Anda di halaman 1dari 24

DESKRIPSI USAHA PENGENDALIAN GULMA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT MEKANIS BERMOTOR YANG DILAKUKAN OLEH PETANI KELOMPOK TANI

MURTA JAYA, DESA JUGLANGAN KECAMATAN PANJI SITUBONDO DAPAT MENGHEMAT BIAYA USAHA TANI PADI DENGAN SISTEM S. R. I.

KARYA TULIS ILMIAH


Oleh : 1. Khairdin Pramana Jaya, S. P., M. Pd. 2. Rizki Nugraha, SST. 3. Fathor Rahman, S. TP.
4.

Rudy Hari Karma Setiawan, SST.

PEMERINTAH KABUPATEN SITUBONDO


BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PELAKSANA PENYULUHAN KABUPATEN SITUBONDO

BALAI PENYULUHAN PERTANIAN DEMUNG APRIL 2012

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling mendasar, sehingga ketersediaan pangan khususnya beras bagi masyarakat harus selalu terjamin. Dengan terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat, maka masyarakat akan memperoleh hidup yang tenang dan akan lebih mampu berperan dalam pembangunaan. Permasalahan pangan

sepertinya tak pernah lepas dari kehidupan bangsa Indonesia, terutama petani yang merupakan masyarakat mayoritas Indonesia. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya hasil beras baik kualitas dan kuantitas adalah gangguan gulma. Gulma sebagai organisme pengganggu tanaman (OPT) termasuk kendala penting yang harus diatasi dalam peningkatan produksi padi di Indonesia. Penurunan hasil padi akibat gulma berkisar antara 6-87 %. Data yang lebih rinci penurunan hasil padi secara nasional akibat gangguan gulma 15-42 % untuk padi sawah dan padi gogo 47-87 % (Pitoyo, 2006 dalam Anonim, 2009). Untuk lebih menekan pertumbuhan gulma dengan hasil yang lebih baik, perlu adanya kombinasi berbagai cara pengendalian yang dikenal dengan pengendalian terpadu yang dapat dilakukan mulai dari

pengolahan tanah, cara bercocok tanam, cara pemupukan, dan pengairan yang baik serta dilanjutkan dengan pengendalian secara langsung misalnya pengendalian mekanis, fisis, biologi baru yang terakhir dengan penggunaan zat kimia. Pengendalian gulma secara mekanis adalah tindakan pengendalian gulma dengan menggunakan alat-alat sederhana hingga alat-alat mekanis berat bertujuan untuk merusak atau menekan pertumbuhan gulma secara fisik. Umumnya petani melakukan penyiangan di lahan secara mekanis dengan cara mencabut gulma. Dalam ukuran 0.1 hektar dibutuhkan 4 (empat) orang tenaga dalam waktu 1 hari penuh untuk melakukan penyiangan.

Penyiangan atau Pengendalian Gulma dilakukan untuk mengurangi kejadian suksesi dalam wilayah perakaran tanaman Padi, sehingga persaingan untuk memperoleh nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangannya dapat ditekan sekecil mungkin. Sistem SRI memiliki kelebihan efisien dalam hal penggunaan benih dan pemanfaatan air irigasi serta pupuk anorganik, namun disisi lain ternyata sangat membutuhkan biaya tinggi dalam soal ongkos tenaga penyiangan atau pengendalian gulma. Sehingga respon petani menjadi sangat rendah. Demikian bahwa, jarak tanam yang lebar dan penerapan irigasi berselang (intermitten) pada budidaya padi SRI memicu pertumbuhan gulma. Dengan pesatnya pertumbuhan gulma tersebut penyiangan bisa sampai 3-4 kali penyiangan. Penyiangan gulma secara kimiawi

