Anda di halaman 1dari 111

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

ASSALAMUALAIKUM WR WB

SELAMAT DATANG
PESERTA DIKLAT FASILITATOR PEMBINA HISAB RUKYAT TINGKAT DASAR PUSDIKLAT TENAGA TEKNIS KEAGAMAAN BADAN LITBANG AGAMA DAN DIKLAT DEPARTEMEN AGAMA DEPARTEMEN AGAMA RI

DI LPMP DKI JAKARTAJL.NANGKA NO.60 TANJUNG BARAT PASAR MINGGU-JAKARTA SELATAN

JAKARTA 19 September 2006/ 26 Syaban 1427 H.

KAIDAH FALAKIYAH I

Dipersiapkan oleh: Cecep Nurwendaya Penceramah Planetarium & Observatorium Jakarta Tahun 2006

ROTASI BUMI: Penyebab gerak semu harian benda langit

Periode gerak rotasi Bumi sideris: 23jam 56menit 4detik (acuan bintang) Periode gerak rotasi Bumi sideris: 24 jam (acuan Matahari) Arah rotasi : dari barat ke timur

Gerak harian bintang, Bulan dan Matahari di Jakarta.

12o= 50m

1o= 4 menit

23jam 56 menit 4detik

KLS Barat

PERUBAHAN TINGGI MATAHARI KARENA GERAK HARIAN DI JAKARTA


PER-JAM SEKITAR 15 DERAJAT

TINGGI MATAHARI PADA SAAT YANG SAMA DI BERBAGAI TEMPAT


SETIAP BERPINDAH KE BARAT TINGGI MATAHARI SEMAKIN RENDAH ATAU WAKTU MUNDUR PERJAM SEBESAR 15 DERAJAT

PERUBAHAN TINGGI BULAN PADA SAAT MATAHARI TERBENAM


PER-HARI SEKITAR 12 DERAJAT

Gerak revolusi bumi mengitari matahari (gerak tahunan bumi)


Periode 1 tahun sideris = 365,2564 hari, Periode 1 tahun tropis = 365,2422518 hari

Gerak revolusi bumi mengitari matahari (gerak tahunan bumi)


Periode 1 tahun sideris = 365,2564 hari, Periode 1 tahun tropis = 365,2422518 hari

21 Maret

22 Des. 22 Juni

23 Sept.

Parallaks bintang: bukti Bumi mengitari Matahari


Latar belakang bintang jauh Bt2 Tahun 1883. F. Bessel: bintang 61 Cygni T. Henderson: bintang a Centauri (0,76) F. Struve : bintang Vega Bt Bt1

p (Parallaks)

r=1/p
r dalam parsec = 3,26 th cahaya p dalam detik busur

Bumi1
Matahari
Enam bulan kemudian

Bumi2

Jika Matahari mengitari Bumi: parallaks bintang tidak ada.


Latar belakang bintang jauh Bt1 = Bt2

Bintang

Mthr1
Bumi1 = Bumi2

Mthr2

PERIODE FASE VENUS = 583,92 HARI


FASE DAN DIAMETER SUDUT VENUS BERUBAH

GERAK REVOLUSI SATELIT JUPITER (GALILEO 1610)


Periode sideris: Io (1,769 hari) Europa (3,551 hari) Ganymede (7,155 hari) Callisto(16,689 hari)

Gerak harian Matahari di Khatulistiwa sepanjang tahun

Bergerak sekitar o= separuh lebar piringan matahari per-hari.

