Anda di halaman 1dari 98

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

ASSALAMUALAIKUM WR WB

SELAMAT DATANG
PESERTA DIKLAT FASILITATOR PEMBINA HISAB RUKYAT TINGKAT MENENGAH PUSDIKLAT TENAGA TEKNIS KEAGAMAAN BADAN LITBANG AGAMA DAN DIKLAT DEPARTEMEN AGAMA DEPARTEMEN AGAMA RI

DI LPMP DKI JAKARTA JL.NANGKA NO.60 TANJUNG BARAT PASAR MINGGU-JAKARTA SELATAN

JAKARTA 20 September 2006/ 27 Syaban 1427 H.

KAIDAH FALAKIYAH II

Dipersiapkan oleh: Cecep Nurwendaya Penceramah Planetarium & Observatorium Jakarta Tahun 2006

ROTASI BUMI: Penyebab gerak semu harian benda langit

Periode gerak rotasi Bumi sideris: 23jam 56menit 4detik (acuan bintang) Periode gerak rotasi Bumi sideris: 24 jam (acuan Matahari) Arah rotasi : dari barat ke timur

Gerak harian bintang, Bulan dan Matahari di Jakarta.

12o= 50m

1o= 4 menit

23jam 56 menit 4detik

KLS Barat

PERUBAHAN TINGGI MATAHARI KARENA GERAK HARIAN DI JAKARTA


PER-JAM SEKITAR 15 DERAJAT

TINGGI MATAHARI PADA SAAT YANG SAMA DI BERBAGAI TEMPAT


SETIAP BERPINDAH KE BARAT TINGGI MATAHARI SEMAKIN RENDAH ATAU WAKTU MUNDUR PERJAM SEBESAR 15 DERAJAT

PERUBAHAN TINGGI BULAN PADA SAAT MATAHARI TERBENAM


PER-HARI SEKITAR 12 DERAJAT

Gerak revolusi bumi mengitari matahari (gerak tahunan bumi) Periode 1 tahun sideris = 365,2564 hari, Periode 1 tahun tropis = 365,2422518 hari

Gerak revolusi bumi mengitari matahari (gerak tahunan bumi) Periode 1 tahun sideris = 365,2564 hari, Periode 1 tahun tropis = 365,2422518 hari

21 Maret

22 Des. 22 Juni

23 Sept.

GERAK HARIAN MATAHARI SEPANJANG TAHUN

22 Juni TMP
21 Maret TMS 23 September TMG 22 Desember TMD

Gerak harian Matahari di Khatulistiwa sepanjang tahun

Bergerak sekitar o= separuh lebar piringan matahari per-hari.

22 Des

22 Nop 22 Jan

22 Okt 22 Feb

21/3 22/3 21 Maret 21 April 23 Sept 22 Agust

21 Mei 22 Juli

22 Juni

Arah selatan

23,50

Barat

23,50

Arah utara

ARAH TERBIT MATAHARI SELALU BERGESER SEPANJANG TAHUN

EKUATOR LANGIT

GARIS BALIK UTARA

23,50

EKUATOR LANGIT

23,50

GARIS BALIK SELATAN

ARAH TERBENAM MATAHARI SELALU BERGESER SEPANJANG TAHUN

EKUATOR LANGIT

23,50

GARIS BALIK UTARA

EKUATOR LANGIT

GARIS BALIK SELATAN

23,50

POSISI DAN GERAK HARIAN MATAHARI DI BERBAGAI TEMPAT TGL. 21 MARET


KEMIRINGAN GERAK HARIAN MATAHARI TERGANTUNG PADA LINTANG PENGAMAT

POSISI DAN GERAK HARIAN MATAHARI DI BERBAGAI TEMPAT TGL. 22 JUNI

POSISI DAN GERAK HARIAN MATAHARI DI BERBAGAI TEMPAT DI BELAHAN SELATAN BUMI TANGGAL 22 JUNI 2006

Bidang orbit bulan miring 5,20 terhadap bidang ekliptika (orbit bumi mengedari matahari)