(penggunaan herbisida)memang efektif dan efisien namun bertentangan dengan konsep SRI. Sedangkan jika dilakukan secara manual

memerlukan biaya yang sangat tinggi, karena itu petani kurang respon terhadap budidaya padi model SRI. Oleh karena itu, perlu alat penyiang gulma yang secara teknis mampu mengurangi polpulasi gulma dan memperbaiki struktur tanah dan secara ekonomis dapat meminimalisir biaya untuk penyiangan gulma. Seorang petani di Panji Kidul Kecamatan Panji menuturkan kepada Tim Peneliti bahwa alat penyiang tersebut telah sering digunakan dan telah berhasil mengurangi biaya Penyiangan dan berhasil meningkatkan Produksi Usaha Tani Padinya. Informasi dari petani tersebut akan dijadikan kajian dalam penulisan karya tulis Ilmiah ini untuk menjadi bahan dan pemaparan bagaimana alat penyiangan tersebut mampu mengurangi biaya penyiangan pada Usaha Tani padinya. Tulisan ini merupakan solusi, dalam karya tulis ilmiah ini akan dikemukakan pemaparan tentang sebuah alat penyiangan yang

digerakkan secara bermotor dijalankan oleh 1 (satu) orang untuk melakukan penyiangan dan penggemburan tanah.

1.2. Tujuan Penulisan. Tujuan Penulisan Karya Ilmiah ini adalah 1. Untuk memaparkan penggunaan sebuah alat penyiangan yang dibuat secara mandiri oleh petani. Alat ini digerakkan secara bermotor dijalankan oleh 1 (satu) orang untuk melakukan penyiangan dan penggemburan tanah. 2. Seberapa efektif dan efisienkah penggunaan alat penyiangan ini dibandingkan dengan penyiangan secara manual yang dilakukan oleh kebanyakan petani kami. 3. Diduga penggunaan alat penggerak bermotor yang dijalankan oleh 1 (orang) ini akan membantu aplikasi budidaya padi dengan system SRI. 1.3. Batasan Penulisan. 1. Karena luasnya kajian tentang persoalan budidaya padi, maka perlu dilakukan pembatasan bahwa pembahasan hanya ditujukan untuk memaparkan dan mengulas pengendalian gulma dalam lahan budidaya padi sawah pada areal dimana populasi gulma tumbuh diantara tanaman padi yang ditanam dalam jarak 30 s.d. 35 cm. 2. Bahwa tulisan ini sekedar memaparkan betapa alat kreasi petani secara mandiri ini layak diajukan sebagai mesin penyiangan padi alternative yang bisa direkomendasikan kepada petani secara umum untuk melakukan pengendalian gulma secara mekanis.

II. KAJIAN PUSTAKA 2.1. Pengertian-pengertian Dalam handbook Ilmu Gulma IPB dijelaskan bahwa, Pengendalian gulma merupakan suatu usaha untuk membatasi atau menekan infestasi gulma sampai tingkat tertentu sehingga pengusahaan tanaman budidaya menjadi produktif dan efisien. Pengendalian gulma dapat dilakukan

secara mekanis, kultur teknis, biologis (hayati), kimia (penggunaan herbisida), dan terintegrasi (terpadu). pengendalian bersifat komplementer. Pengendalian mekanis merupakan usaha menekan pertumbuhan gulma dengan cara merusak bagian-bagian sehingga gulma tersebut mati atau pertumbuhannya terhambat. Teknik pengendalian ini hanya Tindakan pencegahan dan

mengandalkan kekuatan fisik atau mekanik. Cara ini umumnya cukup baik dilkaukan pada berbagai jenis gulma setahun, tetapi pada kondisi tertentu juga efektif bagi gulma-gulma tahunan (Sukman dan Yakup, 1991). Pengendalian gulma secara mekanis adalah tindakan pengendalian gulma dengan menggunakan alat-alat sederhana hingga alat-alat mekanis berat untuk merusak atau menekan pertumbuhan gulma secara fisik. Berdasarkan alat yang digunakan, pengendalian secara mekanis

