Anda di halaman 1dari 11

PROPOSAL TAK STIMULASI PERSEPSI TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK

Diajukan untuk memenuhi Tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa

Disusun oleh : Afidha Kumala Putri Damanti Novianda Deni Irwanto Istriana Nurul Huda Zaen Siswinda Cahyani M

PRODI DIII KEPERAWATAN SEMARANG JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG 2011/2012

PROPOSAL TAK STIMULASI PERSEPSI TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK

TAK STIMULASI PERSEPSI SESI 1 : MENONTON TELEVISI

I.

LATAR BELAKANG Pada pasien gangguan jiwa dengan kasus waham, klien mengalami gangguan presepsi

yang sangat mendasar. Atas dasar tersebut maka kami menganggap dengan therapy aktivitas Kelompok (TAK) klien dengan gangguan presepsi dapat tertolong dalam hal sosialisasi yang lebih besar ruang lingkupnya dengan lingkungan sekitarnya, tentu saja klien yang mengikuti terapi ini adalah klien yang sudah mampu mengontrol dirinya dari waham sehingga pada saat TAK klien dapat berkerja sama dan tidak mengganggu anggota kelompok yang lain. II. WAHAM 1. Pengertian Waham merupakan keyakinan seseorang berdasarkan penelitian realistis yang salah, keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya (Keliat, BA, 1998). Waham adalah kepercayaan yang salah terhadap objek dan tidak konsisten dengan latar belakang intelektual dan budaya (Rawlins, 1993). Waham dibangun atas unsur-unsur yang tidak berdasarkan logika, individu tidak mau melepaskan wahamnya, walaupun telah tersedia cukup buktibukti yang objektif tentang kebenaran itu. Biasanya waham digunakan untuk mengisi keperluan atau keinginan-keinginan dari penderita itu sendiri. Waham merupakan suatu cara untuk memberikan gambaran dari berbagai problem sendiri atau tekanan-tekanan yang ada dalam kepribadian penderita biasanya: a. Keinginan yang tertekan. b. Kekecewaan dalam berbagai harapan. c. Perasaan rendah diri. d. Perasaan bersalah. e. Keadaan yang memerlukan perlindungan terhadap ketakutan.

2.

Faktor Predisposisi dan Prespitasi Faktor predisposisi yang mungkin mengakibatkan timbulnya waham (Stuart dan Sundeen, 1995.dikutip oleh Keliat, B.A.1998) adalah: a. Biologis Gangguan perkembangan dan fungsi otak / SSp. yang menimbulkan. 1) Hambatan perkembangan otak khususnya kortek prontal, temporal dan limbik. 2) Pertumbuhan dan perkembangan individu pada prenatal, perinatal, neonatus dan kanak-kanak. b. Psikososial Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon psikologis dari klien. Sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi seperti penolakan dan kekerasan. c. Sosial Budaya Kehidupan sosial budaya dapat pula mempengaruhi timbulnya waham seperti kemiskinan. Konflik sosial budaya (peperangan, kerusuhan, kerawanan) serta kehidupan yang terisolasi dan stress yang menumpuk. Faktor prespitasi yang biasanya menimbulkan waham merupakan karakteristik umum latar belakang termasuk riwayat penganiayaan fisik / emosional, perlakuan kekerasan dari orang tua, tuntutan pendidikan yang perfeksionis, tekanan, isolasi, permusuhan, perasaan tidak berguna ataupun tidak berdaya.

3.

Tanda dan Gejala Tanda dan gejala yang dihasilkan atas penggolongan waham (Standar Asuhan Keperawatan Jiwa RSJP Bogor di kutip oleh RSJP Banjarmasin, 2001) yaitu: a. Irritable b. Ekspresi wajah tegang c. Cenderung menghindari orang lain d. Menolak makan dan minum e. Cenderung mencurigai orang lain f. Sering diam, menyendiri. g. Gerakan tidak terkontrol h. Juga bisa sampai melukai orang lain

4.

