Anda di halaman 1dari 21

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Aspal Aspal dalam bahasa yang umum dikenal juga dengan "tar". Untuk kata "tar" atau "aspal" sering digunakan secara bergantian, mereka memiliki arti yang berbeda. Salah satu alasan untuk kebingungan ini disebabkan oleh fakta bahwa, di antara negara-negara lain, ada perbedaan substansial dalam arti dihubungkan dengan periode yang sama. Sebagai contoh, aspal minyak di Amerika Serikat disebut dengan aspal, sedangkan di Eropa "aspal" adalah campuran agregat batu dan aspal yang digunakan untuk pembangunan jalan. Di Eropa, istilah aspal menunjukkan residu dari penyulingan minyak bumi. Bitumen adalah campuran hidrokarbon yang tinggi berat molekul. Rasio persentase antara komponen bervariasi, sehubungan dengan asal-usul minyak mentah dan metode distilasi. Bahkan, aspal sudah dikenal sebelum awal eksploitasi ladang minyak sebagai produk asal alam, yang disebut dalam hal ini adalah aspal asli. Bitunie adalah produk alami tidak lagi digunakan dalam industri. Bitumen diperoleh sebagai produk sampingan dari penyulingan minyak bumi dapat digunakan sebagai atau mengalami proses fisik dan kimia yang mengubah komposisi dalam rangka untuk memberikan sifat tertentu. Operasi yang paling umum adalah proses oksidasi dan pencampuran dengan polimer yang berbeda. Aspal adalah campuran aspal dan bahan batu (kerikil, pasir, debu). Tar, yang sesuai dengan tar kata Inggris, adalah bahan yang terlihat mirip dengan aspal, tapi benar-benar berbeda dalam asal dan komposisi, dan, pada kenyataannya, yang diperoleh dari penyulingan litantrace (batubara). Materi ini, dibandingkan dengan aspal, menunjukkan kandungan lebih tinggi dari hidrokarbon aromatik polisiklik dan senyawa lain yang banyak mengandung oksigen, nitrogen dan belerang.

5

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.1 Struktur Aspal

Di banyak negara, di masa lalu, tar batubara sering diganti atau dicampur

dengan aspal dalam industri. Penggunaan tersebut, sekarang seluruhnya berhenti, telah menyebar kebiasaan baik menggunakan dua istilah dalam tar umum digunakan

dan aspal (

,

2010a)

2.1.1 Sumber Aspal

Sumber aspal dari kilang minyak (refinery bitumen). Aspal yang dihasilkan dari industri kilang minyak mentah (crude oil) dikenal sebagai residual bitumen, straight bitumen atau steam refined bitumen. Isitlah refinery bitumen merupakan nama yang tepat dan umum digunakan. Aspal yang dihasilkan dari minyak mentah yang diperoleh melalui proses destilasi minyak bumi. Proses penyulingan ini dilakukan dengan pemanasan hingga suhu 350 o C di bawah tekanan atmosfir untuk memisahkan fraksi-fraksi minyak seperti gasoline (bensin), kerosene (minyak tanah) dan gas oil. (Wignall, 2003).

6

Universitas Sumatera Utara

Minyak Mentah

(Crude Oil)

Minyak diesel
Minyak diesel
Minyak Tanah
Minyak Tanah
Aspal
Aspal

Bensin/Gasoline

Minyak Pelumas
Minyak Pelumas
diesel Minyak Tanah Aspal Bensin/Gasoline Minyak Pelumas bercampur (rektifikasi udara) Minyak Creosole

bercampur

(rektifikasi udara)

Minyak Creosole Batubara-Tar
Minyak Creosole
Batubara-Tar

Fluks

(rektifikasi udara) Minyak Creosole Batubara-Tar Fluks Emulsifier dalam air Aspal Cut Back Emulsi Aspal Cut back

Emulsifier dalam air

Aspal Cut Back

Emulsi Aspal

Cut back

Minyak penetrasi Aspal

Emulsi aspal

penetrasi

Gambar 2.2. Bermacam Jenis Aspal dan Proses Sebelumnya dari Minyak Bumi

2.1.2 Jenis Jenis Aspal Secara umum, jenis aspal dapat diklasifikasikan berdasarkan asal dan proses

pembentukannya adalah sebagai berikut :

1. Aspal Alami ini berasal dari berbagai sumber, seperti pulau Trinidad dan Bermuda. Aspal dari Trinidad mengandung kira-kira 40% organik dan zat-zat anorganik yang tidak dapat larut, sedangkan yang berasal dari Bermuda mengandung kira-kira 6% zat-zat yang tidak dapat larut. Dengan pengembangan aspal minyak bumi, aspal alamiah relatif menjadi tidak penting.

