Anda di halaman 1dari 9

Mata Kuliah : Kapita Selekta Pendidikan Nama NIM Smt / Kelas Prodi : Selvi Uul Mahmudah : 9321 008

08 : VI / B : PAI

UAS KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 1. Yang melatarbelakangi kesuksesan masyarakat islam: Kaum muslimin pernah memiliki kejayaan dimasa lalu. Masa dimana islam menjadi trendsetter sebuah peradaban modern. Peradaban yang dibangun untuk kesejahteraan umat manusia dimuka bumi ini. Masa kejayaan itu bermula saat Rasulullah mendirikan pemerintahan islam, yakni Daulah khilafah islamiyah di Madinah. Tongkat kepemimpinan bergantian dipegang oleh Abu Bakar as-shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib dan seterusnya. Dimasa khulafaurasyaidin ini islam berkembang pesat. Perluasan wilayah menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya penyebaran islam ke seluruh penjuru dunia. Islam datang membawa rahmat bagi seluruh umat manusia. Penakhlukan wilayah-wilayah adalah sebagai bagian dari upaya untuk menyebarkan islam, dan bukan untuk menjajahnya. Itu sebabnya, banyak orang yang kemudian tertarik kepada islam. Sejarawan barat beraliran konservatif W. Montgomery watt menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban islam, ia mengatakan bahwa islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, Dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah. Dan yang melatarbelakangi kesuksesan masyarakat barat yang akhirnya bisa mengalahkan masyarakat islam : 1. Ilmu pengetahuan yang berasal dari dunia islam sudah diboyong oleh negara-negara barat. Dan ini merupakan fakta yang tidak bisa dipungkiri.

2. Negara-negara barat berupaya mencegah terjadinya pengembangan iptek di negaranegara islam. 3. Adanya upaya-upaya untuk melemahkan umat islam dan memikirkan kemajuan ipteknya, misalnya umat islam disodori persoalan-persoalan klasik agar umat islam sibuk sendiri, ramai sendiri dan akhirnya bertengkar sendiri. Alternatif yang bisa diberikan dalam membangun muslim yang tangguh iman, saleh individu dan sosial, dan luas cakrawala IPTEK nya: Dasar dari peradaban moderrn adalah ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK). Iptek merupakan dasar dan pondasi yang menjadi penyangga bangunan peradaban modern barat sekarang ini. Masa depan suatu bangsa akan banyak ditentukan oleh tingkat penguasaan bangsa itu terhadap IPTEK . Suatu masyarakat atau bangsa tidak akan memiliki keunggukan dan kemampuan daya saing yang tinggi, bila ia tidak mengembangkan IPTEK. Bisa dimengerti bila setiap bangsa dimuka bumi sekarang ini, berlomba-lomba serta bersaing secara ketat dalam penguasaan dan pengembangan IPTEK. Diakui bahwa iptek disatu sisi telah memberikan berkah dan anugerah yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia, namun disisi lain, iptek telah mendatangkan petaka yang pada giliranya mengancam nilai-nilai kemanusiaan. Kemajuan dalam bidang iptek telah menimbulkan perubahan yang sangat cepat dalam kehidupan umat manusia. Perubahan ini, selain sangat cepat memiliki daya jangkau yang amat luas. Hampir tidak ada segi-segi kehidupan yang tidak tersentuh oleh perubahan. Perubahan ini pada kenyataanya telah menimbulkan pergerseran nilai-nilai agama, moral, dan kemanusiaan. Dan agar para muslim bisa maju dibidang IPTEK yang tangguh imanya, saleh individu dan sosialnya serta luas cakrawala ipteknya. Sehingga kemajuan iptek memiliki nilai tambah dan bisa memberikan manfaat yang cukup berarti bagi kemajuan dan kemaslahatan umat dan bangsa dalam arti yang seluas-luasnya. Secara spesifik integrasi pendidikan IMTAK dan IPTEK sangat diperlukan karena 4 alasan: 1. Iptek akan memberikan berkah dan manfaat yang sangat besar bagi kesejahteraan hidup umat manusia bila iptek disertai oleh asas iman dan takwa kepada Allah, sebaliknya tanpa asas iman dan takwa, Iptek bisa disalah gunakan pada tujuan-

