Anda di halaman 1dari 12

Kebebasan Yang Tidak Membebaskan

Oleh :

Achmad Djuhdi Endawan. S.Sos


Achm003@lipi.go.id www.http://lipi.go.id/

Dipublikasikan dan didedikasikan untuk perkembangan pendidikan di Indonesia melalui

MateriKuliah.Com
Lisensi Pemakaian Artikel: Seluruh artikel di MateriKuliah.Com dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan secara bebas untuk tujuan bukan komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut Penulis. Hak Atas Kekayaan Intelektual setiap artikel di MateriKuliah.Com adalah milik Penulis masing-masing, dan mereka bersedia membagikan karya mereka semata-mata untuk perkembangan pendidikan di Indonesia. MateriKuliah.Com sangat berterima kasih untuk setiap artikel yang sudah Penulis kirimkan.

KEBEBASAN YANG TIDAK MEMBEBASKAN


Pendahuluan Kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, pikiran, berbicara dan menulis serta mengekspresikan dirinya merupakan perwujudan kebebasan bagi semua orang. Wujud kebebasan seperti itu di negara kita diatur dalam Pasal 28 UUD 1945 sebagai jaminan ketentuan hukum paling tinggi dalam menjamin kebebasan bagi rakyat Indonesia.

Perkembangan Kebebasan Perbincangan mengenai kebebasan seperti diatas tidak lepas kaitannya dengan harapan-harapan masyarakat. Di negara berkembang proses

moderenisasinya melalui tiga tahap, yaitu; adanya tahapan harapan-harapan yang meningkat; kekecewaan yang meningkat terhadap penguasa; dan pengambil alihan kekuasaan oleh militer. Menyusul keberadaan era reformasi dan era demokratisasi di Indonesia, kini keadaannya telah sangat berubah. Euforia demokrasi dan euforia kebebasan menyatakan pendapat (intellectual freedom) kian lama telah berubah menjadi demokrasi yang keras (predatory democracy) dan kebebasan yang keras (predatory freedom). Pada negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, kolaborasi antara kekecewaan dengan kebebasan diperlihatkan dengan bentuk agresi, demonstrasi atau unjuk rasa yang merupakan gambaran partisipasi masyarakat dalam berpolitik. Pengelompokan massa yang sering dibentuk dan dipimpin oleh koalisi inovatif, kaum cendikiawan , kader partai , mahasiswa dan sebagainya, telah menciptakan perkembangan demokrasi dan kebebasan berpendapat tidak lagi memiliki unsur egaliter.

Bagi penguasa yang masih menganut sistem pemerintahan yang otoriter, hal diatas tentunya dapat menjadi suatu penghalang, sehingga tidak menutup kemungkinan jika pihak penguasa akan menggunakan kekuatan militer untuk menanggulangi hal tersebut, dengan melakukan suatu paksaan sebagai cara untuk mensukseskan suatu agenda yang dianggap penting oleh pihak penguasa.

Kebebasan Pers Sebagai Hak Azasi Manusia Secara normatif kebebasan pers adalah sebagai hak azasi manusia, dan dijamin oleh suatu ketentuan secara nasional dan universal. Secara nasional kebebasan pers sebagai hak azasi manusia diatur dalam TAP MPR NO XVII/MPR/1998 tentang hak azasi manusia, salah satunya terdapat dalam Pasal 37 yang berbunyi: Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak azasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Sedangkan ketentuan universal yang menjamin kebebasan pers sebagai hak azasi manusia tertuang dalam Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia (DUHAM), yaitu pada Pasal 19 (Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 217 (III) ) tanggal 10 Desember 1948 yang dikenal dengan artikel 19 yang intinya menyatakan, bahwa setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat, dalam hak ini termasuk memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan

buah pikiran melalui media apa saja dan dengan tidak memandang batas-batas wilayah.