2. Aspal batuan adalah endapan alamiah batu kapur atau batu pasir yang diperpadat dengan bahan-bahan berbitumen. Aspal ini terjadi di berbagai bagian di Amerika Serikat. Aspal ini umumnya membuat permukaan jalan yang sangat tahan lama

7

Universitas Sumatera Utara

dan stabil, tetapi kebutuhan transportasi yang tinggi membuat aspal terbatas pada daerah-daerah tertentu saja.

3. Aspal minyak bumi perrtama kali digunakan di Amerika Serikat untuk perlakuan jalan pada tahun 1894. Bahan-bahan pengeras jalan aspal sekarang berasal dari minyak mentah domestik bermula dari ladang-ladang di Kentucky, Ohio, Michigan, Illinois, Mid-Continent, Gulf-Coastal, Rocky Mountain, California, dan Alaska. Sumber-sumber asing termasuk Meksiko, Venezuela, Colombia, dan Timur Tengah. Sebesar 32 juta ton telah digunakan pada tahun 1980 (Oglesby, C.H., 1996). Aspal Beton atau Asphalt Concrete (AC) merupakan jenis aspal yang paling

umum digunakan dalam proyek-proyek konstruksi seperti permukaan jalan, bandara, dan tempat parkir. Aspal ini terbagi atas beberapa jenis yaitu :

1. Aspal Beton Campuran Panas atau Hot Mix Asphalt Concrete (HMAC), diproduksi dengan memanaskan aspal untuk mengurangi viskositas, dan pengeringan agregat untuk menghilangkan uap air sebelum pencampuran. Pencampuran dilakukan umumnya pada temperatur sekitar 300 F (150 o C), untuk aspal polimer modifikasi, dan aspal semen sekitar pada temperatur 200 F (95 o C). Untuk pemadatan dilakukan sementara aspal cukup panas. HMAC merupakan jenis aspal yang paling umum dipakai pada jalan raya.

2. Aspal Beton Campuran Hangat (WMAC), diproduksi dengan penambahan zeolit, lilin atau asapal emulsi untuk campuran. Penggunaan zat aditif dalam campuran

tersebut untuk lebih mudah melakukan pemadatan pada cuaca yang dingin.

3. Aspal Beton Campuran Dingin (CMAC), dipoduksi oleh emulsifier aspal dalam air dengan sabun sebelum pencampuran dengan agregat. Aspal ini umumnya digunakan sebagai bahan penambal pada jalan-jalan yang lebih kecil.

4. Aspal Beton Cut Back, diproduksi dengan melarutkan bahan pengikat dalam minyak tanah atau fraksi yang lebih ringan dari minyak bumi sebelum pencampuran dengan agregat.

8

Universitas Sumatera Utara

5. Aspal Beton Mastis, diproduksi dengan memanaskan aspal keras dalam hot mixer

sampai menjadi cairan yang lebih kental yang kemudian campuran agregat

ditambahkan.

Aspal penetrasi 60/70 asal iran merupakan salah satu jenis aspal minyak bumi

yang diimpor dari Iran-Teheran. Aspal jenis ini sangat sesuai dan direkomendasikan

untuk negara beriklim tropis seperti Indonesia, karena di desain untuk bisa elastis

menyesuaikan suhu yang naik dan turun, contohnya aspal yang dipergunakan sebagai

bahan utama dalam penelitian ini yaitu aspal penetrasi 60/70. Untuk data jenis

pengujian dan data persyaratan aspal tersebut tercantum seperti pada Tabel 2.1

(

,

2010b).

Tabel 2.1 Data Jenis Pengujian dan Persyaratan Aspal Tipe Grade 60/70

Sifat

Ukuran

Spesifikasi

Standart Pengujian

Densitas pada T 25 o C Penetrasi pada T 25 o C Titik leleh Daktilitas pada T 25 o C Kerugian pemanasan Penurunan pada penetrasi setelah pemanasan Titik nyala Kelarutan dalam CS 2 Spot Test

K/m 3

1010 - 1060

ASTM-D71/3289

0,1 mm

60/70

ASTM-D5

o C

49/56

ASTM-D36

Cm

Min. 100

ASTM-D113

%wt

Max. 0,2

ASTM-D6

%

Max. 20

ASTM-D6&D5

o C

Min. 250

ASTM-D92

%wt

Min. 99,5

ASTM-D4

Negatif

AASHO T102

2.1.3 Kandungan Aspal

Dari sudut pandang kualitatif, aspal terdiri dari dua kelas utama senyawa:

yang asphaltenes dan Malteni. Asphaltenes, dalam 5 sampai 25% berat adalah

campuran kompleks dari hidrokarbon, terdiri dari cincin aromatik kental dan senyawa

heteroaromatic mengandung belerang. Ada juga amina dan amida, senyawa oksigen

(keton, fenol atau asam karboksilat), nikel dan vanadium ( 2010a).

