak mendapatkan pendidikan dan pengasuhan yang benar dari seseorang kerabat yang jauh lebih matang dan dewasa. Suatu konversi budaya yang saat ini sudah punah.

Bendoro Raden Mas Mustahar atau Bendoro Raden Mas Ontowiryo atau Pangeran Diponegoro dilahirkan 11 November 1785. Ayahnya, Raden Mas Surojo atau yang kemudian dikenal sebagai Hamengku Buwono III dilahirkan pada 20 Februari 1769. Sesuai amanah khusus dari Hamengku Buwono I, bayi Diponegoro diasuh oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng. Ratu Ageng dikenal sebagai seorang permaisuri yang sangat taat pada agama dan luas ilmunya. Sampai tahun 1792, ketika suaminya masih berkuasa, Ratu Ageng mengasuh Diponegoro di kraton dan kemudian meneruskannya di Puri Tegalredjo setelah suaminya wafat. Selain seorang pendidik, Ratu Ageng juga merupakan Panglima Bregada Langen Kesuma— kesatuan pasukan elit khusus perempuan pengawal raja, seperti hanya Trisat Kenya di zaman Amangkurat I—pada masa kekuasaan Mangkubumi. Bregada Langen Kesuma merupakan kesatuan khusus pengawal raja yang sangat tangguh. Walau semua anggotanya perempuan, namun pasukan berkuda ini dilengkapi dengan senjata api laras panjang dan pendek, pedang, keris, tombak, trisula, dwisula, dan lain sebagainya. Keterampilan mereka dalam olah senjata dan olah kanuragan jangan diragukan lagi. Ada sebuah kisah yang terjadi pada bulan Juli 1809. Ketika itu Marshall Hermann Wilhelm Daendels berkunjung ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam salah satu jamuan penyambutan, diperlihatkan atraksi dari Bregada Langen Kesuma dan dia terkagum-kagum melihat atraksi pasukan khusus perempuan ini. Sejarawan Carey mengatakan jika Langen Kesuma merupakan satu-satunya kesatuan militer pribumi yang mampu membuat Daendels berdecak kagum ketika melihatnya. Selain Daendels, J. Greeve bersama Residen Surakarta Hartsinch juga pernah menyaksikan Bregada Langen Kesuma ini. Mereka disambut dengan salvo senapan dan meriam yang dipergilirkan dengan amat sempurna. Markas dari kesatuan istimewa ini berada di Pesanggrahan Madyaketawang. Lapangan latihan menembak bagi pasukan ini berada di alun-alun Pungkuran, di selatan kraton. Serat Rerenggan Karaton, Pupuh XXII, Sinom, menyebutkan: “Sanggrahan Madya Ketawang, lamun miyos Sri Bupati, pratameng Langenkusuma, lir priya praboting jurit, tinonton saking tebih, saengga priya satuhu, samya munggeng turangga, myang yen gladhi neng praja di, angreh kuda neng ngalun-alun pungkuran.” Artinya lebih kurang sebagai: “Di Pesanggrahan Madyaketawang, dan datanglah Sri Bupati (maksudnya Sri Sultan) untuk menyaksikan mereka, seorang perempuan yang menjadi pemimpin pasukan Langen Kesuma, penampilannya mirip prajurit lelaki, dilihat dari jauh, tampak seperti prajurit laki-laki sungguhan, semua naik kuda, menuju tempat latihan di ibukota, yaitu di Alun-alun Pungkuran.”

Selain menempa pasukan khusus perempuannya dengan ilmu perang dan kanuragan, Ratu Ageng juga membekali mereka dengan ilmu agama sehingga pakaian pasukan ini terbilang sangat sopan, dengan tetap mengedepankan kebebasan gerak untuk berperang. Ratu Ageng sebagai pengasuh Pangeran Diponegoro adalah panglima pasukan khusus ini. Bukan hanya sebagai panglima, Ratu Ageng juga merupakan seorang permaisuri raja yang sangat peduli dengan nilai-nilai keislaman. Sebab itulah, selain menempa seorang Diponegoro dengan cara-cara seorang ksatria, Ratu Ageng juga membekali cicit kesayangannya ini dengan ilmu agama yang cukup dalam. Namun berbeda sikapnya dengan Diponegoro, terhadap anak kandungnya sendiri Ratu Ageng malah tidak akur. Ini disebabkan karena Raden Mas Sundoro dianggap tidak taat dalam menjalankan perintah agama, walau Raden Mas Sundoro sendiri dikenal sangat anti terhadap penjajah Belanda. Sebab itulah, ketika Hamengku Buwono I turun tahta dan digantikan oleh Raden Mas Sundoro yang kemudian dikenal sebagai Hamengku Buwono II di tahun 1792, Ratu Ageng memilih untuk keluar dari lingkungan kraton yang dianggapnya sudah cemar oleh tradisi kafir Belanda. Ratu Ageng lebih memilih tinggal di sebuah dusun terpencil yang kelak dikenal sebagai Tegalredjo, berjarak sekira tiga kilometer barat kraton. Diponegoro ikut diboyong keluar dari kraton dan tinggal di dusun di tengah-tengah rakyatnya sendiri. Dari Kraton, Puri Tegalredjo tepat berada di arah barat laut, arah yang dijadikan kiblat bagi umat Islam di Nusantara untuk sholat. Di dalam kompleks puri, Ratu Ageng juga membangun sebuah masjid di sebelah barat laut bangunan utama puri yang berupa pendopo utama. Karena dibesarkan dalam lingkungan kawulo alit atau rakyat kecil, maka dalam jiwa seorang Diponegoro tumbuh rasa kepedulian yang sangat besar kepada orang-orang kecil. Apalagi sejak kecil Diponegoro melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa seorang Ratu Ageng, permaisuri seorang raja, tidak merasa rendah ketika harus bergaul dengan kawulo alit. Bahkan Ratu Ageng ikut terjun langsung bercocok tanam di sawah dengan kaki dan tangan penuh lumpur. Ratu Ageng harus bekerja, karena dia harus menghidupi keluarganya sendiri disebabkan dia menolak bantuan keuangan dari kraton yang dianggapnya sudah dikotori oleh kemaksiatan dan kezaliman. “Akan jauh lebih mulia di hadapan Allah jika aku bekerja dengan tangan dan kakiku sendiri, ketimbang hidup dengan bertumpu pada uang kotor yang berasal dari memeras keringat dan darah rakyat!” tegasnya. Diponegoro juga melihat betapa Ratu Ageng sangat gandrung pada literatur-literatur keagamaan, sejarah, dan juga sastra, sehingga rumahnya yang sederhana di Tegalredjo bagaikan sebuah perpustakaan kecil. Sebaliknya, terhadap harta benda, Ratu Ageng tidak

memiliki minat yang besar. Dia hanya memiliki barang-barang primer yang memang dibutuhkan dalam rumah tangga seperti kebanyakan orang. Semua pengajaran yang diberikan Ratu Ageng dan para ulama yang dipanggil maupun yang didatangi langsung oleh Diponegoro muda menyebabkan Pangeran Diponegoro menjadi seorang pemuda yang bersahaya. Seluruh kehidupannya diusahakan dengan keras mengikuti teladan Rasulullah SAW. Dia sering menyamar sebagai orang kebanyakan, mengenakan ikat kepala dan kain wulung dan berbaju hitam. Diam-diam dia sering membaur bersama para santri di pondok-pondok pesantren di pedesaan dengan menggunakan nama samaranNgabdurakhim. Di saat samarannya hampir terbongkar, dia akan segera pindah ke pondok pesantren yang lain. Selain itu, Diponegoro juga senang mengembara, keluar masuk hutan, tinggal di gua-gua untuk menyendiri, dan menatap lamalama deburan ombak dan langit Laut Kidul. Pangeran Diponegoro tahu betul, kehidupan para pembesar kraton yang sebagian besar masih kerabatnya, kian hari malah kian jauh dari tuntunan agama. Para pejabat kraton yang notabene sudah memeluk Islam, semakin hari malah semakin mesra dengan kafir Belanda. Islam bagi mereka hanyalah identitas formal, sedangkan kelakuannya sudah tidak ada beda lagi dengan kelakuan kaum kafir Belanda yang menyukai dansa-dansi sampai pagi, minum-minuman keras, gila harta dan judi dengan taruhan gadis-gadis penari. Martabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang tadinya begitu tinggi dan mulia kini sudah cemar, dikotori kafir Belanda dan sebagian besar pembesar kraton sendiri yang sudah lupa dengan jatidirinya. Sebab itu, ketika Hamengku Buwono III, ayah kandungnya, hendak menobatkannya sebagai putera mahkota—walau Diponegoro bukan berasal dari permaisuri, namun selir—dengan tegas dia menolaknya. Ustadz Taftayani tahu, penolakan Diponegoro lebih disebabkan ketidaksukaannya terhadap campur tangan Belanda dalam kekuasaan kraton. Bahkan pengangkatan seorang raja pun harus disetujui Belanda dan Residen Belanda-lah yang melantik seorang raja. Diponegoro amat muak dengan semua ini. Itulah yang melatarbelakangi penolakannya untuk menjadi raja di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dengan penuh keikhlasan, dia menunjuk adiknya yang masih belia, Raden Mas Jarot, untuk menerima posisi sebagai putera mahkota. Dihadapan orang-orang terdekatnya, Diponegoro ketika itu mengatakan, “Rakhmanudin dan kau Akhmad, jadilah saksi saya, kalau-kalau saya lupa, tolong ingatkan pada saya, bahwa saya bertekad tidak mau dijadikan pangeran mahkota, walau pun seterusnya akan diangkat menjadi raja, seperti ayah atau nenenda. Saya sendiri tidak ingin itu terjadi. Cukuplah saya menjadi seperti apa yang ada sekarang, dekat dengan Gusti Allah dan rakyatku. Saya bertobat kepada Allah Yang Maha Besar. Hidup di dunia tiada akan lama dan saya tidak ingin hidup saya ini nantinya dikotori oleh kafir Belanda. Saya tidak ingin