22 Des

22 Nop 22 Jan

22 Okt 22 Feb

21/3 22/3 21 Maret 21 April 23 Sept 22 Agust

21 Mei 22 Juli

22 Juni

Arah selatan

23,50

Barat

23,50

Arah utara

GERAK HARIAN MATAHARI SEPANJANG TAHUN

22 Juni TMP
21 Maret TMS 23 September TMG 22 Desember TMD

ARAH TERBIT MATAHARI SELALU BERGESER SEPANJANG TAHUN

EKUATOR LANGIT

GARIS BALIK UTARA

23,50

EKUATOR LANGIT

23,50

GARIS BALIK SELATAN

ARAH TERBENAM MATAHARI SELALU BERGESER SEPANJANG TAHUN

EKUATOR LANGIT

23,50

GARIS BALIK UTARA

EKUATOR LANGIT

GARIS BALIK SELATAN

23,50

POSISI DAN GERAK HARIAN MATAHARI DI BERBAGAI TEMPAT TGL. 21 MARET


KEMIRINGAN GERAK HARIAN MATAHARI TERGANTUNG PADA LINTANG PENGAMAT

POSISI DAN GERAK HARIAN MATAHARI DI BERBAGAI TEMPAT TGL. 22 JUNI

POSISI DAN GERAK HARIAN MATAHARI DI BERBAGAI TEMPAT DI BELAHAN SELATAN BUMI TANGGAL 22 JUNI 2006

GERAK PRESESI (GERAK GASING) SUMBU BUMI PERIODE PRESESI = 26.000 TAHUN

Bidang orbit bulan miring 5,20 terhadap bidang ekliptika (orbit bumi mengedari matahari)

Bidang orbit bulan miring 5,20 terhadap bidang ekliptika (orbit bumi mengedari matahari)
Kutub orbit bulan

Kutub ekliptika

Bidang ekliptika

50

ke arah bintang jauh

ke arah matahari

1 bulan Sideris = 27 1/3 hari


(bulan sudah memutari bumi 3600)

1 bulan Sinodis = 29 1/2 hari


(dari bulan baru ke bulan baru berikutnya)

PENAMPAKAN BENTUK / FASE BULAN


Kwartir Pertama

Sabit Muda

Bulan Besar

hilal

arah Barat
sinar matahari

Bumi
Bulan Baru (Ijtima)

arah Timur
Purnama

Sabit Tua

Bulan Susut

Kwartir Ketiga

Periode fase bulan = 29,53055 hari

PERUBAHAN PENAMPAKAN BENTUK FASE BULAN

L.H. Price (11 April 1994), umur bulan 1 hari

John Shibley (19 April 1996), umur bulan 2 hari.

Ronald Royer (1995), umur bulan 13 s/d 14 jam

Ivan Dryer (1995), umur bulan 13 s/d 14 jam

Peter Ledlie (Maret 1995), 20 s/d 30 menit setelah sunset umur bulan 13 s/d 14 jam.

Pengertian Hisab & Rukyat Hisab : Perhitungan astronomis menentukan awal bulan komariah (hijriyah) Rukyat: Pengamatan(observasi) hilal menentukan awal bulan komariah(hijriyah). Ijtima (bulan baru/New Moon, konjungsi,lunasi) adalah peristiwa segaris/sebidangnya pusat bulan dan matahari dari pusat bumi. - Bulan dan matahari memiliki bujur ekliptika (bujur astronomi) yang sama. - Fraksi illuminasi(pencahayaan) bulan minimum. - Posisi Istimewa saat ijtima berlangsung gerhana matahari. - Ijtima berlangsung bersamaan di seluruh tempat di permukaan bumi. Awal Bulan(New Month) penanggalan hijriyah. - Awal bulan(tanggal 1 bulan hijriyah)menandai awal penanggalan. - Awal bulan ditentukan pada setiap ghurub tanggal 29 bulan hijriyah. (Dalam kalender hijriyah awal tanggal dimulai saat matahari terbenam atau ghurub). - Jika pada saat ghurub tgl. 29 bulan hijriyah ijtima belum terjadi, secara astronomis keesokan harinya tgl. 30 di bulan yang sedang berlangsung. - Jika pada saat ghurub tgl. 29 bulan hijriyah ijtima sudah terjadi, tinggi hilal negatif maka keesokan harinya tgl. 30 di bulan yang sedang berlangsung. - Jika pada saat ghurub tgl. 29 bulan hijriyah ijtima sudah terjadi, tinggi hilal positif maka penentuan awal bulan berdasarkan kriteria awal bulan. Jika memenuhi kriteria keesokan harinya tgl. 1 bulan baru. Jika tidak memenuhi, keesokan harinya tgl. 30 di bulan yang sedang berlangsung.

