Anda di halaman 1dari 9

Teras adalah bangunan konservasi tanah dan air yang dibuat dengan penggalian dan pengurugan tanah, membentuk

bangunan utama berupa bidang olah, guludan, dan saluran air yang mengikuti kontur serta dapat pula dilengkapi dengan bangunan pelengkapnya seperti saluran pembuangan air dan terjunan air yang tegak lurus kontur. Dengan melihat aspek pengawetan lahan dan air, sebenarnya tidak dianjurkan untuk menanam pada areal berbukit yang sudut kemiringannya >20 derajat. Namun, oleh karena lahan yang tersedia untuk ekstensifikasi semakin lama semakin berkurang, penanaman pada areal berbukit tampaknya akan merupakan hal yang wajar diusahakan, sejalan dengan praktik pengawetan lahan dan air dengan teknik pembuatan teras bersambung maupun teras individu. Walaupun pembuatan teras bersambung menyebabkan tingkat kesuburan tanah berkurang, ada beberapa aspek menguntungkan yang harus diperhitungkan dalam memutuskan pembuatan teras, yaitu sebagai berikut.

Pembuatan teras akan mengurangi bahaya erosi. sekaligus juga mengawetkan air sehingga relatif tersedia bagi tanaman. Adapun penanaman secara langsung di daerah berbukit akan menimbulkan masalah erosi yang serius. Penanaman dan pekerjaan perawatan rutin lainnya menjadi lebih mudah sehingga prestasi kerja akan meningkat dan biaya produksi dapat ditekan. Pada saat tanaman sudah menghasilkan, pekerjaan panen dan mengeluarkan hasil panen dari dalam blok akan lebih mudah. Lebih sedikit hasil panen yang hilang.

OIeh karena pekerjaan panen lebih mudah maka prestasi kerja pemanen akan meningkat dan biaya panen akan lebih murah dari pada biaya panen di daerah berbukit yang tidak ada terasnya. Pada sistem teras yang baik, biaya panen pada daerah berbukit tidak begitu banyak berbeda dengan biaya panen di daerah yang rata. Penentuan jumlah kerapatan teras per ha harus sudah ditentukan sebelum pekerjaan memancang titik tanam. Idealnya, pertemuan garis kontur (baca: teras) dengan garis kemiringan lahan yang tercuram adalah pada jarak horisontal yang tetap, yaitu 7,97 m. ,Jika jarak antar dua teras yang bersebelahan > 12 m bergerak menjauhi garis kemiringan lahan yang tercuram maka dibuat teras tambahan dengan jarak sekitar 7,3 m. Teras tambahan ini secara teoritis akan terpotong jika kemiringan lahan meningkat dan akan bersatu kembali dengan teras utama. Pemancangan untuk pembuatan teras dilakukan dengan menarik satu garis lurus dari salah satu titik tertinggi ke daerah yang terendah dengan sudut kemiringan lahan yang tercuram. Sepanjang garis lurus ini dipasang pancang dengan jarak 7,97 m. Jika sudut kemiringan lahan yang tercuram ini pada arah utara-selatan maka jarak pancang dibuat 9,2 m. Sementara bila arahnya timur-barat maka jarak pancangnya 7,97 m. Jarak antar pokok di dalam barisan ini dipilih sedemikian rupa sehingga setiap 100 m horisontal terdapat 1013 teras. Diawali dari pancang tersebut maka pemancangan menurut garis-garis kontur dapat dilakukan untuk seluruh areal. Untuk ketepatan pemancangan, sebaiknya digunakan alat bantu water pass. Cara pemancangan pada areal berbukit dan bergunung dilakukan dengan pola tanam teras kontur, memakai metode sistem 'Violle." Teknis pemancangan dengan sistim 'Violle" dilakukan dengan menentukan satu titik di areal tercuram. Kemudian, ditentukan satu garis

