Anda di halaman 1dari 4

ALERGI MAKANAN PADA ANAK I.

Pendahuluan Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam beberapa tahun terahkir dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat 30% orang berkembang menjadi alergi.7 Alergi makanan merupakan suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan system tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap bahan makanan.12 Sekitar 6-8% anak mempunyai alergi terhadap makanan tertentu, dengan angka kejadian terbanyak pada anak usia 3 tahun.6 Beberapa penelitian menunjukan alergi terhdap makanan, terus meningkat, sehingga alergi makanan mendapat perhatian khusus dari masyarakat.3,4,7 Banyak masyarakat yang menyalahartikan alergi makanan dengan intoleransi makanan, yang mengakibatkan retriksi dari beberapa bahan makanan secara berlebihan.1 Hal ini menyebabkan tubuh mengalami defisiensi zat tertentu yang terkandung dalam makanan tersebut. Dengan kata lain overdiagnose dari alergi makanan menyebabkan kekurangan zat gizi tertentu pada anak-anak, tetapi underdiagnose menyebabkan serangan alergi terus-menerus.6 Definisi Pada tahun 1906, von Pirquet mengusulkan istilah allergie untuk suatu keadaan respons imun yang menyimpang dari respon imun yang biasanya protektif. Istilah tersebut berasal dari bagasa Yunani yang terdiri atas 2 akar kata: allos = yang lain; dan ergon = kerja. Dengan istilah alergi, fenomena tersebut akan mencakup semua keadaan penderita yang bermanifestasi dari respon imun yang biasa.11 Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan system organ tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap bahan makanan.7,12 Alergi makanan juga diartikan sebagai suatu kondisi dimana system imun tubuh secara salah atau tidak tepat mengidentifikasi protein yang terdapat pada makanan dan atau bahan pelengkap makanan sebagai benda asing (alergen) dan melepaskan bahanbahan kimia ke dalam darah sebagai respon pertahanan tubuh.1,3,6 Akibat dari pelepasan bahan-bahan kimia tersebut, menimbulkan reaksi alergi.3 Secara singkat, alergi makanan adalah reaksi imun yang merugikan terhadap makanan.8 Istilah alergi makanan perlu (food hypersensitivity) dibedakan dengan intoleransi makanan (food intolerance atau food sensitivity).6 Alergi makanan adalah reaksi terhadap makanan yang dapat berulang dan mempunyai latar belakang imunologik, sedangkan intoleransi makanan adalah reaksi non-imunologik terhadap makanan yang disebabkan dari zat yang terkandung dalam makanan seperti kontaminan toksik (toksin yang disekresikan oleh Salmonella, Shigella dan Campylobacter), zat farmakologik (tiramin pada keju, kafein pada kopi) atau defisiensi enzim (enzim laktese pada intoleransi laktosa).6,7,8,12 Epidemiologi Angka kejadian alergi makanan pada saat ini diperkirakan kurang dari 2% dari populasi.1 Sekitar 11 juta penduduk Amerika mempunyai alergi makanan, dengan perbandingan 1 dari 25 orang atau 4% dari populasi.3,4 Di Eropa, kira-kira 12-26 juta orang Eropa menderita alergi.10 Diperkirakan 4-8% anak terdiagnosa alergi makanan.6 Insiden tertinggi pada anak dibawah 3 tahun dengan perbandingan 1 dari 17 anak.3,4 Makanan yang sering menyebabkan reaksi alergi dari setiap negara berbeda-beda tergantung budaya dan

II.

III.