,

9

Universitas Sumatera Utara

Di dalam maltene terdapat tiga komponen penyusun yaitu saturates, aromatis, dan resin. Dimana masing-masing komponen memiliki struktur dan komposisi kimia yang berbeda, dan sangat menentukan dalam sifat rheologi bitumen. Aspal merupakan senyawa yang kompleks, bahan utamanya disusun oleh hidrokarbon dan atom-atom N, S, dan O dalam jumlah yang kecil, juga beberapa logam seperti Vanadium, Ni, fe, Ca dalam bentuk garam organik dan oksidanya. Dimana unsur- unsur yang terkandung dalam bitumen adalah Karbon (82-88%), Hidrogen (8-11%), Sulfur (0-6%), Oksigen (0-1,5%), dan Nitrogen (0-1%).

Gambar 2.3. Struktur Asphaltenes

Gambar 2.4. Struktur Saturate

Dengan demikian maka aspal atau bitumen adalah suatu campuran cairan kental senyawa organik, berwarna hitam, lengket, larut dalam karbon disulfida, dan struktur utamanya oleh ”polisiklik aromatis hidrokarbon” yang sangat kompak. (Nuryanto, A. 2008).

10

Universitas Sumatera Utara

2.2 Polimer Modifikasi Aspal (PMA)

Penggunaan campuran polimer aspal merupakan trend yang semakin meningkat tidak hanya karena faktor ekonomi, tetapi juga demi mendapatkan kualitas aspal yang lebih baik dan tahan lama. Modifikasi polimer aspal yang diperoleh dari interaksi antara komponen aspal dengan bahan aditif polimer dapat meningkatkan sifat-sifat dari aspal tersebut. Dalam hal ini terlihat bahwa keterpaduan aditif polimer yang sesuai dengan campuran aspal. Penggunaan polimer sebagai bahan untuk memodifikasi aspal terus berkembang di dalam dekade terakhir. (Pei-Hung, 2000). Badan Litbang Kementerian PU (2007), melakukan pengujian dengan

menggunakan bahan aditif dengan menggunakan karet alam untuk meningkatkan mutu perkerasan jalan beraspal sebesar 3 % dari berat aspal minyak dengan hasil memperbaiki karakteristik aspal konvensional, meningkatkan mutu perkerasan beraspal yang ditunjukkan dengan peningkatan modulus resilien dan kecepatan deformasi, meningkatkan umur konstruksi perkerasan jalan yang ditunjukkan percepatan terjadinya retak dan alur. PT. Tunas Mekar Adiperkasa dengan produknya aspal BituPlus®. Dimana aspal ini memakai polimer elastomer atau dari bahan jenis karet. Pengujian terhadap pemakaian aspal tersebut dihasilkan aspal yang memiliki titik lembek tinggi, kelenturan yang lebih baik serta penetrasi yang optimal daripada menggunakan aspal biasa serta perkerasan jalan lebih tahan terhadap aging akibat pengaruh sinar ultraviolet sehingga memperbaiki kinerja beton aspal (Rianung, 2007). Penambahan bahan polimer yang bersifat elastomer seperti karet alam, maupun karet sintetis, dapat memberikan aspal dengan fleksibilitas dan keelastisan yang lebih baik, termasuk juga perbaikan terhadap resistensi dan ketahanan terhadap temperatur rendah. (Strommer 1986).

11

Universitas Sumatera Utara

2.3 Karet Alam

Karet merupakan politerpena yang disintesis secara alami melalui polimerisasi enzimatik isopentilpirofosfat. Unit ulangnya adalah sama sebagaimana 1,4- poliisoprena. Dimana isoprena merupakan produk degradasi utama karet. Bentuk utama dari karet alam, yang terdiri dari 97% cis-1,4-isoprena, dikenal sebagai Hevea Rubber. Hampir semua karet alam diperoleh sebagai lateks yang terdiri dari 32-35% karet dan sekitar 5% senyawa lain, termasuk asam lemak, gula, protein, sterol ester dan garam. Lateks biasa dikonversikan ke karet busa dengan aerasi mekanik yang diikuti oleh vulkanisasi (Stevens, 2001). Komponen utama karet alam merupakan suatu rantai polimer yang tersusun dari hampir semua struktur cis- 1,4 poliisoprena yang sempurna, oleh karena itu karet alam disebut juga dengan cis- 1,4 poliisoprena (Morton, 1987).

Gambar 2.5 Struktur Karet Alam

2.3.1 Hasil Hasil Olahan Karet Alam

Ada beberapa macam karet alam yang dikenal, diantaranya merupakan bahan olahan. Bahan olahan ada yang setengah jadi atau sudah jadi. Ada juga karet yang

diolah kembali berdasarkan bahan karet yang sudah jadi. Hasil-hasil olahan karet alam yang di perdagangkan adalah :

1. Bahan olah karet (lateks kebun, sheet angin, slab tipis dan lump segar)

2. Karet konvensional (RSS, white crepes, dan pale crepe)

3. Lateks pekat

12

Universitas Sumatera Utara

4.