dibedakan menjadi : 1. Manual (tenaga manusia) : tanpa alat / alat-alat sederhana seperti parang, arit, kored, dll. 2. Semi mekanis : tenaga manusia memakai mesin ringan mower (pemotong rumput). 3. Mekanis penuh memakai alat-alat mesin berat seperti traktor besar, dll Pengendalian gulma secara mekanis, umumnya dilakukan oleh petani adalah sebagai berikut : Mencabut gulma Tindakan mencabut gulma merupakan pengendalian gulma secara manual. Pengendalian gulma dengan cara mencabut gulma lebih sesuai seperti

untuk gulma setahun, tidak efektif dan sukar dilaksanakan terhadap gulma yang mempunyai rhizoma, stolon atau umbi, karena bagian-bagian tersebut segera dapat tumbuh kembali membentuk tumbuhan baru. Pengendalian gulma dengan cara mencabut gulma memerlukan tenaga menusia dan waktu yang banyak. Namun demikian, tindakan mencabut gulma menimbulkan gangguan yang minim terhadap tanaman. Menginjak dan membenamkan gulma Pada pertanian padi sawah secara tradisional di beberapa daerah, menginjak dan membenamkan gulma masih dilakukan. Gulma diinjak dan dibenamkan dengan menggunakan tenaga hewan ternak maupun manusia pada saat penyiangan. Pengolahan tanah Pengolahan tanah dapat dilihat sebagai tindakan pengendalian secara mekanisUntuk gulma setahun (semusim) yang alat reproduksinya berupa biji, pengolahan tanah dilakukan secara dangkal beberapa kali dengan interval yang cukup untuk menumbuhkan biji gulma ke permukaan tanah. Dalam pelaksanaan pengolahan tanah, pemadatan tanah harus dihindarkan, bahaya erosi diperhitungkan, kadar air tanah juga harus diperhatikan pada saat pengolahan tanah. Manfaat Penyiangan Menurut Saragih, 2009 pengendalian gulma dari tanaman padi perlu dilakukan untuk menghindari persaingan antara padi dan gulma dalam mengambil unsur hara, selain itu dengan bersihnya gulma di sekitar tanaman padi maka penyebaran hama penyakit padi sudah dibuat seminimum mungkin atau bahkan terputusnya medai penyebar hama penyakit padi. Cara penyiangan mekanis membutuhkan waktu pengerjaan yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan cara penyiangan dengan tangan. Penggunaan tanaman, alat penyiang alat mekanis tersebut berisiko sering merugikan

pertumbuhan

karena

menimbulkan

kerusakan mekanis pada akar maupun batang tananam padi, terutama kalau jarak tanam padi tidak teratur.

Dalam handbook Sampoerna, tentang SRI disebutkan Penyiangan dengan ngosrok atau mempergunakan rotary weeder, selain dapat mencabut rumput, juga dapat menggemburkan tanah di celah-celah tanaman padi. Penggemburan tanah bertujuan agar tercipta kondisi aerob di dalam tanah yang dapat berpengaruh baik bagi akar-akar tanaman padi yang ada di dalam tanah. Penyiangan pada Tehnik Budidaya SRI (System Rice Intensivication) Pada metode SRI digunakan sistem tanam tunggal. Artinya, satu lubang tanam diisi satu bibit padi. Selain itu, bibit ditanam dangkal, yaitu pada kedalaman 23 cm dengan bentuk perakaran horizontal (seperti huruf L) (Veco Indonesia, 2007) Jarak tanam yang digunakan dalam metode SRI adalah jarak tanam lebar, misalnya 30 cm x 30 cm atau 35 x 35 cm. Semakin lebar jarak tanam, semakin meningkat jumlah anakan produktif yang dihasilkan oleh tanaman padi. Penyebabnya, sinar matahari bisa mengenai seluruh bagian tanaman dengan lebih baik sehingga proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman terjadi dengan lebih optimal. Jarak tanam yang lebar ini juga memungkinkan tanaman untuk menyerap nutrisi, oksigen dan sinar matahari secara maksimal (Veco, 2007). Penyiangan (ngosrok/matun/arao) dilakukan dengan