lurus ke arah lembah dengan jarak masing-masing titik 7,3 m. Setiap titik dibuat warna merah, biru, dan kuning. Jarak antar teras minimum 7,3 m dan maksimum 8,9 m. Jika jarak antar teras menyempit ( 8,9 m) maka pembuatan teras tersebut harus diputus atau dihentikan. Selanjutnya, dimulai pembuatan teras dengan titik baru dengan jarak 7,3 m. Cara yang dilakukan untuk membedakan pancang teras antara satu terasan dengan terasan yang lain yaitu dengan membedakan warna pancang yang berbeda dengan susunan merah, biru, kuning, dan seterusnya. Hal ini bertujuan untuk menghindari kesalahan operator alat berat berpindah dari satu teras ke teras yang lain pada waktu pembuatan teras. Untuk bagian teras di tempat-tempat tertentu yang kurang horizontal, harus dibuat benteng penahan (stop bund) melintang dengan ukuran lebar 50 cm dan tinggi 30 cm untuk menahan aliran air dan mencegah erosi sepanjang terasan tersebut. pada tahap awal pembuatan teras, diperlukan pemeriksaan yang rutin dan perarlatan teras yang rusak. Setelah itu, perawatan teras biasanya dilakukan setahun sekali untuk memperbaiki permukaan teras supaya sudutnya tetap berkisar 10-15 derajat dan memadatkan pinggirannya bila diperlukan. Pembuatan teras kontur harus selalu dimulai dari teras yang paling atas, kemudian dilanjutkan pada terasan di bawahnya. Letak garis kontur untuk teras kontur harus timbang air (water pass). Teras kontur dibuat dengan permukaan yang miring ke dinding teras dengan sudut miring 10-15 derajat dan tepat pada pancang tanaman. lebar teras berkisar 3-4 m, sedangkan lebar teras penghubung antar tanaman 1m. Pada saat pembuatan teras, permukaan tanah dibersihkan dari humus, tunggul-tunggul, dan kayu. Tanah galian disusun untuk tanah bagian yang ditimbun. Setelah terbentuk, diadakan pengerasan hingga padat. Tanah timbunan harus membentuk sudut kemiringan 10-15 derajat ke dinding teras.

MENANAM KELAPA SAWIT


Disusun Oleh : Faifson Siagian Daftar 1.Persiapan Menanam Kelapa Sawit Pola Tanam Memancang Melubang Pupuk Lubang 2.Menanam Kelapa Sawit Persiapan Di Pembibitan Administrasi Transport Pengangkatan Bibit Ke Lapangan Dan Ecer Bibit Penanaman Konsolidasi Pokok Doyong Dan Penyisipan 1. Persiapan Menanam Kelapa Sawit Pola Tanam Pola tanam yang digunakan adalah segitiga sama sisi pada areal datar sampai bergelombang, sedangkan untuk areal yang berbukit dengan sudut kemiringan 120 perlu dibuat teras kontur dengan jarak tanam sesuai dengan ketentuan. Alasan mengapa menggunakan pola tanam segitiga sama sisi yaitu : 1. Tajuk jika dilihat dari atas terlihat bulat, oleh karena itu semua ruangan tertutupi tidak ada ruangan kosongsehingga dapat menghambat/mengurangi pertumbuhan gulma. 2. Populasi per Ha lebih optimum jika dibandingkan dengan pola tanam persegi. 3. Efektif dan efisien dalam penyerapan unsur hara karena akar tanaman menebar penuh luas tajuk sama dengan luas akar Pola tanam dikaitkan dengan : 1. Jenis tanah. Pada tanah mineral jarak tanamnya lebih renggang dibandingkan pada tanah gambut. 2. Kesuburan tanah. Pada tanah yang subur jarak tanamnya lebih renggang dibandingkan pada tanah yang tidak subur. 3. Bibit yang digunakan isi :