GARIS KETINGGIAN HILAL 0o MENJELANG AWAL BULAN RAMADHAN 1427 H


1500 B 1000 500 00 500 1000 1500 T
Ijtima:22 Sept. 06 Jam :11.46 GMT

600 U ASIA 400 200 00 200 400


AMERIKA UTARA
SAMUDRA ATLANTIK

600 U

EROPA
400

AFRIKA
SAMUDRA PASIFIK

-20

SAMUDRA PASIFIK

200

-30
00

AMERIKA SELATAN

-10
SAMUDRA HINDIA AUSTRALIA

200 400

00
600 S 1500 B 600 S

1000

500

00

500

1000

1500 T

GARIS KETINGGIAN HILAL MENJELANG AWAL BULAN RAMADHAN 1427 H. DI WILAYAH INDONESIA
+100 950 BT 1000 1050 1100 1150 1200 1250 1300 1350 1400 +100

22 SEPTEMBER 2006

+ 50

+ 50

- 2O
00 00

- 50

- 50

- 100

- 100

- 1O
950 BT 1000 1050 1100

- 1,5O
1150 1200 1250 1300 1350 1400

Pada tanggal 29 bulan Syaban 1427 H., Jumat, 22 September 2006. Ijtima: 22 September 2006, Jam: 18.46 WIB.
Planetarium & Observatorium Jakarta

KEDUDUKAN BULAN & MATAHARI PADA TGL. 22 SEPT. 2006 ( tgl. 29 Syaban 1427 Hijriyah )
IJTIMA: Jumat, 22 Sept. 2006, Pkl. 11.46 GMT ( 18.46 WIB ) MTH. TERBENAM JAM. 17:49:48 WIB.

TINGGI HILAL= -010 11 1,5


UMUR HILAL = -56 MENIT

Barat
h = - 010 11 1,5

KAKI LANGIT (UFUK)

Utara

Pelabuhan Ratu

Selatan

Timur

TINGGI HILAL NEGATIF:


Pada saat Matahari terbenam Posisi hilal berada di bawah ufuk. Hilal terbenam terlebih dahulu dibanding Matahari.

KEDUDUKAN BULAN & MATAHARI PADA TGL. 22 SEPT. 2006 ( tgl. 29 Syaban 1427 Hijriyah ) di Pelabuhan Ratu Sukabumi.

BERTUK HILAL 22 SEPTEMBER 2006, PELABUHAN RATU hilal


Fraksi Illuminasi = 0,002 % Umur hilal = - 0 jam 56 menit Bulan sabit tua menjelang Akhir bulan Syaban 1427 H.

Hilal Ramadhan 1426 H. di Pelabuhan ratu (1060 33 BT, 070 02 LS) Jumat, 22 September 2006/29 Syaban 1427 H.
Ijtima: 22 September 2006 Pkl. 11.46 GMT (18.46 WIB) Tinggi hilal mari saat ghurub (17:49.48 WIB) = - 10 11 1,5

Mekkah, Jumat 22 September 2006 Matahari terbenam Pkl. 18.17.21 Waktu Saudi

BERTUK HILAL 22 SEPTEMBER 2006, MEKKAH


Fraksi Illuminasi = 0,018 % Umur hilal = 3 jam 31 menit

hilal

Hilal Ramadhan 1427 H. di Mekkah (390 49 BT, 210 26 LU) Jumat, 22 September 2006
Ijtima: 22 Sept. 2006, Pkl. Jam 11.46 GMT (14.46 WS) Tinggi hilal saat ghurub (18.17.21 Waktu Saudi) = - 00 23,9