Bidang orbit bulan miring 5,20 terhadap bidang ekliptika (orbit bumi mengedari matahari)
Kutub orbit bulan

Kutub ekliptika

Bidang ekliptika

50

ke arah bintang jauh

ke arah matahari

1 bulan Sideris = 27 1/3 hari


(bulan sudah memutari bumi 3600)

1 bulan Sinodis = 29 1/2 hari


(dari bulan baru ke bulan baru berikutnya)

PENAMPAKAN BENTUK / FASE BULAN


Kwartir Pertama

Sabit Muda

Bulan Besar

hilal

arah Barat
sinar matahari

Bumi
Bulan Baru (Ijtima)

arah Timur
Purnama

Sabit Tua

Bulan Susut

Kwartir Ketiga

Periode fase bulan = 29,53055 hari

PERUBAHAN PENAMPAKAN BENTUK / FASE BULAN

L.H. Price (11 April 1994), umur bulan 1 hari

John Shibley (19 April 1996), umur bulan 2 hari.

Ronald Royer (1995), umur bulan 13 s/d 14 jam

Ivan Dryer (1995), umur bulan 13 s/d 14 jam

Peter Ledlie (Maret 1995), 20 s/d 30 menit setelah sunset umur bulan 13 s/d 14 jam.

HISAB URFI TAHUN HIJRIAH No.Bulan 1 Muharam 2 Shafar 3 Rabiul Awal 4 Rabiul Akhir 5 Jumadil Awal 6 Jumadil Akhir 7 Rajab 8 Syaban 9 Ramadhan 10 Syawal 11 Dzulkaidah 12 Dzulhijjah Umur 30 hari 29 30 29 30 29 30 29 30 29 30 29/30

Siklus 30 tahunan
Periode Sinodis bulan = 29 11/30 hari.

Tahun 1.

Umur 354 hari

2.
3. 4.

355
354 354

5.
6.

355
354

7.
8. 9.

355
354 354

10.
11. 12.

355
354 354

13.
14. 15.

355
354 354

Tahun 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

Umur 355 hari 354 355 354 354 355 354 354 355 354 355 354 354 355 354

Pengertian Hisab & Rukyat Hisab : Perhitungan astronomis menentukan awal bulan komariah (hijriyah) Rukyat: Pengamatan(observasi) hilal menentukan awal bulan komariah(hijriyah). Ijtima (bulan baru/New Moon, konjungsi,lunasi) adalah peristiwa segaris/sebidangnya pusat bulan dan matahari dari pusat bumi. - Bulan dan matahari memiliki bujur ekliptika (bujur astronomi) yang sama. - Fraksi illuminasi(pencahayaan) bulan minimum. - Posisi Istimewa saat ijtima berlangsung gerhana matahari. - Ijtima berlangsung bersamaan di seluruh tempat di permukaan bumi. Awal Bulan(New Month) penanggalan hijriyah. - Awal bulan(tanggal 1 bulan hijriyah)menandai awal penanggalan. - Awal bulan ditentukan pada setiap ghurub tanggal 29 bulan hijriyah. (Dalam kalender hijriyah awal tanggal dimulai saat matahari terbenam atau ghurub). - Jika pada saat ghurub tgl. 29 bulan hijriyah ijtima belum terjadi, secara astronomis keesokan harinya tgl. 30 di bulan yang sedang berlangsung. - Jika pada saat ghurub tgl. 29 bulan hijriyah ijtima sudah terjadi, tinggi hilal negatif maka keesokan harinya tgl. 30 di bulan yang sedang berlangsung. - Jika pada saat ghurub tgl. 29 bulan hijriyah ijtima sudah terjadi, tinggi hilal positif maka penentuan awal bulan berdasarkan kriteria awal bulan. Jika memenuhi kriteria keesokan harinya tgl. 1 bulan baru. Jika tidak memenuhi, keesokan harinya tgl. 30 di bulan yang sedang berlangsung.