Tipe A Laju pertumbuhan > 80 cm/tahun, untuk tanah mineral Tipe B Laju pertumbuhan 70 80 cm/tahun,untuk tanah mineral dan dapat digunakan untuk daerah berbukit Tipe C Laju pertumbuhan 60 70 cm/tahun, untuk tanah gambut dan dapat digunakan untuk daerah berbukit Tipe D Laju pertumbuhan < 60 cm/tahun, untuk tanah gambut Populasi tanaman menurut jarak tanam Pola tanam Populasi pokok/Ha Anjuran pada tipe/Jenis tanah dan Bahan tanaman 9.5 X 9.5 X 9.5 127 128 D X P Marihat 9.4 X 9.4 X 9.4 130 131 D X P Marihat 9.2 X 9.2 X 9.2 135 136 D X P Marihat 9.0 X 9.0 X 9.0 142 143 D X P Socfindo/Rispa 8.8 X 8.8 X 8.8 149 150 Tanah gambut 8.6 X 8.6 X 8.6 155 156 Tanah Gambut Memancang Tujuan memancang : - Memberi tanda-tanda untuk pembuatan lubang tanam. - Sebagai pedoman untuk pembuatan jalan, parit, stacking, teras/kontur/tapak kuda dan menanam kacangan. Organisasi memancang : Setiap team (regu) pemancang terdiri atas 5 (lima) orang yaitu : - 1 (satu) orang tukang teropong - 2 (dua) orang tukang pancang - 2 (dua) orang tukang tarik tali Norma prestasi memancang 0.15 0.2 Ha/HK. Bahan dan alat : - Kompas sunto - Abney level/Clinometer - Kayu pancang ( pancang induk atau anak pancang) - Tali rami atau kawat - Kayu berbentuk Y - Pemancangan di areal datarJarak tanam disesuaikan dengan table di atas Arah barisan tanaman Timurr Barat Buat pancang kepala setinggi 2.5 m dan bagian atasnya ( 30 cm) di cat putih dengan tujuan agar dapat dilihat. Menentukan batas-batas daerah/blok yang akan dipancang dan ditetapkan sebuah patokan untuk memancang. Usahakan titik tersebut adalah salah satu pertemuan antara Collection Road dan Main Road. Dari titik tersebut ditarik garis lurus Utara Selatan (0 1800), lalu dipasang pancang kepala, dengan jarak antar pancang 7.8 m, hingga batas areal/blok yang hendak dipancang.

Dari titik yang sama dibuat garis tegak lurus arah Timur Barat (90 2700), pancang kepala dipasang dengan jarak antar pancang 100 m.

Pemancangan areal bergelombang dan berbukit Terdapapat 2 (dua) cara untuk pemancangan yaitu pemancangan areal datar (cara biasa) dan dengan system teras kontur. Untuk cara biasa perlu atau harus dibuat tapak kuda/teras individu. Pada pemancangan system teras kontur, jarak antar kontur dibuat sesuai dengan proyeksi jarak antar barisan pada pemancangan areal daar, sedangkan jarak pokok dalam kontur diusahakan sama dengan jarak pokok pada areal datar. Buat pancang tanam di kontur pertama, pancang kedua pada kontur yang sama berjarak sama dengan jarak antar dua pokok dalam barisan pada areal datar. Pancang ketiga dan seterusnya dibuat dengan cara yag sama. Pancang pada kontur kedua dibuat dengan cara membuat segitiga proyeksi yang menhubungkan dua pokok di kontur pertama dengan satu pokok di kontur kedua. Kemudian seperti cara di atas dilakukan pemancangan untuk semua kontur dan seterusnya dikerjakan hingga kontur terakhir. Melubang Lubang tanam telah dipersiapkan minimal 6 bulan sebelum tanam untuk mengurangi kemasaman tanah. Tujuan :

Memberikan media tumbuh yang baik bagi akar tanaman pada saat awal penanaman. Mempermudah peresapan pupuk ke dalam tanah sehingga mempercepat tanaman mengabsorbsi pupuk tersebut. Cangkul Alat pengukur (Mal/Patron) dengan ukuran 90 X 90 X 60 cm Takaran pupuk terbuat dari triplek berbentuk kubus atau wadah dari plastik yang sudah distandarisasi.