hidup dengan menanggung dosa...”* Kalimat yang diucapkan Pangeran Diponegoro ini tertulis di dalam Babad Diponegoro jilid I hal.39-40] Bagi Diponegoro, kehidupan penuh glamor di dalam kraton sama sekali tidak menarik hatinya. Baginya kraton adalah tempat yang penuh dengan dosa, dan dia tidak mau ikut terkotori. Diponegoro lebih menyukai hidup dan berada di tempat yang sepi, untuk mencari kesejatian dan makna hidup, menggali ilmu agama, dan pengetahuan yang bermanfaat. Seorang Diponegoro lebih menyukai menjalin silaturahim dengan para alim-ulama dan rakyat biasa, ketimbang berdekat-dekatan dengan penguasa. Sejumlah ulama besar yang dekat dengan Diponegoro antara lain Kiai Muhammad Bahwi, penghulu utama kraton, lalu Haji Baharudin yang menjadi Komandan Pasukan Suronatan, Kiai Kasongan, Kiai Papringan, juga dengan Kiai Baderan ayah dari Kiai Mojo, dan lain-lain. Dan seorang Ustadz Muhammad Taftayani merasa bersyukur bisa menjadi salah satu guru bagi orang yang berhati mulia ini. “Ustadz... silakan lanjutkan paparannya. Saya hendak keluar dahulu,” ujar Pangeran Diponegoro membuyarkan semua ingatan Muhammad Taftayani tentang murid kesayangannya itu. Menurut laporan Residen Belanda tahun 1805, Ustadz Taftayani yang berasal dari Sumatera Barat itu mampu memberikan pengajaran dalam bahasa Jawa dan pernah mengirimkan anak-anaknya ke Surakarta, pusat pendidikan agama pada waktu itu. Di Surakarta, Taftayani menerjemahkan kitab fiqih Sirat Al-Mustaqim karya Nuruddin Ar Raniri ke dalam bahasa Jawa. Ini mengindikasikan, Pangeran Diponegoro belajar Islam dengan serius. (Dr. Kareel A. Steenbrink, 1984, “Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19”, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta hal. 29). “Astaghfirullah.. saya melamun. Silakan Pangeran. Dan karena hari sudah semakin malam, pengajian kali ini kita cukupkan sampai disini dahulu. Mudah-mudahan iman Islam yang kita miliki mampu untuk mengikat hati kita semua dalam perjuangan yang sebentar lagi akan mendatangi kita. Cepat atau lambat, semuanya akan diuji oleh perjuangan ini. Saya berdoa agar Allah subhana wa ta’ala nanti memasukkan dan mengumpulkan kita semua di dalam jannah-Nya. Amien ya Rabb. Apakah kisanak semua masih ada pertanyaan?” Ketujuh lelaki dewasa yang ada di hadapan Ustadz Taftayani saling berpandangan dan kemudian menggelengkan kepala. “Baiklah. Nanti kita akan berkumpul kembali dalam pengajian berikutnya. Untuk saat ini saya cukupkan. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab semuanya. Pengajian telah berakhir malam itu. Para prajurit ada yang beristirahat, ada pula yang bertugas jaga. Sedangkan dua senopati, sejumlah sesepuh, dan pimpinan pasukan lainnya bergabung di sebuah rumah yang cukup besar di bagian bawah Gua Selarong. Seperti yang

dilakukan setiap malam, semuanya akan mendengar pemaparan perkembangan terakhir situasi Yogyakarta dan juga kraton dari para telik sandi atau mata-mata yang dikirim ke berbagai tempat. Pangeran Diponegoro akan langsung memimpin pertemuan tersebut.

Bab 3

SUROMENGGOLO BERSAMA TIGA LELAKI LAINNYA sudah duduk bersila di ruangan agak besar berdinding bambu yang tidak dilabur dengan kapur, sehingga bilik-biliki bambu yang mengikat dengan saling-silang itu menampakkan keasliannya. Sebuah pelita kecil sengaja diikatkan di pokok bambu, tepat di bagian tengah atas ruangan. Keempat orang itu merupakan bagian dari pasukan telik sandi yang sengaja dikirim Diponegoro ke daerahdaerah musuh untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang berbagai hal. Di luar, suara hewan malam terdengar bersahut-sahutan. Sesekali di kejauhan, lenguhan monyet menimpali. Suaranya begitu memilukan, bagai meneriakkan nasib rakyat pribumi yang terus-menerus menderita di bawah kekejaman Belanda dan antek-anteknya. Suromenggolo sungguh-sungguh kagum dengan Susuhunan Paku Buwono IV. Keponakan dari Pangeran Diponegoro inilah—bersama Pangeran Mangkubumi[1]—yang menganjurkan agar pamannya memilih Gua Selarong sebagai basis perlawanan gerilya. Pangeran Mangkubumi merupakan anak dari Sultan Hamengku Buwono II atau yang lebih populer disebut sebagai Sultan Sepuh. Sultan Hamengku Buwono II ini sangat anti penjajah Belanda. Sikap ini diwariskan oleh Pangeran Mangkubumi. Pangeran Diponegoro sendiri lebih dekat kepada Sultan Sepuh ketimbang terhadap ayahnya sendiri, Sultan Hamengkubu Buwono III yang tidak begitu tegas, bahkan beberapa kali dengan jelas mendukung Belanda. Wilayah Selarong dengan beberapa guanya memang sangat strategis. Tempatnya berada di ketinggian sebuah bukit, dikelilingi hutan yang masih lebat walau tidak luas. Jalan dari dan menuju gua hanya satu dan itu pun kecil sehingga sulit dilalui kereta yang ditarik kuda. Walau berada di ketinggian, namun Gua Selarong yang berada di selatan Yogyakarta ini tak begitu jauh dengan dengan garis pantai Laut Kidul, tempat yang disukai Diponegoro untuk tafakur . Di bawah Gua Selarong terdapat perkampungan yang sudah ramai oleh rumah penduduk. Walau demikian, kontur daerah ini memang menjadikannya sangat cocok untuk dijadikan markas komando dalam kacamata militer. Setelah menyimak dan menimbang saran dari Paku Buwono VI, Pangeran Diponegoro akhirnya mengakui jika usul keponakannya tersebut memang tepat. Gua Selarong memang sebuah benteng alami yang cukup tangguh. Sebagai seseorang yang dididik dan dibesarkan panglima pasukan khusus pengawal raja, Pangeran Diponegoro tahu banyak soal strategi perang. Ratu Ageng tidak hanya memberinya pengetahuan keagamaan, tetapi juga membekalinya dengan dasar-dasar kepemimpinan dan kemiliteran, pengetahuan tentang taktik perang, penggunaan senjata, manajemen pasukan, dan lain sebagainya.

