Anda di halaman 1dari 2

Menyikapi Penderita Schizophrenia

Assalamualaikum Wr.Wb Selamat pagi para penguji sekalian, Izinkanlah saya, Ratih Kumalasari menyampaikan beberapa patah kalimat mengenai suatu permasalahan yang mungkin bagi sebagian orang kurang penting. Yaitu penyikapan masyarakat umum terhadap penderita schizophrenia. Pertama-tama, saya akan memberikan sedikit penjelasan tentang apa itu schizophrenia. Scizophrenia merupakan salah satu penyakit otak yang disebabkan oleh gangguan fungsi pada otak, dimana dapat merusak dan menghancurkan emosi penderitanya. Penyakit ini selain disebabkan oleh struktur fisik otak, unsur kimia dalam otak, dan faktor genetik, juga bisa muncul akibat tekanan yang sangat tinggi dari lingkungan sekitar penderita, sehingga penderita tidak kuat menghadapinya. Menurut psikolog Prof. Dr. Dadang Hawari, kemungkinan adanya penderita Schizophrenia di Indonesia adalah tiga sampai lima orang tiap seribu orang. Dan mayoritas merupakan seseorang yang menghuni daerah perkotaan. Mengapa demikian? Ini terkait tingkat stress di daerah perkotaan yang sangat tinggi. Stress tersebut biasanya disebabkan oleh permasalahan ekonomi, pendidikan, keluarga, atau bahkan percintaan. Bapak dan Ibu yang saya hormati, Penderita Schizophrenia kehilangan motivasi dan menjadi apatis (kehilangan energi semangat hidup sehingga menyebabkan penderita menjadi malas ). Sekilas, kita mungkin pernah melihat keadaan para penderita schizophrenia seperti memiliki dunianya sendiri. Mereka tidak memperdulikan keadaan di sekitarnya. Mereka tertawa sendiri, berbicara sendiri, menangis, bahkan juga menjerit-jerit sendiri yang kita tidak pernah tahu apa sebabnya. Seolah-olah mereka dihadapkan pada suatu halusinasi yang bagi mereka nyata. Sudah pasti mereka tidak merasa memiliki perilaku menyimpang. Mereka akan selalu menganggap diri mereka waras selama mereka tetap meyakini halusinasinya. Bahkan, tidak jarang mereka benar-benar buta sampai bertindak kasar dan merusak apapun yang ada disekitarnya. Hal inilah yang membuat masyarakat menyikapi penderita schizophrenia dengan sangat buruk. Mencacinya, memukul, atau mengucilkannya. Bahakan adapula yang sampai bertindak di luar batas perikemanusiaan. Mereka mengurung penderita di dalam kamar selama berbulan-bulan agar tidak mengacau. Selain itu, saya juga pernah melihat dan mendengar cerita tragis tentang seorang penderita schizophrenia yang dipasung kakinya selama kurang lebih tiga setengah tahun. Bayangkan, tiga setengah tahun ! Sampai akhirnya ketika pasung itu dibuka, penderita tidak bisa berjalan karena kakinya mengecil. Sungguh tidak manusiawi. Terlebih itu dilakukan oleh keluarga penderita itu sendiri.

Bapak Ibu penguji juga pasti pernah mendengar tentang suatu yayasan di daerah Bekasi yang menampung para penderita schizophrenia yang tidak memiliki tempat tinggal. Di sana bisa melihat ratusan penderita schizophrenia yang diperlakukan layaknya binatang. Tangan atau kaki mereka diborgol di tiang-tiang yang ada di sekitar yayasan tersebut. Diborgol ! Mereka tidak bisa kemana-mana. Pergerakan dibatasi oleh sebuah besi. Mereka makan, minum, tidur, bahkan buang air di tempat itu. Miris sekali. Tempat dimana mereka seharusnya ditampung, dirawat, dan dilindungi dari kejamnya dunia luar, malah menjadi tempat perenggutan hak asasi bagi mereka yang ada di dalamnya. Padahal, schizophrenia itu bisa disembuhkan. Sangat bisa. Dengan perawatan yang sesuai dan teratur dijalani, mereka akan pulih. Walaupun membutuhkan waktu yang tidak sebentar tentunya. Taukah Bapak Ibu sekalian tentang orang-orang sukses di dunia internasional juga ada yang pernah mengalami schizophrenia? Ia adalah John Forbes Nash Jr., merupakan peraih nobel penghargaan di bidang ekonomi pada tahun 1994. Ia pernah menderita schizophrenia, namun berkat perawatan dan dukungan orang-orang sekitarnya ia bisa sembuh total. Banyak sekali cara perawatan bagi penderita schizophrenia. Selain teratur menjalani terapi penyembuhan dan terapi obat, penderita juga bisa mendapatkan terapi konsultasi. Dimana ia bisa dibantu untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Namun sekali lagi, dukungan dan dorongan dari orang terdekata adalah hal vital yang harus senantiasa diberikan. Karena dengan mereka lah penderita pertama kali akan berinteraksi. Jadi Bapak dan Ibu penguji sekalian, Mulai sekarang, hendaklah kita tidak memandang para penderita schizophrenia hanya dengan sebelah mata. Apalagi dengan merendahkan mereka. Sudah bukan saatnya lagi untuk bertindak tidak manusiawi kepada mereka. Karena toh, mereka tidak akan dengan tindakan kita yang seperti itu. Seperti apapun mereka, separah apapun penyakit mereka, mereka tetap manusia. Hak mereka sama seperti kita. Hak untuk hidup dan mendapat perlakuan yang layak. Mereka bukan binatang. Mereka adalah saudara kita. Terima kasih. Selamat pagi dan wassalamualaikum Wr.Wb.