Peralatan :

Teknis melubang :

Dari pancang tanam dibersihkan (radius 1 m) dari sampah, akar-akar atau tunggul yang ada di permukaan tanah. Jika pada lokasi lubang tanam terdapat tunggul kayu yang tidak dapat dibongkar maka lubang tanam dapat digeser sedikit tetapi tetap mengikuti arah barisan. Anak pancang dicabut, kemudian tanah digali dengan ukuran 90 X 90 X 60 cm. Tanah hasil galian dipisahkan antara topsoil (selatan) dan subsoil (utara). Peletakkan tanah hasil galian harus konsisten. Setelah selesai anak pancang diletakkan kembali pada posisi semula (ditengah-tengah lubang tersebut).

Pembuatan lubang tanam pada tanah gambut adalah hole in hole, gunanya agar bibit tidak tumbang atau doyong. Pada tanah gambut yang tidak begitu dalam dapat juga tidak dilakuka hole in hole, namun tanah dipadatkan terlebih dahulu dengan menggunakan excavator. Pada saat pembuatan lubang tanam airnya terlebih dahulu dikurangi yaitu dengan pembuatan parit 1 x 1 x 1 m (parit cacing), gunanya untuk mempermudah penggalian. Untuk daerah rendahan atau rawa dapat digunakan tapak timbun. Ini dilakukan setelah tanam dan tenaga kerja cukup.

Pupuk Lubang Jenis pupuk : - Tanah mineral : 300 gram TSP untuk setiap lubang tanam - Tanah gambut : 300 gram TSP (500 gram RP) dan 15 gram CuSO4. Teknis memupuk :

Topsoil dimasukkan ke dalam lubang tanam hingga ketinggian 20 25 cm permukaan bola tanah harus sejajar dengan permukaan tanah asli. Cangkul dapat dibuat sebagai mal. Pupuk ditaburkan secara merata ke dalam lubang tanam. Pemberian pupuk sebaiknya dilakukan 3 tahap yaitu 100 gram untuk setiap tahapnya diselingi dengan penimbunan lubang tanah.

2. Menanam Kelapa Sawit Persiapan Di Pembibitan Bibit kelapa sawit siap tanam ke lapagan pada umur 10 12 bulan. Bila lewat umur, bibit tersebut harus dipangkas. Pemangkasan bentuk kerucut yang sudut kemiringannya 30 450, dengan demikian daun termudah merupakan puncak kerucut. Jika penanaman belum dapat dipastikan, sebaiknya bibit dipangkas 6 bulan sekali. Kebutuhan tenaga kerja untuk pemangkasan yaitu 40 bibit/HK. Satu bulan sebelum pemindahan ke lapangan dan diulangi lagi dua minggu kemudian, large bag diangkat dan diputar 1800 untuk memutuskan perakaran tanaman yang telah menembus large bag sehingga mengurangi shock saat ditanam kelapangan. Cara lain yaitu large bag dimiringkan kemudian akarnya dipotong. Bibit yang akan ditanam ke lapangan harus disiram sampai tanah dalam large bag jenuh air. Pemindahan bibit ke lapangan harus berdasarkan kelompok bibit atau jenis bibit. Administrasi Transport - Divisi mengajukan surat permintaan bibit melalui kantor besar kebun. - Kantor besar kebun mengeluarkan DO (Delivery Order) rangkap 4. - DO diserahkan ke bagian transport dan disahkan. - Bagian transport (supir) menyerahkan DO ke bagian bibitan dan disahkan. - Jumlah bibit yang dimuat/diangkut harus sesuai DO. - Setelah bibit sampai tujuan, DO harus disahkan oleh penerima bibit (Divisi).

DO yang telah disahkan didistribusikan kepada Kantor besar, Divisi, Bibitan, dan bagian transport.

Pengangkatan Bibit Ke Lapangan dan Ecer Bibit


Dibutuhkan 3 orang untuk bongkar muat bibit, 1 orang di kendaraan 2 orang untuk muat dan bongkar bibit (menyusun bibit di tanah). Bibit dibongkar pada tempat-tempat yang telah ditetapkan (titik pembongkaran). Harus jelas berapa jumlah bibit yang harus diturunkan pada setiap titik pembongkaran. Pembongkaran dan pengeceran bibit dari titik pembongkaran ke lubang tanam harus hati-hati jangan sampai bola tanah pecah. Bibit harus diangkat berdiri dan bagian bawahnya ditopang dengan bahu. Jangan diangkat pada leher akarnya, pengangkatan harus dilakukan pada bola tanahnya secara hati-hati. Bibit diletakkan di sebelah selatan lubang tanam secara hati-hati, jangan dibanting. Peletakkan bibit harus konsisten. Bibit harus sudah diecer ke dalam blok bersama-sama dengan kantong plastik yang berisikan pupuk lubang tanam sehari sebelum penanaman.