Sebab itulah, walau tidak dilakukan tiap malam, selepas pengajian dan di saat yang lain sudah beristirahat atau kembali berjaga di posnya masing-masing, Pangeran Diponegoro selalu mengadakan pertemuan terbatas dengan para telik sandi terpilih untuk memantau perkembangan di luar sana. Pangeran Diponegoro percaya dengan informasi yang disampaikan para telik sandinya. Di sisi lain, tanpa sepengetahuan para telik sandinya, Diponegoro juga membentuk unit kontra intelijen yang mengawasi dan mengecek semua informasi yang diterima dari bawahannya. Yang terakhir ini direkrut dari orang-orang yang sangat dipercayainya, walau pun jumlahnya tidak banyak. Ustadz Taftayani sendiri yang telah membaiat mereka dengan kitab suci alQur’an di atas kepala. Tiba-tiba pintu bilik yang bagian luarnya terbuat dari bambu bergerak terbuka. Deritnya terdengar pelan. Dari pintu yang terbuka tampak Ki Guntur Wisesa yang pertama memasuki ruangan, diikuti Pangeran Diponegoro, Ustadz Taftayani, Pangeran Bei, seorang pengawal khusus, dan kemudian barulah beberapa orang sesepuh dan para senopati. Salam pun ditebarkan, dijawab kembali dengan salam saling mendoakan kebaikan bagi semuanya. Mereka duduk melingkar di tengah ruangan, diterangi temaram satu-satunya pelita kecil yang diikat di atas dekat wuwungan. Tidak ada yang bersuara hingga Ustadz Taftayani membuka pertemuan. “Bagaimana laporanmu Suromenggolo?” bisiknya langsung ke pokok pertemuan. Lelaki yang disapa Suromenggolo mengangguk pelan. Murid sekaligus orang kepercayaan Kiai Mojo, ulama kharismatik dari Desa Mojo yang berada di utara Surakarta, ini tidak segera menjawab. Dia mengedarkan terlebih dahulu pandangannya ke sekeliling ruangan. Walau nyaris gelap, namun dia bisa merasakan jika seluruh pimpinan pasukan jihad fi sabilillah Kanjeng Gusti Pangeran berkumpul di sini. Setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, masih sambil duduk bersila, Suromenggolo membungkukkan badan dan mulai mengeluarkan suaranya. Terdengar seperti orang berbisik, namun bisa didengar dengan jelas. “Alhamdulillah. Semakin banyak ulama dan para pendekar yang menyatakan dengan tegas jika mereka akan bergabung dengan kita....” Pangeran Diponegoro dan semua yang ada di dalam ruangan tersebut juga mengucapkan hamdallah tanda syukur kepada Allah subhana wa ta’ala. Beberapa tahun lalu, Pengeran Diponegoro dan yang lainnya memang bergerak di segenap penjuru negeri untuk menggalang kekuatan untuk memerangi dan mengusir Belanda. Orang pertama yang dikunjungi Diponegoro adalah Kiai Abdani dan Kiai Anom di Bayat, Klaten. Kedua kiai ini tidak saja menyatakan dengan tegas kesanggupannya untuk bergabung namun juga memberi Diponegoro tambahan ilmu bela diri. Dari Bayat,

Diponegoro bersama Pangeran Mangkubumi melanjutkan perjalanan ke Sawit, Boyolali, untuk menemui Kiai Modjo, seorang Kiai kepercayaan Kanjeng Susuhunan Pakubuwono VI. Kiai Modjo pun mendukung penuh Pangeran Diponegoro. Lalu dengan diantar Kiai Modjo, Pangeran Diponegoro menemui Tumenggung Prawirodigdoyo di Gagatan. Tumenggung ini adalah orang kepercayaan Susuhunan Paku Buwono VI. Dan atas saran Kiai Modjo dan Tumenggung Gagatan inilah, Pangeran Diponegoro pun menemui Paku Buwono VI, keponakan Diponegoro sendiri. “Hampir semua ulama yang saya temui di sekitar Merapi, Dieng, Merbabu, Kulon Progo, dan lainnya, semua siap bergabung dengan Kanjeng Pangeran. Bukan saja para ulama, namun juga para pendekar dan jagoan-jagoan setempat. Mereka sudah muak dengan Belanda. Mereka hanya tinggal menunggu perintah dari Kanjeng Pangeran.” Ustadz Taftayani mengangguk-angguk. “Alhamdulillah, ini perkembangan yang baik. Namun ketahuilah, jika perang yang akan kita lakukan ini adalah perang sabil,Jihad fi sabilillah. Perang yang semata-mata bertujuan untuk meninggikan kalimat Allah dan menghapuskan segala kezaliman. Sebab itu, kita harus mengaktifkan pengajian-pengajian di seluruh negeri, agar semua yang nantinya bergabung dengan kita memahami apa tujuan dan hakikat perang ini. Bagaimana Pangeran?” “Insya Allah, saya juga berpendapat sama. Kita akan memetik kemenangan. Tidak ada sedikit pun rasa takut dan cemas menghadapi hari esok bagi orang-orang beriman. Kematian adalah kepastian. Dan hanya orang-orang beriman dan tawakal yang kematiannya akan benar-benar indah. Insya Allah, Ustadz, dan juga yang lainnya, para senopati dan para ulama, mulai besok kita akan menggencarkan pengajian kepada semua orang yang bersedia bergabung dalam kafilah tauhid ini.Insya Allah..,” ujar Diponegoro. “Lantas, bagaimana dengan Danuredjo, Kisanak?” tanya Ustadz Taftayani kembali kepada Suromenggolo. “Danurejo makin tak terkendali, Ustadz. Tadi pagi seorang ibu yang sedang hamil tua bersama dua orang anak kecil yang dibawanya dilarang lewat jembatan di Desa Jotawang, hanya karena uang yang dimiliki sang ibu tadi untuk bayar pajak jalannya kurang. Danurejo ada di sana. Dia tengah menginspeksi pos-pos jalan utama. Dia sendiri yang kemudian memerintahkan ibu itu dan anak-anaknya untuk menyeberangi Kali Code yang berbatu-batu yang ada di bawah jembatan. Akhirnya ibu dan anak-anaknya itu pun terpaksa menyeberangi kali. Dan celaka, mereka jatuh dan terbawa hanyut air kali yang deras. Tidak ada yang berani menolongnya karena Danurejo dan pasukannya melarang semua orang yang ada di situ untuk menolong mereka....” “Astaghfirullah al-adziem....,” desis semua yang ada di sana.

“Dasar anjing Belanda!” umpat Ki Singalodra geram. Giginya sampai terdengar bergemeletuk saking marahnya. “Teruskan Kisanak...,” ujar Ustadz Taftayani. Suromenggolo melanjutkan paparannya, “Danurejo juga telah memerintahkan dua orang kepercayaannya, Pangeran Murdaningrat dan Pangeran Ponular untuk menaikkan tarif pajak di beberapa ruas jalan yang makin ramai. Siapa saja yang tidak sanggup bayar, dilarang melintas di jalan itu...” Pangeran Diponegoro bergumam, “Murdaningrat dan Ponular, jahat benar mereka...” Suromenggolo mendengar gumamannya, “Ya, benar Kanjeng Gusti Pangeran. Mereka berdua telah benar-benar menjadi kaki tangan bagi Danurejo dan juga kafir Belanda. Bukankah mereka yang menggantikan Kanjeng Gusti Pangeran dan Pamanda Kanjeng Gusti Mangkubumi di dewan perwalian?” Diponegoro mengangguk. “Ya, mereka yang menggantikanku dan Paman Mangkubumi di Dewan Perwalian Kraton.” Ustadz Taftayani dan semua orang yang berkumpul di ruangan itu tahu benar jika sesungguhnya Dewan Perwalian Kraton hanyalah alat bagi kepentingan Belanda untuk menipu rakyat. Awalnya adalah ketika Sultan Hamengku Buwono III wafat pada tahun 1814. Saat itu Raden Mas Jarot, adik dari Pangeran Diponegoro, baru berusia sepuluh tahun. Rakyat menginginkan agar Diponegoro yang menjadi raja. Namun Diponegoro sejak awal menolak. Dan Belanda pun tidak menyukai Diponegoro yang tidak mau tunduk pada kepentingannya. Akhirnya Raden Mas Jarot pun naik tahta, menjadi Sultan Hamengku Buwono IV dalam usia belia. Belanda menunjuk Paku Alam I sebagai wali pemerintahannya. Pada tanggal 20 Januari 1820, ketika Hamengku Buwono IV sudah hampir berusia enambelas tahun, Paku Alam I meletakkan jabatan sebagai wali raja. Namun pemerintahan mandiri Hamengku Buwono IV hanya berjalan selama dua tahun, karena pada tanggal 6 Desember 1822 tengah hari, ketika baru saja sepulangnya dari tamasya, dia meninggal dunia. Sebab itulah Hamengku Buwono IV disebut juga sebagai Sultan Seda ing Pesiyar, Sultan yang meninggal dunia ketika tengah tamasya. Menurut keterangan Belanda, sakitlah yang menjadi sebab kematiannya. Namun banyak orang yang percaya, jika Belanda atau orang-orangnya telah meracuni Sultan. Belanda berbuat itu agar kekuasaan Patih Danuredjo IV bisa lebih besar.[1]Patih Danuredjo IV, yang berasal dari keluarga Danurejan yang memang sejak lama menjadi kaki tangan Belanda, kemudian menempatkan saudara-saudaranya menduduki jabatan-jabatan penting di kraton.