tujuan yang bersifat deskruktif. Dan iptek bisa mengancam nilai-nilai kemanusiaan . Jika demikian iptek hanya absah secara metodologis, tetapi batil dan miskin secara maknawi. 2. Pada kenyataanya IPTEK yang menjadi dasar modernisme, telah menimbulkan pola dan gaya hidup baru yang bersifat sekularistik, materialistik dan henonistik yang sangat berlawanan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang dianut oleh bangsa kita. 3. Dalam kehidupanya manusia tidak hanya memerlukan sepotong roti ( kebutuhan jasmani ) tetapi juga membutuhkan IMTAK dan nilai-nilai spiritual. Oleh karena itu penekanan pada salah satunya, hanya akan menyebabkan kehidupan menjadi pincang dan berat sebelah dan akan menyalahi hikmat kebijkasanaan Allah. 4. IMTAQ menjadi landasan dan dasar paling kuat yang akan mengantar manusia menggapai kebahagiaan hidup. Tanpa dasar IMTAK , segala atribut duniawi seperti harta, pangkat, iptek dan keturunan tidak akan mampu / gagal mengantar manusia menggapai kebahagiaan hidup. Maka integrasi IMTAK dan IPTEK harus diupayakan dalam format yang tepat, sehingga keduanya berjalan seimbang dan dapat mengantar kita meraih kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. 2. Argumentasi, Analisis posisi dan esensi pendidikan dengan paradigma demokrasi Dalam hal ini inovasi pembelajaran sangat dibutuhkan dalam pendidikan, mengingat berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta informasi yang semakin pesat juga tuntutan masyarakat terhadap lulusan pendidikan yang berkualitas mengharuskan guru untuk melakukan inovasi pembelajaran dengan memahami karakteristik peserta didik. Disini guru dalam pembelajaran harus bisa menciptakan suasana yang menyenangkan, mampu menumbuhkan budaya bertanya di kelas dan menghargai adanya porbedaan gaya belajar. Menggunakan inovasi pembelajaran ini mengingat siswa menyukai sesuatu yang menyenangkan yang tidak menegangkan, tidak membuat stress sehingga materi yang dipelajari mudah dicerna.

Setiap siswa mempunyai otak yang unik dan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda baik kemampuan, minat dan bakatnya. Untuk menghargai keunikan dan perbedaan tersebut adalah dengan cara menghargai adanya perbedaan gaya belajar. Pendidik dalam pembelajaran harus mengetahui dan memahami keunikan dan perbedaan yang ada pada setiap siswa aehingga pendidik bisa memberikan sebanyak mungkin pendekatan gaya belajar. Sehingga dalam pembelajaran pendidik tidak hanya berada dikelas saja, karena ada peserta didik yang gaya belajarnya suka belajar dengan berinteraksi, bereksplorasi dan mengobservasi seperti kunjungan ke lapangan, situasi-situasi nyata dan eksperimen. Esensi pendidikan terkait masalah tersebut ada pada UU SISDIKNAS No 20 Tahun 2003 Tentang prinsip Penyelenggaraan pendidikan Bab III pasal 4 ayat 1 yang berbunyi Pendidikan di selenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa . Penjelasanya bahwa gerakan reformasi di indonesia secara umum menuntut di terapkanya prinsip demokrasi, desentralisasi keadilan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam hubunganya dengan pendidikan, prinsip-prinsip tersebut akan memberikan dampak yang mendasar pada kandungan, proses, dan manajemen sistem pendidikan. Mengacu pada UU tersebut, sudah menjadi kewajiban dan keharusan bagi seorang pendidik untuk selalu bersikap adil dan selalu menyeimbangkan dalam melayani setiap gaya belajar peserta didik yang berbeda-berbeda baik dari bakat, minat dan karakteristiknya.

3. Latar belakang kecenderungan education of bank system Konsep education of bank system adalah memandang bahwa manusia sebagai makhluk yang dapat di samakan dengan sebuah benda dan mudah diatur. Sehingga semakin banyak murid menyimpan tabungan yang dititipkan kepada

mereka, maka semakin kurang mengembangkan kesadaran kritis yang dapat mereka peroleh dari keterlibatan di dunia sebagai pengubah dunia tersebut. Dan semakin

penuh mereka menerima peran pasif yang di sodorkan kepada dirinya, maka mereka semakin cenderung menyesuaikan diri dengan dunia yang diberikan penabung. Ciri-ciri daripenindasan adalah menganggap bodoh secara mutlak orang lain, sehingga mengingkari pendidikan dan pengetahuan yang seharusnya dijadikan sebagai proses pembelajaran / penilaian yang mencerminkan suatu keadaan masyarakat tertindas secara keseluruhan, diantaranya: 1. Guru mengajar, murid diajar 2. Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa 3. Guru berpikir, murid dipikirkan 4. Guru bercerita, murid payu mendengarkan 5. Guru menentuka peraturan, murid diatur 6. Guru memilih dan memaksakan pilihanya, murid menyetujui 7. Guru berbuat. Murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya. 8. Guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid menerima tanpa diminta pendapatnya Menyesuaikan diri dengan pelajaran itu. 9. Guru memperadukan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatanya, yang dia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid

10. Guru adalah subyek dalam proses belajar, murid adalah obyek belaka. Jadi intinya adalah pendidikan dijadikan sebuah kegiatan untuk menabung. Dimana para murid adalah sebuah celengan sedangkan guru adalah penabungnya. Untuk mengubah ke arah paradigma humanisme oriented Konsep Freire tentang pendidikan bertolak dari kenyataan bahwa dunia ini ada sebagian manusia yang menderita sedemikian rupa sementara sebagian lainya menikmati jerih payah orang lain justru dengan cara-cara yang tidak adil. Ini yang disebut Freire sebagai situasi penindasan yang menafikkan harkat kemanusiaan dehumanisme. Untuk itulah bagi Freire pendidikan haruslah mampu memanusiakan

manusia ( humanisasi ) sebagai sesuatu yang mutlak dilakukan. Humanisme merupakan satu-satunya pilihan dalam pendidikan karena hal ini sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Bagi Freire, fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau obyek. Panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar. Manuasia adalah penguasa bagi dirinya sendiri, merdeka dan menjadi bebas. Karenanya pendidikan adalah upaya untuk memerdekakan dan pembebasan manusia dari segala bentuk ketertindasan. Untuk merubah ke arah paradigma humanism, proses humanisasi dalam pendidikan itu haruslah melibatkan 3 unsur sekaligus dalam hubungan dialeg yang ajeg, yaitu: 1. Pengajar 2. Pelajar peserta didik 3. Realitas dunia Yang pertama dan yang kedua adalah subyek yang sadar ( cogvitive ), sementara yang ke tiga adalah obyek yang tersadari atau di sadari ( cognizable ). Hubungan dialektis ketiga unsur harus terjadi secara simultan dalam sebuah proses pendidikan. Hubungan dialek ini mensyaratkan pola hubungan yang sejajar dan setara, tidak boleh ada suatu pihak yang lebih dominan yang superior dibandingkan dengan yang lain. Semua pihak memiliki hak yang sama untuk mengekspresikan dirinya. Jadi, pendidikan mestilahh memberi keleluasaan bagi setiap orang untuk mengatakan kata-katanya sendiri bukan kata-kata sang guru. Untuk itulah pendidikan haruslah memberikan ruang bagi sharing pengalaman bagi setiap anggota pembelajar termasuk dalam realitas dunianya. Namun dalam realitasnya sistem pendidikan yang berkembang selama ini kurang memberikan ruang bagi proses dialektik ketiga unsur tersebut dan cenderung memberikan ruang dominasi yang sangat besar dan jarak hubungan antar ketiga unsur yang sangat lebar dan semakin jauh. Untuk itu perlu adanya upaya menghubungkan ketiga unsur ini secara sistematis dan hal ini baru dapat diwujudkan dalam sebuah desain model pendidikan yang mampu memberdayakan dan menyadarkan yaitu melalui pelatihan ( training ) model pendidikan seperti ini dipahami sebagai model pendidikan yang tepat bagi orang dewasa, karena orang dewasa akan bertindak secara sadar dan bertanggung jawab.

4. Unsur pluralitas yang paling sensitif dan seringkali menjadi pemicu konflik: Bangsa indonesia, merupakan bangsa yang disebut-sebut sebagai bangsa yang majemuk(plural). Bahkan dikatakan melebihi kebanyakan negara-negara lain sebab indonesia merupakan tidak saja multi-suku, multi-etnik, multi-agama, tetapi juga multi-budaya. Walaupun, seperti dikatakan Nurcholis Madjid, kemajemukan bukanlah keunikan suatu masyarakat atau bangsa tertentu, menurutnya apabila diamati lebih jauh dalam kenyataannya tidak ada suatu masyarakat pun yang benarbenar tunggal,uniter atau unitary, tanpa ada unsur-unsur perbedaan didalamnya. Kemajemukan dan multikulturalitas mengisyaratkan adanya perbedaan. Bila dikelola secara benar, kemajemukan multikulturalitas menghasilakan kekuatan positif bagi pembangunan bangsa. Sebaliknya, bila tidak dikelola secara benar, kemajemukan dan multikulturalitas bisa menjadi faktor destruktif dan

