Anda di halaman 1dari 5

Nama : Puspa Rini NIM : PO.71.39.0.09.

068

Penggolongan Beberapa Obat

No 1. Antipsikosis

Golongan

Nama Obat 1. Clozaril (clozapine 25mg) 2. Clorilex (clozapine 25mg) 3. Clopine (clozapine) 4. Sizoril (clozapine) 5. Risperidone 6. Persidal (Risperidone 2mg) 7. Nodiril (risperidone 2mg) 8. Seroquel (quetiapine) 9. Lodopin (zotepine) 10. Stelazine (trifluoperazine) 11. Haldol (haloperidol decanoat) 50mg/ml, ampul 12. Lodomer ( haloperidol) 5mg/ml, ampul 13. Cepezet 50 (cholrpromazine Hcl) 50mg, injeks.

2.

Antidemensia

Aricept (donepezil HCl 5mg) Fordesia (donepezil HCl 5mg) Aldomer (donepezil HCl)
1.

3.

Antidepresi

Ludios (marprotiline HCl) Tilson (marprotiline HCl) Kalxetin (fluoxetine HCl) ZAC (fluoxetine) Anafranil (clomipramine HCl) Zerlin (setraline) Serlof (setraline)
1.

4.

sedativ

Atarax (alprazolam 0,5mg) Zypraz (alprazolam 0,5mg) Alganax (alprazolam 0,25mg) Diazepam Lorazepam
1.

Nama : Puspa Rini NIM : PO.71.39.0.09.068

Methadon

Metadon merupakan suatu analgetika dan euforian karena bekerja pada reseptor opioid . Metadon merupakan agonis golongan morfin yang berasal dari bahan sintetik. Metadon ditemukan di Jerman pada perang dunia II sebagai obat penghilang rasa sakit. Metadon memberikan efek perubahan mood yang tidak begitu kuat dibanding heroin, tapi masa kerjanya lebih lama. Metadon juga dapat mengontrol emosi, memberikan efek sedatif/mengantuk, mengurangi batuk dan segala bentuk nyeri fisik. Efek yang lain namun jarang adalah mual dan muntah serta pernafasan yang cepat. Zat ini dapat dikonsumsi per oral atau parenteral. Absorbsinya baik melalui mukosa. Waktu paruh metadon adalah 15-31 jam atau rata-rata 24 jam. Konsentrasi maksimal dicapai setelah waktu 2 jam setelah ditelan. Waktu ekskresi metadon akan berlanjut atau metabolitnya terdapat dalam air seni hingga 96 jam sesudah dosis tunggal. Konsentrasi metadon dalam jaringan otak dan organ dalam lain lebih tinggi dibandingkan kadarnya dalam darah. Ikatan ini menyebabkan terjadinya akumulasi metadon dalam badan yang cukup lama bila seseorang berhenti menggunakan metadon. Metadon di metabolisir di hati dan eliminasinya melalui air seni dan tinja. Bentuk dasar metadon adalah kristal bubuk putih. Biasanya diberikan sebagai campuran dengan sirop atau sari buah. Metadon juga tersedia dalam bentuk yang dapat disuntikan. Pengguna diketahui menyuntikkan metadon "sirop", yang sering kali mengakibatkan masalah kesehatan.