geografi.6 Di Amerika, 8 makanan yang paling sering menyebabkan alergi adalah susu sapi, telur, gandum, kedelai, kacang tanah, kacang pohon atau tree nuts (almond, kenari, kenari hijau, mente, kemiri), kerang-kerangan (udang, kepiting, lobster) dan ikan (tuna, salmon, catfish).1,3,4 Tiga bahan makanan penyebab alergi terbanyak di Jerman adalah telur, susu sapi dan gandum; di Spanyol: telur, susu sapi dan ikan; di Swiss: telur, susu sapi dan kacang tanah; di Jepang: telur, susu sapi dan gandum; di Israel: telur, susu sapi dan wijen.10 IV. Etiologi Terdapat 3 faktor penyebab terjadnya alergi makanan, yaitu faktor genetic, imaturitas usus dan pajanan alergi yang kadang-kadang memerlukan suatu faktoe pencetus.12 a. Faktor genetik Pada anak yang salah satu orangtuanya memiliki riwayat atopi, kemungkinan terjadi alergi adalah sebesar 17-29%, sedangkan bila kedua orangtuanya memiliki riwayat atopi maka kemungkinan anak tersebut untuk terjadi alergi sebesar 5358%.12 Sedangkan bila tidak ada riwayat alergi pada kedua orangtuanya, tapi ada riwayat pada kakek, nenek, atau saudara dekat orangtuanya maka kemungkinan anak itu menderita alergi adalah 5-15%.7 Anak dengan riwayat atopi, cenderung akan alergi terhadap makanan tertentu, seperti 35% anak dengan dermatitis atopi dan 6% anak dengan eksaserbasi asma juga mempunyai alergi makanan.6 b. Imaturitas usus Secara mekanik, integritas mukosa usus dan peristaltic merupakan pelindung masuknya alergen ke dalam tubuh. Secara kimiawi, asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi alergen dan secara imunologik, sIgA (sekretorik Imunoglobulin A) pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propria dapat menangkal alergen masuk ke dalam tubuh. Pada usus imatur system pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh.12 c. Pajanan alergen Pajanan alergen merangsang pembentukan imunoglobulin spesifik terhadap alergen.12 Dari beberapa penelitian dan guideslines menyatakan bahwa belum ada bukti kuat antara makanan yang dikonsumsi ibu saat hamil dengan pembentukan IgE pada janin, walaupun dilaporkan adanya IgE spesifik pada janin terhadap penisilin, gandum, susu dan telur (jarang, 1% dari seluruh kelahiran).9,12 Pajanan alergen ini juga dapat terjadi pada bayi. Pemberian ASI eksklusif mengurangi jumlah bayi yang hipersensitif terhadap makanan di tahun pertama kehidupan. Pemberian PASI yang terlalu cepat pada bayi, cenderung meningkatkan angka kejadian alergi.12 Ibu menyusui tidak perlu menghindari makanan tertentu yang dapat menyebabkan alergi karena dari hasil penelitian, belum ada bukti yang kuat yang menjamin jika menghindari makanan tertentu pada saat menyusui, akan mencegah alergi makanan pada anak.9 Pajanan terhadap alergen tergantung pula pada kebiasaan makan dan norma kehidupan setempat. Di Negara Skandinavia tidak dijumpai alergi terhadap kacang tanah, sedangkan di Amerika banyak dijumpai. Alergi ikan banyak dijumpai di Jepang, alergi susu sapi dan gandum banyak dijumpai di Amerika, sedangkan alergi terhadap beras sudah mulai dilaporkan di Indonesia. Susu kedelai yang dulu dianngap sebagai hipoalergenik, sekarang mulai banyak dilaporkan sebagai penyebab alergi karena makin banyak pajanan terhadap susu tersebut.12

Faktor pencetus sebenarnya bukan penyebab alergi, tapi menyulut terjadinya alergi. Perlu diingat bahwa tanpa pajanan allergen maka faktor pencetus tidak berarti. Faktor pencetus dapat berupa faktor fisik seperti dingin, panas, hujan; faktor psikis misalnya sedih, stress, menghadapi ujian; atau latihan seperti olahraga.12 V. Patofisiologi Sebelum membahas tentang patofisiologi pada alergi makanan, sebaiknya kita membahas dan mengerti reaksi hipersensitivitas pada manusia. Gell dan Coombs membagi reaksi hipersensitivitas menjadi 4 tipe, yaitu tipe I hipersensitif anafilaktik, tipe II hipersensitif sitotoksik yang yang bergantung antibody, tipe III hipersensitif yang diperani kompleks imun dan tipe IV hipersensitif cell-mediated.6,11,13, a. Reaksi hipersensitivitas tipe I (anafilaktik)

VI. VII. VIII. IX. X. XI.

b. Reaksi hipersensitivitas tipe II () c. Reaksi hipersensitivitas tipe III d. Reaksi hipersensitivitas tipe IV Diagnosis Diagnosis Banding Komplikasi Tatalaksana Prognosis Pencegahan