Anda di halaman 1dari 7

RUKYATUL HILAL

Abdul Mughits Istilah ruyah atau ruyatul hilal sudah sangat populer di kalangan umat Islam, terutama setiap memasuki bulan-bulan baru Qamariyyah. Ketika memasuki momentum itu maka istilah ini selalu mewarnai dalam pikiran umat Islam. Istilah ini sering dinegasikan dengan hisab (sistem penghitungan rumus-rumus), lebih-lebih hisab dan rukyat ini menjadi prinsip penentuan awal bulan Qamariyyah antara beberapa organisasi massa (ormas) di Indonesia, sehingga hisab dan rukyat sering dianggap sebagai aliran dalam penentuan awal bulan Qamariyyah di kalangan umat Islam, bahkan ada yang membedakannya secara ekstrim, yakni hisab tidak menggunakan rukyat, sebaliknya rukyat tidak menggunakan hisab. Oleh karena itu rukyat ini sangat relevan, terutama bagi umat Islam penganut prinsip rukyatul hilal (visibilitas bulan) dalam penentuan awal bulan Qamariyah, seperti NU. Sedangkan bagi penganut hisab maka rukyat dapat berfunginya sebagai konfirmasi atau uji tingkat akurasi hisab yang digunakan. Bagi penganut visibilitas bulan, secara teknis dapat dinarasikan, bahwa setelah melakukan hisab atau perhitungan mengenai kondisi Matahari dan Hilal pada akhir bulan Qamariyyah yang secara Syari setiap tanggal 29 Hijriyah, maka dilakukan rukyat di lapangan untuk menyaksikan hilal apakah nampak atau tidak oleh mata, terutama jika menurut hisab hilal dimungkinkan dapat dilihat (imkanurrukyat). Jika nampak maka hari berikutnya ditentukan sebagai tanggal pertama bulan baru. Jika tidak nampak maka dilakukan istikmal atau menyempurnakan jumlah bulan sebelumnya menjadi 30 hari alias menentukan tanggal pertama untuk bulan baru pada dua hari berikutnya. A. Definisi Rukyatul Hilal (Ruyah al-Hilal) Ruyah secara etimologis (lughawi) berarti melihat atau penglihatan, sehingga, ruyatul hilal ( ) berarti melihat hilal atau bulan baru. Menurut terminologi (istilahi) falak, berarti suatu kegiatan atau usaha melihat hilal atau bulan sabit di langit (ufuk) sebelah Barat sesaat setelah Matahari terbenam menjelang awal bulan baru, khususnya menjelang bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah, untuk menentukan kapan bulan baru itu dimulai. B. Kedudukan Hisab terhadap Rukyat Ilmu hisab merupakan ilmu pendukung rukyat atau untuk mempermudah kegiatan rukyat. Tanpa hisab, rukyat sulitbahkan mustahil--dilakukan, terutama ketika tanggal pertama bulan Qamariyyah dalam kondisi hilal yang sangat tipis sekali dan sulit dilihat oleh mata secara langsung, sehingga perlu hisab untuk melokalisir posisi hilal tersebut agar pandangan pengamat tidak kabur kemana-mana, lebih-lebih ketika banyak awan yang menyebar dan bagi orang yang kurang terlatih merukyat Hilal. Dengan hisab maka akan dapat menentukan (melokalisir) posisi Hilal dan Matahari yang secara terperinci sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. azimuth Matahari ketika terbenam; azimuth Bulan ketika Matahari terbenam; tinggi hilal (irtifa al-hilal) ketika Matahari terbenam; elongasi (jarak bujur geosentrik) Bulan terhadap Matahari; posisi Hilal terhadap Matahari, berada di sebelah utara atau selatannya; lama Hilal di atas ufuk dan; lebar cahaya (fraction illumination) Hilal.

Pada umumnya kondisi hilal awal bulan itu sangat tipis yang terkadang dikaburkan oleh awan atau cuaca yang tidak mendukung, lebih-lebih bagi orang yang kurang terlatih melihat hilal. Sehingga kalau tidak didukung dengan hisab dalam rangka melokalisir posisi hilal maka rukyat akan sulit berhasil. Jadi tidak benar persepsi yang mengatakan bahwa prinsip rukyatul hilal itu tidak menggunakan hisab. C. Dalil-dalil Syari

(185 : : ... ...) ) ( ) ( : , : ( ) : ( )