mempergunakan alat penyiang jenis landak atau rotary weeder, atau dengan alat jenis apapun dengan tujuan untuk membasmi gulma dan sekaligus penggemburan tanah. Dalam handbook Sampoerna, tentang SRI disebutkan Penyiangan dengan ngosrok atau mempergunakan rotary weeder, selain dapat mencabut rumput, juga dapat menggemburkan tanah di celah-celah tanaman padi. Penggemburan tanah bertujuan agar tercipta kondisi aerob di dalam tanah yang dapat berpengaruh baik bagi akar-akar tanaman padi yang ada di dalam tanah. Penyiangan minimal 2 kali. Penyiangan pertama dilakukan pada umur 10 hari setelah tanam dan selanjutnya penyiangan kedua dilakukan

pada umur 20 HST. Penyiangan ketiga pada umur 30 HST dan penyiangan keempat pada umur40 HST. Proses Penyiangan pada Pengelolaan Budidaya Padi dengan metode SRI ada 2 (dua) kali pelaksanaan, yaitu pada umur 9-10 HST, dan 19-20 HST demikian menurut Veco, 2007 bahwa Proses pengelolaan air dan penyiangan dalam metode SRI dilakukan sebagai berikut. 1. Ketika padi mencapai umur 18 hari sesudah tanam (HST), keadaan air di lahan adalah macak-macak. 2. Sesudah padi mencapai umur 910 HST air kembali digenangkan dengan ketinggian 23 cm selama 1 malam saja. Ini dilakukan untuk memudahkan penyiangan tahap pertama. 3. Setelah selesai disiangi, sawah kembali dikeringkan sampai padi mencapai umur 18 HST. 4. Pada umur 1920 HST sawah kembali digenangi untuk

memudahkan penyiangan tahap kedua. 5. Selanjutnya setelah padi berbunga, sawah diairi kembali setinggi 12 cm dan kondisi ini dipertahankan sampai padi masak susu ( 1520 hari sebelum panen). 6. Kemudian sawah kembali dikeringkan sampai saat panen tiba. Menurut Veco, 2007 Untuk pengendalian gulma, metode SRI mengandalkan tenaga manusia dan sama sekali tidak memakai herbisida. Perlu diingat, bahwa dalam aplikasi metode SRI, Gulma yang tumbuh akan relatif banyak karena sawah tidak selalu ada dalam kondisi tergenang air.

BAB III METODOLOGI 3.1. Alat, Bahan dan Waktu Kegiatan.

Penulisan Karya Tulis Ilmiah dilaksanakan sejak tanggal 5 April 2012 sampai dengan 30 April 2012, Wawancara dilaksanakan pada tanggal 23 April s.d. 25 April 2012 di Desa Panji Kidul Kecamatan Panji Situbondo. Obyek Penulisan telah melaksanakan ujicoba alat dan mesin penyiang padi buatan sendiri di Kelompok Tani Murta Jaya, Desa Juglangan Kecamatan Panji Situbondo pada sekitar tahun 2010 silam. Alat yang dibutuhkan adalah alat perekam, kamera, flashdisk, laptop dan alat perekam suara. Bahan-bahan yang digunakan diantaranya beberapa rangkaian pertanyaan dan konsep konfirmasi, termasuk form analisa usaha tani sederhana. 3.2. Metodologi Penelitian

Berdasarkan sifatnya penelitian ini bersifat kualitatif, dimana seluruh data berdasarkan data sekunder (data yang sudah diperoleh dan diolah oleh pihak lain). Menurut Donal Ary, Penelitian Kualitatif memiliki enam ciri, yaitu 1, Memperdulikan konteks dan situasi (concern of context), 2. Berlatar alamiah (natural setting). 3. Manusia sebagai instrument utama (human instrument), 4. Data bersifat deskriptif (deskriptif data), 5. Rancangan penelitian muncul bersamaan dengan pengamatan (emergent design) 6. Analisis data secara induktif (inductive analysis). (Donal Ary dalam UIN Malang, Library, 2012). Data-data yang diperoleh diantaranya adalah : 1. Foto-foto kegiatan ujicoba alat penyiang gulma padi. Uji coba tersebut dilakukan pada lahan areal ujicoba pada tahun 2010, seluas 0.1 hektar. 2. Keterangan-keterangan seputar beberapa pertanyaan sebagai berikut :