Peter Carey di dalam The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the end of an old order in Java 1785-1855 (2007) menulis, “...bagaimana dia wafat sangat mengerikan—tampaknya ia mendadak kena serangan penyakit ketika sedang makan—dan tubuhnya langsung membengkak, suatu pertanda menurut dugaan beberapa orang masa itu, bahwa dia telah diracuni... Kematian itu datang dengan tiba-tiba setelah Hamengku Buwono IV menerima nasi dan makanan Jawa dari Patih Danuredja IV.” Dengan meninggalnya Hamengku Buwono IV, maka otomatis, Raden Mas Gatot Menol, anaknya yang baru berusia tiga tahun akan naik tahta. Dengan adanya raja balita ini, maka Patih Danuredjo akan sangat leluasa untuk menguasai seluruh kraton. Dan kepentingan Belanda pun akan terjamin dalam waktu yang lama. Dan memang demikian adanya. Raden Mas Gatot Menol yang baru berusia tiga tahun pun diangkat menjadi Sultan Hamengku Buwono V. Untuk mendampingi raja kecil ini, Belanda bersama Patih Danuredjo IV membentuk Dewan Perwalian Kraton, yang terdiri dari orangorang terdekat dari sang raja. Dewan ini dibentuk salah satunya untuk menghilangkan kecurigaan rakyat banyak soal sebab kematian Hamengku Buwono IV. Dengan adanya Dewan Perwalian, maka Patih Danuredjo bisa berlindung di balik dewan ini atas semua tindak-tanduknya. Naiknya Raden Mas Gatot Menol menjadi Hamengku Buwono V dan dibentuknya Dewan Perwalian Kraton menimbulkan dilema tersendiri bagi seorang Pangeran Diponegoro. Dia sudah curiga jika Dewan Perwalian hanyalah hasil akal-akalan dari seorang Danuredjo. Karena keputusan final pemerintahan tetap berada di tangan Patih Danuredjo IV bersamasama dengan Residen Belanda. Namun jika dia tidak bergabung di dalamnya, maka kraton akan sepenuhnya dikuasai Danuredjo dan para penjilat kafir Belanda lainnya. Setelah bertafakur cukup lama di Parangkusumo, dengan mengucapkan Bismillah, maka Pangeran Diponegoro pun memilih untuk mau bergabung sebagai anggota Dewan Perwalian, bersama dengan Mangkubumi, pamannya yang sangat dihormati Diponegoro. Diponegoro berharap dengan bergabungnya dia dan Mangkubumi di dalam Dewan Perwalian Kraton, maka mereka bisa mewarnai kraton agar lebih memihak umat ketimbang memihak penguasa kafir Belanda. Namun kenyataan berkata lain. Hampir setiap hari rapat demi rapat berlangsung, memutuskan ini dan itu terkait kebijakan kraton terhadap berbagai macam masalah menyangkut rakyat banyak, namun segala keputusan Dewan Perwalian ternyata tidak berjalan sebagaimana mestinya. Semua kebijakan pemerintah ternyata tidak sejalan dengan hasil musyawarah atau rekomendasi dari Dewan Perwalian. Patih Danuredjo yang sangat licin dan mahir berbicara ini. bahkan dengan menyitir banyak ayat Qur’an, hadits, dan juga siroh Rasul, selalu menelikung semua keputusan Dewan ini. Sehingga keberadaan Dewan seolah tidak ada artinya, kecuali hanya sebagai panggung sandiwara. Danuredjo bisa dengan mudah dan leluasa memutuskan segala hal walau itu bertentangan dengan hasil

musyawarah Dewan Perwalian Kraton. Patih Danuredjo lebih berkuasa ketimbang Dewan Perwalian itu sendiri. Dewan yang berfungsi sebagaimana layaknya Dewan Syuro ini tidak memiliki kekuatan apa-apa jika Danuredjo berkehendak lain. Semua ini membuat Pangeran Diponegoro bertambah muak. Maka dengan tegas, Diponegoro—bersama Mangkubumi—menyatakan keluar dari dewan ini dan bersama-sama umat berjuang dari luar lingkaran kekuasaan yang bertambah korup. Danuredjo sendiri mengiming-imingi kedudukan dan uang yang banyak kepada Diponegoro, namun Sang Pangeran tidak goyah dan tetap memilih berjuang dari luar tembok kraton sepenuhnya. Dengan tetap mengecilkan volume suara, Suromenggolo melaporkan semua informasi yang diterimanya di lapangan, baik berkenaan dengan pergerakan pasukan Belanda dan antekanteknya, juga kebijakan baru yang diambil oleh Patih Danuredjo yang kian menyusahkan rakyat. Di akhir laporannya, Suromenggolo dan kedua rekan anggota pasukan telik sandi-nya bersepakat jika perkembangan di luar semakin panas dan bukan tidak mungkin Belanda dan Danuredjo akan mengambil suatu langkah untuk memprovokasi Pangeran Diponegoro untuk memulai perang. “Maaf Kanjeng Pangeran..,” ujar Suromenggolo. “...saat ini Kanjeng Pangeran dan semua yang ada di sini harap lebih waspada dan hati-hati. Dari berbagai informasi yang kami dapatkan di lapangan, kami yakin jika Belanda dan Patih Danuredjo tengah menyusun siasat agar kita semua terpancing . Mereka ingin kita melawan mereka secara terbuka terlebih dahulu. Semua ini agar mereka memiliki alasan untuk menangkap dan membunuh kita semua di sini...”

Bab 4

Pertengahan Juli 1825 MALAM TELAH TURUN MENYELIMUTI LANGIT Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Di aula kraton, musik Ratu Wilhelmina terdengar mendayu-dayu dari piringan hitam yang diputar. Gelak tawa para pembesar Belanda dan para pejabat kraton yang tengah dimabuk whisky dan Brandy dalam pesta jamuan makan malam yang mewah terdengar kencang. Diseling cekikikan genit para Noni Belanda dan perempuan-perempuan muda yang didatangkan orang-orangnya Patih Danuredjo entah dari mana. Di salah satu ruangan utama kraton, Patih Dalem Danuredjo IV tampak duduk semeja dengan Anthonie Hendriks Smissaert, Residen Yogyakarta. Penggila pesta dan minuman keras itu, dan tentu saja juga wanita, merupakan Residen Belanda ke-18 untuk Yogyakarta. Sejak bertugas tahun 1823, hampir tiap pekan Smissaert menggelar pesta dansa-dansi dan minuman keras dengan mengundang koleganya, termasuk para pembesar kraton seperti halnya Patih Danuredjo IV dan sebagian pangeran serta pejabat lainnya. Di hadapan meja yang dipenuhi abu cerutu dan beberapa botol Whisky yang sudah berkurang isinya, Patih Danuredjo tengah berembug dengan residen itu untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya yang makin lama makin mencemaskan mereka. Dari para mata-mata yang disebar Belanda dan juga kraton, mereka mendapatkan keterangan jika kian hari kian banyak saja orang yang bergabung dengan Diponegoro. Apalagi di Puri Tegalredjo, tempat kediaman Diponegoro dan Ratu Ageng, sudah lama tercium adanya pelatihan-pelatihan ilmu bela diri bagi pribumi yang dipimpin oleh sejumlah ulama pendekar dan para jagoan yang menyatakan setia kepada Diponegoro. Pelatihan itu tidak saja dilakukan dengan tangan kosong, namun juga menggunakan berbagai macam senjata. “Patih, Kowe musti bisa bikin cara supaya Diponegoro itu bisa segera ditangkap!” Patih Danuredjo tersenyum. Dengan suaranya yang lembut dan kalimat yang teratur rapi, dia menjawab, “Insya Allah, Tuan Residen tenang saja. Saya dan anak buah saya sedang mencari jalan supaya dia bisa sesegera mungkin ditangkap.” “Kapan? Kowe tidak bisa berlama-lama begitu! Apa mau tunggu sampai pengikutnya banyak? Jadi susah kita nantinya!” sergah Smissaert sambil menenggak sebotol Whisky dari botolnya langsung. Jakunnya yang besar terlihat bergerak naik turun di lehernya. Dia kemudian menopangkan sebelah kakinya yang pendek naik di atas meja ke atas kaki yang lain. Tapak sepatu lars Smissaert kini menghadap lurus ke wajah Danuredjo. Patih Danuredjo benar-benar direndahkan olehnya. Tapi patih itu hanya berdiam diri sambil tetap tersenyum, walau hatinya serasa panas diperlakukan seperti itu.