Penanaman

Pancang tanam dicabut. Lubang tanam diisi/ditimbun top soil dan dipadatkan (ketebalan 25 cm) dengan cara diinjak. Pupuk lubang dimasukkan 1/3 bagian. Large bag disobek dengan menggunakan pisau atau parang. Bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan hati-hati (jangan dibanting atau dihentakkan). Permukaan bola tanah harus sejajar dengan permukaan tanah asli. Jika belum sejajar topsoil dapat ditambah atau dikurangi. Large bag ditarik sehingga bola tanah saja yang berada di dalam lubang tanam. Ditimbun tanah topsoil , dipadatkan dengan cara diinjak tanah timbunan di sisi bola tanah. Jangan sampai menginjak bola tanah. Pupuk dimasukkan 1/3 bagian lagi. Ditimbun tanah subsoil, dipadatkan dengan cara diinjak tanah timbunan di sisi bola tanah. Pupuk dimasukkan 1/3 bagian lagi (sisanya). Ditimbun tanah subsoil, dipadatkan dengan cara diinjak tanah timbunan. Penimbunan dilakukan hingga permukaan bola tanah sejajar dengan permukaan tanah asli. Pancang tanam diletakkan disebelah selatan dan large bag diikat pada pancang tanam tersebut peletakkan pancang tanam harus konsisten untuk setiap titik tanam. Sebelum penimbunan posisi bibit harus tegak sehingga daunnya menghadap kea rah tiga jurusan ( sistem mata lima).

Kesalahan-kesalahan yang harus dihindari pada penanaman yaitu : - Bibit ditanam terlalu dalam - Bibit ditanam miring atau tidak tegak - Tanah pada large bag (bola tanah) dipecah dan dibuang. - Large bag tidak dibuka sebelum bibit ditanam. Konsolidasi pokok doyong dan penyisipan Pekerjaan konsolidasi (menegakkan) pokok doyong hanya dilakukan 1 rotasi yaitu 1 minggu setelah penanaman. Bahkan hal ini tidap perlu dilakukan apabila penanaman sudah dilakukan dengan benar, kecuali bila terjadi angina kencang dan hujan yang sangat lebat sehingga pokok doyong. Penyisipan merupakan mengganti pokok yang mati dan pokok yang abnormal yang lolos dari seleksi di pembibitan. Tujuan penyisipan : - Untuk mendapatkan produksi per hektar yang maksimal. - Menekan pertumbuhan lalang dan gulma lainnya. Pekerjaan awal sisipan yang penting adalah sensus dan identifikasi pokok. Prisisp pelaksanaan teknis ( bibit dan tanam) sama dengan pekerjaan penanaman. Pokok sisipan ditanam pada bekas tanaman yang sudah dibongkar agar barisan tanaman tetap lurus. Pemeliharaan pokok sisipan dilakukan sesuai dengan pemeliharaan (rotasi perawatan) tanaman asli. FILOSOFI TANAM : SETIAP BIBIT YANG DITANAM HARUS TUMBUH

Standar Dosis Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Pada Tanah Mineral : Umur (Bulan)* Lubang tanaman 1 3 5 8 12 16 20 24 28 32 Urea 100 250 250 250 500 500 500 500 750 750 TSP 100 100 200 200 200 200 200 300 300 Dosos Pupuk (gram/pohon) MOP ( KCl) 150 150 350 350 500 500 750 1.000 1.000 Kieserite 100 100 250 250 500 500 500 750 750 HGF-B 20 30 50 Rock Phosphate 500 -

*) Setelah tanam di lapangan