a. Proses

kegiatan

ujicoba lokasi

alat

penyiang lokasi

tersebut, ujicoba

diantaranya

tentang

dimana

dilaksanakan, siapa pemilik mesin, dan perihal umum lainnya. b. Berapa lama proses tersebut berlangsung, c. Berapa orang yang melaksanakan kegiatan tersebut, d. Biasanya berapa kali petani melakukan penyiangan di wilayah tersebut. e. Berapa nilai upah 1 HOK diwilayah tersebut. f. Berapa orang pekerja yang melakukan penyiangan manual dalam sehari dalam luasan tertentu ? g. Berapa orang pekerja yang melakukan penyiangan dengan menggunakan alat mesin dalam luasan waktu tertentu ?. h. Lebih tertarik mana menggunakan alat bermesin (power weeder) atau secara manual ? i. j. Siapa yang merancang dan membuat alat tersebut ?. Apakah sanggup menanggung penyusutan nilai alat penyiang dengan adanya penggunaan alat tersebut, apakah tidak justru memberatkan ?. k. Berapa hasil yang diperoleh dalam luasan tertentu ?. l. Berapa biasanya hasil yang diperoleh jika tanpa

melakukan penyiangan ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut ditabulasi dalam sebuah catatan kecil, dan merupakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sesaat ketika dilakukan kunjungan untuk wawancara. Demikian cara pengumpulan data dilaksanakan. Dari hasil perbincangan tersebut, karya Ilmiah ini disusun secara sistematis sehingga diperoleh gambaran, seberapa efektif dan efisienkah penggunaan alat penyiang gulma padi tersebut bagi petani dilingkungan Kelompok Tani Murta Jaya, Desa Juglangan Kecamatan Panji Situbondo.

Keterangan

diperoleh

dari

Bapak

Fathorrahman.

Bapak

Fathorrahman adalah salah seorang petani di lingkungan dimana pernah dilaksanakan kegiatan tersebut. Bapak Fathorrahman adalah salah seorang anggota team dalam penulisan karya Tulis Ilmiah ini. 3.3. Tahapan Penulisan Karya Ilmiah

Menurut Moleong dalam UIN Malang Library, terdapat 3 (tiga) tahapan dalam penelitian kualitatif, yaitu : 1. Tahap Pra Lapangan, yaitu orientasi yang meliputi kegiatan penentuan focus, penyesuaian paradigm dengan teori dan disiplin ilmu, penjajakan dengan konteks penelitian dalam hal ini team menentukan paradigm utama kepada Program Peningkatan Beras Nasional 2012, utamanya metode System Rice Intensification yang salah satu problem utamanya adalah peningkatan populasi Gulma, sehingga setelah dilakukan diskusi panjang ditemukan keterangan bahwa di salah satu kelompok tani di Kabupaten Situbondo saat ini menggunakan alat mesin penyiang dalam usaha Tani padinya. Karena kegiatan sudah pernah dilaksanakan dan membentuk fenomena dimana petani-petani menyukai penggunaan alat

penyiang tersebut dibandingkan petani-petani di wilayah lain. Ditambah lagi dengan fenomena bahwa alat tersebut diperoleh dengan kreasi sendiri, maka ditetapkanlah fenomena telah digunakannya Alat Penyiang Padi oleh Petani tersebut sebagai focus penelitian. 2. Tahap Analisis data, tahap ini meliputi kegiatan mengumpulkan data, mengolah dan mengorganisir data yang diperoleh melalui proses dokumentasi, observasi dan pemaparan yang mendalam seteah itu dilakukan penafsiran data sesuai dengan konteks permasalahan yang diteliti. Seluruh data dalam penelitian ini adalah valid dengan penafsiran bahwa sumber data berasal dari dokumentasi fotografi. Gambar-gambar tersebut diakui oleh sumber sebagai berasal dari wilayah yang benar dan memang