JALUR GERHANA MATAHARI CINCIN (ANNULAR) 22 SEPTEMBER 2006

LINTASAN GERHANA MATAHARI CINCIN (ANNULAR) 22 SEPTEMBER 2006, LAUT ATLANTIK

GERHANA MATAHARI CINCIN (ANNULAR) 22 SEPTEMBER 2006, LAUT ATLANTIK

GARIS KETINGGIAN HILAL 00 MENJELANG AWAL BULAN SYAWAL 1427 H


1500 B 1000 500 00 500 1000 1500 T
Ijtima: 22 Okt.2006 Jam : 05.15 GMT

600 U ASIA 400 200 00 200 400


AMERIKA UTARA
SAMUDRA ATLANTIK SAMUDRA PASIFIK

600 U
EROPA 400 200 00

AFRIKA

-10
SAMUDRA PASIFIK

AMERIKA SELATAN

10 00
SAMUDRA HINDIA AUSTRALIA

200 400

600 S 1500 B 1000 500 00 500 1000 1500 T

600 S

GARIS KETINGGIAN HILAL MENJELANG AWAL BULAN SYAWAL 1427 H. DI WILAYAH INDONESIA
+100 950 BT 1000

1050

1100

1150

1200

1250

1300

1350

1400

+100

22 OKTOBER 2006

- 1O
+ 50

+ 50

00

00

- 50

- 50

0O
- 100 950 BT 1000 1050

1O
1100 1150 1200 1250 1300 1350 1400

- 100

Pada tanggal 29 bulan Ramadhan 1427 H., Ahad, 22 Oktober 2006. Ijtima: 22 Oktober 2006, Jam: 12.15 WIB.
Planetarium & Observatorium Jakarta

KEDUDUKAN BULAN & MATAHARI PADA TGL. 22 OKTOBER 2006


IJTIMA: Ahad, 22 Oktober 2006, Pukul. 05.15 GMT (12.15 WIB) MTH. TERBENAM JAM. 17.47.17 WIB.

TINGGI HILAL= +00 42,6 UMUR HILAL = 05 JAM 32MENIT

Barat
h= 00 42,6

KAKI LANGIT (UFUK)

Utara

Pelabuhan Ratu

Selatan

Timur

TINGGI HILAL POSITIF:


Pada saat Matahari terbenam Posisi hilal berada di atas ufuk. Matahari terbenam terlebih dahulu dibanding hilal.

KEDUDUKAN BULAN & MATAHARI PADA TGL. 22 OKT. 2006 ( tgl. 29 Ramadhan 1427 Hijriyah ) di Pelabuhan Ratu Sukabumi.

BERTUK HILAL 22 OKTOBER 2006, PELABUHAN RATU


Fraksi Illuminasi = 0,126 % Umur hilal = 5 jam 32 menit

hilal

Hilal Syawal 1427 H. di Pelabuhan ratu. Ahad, 22 Oktober 2006


Ijtima: 22 Oktober 2006 Pukul. 05.15 GMT (12.15 WIB) Tinggi hilal mari saat ghurub (17:47:17 WIB) =00 42,6 Hilal terbenam, Pukul: 17.50.53 WIB.

Hilal Syawal 1427 H. di Mekkah. Ahad, 22 Oktober 2006


Ijtima: 22 Oktober 2006, Pukul. 05.15 GMT (08.15 WS)

BERTUK HILAL 22 OKTOBER 2006, MEKKAH


Fraksi Illuminasi = 0,233 % Umur hilal = 9 jam 36 menit

hilal

Hilal Syawal 1427 H. di Mekkah. Ahad, 22 Oktober 2006


Ijtima : 22 Oktober 2006 Pukul. 05.15 GMT (08.15 WS) Ghurub : 17.51.09 WS ; tinggi hilal = - 00 05,3