Melihat Danuredjo yang belum juga menjawab pertanyaannya, dengan tidak sabaran lelaki kecil berwajah bulat dengan rambut tipis berwarna putih keperakan dan bermata biru itu berkata, “Aah, jangan-jangan kowe berkomplot dengan Diponegoro hah!” Danuredjo yang ikut minum Whisky, hanya saja dia meminumnya dari sloki, tersedak. Airnya sampai tumpah membasahi pakaiannya. “Tidak, bukan begitu, Tuan. Tuan salah besar jika sampai menduga hal itu. Saya sebenarnya sejak beberapa hari lalu berpikir jika kita sebenarnya punya cara yang bagus untuk menangkap Diponegoro itu...” “Kenapa kowe dari tadi diam saja?” ketus Smissaert dengan sinis. Bekas Residen Rembang yang ditunjuk Gubernur Jenderal Van Der Capellen pada 3 Januari 1823 menjadi Residen Yogyakarta ini, walau bertubuh kecil dan kikuk, namun sikapnya sangat percaya diri. “Saya baru mau cerita, Tuan...” “Ya, cepatlah cerita!” Danuredjo membetulkan posisi duduknya. Kini punggungnya ditegakkan tanpa bersandar ke bagian sandaran kursi rotan yang tinggi. Setelah terbatuk-batuk kecil sebentar dia mulai memaparkan rencana bulusnya. “Tuan Residen, Tuan pasti tahu proyek jalan lurus dari Yogyakarta ke Magelang yang sedang kita kerjakan bukan?” Smissaert mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, ya, saya tentu tahu. Ada apa dengan proyek itu?” Wajah Danuredjo mendadak cerah. Dia memang selalu begitu jika sedang merencanakan sesuatu. Raut wajahnya yang sedemikian licik mengingatkan Smissaert pada salah satu tokoh penasehat Kurawa dalam epik Bharata Yudha yang pernah dibacanya semasa masih kecil di Bataaf, kampung kelahirannya. Ya, orang ini mirip sekali dengan Patih Sasngkuni! “Tuan Residen, bagaimana jika jalan yang tadinya dibuat lurus itu, melewati Muntilan, dibelokkan sedikit ke barat, melewati Tegalredjo. Jalan itu kita buat sengaja menerabas tanah makam leluhur Diponegoro dan juga kebun miliknya. Kita tancapkan saja patok-patok proyek jalan di sana. Jika kita melakukan itu, Diponegoro pasti akan marah....” Residen Smissaert menurunkan kedua kakinya dari atas meja. Wajahnya ikutan cerah. Kedua matanya yang biru terlihat berbinar-binar. “Ha! Ini baru namanya Patih Danuredjo! Tak sia-sia Belanda punya orang seperti kowe! Ayo, ayo, teruskan ceritamu!”

Disanjung demikian, Danuredjo tersenyum lebar. Dengan sikap yang dibuat-buat dia merendahkan diri dengan mengatakan jika dirinya biasa saja dan hanya bekerja semaksimal mungkin demi kemuliaan ratu Belanda. “Tuan pasti sudah bisa menebak kemana arahnya. Kalau Diponegoro marah, dia pasti akan mengirim utusannya kesini untuk mengajukan protes. Kita acuhkan saja protesnya dan tetap mematoki tanah itu untuk dibuat jalan. Bahkan kita kirim saja para kuli ke Tegalredjo dan mulai mengerjakan proyek ini. Diponegoro pasti akan marah besar. Dia akan kehilangan akal sehatnya. Bisa jadi dia akan menyerang kuli-kuli kita itu. Atau bisa jadi pula dia akan menyerang langsung kita di sini. Kalau itu sampai terjadi, kita tinggal menangkapnya. Kita katakan saja jika Diponegoro mau memberontak terhadap pemerintah. Bukankah itu mudah?” Smissaert tersenyum lebar, kedua matanya yang besar menyipit, “Ha..ha..ha.. betul. Betul itu. Nah, belokan saja jalan itu menuju tanah leluhurnya Diponegoro!” “Kapan rencana kita bisa dilaksanakan, Tuan?” “Secepatnya. Malam ini saja. Biar kita bisa cepat menangkap orang itu!” “Baik, Tuan!” Patih Danuredjo kemudian berdiri dari tempat duduknya. “Sebentar, Tuan. Saya akan panggil orang proyek jalan itu sekarang.” “Ya, kowe harus bergerak cepat!” Danuredjo membungkuk takzim pada Smissaert, kemudian dia keluar ruangan diiringi pandangan puas dari Smissaert. Dengan langkah agak limbung karena pengaruh minuman keras, Danuredjo pergi memanggil salah seorang anak buahnya yang sudah duduk menunggu di teras dekat dengan ruangan pertemuannya dengan Tuan Residen. Agaknya Danuredjo sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Melihat Patih Danuredjo datang, lelaki yang duduk menunggu itu segera bangkit dan menyongsong tuannya. “Joko!” panggil Danuredjo dari pintu ruangan. “Dalem, Kanjeng Patih!” ujar lelaki yang dipanggil Joko seraya bergegas menghampiri Danuredjo sambil terbungkuk-bungkuk. Lelaki itu berhenti tepat dua meter di hadapan Danuredjo dengan sikap tubuh masih sedikit membungkuk dengan kedua tangannya ditangkupkan ke bawah perut. “Tuan Residen sudah setuju dengan rencana kita. Bagaimana kalau malam ini juga rencana itu dilakukan?” “Inggih, Kanjeng Patih. Saya siap...”

“Bagus. Kerjakan segera dan lapor setiap perkembangan yang ada padaku.” “Inggih, Kanjeng Patih. Perintah segera saya laksanakan.” Patih Danuredjo segera kembali ke dalam ruangan di mana Smissaert tengah asyik menenggak whisky-nya. Dia segera bergabung dengan orang Belanda nomor satu di Yogyakarta tersebut dan tenggelam dalam pesta minuman keras. “Patih..., kowe sudah panggil itu Sari?” tanya Smissaert menyebut salah satu penari kraton dari Pacitan yang terkenal kecantikannya. Smissaert agaknya jatuh hati pada gadis yang usianya belum genap delapanbelas tahun itu. Danuredjo tersenyum lebar penuh arti ketika Smissaert menanyakan Sari. “Pasti, Tuan. Semuanya sudah saya siapkan, termasuk Sari.” “Bagus, bagus. Tolong untuk perempuan itu kowe jangan suruh menari lama-lama. Nanti diakecapekan. Aku tidak mau kalau dia nanti cepat capek. Untukmu sendiri pasti sudah juga kan?” Danuredjo tertawa keras sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Smissaert juga ikut tertawa. “Sriayu lagi...?” goda Smissaert. Patih itu menggelengkan kepalanya, “Untuk malam ini yang lain saja. Bosan kalau makan sayur asem terus, biar malam ini saya makan sayur lodeh...” Smissaert sekarang yang tertawa keras. Danuredjo pun demikian. Keduanya memang penggila perempuan. Bahkan di dalam urusan keputusan pengadilan pun, Patih Danuredjo akan memenangkan pihak yang memberikan hadiah berupa perempuan muda dan cantik kepadanya. Hanya Wakil Residen Chevallier yang mampu menandingi mereka dalam urusan perempuan. Wakil Smissaert ini memiliki banyak kisah asmara, termasuk dengan puteriputeri kraton. Di luar ruangan, musik Ratu Wihelmina masih mengalun dari phonograph, alat pemutar piringan hitam dengan corong besar berwarna hitam. Botol minuman keras berserakan di mana-mana. Laki-laki dan perempuan masih berpelukan di lantai mengikut alunan suara musik. Yang lain duduk rapat menikmati Whisky sambil tertawa cekikikan. Aula kraton malam itu tak ubahnya seperti bar atau rumah bordil. Aroma alkohol menyeruak sampai menembus ke luar dinding tebal kraton.