Jumhur ulama bersepakat bahwa yang dimaksud dengan istilah ruyah dalam dalildalil nash tersebut adalah melihat hilal dengan mata secara langsung atau ruyatul hilal bil fili (visibilitas hilal), bukan sekedar memperkirakan saja, apalagi prinsip keberadaan Hilal di atas ufuk ketika Matahari terbenam, berapapun tingginya atau yang sring disebut dengan wujudul Hilal. Alasannya adalah--sebagaimana dalam kaidah usul al-fiqhjika makna zahir masih dapat ditempuh maka tidak diperbolehkan ditakwil ke makna lain, apalagi terlalu jauh. D. Kriteria Imkanurrukyat Imkanurrukyat adalah kemungkinan posisi (ketinggian dan elongasi) Hilal dapat dilihat oleh mata secara langsung. Di kalangan ahli astronomi (falak, hisab-rukyat) atau kelompok-kelompok umat Islam mempunyai kriteria imkan yang tidak sama, menurut pemahaman, pengalaman dan keyakinannya masing-masing, diantaranya adalah: 1. Kitab-kitab Ilmu Falak tua: Irtifa 7. 2. Danjon (1936): Irtifa 2 dan elongasi minimal 7. Dia mengatakan: The Moons Crescent could not be seen closer to the Sun for elongation less than 8. 3. Muammer Diezer: Irtifaulhilal minimal 5 dan elongasi 8. Pendapat Diezer ini memperkuat kriteria Danjon. Kriteria Diezer ini merupakan hasil penelitiannya di Candilly Observatory. Kriteria ini sangat empiric dan diterima para ahli hisab internasional dalam Konferensi Islam di Istambul tahun 1978. 4. Konferensi Almanak Internasional Istambul Turki tahun 1978: irtifa 5 dan elongasi 8. 5. Muhammad Ilyas Malaysia: Irtifa 5 dan elongasi 10,5. 6. K.H. Zubeir al-Jailani dalam bukunya al-Khulasah al-Wafiyyah: Cahaya Hilal 1/5 jari (usbu), irtifa min 3 dan elongasi min 3. Tetapi keriteria ini dia katakan sebagai pendapat sebagaian ulama.

, , ,

(132 : . )
7. Jamaah Persatuan Islam (Persis): Konsisten dengan 2. 8. PBNU: 2. PBNU akan menolak jika ada laporan rukyat sementara menurut ahli hisab Hilal masih kurang dari 2. 9. Departemen Agama RI: irtifa minimal 2, elongasi minimal 3 dan umur bulan dari ijtima (konjungsi) minimal 8 jam. 10. MABIMS (Malaysia, Brunei, Indonesia, Muangthai dan Singapura): 2. 11. Dan lain-lain, seperti kriteria al-Biruni, Yallop dan Shaukat. Disamping perbedaan kriteria tersebut, di kalangan ahli astronomi telah dilakukan riset yang dapat melihat hilal dalam kondisi yang sangat minimalis. Seperti: 1. Rekor dunia Hilal termuda, hasil risetnya Pepin (1996) di Sentinel Arizona: Irtifa 6 3445, fraction 0,6% dan umur 12 jam 07 menit. Riset ini dilakukan untuk menentukan awal Ramadhan 1417 H atau 20 januari 1996. 2. Hilal tertipis dan terendah, hasil riset Zaki al-Mustofa dan Moataz N. Kordi dari Kig Abdulazis City for Science and Technology and Gephysical Research (KACST). Ketika menentukan awal Muharram 1423 H/Jumat, 14 Maret 2002 di Laban, 30 km barat Riyadh hilal berhasil dirukyat dalam irtifa 409, umur 12 jam 58 menit dan fraction 0,5%. 3. Mohammad Odeh Yordania: Perbedaan kriteria imkan itu disebabkanpaling tidakoleh dua hal: 1. Perbedaan metodologi dalam imkanurrukyat. Sejumlah riset menggunakan alat bantu, seperti teleskop atau sensor pencitra digital, sementara yang lain menggunakan mata telanjang atau binokular. Riset lain hanya mengandalkan kesaksian yang dicocokkan dengan hasil hisab pada saat itu. 2. Perbedaan lokasi rukyat yang berakibat perbedaan kondisi lingkungan: berkabut, suhu, tekanan dan kelembapan udara dll. E. Praktek Rukyat Dalam praktek rukyat ini paling tidak ada tiga kegiatan utama, yaitu perispan, pelaksanaan dan laporan. Masing-masing kegiatan tersebut akan diuraikan sebagai berikut: 1. Persiapan a. Membentuk Tim. Jika kegiatan rukyat itu resmi yang dikordinir Pemerintah cq. Departemen Agama maka tim itu terdiri dari unsur-unsur terkait, misalnya Pengadilan Agama, sebagai penyumpah perukyat, Departemen Agama sebagai kordinator teknis lapangan, Organisasi Masyarakat (Ormas), seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Hizbuttahrir dll, para ahli hisab, para ahli rukyat dll. Tetapi jika tidak resmi maka dapat dilakukan sendiri atau dengan tim dari organisasinya sendiri, seperti pesantren dll. b. Menentukan tempat rukyat yang bebas pandangan mata ke ufuk Barat, tanpa ada halangan. Tempat rukyat ini bisa di tanah yang lapang, seperti pantai, laut atau tempat yang tinggi. c. Penyediaan Data Hilal dan Peta Rukyat. Data hilal ini diperoleh dari penghitungan hisab. Dari data itu kemudian dibuat peta rukyat untuk membantu dalam menentukan arah Matahari dan Hilal ketika terbenam di ufuk Barat. (tentang teknis pembuatan Peta Rukyat ada di belakang) d. Penyediaan alat dan perlengkapan, seperti: 1. Theodolit (kalau 9. Lox (pendulum,

ada) 2. Gawang lokasi (kalau ada) 3. Kompas (penunjuk arah) 4. Arloji (penunjuk waktu) 5. Stopwatch (kalau ada) 6. Benag atau tali 7. Meteran 8. Penyiku

bandul) 10. Blanko Daftar Perukyat 11. Blanko Berita Acara 12. Sarana komunikasi (bila perlu) 13. Sarana transportasi (bila perlu) 14. Konsumsi (bila perlu) 15. Dll.