SEGITIGA BOLA : adalah segitiga di permukaan bola yang sisi-sisinya


merupakan bagian dari lingkaran besar. ABC merupakan segitiga bola A,B,C = sudut-sudut segitiga bola a,b,c = panjang busur segitiga bola P = pusat bola langit atau bumi

A c B a b
.P

Sifat segitiga bola: 1. Jarak ketiga sudutnya tidak harus 1800 2. Jarak sudut (panjang busur) antara sebuah lingkaran besar dan kutubnya adalah 900 3. Panjang busur salah satu busur segitiga bola yang menghadap sudut yang berada di kutubnya adalah sama dengan besar sudut tersebut. Pada segitiga bola berlaku rumus Rumus cos: Cos a = Cos b Cos c + Sin b Sin c Cos A Cos b = Cos a Cos c + Sin a Sin c Cos B Cos c = Cos a Cos b + Sin a Sin b Cos C Rumus sin: Sin A/ Sin a = Sin B/ Sin b = SinC/ sin c

Penggunaan segitiga bola dapat dipakai di bola Bumi maupun bola langit. Sudut A = Panjang busur a Sudut B = Panjang busur b Sudut C = Panjang busur c

APLIKASI SEGITIGA BOLA DALAM PENENTUAN TINGGI DAN AZIMUTH BENDA LANGIT

t d KLU f U h *P S

h : Ketinggian benda langit A : Azimuth benda langit f : Lintang geografis tempat ( + di utara, - di selatan) d : deklinasi benda langit ( + di utara, - di selatan) t : sudut jam benda langit. P : Pengamat 90o - h = z : jarak zenith.

Cos (90o - h ) = Cos (90o - f). Cos (90o - d) + Sin (90o-f) Sin (90o - d) . Cos t Sin h = Sin f Sin d + Cos f Cos d Cos t h = arc Sin (Sin f Sin d + Cos f Cos d Cos t)
Cot (3600 A) = Sin (90o f) Cot (90o - d) Cosec t - Cos (90o f) Cot t Cot A = Cos f . tan d . Cosec t - Sin f .Cot t A = arc Cot (Cos f . tan d . Cosec t - Sin f .Cot t) Jika kita akan menghitung h dan A Bulan pada saat Matahari terbenam, maka kita harus mengetahui dahulu deklinasi (d) dan sudut jam (t) Bulan pada saat itu.

PENGGUNAAN SEGITIGA BOLA PADA BOLA BUMI ABC merupakan segitiga bola A,B,C = sudut-sudut segitiga bola a,b,c = panjang busur segitiga bola

C b

a
A

Rumus cos: Cos a = Cos b Cos c + Sin b Sin c Cos A Rumus sin: Sin A/ Sin a = Sin B/ Sin b = SinC/ sin c Penentu arah Kiblat di suatu Tempat a = 90o fTempat Kabah di Mekah ( 39o 50 BT, 21o 25U ) b = 90o 21o 25 = 68o 35 C = lTempat l Kabah = l Tempat 390 50

c
B

B = Arc Ctg ((Cos f x Tan 21o 25/ Sin C) (Sin f / Tan C))

MENGHITUNG ARAH KIBLAT PADA SUATU TEMPAT DI PERMUKAAN BUMI Koordinat geografis Mekkah: ( 39o 50 BT, 21o 25 LU )