Bab 5

Puri Tegalredjo, 04.50 wib ADZAN SUBUH BERKUMANDANG MEMENUHI ANGKASA pagi. Suaranya terdengar mendayu-dayu diteriakkan dari berbagai mushola dan masjid, besar dan kecil, yang tersebar di seantero dusun di lembah dan gunung di kaki Merapi. Ayam jantan pun berkokok bersahut-sahutan. Masjid yang berada di pojok barat laut kompleks Puri Tegalredjo masih sunyi. Sejumlah lampu teplok yang biasanya menyala saat waktu Maghrib dan Isya, juga saat-saat pengajian diadakan, juga sudah padam. Di dalam masjid yang belum sepenuhnya rampung dibangun ini, walau sudah difungsikan sebagaimana masjid lainnya, sesosok lelaki berjubah putih dengan surban hijau pupus tengah asyik terpekur dalam zikirnya. Dia benar-benar menikmati suasana dini hari yang hening sendirian. Baginya malam adalah waktu yang tepat untuk berdialog dengan Sang Maha. Malam adalah selimut bagi jiwa-jiwa yang sepi. Dan malam adalah wahana untuk mengantarkan ruhani yang dahaga akan keabadian. Suara derit pintu masjid berbunyi pelan. Seorang anak muda dengan jubah dan songkok putih melangkahkan kakinya masuk ke dalam masjid. Dia lalu berdiri tidak jauh dari lelaki itu yang masih saja asyik dengan zikirnya. Anak muda itu kemudian bertakbir dan mulai menunaikan sholat tahiyatul masjid, dua rakaat. Lelaki yang duduk bersila pun menghentikan zikirnya. Dia ikut berdiri, kemudian melaksanakan sholat sunnah dua rakaat. Tak lama kemudian, beberapa orang lelaki berpakaian putih-putih tampak mendatangi masjid. Mereka adalah warga sekitar Puri Tegalredjo yang sering ikut pengajian pekanan. Tak sampai lima menit masjid kecil itu sudah dipenuhi jamaah sholat subuh yang nyaris seluruhnya mengenakan baju wulung atau jubah putih. Lelaki yang tadi berzikir dan menunaikan sholat sunnah dua rakaat kemudian berdiri paling depan di mihrab imam. Dia mempersilakan anak muda yang tadi bersamanya untuk segera mengumandangkan iqamah. Dengan suara yang elok, tidak terlalu keras dan juga tidak pelan, anak muda tadi menangkupkan tangan ke sebelah telinganya dan mulai meneriakkan iqamah, tanda sholat subuh berjamaah akan segera didirikan. Selesai iqamah, lelaki yang berdiri di mihrab untuk sesaat berdiam diri. Lalu dia mengangkat kedua tangannya sebatas telinga. Dengan penuh kekhusyukkan dia mengucapkan takbir, “Allahu Akbar!” Semua yang ada di belakangnya serentak mengikuti takbir sang imam. Pada rakaat pertama, Pangeran Diponegoro yang menjadi imam sholat membaca surat AlIkhlas. Surat ini merupakan surat ke-112, termasuk surat al-Makiyah. Surat Al-Ikhlas berisi

tentang kemurnian tauhid. Pangeran Diponegoro selalu mengawali sholat subuh dengan membaca surat ini. Seorang Muslim wajib memulai hari dengan tauhid yang benar agar semua ibadah di hari itu mendapatkan keridhaan Allah subhana wa ta’ala. Itu salah satu prinsip Pangeran Diponegoro. Di rakaat kedua, Diponegoro membaca surat At-Takaatsur yang merupakan surat ke-102 yang menceritakan soal tabiat manusia kebanyakan yang sering lalai disebabkan kecintaannya pada kemegahan dan kelezatan dunia yang sesungguhnya menipu. Dengan suara yang lembut dan merdu, Diponegoro membaca delapan ayat surat tersebut. Banyak dari jamaahnya yang terisak menangis mendengar suara Sang Pangeran yang begitu menyayat hati. “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, Sampai kamu masuk ke liang kubur, Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui, Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui, Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, Niscaya kamu akan sungguh-sungguh menyaksikan neraka jahim, Dan sesungguhnya kamu akan sungguh-sungguh akan melihatnya dengan yakin seyakinyakinnya, Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu banggabanggakan di dunia itu)...” Usai sholat, seperti biasanya, Pangeran Diponegoro mengisi tausiyah (nasihat) subuh yang berisi soal penguatan akidah dan sebagainya. Dia juga tak segan-segan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan warga desa. Pagi ini, Diponegoro memberikan tausiyah soal “Islam dan Negara”. “...di dalam sirohnya (sejarah), Rasulullah shallallahu wa allaihi wa salam memang tidak secara eksplisit menyebut istilah Negara Islam. Inilah yang dijadikan senjata oleh orangorang kafir dan para pengikutnya yang menyatakan jika tidak pernah ada Negara Islam di dunia ini, hatta di zaman Rasulullah hidup atau di masa kekuasaan para sahabiyah pun tidak. Semua ini salah kaprah. Sebagai agama yang kaffah syumuliyah, lengkap dan melengkapi, Islam mengatur manusia dalam semua sisi kehidupan, pribadi maupun sosial. Nah, sekarang apakah yang disebut suatu negara itu? Ada yang tahu?” Diponegoro menatap semua jamaahnya yang duduk bersila menghadap dirinya. Seorang anak muda jebolan sekolah madrasah di Surakarta mengangkat tangannya.

“Ya, silakan jawab anak muda...” “Maaf Kanjeng Pangeran. Setahu saya, yang dimaksudkan dengan istilah negara adalah kumpulan manusia yang berdiam di suatu tempat, memiliki aturan atau hukum yang disepakati semuanya. Maafkan saya kalau salah...” Diponegoro tersenyum bangga, “Kisanak tidak salah. Jawaban Kisanakbetul. Nah, jika kita semua, umat Islam, berkumpul di suatu tempat, di suatu wilayah yang kita miliki, dan di wilayah itu kita dengan kesadaran sendiri menerapkan hukum-hukum Islam, hukum-hukum tauhid, maka itu sudah bisa disebut sebagai Negara Islam. Walau wilayah yang kita diami atau miliki itu tidak luas. Inilah Daulah Islamiyah.” Semua yang hadir di masjid itu mengangguk-anggukan kepalanya. “Ada lagi yang ingin bertanya?” Seorang lelaki tua mengangkat tangan. “Ya, silakan Pak,” ujar Diponegoro. “Dalem, Kanjeng Pangeran. Saya mau tanya bagaimana jika... apa itu...Daulah Islamiyah itu... belum ada... Apa yang harus kita lakukan?” “Matur nuwun bapak... Iya, Daulah Islamiyah namanya. Atau Negara Islam. Jika Daulah Islamiyah belum tercipta seperti yang kita inginkan bersama, maka mulailah dengan menegakkan Daulah Islamiyah itu di dalam dada kita. Setelah itu tegakkanlah Daulah Islamiyah itu di dalam keluarga kita, rumah tangga kita. Lalu setelah itu sebarkanlah dengan damai, menyebar ke tetangga kita, dusun kita, kampung, desa, dan terus menyebar dan meluas. Dengan sendirinya akan tercipta suatu Daulah Islamiyah itu, walau mungkin tidak menamakan diri sebagai Negara Islam.” “Maaf, Kanjeng Pangeran, bagaimana jika kita hidup seperti sekarang, dimana kaum kafir yang berkuasa dan dengan kekuatan senjata pula. Dan bagaimana dengan orang-orang Islam sendiri yang malah bersekutu dengan kafir Belanda itu?” “Sekarang ini kita hidup di bawah paksaan hukum thagut. Thagut adalah hukum, sistem kekuasaan, atau penguasa, yang aturan atau tindak-tanduknya bertentangan dengan kalimat tauhid, bertentangan dengan perintah dan larangan Allah subhana wa ta’ala. Thagut adalah musuh Allah. Thagut adalah sekutu iblis. Sebab itu, orang yang Islamnya benar, maka dia wajib memusuhi dan memerangi thagut sebagaimana dia juga wajib memerangi iblis, dan bukan malah bersekutu dengannya dengan alasan atau dalih apa pun. Orang Islam yang bersekutu denganthagut adalah orang yang mengkhianati perjanjiannya dengan Allah subhana wa ta’ala. Pasti ada balasan dari Allah terhadap orangorang seperti itu. Apakah sudah jelas sampai bagian ini..?” Para jamaah menganggukkan kepalanya.