Karet bongkah atau block rubber (SIR 5, SIR 10, dan SIR 20)

5.

Karet spesifikasi teknis atau crumb rubber

6.

Karet siap olah atau tyre rubber

7.

Karet reklim atau reclaimed rubber (Tim penulis, 1992).

2.3.2

Sifat-Sifat Karet Alam

Warnanya agak kecoklat-coklatan, tembus cahaya atau setengah tembus cahaya, dengan berat jenis 0,91-093. Sifat mekaniknya tergantung pada derajat

vulkanisasi, sehingga dapat dihasilkan banyak jenis sampai jenis yang kaku seperti ebonite. Temperatur penggunaan yang paling tinggi sekitar 99 0 C, melunak pada

130 0 C dan terurai sekitar 200 0 C. Sifat isolasi listriknya berbeda karena pencampuran

dengan aditif. Namun demikian, karakteristik listrik pada frekuensi tinggi, jelek. Sifat

kimianya jelek terhadap ketahanan minyak dan ketahanan pelarut. Zat tersebut dapat larut dalam hidrokarbon, ester asam asetat, dan sebagainya. Karet yang kenyal agar mudah didegradasi oleh sinar UV dan ozon.

2.3.3 Karet SIR-20

Standar mutu karet bongkah Indonesia tercantum dalam Standar Indonesia Rubber (SIR). SIR adalah Karet bongkah (karet remah) yang telah dikeringkan dan dikilang menjadi bandela-bandela dengan ukuran yang telah ditentukan. Karet alam SIR-20 berasal dari koagulum (lateks yang sudah digumpalkan) atau hasil olahan seperti lum,sit angin, getah keeping sisa, yang diperoleh dari perkebunan rakyat dengan asal bahan baku yang sama dengan koagulum.

13

Universitas Sumatera Utara

Karet SIR-20 mempunyai spesifikasi berdasarkan Standar Indonesia Rubber

(SIR) 06-1903-1990 sebagai berikut.

Tabel 2.2. Standar Indonesia Rubber

Spesifikasi

SIR 20

Kadar kotoran, % maks (b/b)

0.20

Kadar abu, % maks (b/b) Kadar zat menguap, % maks (b/b)

1.00

0.80

PRI, min

50

PO, Min

30

Nitrogen, maks (b/b)

0.60

Uji kemantapan viskositas/ ASHT (satuan Eallace), maks

-

Viscositas Mooney ML (1+4)100

-

Derajat Celcius

-

Warna, Lovibond

-

Cure

-

Prinsip tahapan proses pengolahan karet SIR-20 yaitu

1. Sortasi bahan baku

2. Pembersihan dan pencampuran makro

3. Peremahan Pengeringan

4. Pengempaan bandela

5. Pengemasan

Perbedaan SIR 5, SIR 10, dan SIR 20 adalah pada standar spesifikasi mutu

kadar kotoran, kadar abu dan kadar zat menguap yang sesuai dengan Standar

Indonesia Rubber. Langkah proses pengolahan karet SIR 20 bahan baku koagulum

(lum mangkok, sleb, sit angin, getah sisa). Disortasi dan dilakukan pembersihan dan

pencampuran mikro, pengeringan gantung selama 10 hari sampai 20 hari, peremahan,

pengeringan, pengempaan bandela, (setiap bandela 33 Kg atau 35 Kg), pengemasan

dan karet SIR-20 siap untuk diekspor (Ompusunggu, 1987).

14

Universitas Sumatera Utara

2.3.4 Penggunaan Karet Alam

Karet alam banyak digunakan dalam industri-industri barang. Umumnya alat- alat yang dibuat dari karet alam sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari maupun dalam industri seperti mesin-mesin pengerak Barang yang dapat dibuat dari karet alam antara lain ban mobil, tetapi juga ditemukan dalam sekelompok produk-produk komersial termasuk sol sepatu, segel karet, insulasi listrik, sabuk penggerak mesin besar dan mesin kecil, pipa karet, kabel, isolator, bahan-bahan pembungkus logam, aksesoris olah raga dan lain-lain (Tim penulis, 1992).

2.4

Agregat

Menurut Silvia Sukirman, (2003), agregat merupakan butir-butir batu pecah, kerikil, pasir atau mineral lain, baik yang berasal dari alam maupun buatan yang berbentuk mineral padat berupa ukuran besar maupun kecil atau fragmen-fragmen. Agregat merupakan komponen utama dari struktur perkerasan jalan, yaitu 90 95% agregat berdasarkan persentase berat, atau 75 85% agregat berdasarkan persentase volume. Dengan demikian kualitas perkerasan jalan ditentukan juga dari sifat agregat dan hasil campuran agregat dengan material lain. Sifat agregat merupakan salah satu faktor penentu kemampuan perkerasan jalan memikul beban lalu lintas dan daya tahan terhadap cuaca. Sifat agregat yang menentukan kualitasnya sebagai material perkerasan jalan adalah: gradasi, kebersihan, kekerasan ketahanan agregat, bentuk butir, tekstur permukaan, porositas, kemampuan untuk menyerap air, berat jenis, dan daya kelekatan terhadap aspal. Sifat agregat tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis batuannya.

2.4.1 Jenis Agregat Agregat menurut asal kejadiannya dapat dibagi menjadi 3 jenis :

1.

Batuan Beku (igneous rock). Batuan yang berasal dari magma yang mendingin dan membeku. Dibedakan atas batuan beku luar (extrusive igneous rock) dan batuan beku dalam (intrusive igneous rock).

15

Universitas Sumatera Utara

2. Batuan Sedimen. Berasal dari campuran partikel mineral, sisa hewan dan tanaman. Pada umumnya merupakan lapisan-lapisan pada kulit bumi, hasil endapan di danau, laut dan sebagainya.

3. Batuan Metamorfik. Berasal dari batuan sedimen ataupun batuan beku yang mengalami proses perubahan bentuk akibat adanya perubahan tekanan dan temperatur dari kulit bumi. Agregat menurut proses pengolahannya dapat dibagi atas 3 jenis :

1. Agregat Alam. Agregat yang dapat dipergunakan sebagaimana bentuknya di alam atau dengan sedikit proses pengolahan. Agregat ini terbentuk melalui proses erosi dan degradasi. Bentuk partikel dari agregat alam ditentukan proses pembentukannya.

2. Agregat melalui proses pengolahan. Digunung-gunung atau dibukit-bukit, dan sungai-sungai sering ditemui agregat yang masih berbentuk batu gunung, dan ukuran yang besar-besar sehingga diperlukan proses pengolahan terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai agregat konstruksi jalan.

3. Agregat Buatan. Agregat yang merupakan mineral filler/pengisi (partikel dengan ukuran < 0,075 mm), diperoleh dari hasil sampingan pabrik-pabrik semen atau mesin pemecah batu. Agregat, berdasarkan ukuran butirannya dapat dibagi atas 3 bagian menurut The Asphalt Institut, (1993), dalam Manual Series No. 2 (MS-2) :

1. Agregat Kasar, adalah agregat dengan ukuran butiran lebih besar dari saringan No. 8 (2,36 mm)

2. Agregat Halus, adalah agregat dengan ukuran butiran lebih halus dari saringan No.8 (2,36 mm).

3. Bahan Pengisi (filler), adalah bagian dari agregat halus yang minimum 75% lolos saringan no. 30 (0,06 mm)

16

Universitas Sumatera Utara

2.5 Pasir

Pasir adalah bahan batuan halus yang terdiri dari butiran sebesar 0,14 - 5 mm didapat dari hasil disintegrasi batu alam (natural sand) atau dapat juga pemecahanya (artifical sand), dari kondisi pembentukan tempat terjadinya pasir alam dapat dibedakan atas : pasir galian, pasir sungai, pasir laut yaitu bukit-bukit pasir yang

dibawa ke pantai (Setyono, 2003). Pasir merupakan agregat halus yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran aspal beton. Agregat ini menempati kurang lebih 70% dari volume aspal, sehingga akan sangat berpengaruh terhadap kekuatannya (Setyawan, 2006). Senyawa kimia silikon dioksida, juga yang dikenal dengan silika (dari bahasa latin silex), adalah oksida dari silikon dengan rumus kimia SiO 2 dan telah dikenal sejak dahulu kekerasannya. Silika ini paling sering ditemukan di alam sebagai pasir atau kuarsa, serta di dinding sel diatom.

2.6 Dikumil Peroksida (DCP)

Beberapa jenis monomer, khususnya stirena dan metal metakrilat dan beberapa sikloalkana cincin teregang, mengalami polimerisasi oleh pemanasan tanpa hadirnya suatu inisiator radikal bebas tambahan. Akan tetapi sebagian monomer memerlukan beberapa jenis inisiator. Inisiator radikal bebas dikelompokkan menjadi empat tipe utama, yaitu : peroksida dan hidroperoksida, senyawa azo, inisiator redoks dan beberapa senyawa membentuk radikal bebas dibawah pengaruh cahaya (fotoinisiator). Diantara berbagai tipe inisiator, peroksida (ROOR) dan hidroperoksida (ROOH) merupakan jenis yang paling banyak digunakan. Mereka tidak stabil dengan panas dan terurai menjadi radikal-radikal pada suatu suhu dan laju yang tergantung pada strukturnya. Yang ideal, suatu inisiator peroksida mestilah relatif stabil pada suhu pemrosesan polimer untuk menjamin laju reaksi yang layak (Stevens, 2001).

17

Universitas Sumatera Utara

Teknik crosslinking (ikat silang) karet dengan peroksida telah dikenal sejak lama. Keuntungan umum menggunakan peroksida sebagai zat ikat silang adalah ketahanannya baik pada suhu tinggi dalam waktu yang lama, keelastisannya yang baik, dan tidak ada penghilangan warna pada produk akhir.

Gambar 2.6 Struktur Dikumil Peroksida

2.7 Divenil Benzena (DVB)

Divenil benzena berubah-ubah secara ekstrim zat crosslinking (ikat silang) yang sangat baik dan juga meningkatkan sifat-sifat polimer. Sebagai contoh, difenil benzena banyak digunakan pada pabrik adesif, plastik, elastromer, keramik, material

biologis, mantel, katalis, membran, peralatan farmasi, khususnya polimer dan resin penukar ion.

Gambar 2.7 Struktur Divenil benzena

Rumus molekul difenil benzena C 10 H 10 , titik didih 195 o C, tidak larut dalam air dan larut dalam etanol dan eter dan titik nyala 76 o C. ketika bereaksi bersama- sama dengan stirena, difenil benzena dapat digunakan sebagai monomer reaktif dalam resin polyester. Stiren dan difenil benzena bereaksi secara bersama-sama menghasilkan kopolimer stirena difenilbenzena (James, 2005).

18

Universitas Sumatera Utara

2.8 Proses Ekstruksi

Proses Ekstruksi yang diperkenalkan sekitar tahun 1700 bermula dengan memperkenalkan ekstruksi bahan logam, dengan mengekstruksi pipa lead. Dalam prosesnya sebuah billet bulat di tempatkan dalam sebuah chamber dan didorong melalui sebuah cetakan terbuka dengan menggunakan sebuah ram. Hasil produk, keluar dari cetakan dengan pengurangan penampang permukaan. Proses ekstruksi dapat diperlakukan dalam bentuk kerja panas maupun dingin, walaupun demikian, proses kerja panas lebih banyak dipraktekkan untuk berbagai jenis logam karena mengurangi gaya dorong yang diperlukan. Ekstruksi untuk bahan logam dibagi atas

empat jenis tipe yaitu ekstruksi langsung (direct); ekstruksi tidak langsung (indirect), ekstruksi hidrostatis dan ekstruksi impak.

1. Ekstruksi langsung merupakan proses ekstruksi yang paling sederhana, dimana dalam pengerjaannya sebuah material dasar ditempatkan pada chamber yang berbentuk silinder kemudian sebuah blok ditempatkan dibelakangnya. Kemudian gaya dorong diberikan melalui sebuah ram mendorong material melalui cetakan (die) pada ujung silinder. Cetakan ini dapat didesain sesuai dengan bentuk geometri yang diinginkan misalnya bentuk bulat, persesi, persegi panjang dan bentuk lain yang lebih kompleks.

2. Ekstruksi tidak langsung merupakan kebalikan dari proses ekstruksi langsung. Proses ini memerlukan gaya yang lebih kecil dibandingkan dengan ekstruksi langsung karena lebih sedikit gesekan yang terjadi.

3. Ekstruksi hidrostatik, dimana dalam prosesnya tidak ada gesekan sepanjang dinding silinder, untuk ruang chamber diisi dengan fluida yang mentransmisikan tekanan ke billet, yang kemudian di ekstruksikan melalui cetakan.

4. Ekstruksi impak adalah salah satu bentuk ekstruksi tak langsung, dimana pada prosesnya sebuah punch dijatuhkan kearah material. Proses ini digunakan untuk menghasilkan bentuk berongga.

19

Universitas Sumatera Utara

Pada saat ini, proses ekstruksi bukan hanya sekedar pada bahan logam saja tetapi juga telah dikembangkan untuk bahan polimer (termoplastik), dimana dalam prosesnya, gaya dorong bukan lagi dihasilkan melalui sebuah ram, melainkan sebuah poros berulir yang bertugas seperti ram yaitu mendorong bahan polimer hingga keluar dari die (Mahadi, 2007).

2.8.1 Ekstruksi Bahan Termoplastik

Proses ekstruksi bahan termoplastik mempunyai prinsip yang hampir sama untuk ekstruksi logam hanya saja dalam mengekstrusi bahan polimer tidak lagi menggunakan ram seperti halnya ekstruksi logam, tetapi menggunakan sebuah screw. Bahan baku yang digunakan dalam proses ekstruksi termoplastik ini juga berbeda dengan ekstruksi bahan logam. Jika pada ekstruksi logam bahan baku yang dimasukkan dalam bentuk batangan, plat ataupun lembaran. Pada ekstrusi polimer bahan baku yang digunakan adalah dalam bentuk biji plastik (pellet). Hasil produk dari proses ekstruksi termoplastik juga beraneka ragam, seperti halnya pada ekstruksi logam. Tetapi salah satu bentuk produk yang paling muktahir adalah hasil produk yang berbentuk kain (sheet) atau bentuk film. Dan hasil keluaran dari mesin ekstruksi ini dapat diolah menjadi berbagai kegunaan lain seperti kantongan ataupun benang yang digunakan dalam menganyam karung beras. Mesin ekstruksi untuk termoplastik umumnya terdiri dari sebuah screw tunggal (single screw) namun pada saat ini telah dikembangkan juga mesin ekstruksi termoplastik dengan menggunakan screw double dan multi. Dibawah ini akan dibahas tentang proses ekstruksi dari mesin ekstruksi ulir tunggal (Mahadi, 2007).

20

Universitas Sumatera Utara

2.8.2 Mesin Ekstruksi Ulir Tunggal

Mesin ektruksi ini mempunyai bagian utama berupa sebuah poros berulir (screw) yang berfungsi untuk mendorong dan menekan bahan pellet hinnga keluar dari die. Bagan utama alat ekstruder ini adalah seperti pada Gambar 2.8.

utama alat ekstruder ini adalah seperti pada Gambar 2.8. Gambar 2.8 Mesin Ekstruksi Ulir Tunggal Dalam

Gambar 2.8

Mesin Ekstruksi Ulir Tunggal

Dalam prosesnya bahan baku polimer berbentuk pellet dimasukkan kedalam hopper dan digerakkan melalui barrel dengan menggunakan sebuah poros berulir yang berbentuk helical (screw conveyor) dan kemudian dihantarkan hingga ke cetakan (die). Poros berulir seperti pada gambar 4 tersebut terdiri dari tiga bagian utama, yaitu :

a. Bagian masuk (feeding section) adalah bagian yang mempunyai diameter ulir yang konstan dan daerah tempat bahan mengalir tentu saja juga konstan, yang membawa bahan baku menuju bagian kompresi (bagian pelumatan/ pengliatan). b. Bagian kompresi (compression section), dimana pada bagian kompresi ini, diameter poros screw meningkat secara berlanjut sedangkan sebaliknya daerah bebas alir dari bahan makin mengecil, disini bahan polimer dilunakan/ diliatkan. Pada daerah ini juga bahan polimer dipanaskan hingga suhu tertentu agar bahan poilimer dapat mengalir dengan lancar, sedangkan untuk menjaga agar barrel tidak kelebihan panas, maka dipasang blower untuk mengatur suhu barrel agar bertahan pada suhu tertentu. Setelah melewati bagian kompresi, bahan kemudian dibawa pada bagian akhir.

21

Universitas Sumatera Utara

c. Bagian akhir (metering section), untuk bagian ini sama dengan daerah pemasukan yang mempunyai daerah bebas alir yang konstan, namun daerah bebas alirnya lebih kecil. Di sini bahan akan mengalami kenaikkan suhu lagi karena tekanan geser clan gesekan pada daerah ini cukup besar. Perancangan untuk poros berulir ini sangat penting untuk diperhatikan karena hasil ekstruksi sangat dipengaruhi oleh bentuk poros ulirnya. Sudut pitch yang umum untuk bahan plastik adalah berkisar 17,5° tetapi dapat lebih tinggi untuk beberapa jenis plastik tertentu. Sedangkan rasio kompresi (rasio daerah bebas alir bahan untuk bagian awal dan akhir dari ulir adalah berkisar mulai dari 2: 1 hingga 4 : 1) dan perbandingan panjang (atau lebih umum disebut rasio panjang dengan diameter poros umumnya berkisar antara 16 : 1 hingga 32 : 1). Polimer yang sensitive terhadap panas (seperti PVC) diekstruksi dengan tegangan geser yang lebih kecil sedangkan bahan polimer yang mempunyai titik leleh yang lebih tinggi (seperti nilon) membutuhkan bagian akhir (metering section) yang lebih panjang dan bagian kompresi (compression section) yang lebih pendek. Untuk proses yang lebih balk, suhu (baik pemanasan maupun pendinginan), tekanan balik, kecepatan dari poros berulir, laju injeksi dan lainnya harus dill-Control dengan ketat sekali. Pengendalian suhu sepanjang barrel menjadi lebih kritis jika diaplikasinya bentuk ulir yang sesuai untuk segala jenis plastik. Untuk menghindari bahan polimer yang tidak meleleh dengan sempurna atau menyaring kotoran yang memasuki mesin ekstruksi, maka satu atau beberapa saringan dipasang pada garis alir polimer. Saringan ini terbuat dari sebuah plat yang terdiri dari banyak sejumlah lubang - lubang kecil dan berdiameter sekitar 3 mm. Poros berulir kembar dan poros multi dalam proses ekstruksi cocok untuk material yang sensitive terhadap panas karena lebih kecil dalam menghasilkan tegangan geser dan gesekan pada saat material bergerak sepanjang barrel (Mahadi, 2007).