Jenis-Jenis Waham a. Waham Kebesaran Penderita merasa dirinya orang besar, berpangkat tinggi, orang yang pandai sekali, orang kaya. b. Waham Berdosa Timbul perasaan bersalah yang luar biasa dan merasakan suatu dosa yang besar. Penderita percaya sudah selayaknya ia di hukum berat. c. Waham Dikejar Individu merasa dirinya senantiasa di kejar-kejar oleh orang lain atau kelompok orang yang bermaksud berbuat jahat padanya. d. Waham Curiga Individu merasa selalu disindir oleh orang-orang sekitarnya. Individu curiga terhadap sekitarnya. Biasanya individu yang mempunyai waham ini mencaricari hubungan antara dirinya dengan orang lain di sekitarnya, yang bermaksud menyindirnya atau menuduh hal-hal yang tidak senonoh terhadap dirinya. Dalam bentuk yang lebih ringan, kita kenal Ideas of reference yaitu ide atau perasaan bahwa peristiwa tertentu dan perbuatan-perbuatan tertentu dari orang lain (senyuman, gerak-gerik tangan, nyanyian dan sebagainya) mempunyai hubungan dengan dirinya. e. Waham Cemburu Selalu cemburu pada orang lain. f. Waham Somatik atau HipokondriaKeyakinan tentang berbagai penyakit yang berada dalam tubuhnya seperti ususnya yang membusuk, otak yang mencair. g. Waham Keagamaan Waham yang keyakinan dan pembicaraan selalu tentang agama. h. Waham Nihilistik Keyakinan bahwa dunia ini sudah hancur atau dirinya sendiri sudah meninggal. i. Waham Pengaruh Yaitu pikiran, emosi dan perbuatannya diawasi atau dipengaruhi oleh orang lain atau kekuatan.

5.

Penatalaksanaan Perawatan dan pengobatan harus secepat mungkin dilaksanakan karena, kemungkinan dapat menimbulkan kemunduran mental. Tetapi jangan

memandang klien dengan waham pada gangguan skizofrenia ini sebagai pasien yang tidak dapat disembuhkan lagi atau orang yang aneh dan inferior bila sudah dapat kontak maka dilakukan bimbingan tentang hal-hal yang praktis. Biar pun klien tidak sembuh sempurna, dengan pengobatan dan bimbingan yang baik dapat ditolong untuk bekerja sederhana di rumah ataupun di luar rumah. Keluarga atau orang lain di lingkungan klien diberi penjelasan (manipulasi lingkungan) agar mereka lebih sabar menghadapinya. Penatalaksanaan klien dengan waham meliputi farmako terapi, ECT dan terapi lainnya seperti: terapi psikomotor, terapi rekreasi, terapi somatik, terapi seni, terapi tingkah laku, terapi keluarga, terapi spritual dan terapi okupasi yang semuanya bertujuan untuk memperbaiki perilaku klien dengan waham pada gangguan skizofrenia. Penatalaksanaan yang terakhir adalah rehablitasi sebagai suatu proses refungsionalisasi dan pengembangan bagi klien agar mampu melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dalam kehidupan masyarakat.

III. 1.

TUJUAN TUJUAN UMUM Klien mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang

diakibatkan oleh paparan stimulus kepadanya 2. TUJUAN KHUSUS a. b. c. Klien mampu memyebutkan apa yang dilihat Klien dapat memberikan pendapat terhadap acara tv/video yang ditonton Klien dapat memberikan tanggapan terhadap pendapat klien lain

IV. 1. 2. V.

KRITERIA KLIEN Klien dengan masalah stimulasi persepsi Klien sudah kooperatif PROGRAM SELEKSI Klien yang dapat mengikuti TAK didapatkan dari : a. Berdasarkan pasien kelolaan mahasiswa (kelompok)
5

b. c.

Berdasarkan seleksi kelompok Berdasarkan rekomendasi dari perawat ruangan

VI.

URAIAN STRUKTUR KELOMPOK a. b. c. d. Tempat Hari/tanggal Waktu Pengorganisasian Leader : Di Kelas 2A2 Reguler : Senin/13 Februari 2012 : 10.15 11.00 WIB :

: Deni Irwanto Tugasnya: sebagai pembuka acara, mengontrol TAK dan sebagai pembawa acara selama kegiatan TAK

Co leader

: Hery Alifianto Tgasnya: Membantu leader mengarahkan dan mengontrol jalannya TAK

Fasilitator

: Afidha Kumala Putri, Damanti novianda, Istriana, Nurul Huda Zaen dan Siswinda Cahyani Murniati Tugasnya: Mempersiapkan alat,tempat,dan klien

Observer

: Deni Irwanto Tugasnya: Memantau dan mengevaluasi hasil selama TAK berlangsung, dari awal kegiatan sampai proses TAK selesai.

Klien

: Kartika Adhi Sukma, Purwati Listyorini, Laila Isna Khoerun Nisa, Egna Yunita, Wahyu Tri Haryani

VII.

SETTING TEMPAT

1. Terapis dan klien duduk bersama setengah lingkaran menghadap tv a. Ketika perkenalan

b. Ketika menonton video

: Fasilitator

: Klien

: Televisi

: Leader

: Co Leader dan Observer

2. Ruangan nyaman dan tenang

VIII.