Ctg Q = (Cos f x Tan 21o 25/ Sin (l 39o 5) (Sin f / Tan (l 39o 50) Q = Arc Ctg ((Cos f x Tan 21o 25/ Sin (l 39o 5) (Sin f / Tan (l 39o 50))
Dimana Q = arah Kiblat dari titik Utara ke arah Barat. Jika diukur dari Arah Barat ke arah Utara = 90o Q Jika dinyatakan dalam sudut arah, dari Utara ke arah Timur Selatan Barat = 360o - Q f = lintang tempat l = bujur tempat Contoh arah Kiblat dari Jakarta ( 39o 50 BT, 21o 25 LU ) Q = 64,86o dari titik Utara ke arah Barat Atau 25,14o dari Barat ke arah Utara Atau Sudut arah Kiblat dari Jakarta = 295,14o Arah Utara yang dipergunakan adalah arah utara benar (true north) yang sejajar dengan arah Utara poros rotasi Bumi. Ditentukan berdasar pengamatan tongkat Istiwa atau arah kompas Yang sudah dikoreksi oleh variasi deklinasi medan magnet di permukaan bumi.

ARAH KIBLAT DARI JAKARTA


JAKARTA (1060 49 BT, 60 10 LS) MEKAH (390 50 BT, 210 25 LU)
BUJUR JAKARTA (1060 49 BT)

LINTANG MEKAH (210 25 LU)

Utara
Khatulistiwa LINTANG JAKARTA ( 60 10 LS) SUDUT ARAH = 295,140

BUJUR MEKAH (390 50 BT)

Arah Kiblat dari Jakarta = 25,140 dari Barat ke arah Utara.

PENENTUAN ARAH UTARA SELATAN DENGAN TONGKAT ISTIWA

True North (Utara benar)

o o

t1

t2

1OB

0O

1OT

2OT

3OT

4OT 5OT

Contoh Penggunaan: Jika suatu tempat memiliki variasi magnetik 10T (timur), maka arah utara sejati berada pada jarak 1o ke arah barat dari titik Utara kompas. Jika variasi magnetik 1o B (Barat), maka arah utara sejati berada pada jarak 1o ke arah timur dari titik Utara Kompas. Pada tempat lainnya menggunakan interpolasi di antara dua garis terdekat.

Deklinasi Matahari = Lintang Geografis Mekah

KEDUDUKAN MATAHARI PADA AWAL WAKTU SHALAT


Waktu Sholat = Ketinggian Matahari ( hMth - Koreksi waktu daerah + ikhtiyat) KWD kota Jakarta = 7 menit 16 detik. Ikhtiyat (pengaman) = antara 1 s.d. 2 menit. 1. Waktu Dzuhur: h Matahari di Meridian (Meridian Pass atau MP) MP = 12 e. e adalah equation of time atau perata waktu. Waktu sholat lainnya menggunakan rumus : cos tMthr = -tan f tan dMthr + sin hMthr :cos f : cos d Mthr

t = sudut jam atau sudut waktu Matahari


2. Waktu Ashar cotan h = tan [ f d ] + 1 3. Waktu Maghrib h = -(SD +Refraksi + Dip). Untuk sholat cukup h = -1o 4. Waktu Isya, h = - 18o 5. Waktu subuh, h = -20o 6. Waktu Imsak,h = - 22o

7. Waktu Terbit, h = -1o


8. Waktu Dluha , ketika Matahari setinggi tumbak, h = 3o 30

GARIS KETINGGIAN HILAL 0o MENJELANG AWAL BULAN RAMADHAN 1427 H


1500 B 1000 500 00 500 1000 1500 T
Ijtima:22 Sept. 06 Jam :11.46 GMT

600 U ASIA 400 200 00 200 400


AMERIKA UTARA
SAMUDRA ATLANTIK

600 U

EROPA
400

AFRIKA
SAMUDRA PASIFIK

-20

SAMUDRA PASIFIK

200

-30
00

AMERIKA SELATAN

-10
SAMUDRA HINDIA AUSTRALIA

200 400

00
600 S 1500 B 600 S

1000

500

00

500

1000

1500 T

GARIS KETINGGIAN HILAL MENJELANG AWAL BULAN RAMADHAN 1427 H. DI WILAYAH INDONESIA
+100 950 BT 1000 1050 1100 1150 1200 1250 1300 1350 1400 +100