Terapi Metadon untuk Pecandu Heroin

Heroin tergolong opioid semisintetik. Heroin lebih mudah larut dalam lemak, sehingga lebih mudah menembus blood brain barrier dibanding morfin. Heroin memiliki kekuatan 3 kali dibanding morfin dengan mula kerja lebih cepat. Absorbsi pada penggunaan secara oral berlangsung lambat. Metabolisme heroin terutama terjadi di hepar dan diekskresi melalui air seni dan empedu. Lebih dari 90% ekskresi terjadi dalam 24 jam pertama walaupun metabolitnya dapat dideteksi hingga 24 jam atau lebih dalam air seni. Metadon bukan penyembuh untuk ketergantungan opiat: selama memakai metadon, penggunanya tetap tergantung pada opiat secara fisik. Tetapi metadon menawarkan kesempatan pada penggunanya untuk mengubah hidupnya menjadi lebih stabil dan mengurangi risiko terkait dengan penggunaan narkoba suntikan, dan juga mengurangi kejahatan yang sering terkait dengan kecanduan. Dan karena diminum, penggunaan metadon mengurangi penggunaan jarum suntik bergantian, perilaku yang sangat berisiko penularan HIV dan virus lain. Tujuan PRM Poliklinik Rumatan Metadon (PRM), Tujuan utama PRM ini adalah meminimalkan risiko yang dialami penderita ketergantungan opioid dan menormalkan gaya hidup dan perilakunya. Selain itu, PRM juga mencegah penyakit yang menular melalui darah seperti HIV dan hepatitis dengan cara mengurangi pemakaian dan pertukaran jarum suntik. PRM juga dapat membantu orang yang ketergantungan obat mencapai keadaan bebas obat dengan cara detoksifikasi. Tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan status kesehatan pasien menuju normal dan produktif. Cara Pemakian Metado untuk Terapi : Metadon biasanya diberikan pada klien program dalam bentuk cairan (larutan sirop) yang diminum di bawah pengawasan di PTRM setiap hari. Setiap klien membutuhkan takaran yang berbeda, akibat perbedaan metabolisme, berat badan dan toleransi terhadap opiat. Beberapa waktu dibutuhkan untuk menentukan takaran metadon yang tepat untuk setiap klien. Pada awalnya, klien harus diamati setiap hari dan reaksi terhadap dosisnya dinilai. Jika klien menunjukkan tanda atau gejala putus zat, takaran harus ditingkatkan. Umumnya program mulai dengan takaran 20mg metadon dan kemudian ditingkatkan 5-10mg per hari. Biasanya klien bertahan dalam terapi dan mampu menghentikan penggunaan heroin dengan takaran metadon sedang hingga tinggi (60100mg). Efek Samping Metadon Walaupun metadon biasanya ditoleransi dengan baik, kadang kala klien mengalami efek samping:

mual muntah: 10-15% mengalami efek samping ini, yang biasanya hilang setelah beberapa hari sembelit: seperti opiat lain, gizi dan olahraga dapat membantu keringat: dapat muncul sebagai efek samping, atau karena takaran metadon tidak sesuai amenore: masa haid terlambat, atau kadang kala lebih teratur

libido: penurunan pada gairah seksual kelelahan: dapat dikurangi dengan mengurangi takaran gigi busuk: disebabkan oleh sirop

Informasi mengenai efek samping yang mungkin akan muncul harus diberikan pada klien. Interaksi Metadon dengan Obat Lain Metadon dapat berinteraksi dengan obat lain atau suplemen yang dipakai bersamaan (lihat Lembaran Informasi (LI) 407). Untuk informasi khusus mengenai interaksi antara metadon dan obat yang umumnya dipakai oleh Odha, lihat tabel di bawah. Dapat disimpulkan bahwa metadon tidak mempengaruhi tingkat obat antiretroviral (ARV) atau obat TB dalam darah, kecuali ddI (lihat LI 413) versi dapar (buffered) dan AZT (LI 411). Bila ada klien metadon yang memakai ddI, mungkin takaran ddI harus dinaikkan atau sebaiknya ddI versi dapar diganti dengan ddI EC (bila tersedia). Bila dipakai AZT (atau pil kombinasi yang mengandung AZT, mis. Duviral), mungkin efek samping AZT timbul kembali. Karena efek samping ini dapat serupa dengan sakaw, harus hati-hati membedakannya. Hal serupa terjadi setelah mulai terapi untuk hepatitis C. Tetapi beberapa obat dapat mempengaruhi efek metadon. Jadi petugas PTRM seharusnya selalu memantau penggunaan obat lain oleh kliennya, terutama bila mulai atau berhenti terapi TB. Bila setelah mulai atau berhenti penggunaan obat lain klien mengalami sakaw atau sedasi, takaran metadon harus disesuaikan.