menimbulkan bencana dahsyat. Konflik dan kekerasan sosial yang sering terjadi antara kelompok masyarakat merupakan bagian dari kemajemukan dan multikulturalitas yang tidak dikelola dengan baik. Agama juga seringkali dapat menjadi pemicu timbulnya percikanpercikan yang dapat menyebabkan konflik horizontal antarpemelik agama. Srdarto menjelaskan bahwa beberapa konflik agama antara kaum muslim dan nasrani, seperti di Maumere (1997), Surabaya, Situbondo dan Tasikmalaya (1996), Rengasdengklok (1997), Jakarta, solo dan Kupang (1998), Poso, Ambon (19992002), bukan saja telah banyak merenggut korban jiwa yang sangat besar, akan tetapi juga telah menghancurkan ratusan tempat ibadah (baik gereja maupun masjid) terbakar dan hancur. Demikian pula kekerasan-kekerasan yang berbau etnis sering juga terjadi di negeri kita. Konsep pendidikan yang bisa disosialisasikan kepada masyarakat: Dengan cara membentuk pendidikan yang mampu menghasilkan manusia yang memiliki kesadaran nilai-nilai multikulturalisme. Ini diperlukan rekrontruksi pendidikan sosial keagamaan untuk memperteguh dimensi kontrak sosial keagamaan dalam pendidikan agama. Pendidikan berbasis multikultural akan membantu siswa dalam mengerti, menerima dan menghargai orang dari suku, budaya, nilai dan agama yang berbeda. Atau dengan kata lain siswa diajak untuk menghargai bahkan menjunjung tinggi pluralitas dan heterogenitas. Paradigma

pendidikan multikultural mengisyaratkan bahwa individu siswa belajar bersama dengan individu lain dalam suasana saling menghormati, saling toleransi dan saling memahami. 5. Alasan dalam lingkungan belajar anak didik perlu diciptakan situasi dan kondisi yang menyenangkan : Quantum taching ini merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik menjadi sebuah paket multisensori, multi kecerdasan, dan kompatibel dengan otak, yang pada akhirrnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk berprestasi. Sebagai sebuah pendekatan belajar yang segar, mengalir, praktis dan mudah diterapkan, dan quantum teaching ini menawarkan suatu sintesis dari hal-hal yang pendidik cari / butuhkan : cara-cara baru untuk memaksimalkan dampak usaha pengajaran penyampaian kurikulum, metodologi ini dibangun berdasarkan pengalaman delapan belas tahun dan penelitian berdasarkan 25.000 siswa, dan sinergi pendapat dari ratusan guru. Quantum teaching ini mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif. Merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar. Konsep quantum teaching : Bawalah dunia mereka ke dunia kita ; dan Antarkan dunia kita ke dunia mereka. Hal ini akan mengingatkan kita pada pentingnya memasuki dunia murid sebagai langkah pertama. Untuk mendapatkan hak mengajar pendidik harus membangun jembatan audentik memasuki kehidupan murid. Belajar melibatkan semua aspek kepribadian manusia, pikiran, perasaan, dan bahasa tubuh, disamping pengetahuan, sikap dan keyakinan. Alasan dalam lingkungan belajar anak didik perlu diciptakan situasi dan kondisi yang dinamis, menyenangkan. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dan pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Jadi dalam lingkungan belajar anak didik sangat perlu diciptakan situasi dan kondisi yang dinamis, menyenangkan agar minat untuk belajar siswa selalu ada dan siswa menjadi termitivasi untuk belajar.

Formulanya adalah dengan motivasi dan minat, dengan menerapkan kerangka rancangan yang dikenal dengan singkatan TANDUR 1. Tumbuhkan Maksudnya menumbuhkan minat dengan memuaskan. Apakah

manfaatnya BagiKU (AMBAK) dan memanfaatkan kehidupan pelajar. 2. Alami Maksudnya adalah menciptakan atau mendatangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar. 3. Namai Maksudnya adalah dengan menyediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi : sebuah masukan. 4. Demonstrasikan Maksudnya adalah dengan menyediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukkan bahwa mereka tahu 5. Ulangi Maksudnya adalah dengan menunjukkan pada pelajar cara-cara mengulangi materi dan menegaska Aku tahu bahwa kamu memang tahu ini 6. Rayakan Maksudnya adalah pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi dan pemerolehan dan ilmu pengetahuan.