Anda di halaman 1dari 12

GERAKAN TANAH

(MAKALAH)

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH GEOLOGI FISIK

OLEH : NAMA 1.ABDUL ARIF 2.DERRY AGUSTIAN 3.ELGATANIA 4.MARIA JEANE INGGRID NIM 103 11 11 009 103 11 11 040 103 11 11 041 103 11 11 004

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG T.A 2011/2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas laporan ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tugas ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi, penulisan maupun kata-kata yang digunakan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan Makalah Gerakan Tanah ini lebih lanjut, akan penulis terima dengan senang hati. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas ini. Akhirnya, tiada gading yang tak retak, meskipun dalam penyusunan laporan ini penulis telah mencurahkan semua kemampuan, namun penulis sangat menyadari bahwa hasil penyusunan laporan ini jauh dari sempurna karena kurangnya kemampuan penulis. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran serta kritik yang membangun dari berbagai pihak.

Pangkalpinang, 13 Juni 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Australia yang bergerak saling menumbuk. Akibat tumbukan antara lempeng itu maka terbentuk daerah penunjaman memanjang di sebelah Barat Pulau Sumatera, sebelah Selatan Pulau Jawa hingga ke Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara, sebelah Utara Kepulauan Maluku, dan sebelah Utara Papua. Konsekuensi lain dari tumbukan itu maka terbentuk palung samudera, lipatan, punggungan dan patahan di busur kepulauan, sebaran gunungapi, dan sebaran sumber gempabumi. Gunungapi yang ada di Indonesia berjumlah 129. Angka itu merupakan 13% dari jumlah gunungapi aktif dunia. Dengan demikian Indonesia rawan terhadap bencana letusan gunungapi dan gempabumi. Di beberapa pantai, dengan bentuk pantai sedang hingga curam, jika terjadi gempabumi dengan sumber berada di dasar laut atau samudera dapat menimbulkan gelombang Tsunami.

Jenis tanah pelapukan yang sering dijumpai di Indonesia adalah hasil letusan gunungapi. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Tanah pelapukan yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan/punggungan dengan kemiringan sedang hingga terjal berpotensi mengakibatkan tanah longsor pada musim hujan dengan curah hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, maka kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor .

2.

Rumusan Masalah Apa itu gerakan tanah atau tanah longsor? Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan tanah atau tanah longsor? Apa saja gejala-gejala terjadinya tanah longsor? Bagaimana cara mengatasi tanah longsor?

3. Manfaat Manfaat dari penulisan ini adalah untuk mengetahui apa itu tanah longsor, apa saja faktor-faktor yang mempengaruhinya, gejala-gejalanya dan bagaimana cara mengatasi tanah longsor tersebut.

BAB II PEMBAHASAN

1. Pengertian Gerakan Tanah atau Tanah Longsor Gerakan tanah atau tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan,tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng. 2. Jenis-Jenis Tanah Longsor Ada 6 jenis tanah longsor, yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok,runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Jenis longsoran translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban. jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan. 1. Longsoran Translasi Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

2.

Longsoran Rotasi

Longsoran rotasi adalah bergerak-nya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.

3.

Pergerakan Blok

Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.

4. Runtuhan Batu Runtuhan batu terjadi ketika sejum-lah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas.Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga menggantung terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah

5. Rayapan Tanah Rayapan Tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.

6. Aliran Bahan Rombakan Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai di sekitar gunungapi. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.

3. Faktor Internal dan Eksternal yang Berpengaruh Terhadap Gerakan Tanah Faktor Internal a. Litologi Litologi dapat tersusun oleh batuan atau soil yang merupakan hasil dari lapukan batuan tersebut. Litologi merupakan faktor yang penting dalam terjadinya gerakan tanah. Litologi dengan tingkat resistensi yang tinggi seperti batuan beku mempunyai kemungkinan yang kecil untuk terjadi gerakan tanah. Sedangkan litologi dengan resistensi yang rendah seperti Soil lebih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah. Proses erosi dan pelapukan juga sangat berperan dalam mengontrol tingkat resistensi suatu litologi. b. Struktur Geologi Struktur geologi merupakan zona lemah pada suatu batuan atau litologi. Rekahan yang terjadi mengurangi daya ikat batuan sehingga menguran gi tingkat resistensi batuan tersebut. Selain itu rekahaan yang terbentuk juga menjadi jalan tempat masuknya air sehingga pelapukan dan erosi berjalan dengan lebih intensif. Batuan yang terkena struktur cukup intensif mempunyai potensi yang lebih besar untuk terjadinya gerakan tanah.