Peranan Media Massa dan Makna Kebebasan Bagi Jurnalis Di negara-negara yang menganut sistem otoriter keterlibatan media adalah sebagai alat propaganda yang sepenuhnya dikuasai oleh pemerintah untuk mengendalikan aktivitas politik rakyat (top down). Sedangkan di negara-negara demokrasi keterlibatan media adalah sebagai saluran komunikasi dari rakyat untuk mengontrol kinerja pemerintah (bottom up). Dalam kaitannya dengan proses diatas, praktisi komunikasi khususnya praktisi komunikasi massa memainkan peranan penting sebagai penjembatan gerak hubungan antara masyarakat dengan pemegang kekuasaan dan masyarakat dengan masyarakat, terutama melalui media massa, dimana media massa dapat mempercepat (memperlancar) atau memperlambat semua proses dan hubungan diatas. Pada umumnya sistem politik di suatu negara memang mewarnai sistem media di negara yang bersangkutan, demikian pula halnya di Indonesia. Di zaman orde lama dan orde baru media massa menjadi instrumen kekuasaan pemerintah. Sedangkan di era reformasi ini media dikontrol oleh masyarakat, pasar dan pemilik media. Dengan demikian baik di negara-negara otoriter maupun di negara-negara demokrasi media sudah menjadi sebuah institusi politik dan ekonomi. Hanya kebebasan dan tanggung jawabnya yang berbeda. Ada yang bebas dan ada yang tidak bebas dari kekuasaan negara. Bagi para praktisi komunikasi massa atau lebih sering disebut sebagai jurnalis, kebebasan sangat identik dengan kebebasan jurnalistik, yaitu sebuah

kebebasan untuk melakukan kegiatan preparing, gathering, writing, presenting dan evaluating, dengan artian kebebasan untuk mencari informasi,

memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi serta mengevaluasinya, baik dalam bentuk tulisan suara, gambar, gambar dan suara (audio visual) serta data dan grafik.

Sikap dan Kedudukan Jurnalis dalam Hukum dan Etika Hasil akhir RUU Penyiaran ditanggapi mendua berbagai kalangan. Di satu pihak, RUU Penyiaran cukup mengakomodir pluralisme, lebih menjamin keragaman informasi, dan berpihak pada pekerja penyiaran. Akan tetapi, di lain pihak juga berpeluang mengancam kebebasan pers, memberi kesempatan intervensi kekuasaan pada media penyiaran, dan menghantui orang-orang yang terlibat dalam kegiatan penyiaran dengan berbagai ancaman hukuman. (Kompas27/11/02). Adanya Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang tentang Pers (UU NO 40 Tahun 1999) serta Pengesahan Rancangan Undang-Undang Penyiaran oleh DPR dan Pemerintah, tidak sepenuhnya memberikan nuansa kebebasan bagi para jurnalis, kenyataan yang terjadi adalah terkadang tujuan mulia dari kode etik, undang-undang dan pengesahan rancangan undang-undang tersebut menjadi bias, sengaja atau tidak sengaja aturan yang dibuat adalah hanya untuk melindungi kepentingan pemerintah, mengamankan kekuasaan dan pembatasan gerak hubungan antara masyarakat dengan pemegang kekuasaan dan masyarakat dengan masyarakat. Dalam sikap dan kedudukannya di dalam hukum dan etika, para jurnalis mengemukakan, bahwa adanya jaminan dari konstitusi berupa pengesahan

RUU Penyiaran dalam mengatur pelaksanaan kegiatan jurnalistik, akan melahirkan penilaian tersendiri dengan kadar yang berlainan dan bergantung pada misi serta visi media massa yang bersangkutan, sehingga kadangkala mereka memandang bahwa hukum dan etika hanyalah sebagai hambatan, dimana mereka tidak merasa bebas dalam mengekspresikan kreativitasnya, hal ini timbul karena mereka merasa tidak mampu mengaplikasikan hukum dan etika yang dinilai terlalu berat kedalam kegiatan jurnalistik, ketidak mampuan ini pun berkembang menjadi ketakutan, hukum dan etika yang ditetapkan menciptakan rasa takut yang berlebihan, mereka merasa takut untuk mengekspresikan kreativitasnya, rasa takut ini telah menciptakan persepsi negatif terhadap hukum dan etika, sehingga mereka mempersepsikan juga bahwa hukum dan etika itu sebagai jebakan, yang dapat menjerat mereka sebagai pelaku delik pers, yang dikenai dengan ancaman pidana penjara lima tahun dan denda antara Rp 1 milyar hingga Rp 10 milyar Namun di sisi lain ternyata mereka juga mengungkapkan bahwa jaminan tersebut dapat melahirkan nuansa lain bagi mereka , yaitu nuansa yang membuat para jurnalis bisa menilai positif atas kedudukkannya didalam hukum dan etika, yaitu berupa jaminan atas profesi , yang menjamin kelangsungan kegiatan dalam mengelola media massa, kebebasan dalam mencari,

