Anda di halaman 1dari 6

Diajukan guna memenuhi ujian take home exam semester III dalam politik pemerintahan asia tenggara

Oleh : WAWAN MULYAWAN 100910101004

JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS JEMBER

Soal : 1. Jelaskan bagaimana peranan militer dalam politik Thailand. 2. Analisis secara kritis demokrasi yang diterapkan pemerintahan Malaysia dewasa ini. 3. Jelaskan mengapa pembaharuan ekonomi di Vietnam tidak berpengaruh pada pembaharuan sistem politik Negara itu.

Jawaban :

1.

Dalam prakteknya keterlibatan

militer dalam persoalan politik telah menimbulkan

kecenderungan bahwa sebenarnya intervensi itu telah dimanipulasi oleh berbagai kepentingan. Kudeta adalah bagian yang tidak pernah terlepaskan dari tradisi politik Thailand. Masih dalam ingatan kita manakala banyak aktivis pro demokrasi pada tahun 2006 unjuk rasa besarbesaran menuntut Thaksin Sinawatra Mundur kala itu dari kursi Perdana Menteri, beberapa alasan ekonomi-politik membuat PM Thaksin Sinawatra pun akhirnya harus bertekuk lutut oleh kudeta tidak berdarah Militer dibawah Jenderal Sonthi yang begitu kharismatis. Sebagai sebuah Negara yang tidak pernah merasakan penjajahan maka sangat lumrah jika base dan supra struktur Thailand dibangun berdasarkan nilai-nilai monarki kerajaan Sukhotai yang feodal dan keras tanpa dipengaruhi oleh kolonialisme, Militer dan tradisi monarki Kerajaan Sukhotai adalah dua hal penting yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan politik Thailand, untuk lebih memahami bagaimana peran Militer dan nilai-nilai monarki Kerajaan Sukhotai dalam Politik Thailand. Kini alasan faksi militer melakukan kudeta demi menjaga hukum dan ketertiban. Militer menyelamatkan negara dari tangan kotor Thaksin yang dinilai sudah memecah belah rakyat. Alasan ini memberikan kesan patriotisme. Militer menjadi penerjemah situasi politik negara lalu mengambil tindakan politik yang dibayang-bayangi dengan dukungan penuh dari Raja. Meskipun kadang-kadang Raja hanya menjadi wasit yang pasif dalam menentukan sikapnya terhadap aksi-aksi politik militer. Militer telah malakukan kudeta pada rezim pemerintahan yang komposisi politiknya paling stabil. Kalau boleh dikatakan bahwa rezim politik di Thailand sebenarnya bagian dari rezim hibrida. Sebuah konsep yang menurut Wolfgang Merkel sebagai ciri khas rezim politik di

Asia. Keberadaan rezim dilahirkan dari proses demokrasi yang tidak sempurna. Setelahnya rezim terbentuk, kemudian ditumbangkan lagi dengan komitmen pembentukan sistem yang lebih demokratis untuk membentuk pemerintahan baru. Namun kudeta Thailand bukanlah sekedar tradisi. Kadang-kadang hampir menjadi konsesnus bahwa selain pemilu kudeta adalah cara yang paling sah untuk menggulingkan kekuasaan. Militer memiliki hak veto untuk menentukan masa depan rezim yang berkuasa. Untuk sebagian hal kudeta adalah akomodasi alternatif yang efektif bagi protes massa yang lebih besar. Kudeta melekat dan terintegrasi dalam sisitem politik di Thailand. Militer menjadi sangat teristimewa. Peran mahasiswa sebagai intelektual organik telah tergantikan oleh militer yang sebenarnya juga tidak terlalu bersih dari persoalan-pesoalan pelik birokrat-pemerintahan termasuk korupsi. Bukan rahasia kalau ternyata korupsi dapat mengintegrasikan lingkaran otoritas politik jangka pendek. Namun dalam jangka panjang pola pengintegrasian lingkaran otoritas kekuasaan itu ditentukan oleh persoalan siapa mendapat berapa. Ada benarnya bahwa Thaksin memiliki banyak kekurangan dalam menjalankan pemerintahannya. Namun harus juga diingat kalau militer bukanlah ratu adil yang sebenarnya. Yang jelas kadang-kadang dalam situasi perebutan kekuasaan terasa agak sulit membedakan bagaimana yang disebut dengan demi kepentingan bangsa atau demi kepentingan penguasa/kekuasaan