Faktor Eksternal

a. Kelerengan Kelerengan merupakan tingkat kemiringan yang tercermin dalam morfologi. Semakin besar tingkat kelerengan pada umumnya akan semakin menambah kemungkinan terjadinya gerakan tanah pada suatu daerah. Hal ini juga berhubungan dengan adan ya gaya gravitasi yang menarik massa batuan dari atas ke bawah.Semakin tinggi tingkat kelerengan maka batuan akan semakin mudah tertarik ke bawah sehingga mengakibatkan terjadinya gerakan tanah. b. Tata Guna Lahan dan Vegetasi Tata guna lahan adalah hasil budaya yang dihasilkan oleh manusia. Beberapa diantaranya ad alah pemukiman, jalan, sawah dan sebagainya. Tataguna lahan juga berpengaruh terhadap terjadinya gerakan tanah. Tataguna lahan dapat menambah beban yang harus ditanggung suatu litologi. Apaila beban yan g ditanggung lebih besar dari kekuatan litologi untuk menahan beban, maka akan terjadi pergerakan. Vegetasi adalah segala jenis tumbuhan yang ada di wilayah terebut. Contohnya adalah rumput dan semak belukar.

4. Gejala Umum Terjadinya Longsor Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing. Biasanya terjadi setelah hujan. Munculnya mata air baru secara tiba-tiba. Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.

5. Wilayah Rawan Longsor di Indonesia Setidaknya terdapat 918 lokasi rawan longsor di Indonesia. Setiap tahunnya kerugian yang ditanggung akibat bencana tanah longsor sekitar Rp 800 miliar, sedangkan jiwa yang terancam sekitar 1 juta. Daerah yang memiliki rawan longsor Jawa Tengah 327 Lokasi Jawa Barat 276 Lokasi Sumatera Barat 100 Lokasi Sumatera Utara 53 Lokasi Yogyakarta 30 Lokasi

Kalimantan Barat 23 Lokasi Sisanya tersebar di NTT, Riau, Kalimantan Timur, Bali, dan Jawa Timur.

6. Pencegahan Terjadinya Tanah Longsor Sebenarnya tanah longsor dapat dicegah jika kita memperhatikan keadaan disekitar kita. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu: Jangan mencetak sawah dan membuat kolam pada lereng bagian atas di dekat pemukiman. Buatlah terasering (sengkedan) pada lereng yang terjal bila membangun permukiman. Segera menutup retakan tanah dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan. Jangan melakukan penggalian di bawah lereng terjal. Jangan menebang pohon di lereng. Jangan membangun rumah di bawah tebing. Jangan mendirikan permukiman di tepi lereng yang Terjal. Pembangunan rumah yang benar di lereng bukit. Jangan mendirikan bangunan di bawah tebing yang terjal. Pembangunan rumah yang salah di lereng bukit. Jangan memotong tebing jalan menjadi tegak. Jangan mendirikan rumah di tepi sungai yang rawan erosi.

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan Gerakan tanah atau tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan,tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.Terdapat beberapa gejala umum yang dapat kita ketahui bila terjadi tanah longsor, yaitu: Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing. Biasanya terjadi setelah hujan. Munculnya mata air baru secara tiba-tiba. Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.

2. Saran Sebaiknya kita menjaga lingkungan daerah disekitar kita, karena seperti kita ketahui Indonesia dilewati 3 lempeng benua yang senantiasa bergerak sehingga rawan terjadi gerakan tanah atau tanah longsor. Jika kita memperhatikan lingkungan kita tersebut kita dapat meminimalkan dampak dari gerakan tanah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Nurwadjedi, 2006, Metodologi 3 Pemetaan Bahaya Erosi dan Longsor,Katalog Metodologi Pembuatan Peta Geo-Hazard, Wo rkshop Kompilasi Metodologi dan Berbagi Pengalaman Dalam Pembuatan Peta Rawan Bencana Alam Berbasis SIG Banda Aceh, hal. 4 9. Soebowo, E., Anwar,H.Z., Suwijanto., & Karn awati,D.,2002, Penentuan daerah rawan bencan a longsoran berdasarkan data citra Landsat (Studi Kasus di daerah Cianjur Selatan, Jawa Barat),Proseeding PIT XXXI Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Surabaya,pp 502 51 Karnawati,D., 2003, The New Approach for Landslide Susceptibility Mapping In Indonesia,roseeding PIT XXXII Ikatan Ahli Geologi Indonesia & PIT Himpunan Ahli Geofisika Indonesia XXVII, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai