Anda di halaman 1dari 7

OUTSOURCING

Oleh : VIKA

DEFINISI OUTSOURCING
merupakan proses pemindahan tanggung jawab tenaga kerja dari perusahaan induk ke perusahaan lain diluar perusahaan induk. Outsourcing dalam regulasi ketenagakerjaan bisa hanya mencakup tenaga kerja pada proses pendukung (non--core business unit) atau secara praktek semua lini kerja bisa dialihkan sebagai unit outsourcing.

DASAR HUKUM
Undang-Undang No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan khususnya Bab IX tentang Hubungan Kerja, yang didalamnya terdapat pasal-pasal yang terkait langsung dengan outsourcing.

KEUNTUNGAN
Fokus pada kompetensi utama Penghematan dan pengendalian biaya operasional Memanfaatkan kompetensi vendor outsourcing Perusahaan menjadi lebih ramping dan lebih gesit dalam merespon pasar Mengurangi resiko Meningkatkan efisiensi dan perbaikan pada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya non-core

PERMASALAHAN
Pekerja tidak memiliki skill dan keterampilan yang memadai Tidak adanya job security untuk pekerja Tingkat turnover yang tinggi Perbedaan perlakuan compensation and benefit antara karyawan internal dan outsourcing Ketidakpastian status ketenagakerjaan

PENYELESAIAN
Pengguna harus menyeleksi vendor penyedia jasa outsourcing yang tepat dan memiliki reputasi yang baik. Komunikasi dua arah antara perusahaan dengan provider jasa outsource (Service Level Agreement) akan kerjasama, perubahan atau permasalahan yang terjadi.

Job training sebelum mulai bekerja sesuai dengan klasifikasi yang diajukan oleh pihak pengguna Memperhatikan hak dan kewajiban baik pengguna outsourcing, vendor maupun tenaga kerja Pertemuan berkala untuk membahas permasalahan dan menemukan solusi terbaik Adanya relationship officer