2. Pelaksanaan Setelah Tim pelaksana Rukyat tiba di lokasi yang telah direncanakan sekitar satu jam sebelum Matahari terbenam untuk mempersiapkan hal-hal teknis di lapangan, lalu segera melokalisir arah Hilal dengan Gawang Lokasi atau dapat juga dengan Theodolit. (Tentang teknis pembuatan Gawang Lokasi ada di belakang). Jika berhasil melihat Hilal, dianjurkan terus berdoa, sebagaimana doa Nabi saw.:


3. Pelaporan Hasil pelaksanaan rukyat berhasil melihat Hilal atau pun tidak, hendaknya sesegera mungkin dilaporkan kepada pihak yang berwenang, yaitu Pengadilan Agama untuk kemudian diteruskan ke Departemen Agama RI, telp. (021)3811642-3811654-3800200, Fax. (021) 3800174. Laporan hasil kegiatan rukyat ini penting sebagai bahan Sidang Isbat Awal Bulan Qamariyyah Departemen Agama RI di Jakarta yang dipimpin Menteri Agama atau yang ditunjuk untuk mewakilinya. Sebagai kelengkapan pelaksanaan rukyatul hilal, perlu dipersiapkan Daftar Perukyat dan Blanko Berita Acara pelaksanaan rukyat seperti sebagai berikut: DAFTAR PERUKYAT Hari :. Tanggal : H M Tempat: No. Nama Umur Pekerjaan Alamat Ttd.

,. Tim Rukyat Ketua, ..

BERITA ACARA PELAKSANAAN RUKYATUL HILAL Hari / Tanggal Tempat Rukyat Jumlah Perukyat Matahari terbenam : ................................................................ : ................................................................ : .................orang : ...... : ...... : ...... (WI...)

Hasil Rukyat HILAL TAMPAK / HILAL TIDAK TAMPAK* Melihat Hilal : jam............. s/d ............... Posisi Hilal : sebelah utara / selatan titik Barat atau sebelah utara / selatan Matahari* Bentuk Hilal : ................................................................... ................................................................... Cuaca sekitar Hilal : .................................................................. .................................................................. .................................................................. Lain-lain : ................................................................... ................................................................... ................................................................... .....................,.......................... Tim Rukyat Ketua, .............................. * Coret yang tidak perlu TEKNIK PEMBUATAN PETA RUKYAT Data yang dibutuhkan: 1. Waktu Matahari terbenam 2. Arah Matahari terbenam (AM) 3. Tinggi Hilal Mari (Hc) 4. Arah Hilal ketika Matahari terbenam (AHM) 5. Arah Hilal ketika Hilal terbenam (AHT) 6. Lama Hilal di atas Ufuk (LMc) 7. Garis bantu PB (Pengamat dan arah Barat) Rumus: 1. Arah Matahari (AM) = tan AM x PB 2. Arah Hilal ketika Matahari terbenam = tan AHM x PB 3. Tinggi Hilal = (PB : cos AHM) x tan Hc 4. Arah Hilal ketika terbenam = tan AHT x PB

Contoh: Diketahui: 1. Waktu Matahari terbenam = 18.00 2. Arah Matahari terbenam (AM) = -8 3. Tinggi Hilal Mari (Hc) = 5 4. Arah Hilal ketika Matahari terbenam (AHM) = -6,5 5. Arah Hilal ketika Hilal terbenam (AHT) = -7 6. Lama Hilal di atas Ufuk (LMc) 7. Garis bantu PB (Pengamat dan arah Barat) = 10 cm Maka : 1. AM= tan AM x PB = tan -8 x 10 cm= -1,4055 cm (selatan titik Barat) 2. AHM= tan AHM x PB = tan -6,5 x 10 cm =-1,1394 cm (selatan titik Barat) 3. Hc= (PB : cos AHM) x tan Hc= (10 cm : cos -6,5) x tan 5 =0,88 cm (di atas garis ufuk) 4. AHT= tan AHT x PB = tan -7 x 10 cm = -1,2278 (selatan titik Barat) Ket.: AM, AHM dan AHT: Jika positif berarti di sebelah utara titik Barat, jika negatif berarti di sebelah selatan titik Barat. Hc: Jika positif berarti Hilal di atas ufuk, jika negatif di bawah ufuk. Gambar Peta Rukyat: B S UFUK U

RUKYATUL HILAL

Disusun oleh: Abdul Mughits

PELATIHAN HISAB DAN RUKYAT BEMJ AL-AKHWAL ASY-SYAKHSIYYAH FAKULTAS SYARIAH UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 10-12 SEPTEMBER 2007