2. Demokratis atau tidak demokratis sebetulnya cuma alat untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, karena memang itulah cita-cita negara pada hakekatnya. di malaysia memang tidak tidak ada demokrasi ala indonesia, disana raja sangat dihormati, dan pemimpin juga cukup memperhatikan peningkatan kesejahteraan dengan slogan rakyat didahulukan pencapaian diutamakan. slogan ini seperti bisa diterima oleh banyak rakyat di malaysia, setidaknya bisa dilihat dari spanduk yang terpampang dibanyak tempat dengan rapi dan tidak sembarangan, serta tanpa dirusak oleh rakyatnya. sedikit berbeda dengan di indonesia seringkali himbauan pemerintah dalam bentuk spanduk dirusak dan dipasang sembarangan tidak pada tempatnya. Dan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Razak pernah menegaskan, dia akan mempertahankan sistem demokrasi dan tidak akan sesekali

menyelanggarakan pemerintahannya dengan cara menipu rakyat dan negara akan terus

mempertahan prinsip demokrasi dan melaksanakan penambah baikan untuk memastikan demokrasi negara berjalan lebih sehat dan tulus. Namun, kenyataanya terdapat banyak konflik yang terjadi di malaysia misalnya, Fenomena penembakan gas air mata, meriam air, dan aksi pemukulan polisi dalam bentrokan dengan pengunjuk rasa mungkin hal yang terasa asing di Malaysia. Tapi itulah yang terjadi beberapa hari terakhir. Suasana mencekam akibat aksi demonstran berdarah yang biasa terjadi di Indonesia, kini juga terasa di Malaysia. Terobosan kemajuan dalam bidang ekonomi yang dicapai rezim yang berkuasa nampaknya tak membuat negeri itu selalu damai. Berbagai fenomena intrik para elite politik kerap kali kita dengar di Malaysia. Faktanya, kisruh politik yang melanda Malaysia dengan aksi ribuan demonstran turun ke jalan memuncak pada beberapa hari lalu. Menurut Saya, demokrasi tetap ada di Malaysia meski berbeda dengan negara-negara barat. Hal ini karena rakyat Malaysia dianggap belum dewasa untuk berdemokrasi. Ada banyak bukti bagaimana rezim penguasa Malaysia begitu otoriter kepada masyarakatnya. Misalnya pemerintah Malaysia bisa saja melakukan penahanan tanpa melalui proses hukum kepada siapa pun pembangkang pemerintahan yang sah. Dalam kasus media masa misalnya, pemerintah Malaysia bisa dengan suka hati mengganti pimpinan media massa tersebut, apabila dinilai membahayakan stabilitas nasional. Jika kita membandingkan fenomena yang terjadi di Malaysia saat ini, situasinya tak jauh berbeda dengan pemerintahan di Indonesia semasa rezim Orde Baru (Orba) dahulu yang dimonopoli Golkar bersama sekutunya yang mengharamkan pemberlakuan checks and balances dan memberangus siapa saja yang tidak seirama dengan penguasa Orba. Bila merujuk ungkapan Franz Magnis-Suseno S.J. dalam bukunya Mencari Sosok Demokrasi: Sebuah Telaah Filosofis yang mengatakan bahwa ciri utama sebuah negara yang menerapkan sistem demokrasi adalah adanya pelembagaan mekanisme yang mengoptimalkan kontrol (checks and balances) masyarakat terhadap pemerintah. Maka yang terjadi di Malaysia saat ini, belum tumbuh dan berkembang ciri demokrasi ke arah tersebut. Sejak kemerdekaannya pada 31 Agustus 1957, nuansa checks and balances belum berjalan sebagaimana mestinya dalam tampuk pemerintahan di negeri Malaysia. Demokrasi dalam pengertian di atas sampai saat ini masih terpasung. Meski faktanya Malaysia sampai kini sudah menganut sistem multipartai sebagai syarat sebuah negara yang menerapkan sistem