GARIS KETINGGIAN HILAL 00 MENJELANG AWAL BULAN DZULHIJJAH 1427 H


1500 B 1000 500 00 500 1000 1500 T
Ijtima: 20 Des.2006 Jam : 14.02 GMT

600 U ASIA 400 200 00 200 400


AMERIKA UTARA
SAMUDRA ATLANTIK SAMUDRA PASIFIK

600 U
EROPA 400 200 00 200 400

AFRIKA -20
SAMUDRA PASIFIK

-30 -10

AMERIKA SELATAN

00
SAMUDRA HINDIA AUSTRALIA

600 S 1500 B 1000 500 00 500 1000 1500 T

600 S

GARIS KETINGGIAN HILAL MENJELANG AWAL BULAN DZULHIJJAH 1427 H. DI WILAYAH INDONESIA
+100 950 BT 1000

1050

1100

1150

1200

1250

1300

1350

1400

+100

20 DESEMBER 2006

- 4O
+ 50

+ 50

00

- 3O

00

- 50

- 50

- 2O
- 100 950 BT 1000 1050 - 100 1100 1150 1200 1250 1300 1350 1400

1O

Pada tanggal 29 bulan Dzulqadah 1427 H., Rabu, 20 Desember 2006. Ijtima: 20 Desember 2006, Jam: 21.02 WIB.
Planetarium & Observatorium Jakarta

KEDUDUKAN BULAN & MATAHARI PADA TGL. 20 DES. 2006 ( tgl. 29 Dzulqadah 1427 Hijriyah ) di Pelabuhan Ratu Sukabumi.

BERTUK HILAL 20 DESEMBER 2006, PELABUHAN RATU


Fraksi Illuminasi = 0,207 %

Umur hilal = -2 jam 55 menit

hilal

Bulan sabit tua menjelang Akhir bulan Dzulqadah 1427 H.

TINGGI HILAL NEGATIF:


Pada saat Matahari terbenam Posisi hilal berada di bawah ufuk. Hilal terbenam terlebih dahulu dibanding Matahari.

KEDUDUKAN BULAN & MATAHARI PADA TGL. 20 DESEMBER 2006


IJTIMA: Rabu, 20 Desember 2006, JAM 14.02 GMT (21.02 WIB) MTH. TERBENAM JAM. 18.07.17 WIB.

TINGGI HILAL= -010 33,6 UMUR HILAL = - 02 JAM 55MENIT

Barat
h = -10 33,6

KAKI

LANGIT

Utara

Pelabuhan Ratu

Selatan

Timur

Hilal Dzulhijjah 1427 H. di Pelabuhan ratu. Rabu, 20 Desember 2006


Ijtima: 20 Desember 2006, Pukul.14.02 GMT (21.02 WIB) Tinggi hilal: -10 33,6 ; Beda azimuth hilal-matahari = 50 6,9

KEDUDUKAN BULAN & MATAHARI PADA TGL. 20 DES. 2006 ( tgl. 29 Dzulqadah 1427 Hijriyah ) di Mekkah Saudi Arabia.

BERTUK HILAL 20 DESEMBER 2006, MEKKAH


Fraksi Illuminasi = 0,188 % Umur hilal = 0 jam 41 menit

hilal

Hilal Dzulhijjah 1427 H. di Mekkah. Rabu, 20 Desember 2006


Ijtima: 20 Desember 2006 Jam 14.02 GMT (17.02 Waktu Saudi) Tinggi hilal Mari= -20 51,7

GERHANA BULAN PARSIAL 7/8 SEPTEMBER 2006

GERHANA BULAN PARSIAL 7/8 SEPTEMBER 2006

GERHANA BULAN PARSIAL JAKARTA, 7-8 SEPTEMBER 2006 UMBRA: 01.07 S.D 02.36 WIB

GERHANA BULAN PARSIAL JAKARTA, 7-8 SEPTEMBER 2006 BUMI -BULAN

GERHANA BULAN PARSIAL (SEBAGIAN) 7/8 SEPTEMBER 2006


U
KONTAK : P1 = 23.42 WIB
(7 SEPT.2006)

MID = 01.52 WIB (8 SEPT.2006) UMAG = 0,1897 = 19 %

U1 = 01.07 WIB
PENUMBRA BUMI
(8 SEPT.2006)

U4 = 02.36 WIB
UMBRA BUMI

P4 = 04.00 WIB

T
P4
+

KONTAK : P1 = 23.42 WIB


+

U4
+ + +

U1

P1
+ +

MID

GERHANA BULAN PARSIAL JAKARTA, 8 SEPTEMBER 2006 MID (TENGAH GERHANA) PUKUL: 01.52 WIB.