dilaksanakan diwilayah tersebut. Sumber yang diwawancarai adalah seorang penduduk di wilayah tersebut. 3. Tahap Penulisan Laporan, tahap ini meliputi kegiatan hasil penelitian dari semua rangkaian kegiatan pengumpulan data sampai dengan pemberian makna data. Dalam tahap ini setelah penulisan Karya Ilmiah ini disajikan, ditindaklanjuti dengan permohonan untuk diperiksa dan diteliti agar mendapat perbaikan seperlunya dari Yang Terhormat pihak Balai Penyuluhan Pertanian Demung dan atau dari Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Situbondo, atau dari yang membidangi Penyuluhan Pertanian.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Berdasarkan keterangan bahwa pemanfaatan mesin penyiang ini sangat membantu usaha tani padi petani yang menyelenggarakan budidaya padi dengan SRI didengar oleh team penulis karya Ilmiah ini. Dan disusunlah rencana untuk melakukan observasi dengan rangkaianrangkaian pertanyaan yang sudah dibicarakan sebelumnya. Konsep-konsep tentang penanggulangan gulma antara lain adalah, adanya problem suksesi akibat persaingan perolehan nutrisi akibat adanya pertumbuhan gulma yang lebih banyak jika melakukan budidaya tanaman padi dengan jarak lebar. Jumlah populasi gulma yang cukup tinggi tersebut juga akan merupakan beban kerja bagi petani. Dijelaskan bahwa beban kerja untuk mengatasi gulma dengan cara mencabut gulma pada areal budidaya padi sawah seluas 0.1 hektar dengan system SRI adalah 5 HOK per hari. Sedangkan nilai 1(satu) HOK adalah senilai Rp. 17.500,-. Sedangkan beban kerja untuk mengatasi gulma dengan

menggunakan alat penyiang padi pada areal budidaya padi sawah seluar 0.1 hektar dengan system SRI adalah 1 HOK selama 1.5 jam. Biaya relative yang digunakan hanya 1 liter bensin.

Tabel 1. Perbandingan Penyiangan dengan Mencabut Gulma dan Penyiangan dengan Alat Penyiang Bermotor. No. Penyiangan dengan Mencabut Penyiangan Gulma 1 1. 2 dengan Alat

Penyiang Padi Bermotor 3 1 HOK 1.5

Membutuhkan 5 HOK per hari/ 0.1 Membutuhkan ha jam/0.1 ha

1 2.

Biaya Rp. 17.500,- x 5 = Rp. Biaya Bensin dan 1 HOK 87.500,-/hari/0.1 hektar. selama 1.5 jam, Rp. 5.000,- + Rp. 17.500,- = Rp. 22.500,/1.5jam/0.1 hektar

3.

Tidak dengan Penggemburan

Sekaligus tanah

menggemburkan

Gambar Areal yang sudah disiangi :

Gambar Mesin Alat Penyiang Bermotor yang Digunakan

4.2.

Pembahasan Pengendalian gulma merupakan suatu usaha untuk membatasi

atau menekan

infestasi gulma

sampai tingkat

tertentu

sehingga

pengusahaan tanaman budidaya menjadi produktif dan efisien. Dalam Sistem Tanam SRI, yang menggunakan jarak tanam lebar 30 x 30 cm atau 35 x 35 cm, pertumbuhan gulma sangat pesat. Pertumbuhan gulma akan sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman karena gulma akan menjadi pesaing dan akan mengakibatkan terjadinya suksesi dalam areal lahan padi jika tidak segera dilakukan penyiangan. Penyiangan minimal 2 kali. Penyiangan pertama dilakukan pada umur 10 hari setelah tanam dan selanjutnya penyiangan kedua dilakukan pada umur 20 HST. Penyiangan ketiga pada umur 30 HST dan penyiangan keempat pada umur40 HST. Proses Penyiangan pada Pengelolaan Budidaya Padi dengan metode SRI ada 2 (dua) kali pelaksanaan, yaitu pada umur 9-10 HST, dan 19-20 HST demikian menurut Veco, 2007 bahwa Proses pengelolaan air dan penyiangan dalam metode SRI dilakukan sebagai berikut. 1. Ketika padi mencapai umur 18 hari sesudah tanam (HST), keadaan air di lahan adalah macak-macak. 2. Sesudah padi mencapai umur 910 HST air kembali digenangkan dengan ketinggian 23 cm selama 1 malam saja. Ini dilakukan untuk memudahkan penyiangan tahap pertama. 3. Setelah selesai disiangi, sawah kembali dikeringkan sampai padi mencapai umur 18 HST. 4. Pada umur 1920 HST sawah kembali digenangi untuk