“Nah...,” lanjut Diponegoro, “...bagaimana dengan kita sekarang? Apa yang harus kita lakukan sekarang ini? Jawabannya adalah: Pertama, kita harus paham terhadap Islam yang benar, yanghaq, yang sesuai dengan al-Qur’an dan hadits yang shahih, bukan hadits palsu. Kita tegakkan Islam itu di dalam dada kita. Biarlah Islam menjadi satu-satunya hukum yang mengatur kehidupan kita dan keluarga kita. Kedua, tancapkan kuat-kuat cita-cita untuk bisa hidup di dalam kedamaian Daulah Islamiyah. Ketiga, untuk menggapai cita-cita itu, maka thagut dan seluruh pengikutnya harus kita perangi, kita lawan, dan kita hancurkan. Bukan malah bersekutu atau menjadi perpanjangan tangan dari thagut itu. Seperti halnya perang yang akan kita lakukan di hari-hari ke depannya melawan kafir Belanda, maka bukan orang Belanda-nya yang kita musuhi, namun sistemthagut-nya yang kita perangi. Yang akan kita lakukan adalah perang sabil, perang di jalan Allah atau jihad fi sabilillah. Semua yang berjihad di jalan Allah tidak akan rugi. Jika kita mati maka pintu surga telah menanti, dan jika kita menang, maka kita akan hidup bahagia di dalam suatu negara yang penuh dengan kedamaian dan kemakmuran...” “Tapi kafir Belanda pasti tidak akan menyerah...” “Benar itu. Allah subhana wa ta’ala sendiri di dalam surat al-Baqarah ayat 120 berfirman, “Wa lan tardho ankal Yahudu wa Nasharo, hatta tata bi’an milatahum...”yang artinya, “Tidak akan pernah rela, tidak akan pernah sudi, tidak akan pernah mau, orangorang Yahudi dan Nasrani kepada kalian wahai umat Islam, hingga kalian semua akan tunduk mengikuti, mematuhi, dan melaksanakan keyakinan mereka. Kaum penjajah kafir tidak akan pernah mau pergi dengan sukarela dari tanah Islam ini. Sebab itu kita harus menghimpun segenap kekuatan untuk memerangi dan mengusir mereka dari tanah kita sendiri. Tanah Yogyakarta, Tanah Jawa, adalah tanah milik kita yang diwariskan nenek moyang kita. Bukan tanah mereka. Tanah mereka ada di seberang samudera, nun jauh di Eropa sana. Sebab itu kita wajib mengembalikan mereka ke tanah mereka, ke kampung halaman mereka. Ini perang untuk menegakkan keadilan. Nanti setelah mereka kembali ke negerinya, maka kita akan bisa menciptakan satu negeri yang berkeadilan bagi semua rakyatnya berdasarkan tauhid. Inilah hakikat dari Daulah Islamiyah...” Tiba-tiba dari arah alun-alun depan terlihat seorang pemuda berlari mendekati masjid sambil berteriak-teriak, “Kanjeng Gusti Pangeran! Kanjeng Gusti Pangeran..!” Pangeran Diponegoro dan seluruh jamaah masjid langsung melihat pemuda itu. Diponegoro mengenalinya sebagai salah seorang anggota pasukan Laskar Ki Joyosuto yang berasal dari Winongo. Diponegoro bertanya, “Ada apa Kisanak berlari-lari seperti itu?” “Kanjeng Pangeran! Mereka mematoki tanah makam!”

“Ambil nafas dan hembuskan pelan-pelan. Tenangkan dirimu dulu. Jika sudah tenang, ceritakan dengan jelas...” Pemuda itu menuruti apa yang dikatakan Pangeran Diponegoro. Setelah menenangkan diri, walau nafasnya masih tersengal-sengal, dia mulai bercerita, “Tanah makam leluhur dan kebun Kanjeng Pangeran dipatoki Belanda. Mereka ingin membuat jalan dengan menerabas tanah itu Kanjeng Pangeran...” Wajah Diponegoro seketika berubah menjadi kencang. Lelaki yang biasanya lemah lembut itu tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. “Pasti ini kerjaan Danuredjo!” desisnya. “Apa yang harus kami lakukan Kanjeng Pangeran?” ujar salah seorang pemuda yang lain. “Berikan perintah kepada kami Kanjeng Pangeran, kami sudah siap bergerak!” pekik yang lain. Suasana mendadak gaduh. Bahkan ada yang bertakbir. Pangeran Diponegoro segera mengangkat kedua tangannya ke atas, berusaha untuk menenangkan semua pengikutnya. “Saudara-saudara, tenang! Harap tenang! Pengajian pagi ini kita sudahi dulu. Sekarang, dengan barisan teratur dan tetap tenang, kita akan bersama-sama menuju ke tanah makam. Kita akan lihat langsung apa yang diperbuat kafir Belanda itu kepada leluhur kita, orangtuaorangtua kita. Saya sendiri akan berangkat memimpin barisan ini!” Seorang pemuda segera keluar dari masjid dan berlari mengambil Kiai Gentayu—nama dari kuda hitam dengan warna putih di ujung keempat kakinya—beserta Kiai Ompyang, sebuah nama keris dengan 21 lekukan yang berasal dari Demak, dan menyerahkannya kepada Pangeran Diponegoro. Setelah mengambil keris dan menyelipkan di pinggang, dengan tangkas Sang Pangeran melompat naik ke atas Kiai Gentayu. Sejumlah pengikutnya juga mengambil kudanya masing-masing dan mengikuti Sang Pangeran. Dari Puri Tegalredjo, letak tanah makam leluhur tidak terlalu jauh. Tidak sampai sepuluh menit tibalah mereka di areal pemakaman yang dipenuhi batu-batu nisan. Betapa geram hati Diponegoro melihat patok-patok kayu yang biasa dipergunakan sebagai penanda batas proyek jalan raya, tertancap begitu saja di antara nisan-nisan makam leluhurnya. Bahkan ada sejumlah patok yang ditancapkan pas di bagian tengah makam, seakan sengaja dibenamkan ke perut leluhur yang ada di dalam tanahnya. Pangeran Diponegoro melompat turun dari kuda, diikuti seluruh pengikutnya yang menyandang berbagai jenis senjata seperti keris, pedang, dan trisula. Sang Pangeran itu kemudian berlutut di depan kompleks malam. Tubuhnya bergetar menahan kemarahan yang teramat sangat. Walau demikian dia mencoba untuk tetap tenang. Bibirnya komat-

kamit berzikir. Diponegoro tampak berusaha keras menguasai dirinya dari kemarahan yang tiba-tiba menyengat hatinya. Harga dirinya serasa diinjak-injak. Ki Guntur Wisesa mendampingi Sang Pangeran. Dia ikut berlutut di sampingnya. Walau demikian, kedua matanya mengawasi keadaan sekitar dengan sikap sangat waspada. Sedangkan Pangeran Ngabehi tetap berdiri di dekat mereka berdua. “Ki Guntur...,” bisik Diponegoro pelan. “Dalem, Kanjeng Pangeran...” “Ini sudah keterlaluan! Apa yang harus kita lakukan?” “Istighfar, Kanjeng Pangeran. Walau marah tapi kita harus tetap berkepala dingin. Sebaiknya sekarang kita kembali saja ke Puri...” Pangeran Diponegoro tidak segera menjawab. Dia memanjatkan doa barang sebentar. Kepalanya tertunduk ke tanah. Kemudian Diponegoro mengangguk pelan, “Baiklah Ki Guntur. Kita kembali saja ke Puri. Tolong kumpulkan para sesepuh dan senopati di masjid sekarang juga.” “Inggih, Kanjeng Pangeran. Laksanakan!” Pangeran Diponegoro bangkit dan berdiri dengan tegar. Di hadapan para pengikutnya yang kian bertambah banyak sehingga membentuk satu pasukan berkuda yang cukup besar, bagaikan satu kompi kavaleri, dia berteriak lantang, “Saudara-saudaraku semua, astaghfirullah al-adzim! Tanah makam leluhur kita telah dinodai. Harga diri kita telah dicederai. Mereka tidak saja menindas dan menyiksa saudarasaudara kita yang masih hidup. Para leluhur kita yang sudah mati pun mereka cemari. Sekarang juga, kita akan cabut semua patok-patok ini! Kita bakar! Kita ganti patok-patok itu dengan tombak di sekeliling tanah makam ini. Kita akan menyampaikan protes keras kepada kafir Belanda itu! Kita tunjukkan jika kita tidak pernah takut kepada orang-orang kafir itu. Allahu Akbar!” Pekik takbir Diponegoro disambut para pengikutnya dengan gegap gempita. Langit Tegalredjo pagi itu membahana dengan teriakan takbir. Cahaya matahari yang baru saja menyorot ujung-ujung dedaunan kalah panas dengan dendam amarah yang memenuhi seluruh rongga dada. “Sekarang kita semua bersiap! Bersiagalah! Siapa pun yang mencintai Islam sebagai agamanya, yang mencintai saya sebagai hamba dari Sang Khaliq, Allahsubhana wa ta’ala, bergabunglah dalam barisan jihad ini. Mereka telah menantang kita, dan haram bagi kita untuk takut terhadap tantangan kafir Belanda itu! Bersiagalah. Tunggu perintah dariku. Siapkan perbekalan, urus isteri dan anak-anak. Ungsikan mereka ke tempat yang aman. Semuanya bisa saja terjadi kapan pun. Allah bersama kita!”

“Allahu akbar!” Pekik takbir membahana sekali lagi. “Aku akan kembali ke Puri Tegalredjo. Siapkanlah Bismillah! Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” diri kalian semuanya.

Setelah mengucapkan salam, Pangeran Diponegoro memacu Kiai Gentayu kembali ke dalam puri diikuti Ki Guntur Wisesa dan ratusan pengikutnya. Debu membumbung tinggi dari kaki ratusan kuda yang meninggalkan tanah makam. Suaranya benar-benar menakutkan. Ratusan pengikut Diponegoro yang lain tetap tinggal di tanah makam. Mereka bekerja cepat mencabuti patok-patok kayu tersebut dan menggantinya dengan tombak yang mengelilingi tanah makam. Patok-patok kayu Belanda yang jumlahnya ratusan itu kemudian dibakar hingga habis menjadi abu.