ANALEMMA MATAHARI DI JAKARTA

Heliosentrik
Hukum-hukum Kepler: 1. Orbit planet adalah elips, Matahari di salah satu titik fokusnya. 2. Untuk selang waktu yang sama, daerah (di dalam orbit) yang disapu oleh garis menghubungkan planet dengan Matahari sama. 3. P2 = Ka3.

Pengertian Hisab & Rukyat Hisab : Perhitungan astronomis menentukan awal bulan komariah (hijriyah) Rukyat: Pengamatan(observasi) hilal menentukan awal bulan komariah(hijriyah). Ijtima (bulan baru/New Moon, konjungsi,lunasi) adalah peristiwa segaris/sebidangnya pusat bulan dan matahari dari pusat bumi. - Bulan dan matahari memiliki bujur ekliptika (bujur astronomi) yang sama. - Fraksi illuminasi(pencahayaan) bulan minimum. - Posisi Istimewa saat ijtima berlangsung gerhana matahari. - Ijtima berlangsung bersamaan di seluruh tempat di permukaan bumi. Awal Bulan(New Month) penanggalan hijriyah. - Awal bulan(tanggal 1 bulan hijriyah)menandai awal penanggalan. - Awal bulan ditentukan pada setiap ghurub tanggal 29 bulan hijriyah. (Dalam kalender hijriyah awal tanggal dimulai saat matahari terbenam atau ghurub). - Jika pada saat ghurub tgl. 29 bulan hijriyah ijtima belum terjadi, secara astronomis keesokan harinya tgl. 30 di bulan yang sedang berlangsung. - Jika pada saat ghurub tgl. 29 bulan hijriyah ijtima sudah terjadi, tinggi hilal negatif maka keesokan harinya tgl. 30 di bulan yang sedang berlangsung. - Jika pada saat ghurub tgl. 29 bulan hijriyah ijtima sudah terjadi, tinggi hilal positif maka penentuan awal bulan berdasarkan kriteria awal bulan. Jika memenuhi kriteria keesokan harinya tgl. 1 bulan baru. Jika tidak memenuhi, keesokan harinya tgl. 30 di bulan yang sedang berlangsung.

HISAB URFI TAHUN HIJRIAH No.Bulan 1 Muharram 2 Shafar 3 Rabiul Awwal 4 Rabiul Tsani 5 Jumadil Ula 6 Jumadil Tsaniyah 7 Rajab 8 Syaban 9 Ramadhan 10 Syawal 11 Dzulqadah 12 Dzulhijjah Umur 30 hari 29 30 29 30 29 30 29 30 29 30 29/30

Siklus 30 tahunan
Periode Sinodis bulan = 29 11/30 hari.

Tahun 1.

Umur 354 hari

2.
3. 4.

355
354 354

5.
6.

355
354

7.
8. 9.

355
354 354

10.
11. 12.

355
354 354

13.
14. 15.