memudahkan penyiangan tahap kedua. 5. Selanjutnya setelah padi berbunga, sawah diairi kembali setinggi 12 cm dan kondisi ini dipertahankan sampai padi masak susu ( 1520 hari sebelum panen). 6. Kemudian sawah kembali dikeringkan sampai saat panen tiba.

Jadi dalam satu musim tanam padi, untuk ukuran 0.1 hektar lahan dibutuhkan 10 HOK jika dilakukan pengendalian gulma dengan cara mencabut gulma, dan tetap hanya dibutuhkan 1 HOK dalam total waktu 1.5 jam x 2 hari saja jika dilakukan pengendalian dengan menggunakan mesin bermotor, berikut tabel perbandingannya. Tabel 2. Perbandingan Penyiangan dengan Mencabut Gulma dan Penyiangan dengan Alat Penyiang Bermotor dalam 1 (satu) kali musim tanam Padi. No. Penyiangan Gulma 1. dengan Mencabut Penyiangan dengan Alat

Penyiang Padi Bermotor 1 HOK 1.5

Membutuhkan 2 x 5 HOK per Membutuhkan hari/ 0.1 ha jam/0.1 ha

2.

Biaya Rp. 17.500,- x 5 x 2 = Rp. Biaya Bensin Rp. 5.000,- + (Rp. 175.000,- per 0.1 hektar. 17.500 x 2hari) = Rp. 40.000,per 0.1 hektar.

3.

Tidak dengan Penggemburan

Sekaligus tanah

menggemburkan

Dari tabel diatas tampak, bahwa biaya penyiangan selama 2 musim tanam membutuhkan biaya hingga Rp. 175 ribu per 0.1 hektar sedangkan biaya penyiangan dengan menggunakan mesin bermotor hanya

membutuhkan biaya Rp. 4ribu rupiah per 0.1 hektar. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan mesin penyiang bermotor ini dapat menghemat jauh lebih banyak biaya dan dapat meningkatkan produksi tanaman Padi. Gulma dapat menurunkan produksi antara 15-42 % (Pitoyo, 2006 dalam anonym, 2009). Jika total areal potensial padi di Kabupaten Situbondo seluas 7.021 hektar dengan potensial produksi rata-rata per musim 8 ton/hektar, dengan tanpa adanya pengendalian gulma, maka secara potensial produksi seharusnya akan bertambah menjadi 9.2 s.d. 11.3 ton/hektar.

Hasil metode SRI memang sangat memuaskan. Di Madagaskar, pada beberapa tanah tak subur yang produksi normalnya 2 ton/ha, petani yang menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari 8 ton/ha, beberapa petani memperoleh 10 15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20 ton/ha. (Muttaqien, 2012).

BAB V PENUTUP Budidaya padi menggunakan SRI (System Rice Intensification) lebih murah, lebih mudah dan lebih menghasilkan. Rekomendasi penggunaan pupuk anorganik juga tidak terlalu merepotkan kepada petugas pertanian. Petani saat ini bisa menggunakan aplikasi PHSL yang sudah tersedia dalam http://epetani.deptan.go.id. Persoalan teknis

pengendalian gulma tidak bisa dilepaskan dari proses pengawasan dan pengawalan dari petugas Penyuluh Pertanian. Pengendalian gulma dengan menggunakan tangan secara manual, dirasakan menjadi beban biaya dalam pengendalian gulma dikalangan petani. Jika dibandingkan dengan pemanfaatan mesin penyiang gulma, petani akan menjadi lebih terbantu. Lebih murah, lebih mudah, dan tidak membutuhkan terlalu banyak orang dalam pelaksanaannya.

DAFTAR PUSTAKA http://ocw.ipb.ac.id/file.php/14/Pengendalian_Gulma/BAB5_Pengendalian _Gulma_Secara_Kultur_Teknis.pdf Sukman, Y., dan Yakup. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/agronomyagriculture/1994600-pengendalian-gulma/#ixzz1t0g0oXft Menembus Batas Kebuntuan Produksi Padi (Metode SRI dalam budidaya padi) VECO Indonesia 2007

http://ciifad.cornell.edu/sri/extmats/indoVecoManual07.pdf Pusat Pelatihan dan Kewirausahaan Sampoerna. Tehnik dan Budidaya Penanaman Padi System of Rice Intensification (SRI)

http://sri.ciifad.cornell.edu/countries/indonesia/extmats/indoSampo ernaManual09.pdf Langkah Strategis Dukungan Penyuluhan Pertanian terhadap Program Peningkatan Beras Nasional.

http://cybex.deptan.go.id/files/PENINGKATAN.KAPASITAS.PENY ULUH.2012.%20Kabid%20Program%20Pusluhtan.pdf Muttaqien, Zainul, BUDIDAYA DAN KEUNGGULAN PADI ORGANIK METODE SRI (System of Rice Intensification). Diunduh 27 April 2012. http://www.garutkab.go.id/download_files/article/ARTIKEL%20SRI. pdf Anonim. 2009. Identifikasi Gulma-Gulma Dominan Pada Pertanaman Padi Sawah Dan Usaha Pengendaliannya Di Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat.

http://cetlanget.wordpress.com/2009/07/12/identifikasi-gulmagulma-dominan-pada-pertanaman-padi-sawah-dan-usahapengendaliannya-di-kecamatan-samatiga-kabupaten-aceh-barat/

DESKRIPSI USAHA PENGENDALIAN GULMA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT MEKANIS BERMOTOR YANG DILAKUKAN OLEH PETANI KELOMPOK TANI MURTA JAYA, DESA JUGLANGAN KECAMATAN PANJI SITUBONDO DAPAT MENGHEMAT BIAYA USAHA TANI PADI DENGAN SISTEM S. R. I.

KARYA TULIS ILMIAH


Oleh : 5. Khairdin Pramana Jaya, S. P., M. Pd. 6. Rizki Nugraha, SST. 7. Fathor Rahman, S. TP.
8.

Rudy Hari Karma Setiawan, SST.

PEMERINTAH KABUPATEN SITUBONDO


BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PELAKSANA PENYULUHAN KABUPATEN SITUBONDO

BALAI PENYULUHAN PERTANIAN DEMUNG APRIL 2012

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Karya Ilmiah : DESKRIPSI USAHA PENGENDALIAN GULMA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT MEKANIS

BERMOTOR YANG DILAKUKAN OLEH PETANI KELOMPOK TANI MURTA JAYA, DESA

JUGLANGAN KECAMATAN PANJI SITUBONDO DAPAT MENGHEMAT BIAYA USAHA TANI

PADI DENGAN SISTEM S. R. I. Penulis : 1. Khairdin Pramana Jaya, S. P., M. Pd, 2. Rizki Nugraha, SST., 3. Fathor Rahman, S. TP., 4. Rudy Hari Karma Setiawan, SST.

Merupakan tulisan asli, bukan jiplakan dan dinyatakan sah sebagai lembaran karya tulis ilmiah dan merupakan koleksi perpustakaan Balai Penyuluhan Pertanian Demung. Demikian, semoga bermanfaat.

DEMUNG, 27 APRIL 2012 BALAI PENYULUHAN DEMUNG Koordinator,

CAHYO GIRI DAHONO, S. P., M. MA. NIP. 19600708 198303 1 015