memberikan , menayangkan informasi dari dan kepada siapa saja dan dimana saja serta menggunakan media apa saja , sehingga secara tidak langsung RUU Penyiaran mengakomodasi keberadaan media siaran komunitas yang dapat menjadi alternatif informasi yang deras dipasok oleh lembaga siaran komersial. Mereka pun memandang hukum dan etika itu sebagai jaminan profesionalitas yang menyangkut kepada standar profesi dari tiap-tiap pengelola media massa,

dimana hukum dan etika digunakan secara subtansional dalam menetapkan standar profesi, dengan harapan jika seorang jurnalis melaksanakan standar profesinya maka ia pun sudah melaksanakan ketentuan-ketentuan yang terkandung didalam hukum dan etika, dengan suatu asumsi bahwa jika hukum dan etika dapat berinteraksi secara harmonis dengan standar profesi maka dapat dipastikan akan terwujud suatu jaminan lain berupa perlindungan, sebagai jaminan dari pemerintah dalam memberikan hak dan rasa aman bagi para jurnalis kita dalam melakukan kegiatan jurnalistik serta kedudukkannya didalam hukum dan etika.

Keadaan dan Harapan Penilaian negatif para jurnalis terhadap hal diatas sebenarnya tidak akan terjadi jika mereka berpedoman kepada hukum dan etika yang menjunjung tinggi kepentingan bersama antara pemerintah, pengelola media massa dan masyarakat dalam melakukan kegiatan jurnalistik. Memang tidak dapat dipungkiri oleh kita semua, dalam masa transisi demokrasi sekarang ini kita belum mempunyai panduan yang pasti mengenai hukum, standar profesi jurnalistik dan etika pers. Hal ini terbukti dalam standar profesi jurnalisme, bahwa syarat-syarat seperti untuk menjadi wartawan dan penerbit pers tidak ada dalam UU Pers. Begitu pula konsep-konsep jurnalisme seperti accurate reporting (teliti, faktual), objective reporting (tidak memihak), fair reporting (jujur, tidak bias), balance reporting (pemberitaan berimbang antara isu-isu kontroversial secara proporsional) dan true reporting (benar) ternyata telah dicemari oleh tradisi pemberitaan yang vulgar yang sensasional, kegemaran cara pemberitaan yang disebut crisis news, action news, spot news,

dan hard news. Belum lagi di satu sisi dengan kebiasaan buruk mengambil angel kejadian yang menegangkan , memakai gaya bahasa articulation), cara memilih judul, lead (dictions,

dan cara menerapkan fungsi agenda

setting yang mencemaskan khalayak (Muis, 2001 : 100) Oleh sebab itu apabila sepanjang DPR dan Pemerintahan transisi demokrasi ini tetap bersikeras atas putusan RUU Penyiaran, sehingga terlambat mengambil keputusan atau bahkan gagal menciptakan dan mewujudkan adanya suatu kepentingan bersama , maka tak ayal lagi dampak dari semua itu akan menerpa kepada semua aspek dari kegiatan jurnalistik yang akan berakibat buruk bagi insan pers Indonesia, sehingga akan berpeluang menjadikan mereka sebagai pelaku delik pers dan sebagai pemangsa yang hanya memfokuskan diri pada pertimbangan pribadinya demi mencari keuntungan dan ketenaran diatas penderitaan orang lain, yang pada akhirnya dapat merusak moral bangsa dan memicu terjadinya konflik di negara ini yang korbannya tidak lain adalah masyarakat kita sendiri. Tetapi apa boleh buat rupanya nuansa dari dampak keterlambatan atau kegagalan diatas sudah mulai menerpa kepada kegiatan jurnalistik di negara kita, sehingga tidak heran jika dalam beberapa hal contohnya stasiun televisi swasta kita sudah mulai menganut sistem Pers Liberal atau lebih tepatnya dikatakan sebagai sistem Pers Vulgar, yang mencontoh stasiun televisi asing seperti di Negara Amerika, Inggris dan Australia yang memang sudah vulgar sebelumnya, hal ini terbukti dengan adanya tayangan iklan di televisi swasta kita dengan mengiklankan rokok dan minuman beralkohol yang tidak sesuai dengan ketentuan, yaitu dengan cara menunjukkan kemasan dari kedua jenis produk tersebut, bahkan hal ini diperparah lagi dengan adanya tayangan