22 SEPTEMBER 2006

+ 50

+ 50

- 2O
00 00

- 50

- 50

- 100

- 100

- 1O
950 BT 1000 1050 1100

- 1,5O
1150 1200 1250 1300 1350 1400

Pada tanggal 29 bulan Syaban 1427 H., Jumat, 22 September 2006. Ijtima: 22 September 2006, Jam: 18.46 WIB.
Planetarium & Observatorium Jakarta

KEDUDUKAN BULAN & MATAHARI PADA TGL. 22 SEPT. 2006 ( tgl. 29 Syaban 1427 Hijriyah )
IJTIMA: Jumat, 22 Sept. 2006, Pkl. 11.46 GMT ( 18.46 WIB ) MTH. TERBENAM JAM. 17:49:48 WIB.

TINGGI HILAL= -010 11 1,5


UMUR HILAL = -56 MENIT

Barat
h = - 010 11 1,5

KAKI LANGIT (UFUK)

Utara

Pelabuhan Ratu

Selatan

Timur

TINGGI HILAL NEGATIF:


Pada saat Matahari terbenam Posisi hilal berada di bawah ufuk. Hilal terbenam terlebih dahulu dibanding Matahari.

KEDUDUKAN BULAN & MATAHARI PADA TGL. 22 SEPT. 2006 ( tgl. 29 Syaban 1427 Hijriyah ) di Pelabuhan Ratu Sukabumi.

BERTUK HILAL 22 SEPTEMBER 2006, PELABUHAN RATU hilal


Fraksi Illuminasi = 0,002 % Umur hilal = - 0 jam 56 menit Bulan sabit tua menjelang Akhir bulan Syaban 1427 H.

Hilal Ramadhan 1426 H. di Pelabuhan ratu (1060 33 BT, 070 02 LS) Jumat, 22 September 2006/29 Syaban 1427 H.
Ijtima: 22 September 2006 Pkl. 11.46 GMT (18.46 WIB) Tinggi hilal mari saat ghurub (17:49.48 WIB) = - 10 11 1,5

Mekkah, Jumat 22 September 2006 Matahari terbenam Pkl. 18.17.21 Waktu Saudi

BERTUK HILAL 22 SEPTEMBER 2006, MEKKAH


Fraksi Illuminasi = 0,018 % Umur hilal = 3 jam 31 menit

hilal

Hilal Ramadhan 1427 H. di Mekkah (390 49 BT, 210 26 LU) Jumat, 22 September 2006
Ijtima: 22 Sept. 2006, Pkl. Jam 11.46 GMT (14.46 WS) Tinggi hilal saat ghurub (18.17.21 Waktu Saudi) = - 00 23,9