ALAT

1. Televisi dan/atau video player 2. Kaset video 3. Buku catatan dan pulpen 4. Jadwal kegiatan klien

IX. 1. 2.

METODE Dinamika kelompok Diskusi dan tanya jawab


7

X.

RENCANA PELAKSANAAN NO Terapi 1 Persiapan : a. Menyiapkan ruangan b. Menyiapkan alat c. Menyiapkan pasien 2 Proses: a. Membuka proses TAK : 2 menit mengucapkan salam, a. Menjawab salam Waktu 10 menit Subyektif terapi Ruangan,alat,klien

memperkenalkan kelompok b. Menjelaskan kepada klien tujuan TAK c. Melaksanakan TAK d. Mengevaluasi respon klien 10 menit 10 menit d. klien mengungkapkan perasaannya 8 menit c. mengikuti TAK b. memperhatikan

Penutup Menyimpulkan dan mengucapkan salam

5 menit

a. b.

memperhatikan menjawab salam

XI.

LANGKAH KEGIATAN

1. Persiapan a. Memilih dan membuat kontrak dengan klien sesuai dengan indikasi : klien perubahan sensori persepsi dan klien menarik diri yang telak mengikuti TAKS b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi a. Salam teraupetik 1) salam dari terapis 2) perkenalan nama, dan panggilan terapis
8

3) menanyakan nama dan panggilan semua klien

b. Evaluasi/validasi 1) menanyakan perasaan klien saat ini 2) menanyakan masalah yang dirasakan c. Kontrak 1) menjelaskan tujuan kegiatan , yaitu menoton tv dan bercakap-cakap tentang tv yang ditonton. 2) menjelaskan aturan main berikut.

Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada terapis. Lama kegiatan 45 menit. Klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai

3. Tahap kerja a. Tentukan acara televisi yang menarik dan mudah dimengerti oleh klien b. Beri kesempatan bagi klien untuk menonton acara tv selama 10 menit dan setelah itu TV dimatikan c. Tanyakan pendapat seorang klien mengenai acara TV yag telah ditonton d. Tanyakan pendapat klien lain terhadap pendapat klien sebelumnya e. Berikan pujian / penghargaan atas kemampuan klien memberi pendapat f. Ulangi c,d dan e sampai semua klien mendapat kesempatan g. Beri kesimpulan tentang acara TV yang ditonton

4. Tahap terminasi a. Evaluasi 1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK 2) Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok b. Tindak lanjut 1) Menganjurkan klien untuk melatih kempampuan mempersepsikan tanyangan TV tertentu dan mendiskusikannya pada orang lain 2) Membuat jadwal nonton TV c. Kontrak yang akan datang 1) Menyepakati kegiatan TAK yang akan datang
9

2) Menyepakati waktu dan tempat

XII.

EVALUASI DAN DOKUMENTASI Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlansung, khususnya pada tahap kerja. Aspek

yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. untuk TAK stimulasi persepsi umum, sesi 1 kemampuan yang diharapkan adalah memberi pendapat tentang acara TV, memberi tanggapan terhadap pendapat klien lain dan mengikuti kegiatan sampai selesai. Formulir evaluasi sebagai berikut.

SESI 1 : TAK STIMULASI PERSEPSI Kempampuan persepsi : Menonton TV

No

Aspek yang dinilai Nama Klien :

Memberi

pendapat

tentang acara TV 2 Memberi terhadap klien lain 3 Mengikuti sampai selesai kegiatan tanggapan pendapat

Petunjuk : 1. 2. Dibawah judul nama klien, tulis nama panggilan klien yang ikut TAK Untuk tiap klien, semua aspek dinilai dengan memberi tanda-tanda jika diemukan pada klien atau x jika tidak ditemukan Presentasi jumlah klien yang mengikuti kegiatan sesuai dengan yang direncanakan : 90% dari jumlah klien mampu menjelaskan/menceritakan tentang video yang ditampilkan.
10

80% dari jumlah klien mampu menceritakan apa yang ada pada waham. 70% dari jumlah klien mampu menterjemahkan perintah permainan 70% dari jumlah klien mampu mengikuti aturan main yang telah ditentukan 50% dari jumlah klien mau mengemukakan pendapat tentang therapi aktifitas kelompok yang dilakukan.

Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien ketika TAK ada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh catatan :klien mengikuti TAK stimulasi persepsi (TV), klien mampu dan benar memberikan pendapat tentang acara TV, tetapi belum memberi tanggapan pada pendapat klien lain. anjurkan menonton TV bersama klien lain dan bercakap-cakap tentang acara TV (buat jadwal).

11