produksi lokal seperti sinetron yang banyak mempromosikan pergaulan bebas, perselingkuhan, mengumbar darah dan kekerasan yang dinilai tidak mendidik pemirsanya terutama bagi golongan anak-anak dan generasi muda. Jika hal ini terus berlangsung dan dibiarkan, maka sepanjang itu pula lah media massa kita akan bersikap arogan dan vulgar bahkan boleh jadi media massa kita akan lebih arogan dan vulgar dibandingkan dengan media massa asing yang mutlak liberalis, yang misi dan visi siarannya dipengaruhi oleh kepentingan pribadi, ekonomi dan politik dari pihak-pihak yang berkepentingan, dalam mengambil keuntungan dengan memanfaatkan efek media massa yang dapat mempengaruhi aspek kognitif, afektif dan konatif pemirsanya. Sebenarnya harapan dan keadaan yang banyak dinantikan oleh para jurnalis dan masyarakat kita, adalah sebuah harapan dan keadaan yang bersumber dari pandangan positif para jurnalis dalam kedudukkannya didalam hukum dan etika. Dengan artian ketentuan yang diberikan pemerintah tidak mengekang kebebasan pers dan tidak menjadikan beban bagi para jurnalis dalam melakukan kegiatan jurnalistiknya, melainkan ketentuan yang memuat adanya suatu keseimbangan antara kepentingan pemegang kekuasaan, pengelola media massa dan masyarakat. Sehingga makna dari kebebasan ini bukan berarti bebas sebebasbebasnya memanfaatkan atau menggunakan efek media massa hanya untuk mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain, melainkan kebebasan yang tidak membebaskan para jurnalis dan pengelola media massa menyampaikan hal-hal yang bersifat liberalis atau vulgar tanpa memperhitungkan etika dan dampak dari pesan yang akan disampaikan kepada pemirsanya.

Dengan demikian adanya panduan yang pasti mengenai hukum, standar profesi jurnalistik dan etika pers memang sangat ideal dan perlu diterapkan. Namun sangat disayangkan, untuk Indonesia masih tak lebih dari sebuah mimpi yang indah. (Muis, 2001: 100)
DAFTAR PUSTAKA Effendy, Onong Uchjana. 1986. Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek,Bandung : CV. Remadja Karya. Mc Quail, Denis and Windahl, Sven. 1984. Communication Models, Longman and New York. Muis, Andi, Abdul. 2001. Komunikasi Islam, Bandung : PT. Remadja Rosda Karya. Program Ekstensi FIKOM-UNPAD. 2000 Diktat mata kuliah Hukum dan Etika Pers. UNPAD-BANDUNG

Riwayat Hidup Penulis Penulis. lahir di Bogor Pada Tanggal 25 Agustus 1977.Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA PGRI 3 Bogor, kemudian melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor, pada program diploma Komunikasi Pembangunan Peternakan. Fakultas Peternakan. Program S-1 diselesaikan di Universitas Padjadjaran Bandung, dalam Program Ekstensi Ilmu Komunikasi. Kemudian bergabung di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).Di UPT. Balai Konservasi Tumbuhan. Kebun Raya Cibodas-LIPI dari tahun 2002 sampai 2004 sebagai penyelenggara humas. Mulai tahun 2004 sekarang penulis berkerja di Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI sebagai Pranata Humas Pertama yang juga menangani jaringan yang tergabung dalam Tim Gabungan Jaringan LIPI (TGJ-LIPI).