JALUR GERHANA MATAHARI CINCIN (ANNULAR) 22 SEPTEMBER 2006

LINTASAN GERHANA MATAHARI CINCIN (ANNULAR) 22 SEPTEMBER 2006, LAUT ATLANTIK

GERHANA MATAHARI CINCIN (ANNULAR) 22 SEPTEMBER 2006, LAUT ATLANTIK

GARIS KETINGGIAN HILAL 00 MENJELANG AWAL BULAN SYAWAL 1427 H


1500 B 1000 500 00 500 1000 1500 T
Ijtima: 22 Okt.2006 Jam : 05.15 GMT

600 U ASIA 400 200 00 200 400


AMERIKA UTARA
SAMUDRA ATLANTIK SAMUDRA PASIFIK

600 U
EROPA 400 200 00

AFRIKA

-10
SAMUDRA PASIFIK

AMERIKA SELATAN

10 00
SAMUDRA HINDIA AUSTRALIA

200 400

600 S 1500 B 1000 500 00 500 1000 1500 T

600 S

GARIS KETINGGIAN HILAL MENJELANG AWAL BULAN SYAWAL 1427 H. DI WILAYAH INDONESIA
+100 950 BT 1000

1050

1100

1150

1200

1250

1300

1350

1400

+100

22 OKTOBER 2006

- 1O
+ 50

+ 50

00

00

- 50

- 50

0O
- 100 950 BT 1000 1050

1O
1100 1150 1200 1250 1300 1350 1400

- 100

Pada tanggal 29 bulan Ramadhan 1427 H., Ahad, 22 Oktober 2006. Ijtima: 22 Oktober 2006, Jam: 12.15 WIB.
Planetarium & Observatorium Jakarta

KEDUDUKAN BULAN & MATAHARI PADA TGL. 22 OKTOBER 2006


IJTIMA: Ahad, 22 Oktober 2006, Pukul. 05.15 GMT (12.15 WIB) MTH. TERBENAM JAM. 17.47.17 WIB.

TINGGI HILAL= +00 42,6 UMUR HILAL = 05 JAM 32MENIT

Barat
h= 00 42,6

KAKI LANGIT (UFUK)

Utara

Pelabuhan Ratu

Selatan

Timur

TINGGI HILAL POSITIF:


Pada saat Matahari terbenam Posisi hilal berada di atas ufuk. Matahari terbenam terlebih dahulu dibanding hilal.

KEDUDUKAN BULAN & MATAHARI PADA TGL. 22 OKT. 2006 ( tgl. 29 Ramadhan 1427 Hijriyah ) di Pelabuhan Ratu Sukabumi.

BERTUK HILAL 22 OKTOBER 2006, PELABUHAN RATU


Fraksi Illuminasi = 0,126 % Umur hilal = 5 jam 32 menit

hilal

Hilal Syawal 1427 H. di Pelabuhan ratu. Ahad, 22 Oktober 2006


Ijtima: 22 Oktober 2006 Pukul. 05.15 GMT (12.15 WIB) Tinggi hilal mari saat ghurub (17:47:17 WIB) =00 42,6 Hilal terbenam, Pukul: 17.50.53 WIB.

Hilal Syawal 1427 H. di Mekkah. Ahad, 22 Oktober 2006


Ijtima: 22 Oktober 2006, Pukul. 05.15 GMT (08.15 WS)

BERTUK HILAL 22 OKTOBER 2006, MEKKAH


Fraksi Illuminasi = 0,233 % Umur hilal = 9 jam 36 menit

hilal

Hilal Syawal 1427 H. di Mekkah. Ahad, 22 Oktober 2006


Ijtima : 22 Oktober 2006 Pukul. 05.15 GMT (08.15 WS) Ghurub : 17.51.09 WS ; tinggi hilal = - 00 05,3

GARIS KETINGGIAN HILAL 00 MENJELANG AWAL BULAN DZULHIJJAH 1427 H


1500 B 1000 500 00 500 1000 1500 T
Ijtima: 20 Des.2006 Jam : 14.02 GMT

600 U ASIA 400 200 00 200 400


AMERIKA UTARA
SAMUDRA ATLANTIK SAMUDRA PASIFIK

600 U
EROPA 400 200 00 200 400

AFRIKA -20
SAMUDRA PASIFIK

-30 -10

AMERIKA SELATAN

00
SAMUDRA HINDIA AUSTRALIA

600 S 1500 B 1000 500 00 500 1000 1500 T

600 S

GARIS KETINGGIAN HILAL MENJELANG AWAL BULAN DZULHIJJAH 1427 H. DI WILAYAH INDONESIA
+100 950 BT 1000

1050

1100

1150

1200

1250

1300

1350

1400

+100

20 DESEMBER 2006

- 4O
+ 50

+ 50

00

- 3O

00

- 50

- 50

- 2O
- 100 950 BT 1000 1050 - 100 1100 1150 1200 1250 1300 1350 1400

1O

Pada tanggal 29 bulan Dzulqadah 1427 H., Rabu, 20 Desember 2006. Ijtima: 20 Desember 2006, Jam: 21.02 WIB.
Planetarium & Observatorium Jakarta

KEDUDUKAN BULAN & MATAHARI PADA TGL. 20 DES. 2006 ( tgl. 29 Dzulqadah 1427 Hijriyah ) di Pelabuhan Ratu Sukabumi.