355
354 354

Tahun 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

Umur 355 hari 354 355 354 354 355 354 354 355 354 355 354 354 355 354

PERUBAHAN TINGGI MATAHARI KARENA GERAK HARIAN DI JAKARTA


PER-JAM SEKITAR 15 DERAJAT

TINGGI MATAHARI PADA SAAT YANG SAMA DI BERBAGAI TEMPAT


SETIAP BERPINDAH KE BARAT TINGGI MATAHARI SEMAKIN RENDAH ATAU WAKTU MUNDUR PERJAM SEBESAR 15 DERAJAT

POSISI DAN GERAK HARIAN MATAHARI DI BERBAGAI TEMPAT TGL. 21 MARET


KEMIRINGAN GERAK HARIAN MATAHARI TERGANTUNG PADA LINTANG PENGAMAT

POSISI DAN GERAK HARIAN MATAHARI DI BERBAGAI TEMPAT TGL. 22 JUNI

POSISI DAN GERAK HARIAN MATAHARI DI BERBAGAI TEMPAT TGL. 22 JUNI

ARAH TERBENAM MATAHARI SELALU BERGESER SEPANJANG TAHUN

EKUATOR LANGIT

23,50

GARIS BALIK UTARA

EKUATOR LANGIT

GARIS BALIK SELATAN

23,50

ARAH TERBIT MATAHARI SELALU BERGESER SEPANJANG TAHUN

EKUATOR LANGIT

GARIS BALIK UTARA

23,50

EKUATOR LANGIT

23,50

GARIS BALIK SELATAN

PERIODE FASE VENUS = 583,92 HARI


FASE DAN DIAMETER SUDUT VENUS BERUBAH

GERAK REVOLUSI SATELIT JUPITER (GALILEO 1610)


Periode sideris: Io (1,769 hari) Europa (3,551 hari) Ganymede (7,155 hari) Callisto(16,689 hari)

Gerak revolusi bumi mengitari matahari (gerak tahunan bumi)


Periode 1 tahun sideris = 365,2564 hari, Periode 1 tahun tropis = 365,2422518 hari

21 Maret

22 Des. 22 Juni

23 Sept.

PERUBAHAN TINGGI BULAN PADA SAAT MATAHARI TERBENAM


PER-HARI SEKITAR 12 DERAJAT

BULAN BULAN

BULAN BULAN

PARSIAL

TOTAL

CINCIN

TOTAL

PARSIAL

PARSIAL

PENUMBRA

PENUMBRA

PENAMPAKAN BENTUK / FASE BULAN


Kwartir Pertama

Sabit Muda

Bulan Besar

hilal

arah Barat
sinar matahari

Bulan Baru (Ijtima)

arah Timur
Purnama

Bumi
Bulan Susut

Sabit Tua

Kwartir Ketiga

Periode fase bulan = 29,53055 hari

Parallaks bintang: bukti Bumi mengitari Matahari


Bt2 Tahun 1883. F. Bessel: bintang 61 Cygni T. Henderson: bintang a Centauri (0,76) F. Struve : bintang Vega Bt Bt1

p (Parallaks)

r=1/p
r dalam parsec = 3,26 th cahaya p dalam detik busur

Bumi1 Matahari

Bumi2

Jika Matahari mengitari Bumi: parallaks bintang tidak ada.


Latar belakang bintang jauh Bt1 = Bt2

Bintang

Mthr1
Bumi1 = Bumi2

Mthr2

Heliosentrik
Hukum-hukum Kepler: 1. Orbit planet adalah elips, Matahari di salah satu titik fokusnya. 2. Untuk selang waktu yang sama, daerah (di dalam orbit) yang disapu oleh garis menghubungkan planet dengan Matahari sama. 3. P2 = Ka3.

Geosentrik
Aristotle: Bumi itu bulat!
Bayangan Bumi yang menutupi Bulan pada saat gerhana selalu bulat. Letak kutub langit berubah jika orang bepergian jauh ke utara/selatan.

Heliosentrik
Sebetulnya sudah dipercaya oleh Aristarchus (310-230 SM) tapi tidak berkembang.

Copernicus (Polandia; 1473-1543):


Tidak suka pada kerumitan sistem Ptolemy. Mengasumsikan bahwa Matahari ada di pusat alam semesta. Karena gerak yang beraturan, manusia tidak harus merasakan gerakan Bumi. Planet yang lebih dekat ke Matahari mengorbit lebih cepat.

PENAMPAKAN BENTUK BULAN (FASE BULAN)


Kwartir Pertama

Bulan Besar

Sabit Muda

Bumi
hilal Purnama
Timur

sinar matahari Bulan Baru (Ijtima)


Barat

Bulan Susut

Sabit Tua

Kwartir Ketiga

Periode fase bulan = 29,53055 hari

Bidang orbit bulan miring 5,20 terhadap bidang ekliptika (orbit bumi mengedari matahari)