Bab 6

TIDAK SAMPAI SATU JAM KEMUDIAN masjid dan Paseban (Tanah atau Lapangan yang cukup luas) Puri Tegalredjo telah dipenuhi para sesepuh dan senopati pasukan pengikut Diponegoro. Sejumlah laskar juga sudah berdatangan. Semuanya kebanyakan berjubah putih. Mereka menutupi kepalanya dengan sorban yang juga berwarna putih, juga warna lainnya. Di dalam masjid, Pangeran Diponegoro sedang menggelar pertemuan terbatas dengan sejumlah sesepuh dan pimpinan pasukan. “Bagaimana menurutmu, Paman?” tanya Diponegoro kepada Pangeran Mangkubumi yang baru saja datang dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. “Ya, firasatku juga mengatakan demikian. Mereka telah terang-terangan menantang kita dengan menodai tanah makam leluhur. Kita harus mempercepat persiapan pasukan dan segala sesuatunya.” “Apakah basis sudah dipersiapkan juga?” selidik Diponegoro. Basis adalah nama sandi bagi Gua Selarong, wilayah yang akan dijadikan markas komando utama jika Puri Tegalredjo tidak bisa dipertahankan. Mangkubumi dan Susuhunan Paku Buwono VI-lah yang mengusulkan lokasi perbukitan yang sangat strategis tersebut. Dan Diponegoro mengakui jika Gua Selarong memang pilihan yang tepat. Pangeran Bei yang diberi amanah sebagai Generalismus (Panglima Besar) Laskar Diponegoro menjawab, “Insya Allah Selarong sudah siap. Bukankah begitu Ki Guntur Wisesa?” Ki Guntur Wisesa yang bertanggungjawab penuh terhadap Gua Selarong tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Insya Allah siap. Demikian pula dengan jalur, sudah kita amankan...” “Paman dan semuanya, mulai sekarang kita aktifkan penjagaan duapuluh empat jam, tidak saja di lingkar tiga, namun juga lingkar dua, dan satu.” Pangeran Bei dan Mangkubumi mengangguk, juga yang lainnya. Sebagai pemuda yang sejak kecil digembleng banyak hal oleh Ratu Ageng, termasuk dasar-dasar kemiliteran, Pangeran Diponegoro sejak jauh hari sudah mempersiapkan sistem pertahanan menghadapi pasukan Belanda jika sewaktu-waktu perang meletus dengan Puri Tegalredjo sebagai poros utamanya. Hal itu telah ditetapkan Diponegoro tiga tahun lalu ketika dia masih bergabung di dalam Dewan Perwalian Kraton bersama Pangeran Mangkubumi. Sistem pengaman dibuat seperti gelang-gelang dengan radius yang berbeda. Gelang terluar berjarak empat kilometer dari Puri Tegalredjo yang disebut sebagai lingkar tiga, gelang kedua berjarak dua sampai dua setengah kilometer dari Puri dengan sandi lingkar dua. Dan lingkar satu sejauh satu setengah kilometer dari poros utama. Masing-masing lingkar dijaga

oleh pasukan-pasukan terlatih yang saling berkoordinasi satu dengan yang lainnya. Dari satu lingkar ke lingkar lainnya dihubungkan dengan jalur komunikasi dan juga logistik, sehingga memudahkan jika terjadi sesuatu. Di luar pasukan reguler, Diponegoro juga memiliki pasukan telik sandi atau mata-mata yang terdiri dari laki-laki dan juga perempuan dari berbagai macam usia. Pasukan telik sandi ini dikirim berpencar ke seluruh penjuru mata angin mengepung Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Beberapa dari pasukan ini sengaja ditanam di pihak musuh. “Firasatku mengatakan perang besar melawan kafir Belanda tidak akan lama lagi meletus. Tolong perempuan dan anak-anak diamankan dahulu, keluarkan mereka dari Tegalredjo. Namun itu harus dilakukan dengan diam-diam. Saya tidak ingin mereka menjadi korban kebuasan pasukan kafir Belanda dan juga pasukannya Danuredjo. Sedikit demi sedikit para perempuan dan anak-anak harus dikeluarkan dari desa ini,” ujar Diponegoro kepada Joyokirno, seorang senopati yang bertanggungjawab terhadap keamanan sebelah Lor (utara) Desa Tegalredjo. Joyokirno mengangguk pelan, “Inggih, Kanjeng Pangeran. Segera saya laksanakan.” “Lakukan dengan hati-hati dan sedikit demi sedikit supaya pergerakan ini tidak menimbulkan kecurigaan di pihak musuh. Tolong sampaikan pada para senopati yang lain,” ujar Diponegoro lagi sambil menepuk-nepuk bahu Joyokirno. “Inggih, Kanjeng Pangeran...” “Baiklah. Sekarang pergilah kembali ke pasukanmu...” Joyokirno segera memeluk Diponegoro. Setelah pamit, dia segera melompat ke atas kudanya dan melesat meninggalkan Puri Tegalredjo untuk kembali ke pasukannya yang berjaga tigaratusan meter setelah pintu desa di sebelah utara. “Ustadz...,” panggil Diponegoro kepada Ustadz Taftayani yang sedang meneliti peta sederhana kota Yogyakarta yang dihamparkan di atas lantai masjid. Ulama dari Minangkabau yang sudah menetap di dekat Tegalredjo itu mendekat. “Ustadz, bagaimana dengan Kiai Modjo dan yang lainnya?” Taftayani mengangguk dan balas berbisik, “Insya Allah mereka juga sudah siap. Bahkan saya dengar jika Kiai Modjo juga tengah mengadakan konsolidasi dengan pasukan-pasukannya. Dan beliau juga telah mengontak para alim-ulama dan sesepuh desa ke berbagai daerah di sekitar Surakarta dan Yogya hingga Magelang untuk bergabung dengan kita.” Pangeran Diponegoro mengangguk-anggukkan kepalanya, “Apakah kita akan tetap dengan formasi sepuluh komandemen untuk Yogyakarta, Ustadz?”

Mendengar pertanyaan itu, Ustadz Taftayani tidak segera menjawab. Diponegoro memang telah membagi wilayah Yogyakarta ke dalam sepuluh daerah komandemen, yang masingmasing daerah dipimpin oleh seorang komandan. Khusus Madiun, wilayah ini dibagi menjadi tiga komandemen. Diponegoro telah berhitung, satu daerah komandemen memiliki lebih kurang 10.000 keluarga. Dari jumlah ini, diharapkan bisa disiapkan sekira seribuan orang prajurit, lengkap dengan senjata. Mereka harus menjadi pasukan yang mandiri dan terlatih dengan baik, walau tongkat komando tetap berada di tangan Pangeran Diponegoro. “Bagaimana, Ustadz?” tanya Diponegoro lagi. “Menurut hemat saya, Pangeran, pembagian itu sudah cukup. Nanti kita lihat perkembangannya kemudian. Bukankah dalam peperangan organisasi hanyalah suatu ikatan yang teramat lentur? Semuanya tergantung pada improvisasi para pemimpin di lapangan dan kecepatan dalam bertindak tepat. Itu yang penting.” “Ya, itu benar. Dan bagaimana pandangan Ustadz soal perang yang sebentar lagi akan meletus?” “Kanjeng Pangeran, sebaiknya kita menahan diri. Jangan sampai kita dituding sebagai pihak yang memulai perang. Kita bertahan saja dahulu. Tentang pancingan atau mungkin jebakan yang dilakukan Belanda dan Patih Danuredjo, yang menancapkan patok-patok di tanah makam, sebaiknya Pangeran mengirim nota protes kepada Residen Smissaert...” “Ya, itu saya setuju, Ustadz. Saya akan mengirim nota protes dan minta agar kafir Belanda menghentikan proyek itu atau mengubah arah jalan yang akan dibuat sehingga tanah leluhur aman. Dan yang kedua, saya minta agar residen kafir itu segera memecat Danuredjo.” “Ya, itu bagus. Saya setuju...” “Tolong panggilkan Ahmad Prawiro, Ustadz. Saya akan siapkan surat sekarang juga untuk diantar ke residen kafir itu.” Ahmad Prawiro merupakan salah satu kurir andalan Diponegoro. Pemuda keturunan Cina ini asli Pekalongan yang telah bergabung dengan Diponegoro sejak awal perekrutan pasukan pertama di sekitar tahun 1820-an. Ustadz Taftayani mengangguk. Dia bergegas keluar masjid untuk memanggil pemuda yang dimaksud. Tak lama kemudian guru ngaji itu datang bersama seorang pemuda berkacamata bulat yang mengenakan baju koko dan songkok putih. “Ahmad...,” ujar Diponegoro setelah menjawab salam pemuda itu, “...Saya akan tulis surat. Nanti tolong antarkan langsung ke Residen Smissaert. Pastikan dia yang menerimanya...” “Inggih, Kanjeng Gusti Pangeran.”

“Tunggu sebentar disini.” (Bersambung)

Upto Part 13 (Bersambung ke part 14)

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->