BERTUK HILAL 20 DESEMBER 2006, PELABUHAN RATU


Fraksi Illuminasi = 0,207 %

Umur hilal = -2 jam 55 menit

hilal

Bulan sabit tua menjelang Akhir bulan Dzulqadah 1427 H.

TINGGI HILAL NEGATIF:


Pada saat Matahari terbenam Posisi hilal berada di bawah ufuk. Hilal terbenam terlebih dahulu dibanding Matahari.

KEDUDUKAN BULAN & MATAHARI PADA TGL. 20 DESEMBER 2006


IJTIMA: Rabu, 20 Desember 2006, JAM 14.02 GMT (21.02 WIB) MTH. TERBENAM JAM. 18.07.17 WIB.

TINGGI HILAL= -010 33,6 UMUR HILAL = - 02 JAM 55MENIT

Barat
h = -10 33,6

KAKI

LANGIT

Utara

Pelabuhan Ratu

Selatan

Timur

Hilal Dzulhijjah 1427 H. di Pelabuhan ratu. Rabu, 20 Desember 2006


Ijtima: 20 Desember 2006, Pukul.14.02 GMT (21.02 WIB) Tinggi hilal: -10 33,6 ; Beda azimuth hilal-matahari = 50 6,9

KEDUDUKAN BULAN & MATAHARI PADA TGL. 20 DES. 2006 ( tgl. 29 Dzulqadah 1427 Hijriyah ) di Mekkah Saudi Arabia.

BERTUK HILAL 20 DESEMBER 2006, MEKKAH


Fraksi Illuminasi = 0,188 % Umur hilal = 0 jam 41 menit

hilal

Hilal Dzulhijjah 1427 H. di Mekkah. Rabu, 20 Desember 2006


Ijtima: 20 Desember 2006 Jam 14.02 GMT (17.02 Waktu Saudi) Tinggi hilal Mari= -20 51,7

GERHANA BULAN PARSIAL 7/8 SEPTEMBER 2006

GERHANA BULAN PARSIAL 7/8 SEPTEMBER 2006

GERHANA BULAN PARSIAL JAKARTA, 7-8 SEPTEMBER 2006 UMBRA: 01.07 S.D 02.36 WIB

GERHANA BULAN PARSIAL JAKARTA, 7-8 SEPTEMBER 2006 BUMI -BULAN

GERHANA BULAN PARSIAL (SEBAGIAN) 7/8 SEPTEMBER 2006


U
KONTAK : P1 = 23.42 WIB
(7 SEPT.2006)

MID = 01.52 WIB (8 SEPT.2006) UMAG = 0,1897 = 19 %

U1 = 01.07 WIB
PENUMBRA BUMI
(8 SEPT.2006)

U4 = 02.36 WIB
UMBRA BUMI

P4 = 04.00 WIB

T
P4
+

KONTAK : P1 = 23.42 WIB


+

U4
+ + +

U1

P1
+ +

MID

GERHANA BULAN PARSIAL JAKARTA, 8 SEPTEMBER 2006 MID (TENGAH GERHANA) PUKUL: 01.52 WIB.

ANALEMMA MATAHARI DI JAKARTA

Heliosentrik
Hukum-hukum Kepler: 1. Orbit planet adalah elips, Matahari di salah satu titik fokusnya. 2. Untuk selang waktu yang sama, daerah (di dalam orbit) yang disapu oleh garis menghubungkan planet dengan Matahari sama. 3. P2 = Ka3.