Anda di halaman 1dari 2

Cold pressor test Hasil dan pembahasan a.

Hasil Nama probandus : Yonanda Widhi Riwayat hipertensi pada keluarga : 1. ayah : tidak 2. ibu : tidak Tekanan darah basal : 1. 100/70 2. 100/70 3. 100/70 Tekanan darah setelah 30 perendaman tangan ke air es : 110/70 Tekanan darah setelah 60 perendaman tangan ke air es : 110/70 Tekanan darah pemulihan setelah 1 menit : 110/70 Tekanan darah pemulihan setelah 2 menit : + 108/70 (<110/70) Tekanan darah pemulihan setelah 3 menit : + 106/70 (<110/70) Tekanan darah pemulihan setelah 4 menit : + 104/70 (<110/70) Tekanan darah pemulihan setelah 5 menit : 100/70 b. Pembahasan Pada data hasil percobaan di atas, terlihat secara umum bahwa tekanan darah basal sistol dan diastol mengalami peningkatan setelah tangan dimasukkan ke dalam air es. Hal ini sesuai dengan mekanisme homeostatis tubuh manusia. Saat tubuh manusia berada pada temperatur yang relatif lebih rendah, pembuluh-pembuluh darah akan menyempit (vasokonstriksi), terutama pembuluh darah perifer. Tujuan vasokonstriksi tersebut adalah untuk menjaga panas tubuh agar tidak keluar. Vasokonstriksi tersebut berdampak pada naiknya tekanan darah sistol dan diastol. Kemungkinan lain yang menyebabkan tekanan darah o.p naik adalah sebelum o.p memasukkan tangan kirinya ke dalam air es atau sebelum menjalani percobaan, o.p merasa takut atau grogi akan dinginnya es yang akan melingkupi tangannya sehingga tekanan darah o.p meningkat. Di samping itu, adanya respon stress yang ditimbulkan tubuh saat tangan o.p dimasukkan dalam es yang bersuhu 4oC juga mungkin menjadi alasan naiknya tekanan darah o.p. Suhu yang sangat dingin ini akan menyebabkan tubuh tidak mampu mempertahankan kondisi homeostasis, sehingga menimbulkan respon stress. Respon stress ini akan memacu disekresikannya hormon adrenalin yang memacu peningkatan aktivitas kardiovaskuler termasuk peningkatan tekanan darah. Bila pada pendinginan tekanan sistolik naik lebih besar dari 20 mmHg dan tekanan distolik lebih dari 15 mmHg dari tekanan basal, maka o.p. termasuk golongan hiperreaktor yang dapat diprediksi memiliki potensi hipertensi. Bila kenaikan tekanan darah o.p. masih dibawah angka-angka tersebut diatas, maka o.p. termasuk golongan hiporeaktor. Contohnya pada o.p Yonanda dimana tekanan darah sistolnya naik sebesar 10 mmHg dan tekanan darah diastolnya tetap sehingga dapat disimpulkan o.p Yonanda termasuk golongan hiporeaktor. Pada percobaan ini bisa dilihat bahwa pada saat tubuh mengalami stres yang dalam hal ini diberikan stres terhadap perubahan temperatur yang ekstrim, yakni dari temperatur normal tubuh 37oC ke 4oC,tubuh akan memberikan kompensasi untuk beradaptasi pada keadaan ini. Pada keadaan stres Pusat pengatur tekanan darah yang ada di otak yang disebut pusat vasomotor akan menghantarkan impuls simpatis dan syaraf simpatis perifer ke hampir semua arteri, arteriol dan vena. Saraf simpatis ini menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah agar panas dari dalam tubuh tidak dialirkan ke perifer sehingga tidak terjadi pertukaran panas antara tubuh dari lingkunagn luar. Jika udara di luar dingin sedangkan tubuh kita tetap menyalurkan panas, maka panas tubuh kita akan diserap. Dan ini lama

kelamaan akan menyebabkan tubuh kehilangan panas, dan suhunya sama dengan suhu lingkungan yang dingin tersebut dan ini berbahaya. Selain itu, yang terpenting dalam percobaan ini adalah adanya peningkatan kerja jantung yang akan meningkatkan tekanan darah, hal ini terlihat dari hasil pengukuran dengan sfigmanometer terhadap naracoba. Tekanan darah naracoba saat tangannya dicelup dalam ember yang berisi air es menunjukkan angka yang lebih tinggi dari tekanan darah basal. Pertanyaan 1. Mengapa OP harus berbaring selama 10 menit? Jawab : karena dengan berbaring selama 10 menit, tubuh akan mengalami fase istirahat sehingga tekanan darah yang dimiliki OP tidak dipengaruhi oleh kerja saraf simpatis. Dengan demikian, tekanan darah yang terukur setelah berbaring merupakan tekanan darah basal tanpa dipengaruhi oleh saraf simpatis. 2. Apa kontraindikasi untuk melakukan Cold-Pressor Test? Jawab : peningkatan tekanan darah yang menunjukkan resiko hipertensi, iskemi, dan rasa nyeri 3. Bagaimana cara supaya saudara dapat mengukur tekanan darah orang percobaan dengan cepat? Jawab : siapkan alat dan bahan sebelum percobaan dilakukan. tentukan tekanan darah sistolik OP dengan cara palpasi. Pompa manset hingga tekanan +30 mmHg di atas tekanan sistolik tersebut pada saat waktu yang telah ditentukan (30 detik setelah perendaman). Dengarkan bunyi yang dihasilkan dan catat hasil yang diperoleh. Tanpa melepas manset, lanjutkan mengukur tekanan darah kembali pada waktu yang telah ditentukan (60). Dengarkan bunyi yang dihasilkan dan catat hasil yang diperoleh. Pemeriksaan harus dilakukan dengan cepat dan membutuhkan banyak latihan. 4. Apa yang diharapkan terjadi pada tekanan darah orang percobaan selama pendinginan, terangkan mekanismenya? Jawab : terjadi peningkatan tekanan darah Mekanisme yang terjadi Suhu rendah (4oC) stressor simpatis kerja jantung meningkat vasokontriksi curah jantung meningkat kapasitas pembuluh darah aliran darah meningkat peningkatan tekanan darah 5. Apa gunanya kita mengetahui bahwa seseorang termasuk golongan hiperreaktor atau hiporeaktor? Jawab : untuk orang percobaan dengan hasil berupa hiperreaktor akan mudah terjadi hipertensi. Manfaat dalam mengetahui seseorang merupakan hiporeaktor dan hipereaktor adalah sebagai tindakan preventif terhadap faktor-faktor resiko hipertensi lain yang mungkin menjadi faktor pemicu hipertensi selain keadaan hipereaktor itu sendiri. Kesimpulan dan saran Kesimpulan : 1. OP termasuk dalam golongan hiporeaktor yang ditandai dengan peningkatan tekanan sistolik <20 mmHg dan tekanan diastolik < 15 mmHg. 2. Cold pressor test merupakan suatu tes yang menggunaan air es dengan suhu 4 oC sebagai stressor simpatis yang merangsang kerja jantung dan menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah, sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan darah pada OP.