22

Universitas Sumatera Utara

2.9

Karakterisasi Polimer Modifikasi Aspal

2.9.1

Kuat Tekan

Pemeriksaan uji kuat tekan dilakukan untuk mengetahui secara pasti akan

kekuatan tekan yang sebenarnya apakah sesuai dengan yang direncanakan atau tidak.

Pada mesin uji kuat tekan benda diletakkan dan diberikan beban sampai benda

runtuh, yaitu pada saat beban maksimum bekerja. Pengukuran kuat tekan

(compressive strength) aspal polimer dapat dihitung dengan menggunakan persamaan

berikut (Newdesnetty, 2009).

C

P

A

(2.1)

Dengan :

P

= gaya maksimum dari mesin tekan, N

A

= Luas penampang yang diberi tekanan, mm 2

C

= Nilai kuat tekan, N/mm 2 atau MPa.

2.9.2 Penyerapan Air

Untuk mengetahui besarnya penyerapan air oleh aspal polimer, dihitung

dengan menggunakan persamaan berikut (Newdesnetty, 2009).

WA

(

M

j

M

k

)

M

k

x 100%

(2.2)

Dengan :

M k

=

massa sampel kering (kg)

M j

= massa jenuh air (kg)

WA

= nilai penyerapan air (%)

23

Universitas Sumatera Utara

2.9.3 Differential Thermal Analysis (DTA)

Differential Thermal Analysis (DTA) merupakan metode yang paling akhir digunakan saat ini untuk penelitian-penelitian kuantitatif terhadap transisi termal dalam polimer. Dalam metode DTA, suatu sampel polimer dan referensi inert dipanaskan, biasanya dalam atmosfer nitrogen, dan kemudian transisi-transisi termal

dalam sampel tersebut dideteksi dan diukur. Ukuran sampel bervariasi dari sekitar 0,5 sampai 10 mg. meskipun kedua metode memberikan tipe informasi yang sama, terdapat perbedaan yang signifikan dalam instrumentasinya. Dengan DTA, sampel dan referensi diberikan dengan pemanasan sendiri-sendiri dan energi disuplai untuk menjaga suhu-suhu sampel dan referensi tetap konstan. Dalam hal ini, perbedaan daya listrik antara sampel dengan referensi (d∆Q/dt) dicatat. Data diplot sebagai (d∆Q/dt) diatas ordinat versus temperatur diatas absis. Plot-plot demikian disebut termogram (Stevens, 2001).

2.9.4 Scanning Electron Microscopy (SEM)

SEM merupakan alat yang dapat membentuk bayangan permukaan. Struktur permukaan suatu benda uji dapat dipelajari dengan mikroskop elektron pancaran karena jauh lebih udah mempelajari struktur permukaan itu secara langsung. Pada SEM suatu berkas insiden elektron yang sangat halus di-scan meyilangi permukaan sampel dalam sinkronisasi dengan berkas tersebut dalam tabung sinar katoda. Elektron-elektron yang akan terhambur digunakan untuk memproduksi sinyal yang memodulasi berkas dalam tabung sinar katoda, yang memproduksi suatu citra dengan kedalaman medan yang besar dan penampakan yang hampir tiga dimensi (Stevens, 2001).

24

Universitas Sumatera Utara

2.9.5 Spektroskopi Fourier Transform Infra Red (FT-IR)

Spektroskpoi FT-IR merupakan suatu metode analisis yang umum dipakai untuk meneliti bahan polimer dan analisis gugus fungsi. Dengan cara menentukan dan merekam hasil spektra residu dengan serapan energi oleh molekul organik dalam sinar infra merah. Daerah infra merah merupakan bagian daerah yang memiliki

panjang gelombang dari 7601 jt nm. Dimana dalam daerah ini apabila molekul diberi energi maka molekul tersebut dapat menyebabkan tekukan dan uluran ikatan itu akan meningkat, atau energi ini dapat menyebabkan getaran dalam molekul- molekul dimana atom dalam molekul mengubah posisi relatifnya. Setiap gugus fungsi dalam molekul umumnya mempunyai karakteristik sendiri sehingga spektroskopi IR dapat digunakan untuk mendeteksi gugus yang spesifik pada polimer. Intensitas pita serapan merupakan ukuran konsentrasi gugus yang khas yang dimiliki oleh polimer.

25

Universitas Sumatera Utara