demokrasi, pemilu sebagai salah satu unsur penting dalam mekanisme demokrasi sudah berjalan di arah yang benar, dan secara periodik dan rutin selama empat tahun sekali menggelar pemilu parlemen. Namun, faktanya pemilu yang tiap kali digelar itu selalu dimenangkan Barisan Nasional yang dikomandani UMNO. Meski begitu, pemerintah Malaysia saat ini boleh berbangga hati karena aksi demonstrasi telah mereda. Namun begitu bukan berarti ekspresi terhadap ketidakpuasan kepada pemerintah sudah berhenti. Aksi demonstrasi yang mengatasnamakan prodemokrasi setiap saat akan berulang apabila Malaysia tidak melakukan pembenahan terhadap sistem pemerintahannya.

3. Perubahan dan perkembangan vietnam di sektor ekonomi melaju pesat tanpa adanya pengaruh dari sistem polik negara tersebut dimulai pada tahun 1986, pemerintah komunis vietnam meluncurkan program reformasi ekonomi yang dikenal sebagai Doi Moi atau kebijakan renovasi. Reformasi ekonomi ini bertujuan untuk mengurangi sebanyak mungkin kontrol pemerintah di dalam perekonomian dan memberikan hak bagi individu individu di vietnam untuk berpartisipasi dalam kegiatan industri ringan. Doi moi diproyeksikan akan menggantikan paham komunisme denagn paham ekonomi pasar secara bertahap. Di dalam pendekatan ini, sektor swasta berfungsi sebagai pelengkap dari sektor milik negara, dan bukan sebagai pengganti perusahaan kecil. Kebijakan Doi moi bersama2 dengan kebijakan lainnya seperti land reform, di pandang berhasil menumbuhkan usaha kecil memberikan kontribusi yang cukup penting bagi perkonomian dalam masa transisi seperti vietnam, dan tanpa berpengaruh pada sistem politik negara tersebut. Perubahan ini adalah perubahan yang sangat drastis dari sistem ekonomi terpusat dari pemerintah komunis ke arah sistem ekonomi yang berorientasi pasar, dan perubahan ini dinilai telah mendorong pertumbuhan ekonomi pasar yang bertahan di bawah tekanan pemerintah komunis dalam bentuk ekonomi informal. Sekarang ini, Vietnam merupakan negara yang pertumbuhan ekonominya selalu tinggi dalam 10 tahun belakangan. Pada tahun 2007 pertumbuhan itu bahkan mencapai 8,5 persen atau yang tertinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonominya sebesar 7,5 persen. Bank-bank di sana juga tercatat paling agresif menyalurkan kredit akibat tingginya permintaan akan bahan bangunan dan material lainnya untuk sektor properti. Perekonomian Vietnam berada dalam

masa transisi dari ekonomi terpusat yang direncanakan murni berdasarkan pertanian ke pasar ekonomi sosialis. Selama lebih dari satu dekade, GDP-nya terus tumbuh cukup besar dari tahun ke tahun : pertumbuhan 6,9% pada tahun 2001, 7,0% pada tahun 2002, 7,3% pada tahun 2003, 7,7% pada tahun 2004, 8,4% pada tahun 2005, 8,2% pada tahun 2006, 8,5% pada tahun 2007, 6,18% pada tahun 2008, dan 5,3% pada tahun 2009. Pertumbuhan gross domestic product (GDP) Vietnam mencapai sebesar 6,8% pada akhir tahun 2010. Total GDP Vietnam, bila dihitung dengan harga riil, mencapai VND 1.980 triliun atau setara dengan US$ 104,6 miliar. Jumlah tersebut meningkat sebesar USD 13 miliar dibandingkan tahun 2009. Pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan mencapai sebesar 2,7%, sedangkan sektor Industri dan konstruksi tumbuh sebesar 7,7% dan sektor jasa tumbuh sebesar 7,5%. Pada Tahun 2010 lalu, lebih dari 150 ribu lapangan pekerjaan baru telah dibuka dan jumlah rumah tangga miskin menurun sebesar 9,45%.